[0:10]Oke. Yang pertama adalah kriteria alat tangkap ramah lingkungan. Kita lihat definisinya dulu, yang dimaksud dengan pengertian alat tangkap ramah lingkungan. Jadi alat tangkap ramah lingkungan adalah suatu alat tangkap yang tidak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, itu kuncinya. Ya, alat tangkap yang tidak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, yaitu sejauh mana alat tangkap tersebut tidak merusak dasar perairan, kemungkinan hilangnya alat tangkap, serta kontribusinya terhadap polusi (Arimoto, et al., 1999). Ya, jadi ini kata kuncinya, kata kuncinya, yang tidak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Ini itu adalah pengertiannya. Ini kata Arimoto tahun 1999. Oke, berikutnya. Ini sudut pandang alat tangkap ramah lingkungan. Yang pertama sudut pandang itu dilihatnya dari sisi mana? Dilihatnya dari sisi mana? Yang pertama adalah dari bahannya. Ramah lingkungan apa enggak? Dari bahannya. Kemudian dari konstruksinya. Kemudian dari cara operasinya. Kemudian dilihat dari daerah penangkapannya. Kemudian dilihat dari penggunanya. Ada lima. Oke. Kita lihat 9 kriteria alat tangkap ramah lingkungan. Ini kata FAO, jadi sudah dibakukan. Kriterianya ada 9. Ini kriteria nomor satu. Memiliki selektivitas yang tinggi. Selektivitas itu apa yang dilihat? Satu, ukuran ikan, yang kedua adalah spesies ikan. Jadi kriteria dipecah lagi sub kriteria. Kriterianya alat tangkap ini harus punya selektivitas tinggi. Selektivitas itu selektivitas apa aja? Satu ukurannya, yang kedua spesiesnya. Oke? Kemudian dilihat bagaimana konklusinya, bagaimana? Ukuran ikan itu ukuran yang kayak gimana? Spesiesnya spesies yang kayak gimana, kan gitu. Makanya di sini ada lihat konklusi dari rendah ke tinggi. Artinya nilainya, nilainya urutannya nomor satu, nomor dua, nomor tiga, nomor empat, ini dari nomor satu yang paling rendah, nomor empat paling tinggi. Lihat nomor satu. Alat tangkap harus memiliki selektivitas yang tinggi, selektivitasnya adalah ukuran ikan dan spesies ikan. Yang yang konklusi satu, alat penangkap lebih dari 3 spesies dengan ukuran yang berbeda jauh. Alat ini bisa menangkap lebih dari 3 spesies. Ukurannya macam-macam, yang kecil kena, yang sedang kena, yang besar kena. Ya. Lebih dari 3 spesies. Jadi macam-macam. Contoh di sini misalnya trol, ya kan, semua kedapat kan dan ukurannya juga berbeda-beda, sangat jauh, berbeda jauh, enggak seragam.
[4:05]Yang kecil dapat, yang gede dapat. Ukuran 1 senti dapat, ukuran 30 senti dapat, ukuran mungkin panjangnya 1 meter dapat, 40 senti dapat. Itu nomor satu, ini yang paling rendah nilainya. Kemudian yang kedua ada paling banyak 3 spesies dengan ukuran yang berbeda jauh. Kalau yang tadi lebih dari 3 spesies, kalau sekarang hanya paling banyak 3, maksimum 3. Enggak lebih. Cuman tiga. Alat tangkap ini cuman dapat 3 spesies, tapi beda jauh jarak ukuran ikannya. Ukuran yang kecil, ukuran yang menengah, ukuran yang besar, tapi spesiesnya cuman tiga. Kemudian yang ketiga kurang dari 3 spesies dengan ukuran yang seragam.
[5:04]Ini lebih ramah. Jadi 5 senti, ikannya 5 senti terus. Kemudian kita lihat yang keempat, hanya satu spesies dengan ukuran hampir seragam. Jadi alat tangkap ini dia dapatnya satu spesies, ukurannya seragam, yang kecil enggak kena. Misalnya kalau tongkol, tongkol semua. Ya kan, kalau tuna, tuna semua, tapi ukurannya seragam, hampir seragam. Panjangnya 50 senti, 50 senti. Ini adalah kriteria nomor satu, yaitu tentang selektivitas. Nanti selektivitas kita akan belajar menghitung, bagaimana menghitung selektivitasnya. Oke, yang kedua, alat tangkap tidak merusak habitat, tempat tinggal, dan tempat berkembang biak ikan dan organisme lainnya. Ini kriterianya. Konklusinya yang ini. Penilaiannya tetap dari yang rendah ke yang tinggi. Yang pertama, nilai terendah adalah menyebabkan kerusakan habitat pada wilayah yang luas. Jadi kalau ikan, kalau alat tangkap ini dipakai, dia habitatnya rusak, luas sekali wilayahnya. Kemudian ada yang kedua, kalau dipakai dia mengalami kerusakan habitat tapi wilayahnya enggak banyak. Wilayahnya enggak banyak.
[6:38]Kemudian yang ketiga, hanya merusak sebagian habitat pada wilayah yang sempit. Enggak banyak habitatnya enggak rusak, juga daya sempit. Nah, yang keempat, ini yang paling ramah lingkungan, yaitu tidak sama sekali merusak habitat. Sama sekali aman. Gitu, ya. Itu adalah kriteria yang kedua. Kriteria yang ketiga, tidak membahayakan pengguna.
[7:08]Lihat, selalu dari tingkat rendah ke yang tinggi. Yang pertama, alat tangkap ini dapat berakibat kematian pada pengguna. Misal apa? Bom, ya kan? Dapat mengakibatkan kematian pada pengguna kan. Ini tidak ramah. Dapat berakibat cacat permanen pada pembunah. Misalnya alatnya berbahaya, misalnya apa? Longline atau itu berbahaya bisa berbahaya, bisa bikin cacat. Kalau kena pancing kan bisa bikin cacat. Kemudian yang ketiga, dapat mengakibatkan gangguan kesehatan sementara pada pengguna. Bisa bikin gangguan kesehatan. Kalau dipakai itu misalnya indra penciumannya rusak untuk sementara. Kan gitu. Gangguan kesehatan. Kemudian yang keempat terakhir, yang paling ramah lingkungan adalah aman bagi pengguna. Sangat aman. Jadi tidak membahayakan. Ini adalah kriteria yang ketiga. Kemudian kriteria yang keempat adalah menghasilkan tangkapan yang bermutu baik.
[8:21]Ada lihat yang pertama tangkapannya ketika kita nangkap ikannya diangkat ke kapal udah mati, busuk pula. Ada enggak kayak gitu? Ada ya. Diangkat ke kapal, mati, busuk. Karena mungkin kelamaan dalam air. Kemudian yang nomor dua, mati, segar dan cacat fisik. Jadi ketika alat tangkap ini diangkat, ikannya mati tapi masih segar. Cuman cacat. Cacat itu misalnya gimana? Ekornya putus.
[9:02]Ya kan, insangnya lepas. Iya enggak? Biasanya itu untuk ikan-ikan kecil, toh. Ada saja, ini adalah nilai dua. Kemudian ada alat tangkap yang tiga. Yang dapat poin tiga. Ikan tangkapannya mati dan segar. Ketika diangkat ke kapal, sudah mati ikannya, tapi masih segar. Contoh misalnya ikan tuna. Diangkat oleh longline, mati kan dia. Iya enggak, tapi segar, gitu. Tapi apakah tuna longline ini masuk kriteria tangkap ramah lingkungan? Baru satu, baru satu kriteria, belum dilihat dari sembilan yang lain, delapan yang lain, kan gitu. Ini adalah kriteria alat tangkap ramah lingkungan. Jadi sembilan ini harus semuanya mencakup, jadi tidak satu aja. Kemudian yang keempat, ini hasil tangkapannya hidup. Contoh bubu. Iya kan, bubu ketika ditangkap ikannya masih hidup. Kemudian ini adalah kriteria yang keempat. Kemudian kriteria yang kelima, hasil tangkapan tidak membahayakan kesehatan konsumen. Yang pertama, berpeluang besar menyebabkan kematian konsumen. Misal, hasil tangkapannya adalah ular laut, masih hidup. Iya kan? Dia kena bubu, bubu ini dapat dapat ular. Ularnya ular berbisa, menyebabkan kematian konsumen. Bisa kan, jadi jadi rendah nilainya, yang kriteria lima. Iya enggak.
[11:14]Kemudian yang kedua, menyebabkan gangguan kesehatan konsumen, misalnya keracunan. Contoh apa, ikan buntal. Ikan buntal bisa didapat sama alat tangkap. Tapi apakah itu layak untuk konsumen? Kalau dimakan bisa racunan, kan gitu. Yang ketiga, sama menyebabkan berpeluang sangat kecil menyebabkan gangguan konsumen eh gangguan kesehatan konsumen. Dia dapat menyebabkan gangguan kesehatan tapi keperluannya sangat kecil. Misalnya ikan apa itu? Ikan batu misalnya. Ada racunnya. Kalau misalnya sudah diolah, ya kan, memang dia tidak beracun, tapi sangat kecil, dia ada kemungkinannya mengganggu kesehatan. Kemudian yang keempat adalah hasil tangkapannya adalah aman bagi konsumen. Ini adalah ikan-ikan yang kalau dijual aman. Ini nilainya sangat besar, dapat poin empat. Ini adalah kriteria yang kelima. Kita lihat kriteria yang keenam. Hasil tangkapan terbuangnya minimum. Alat tangkap ini kalau dipakai, jadi bycatch itu gini. Bycatch itu adalah hasil tangkapan sampingan. Jadi kalau misalnya kita nangkap, kalau kita nangkap pakai alat tangkap, target utama kita adalah ikan tuna. Ternyata kita dapat juga hiu. Ternyata kita dapat juga lumba-lumba misalnya, ya kan. Bisa aja kena kena pancing itu. Itu adalah tangkapan bycatch namanya, tangkapan sampingan, ikan tangkapan di luar target. Nah, lihat kalau kriterianya yang ramah tingkat, yang ramah lingkungan itu yang bagaimana? Dilihat dari sisi bycatch-nya, dari sisi hasil tangkapan yang terbuangnya. Yang pertama lihat terdiri dari beberapa spesies yang tidak laku di pasar. Ditangkap, kena alat tangkapnya, tapi enggak laku, kan gitu. Misal bubu, bubu nangkapnya lobster, tapi ternyata di situ ketemu juga ular. Ular laut misalnya, enggak laku di pasar, enggak ada yang mau beli. Dan banyak dapatnya. Berarti itu fishing ground-nya, fishing ground ular misalnya, kan gitu. Kemudian yang kedua, terdiri dari beberapa spesies dan ada yang laku. Jadi alat tangkapnya ini dapat bycatch-nya mau nangkap lobster, tapi dapat pula ikan, dapat pula udang yang lain dan dia laku di pasar. Masih bisa dijual tangkapan sampingnya. Kemudian yang ketiga, bycatch kurang dari 3 spesies dan laku di pasar. Nangkapnya bycatch-nya, spesiesnya kurang dari tiga dan dia laku. Jadi masih bisa diangkat ke kapal enggak perlu dibuang ke laut, langsung bisa dijual. Kemudian yang keempat, kurang dari 3 spesies dan berharga tinggi di pasar. Jadi nangkapnya tuna, tapi ternyata dia dapat ikan-ikan lain, contoh misalnya gindara, dapat gindara. Contoh misalnya dapat marlin, dia laku di pasar, harganya tinggi. Jadi tetap aja dia diangkat ke laut. Jelas ya, konklusi ini jelas ya. Kemudian yang ketujuh adalah memberikan dampak minimum terhadap biodiversity. Jadi dampak minimum terhadap keragaman hayati. Di sini ada empat. Satu, alat tangkap yang digunakan dan operasinya menyebabkan kematian semua makhluk hidup dan merusak habitat. Oh, pokoknya kalau alat tangkap ini dipakai udah rusak itu semua. Makhluk hidupnya mati, merusak habitat. Misalnya trol, digaruk semua, tuh kan, terumbu karangnya habis semua kan. Habis. Menyebabkan kematian, ikan-ikan mati banyak semua. Apalagi pakai bom misalnya, pakai beracun, pakai peledak, ini kan mati semua, ya kan. Merusak. Kemudian ada konklusi yang kedua, yang nilainya lebih sedikit tinggi. Alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian beberapa makhluk hidup dan merusak habitat. Kalau tadi semua makhluk hidup, kalau sekarang adalah beberapa makhluk hidup dan merusak habitatnya. Merusak