[0:14]Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kembali lagi di channel berita mistis. Untuk kisah kali ini masih melanjutkan dari kisah yang sebelumnya, sebuah kisah dari tulisannya, Agil R Saputra. Kisah yang berjudul Kelam Mangsa. Sebelum kita lanjut ke ceritanya, tekan dulu tombol like video ini dan jangan lupa tekan juga tombol subscribe channel ini. Nyalakan juga lonceng notifikasinya agar tidak ketinggalan cerita-cerita lainnya. Buat teman-teman yang pengen belanja-belanja nanti klik etalase yang ada di pojok kiri bawah atau teman-teman bisa kunjungi link pembelian yang ada di kolom deskripsi. Dan seperti apa untuk kisah kali ini? Langsung saja kita masuk ke ceritanya.
[1:21]Malam pun menjelang juga. Malam itu sekitar pukul 8.00 malam, Romo yang baru saja usai berdoa untuk mendiang Suster Siska kini tampak berada di kamar. Dan kembali ia berkutat dengan bukti-bukti dan temuan di kasus Leni. Ia putar rekaman itu lagi seraya mencermati kembali setiap bukti yang antara lain berupa foto, potongan koran, berita tentang bondan yang gantung diri di kabelnya, Bible usang serta secarik kertas bertuliskan kalimat Jawa serupa mantra. Barang pertama adalah foto Leni yang bagian wajahnya sudah disilang rusak dengan tulisan Latin di baliknya yang berbunyi untuk Mas Bondan tersayang. Foto ini pertama kali ditemukan oleh Suster Maria dan mendiang Suster Siska di kapel keluarga Pak Markus yang sekaligus menjadi TKP Bondan bunuh diri. Berlanjut dengan potongan koran yang memuat berita soal kematian Bondan. Di artikel koran yang bertajuk pria sebatang kara nekat gantung diri, itu bernarasi seolah-olah Pak Markus sudah tiada lewat penekanan kata sebatang kara. Mirisnya lagi ada penekanan juga yang mencoba mengaitkan sakit hingga meninggalnya Bu Berta disebabkan oleh kasus Pak Markus, ayah Bondan. Diduga kuat, pria itu sudah putus asa semenjak ditinggal oleh orang tuanya. Begitulah salah satu kalimat yang seolah menggiring opini pembaca. Romo Edi hanya bisa menggelengkan kepala membaca informasi itu, namun benar dan tidaknya sekarang informasi ini sebenarnya sudah tidak begitu penting lagi. Ah, entahlah. Kata Romo seraya mengambil secarik kertas yang juga ditemukan oleh para piara di kapel keluarga Pak Markus. Secarik kertas ini ditemukan pada hari yang sama dengan temuan foto Leni terselip di Bible usang yang ditemukan juga oleh Suster Maria dan mendiang Suster Siska di kapel. Nir Selamat, tumpang mayit, tindih nyowo mati, mati, mati. Begitulah bunyi tulisan di secarik kertas itu yang sekilas bermakna cukup gelap. Romo menduga ini adalah serupa mantra sihir Jawa yang jika diartikan Niris Selamat atau tidak selamat. Tumpang Mayit, tumpukan mayat, tindih nyawa menindih atau menyiksa yang hidup mati mati menuju kematian. Romo memang tahu arti dari kalimat itu, namun ia sama sekali tidak tahu kalau dengan membaca kalimat itu secara berulang ternyata akan memanggil sesuatu yang bukan berasal dari dunia manusia ini. Mulanya Romo tidak menyadarinya, ia malah membaca kalimat serupa mantra itu berulang-ulang dan benar karena dari balik pengeras telinga yang masih ia kenakan, Romo mendengar suara ketukan di jendela kamarnya. Tok tok. Suara ketukan dari jendela yang berada di sampingnya. Ketukan itu memang nyata yang kali ini terdengar juga suara yang menyebut Romo Edi. Edi. Romo sekejap menoleh dan kembali membuang pandang setelah melihat sosok yang berada di balik jendela kamarnya itu. Ya, nenek tua itu senyumnya menyeringai. Itu adalah sosok yang sempat muncul di belakang piara dan merasuki Leni kemarin. Gusti Yesus. Ucapnya membisik dan terbata-bata. Lidahnya