[0:00]Kalau dengar kata organisasi Islam, apa stereotip yang pertama kali muncul di kepala kamu? Pasti bayangannya bapak-bapak pakai peci, ngumpul di masjid tua. Mereka ngomongin politik, ceramah panjang yang bikin ngantuk dan kaku banget sama anak muda, betul enggak? Tapi, anehnya, ada satu organisasi berusia seabad lebih yang justru sekarang lagi dibajak dan digandrungi habis-habisan sama Gen Z dan milenial. Kita lagi ngomongin sebuah fenomena sosiologis yang sangat aneh sekaligus keren banget. Di saat banyak anak muda di seluruh dunia mulai skeptis sama institusi agama, Muhammadiyah justru tampil beda. Mereka malah jadi magnet bagi anak muda. Kita obrolin wajah baru Muhammadiyah di sini. Kita bakal lihat kenapa organisasi yang lahir tahun 1912 ini bisa punya resonansi yang begitu kuat sama gaya hidup, logika dan ambisi anak muda zaman now. Mulai dari ekosistem lifestyle mereka sampai cara mereka jawab rasa insecure Gen Z pakai narasi agama yang sangat rasional. Biar kita bisa membedah fenomena ini secara tajam, kita harus masuk dulu ke dalam kepala anak muda zaman sekarang. Gen Z dan milenial itu adalah generasi yang lahir di era Google. Kalau mereka punya pertanyaan, mereka search, mereka kritis, mereka suka nanya kenapa? Dan mereka paling benci sama jawaban otoriter. Contohnya, udah enggak usah banyak tanya, pokoknya kata agama begitu. Pokoknya percaya aja, nanti kamu kualat. Nah, di sinilah alasan pertama kenapa Muhammadiyah menang telak. Logika beragama yang masuk akal. Muhammadiyah dari sananya memang didesain untuk mendobrak kebekuan berpikir. Kiai Haji Ahmad Dahlan itu pionir pemikiran rasional. Di Muhammadiyah, agama itu enggak diajarkan sebagai tumpukan mitos, klenik atau tahayul yang menakutkan. Agama diajarkan lewat sains, rasionalitas dan ilmu pengetahuan. Ketika anak muda nanya sesuatu yang kritis soal agama, ustaz-ustaz Muhammadiyah enggak bakal marah. Mereka akan ngajak anak itu bedah teksnya, lihat konteks sejarahnya dan pakai akal sehat. Ada konsep yang namanya tajdid atau pembaruan. Muhammadiyah itu ibarat software yang selalu di-update setiap zaman biar enggak nge-lag menghadapi masalah baru. Contoh dari agama yang rasional ini adalah yang belakangan ramai dibahas netizen. Kalender Hijriah Global Tunggal. Banyak anak-anak muda di luar Muhammadiyah yang diam-diam setuju sama KHGT karena butuh kepastian. Kalau mau ngatur jadwal liburan, cuti dan mudik, KHGT jauh lebih efisien daripada rukyat. Selain itu, Muhammadiyah juga rasional dalam ibadah. Rasional dalam ibadah ini artinya ibadah enggak aneh-aneh. Orang Muhammadiyah enggak suka ibadah yang ganggu orang pakai mikrofon masjid, apalagi pakai sound kenceng di lapangan. Doa orang Muhammadiyah juga simpel, cukup dilafalkan sendiri-sendiri. Privat, tenang dan sesuai kebutuhan. Bahkan ada jokes keluarga Muhammadiyah kalau ziarah kubur enggak tahu mau doa apa. Soalnya emang doa di Muhammadiyah itu ya urusan masing-masing, enggak perlu dipimpin pakai suara yang kencang. Jangan lupa soal poligami. Walaupun ini udah jarang dibahas, tapi bagaimanapun anak-anak muda jadi merasa relate dengan Muhammadiyah karena Muhammadiyah ini bisa dibilang anti poligami. Di Muhammadiyah ada jokes begini. Aktivis Muhammadiyah itu jangankan poligami, bermimpi saja tidak berani. Yes, karena organisasi perempuan Muhammadiyah yang bernama Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah itu getol benar soal kampanye anti poligami. Alasan kedua kenapa Muhammadiyah diminati Gen Z dan milenial adalah karena ini organisasi modern. Muhammadiyah itu bukan organisasi yang melihat ke masa lalu. Enggak suka lebay soal romantisasi kejayaan umat Islam zaman dulu, juga enggak suka datang ke kuburan. Gen Z dan milenial jelas