Thumbnail for TANTANGAN MENJADI MAHASISWA YANG SEHAT JIWA oleh dr. Fransiska by Mr. Zhi's English and Translation

TANTANGAN MENJADI MAHASISWA YANG SEHAT JIWA oleh dr. Fransiska

Mr. Zhi's English and Translation

41m 9s4,768 words~24 min read
Auto-Generated

[0:09]Halo Adik-adik mahasiswa semua, saya Dr. Fransiska Kaligis dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Departemen Psikiatri. Pada kesempatan ini akan membawakan materi yang berjudul Tantangan dan Peluang Menjadi Mahasiswa yang Sehat Jiwa sebagai materi pendukung modul pengembangan kepribadian terintegrasi. Sebagai mahasiswa baru, kalian semua berada pada satu milestone atau tahap perkembangan kehidupan, yaitu tahapan remaja dan dewasa muda. Tahapan ini merupakan tahapan transisi dari usia anak ke dewasa dan sering menemui berbagai tantangan. Sebagai mahasiswa baru, kalian perlu beradaptasi dengan situasi yang baru seperti sekarang di lingkungan yang baru, memulai studi, mulai hidup mandiri, bertemu teman dan orang baru, berhadapan dengan cara belajar yang baru. Masa perkuliahan ini merupakan latihan untuk menghadapi perubahan situasi yang akan dialami selama hidup dan beradaptasi terhadapnya. Remaja usia transisi menuju dewasa merujuk pada usia 17 hingga 24 tahun. Periode ini mengalami banyak perubahan fisik, perkembangan neurobiologis, dan psikososial. Mahasiswa di tingkat awal merupakan kelompok remaja usia transisi yang akan menghadapi situasi baru, dan ini seringkali menimbulkan stres. Kita akan melihat bagaimana perubahan biologis di masa ini. Pada tahap ini terjadi serangkaian perubahan hormonal dan perkembangan otak. Hormon reproduksi misalnya menjadi lebih aktif dan berdampak juga pada perilaku seperti hormon testosteron, yaitu hormon yang lebih dominan pada laki-laki, namun juga ada pada wanita berkaitan dengan perilaku yang berisiko dan perilaku yang senang mendapatkan perhatian. Sementara estradiol, hormon yang dominan pada perempuan, dikaitkan juga dengan perilaku yang impulsif. Sementara itu perkembangan otak remaja juga masih belum sempurna, dikatakan sampai dengan usia 24 tahun masih akan terus berkembang. Regio subkortikal seperti amigdala dan sistem limbik itu akan berkembang lebih cepat pada remaja, sementara prefrontal korteks berkembang lebih lambat. Pada bagian otak prefrontal ini sangat berperan pada fungsi kognitif untuk mengambil keputusan dengan lebih rasional, mengorganisasi atau mengontrol perilaku. Jadi gap perkembangan di kedua regio inilah yang berhubungan dengan perilaku yang berisiko pada remaja. Sehingga remaja di usia ini cenderung mengambil keputusan secara emosional dan impulsif, ingin pemuasan segera, kurang dapat mengontrol perilakunya dan mempertimbangkan konsekuensi. Nah, apa saja tantangan yang dihadapi saat memasuki masa perkuliahan? Saat menjadi mahasiswa di tahun pertama, kita semua akan memulai kehidupan yang lebih mandiri. Banyak mahasiswa yang pindah kota misalnya, pindah rumah ke tempat lain, dari rumah orang tua, kemudian pindah ke tempat yang baru. Kemudian memulai studi baru, kemandirian, ada tanggung jawab ekonomi, mengatur keuangannya sendiri. Ada hubungan yang baru dan kemudian ada berakhirnya hubungan dengan pertemanan yang lama. Hal itu bisa menyenangkan, tapi juga menantang buat seseorang. Nah, ini penting kita pahami bahwa periode transisi ini perlu kita persiapkan untuk dapat berkembang kemudian harinya. Mahasiswa juga mulai belajar membangun hubungan sosial. Sebagai mahasiswa baru, akan bertemu dengan orang-orang baru seperti teman, tetangga, dosen. Nah, interaksi ini akan mengembangkan kita dan membawa kepada situasi kehidupan yang tidak menyenangkan kadang-kadang. Berikut beberapa cara untuk melatih keterampilan sosial, misalnya kita bisa mencoba untuk sosialisasi dan merasa nyaman bersama orang lain. Kemudian kita juga perlu meningkatkan keterampilan untuk memahami perasaan orang lain, membentuk batasan mana yang masih bisa kita lakukan, mana yang tidak. Kemudian kadang-kadang kalau ada konflik yang dialami, tidak apa kita perlu melewatinya sebagai satu proses yang normal. Nah, keterampilan belajar dalam perkuliahan kita bebas dalam menentukan waktu dan cara belajar dalam perkuliahan ini. Kadang-kadang kita juga perlu meningkatkan rasa tanggung jawab dan mengaturnya agar bisa mencapai target dalam pembelajaran. Di masa kuliah, pengawasan dalam belajar menjadi berkurang, sehingga kesadaran yang tinggi itu perlu sekali kita miliki untuk belajar mandiri. Beban studi juga nanti akan semakin meningkat, sehingga kita perlu nanti mencoba cara belajar yang lebih mendalam. Misalnya kita perlu memahami materi yang kita baca, bukan hanya sekadar menghafal. Keterampilan belajar yang baru nanti akan kita pelan-pelan pelajari dengan cara yang dimiliki oleh masing-masing, karena setiap orang mungkin punya keterampilan belajar masing-masing. Dan kita juga perlu menguasai manajemen waktu. Nah, apa yang sebaiknya dilakukan jika kita mengalami kesulitan belajar? Kesulitan belajar merupakan satu hal umum yang mungkin tidak ada hubungannya dengan kecerdasan. Kesulitan belajar dapat mempengaruhi kemampuan untuk memproses dan menerapkan pengetahuan yang kita dapatkan. Nah, kesulitan itu bukan halangan untuk memperoleh kesuksesan, banyak juga mahasiswa yang sering mengalami kesulitan dalam belajar. Ini bisa dibantu apabila kalian mengkomunikasikannya dengan misalnya pembimbing akademik atau mencari bantuan ke tenaga profesional. Berikut beberapa cara yang dapat mendukung proses keterampilan belajar sendiri. Misalnya kalian percaya bahwa kita semua sebetulnya memiliki peluang untuk berhasil. Kita bisa membuat tujuan atau target yang ingin dicapai saat belajar, melatih keterampilan belajar yang cocok untuk kita. Kemudian kita lihat kemajuan yang sudah kita capai. Kemudian kita cari cara untuk meningkatkan kemampuan belajar yang sebetulnya cocok dengan kita tadi dan melatih juga cara belajar mendalam. Misalnya menghubungkan topik dan konsep baru yang kita pelajari dengan apa yang kita sudah pelajari sebelumnya. Kemudian kita juga bisa mengalami peran emosi dan kepercayaan diri dalam motivasi belajar. Nah, dari situ kita cari juga teknik belajar apa yang cocok untuk diri kita sendiri. Nah, kita akan belajar untuk mengatur penggunaan waktu di sini. Nanti kita akan belajar untuk mengatur waktu kita, karena ini merupakan satu hal yang sangat penting dalam perkuliahan. Mungkin awalnya sulit, tapi ini bisa dilatih ya, bisa kita pelajari gitu ya, semakin dengan berjalannya waktu kalian akan semakin terampil gitu ya. Kita bisa mengevaluasi dulu penggunaan waktu kita sehari-hari, contohnya saat belajar satu subtopik. Kemudian kita lihat berapa lama waktu yang kita gunakan. Kemudian waktu makan misalnya, waktu tidur, itu kita atur misalnya berapa lama. Kemudian kita akan buat manajemen waktunya. Setelah itu kita bisa tetapkan dulu tujuan dan target jangka pendek untuk belajar. Dari situ kita bisa prioritaskan tujuan mana yang mau dicapai untuk saat ini dan untuk jangka panjangnya. Kadang-kadang untuk produktivitas dalam belajar tidak bisa sama dalam setiap harinya. Kalau misalnya hari ini menjadi kurang produktif dibanding kemarin, hal itu tidak apa-apa, bisa kita upayakan lagi untuk keesokan harinya. Ketika mengalami saat sulit untuk mulai belajar, kita bisa membuat skala prioritas. Dan akan lebih mudah untuk membuat keputusan jika waktunya sangat terbatas. Kita bisa pilih dulu yang paling penting dan mendesak, yang kira-kira deadline-nya paling dekat. Kemudian kita rencanakan apa yang dipelajari dan saat sedang belajar kita kadang-kadang mungkin tergoda ya untuk menunda-nunda dulu misalnya mengerjakan hal-hal lain yang kita senangi gitu ya. Namun demikian, menunda seringkali menyebabkan stres dan kecemasan dan memperlambat proses belajar. Untuk menghindari prokrastinasi ini, bagilah tugas belajar dalam bagian yang lebih kecil, mulai dari tugas yang mudah dulu kemudian ke yang sulit. Lebih baik untuk melakukan satu hal kecil, meskipun sedikit gitu ya, daripada tidak sama sekali. Hindari juga distraksi atau hal-hal yang bisa mengganggu atensi kalian dalam belajar. Pilihlah tempat yang tenang untuk belajar. Kemudian kita bisa tutup ponsel dan browser internet kita kalau itu sangat mengganggu. Contoh cara mengatur waktu, misalnya kita bisa menentukan dari skala prioritas. Prioritaskan apa yang pada saat itu yang paling mendesak, kemudian harus segera diselesaikan. Untuk hal yang penting namun kayaknya kurang mendesak, kita bisa jadwalkan di kemudian hari gitu ya. Sementara hal yang mendesak tapi tidak penting, kita bisa mendelegasikannya ke orang lain gitu ya. Hal terakhir misalnya kalau tidak penting dan tidak mendesak, mungkin untuk saat ini kita bisa tunda dulu, kita abaikan dulu, nanti aja kita kerjakan gitu ya. Misalnya aktivitas browsing atau main sosial media yang waktunya sangat panjang, mungkin bisa kita lakukan nanti di akhir pekan. Setelah mempelajari