terasa keluh, sementara sosok itu kembali menyebut namanya lagi dan kali ini lebih keras. Edi, Edi. Kata sosok nenek tua itu sembari menggedor jendela. Romo menunduk menutup matanya, tubuhnya kini gemetar. Namun semua belum selesai karena ketika Romo kembali membuka mata, sosok itu sudah tidak lagi di luar jendela. Kini si nenek tua berada di dalam, berdiri satu jengkal dengan pelipis Romo dan tiba-tiba dia pun berkata dengan suara parau nya. Tenang Lacon, kuira bakal mati neng uripe bakal sengsara. Romo tersentak bukan kepalang, pengeras di telinganya sampai lepas, namun bersamaan dengan itu tiba-tiba saja muncul rasa di dalam diri Romo, rasa yang tidak bisa dijelaskan. Namun berhasil menghasutnya untuk berani. Rasa itu serupa amarah yang harus dilepaskan dan kini tanpa ragu, Romo pun berdiri untuk menghadapi sosok nenek biadab itu. Namun baru sekali Romo bangkit dari duduknya, sosok itu tiba-tiba tidak ada. Yang ada kini hanyalah lengkingan parau tawa menggema di kamar Romo. Setan alas, metuwo, aku ora wedi. Rene tak bala ndasmu. Bali kowe ning neroko. Teriak Romo yang kini menantang nenek tua itu. Tantangan itu hanya dibalas dengan pekik tawa membuat Romo menjadi semakin tidak terbendung. Metuwo kowe, sikat. Tantang Romo lagi bersamaan dengan lengking tawa yang mendadak hilang. Suasana sempat senyap sekejap. Sampai akhirnya, tiba-tiba nenek tua itu muncul di sudut ruangan. Senyumnya merekah dan menyeringai seakan-akan tengah mengejek Romo. Benar-benar anjing ya kowe. Kata Romo yang di luar dugaan, ia justru berlari menghampiri hantu nenek yang berdiri di ujung kamarnya itu dan memukulnya. Dok dok dok. Romo mengubak ngabik dengan kepalan tangannya yang ternyata menghajar tembok. Ada setitik rasa di antara amarah itu dengan Romo yang sebenarnya mulai merasa ada yang aneh dengan dirinya. Ia merasa amukan itu tidak sepenuhnya berasal darinya, seperti ada yang mengendalikan. Namun di keadaan itu, tentu tidak ada waktu lagi untuk memikirkannya. Romo pun terus mengamuk sampai akhirnya ia menyadari bahwa suara dan wujud nenek tua itu sudah hilang. Romo pun berhenti dengan nafas terengah-engah dan kepalan tangannya yang sudah berdarah. Pantas saja karena sedari tadi ia pukuli adalah tembok kamarnya. Kini dindingnya tampak mengelupas sampai melihatkan batu batanya. Untuk beberapa saat Romo berdiri bingung. Ia ingat kalau ia baru saja mengamuk, tapi ia tidak tahu mengapa tadi menjadi sangat tidak terkendali. Hingga Romo merasa ada sesuatu yang terasa hangat di saku celananya. Segera ia rogoh sesuatu itu dari kantongnya yang mana itu adalah kain hitam pemberian ibu angkatnya, Bude Wening. Romo berdecak keheranan dengan kain biasa yang kini terasa hangat-hangat kuku. Wah, pasti pemberian Dinding ini tadi penyebabnya. Batin Romo yang menduga amarah yang tidak terkendali tadi berasal dari kain hitam ini. Besok saya tetap harus ke Bantul. Ibunya seraya merebah dan memindah kain hitam itu ke bawah bantalnya. Romo rebah terlentang, matanya memandang langit-langit. Sesekali matanya menoleh ke arah jendela sembari menyadari bahwa sekitar 15 menit yang lalu ia berkumpul dengan iblis berwujud nenek tua itu. Wajah dan wujudnya makhluk dari kegelapan itu masih ternyiang jelas di otak Romo. Tawanya, pekiknya, lengkingnya dan gaya bicaranya seakan-akan masih terdengar di dalam kepalanya. Wah, gila, gila. Semoga Gusti Yesus memberkati. Bisik Romo seraya mengusap-usap wajahnya, harapnya itu hanya mimpi. Kenyataannya semuanya memang benar-benar terjadi. Singkat cerita esok harinya, sesuai agenda hari ini mereka akan ke Bantul, tempat Bude Wening. Pukul 8.00 pagi tampak di depan gereja Brother Sutoyo dan Suster Maria berdiri dekat mobil piara. Tidak lama berselang, terlihat Romo yang berjalan tergo-gopoh ke arah mereka dengan tangannya yang tampak menjinjing sebuah koper besar. Brother Sutoyo segera membantu mengalihkan koper itu ke tangannya sambil bertanya apa isinya. Semuanya ada di situ. Jawab Romo yang kemudian menjelaskan bahwa koper itu berisi semua barang-barang bukti kasus Leni yang berhasil mereka kumpulkan. Pak jenengan yang nyetir, Mas. Soalnya saya masih ngantuk semalam. Tidak bisa tidur. Kata Romo. Oke siap. Jawab Brother Sutoyo sembari memasukkan koper itu di kursi tengah. Semuanya telah siap. Brother di kursi kemudi, Romo di sampingnya dan Suster Maria duduk di kursi tengah berdampingan dengan koper besar itu. Mereka pun berangkat menuju Bantul pagi itu. Jalanan tampak lengang, namun mereka tetap berjalan dengan landai. Seiring mentari yang perlahan kian naik membuat mata Romo sepertinya sudah tidak sanggup lagi untuk terjaga. Tidur dulu enggak apa-apa, Romo. Saya juga sudah hafal tujuannya kok. Kata Brother Sutoyo. Iya, Mas, jawab Romo sembari menyamankan posisi tidurnya yang tidak sampai 2 menit setelah itu, ia sudah terdengar mulai mendengkur. Kini hanya Brother Sutoyo dan Suster Maria yang terjaga. Walau faktanya semalam, sebenarnya mereka berdua juga tidak bisa tidur nyenyak. Nanti kalau ngantuk banget melipir dulu ke pom bensin, Mas Toyo, jangan dipaksakan. Kata Suster Maria setelah melihat Brother Sutoyo yang berada di kursi kemudi beberapa kali tampak menguap. Iya, Mbak, tapi sepertinya saya masih kuat. Tanggap Brother Sutoyo saat itu yang akhirnya memilih untuk terus melaju tanpa menepi. Singkat waktu, mulai masuklah mereka ke wilayah Bantul yang menurut perhitungan, tidak sampai 10 menit mereka akan sampai di tempat Bude Wening. Romo tampak masih tertidur pulas. Begitu pula dengan Suster Maria yang ternyata juga turut terlelap di belakang. Tinggallah kini Brother Sutoyo menjadi satu-satunya orang yang masih terjaga. Tidak lama berselang, hujan pun tiba-tiba turun, namun tidak begitu deras. Hanya rintik gerimis saja. Brother Sutoyo yang sebenarnya sudah sangat terkantuk itu masih kuat bertahan. Ayo. Hampir sampai. Bisik Brother bersamaan dengan mobil yang kini berhenti karena kini tertahan oleh lampu merah. Hah, Brother Sutoyo menghela nafasnya sembari melihat dan menengok Romo dan Suster Maria yang masih belum terbangun. Sementara Brother Sutoyo kini tengah mengamati suasana luar mobil. Pandangannya tiba-tiba dibuat terhenti oleh orang yang sedang berdiri di ujung trotoar. Iya, orang itu adalah si nenek tua yang kini tampak tersenyum kepada Brother. Seolah mata mereka sedang saling bertemu. Jelas sangat janggal dan aneh karena dengan kaca mobil yang satu arah tidak mungkin orang di luar bisa melihat ke dalam. Wah, sing mau bengi menehi. Batin Brother yang langsung membuang pandangannya ke arah lain. Ternyata semalam Brother Sutoyo juga tidak luput dari gangguan nenek tua itu, seperti halnya Romo. Brother kini terus menatap ke depan dengan degup jantungnya yang sudah mulai tidak beraturan. Saat itu ia hanya berharap tanda lampu segera berganti hijau. Namun yang terjadi ternyata juga tidak kalah aneh. Karena lampu yang harusnya sudah berubah hijau beberapa detik lagi tampak masih merah. Brother mulai menyadari, ia rasa waktu seperti sedang berhenti. Suara hujan rintik yang mulanya terdengar memukul kap atas mobilnya pun kini hilang, tidak terdengar lagi. Tuhan Yesus. Bisik Brother seraya dengan perlahan kembali menoleh ke arah ujung trotoar itu dan ia cukup agak lega