Thumbnail for Mengenal Ekonomi Sirkular untuk Mendukung Pembangunan Rendah Karbon di Indonesia by Low Carbon Development Indonesia

Mengenal Ekonomi Sirkular untuk Mendukung Pembangunan Rendah Karbon di Indonesia

Low Carbon Development Indonesia

5m 15s633 words~4 min read
Auto-Generated

[0:00]Sadarkah kamu, kalau semua hal di dunia ini memiliki pola sirkular? Mulai dari bumi yang mengitari matahari, sampai jaring makanan makhluk hidup di bumi, semuanya berputar. Seluruh siklus tersebut terjadi secara alami. Pernahkah kamu membayangkan kalau barang yang kamu gunakan sehari-hari bisa memiliki siklus serupa? Misalnya, botol kemasan plastik. Botol berbahan baku biji plastik diproduksi, diisi minuman, didistribusikan ke toko-toko dan akhirnya dikonsumsi oleh konsumen. Setelah isinya habis, dalam sistem ekonomi yang berkelanjutan, botol tersebut tidak langsung dianggap sebagai sampah dan dibuang begitu saja. Botol plastik tersebut dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber daya untuk membuat biji plastik, paving block, bahkan kain tekstil. Dengan memanfaatkan sampah tersebut, kita bisa menggunakan sumber daya dengan lebih efisien serta bisa menghasilkan nilai ekonomi. Siklus yang menghasilkan nilai ekonomi ini dikenal dengan nama Ekonomi Sirkular. Berbeda dengan ekonomi linear yang menerapkan siklus ambil, buat, pakai, buang. Ekonomi sirkular lebih berkelanjutan karena menjaga sumber daya agar tetap dalam siklusnya dan tidak terbuang begitu saja. Ekonomi sirkular juga merupakan salah satu upaya pemerintah dalam pembangunan rendah karbon untuk mencapai net zero emissions pada tahun 2060 atau lebih cepat. Apa itu pembangunan rendah karbon? Pembangunan Rendah Karbon atau PRK merupakan instrumen transisi menuju pembangunan berkelanjutan yang meminimalisir dampak negatif antara program pembangunan ekonomi dengan upaya penurunan emisi gas rumah kaca. PRK juga merupakan tulang punggung dalam mencapai ekonomi hijau sebagai salah satu strategi transformasi ekonomi Indonesia pasca pandemi COVID-19. Ekonomi hijau adalah model pembangunan yang menyinergikan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas lingkungan. Melalui implementasi yang tepat, ekonomi hijau akan mendorong aktivitas ekonomi menjadi lebih ramah lingkungan dan inklusif. Di bawah payung Pembangunan Rendah Karbon, ekonomi sirkular juga berperan dalam mempercepat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Tujuan 12 dan Tujuan 13. Hal ini dapat terjadi karena ekonomi sirkular memiliki prinsip 5R yakni reduce, reuse, recycle, refurbish, dan renew. Prinsip 5R kemudian dikembangkan menjadi 9R yang juga mencakup daur hidup material dan penggunaan material bahan baku bahkan sejak sebelum siklus produksi dimulai. Prinsip tersebut bisa diwujudkan dalam berbagai hal seperti mengurangi pembelian barang yang berlebihan, lebih memilih opsi dan produk yang ramah lingkungan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, mengurangi sampah kemasan dengan membawa kemasan pribadi yang dapat dipakai ulang serta menggunakan kembali bubble wrap bekas untuk membungkus paket yang akan kamu kirimkan. Sebagai produsen, kita juga bisa menyediakan jasa reparasi untuk produk yang dihasilkan untuk dimanfaatkan oleh konsumen. Selain itu, ekosistem bisnis juga bisa menyiapkan sistem refurbish dan menggunakan prinsip remanufacture dalam memproduksi kembali produknya. Contoh prinsip ekonomi sirkular lainnya adalah menggunakan kemasan bekas sebagai wadah pakan hewan, mengolah botol plastik bekas menjadi botol baru yang bisa digunakan kembali, serta mengolah sampah menjadi energi terbarukan. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan oleh Kementerian PPN/Bappenas bersama dengan UNDP Indonesia dan Kerajaan Denmark pada tahun 2021 mengenai manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan dari ekonomi sirkular di Indonesia, terdapat 5 sektor prioritas ekonomi sirkular yaitu makanan dan minuman, tekstil, konstruksi, perdagangan grosir dan eceran yang berfokus pada kemasan plastik, serta peralatan listrik dan elektronik. Adapun penerapan ekonomi sirkular pada 5 sektor prioritas tersebut bisa memberikan berbagai dampak positif bagi lingkungan, perekonomian, dan kondisi sosial masyarakat Indonesia antara lain, mengurangi limbah dan menjaga kelestarian alam, mengurangi emisi gas rumah kaca, memberikan keuntungan secara ekonomi, serta menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Selain itu, Kementerian PPN/Bappenas juga telah meluncurkan kajian pendukung penerapan ekonomi sirkular di Indonesia melalui kajian Food Loss and Waste di Indonesia yang juga berkaitan dengan sektor prioritas makanan dan minuman. Pada kajian tersebut diketahui bahwa dengan mengelola food loss and waste atau mubazir pangan, kita dapat mengurangi dampak negatifnya pada ekonomi, sosial, dan lingkungan. Untuk itu, transisi menuju ekonomi sirkular perlu segera kita laksanakan. Ayo bergerak, dengan melakukan perubahan dan inovasi yang sesuai dengan prinsip 9R dan membangun kolaborasi yang melibatkan semua pihak. Karena peran aktif kita sangat penting dalam menerapkan ekonomi sirkular di Indonesia.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript