[0:09]Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil alamin washolatu wassalamu ala rasulillahil karim. Sayyidina Muhammadin Al Amin wa'ala alihi wasohbihi ajmain wa ba'ad. Saudara-saudariku di mana pun berada, alhamdulillah senantiasa kita bersyukur pada Allah Subhanahu wa taala. Yang telah menganugerahkan limpahan nikmat yang tiada terkira. Sehingga di antara sekian nikmat itu, kita bisa merasakan keistimewaan dan keindahan Ramadan sampai dengan detik ini. Momentum kali ini akan mengantarkan kita pada 10 hari kedua di sesi pertengahan Ramadan tahun 1445 Hijriah. Untuk itu penting rasanya kita mempelajari dan menyiapkan diri dengan baik sehingga dapat menemukan kemuliaan, keistimewaan-keistimewaan. Sekaligus ukuran standar keberhasilan dalam 10 hari pertama setidaknya kita menunaikan ibadah siam Ramadan. Teman-teman di mana pun berada, tidak ada ketentuan spesifik untuk membagi Ramadan pada sepertiga pertama, sepertiga kedua, sepertiga terakhir dengan detail 10 hari pertama, kedua sampai dengan akhirnya. Namun demikian, ulama tidak sedikit yang menganalisis kecenderungan perilaku orang puasa, kecenderungan keistimewaan yang mungkin didapatkan dari isyarat-isyarat yang ditemukan baik dalam Al-Qur'an ataupun Hadis Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Semisal saat kita menemukan momentum awal Ramadan di 10 hari pertama, banyak sekali baik dalam isyarat ayat Al-Qur'an pun demikian penjelasan yang lugas dari Hadis Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Yang menampilkan limpahan rahmat yang mengiringi keutamaan awal Ramadan yang dengan rahmat itu terbuka kesempatan dan semangat bagi setiap muslim untuk menghidupkan dan mengisi awal-awal Ramadan. Kita ambil contoh hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang didokumentasikan oleh Al Imam Al Bukhari dalam rangkaian topik Asy Syiam atau topik puasa. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam satu kali pernah bersabda, "Idza jaa Ramadan, jika telah tiba Ramadan itu. Tiba kita di awal Ramadan, futihat abwabul jannah diriyat lain Futihat Abwabus sama. Maka dibuka pintu-pintu surga. Kemudian wuglikat abwabunar, ditutup pintu-pintu neraka. Wasufit syayatin, diikat dibelenggu para setan. Ada sementara ulama yang mendefinisikan ini secara kontekstual dalam pengertian turunnya rahmat Allah menjadikan peluang-peluang kebaikan itu semakin terbuka sehingga pintu surga menjadi terbuka. Neraka kemudian tertutup karena rahmat Allah yang datang menjadikan kebanyakan umat Islam terdorong untuk meningkatkan ketaatan dan menutup peluang kemaksiatan. Sehingga tidak ada celah bagi setan untuk menggoda, seakan-akan setan menjadi terbelenggu. Ada yang mengartikan tekstual di awal Ramadan, setan dibelenggu, pintu surga terbuka sehingga semangat ibadah meningkat, pintu neraka ditutup sehingga kemaksiatan juga tidak nyaman rasanya untuk dilakukan. Tertutup celah maksiat, terbuka celah ketaatan. Konsekuensinya, kebanyakan umat Islam termotivasi tergerak semangat untuk meningkatkan ibadah. Bahkan di awal Ramadan, masjid-masjid menjadi penuh, kajian menjadi semarak, salat ditunaikan dengan penuh motivasi, kajian Quran, bacaan Quran, kita temukan di berbagai tempat. Ketika memasuki 10 hari kedua di pertengahan Ramadan, mulai nampak suasana klasik terjadi. Perbedaan mulai muncul, saf di masjid telah mendapati kemajuan, safnya maju, dari yang tadinya mulai penuh sampai keluar masjid, sekarang sudah mulai merapat. Rapat ke dalam masjid sedikit-sedikit berkurang. Hal yang