karena sosok nenek tua yang tadi berdiri tersenyum menyeringai ke arahnya itu kini sudah tidak ada. Namun sebenarnya tetap saja karena tanda lampu masih belum berganti menjadi hijau. Brother semakin melihat suasana luar yang aneh karena meski terlihat riuh penuh kendaraan di lampu merah itu, namun sama sekali tidak terdengar sedikitpun suaranya. Brother yang mulai takut hendak membangunkan Romo, namun belum sampai tangannya meraih tubuh Romo, tiba-tiba tok tok tok. Ketukan itu terdengar lagi di jendela samping kemudi Brother. Brother pun spontan menoleh dan dibuat langsung membeku oleh sang nenek tua itu yang kini berdiri di balik kaca, senyumnya menyeringai seraya terus mengetuk kaca dengan jentik jemarinya. Dunia seakan berhenti, berteriak pun Brother tidak bisa. Hingga dengan tangannya yang bergetar ia coba meraih Romo untuk membangunkannya. Beruntungnya Romo langsung terbangun disambut dengan wajah ketakutan Brother Sutoyo. Ada apa, Mas? Apa kita sudah sampai? Kata Romo begitu setelah ia terbangun. Brother hanya bisa berisyarat dengan menggelengkan kepalanya hingga suara klakson akhirnya menyadarkan semuanya. Brother tersentak bersamaan dengan sosok nenek tua yang kini hilang. Dunia kembali seperti semula dalam satu kedipan mata. Brother Sutoyo yang segera menginjak gasnya untuk meneruskan perjalanan lagi. Dahi Romo mengernyit melihat Brother yang kini wajahnya sudah pucat penuh peluh. Panjenengan enggak apa-apa, Thomas? Eh, enggak apa-apa kok, Romo. Romo sebenarnya tahu ketidakberesan itu. Namun ia memilih untuk tidak mengganggu Brother. Perjalanan pun berlanjut tanpa obrolan. Hingga tidak sampai 30 menit kemudian, akhirnya sampailah mereka di tujuan, yakni rumah Bude Wening. Pukul 11.30 siang Romo, Brother Sutoyo dan Suster Maria tiba yang disambut oleh Pakde Karwo dan Bude Wening yang saat itu tampak duduk di teras rumahnya. Mereka pun tersenyum melihat kedatangan Romo dan para biaranya itu. Walak, akhirnya datang juga. Sapa Bude Wening yang ditimpal oleh Pakde Karwo yang berkata bahwa dia dan istrinya sudah menunggu mereka sejak subuh. Dening ini sudah kerasan kalau kalian mau datang ke sini. Ujar Pakde Karwo kepada Romo dan para biaranya itu. Sudah sudah, ceritanya nanti saja. Ayo masuk, masuk. Kalian sarapan dulu. Tambah Bude Wening pagi itu. Mereka pun masuk dan langsung diarahkan menuju ruang makan untuk sarapan. Suasana di atas meja makan wajar selayaknya. Mereka tampak saling menyuap nasi ke mulutnya sendiri-sendiri. Hingga Pakde Karwo melihat kepalan tangan Romo Edi yang penuh luka lecet yang tampak masih baru. Tanganmu itu kenapa, Le? Tanya Pakde Karwo tiba-tiba. Eh, iya nih, De, gara-gara semalam. Jawab Romo seraya mengunyah sarapannya. Bude Wening menanggapinya dengan sedikit tersenyum dan setelah itu berkata kepada Romo Edi. Le, untuk menghadapi mereka keberanian saja tidak cukup, haruslah diimbangi dengan kesabaran karena marahnya kita akan membuat mereka senang. Tapi di sisi lain, ketakutan kita juga adalah makanan mereka. Kata Bude Wening yang membuat Romo berhenti menyuap. Lantas apa yang harus kita lakukan, De? Tanya Romo. Kalian tidak salah kok. Semua yang kalian lakukan adalah upaya yang benar. Hanya perlu sedikit beriasat saja. Ketika kamu diejek atau merasa terancam, pendam amarahmu, bungkus dengan senyum. Tantang balik dengan lembut. Jelas Bude Wening yang tidak lama kemudian kembali berkata. Kalian sudah bertemu dengan tokoh utamanya kan. Tambahnya yang seketika membuat Brother Sutoyo dan Suster Maria mengangkat kepalanya dan berkata. Apakah yang dimaksud adalah sosok nenek tua itu? Faktanya semalam tidak hanya