tantangan pada masa perkuliahan dan cara menghadapinya, selanjutnya kita akan mempelajari mengenai konsep sehat jiwa, stres, dan bagaimana cara menghadapinya. Nah, kita bisa lihat di sini, apa yang dimaksud sehat jiwa menurut WHO? Menurut WHO atau Organisasi Kesehatan Dunia, sehat jiwa adalah keadaan di mana seseorang itu mampu untuk menerima dirinya dan orang lain apa adanya. Bisa mengekspresikan perasaannya dan memiliki citra diri yang positif. Bisa bertahan pada tekanan kehidupan yang memang akan dialami ya oleh kita sehari-hari dan bisa beraktivitas harian dengan baik. Seperti bekerja atau belajar dan bisa menjalin hubungan dengan orang lain serta memiliki rasa peduli dengan orang lain. Dan bisa berkontribusi sebagai bagian dari komunitas kita. Nah, apakah kamu pernah merasa tidak bisa mengerjakan sesuatu karena stres, atau menjadi lebih stres lagi ketika tidak ada yang terselesaikan? Nah, dari situ kita akan lihat apakah tadi ya kita mengalami sehat jiwa atau bagaimana stres itu sebetulnya dan bagaimana kita melihat stres itu untuk bisa menghadapinya. Stres sebetulnya adalah bagian dari kehidupan kita semua. Stres dapat bersifat baik untuk kita dalam kehidupan sehari-hari. Stres itu merupakan sinyal ya dari otak dan tubuh tentang suatu kondisi yang kita persepsikan sebagai satu ancaman atau satu situasi yang kita anggap sebagai stresor yang perlu kita hadapi gitu ya. Dan ini semua sebetulnya memerlukan proses adaptasi. Sebetulnya stres itu tidak sama ya dengan gangguan jiwa. Kalau kita lihat dengan piramida ini, di sini terlihat sebenarnya kondisi stres itu berbeda dengan gangguan jiwa atau masalah kesehatan jiwa. Stres sebetulnya bisa dibedakan menjadi dua jenis. Eustress itu merupakan satu respons yang positif. Kondisi ini sebetulnya malah akan dapat meningkatkan motivasi kita ya, mendorong kita untuk berupaya mencapai kesuksesan dalam menjalani perkuliahan gitu ya. Kita jadi lebih bersiap misalnya untuk menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Tapi ada juga yang namanya distress ya. Distress itu merupakan respon negatif. Karena stres sangat berat dan sulit diatasi gitu ya. Kondisi ini yang bisa membahayakan kesehatan, misalnya ada gangguan fisik gitu ya, ada gangguan kesehatan, kemudian ada kecemasan, ada depresi sampai kadang-kadang juga mahasiswa seringkali merasa lelah gitu ya atau burnout. Ketika kita menghadapi stres, biasanya ada yang namanya coping mechanism. Coping mechanism itu adalah segala upaya yang dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi distress ya. Coping mechanism itu terdiri atas mekanisme yang sehat atau yang tidak sehat. Nah, mekanisme coping yang sehat ini bisa kita pelajari dan kita latih. Nah, bagaimana misalnya ya, mekanisme coping yang sehat itu? Misalnya mencoba menenangkan diri dengan mengatur nafas, bicara pada diri sendiri, memberikan afirmasi yang positif dan juga bisa dengan berdoa misalnya. Atau kita bisa juga mencari dukungan sosial. Misalnya terbuka dan membicarakan masalah dengan teman, melakukan aktivitas sosial lainnya. Kemudian kita juga bisa melakukan aktivitas yang sesuai dengan hobi kita. Misalnya melakukan aktivitas seperti olahraga atau aktivitas lainnya yang membuat kita rasanya tuh nyaman gitu ya. Kemudian mencari bantuan profesional kesehatan jiwa jika dirasa masih kurang dapat menyelesaikan permasalahan secara sendiri dan ini merupakan sebetulnya cara yang baik. Untuk mekanisme coping yang tidak sehat, misalnya kita seringkali menyampaikan kata-kata negatif kepada diri kita sendiri. Misalnya saya kurang, saya tidak seperti orang lain dan itu membuat kita menjadi overthinking gitu ya. Kemudian kita melakukan perilaku yang membahayakan bagi diri kita sendiri. Misalnya makan berlebihan, menggunakan obat-obatan terlarang, mengonsumsi alkohol, menyakiti diri sendiri atau merusak barang misalnya ya. Atau bisa juga mekanisme coping seperti kita menarik diri, menghindari dari aktivitas sosial. Atau kadang-kadang yang berat bisa juga memiliki ide untuk mengakhiri hidup atau upaya untuk bunuh diri. Sering sebagai mahasiswa di tahun awal, kita merasa lelah ya menghadapi situasi yang berubah tadi gitu ya, sehingga kadang-kadang ini membuat menjadi burnout. Cara untuk mengatasi burnout pada mahasiswa kadang-kadang bisa dilakukan juga dengan mengikuti berbagai kegiatan yang apa ya, banyak kelompok dukungannya, banyak teman-teman yang mungkin sama dengan kita. Menjalin hubungan dengan teman sebaya, kemudian kalau