enggak suka dua hal itu. Muhammadiyah adalah organisasi yang orientasinya masa depan. Bikin sekolah biar pada pintar, bikin rumah sakit biar pada sehat. Masa depan banget enggak sih? Muhammadiyah enggak suka yang deso-deso dan kampungan, kayak tawuran anak silat, sound horeg dan lain-lain. Bahkan dari segi pakaian, orang Muhammadiyah itu juga selalu rapi dan modern. Kalau acara formal ya pakai batik, celana kain dan sepatu rapi. Kalau mau lebih formal lagi, ya pakai jas. Kalau pun pengajian ya baju koko biasa. Muhammadiyah jelas jauh dari budaya pakai gamis, surban dan sejenisnya. Soal lingkungan juga sama. Lingkungan Muhammadiyah itu biasanya tenang dan cenderung eksklusif. Tenang karena enggak banyak suara-suara yang mengganggu dari masjid. Eksklusif karena orangnya rata-rata kelas menengah dan modern, enggak suka ikut campur urusan orang lain. Alasan ketiga adalah adanya wadah aktualisasi diri buat anak muda. Gini, di dunia modern, pop culture itu bukan cuma soal musik atau film. Pop culture buat Gen Z itu soal mencari skena atau tribe yang relate sama hobi dan identitas mereka. Muhammadiyah sadar betul soal ini. Makanya, alih-alih maksa semua anak muda pakai seragam dan ngelakuin hal yang sama, mereka bikin franchise skena lewat apa yang disebut organisasi otonom. Ini adalah manifestasi pop culture Islami yang sesuai sama ragam minat anak muda. Coba kita absen skenanya satu-satu. Pertama buat kamu anak SMA yang artsy, suka nulis, jago desain dan suka event organizing, ada skena IPM atau Ikatan Pelajar Muhammadiyah. IPM ini udah bukan sekadar Osis biasa. Mereka bikin acara bedah buku, festival literasi sampai bikin wadah eSports. IPM itu tempat kumpulnya creative hub pelajar. Kedua, buat kamu anak kuliahan yang ngerasa jadi aktivis intelektual, yang suka ngopi sambil bahas filsafat, teori konspirasi geopolitik atau isu sosial, ada skena IMM atau Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Di IMM, jas merah itu bukan cuma simbol, tapi gaya hidup pemikir kritis. Mereka ngebetuk anak muda yang jago debat tapi tetap punya adab. Ketiga, buat kamu yang suka tantangan fisik, action dan nge-fans sama olahraga bela diri, ada Tapak Suci Putra Muhammadiyah. Ini skena sport dan martial arts yang cool abis. Seragam merah, sabuk kuning dan gerakannya estetik banget. Anak muda suka Tapak Suci karena ini bukan cuma soal berantem, tapi soal disiplin, kejuaraan dunia dan pembentukan karakter kesatria. Ini adalah pop culture action di dunia nyata. Dan keempat, buat kamu anak alam yang jiwanya traveler, suka camping, hiking dan punya survival kit di tas, ada skena Hizbul Waton. HW itu mengakomodir gaya hidup petualangan. Di sini anak muda diajarin tangguh di alam bebas dan punya jiwa problem solver. Ortom-ortom inilah yang jadi taman bermain buat aktualisasi diri. Kamu enggak dipaksa jadi ustaz semua. Kamu bisa jadi sutradara film jebolan IPM, politisi jebolan IMM, atlet internasional jebolan TS atau anak senja pendaki gunung jebolan HW. Muhammadiyah menyediakan ekosistem lifestyle-nya, kamu tinggal pilih servernya. Selain disediain wadah di organisasi otonom, anak-anak muda ini juga diwadahi langsung dengan ribuan amal usaha Muhammadiyah. Muhammadiyah mengajarkan bahwa ibadah itu bukan cuma salat malam sambil nangis. Bikin rumah sakit yang bisa ngobatin ribuan orang miskin itu ibadah, bikin sekolah di pedalaman Papua itu ibadah. Menurunkan relawan MDMC ke lokasi gempa dengan peralatan evakuasi standar internasional itu ibadah. Anak-anak muda ini dikasih panggung buat ngelola amal usaha Muhammadiyah. Mereka dikasih tanggung jawab buat jadi direktur rumah sakit, jadi rektor di usia muda atau jadi manajer startup kemanusiaan milik Lazismu. Ekosistem ini ngasih wadah buat anak