Romo yang diteror oleh nenek biadab itu karena Brother Sutoyo dan Suster Maria juga didatangi. Sepertinya dialah si rampas jiwa itu. Kita selesaikan satu ini saja, semuanya akan berakhir. Terang Bude Wening yang tentu memantik pertanyaan dari Romo dan para piara. Lantas bagaimana caranya, Dening? Sudah enam kali pengusiran yang kami lakukan, namun seperti tidak ada banyak perubahan yang berarti. Besok di penyucian yang ketujuh adalah yang terakhir. Menurut apa yang saya pahami dan jika masih tidak ada perubahan, saya pikir Dening harus turun ke sana. Kata Romo yang kembali dijawab oleh Bude Wening. Memang kapan kalian akan melakukan penyucian lagi? Besok, mungkin 7 hari lagi, Dening. Jawab Romo. Ya sudah, besok sebelum pengusiran kirim Telegram ya. Sepertinya Bude harus ikut. Kata Bude Wening. Hingga seusai makan mereka terlihat mengobrol di ruang tamu. Romo dan Brother saling bergantian untuk menceritakan cerita mereka masing-masing kepada Bude Wening dan Pakde Karwo dari luka di tangan Romo setelah menghajar tembok kamarnya. Dan Brother Sutoyo yang ketindihan dan melihat sosok nenek tua itu tengah memeluknya. Saya semalam juga sempat dengar teriakan panjenengan loh, Mbak. Tugas Brother Sutoyo kepada Suster Maria yang ternyata mendapat gangguan yang paling mengerikan daripada Romo dan Brother. Iya nenek tua itu, sepertinya saya mau dibunuh. Kata Suster Maria mengawali ceritanya dengan menyingkapkan kerudungnya dan memperlihatkan luka aneh di lehernya. Luka lebam memerah serupa luka bakar yang membentuk lingkaran sempurna. Luka ini ia akui sebagai bekas cekikan dari iblis berwujud nenek tua itu. Saya bermimpi dicekik oleh dia. Benar-benar sangat nyata. Bahkan saya sempat berpikir bahwa saya tidak akan selamat sampai akhirnya saya terbangun.
[19:04]Saya sempat lega kalau itu hanya mimpi, namun tidak lama untuk saya merasakan luka bakar ini dan mendapati bahwa luka itu memang benar-benar ada. Terang Suster Maria. Semua terheran melihat luka aneh di leher Suster Maria itu, semacam luka bakar yang membentuk lingkaran sempurna. Duh. Kata Bude Wening yang beberapa detik setelahnya tiba-tiba Bude tampak mengerang kesakitan memegang dadanya. Ah, aduh. Kenapa, Bude? Tangga Pakde Karwo seraya sigap memegangi. Bude Wening tidak menjawab. Ia hanya meringis kesakitan dengan satu tangannya yang kini menunjuk ke arah luar rumah. Ada apa, Bude? Kata Pakde Karwo sekali lagi dengan ekspresi yang mulai panik. Hingga keanehan kini terjadi. Langit luar yang semua terang benderang mendadak mendung dan memetang dengan sekejap. Romo dan para biara terheran-heran dan suara burung perkutut milik Pakde Karwo kelabakan di dalam sangkarnya, ditutup dengan secuil kecoa yang tercekik. Setelah itu suasana hening. Langit yang sempat menggelap itu kini kembali benderang. Begitu pula dengan Bude Wening yang sakitnya mereda. Namun tiba-tiba, Badut Pak Badut. Kata Bude Wening yang menyebut nama burung perkutut milik suaminya itu menyuruh Pakde Karwo untuk segera memeriksanya. Waduh. Pakde Karwo terperanjat dari tempat duduknya dan segera bangkit berlari ke teras rumah. Namun hal pertama yang ia lihat langsung membuatnya pasrah seketika karena tampak tetesan darah keluar dari sangkar burung peliharaannya itu. Menetes menghantam lantai terasnya sembari menghela nafas. Pakde Karwo turunkan sangkar itu dan akhirnya mendapati si Badut sudah mati dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya. Apalagi ini. Batin mereka semua yang akhirnya turut keluar ke teras dan melihat anomali itu. Woi. Sentak Brother Sutoyo tiba-tiba dengan tangannya yang menunjuk ke seberang jalan.