memang diperlukan juga bisa mengikuti proses konseling. Kemudian juga bisa melakukan aktivitas fisik secara rutin. Nah, kiat-kiat untuk meningkatkan toleransi stres adalah yang pertama kita bisa belajar dari kegagalan. Kemudian kita bisa meningkatkan sikap yang positif dan ini akan membantu kita dalam menghadapi situasi stres. Kita menerima kenyataan sebagai bagian dari hidup kita dan terbuka serta fleksibel terhadap perubahan ya. Ini juga akan meningkatkan toleransi kita terhadap stres. Dengan aktif berkegiatan, kita juga semakin bisa menyelesaikan masalah secara langsung dan objektif. Juga bisa mengembangkan relasi dengan orang lain sehingga juga itu akan membantu kita menghadapi situasi secara bersama-sama. Dan kita juga sebaiknya juga kita menghindari sikap untuk membanding-bandingkan diri kita sendiri dengan orang lain. Lebih baik kita bisa membandingkan diri kita saat ini dengan diri kita yang sebelumnya.

[16:35]Bagaimana cara menoleransi distress? Nah, kalau kita mengalami satu kondisi distress, kita pertama-tama mungkin bisa menerima dulu kondisi kita saat itu, memberikan validasi kepada kita tentang situasi yang tidak menyenangkan yang kita alami. Beri waktu dulu kepada diri kita untuk menyelesaikan masalah. Jadi kita percaya bahwa penyelesaian masalah itu mungkin tidak bisa berlangsung cepat. Sehingga kita tidak bertindak impulsif, kita bertahan dulu dan mencoba melatih untuk menenangkan diri. Berfokus pada saat ini dan di sini serta apa yang bisa kita kontrol. Mungkin kita enggak bisa mengontrol masa lalu atau masa depan kita, tapi yang saat ini, mungkin bisa membantu kita untuk lebih mengurangi penilaian yang negatif pada diri kita sendiri. Nah, di sini ada teknik mengatasi stres yang mendorong adaptasi untuk membantu membangun resiliensi. Kurva berikut menunjukkan tiga hal ya yang perlu dilakukan sebagai respon stres. Yang pertama berpikir rasional atau berpikir positif tentang pengalaman kita. Ada contohnya ketika memecahkan satu masalah. Kita bukan berpikir bahwa ini satu masalah yang akan kita alami, tapi kita sepertinya sedang ditantang untuk memecahkan masalah dan kita akan naik kelas jika bisa menghadapi situasi ini gitu ya. Nah, kemudian masalah yang dikembangkan untuk kita tentukan dulu bagaimana cara menyelesaikannya. Nah, dari kita tentukan ini, kita bisa membantu untuk beradaptasi. Kemudian juga respon stres kita, kita tentukan. Mungkin tidak perlu juga berlebihan reaksinya, tapi kita hadapi dengan ketenangan. Nah, bagaimana menghadapi situasi yang tidak menyenangkan tapi juga harus tetap tenang gitu ya. Nah, ini caranya mungkin dengan teknik mengatasi stres. Kita biasakan gaya hidup yang sehat ya seperti diet yang teratur, diet yang sehat, tidur yang cukup, olahraga, aktivitas yang bermakna. Memiliki manajemen waktu yang baik ya, kemudian kita cukup realistis ya, menempatkan hal-hal yang proporsional apa yang masih bisa saya lakukan, apa yang tidak gitu ya. Kemudian belajar untuk menerima keadaan, karena kita enggak bisa mengontrol semuanya. Kemudian kita identifikasi dan terima semua jenis emosi yang kita alami dan kita coba bisa cari juga hal-hal yang menyenangkan buat kita. Mungkin dari setiap situasi atau hal-hal kecil yang kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari, kita bisa cari hal apa yang positif dari kejadian tersebut. Kita juga bisa melatih ya pernapasan kita agar kita jadi terbiasa untuk tenang ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dan ini akan menurunkan juga detak jantung kita ketika kita menghadapi stres. Ini adalah teknik ya untuk melatih pernapasan dinamakan teknik 4x4. Jadi kita bisa memulai dengan menarik nafas 4 detik, kemudian saat menahan nafas selama 4 detik, kita menunggu dulu dan ketika kita membuang nafas itu kita juga bisa menghitung 4 detik dan tahan kembali 4 detik sebelum memulai kembali menarik nafas. Jadi 4x4 seperti itu. Nah, stres juga dapat berdampak positif ya tadi kita sudah pelajari, ini juga bisa memperkuat kita untuk menghadapi situasi yang tidak nyaman. Konsep ini disebut sebagai resiliensi dan ini merupakan kemampuan untuk kembali ke kondisi awal setelah berhadapan dengan situasi sulit. Resiliensi ini sebetulnya sangat kompleks dan terdiri atas beberapa faktor, misalnya optimisme yang realistis, memiliki cara pandang yang berbeda terhadap rasa khawatir. Ada sikap altruisme dan moralitas kita. Juga dipengaruhi oleh dukungan sosial, tokoh-tokoh panutan yang memiliki resiliensi baik