muda menyalurkan energi rebel dan ambisi mereka ke dalam bentuk karya nyata. Mereka enggak disuruh demo teriak-teriak di jalanan sampai anarkis. Mereka disuruh, nih pegang anggaran miliaran, bangun klinik di pelosok desa, manage yang benar. Mereka dikasih kepercayaan gede banget. Dan alasan keempat yang mungkin paling menyentuh hati, sikap inklusif dan egaliter yang radikal. Anak muda hari ini muak dengan kebencian berbasis sara. Mereka muak dengan narasi agama yang memecah belah yang ngata-ngatain orang beda agama atau yang suka mengkafir-kafirkan saudara sendiri cuma karena beda pandangan politik. Di tengah kebisingan intoleransi itu, Muhammadiyah berdiri sebagai oase yang sangat sejuk. Di Muhammadiyah ada yang namanya Krismuha, singkatan dari Kristen Muhammadiyah. Yaitu orang-orang Kristen dan Katolik yang sekolah atau kuliah di Muhammadiyah. Betapa Muhammadiyah membuka pintu sekolah dan kampusnya lebar-lebar buat anak-anak non muslim tanpa memaksa mereka masuk Islam. Mereka bahkan memfasilitasi guru agama sesuai keyakinan anak-anak tersebut. Toleransi tingkat tinggi kayak gini itu relate banget sama core value Gen Z yang menjunjung tinggi hak asasi manusia dan diversity. Anak-anak muda melihat Muhammadiyah bukan sebagai kelompok eksklusif yang merasa suci sendiri. Mereka ngelihat Muhammadiyah sebagai tenda besar tempat siapa aja bisa berteduh. Enggak ada senioritas yang toksik. Enggak ada judgement kalau kamu datang ke pengajian pakai jeans robek atau rambut gondrong. Mereka mempraktikkan agama yang merangkul, bukan agama yang memukul. Bagi Muhammadiyah, agama kalau cuma disampaikan lewat ancaman neraka dan dogma yang kaku, pelan-pelan pasti bakal ditinggalkan oleh generasi masa depan. Kita udah ngelihat buktinya di banyak negara maju, di mana gereja dan tempat ibadah mulai kosong karena anak mudanya merasa agama udah enggak relevan sama realitas penderitaan dan kemajuan zaman. Tapi Muhammadiyah membuktikan sebaliknya, mereka berhasil mengawinkan spiritualitas dengan modernitas secara sangat elegan. Bagi anak muda hari ini, Muhammadiyah itu seperti kendaraan super canggih. Muhammadiyah membuktikan kepada Gen Z bahwa kamu enggak perlu memilih antara menjadi orang yang open-minded, maju dan rasional atau menjadi orang yang religius. Kamu bisa menjadi keduanya secara bersamaan. Kamu bisa nongkrong di kafe estetik, ngomongin startup dan kripto, mendengarkan musik indie, tapi tetap punya fondasi moral yang sangat kokoh untuk tidak memakan uang haram dan punya kepekaan sosial untuk membantu sesama. Di saat banyak kelompok lain sibuk meributkan urusan pakaian apa yang paling syar'i atau siapa yang masuk surga dan masuk neraka, anak-anak muda di Muhammadiyah sibuk merakit robot, membedah jurnal internasional, membangun ekonomi umat dan ngurusin logistik bencana alam. Muhammadiyah tidak menuntut anak muda untuk lari dari dunia. Sebaliknya, Muhammadiyah menantang mereka untuk menaklukkan dunia ini dengan cara yang paling terhormat. Jadi, kalau hari ini kamu ngelihat kampus, rumah sakit atau komunitas Muhammadiyah selalu ramai diisi oleh darah-darah muda yang energik, itu bukan karena kebetulan. Itu adalah hasil dari visi luar biasa yang selalu menempatkan akal sehat dan kerja nyata di atas perdebatan kosong. Kamu sendiri, punya enggak pengalaman bersinggungan langsung sama ekosistem Muhammadiyah? Entah kamu alumni sekolahnya, pernah dirawat di RSPKU-nya, atau mungkin kamu punya circle teman nongkrong anak-anak IPM yang asik. Coba drop pengalaman dan opini kamu di kolom komentar.

Wajah Baru Muhammadiyah | Ini Alasan Kenapa Organisasi Ini Digandrungi Gen Z dan Milenial
Ahmad Dahlan
11m 22s1,593 words~8 min read
Auto-Generated
Watch on YouTube
Share
MORE TRANSCRIPTS