[21:08]Simba-simba bajingan itu. Katanya dengan wajah memerah, semua orang menoleh dan melihat sosok itu berdiri di seberang jalan, tersenyum mengacungkan jarinya. Semua tercengang hingga tidak lama berselang, sosok itu pun tersapu hilang oleh kendaraan yang berlalu-lalang. Dia tadi juga ada di lampu merah, ngetuk-ngetuk kaca mobil. Ucap Brother Sutoyo yang sebenarnya sudah mulai bingung, apakah dia benar-benar lelembut atau bukan. Karena setiap kemunculannya, wujudnya terlihat sangat nyata dengan darah yang agak menyembur dari pangkal lehernya.
[21:49]Kira-kira siapa ya, Romo? Tanya Pak Sasongko kepada Romo yang langsung dijawab dengan gelengan kepala.
[22:00]Sementara Brother Sutoyo yang sedari tadi juga mencermati seketika terbelalak ketika tiba-tiba ia mengingat satu kejadian tempo lalu di Jalan depan hutan cengkeh ini, Jalan Alas Wangi, biasa orang menyebutnya. Ketika itu ia dan Romo diperlihatkan sosok tukang becak tanpa kepala membawa seorang wanita dengan tampilan yang seringat. Brother cocok dengan mayat itu dan nama itu adalah Lek Sukri tukang becak sekaligus pesuruh Pak Markus yang tiba-tiba hilang tanpa kabar. Becaknya sampai sekarang pun masih ada terparkir di belakang Kedai Ronde Mbah Tura. Jangan-jangan Lek Sukri. Tutur Brother liri bergetar memecah kebekuan saat itu. Semua orang menoleh ke arah Brother yang kini mulai menjelaskan kejadian itu hingga menyambung kepada Romo yang juga teringat apa yang ia lihat di Jalan Alas Wangi tempo lalu. Perlahan Romo menjadi cukup yakin akan dugaan itu. Sementara Pasah Songko tampak idom dan setelah itu berkata bahwa ia akan menyelidiki kemungkinan itu. Tapi sekali lagi, mohon ini dirahasiakan ya. Ibu Pasah Songko yang kemudian bertanya kepada Romo akan bagaimana kan dua jasad ini. Setelah beberapa saat berdiskusi, akhirnya mereka memutuskan untuk menguburnya di belakang kapel dengan usaha selayak-layaknya. Sebenarnya hati Romo bergumul hebat meski dugaannya kuat bahwa itu adalah Lek Sukri. Tapi secuil kemungkinan kalau mereka salah tentunya masih ada. Tolong nanti sampaikan juga ke keluarga Pak Heri supaya penemuan ini tetap rahasia. Tugas Pasal Songko yang kali ini mulai membuat Romo agak sedikit kesal karena pernyataan itu terus diulangnya. Enje, Pak. Nanti saja, tapi ini sangat biadab. Siapapun yang melakukannya semoga terbakar di neraka. Tanggap Romo lembut namun tampak sinis, membuat Pak Sasongko kecut bertunduk. Ya sudah, ayo kita keluar. Tambah Romo mengajak mereka semua keluar dari sini. Langit sudah mulai gelap. Memang saat mereka pergi dari wilayah perkebunan ini, tidak lama berselang, Pak Sasongko dan anak buahnya pun kembali ke Koramil. Sementara Romo Edi dan Brother Sutoyo menyusul ke rumah Pak Heri untuk melihat keadaan Leni. Singkat cerita di rumah Pak Heri, hari sudah menuju petang. Tampak semua berkumpul di ruang tamu, Suster Maria, Bu Wati, Pak Heri, Leo dan yang membuat trauma agak sedikit lega adalah Leni juga berada di situ dengan keadaan yang sudah sepenuhnya sadar. Pusing sekali, Romo. Kepala ini terasa mau pecah. Katalahnya, tiba-tiba begitu Romo dan Brother masuk. Romo sedikit tersenyum walau Leni tampak berantakan, tapi kesadarannya saat itu memberi keyakinan untuk Romo bahwa Leni akan sembuh. Sabar ya, Mbak. Sekali lagi sepertinya kamu akan sembuh. Yang penting kuat iman dan berserah sama Gusti, Mbak. Tanggap