sering kali nampak terjadi setiap datang momentum Ramadan. Untuk itu penting bagi setiap muslim untuk membangun konsistensi, menguatkan diri, menghadirkan motivasi untuk mengetahui keutamaan di 10 pertengahan Ramadan itu. Yang setidaknya dikumpulkan oleh sementara kalangan dari ulama sehingga dengan itu menjadikan patokan bagi kita untuk semakin konsisten dan semangat di setiap waktu Ramadan. Pertengahannya meningkat atau setidaknya bisa sama di atas sedikit dari awal-awal Ramadan. Di akhir Ramadan lebih meningkat lagi sampai bahasa Nabi mengencangkan ikat pinggang, artinya kualitas makin bertambah, kuantitas semakin meningkat. Untuk itu di edisi aku suka kali ini, kita akan coba keluarkan satu, dua hal yang setidaknya membuat kita menjadi semakin termotivasi untuk meningkatkan ibadah di pertengahan Ramadan ini. Teman-teman, pertengahan Ramadan adalah gambaran awal dari standar keberhasilan 10 hari pertama yang telah kita lalui. Karena penting diingat, ketika Allah memberikan standar keberhasilan orang puasa, diungkapkan akhir ayat 183 di Al-Baqarah itu dengan kalimat La'allakum Tattaqun. Kata tattaqun sering kali diterjemahkan dengan tertakwa. Bertakwa diawali dengan la'allakum lalu digabungkan dua kata ini pemaknaannya menjadi semoga diharapkan menjadi semakin bertakwa. Lebih singkat lagi agar kalian bertakwa. Bila kita detailkan dari diksi kata tattaqun secara gramatikal di kajian ilmu nahwu saja misalnya. Kita temukan bahwa akar kata ini dari ittaqa kemudian berubah menjadi bentuk mudhare namanya. Mudhari itu sederhananya kalau dalam bahasa Inggris bisa diterjemahkan dengan present, continuous and future. Ada konsistensi amalan yang saat diperintahkan dikerjakan lalu terus dia konsisten bersambung konsisten ya selama masa-masa perintah itu berlaku dan future bahkan setelah perintah itu selesai ditunaikan. Ada perubahan yang terjadi pada pelakunya sehingga value dari latihan itu tetap bisa diterapkan dalam kehidupan di luar ruang-ruang pelatihan. Terkait dengan Ramadan, Allah memberikan sebuah standar keberhasilan bahwa orang yang awal Ramadannya bila kita batasi misal 10 hari pertamanya itu berhasil. Berhasil puasanya dari fajar sampai dengan magrib, berhasil ibadah malamnya, qiyamnya tarawihnya, tilawah Al-Qur'annya itu dapat dilihat pertama dari konsistensinya ketika memasuki periode yang kedua, pertengahan yang kedua. Jadi sesungguhnya 10 hari kedua ini adalah 10 yang sangat menentukan untuk menjadi standar keberhasilan kita pada 10 hari yang pertama. Jika terjadi misal dan kita berlindung kepada Allah dari kondisi demikian, 10 hari kedua ini justru menurun misalnya. Tarawihnya jadi kurang semangat, bacaan Qurannya menurun misalnya. Kemudian yang tadinya ke masjid berjamaah untuk menunaikan ibadah yang lima waktu, sekarang mulai terasa agak datang sifat malas, kembali ke standar awal, ini menunjukkan ada yang kurang sukses dari 10 hari pertamanya. Karena orang-orang yang terbiasa dengan satu keadaan dan dia menikmati itu, kecenderungannya dia akan bertahan dengan sifat itu, dengan gaya itu. Orang yang terbiasa makan kerupuk selama 10 hari, tentu 10 harinya lewat, hari ke-11 dia akan mempertahankan gayanya, tidak sulit bagi dia untuk menikmati kerupuk itu. Ketika dihilangkan dia akan bertanya, mana kerupuknya? Ya, sama persis ketika kita tarik orang-orang yang diberikan menu Ramadan, hari pertama, hari kedua, hari ketiga dan terbentuklah kemudian dari metabolisme tubuhnya saja pembiasaan untuk bisa beradaptasi dengan kegiatan yang