yang kadang-kadang menjadi contoh buat kita bagaimana cara menyelesaikan masalah. Kesehatan fisik kita juga sangat mempengaruhi kekuatan mental kita dan kemampuan kita untuk berpikir secara rasional. Fleksibel dalam cara berpikir dan fleksibel dalam menyikapi segala sesuatu dengan emosi. Kemudian kita memiliki makna dan tujuan hidup. Ada yang disebut sebagai keterampilan mindfulness. Ini merupakan satu keterampilan yang bisa kita latih untuk menjalani situasi secara saat ini dan di sini. Jadi kita berfokus pada here and now. Ketika misalnya kita berada di masa lalu, kita terpikir untuk masa-masa yang tidak menyenangkan misalnya ya. Tapi kita saat ini sedang bertumbuh menuju kedewasaan, sehingga kita bisa berfokus menerima kondisi saat ini. Dan memperhatikan serta menerima pikiran kita, perasaan kita dengan pengalaman kita sendiri pada saat ini saja. Mungkin hal-hal yang muncul dalam pikiran kita tentang masa depan kita, kekhawatiran kita, kita hilangkan dulu, kita stop dulu dan kita berfokus pada yang saat ini. Mungkin itu akan membantu kita juga untuk meredakan ketegangan. Nah, penggunaan minuman keras yang berlebihan juga kadang-kadang bisa digunakan oleh orang-orang ya yang mengalami stres. Itu bisa mengurangi stres untuk sementara waktu, tapi itu akan mengurangi kemampuan seseorang untuk membuat keputusan secara rasional. Kenapa? Karena sangat mengganggu kognitif seseorang gitu ya. Minuman keras, narkoba, rokok itu tidak menghilangkan masalah, tetapi justru nanti ke depannya akan membawa lebih banyak masalah yang nanti akan justru menimbulkan stres kembali untuk kalian. Penggunaan yang berlebihan akan menyebabkan masalah pada kesehatan fisik dan juga jiwa. Nah, ini sering juga ya dialami oleh mahasiswa, ketika kita berhadapan dengan banyak orang, kita seringkali stres karena merasa terlewat kesempatan untuk sama seperti orang-orang lain. Nah, ini kita menjadi tidak fokus ya pada kondisi saat ini sehingga kita juga jadi stres dan cenderung ingin segera menyelesaikan dengan hal-hal yang tadi negatif. Nah, Fear of Missing Out ini harus kita atasi ya. Kita bisa ikut dengan teman-teman kita, kita bisa mungkin bersama kecepatannya dengan gaya hidup orang lain. Tapi kita juga perlu menyadari ya bahwa saat ini kita berada pada kondisi yang seperti apa dan hadir di setiap momen itu. Kita bisa menggunakan gadget kita, media sosial kita itu secara tepat gitu ya, proporsional, jangan juga berlebihan dan harus sama gitu selalu dengan teman-teman kita. Nah, kemudian gangguan jiwa, tadi kita sudah belajar ya, masalah kesehatan jiwa, gangguan jiwa, dan stres itu satu kondisi yang berbeda. Pada piramida hierarki sehat jiwa, kita bisa melihat ya bahwa kondisi tersebut berbeda-beda. Kalau masalah kesehatan jiwa itu merupakan masalah emosional, pikiran atau perilaku dalam jangka waktu yang pendek namun cukup signifikan ya, sehingga mungkin bisa menimbulkan dampak ya pada seseorang. Tapi umumnya masih bisa diatasi dan mungkin bisa dengan dukungan dari orang-orang sekitar, kita bisa melewatinya. Sementara pada gangguan jiwa, gejalanya sudah berlangsung lebih lama lagi dan mempengaruhi kehidupan kita secara signifikan ya. Fungsi sehari-hari kita jadi terganggu, misalnya kita jadi sulit untuk kuliah, sosialisasi kita juga jadi terganggu dan ini kadang-kadang juga memerlukan tata laksana yang baik ya, mungkin bisa mendatangi profesional dan juga bisa di nanti ada pengobatan atau mungkin dengan mengikuti proses terapi. Nah, gangguan jiwa yang umum dialami oleh mahasiswa bisa berupa bermacam-macam, baik pada mahasiswa pria maupun mahasiswa yang wanita. Manifestasi sementara dari gejala kesehatan jiwa dalam situasi kehidupan itu bisa terjadi. Namun kalau sudah berlangsung lama dan mengganggu, maka perlu juga kita mencari bantuan gitu ya. Misalnya ini 50% dari gangguan jiwa pada orang dewasa itu ternyata juga sudah dimulai ya pada usia 14 tahun dan muncul juga sebelum usia 24 tahun gitu ya. Masa remaja atau dewasa muda ini seringkali merupakan masa yang rentan untuk muncul gangguan jiwa. Misalnya dari riset kesehatan dasar Indonesia dari Kementerian Kesehatan menemukan sekitar hampir 10% ya penduduk berusia di atas 15 tahun itu mengalami gangguan jiwa ya termasuk di dalamnya bipolar, depresi atau gangguan cemas. Nah, di sini yang termasuk gangguan jiwa misalnya gangguan mood tadi ya, gangguan cemas, gangguan makan, bipolar, skizofrenia, perilaku menyakiti diri dan bunuh diri serta gangguan penggunaan zat.