Romo yang setelah itu menyarankan agar Leni meminum aspirinnya. Eh, Romo, tadi di sana bagaimana? Potong Pak Heri. Romo sebenarnya tidak mengharapkan pertanyaan ini, tapi mau tidak mau ia tetap harus menceritakannya karena hal itu masuk dalam rangkaian peristiwa yang melibatkan Leni. Dua mayat Pak Heri dikubur sungsang tepat di tanah yang tadi ditunjuk sama Mbak Leni. Wanita dan pria tanpa kepala. Terang Romo yang tentu membuat seisi ruangan tersentak. Dugaan kami mereka adalah Lek Sukri, tukang becak dan istrinya. Kita semua tahu kan mereka adalah orang dekatnya Pak Markus. Sudah hampir 4 bulan Lek Sukri dan istrinya menghilang. Becaknya juga dibiarkan berdebu terparkir di belakang kedai Ronde Mbah Tura. Ibu Romo yang seketika membuat ekspresi Pak Heri tampak gugup dan langsung mengalihkan pembicaraan. Eh, Romo, soal Leni ini terus bagaimana? Seingat saya sudah enam kali didoakan. Dan kalau menurut Romo, ada satu sesi lagi enggak? Nggih, Pak Her. Kurang satu kali lagi. Tanggap Romo yang kali ini ditimpa oleh Bu Wati. Apakah bisa sembuh, Romo? Kalau setelah yang ketujuh ini tidak sembuh, bagaimana? Kata Ibu Leni itu. Sembuh kok. Kita harus yakin bisa sembuh. Bisa kan, Mbak? Semangat kan, Mbak? Ucap Romo sambil menatap Leni yang tengah duduk di samping ibunya itu. Nggih, Romo. Nggih, saya harus sembuh. Tanggap Leni yang sedang menggandeng erat telengan Bu Wati ibunya. Harusnya kita lakukan pengusiran itu hari ini. Tapi karena Mbak Leni sepertinya sedang capek, kita lakukan besok saja. Oke, Mbak. Pokoknya makan yang banyak, jangan sampai kekurangan tenaga. Kata Romo dengan sedikit senyum untuk sekedar menenangkan Leni. Siap, Romo. Sambut Leni lirih, namun tidak lama kemudian kembali meragu. Apakah ia dan keluarganya akan melewati malam ini dengan mudah? Nanti kalau dia datang lagi, bagaimana Romo? Tanya Leni dengan matanya yang tampak memohon. Romo terdiam mendengar pertanyaan itu. Mendadak ia dibuat ragu atas ucapan Leni itu. Namun tiba-tiba Suster Maria menyela dan berkata. Apa malam ini saya berjaga di sini saja, Romo? Kata Suster Maria yang tiba-tiba menawarkan diri untuk berjaga di rumah Pak Heri. Romo pun menyetujui ide itu. Begitu juga dengan Brother Sutoyo yang mengatakan kalau ia yang akan mengerjakan tugas harian Suster Maria di Biara. Besok pagi saya jemput Mbak Mar. Ibu Brother Sutoyo. Waktu menunjukkan pukul 07.30 malam. Romo Edi dan Brother yang tidak ingin pulang kemalaman pun berpamitan. Ya sudah, saya mohon pamit. Besok sore saya ke sini lagi. Tugas Romo yang setelah itu beranjak pulang bersama Brother Sutoyo. Di rumah Pak Heri, tidak terasa detik berganti. Suasana kian larut dan sepi. Leni dan Leo adiknya sudah terlelap di kamarnya masing-masing. Sementara Pak Heri, Bu Wati, istrinya dan Suster Maria tampak masih terjaga. Mereka menggelar tikar tepat di depan kamar Leni. Duduk bersila seraya sedikit berbincang. Semua merasakan kalau suasana malam itu terasa aneh, walau memang tidak bisa dijelaskan, yang jelas hawanya sangat tidak enak. Terjadi beberapa kali di tengah obrolan yang sebenarnya belum tuntas ketika mereka tiba-tiba terhening secara bersama dan menoleh menatap ke arah kamar Leni yang pintunya setengah terbuka. Tidak ada apa-apa. Tapi momen itu terjadi berulang kali. Kok begini ya? Kenapa ya? Kata Bu Wati yang tiba-tiba mengutarakan keanehan itu. Hingga