dibangun selama 10 hari. Kapan dia bangun, kapan dia salat, kapan dia makan, kapan dia sahur, secara otomatis itu akan membentuk karakter, membentuk kebiasaan dan itu bisa dilakukan dalam menjalani kegiatan di hari-hari berikutnya. Jadi kalau kemudian itu menurun, berarti ada pertanyaan, ada sesuatu yang kurang konsisten dikerjakan selama 10 hari itu. Nah, cara memahaminya jangan langsung disimpulkan bahwa saya gagal, tidak. Justru 10 hari kedua itu pembuktian bagi kita untuk kembali mengevaluasi diri. Jadi 10 hari kedua selain menjadi standar adalah pembuktian tentang kesungguhan kita dalam menjaga komitmen peningkatan takwa kepada Allah. Itulah sebabnya kata tat taqun diawali dengan kata la'allakum. Dari kata la'alla menunjuk pada makna taraji, huruf yang mengungkap harapan yang tinggi untuk meraih sesuatu yang sangat didambakan. Tapi tidak mungkin itu bisa dicapai kecuali dengan kesungguhan. Jadi seakan Allah ingin mengatakan, tak mungkin kau berhasil mendapatkan takwa, tak mungkin kau menilai diri berhasil di 10 hari pertama kalau engkau tidak sungguh-sungguh menjalankan semua paket Ramadan hingga tuntas dikerjakan. Maka ayat ini dengan kata yang singkat la'allakum tattaquun memberikan petunjuk dan motivasi kepada kita. Jaga konsistensi, semakin serius lagi, tingkatkan semangat lagi. Jadi 10 hari kedua adalah 10 hari yang memberikan motivasi lebih agar kita meningkatkan ibadah dibandingkan dengan awal-awal yang telah kita lalui. Apa yang bisa kita dapatkan ketika kita konsisten masuk pada 10 hari yang kedua? Teman-teman, konsistensi yang dibangun itu justru mendekatkan kita kepada limpahan anugerah yang sekiranya tidak banyak didapatkan oleh semua orang ketika dia tidak mengoptimalkan potensi dirinya pada 10 hari yang kedua ini. Yang pertama, potensi mendapatkan ampunan Allah Subhanahu Wa Ta'ala lebih besar kita bisa raih dibandingkan dengan 10 hari pertama yang terbuka kesempatan. Siapapun bisa meminta sehingga peluangnya semua orang bisa mendapatinya. Tapi ketika memasuki 10 hari yang kedua, saat sementara orang mulai lemah, mulai menipis, mulai kepentingan dunia terasa kembali.
[11:19]Dan kita semakin fokus, maka apa yang kita hasilkan dari 10 hari yang pertama, energinya kemudian terkumpul sehingga kekuatan itu terpadu dan terfokus untuk mendapatkan limpahan karunia Allah berupa ampunan yang terbentang sangat luas siang dan malamnya seperti Allah bentangkan pada kesempatan 10 hari yang pertama. Yang kedua ini semakin bisa kita dapatkan dengan cepat karena kita sudah terbiasa memiliki adaptasi waktunya. Feeling-nya sudah dapat, dauk-nya sudah ada. Jadi kalau kita sudah terbiasa ibadah, kita bisa merasakan frekuensi di waktu tertentu saat kita bisa memohon. Ya, untuk istighfar misalnya, bisa jadi setelah tarawih malam-malam kita bisa bangun, kita bisa mintakan ampunan. Nah, 10 hari kedua ini ada di antara waktu-waktu tertentu yang bisa mempertemukan frekuensi keadaan hati kita dengan frekuensi yang Allah pancarkan lewat cahayanya untuk memberikan sifat-sifat ampunan kepada kita semua. Itulah sebabnya sebagian ulama mengkategorikan 10 hari kedua konsentrasi anugerah yang Allah berikan terpusat pada sifat ampunan. Ya, walaupun riwayat yang disebutkan itu lemah atau cenderung bahkan palsu yang membagi 10 hari pertama rahmat, keduanya kemudian magfirah, ketiganya itqun minannar bila disebutkan itu bagian dari hadis. Ya, itu memang tidak ada hadis yang terkait dengan demikian, statusnya sangat lemah, bahkan mendekati kepada hadis yang palsu.