habitatnya sama dengan poin nomor satu, cuman kalau yang kedua ini cuma menyebabkan kematian beberapa makhluk hidup. Kemudian yang ketiga, alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian beberapa makhluk hidup tetapi tidak merusak habitat. Kalau alat tangkap ini dipakai, alat alat tangkapnya dioperasikan, cuma ada beberapa aja yang mati tapi dia enggak merusak. Enggak merusak habitat. Ini poinnya agak tinggi. Kemudian yang keempat adalah aman bagi keanekaragaman hayati. Artinya ketika alat tangkap ini dipakai, tidak ada makhluk hidup yang mati dan tidak juga merusak habitat. Ini poin yang paling besar. Ini adalah kriteria yang ketujuh. Kita lihat kriteria yang kedelapan. Alat tangkap ini tidak menangkap spesies yang dilindungi atau terancam punah. Lihat spesies, konklusinya spesies yang dilindungi beberapa kali tertangkap alat tangkap. Jadi kalau kita pakai alat tangkap, ternyata alat tangkap ini nangkapnya ikan yang dilindungi terus, terlalu aja dapat. Setiap kali pakai dapat, pakai dapat, pakai dapat. Iya kan. Dapatnya ikan-ikan yang dilindungi justru. Ah, ini tidak ramah. Kemudian yang kedua, alat tangkap ini dipakai tapi pernah nangkap, nih, pernah tertangkap alat tangkap. Pernah menangkap ikan yang dilindungi. Spesies yang dilindungi pernah tertangkap alat tangkap. Jadi pernah sekali-sekali ketangkap. Misalnya pernah sekali penyu misalnya. Tapi habis itu kalau dipakai enggak lagi. Kemudian ada yang ketiga, spesies yang dilindungi tidak pernah tertangkap alat tangkap. Jadi kita menggunakan alat tangkap ini tidak pernah nangkap ikan yang dilindungi. Aman aja ikan yang dilindungi itu lewat aja. Penyu lewat, hiu marlin lewat, ikan apa lagi lewat dah, Napoleon lewat, enggak kena sama alat tangkap ini. Ini adalah poin yang paling besar. Nomor tiga. Yang terakhir, kriteria sembilan, yaitu diterima secara sosial. Lihat sub kriterianya, secara sosial itu maksudnya apa, lihat sub kriterianya. Yang pertama adalah biaya investasinya murah. Jadi investasi ini, pokoknya mulai dari bikin operasi murah. Terus dipakai dia untung, dia menguntungkan, enggak selalu bikin rugi. Terus yang ketiga, tidak bertentangan dengan budaya setempat. Yang keempat adalah tidak bertentangan dengan peraturan. Lihat sekarang konklusinya dari subkriteria ini turun lagi ke konklusinya. Yang pertama, yang paling rendah memenuhi satu dari empat subkriteria. Subkriteria ini kan empat, cuman dia memenuhi satu. Misalnya alat tangkap ini cuman biayanya yang murah. Tapi yang lain dia tidak menguntungkan, dia bertentangan dengan budaya dan dia bertentangan dengan peraturan.
[20:25]Misal apa, trol kan. Dia menguntungkan, tapi investasinya mahal, bertentangan budaya, bertentangan dengan peraturan. Ini adalah memenuhi satu dari empat subkriteria. Yang kedua memenuhi dua dari empat subkriteria. Memenuhi dua dari empat subkriteria. Kemudian yang ketiga, memenuhi tiga kriteria dari empat ini. Dan yang keempat, dia punya nilai yang paling tinggi, memenuhi semua empat subkriteria. Jadi semuanya ini mencakup. Kalau ini semua, biaya investasinya murah, menguntungkan, tidak melanggar budaya, tidak melanggar peraturan, nah ini adalah kriteria dengan nilai paling tinggi. Ini adalah 9 kriteria alat tangkap ramah lingkungan yang di rilis yang dibuat oleh FAO dan kita mengikut. Kenapa kita mengikut? Karena kita sudah meratifikasi aturan dari FAO. Makanya kita ikut. Sampai ketemu di materi berikutnya dan jangan lupa untuk like, subscribe, dan share video ini.