[26:43]Nah, pada usia remaja, gangguan mood dan cemas itu banyak dialami gitu ya. Kita mau lihat ya gangguan mood yang mana yang paling banyak ya, seringkali depresi misalnya ya. Depresi ini sering digunakan oleh kita semua ya masyarakat mengatakan ketidakbahagiaan, kesedihan atau perasaan sedih dengan terminologi depresi. Tapi kalau gangguan depresi itu sebetulnya berbeda ya dari kondisi tersebut. Kalau gangguan depresi itu mungkin ada gejala-gejala sedih, ketidakbahagiaan, namun biasanya gejalanya lebih banyak ya, biasanya perlu diagnosis tertentu gitu ya. Misalnya gejalanya disertai juga dengan berkurangnya minat, berkurang energi, rasa lelah yang terus-menerus. Ada rasa rendah diri, kemudian ada rasa pesimis, nafsu makan dan tidur juga jadi terganggu, ada perasaan putus asa dan pikiran tentang kematian atau mengakhiri hidup gitu ya. Kalau gejala ini berlangsung terus-menerus sampai mungkin setidaknya 2 minggu seperti itu, itu baru kita sebut sebagai satu kondisi gangguan depresi. Kalau yang dimaksud dengan kecemasan saat ujian misalnya ya atau presentasi, kita merasa cemas gitu ya, takut, khawatir. Nah, itu satu hal yang normal sebetulnya dialami oleh semua orang ya. Namun berbeda dengan gangguan cemas. Kalau gangguan cemas itu disertai dengan juga perasaan yang tidak nyaman pada tubuh kita, sensasi fisik ya seperti jantung berdebar, sesak napas, berkeringat, gemetar, pusing yang sangat mengganggu sampai juga aktivitas kita sehari-hari jadi terganggu ya. Kalau kecemasan ini tidak diatasi, kadang-kadang bisa berlanjut menjadi gangguan cemas ya yang kadang-kadang itu bisa sampai mengganggu fungsi kehidupan normal kita. Beberapa yang termasuk dalam gangguan cemas antara lain gangguan cemas menyeluruh misalnya kalau ini kita alami terus-menerus sepanjang hari ya. Kita rasanya tegang terus, mungkin gugup, sulit konsentrasi, sulit tidur gitu ya. Atau bisa juga ada yang namanya gangguan panik. Kalau gangguan panik, biasanya dialami oleh seseorang berupa serangan panik yang berulang. Serangan panik itu merupakan satu kondisi tiba-tiba ya, muncul rasa cemas yang sangat memuncak dan sangat kuat. Disertai tadi ya dengan gejala-gejala fisik seperti berdebar, kepala pusing, gemetar, sesak nafas, berkeringat sampai rasanya takut menjadi serangan jantung ya, atau takut menjadi meninggal. Kemudian ada juga yang namanya gangguan obsesif kompulsif. Nah, ini juga termasuk gangguan cemas, ditandai dengan pikirannya yang berulang-ulang atau ada dorongan untuk melakukan perilaku kompulsif berulang-ulang. Yang juga termasuk kecemasan misalnya fobia sosial. Ini adalah satu kondisi rasa cemas yang dihadapi pada situasi tertentu, misalnya berbicara di depan umum karena kekhawatiran akan penilaian orang lain. Kemudian ada juga fobia spesifik, yaitu cemas yang tidak proporsional yang berlebihan terhadap satu objek atau situasi sehingga kita cenderung untuk menghindarinya ya. Misalnya ketinggian atau objek-objek yang lain gitu ya. Kemudian ada juga stres pasca trauma atau post traumatic stress disorder. Ini biasanya dialami ketika seseorang mengalami satu situasi yang sangat berat ya, yang katastropik atau mengancam nyawa. Misalnya bencana alam, kecelakaan misalnya ya, kekerasan seksual atau penyerangan. Nah, ini satu kondisi yang traumatis dan menimbulkan satu manifestasi kecemasan yang cukup berat untuk orang yang menghadapinya. Untuk gangguan makan, gangguan makan juga sering dialami oleh remaja dan dewasa muda. Ditandai oleh apa asupan makan yang terganggu gitu ya. Kemudian ada pemikiran pada berat badan atau tubuhnya gitu ya. Sering juga dialami lebih banyak pada wanita. Kadang-kadang juga sering berkaitan dengan gangguan mental yang lain seperti depresi, gangguan kecemasan atau bisa juga berdampak pada penggunaan atau penyalahgunaan zat. Nah, ini yang termasuk