[12:44]Namun demikian, dari sifat riset bila kita keluarkan dari penamaan hadis karena tidak semua yang bisa kita temukan itu kita bisa dapatkan lewat hadis. Kita bisa gali dari petunjuk-petunjuk lain, misal petunjuk dari ayat, misal petunjuk dari keterangan Nabi yang memberikan sifat tapi tidak memberikan nama. Kita bisa kumpulkan sehingga kita bisa simpulkan bahwa selain 10 hari pertama ada rahmat yang ditebarkan begitu luas, 10 hari kedua ada ampunan yang diberikan bagi orang yang sungguh-sungguh menjaga konsistensi amal ibadah puasanya. Teman-teman, 10 hari kedua juga momentum terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan memusatkan doa. Itulah sebabnya ayat tentang doa itu ada di pertengahan rangkaian ayat-ayat puasa. 183, 184, 185, 186, 187. Di 186 adalah ayat tentang mendekat kepada Allah melalui doa, "Wa idza sa'alaka 'ibadi 'anni fa inni qarib. Ujibu da'watad da'i idza da'a." Maka ini peluang. Orang yang mendekat kepada Allah berdoa, tipikalnya dua, kalau bukan minta kemudahan dalam hidup, yang kedua adalah minta ampunan. Ya dari segala dosa yang pernah dikerjakan. Sifat yang tadi disebutkan, tobat minta ampun, anugerah Allah diturunkan. Yang kedua adalah doa seputar kemudahan dalam hidup. Saat biasanya awal itu karena libur, orang semangat ibadah, orang semangat ke masjid, maka 10 hari kedua orang mulai berpikir lagi untuk mencari dunia sehingga ada pembagian waktu antara ibadah dengan dunianya. Dia mencoba melihat peluang untuk mudik, dia mencoba melihat peluang untuk dapat THR dan sebagainya sehingga terbagi peluang-peluang ibadahnya. Di saat itulah ada orang-orang tertentu yang ingin mengambil peluang lebih untuk mendekat kepada Allah. Dia gunakan energinya, hasil dari kumpulan 10 hari pertama untuk minta kepada Allah, minta kemudahan hidup, minta kemudahan rumah tangga, kemudahan di pekerjaan, kemudahan saat sakaratul maut, kemudahan di alam kubur, kemudahan saat hisab. Dia mohonkan dengan energi itu saat orang lain mulai membagi konsentrasinya. Maka di saat itulah perhatian dan jawaban dari Allah semakin mudah menemukan frekuensi terhadap hambanya untuk dipancarkan dan dalam bahasa singkat mudah untuk dijawab. Jadi 10 hari kedua adalah standar dari keberhasilan 10 hari pertama. 10 hari kedua adalah motivasi untuk meningkatkan ketakwaan dan menjaga konsistensinya. 10 hari kedua adalah bagian pusat dari ampunan Allah bertambah peluangnya untuk diberikan. 10 hari kedua adalah peningkatan peluang untuk terkabulnya doa dari apa yang kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Untuk itu teman-teman sekalian, mari kita terus meningkatkan amal ibadah kita, harapan-harapan kita, tobat kita kepada Allah dan doa kita yang kita mintakan untuk kebaikan hidup baik untuk pribadi, keluarga, kerabat, masyarakat, juga bangsa dan negara yang kita cintai ini. Semoga apa yang disampaikan dalam edisi ini membuat kita semakin konsisten dalam ibadah dan menemukan berbagai keistimewaan yang Allah bentangkan secara spesifik untuk kita pribadi sesuai dengan frekuensi ibadah yang kita kerjakan. Adi Hidayat dari Mira untuk kita semua memohon kepada Allah segala kebaikan yang mungkin kita dapati. Allahumma robbana Atina Fiddunya Hasanah wafil akhirati hasanatan waqina adzabannar warzuqni istiqomati fil ibadah ya arhamarrahimin wasallallahu ala sayyidina Muhammadin wa alihi wasohbihi ajmain akhiru dawanail hamdulillahi rabbil alamin. Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
![Thumbnail for [Akusuka Eps. 8] Keutamaan 10 Hari Kedua (Pertengahan) Ramadhan - Ustadz Adi Hidayat by Adi Hidayat Official](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fimg.youtube.com%2Fvi%2Fm2jstXRbKB0%2Fhqdefault.jpg&w=3840&q=75)