tanpa kata, Pak Heri pun beranjak memeriksanya dan memang di dalam sana sama sekali tidak ada yang aneh. Yang ada hanya Leni yang tengah tertidur pulas. Mungkin hanya perasaan mereka saja. Kalau panjenengan mau istirahat enggak apa-apa, biar saya yang tidur di sini. Kata Suster Maria kepada Pak Heri dan Bu Wati. Pak Heri dan Bu Wati saling pandang bimbang. Tidak enak jika meninggalkan Suster Maria. Alah sudah, enggak apa-apa. Ibu Suster seraya bangkit dan menggantung Rosario nya di atas gawang pintu kamar Leni. Pada akhirnya Pak Heri dan Bu Wati beristirahat meninggalkan Suster Maria yang menggelar tikar di depan kamar Leni. Malam pun kian larut. Seiring Suster Maria yang kini terkantuk-kantuk, ia pun beranjak dari simpuhnya. Ringkuk merebah dengan menggenggam erat Injil kecilnya. Lindungilah saya dan keluarga ini, Gusti. Bisiknya, fisiknya terpejam. Malam senyap entah berapa lama Suster terlelap hingga ia dibangunkan oleh Leni. Suster, Suster. Kata Leni lembut. Suster Maria tersentak menyeka matanya. Ada apa, Mbak? Kok bangun? Kata Suster Maria yang segera membangkitkan setengah tubuhnya. Saya takut ada yang ngetuk-ngetuk jendela kamar. Kata Leni yang sepertinya benar karena bersamaan dengan itu memang terdengar suara ketukan-ketukannya. Suster beranjak memeriksa bersama Leni yang mengekor di belakangnya. Ketukan itu masih terdengar kini cukup keras di jendela kamar Leni yang sudah lama ditutup mati menggunakan kayu-kayu. Tok tok. Ketukan itu terdengar lagi dan Suster Maria membalasnya dengan telapak tangannya. Ketukan itu akhirnya berhenti, menyisakan Suster Maria dan Leni yang masih memandang ke arah jendela itu. Namun kini terdengar suara aneh di belakang mereka yang mana ketika spontan mereka menoleh, mereka segera disuguhi wujud mengerikan yang tengah berdiri di ambang pintu kamar. Wujudnya serupa pria, namun tanpa kepala dengan darah yang agak menyembur dari pangkal lehernya. Leni dan Suster Maria mematung terpaku, tidak bisa bergerak ataupun berpaling. Seolah-olah matanya sedang dipaksa untuk terus melihat ke arah wujud yang tidak lazim itu. Dalam nama Tuhan Yesus. Ucap Suster Maria bergetar terbata-bata hingga muncul satu perwujudan lagi yang kini berdiri di samping pria tanpa kepala itu, yakni wujud wanita berwajah buram hampir rata. Pasar Paing. Kata sosok wanita itu. Entah apa maksudnya. Yang jelas kedua wujud mengerikan itu akhirnya perlahan mundur dan menghilang. Leni kini tunduk menangis. Sementara Suster Maria tampak terengah dengan matanya yang masih menatap ke ambang pintu itu. Kita keluar saja, Suster. Kata Leni terisak sambil memegangi lengan Suster Maria yang langsung tersentak sadar. Mereka pun keluar mengendap menuju ruangan dengan cahaya yang paling terang, yaitu ruang tamu. Pukul 03.00 dini hari waktu itu, Leni dan Suster Maria kini duduk erat di ruang tamu saling berpelukan. Sudah, semuanya akan baik-baik saja. Kata Suster Maria menenangkan Leni yang masih menangis. Untung setelah itu tidak ada kejadian lagi. Mereka pun akhirnya bisa melewati malam itu walau pun harus ditebus dengan terjaga sampai esok tiba. Oke, teman-teman, sampai di sini dulu ceritanya. Nantikan kelanjutan kisah ini di video berikutnya agar tidak ketinggalan klik tombol subscribe channel ini dan nyalakan lonceng notifikasinya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.