dalam tipe-tipe gangguan makan ya, misalnya kalian bisa lihat di sini ada anorexia nervosa, kemudian bulimia nervosa dan binge eating disorder. Itu memang berbeda-beda kondisinya gitu ya. Tapi bisa dialami oleh mahasiswa pada umumnya. Perilaku menyakiti diri sendiri merupakan tindakan yang disengaja ya. Ini merupakan satu tindakan misalnya kita melakukan upaya memukul, bisa juga menyayat gitu ya, membakar atau mencakar diri kita dan ini sering dialami ya oleh remaja atau dewasa muda yang sebetulnya agak kesulitan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Sebetulnya kondisi ini bukan untuk mencari perhatian ya. Pada umumnya orang tersebut memang memerlukan bantuan. Biasanya sering dilakukan untuk mengendalikan emosinya gitu ya. Kalau memiliki pemikiran terkait kematian atau bunuh diri, ini merupakan satu kondisi yang lebih serius ya yang seringkali memang dikaitkan dengan gangguan mood seperti depresi. Pada kondisi ini penting untuk mencari bantuan. Nah, jenis gangguan jiwa lain yang mungkin bisa kita kenali yaitu bipolar ya. Bipolar itu sebetulnya gangguan mood yang biasanya berlangsung untuk jangka yang panjang. Ada beberapa episode yang dialami, kita tadi sudah lihat ada episode yang depresi misalnya gejala-gejala kita sudah pelajari tadi dan di sini juga ada episode lain yang misalnya berkebalikan dari depresi itu. Pada gangguan bipolar, orang yang mengalaminya pernah mengalami episode depresi dan juga ada episode yang meningkat, misalnya hipomania atau mania. Di sini ditandai dengan peningkatan suasana hati yang berlebihan gitu ya. Yang beda dari sebelumnya, bisa juga berupa rasa yang euforia, rasanya senang yang sangat berlebihan, sangat bersemangat atau bisa berupa kemarahan gitu ya. Dan kepercayaan dirinya juga kadang-kadang kurang realistis. Sehingga gejala-gejala ini juga sangat mengganggu fungsi sehari-hari. Gangguan psikosis merupakan juga gangguan jiwa ya yang merupakan gangguan jiwa yang berat. Namun bisa diatasi, bisa diobati dan bisa sembuh. Psikosis ini sering dijumpai awalnya di usia remaja dan dewasa muda ya. Dan psikosis yang jangka pendek itu seringkali karena penggunaan alkohol atau penggunaan zat-zat terlarang gitu ya. Kadang-kadang itu bisa menimbulkan gejala-gejala psikosis, misalnya ada keyakinan yang salah tentang satu realita tertentu. Atau kita mengalami halusinasi misalnya seperti itu ya. Dan ini merupakan kondisi yang berat. Menurut riset kesehatan dasar di Indonesia, sekitar 1,8 per 1000 penduduk itu mengalaminya gitu ya. Namun memang kondisi ini bisa diatasi ya, bisa disembuhkan. Kondisi gangguan jiwa itu bisa juga muncul dalam kondisi yang emergency atau gawat darurat ya. Contoh-contohnya misalnya overdosis obat-obat terlarang misalnya ya, alkohol atau ada perilaku percobaan bunuh diri misalnya ya. Nah, kalau kita menemukan orang-orang yang mengalami seperti ini atau misalnya ada teman-teman atau orang yang kita kenal, nah kita bisa lihat tanda bahayanya ya. Misalnya kita lihat di sini ada daftar gejala-gejalanya, kemudian kalau dia akhirnya memang sebelum ada gejala ini, ada penggunaan apa namanya, narkoba atau alkohol. Ini kita bisa segera hubungi orang terdekat ya atau UGD rumah sakit yang terdekat atau bisa juga menghubungi nomor 119. Nah, kegawatdaruratan jiwa lain yaitu percobaan bunuh diri. Ini tanda-tandanya ya, kalian bisa lihat di sini, tadi kita sudah bahas juga tanda-tanda depresi gitu ya. Kalau ada tanda-tanda seperti ini, ada percobaan untuk mengakhiri hidup dari orang-orang yang kita kenal, segera cari bantuan ya. Nah, gaya hidup sehat, manajemen stres, hubungan baik orang terdekat itu bisa membantu kita ya untuk menjaga kesehatan jiwa yang baik. Tapi kadang-kadang ini semua belum tentu berhasil ya. Ada situasinya, kadang-kadang kita memang tidak bisa menyelesaikan masalah kita sendiri gitu ya. Terutama kalau ini sudah sangat mengganggu, aktivitas kita sehari-hari misalnya perkuliahan juga jadi terganggu, hubungan sosial kita jadi terganggu. Nah, ini saatnya deh, kalian jangan ragu-ragu untuk cari bantuan profesional. Kenapa ya kita harus cari bantuan? Karena ini akan bisa membantu kalian untuk pulih gitu ya. Percaya bahwa kondisi kalian itu bisa dibantu ya. Kualitas hidup akan juga meningkat dengan segera mencari bantuan ya. Kita tidak perlu malu untuk mencari bantuan dan dukungan karena masalah kejiwaan ini bisa diatasi. Nah, ini kalau kita memiliki tanda-tanda seperti ini ya. Misalnya rasa sedih yang berlebih-lebihan sehingga perkuliahan kita terganggu, kemudian juga teman atau anggota keluarga kita melihat ada perbedaan dari kita sebelumnya gitu ya. Segera cari bantuan ya, mungkin orang-orang terdekat yang kita percaya bisa ke pembimbing akademisnya terlebih dahulu atau ke teman kita atau dewasa lain dan mungkin juga bisa mencari bantuan ke profesional kesehatan jiwa. Nah, kemudian kalian bisa juga mengakses layanan kesehatan ya yang ada di mahasiswa di universitas. Misalnya kalian bisa datang ke klinik mahasiswa misalnya di UI ada klinik Makara atau mungkin di UI juga ada rumah sakit UI gitu ya. Kalau kalian dekat dengan puskesmas, kalian bisa juga datang ke puskesmas ya untuk mencari bantuan yang bisa diakses dengan BPJS ya atau asuransi kesehatan sehingga tidak berbayar gitu ya. Kemudian nanti kalau diperlukan kalian juga akan dirujuk ke spesialis. Pada kondisi yang emergency atau darurat, kalian perlu datang ke UGD rumah sakit terdekat. Nah, di lingkungan UI, dukungan itu akan sangat besar ya terhadap mahasiswa. Misalnya dukungan dari tutor, konselor akademik, peer counselor, ada kakak tingkat gitu ya. Kalian semua akan mendukung kalian ya terhadap kebutuhan kalian apakah kebutuhan akademis atau non akademis ya seperti misalnya masalah psikologis yang dialami. Nanti akan dirujuk ke tim konseling dan ini semua sifatnya dirahasiakan. Kalau kita mendapati teman kita justru ya yang memiliki masalah yang cukup berat gitu ya. Seperti memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup, nah kira-kira kita bisa juga ikut membantu ya dengan cara mencoba mendengarkan dulu. Kemudian kita juga jangan memberikan penghakiman ya kepada mereka atau malah menuduh mereka misalnya kurang iman atau hal-hal yang negatif lain misalnya ya. Tapi kita dorong dulu, kita pahami dulu, dorong mereka untuk bisa menceritakan apa yang mereka alami. Kemudian kita pahami situasinya dan kita bantu mereka untuk mencari pengobatan yang efisien.

[39:45]Kemudian kita juga mungkin sebagai teman, kita juga perlu mawas diri gitu ya. Mungkin kita bisa meminta bantuan kepada tim konselor yang lain untuk bisa membantu teman kita ini. Sebaiknya kita jangan tinggalkan mereka sendirian ya. Singkirkan juga benda-benda yang berbahaya seperti alat-alat atau cairan-cairan yang kemungkinan bisa membahayakan buat mereka gitu ya. Kemudian segera bawa ke apa bantuan darurat, misalnya ke UGD rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang terdekat. Apabila kamu atau orang yang kamu kenal ini mengalami rasa putus asa yang terus-menerus ya. Nah, itu tadi ya, jangan ragu-ragu untuk meminta dukungan orang-orang di sekitar kamu bisa teman, orang dewasa yang kamu kenal atau datang langsung ke tenaga kesehatan gitu ya. Nah, mungkin sekian materi yang bisa saya bawakan untuk hari ini. Semoga pembelajaran ini bisa menjadi motivasi untuk Adik-adik semua dalam menjalani tantangan di masa perkuliahan yang baru ini. Dan ini menjadikan peluang ya untuk kita belajar menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih sehat jiwa. Salam sehat jiwa sekali lagi buat Adik-adik semua, terima kasih, sampai ketemu.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript