[0:02]He'eh. Eh, adakah pengalaman yang paling berkesan dalam keluarga Anda? Emm, enggak ada sih. Oke. Eh, adakah pengalaman yang eh sangat membekas seperti itu yang kayak membuat kamu jengkel-jengkel banget, bahkan? Ada. Eh, banyak sebenarnya, cuma yang paling saya ingat itu kayak waktu itu SMA. Eh, mau ke sekolah kan saya kalau ke sekolah jalan kaki. Eh, terus ini saya kayak kan biasa dikasih uang sama tanteku. Terus eh itu uang biasa kayak saya pakai buat kayak apa yang saya mau beli begitu. Karena kayak pasti kalau saya minta ke Mameku pasti dia dikasih. Jadi saya pakai itu uangku buat itu. Terus waktu mau ke sekolah minta uang jajan ke Mameku baru kayak Mameku bilang, "Eh, mana uangmu yang dari tantemu kemarin?" Kayak begitu-begitu. Baru kayak saya bilang, "Ih, ada di sini. Saya mau pakai ini, bla bla bla." Terus kayak dia tiba-tiba langsung kayak emosi sekali. Terus kayak di situ kayak ada mulutku dan kayak memang salah aku di situ karena karena kayak agak besar suaraku. Tapi kayak menurutku itu kayak bentuk pembelaan diriku sih karena kayak, "Ih, saya pakai itu buat kayak saya memang mau pakai itu buat beli sesuatu." Terus aku kira saya sudah nih. Tapi kayak pas aku, pas aku mau pergi sekolah pakai sepatu yang ini, duduk di depan pintu tiba-tiba marah dia karena kayak besar suaraku. Dia bilang enggak usah ada pukul kah dan kayak dia jambak jilbabku jadi kayak itu sih yang paling berbekas karena kayak lagi mau pergi ke sekolah tapi kayak tidak dikasih begitu. Jadi kayak gitu. Kamu berarti sekolah eh sendiri ya? Berangkatnya sendiri. Sendiri karena dekat sih. Eh, biasanya konflik yang seperti itu apakah muncul saat eh seperti apa? Bisa diceritakan? Mmm, kalau kayak lagi tidak bagus mood-nya Mameku dan kayak saya lagi kayak saya merasa kalau diriku juga kayak tidak salah di dan kayak saya bela diriku jadi pasti itu kayak pasti pasti selalu begitu. Kayak selalu bergelahi gitu-gitu. Kayak kalau dia bad mood dan kayak saya menurutku kayak kenapa saya kena kayak gitu-gitu. Jadi kayak pasti selalu bertelahi di situ. Jadi kayak gitu. Dari masalah itu bagaimana eh keluarga Anda biasanya menyelesaikan masalah yang terjadi dalam keluarga? Enggak tahu sih karena kayak biasa itu kalau bertelahi begitu Kak pasti semuanya jadi diam-diaman dan kayak itu biasa berlangsung sampai 3 hari dan kayak nanti itu baikan tak kayak tiba-tiba ji saja. Kayak tiba-tiba makan sama-sama, tiba-tiba mau makan kayak gitu-gitu sih. Eh, kalau yang mengambil keputusan untuk menyelesaikan permasalahan? Enggak ada sih. Berarti eh bentuk komunikasinya diam-diaman? Iya. Oke, saya mau cek lagi. Enggak. Oke. Eh, tapi pernah enggak kamu ditanya sama orang tuanya tentang eh bagaimana orang tuanya itu kalau melihat kamu? Enggak pernah sih. Eh, atau harapan orang tua terhadap kamu pernah disubutkan atau bagaimana? Mmm, pernah. Kayak dia mau saya jadi orang yang kayak misalnya kayak sekarang kayak dia bilang kayak harus saya selesai kuliah kayak biar bisa punya uang sendiri kayak gitu-gitu.
[4:00]Kalau dalam keluarga sih itu, apakah ekonominya baik atau bagaimana dengan itu uang? Kalau menurutku nah, menurutku itu baik sih. Cuman kayak kadang itu kadang titik di mana kayak Mameku ini kayak selalu bilang kalau dia itu kayak apa? Kayak saya selalu kena salahkan karena kayak, "Kok kok kayak karena kayak saya kan naik Gojek kalau ke kampus." Kayak saya selalu dia bilang kayak menyertikan Gojek uang kosku, kayak bla bla bla. Padahal kayak menurutku kayak stabil sih uangnya Mameku karena kayak tidak pernah dia kayak kekurangan makan, kurang minum kayak gitu-gitu. Kalau mau pergi-pergi juga kayak bisa ji cuma kayak gitu nih. Kayak berarti eh aman ya kalau misalnya masalah seperti itu. Mungkin eh memang tergantung mood lagi dari orang tuanya kalau mau hadapi kamu. Iya. Oke, saya mau cerita lagi. Eh, adakah pengalaman pas masa kecil dengan orang tua yang diingat? Mmm. Pengalaman baik atau? Apa intinya kayak menurutku enggak ada sih kalau yang baik. Kalau yang buruk yang paling kayak ini loh, kayak kekerasan. Iya. Kekerasan. Oke. Eh, apakah hubungan dengan orang tua kamu ini memengaruhi eh diri kamu saat ini berinteraksi dengan orang lain? Mmm, jujur memengaruhi karena kayak karena kayak sifatnya orang tuaku ke saya tuh kayak biasa kayak meragukan sekali Kak dan kayak dia tidak pernah kasih support yang kayak mengerti enggak sih? Kayak support yang kayak, "Harus kok bisa! Pasti bisa kok!" Tapi kayak jadi kayak biasa itu kayak saya itu kayak canggung Kak ketemu orang baru karena kayak aku takut ya saya di-judge gitu. Tapi eh kamu merasa tidak kayak percaya diri tidak sama dirimu sendiri? Enggak.
[6:04]Oke. Eh, perasaan yang paling sering muncul ketika berhubungan dengan orang lain berarti tadi takut di-judge kembali seperti yang dirasakan di sini.
[6:42]Pernah enggak kamu coba? Pernah. Buat kayak komunikasi gitu-gitu kan? Pernah. Cuman kayak gitu nih responnya Kak yang kayak pernah Kak juga kayak cerita. Tapi diceritaku ini kan maksudku toh kayak mau Kak kayak didengarkan saja. Tapi kayak malah dia salahkan Kak karena kayak, "Kenapa kau begitu? Bla bla bla." Padahal kayak bukan itu yang saya mau.
[7:04]Kayak saya cuma mau cerita, cuma mau kayak didengarkan saja. Tapi kayak dia malah salahkan Kak gitu-gitu. Jadi kayak saya memutuskan buat tidak pernah lagi cerita-cerita begitu sih. Oke, baik. Eh, selanjutnya. Dalam keluarga ini eh siapa yang biasanya menjadi tempat Anda bercerita kalau misalkan mengalami masalah?
[7:43]Kalau eh di sini, kalau di keluarga yang ada di rumah ini, tidak pernah. Cuman kalau kan ada adikku satu orang. Tapi dia itu tanteku. Dan menurutku saya lebih terbuka ke dia karena kayak dia mengerti sekali Kak sih. Kayak biasa itu kalau cerita Kak dia pasti yang kayak biasa ya dia ikut sedih kayak gitu-gitu dan kayak biasa ya dia sampai menangis karena kayak, "Kenapa kau begitu?" Kayak gitu-gitu. Jadi kayak kalau cerita-cerita begitu saya lebih ke adikku yang di Merauke.
[8:14]Oke. Jadinya kalau bisa dapat validasi sedikit validasi. Iya. Oke. Eh, selanjutnya kita ke aspek selanjutnya. Oke. Eh, di mana saja Anda menempuh pendidikan sejak sekolah dasar dan pendidikan yang terakhir SMA?
[12:03]Eh, TK mulai TK, saya TK di Merauke. Nama TK-nya ini disebut atau tidak? Boleh. Eh, nama TK-nya itu TK Yapis Merauke. SD juga saya di Merauke, nama SD-nya itu SD Al Ma'arif Merauke. Kalau SMP saya pindah ke Makassar, saya SMP di SMP Muhammadiyah Cabang Mamajang. Terus kalau SMA saya SMA di Mandua Kota Makassar. Eh, kenapa bisa eh pindah ke Makassar? Bisa diceritakan? Karena kan Mameku sebenarnya orang Sinjai, cuma merantau ikut sama saudaranya Kakekku ke Merauke. Terus kayak jadi kayak biasa itu kalau libur-libur begitu pasti selalu ke Makassar. Tapi kayak dulu itu kayaknya SD tidak ada pikiran. Cuman kayak tiba-tiba saya, Mameku bilang karena kayak takutnya kalau di Merauke itu kayak karena di sana kayak agak kurang ji.
[13:14]Jadi kayak Mameku putuskan buat pindah saya ke Makassar gitu. Oke. Berarti bagaimana pengalamannya kamu selama menjalani pendidikan di Merauke ya? Bisa diceritakan? Di Merauke jujur senang karena kayak di situ calon Mameku terus kayak lama tidak ke sana. Jadi kayak senang kalau misalnya ke Merauke lagi tapi kayak selama di sana senang sekali Kak.
[13:42]Tapi eh bagaimana dengan teman-teman di sana, apakah masih berhubungan atau tidak? Ada yang masih kayak kalau mau dibilang masih berhubungan sih masih. Cuman kayak kalau yang akrab itu kayak beberapa ji sih. Eh, ada tidak pengalaman yang paling berkesan selama di sana? Kalau di sana itu kayak biasa kalau kayak weekend gini kayak hari Minggu atau hari Sabtu itu pasti kayak selalu pergi sama teman-teman SD-ku pergi berenang. Terus kayak biasa di Swissbell kayak gitu-gitu berenang atau biasa kayak pergi Kak, ada namanya di Merauke. Namanya itu, apa? Kayak puas. Puas, Kak. Apa begitu lupa. Saya selalu ke sana sih kayak gitu-gitu.
[14:31]Eh, bagaimana kalau di Makassar? Ehm, kalau di Makassar apa? Dari SMP-nya itu. Kalau dari SMP tidak ada sih karena kayak jujur, SMP-ku itu SMP yang kayak masih kecil. Jadi kayak teman-teman itu itu ji dan kayak tidak ada ji pengalaman yang kayak oh, pengalaman ada sih, sempat ikut lomba, lomba kayak kalau di Muhammadiyah itu kayak ada namanya Hizbul Wathan. Kayaknya itu pramuka tapi versi Muhammadiyah. Eh itu sempat ikut lomba dan dapat juara. Kayak gitu sih pengalamanku kalau di SMP. Di SMA? Mmm, kalau di SMA banyak sih kalau sama teman-temanku. Kayak sering pergi-pergi ke pantai atau kayak pergi makan sate. Terus pergi kayak sering makan bakso. Kayak dia kalau pulang, pulang sekolah itu kayak pasti tidak langsung pulang atau kayak biasa rumahku dijadikan basecamp. Terus kayak pergi-pergi aja saja. Biasa kayak Go-Kart atau biasa kayak pergi makan bakso, pergi makan Casauna kayak gitu-gitu. Itu kan sering di luarnya ya. Kalau di dalamnya selama bersekolah di Mandua, Kota Makassar?
[15:52]Enggak ada sih karena kayak jujur saya masih, kayak saya itu kayak pendiam Kak dan introvert Kak. Jadi kayak selalu, kayak saya itu pasti dekatnya dan kayak terbukanya sama orang terdekatku. Kayak dekat Kak merasa Kak dekat baru kayak keluar ya. Begitu Kak.
[16:11]Kalau di SMA guru-gurunya bagaimana? Apakah ada yang masih diingat? Mmm, masih banyak dan kayak ada guruku yang kayak saya anggap kayak ibu, Pak. Ini kayak gitu-gitu. Eh, bagaimana dengan teman-teman yang masih berhubungan sampai sekarang? Mmm, masih. Ada kesulitan yang pernah Anda alami selama menjalani pendidikan? Kesulitan seperti kayak biaya atau selama situasi di dalam sekolah? Enggak ada sih. Bagaimana hubungannya kamu dengan guru di sekolah yang di Merauke dan di Makassar? Baik sih.
[16:51]Kayak gitu nih, kayak tidak ada yang kayak tidak ada yang kayak tidak ada masalahku, tidak pernah bermasalah selama di sekolah. Jadi kayak selalu, kayak baik ji. Kayaknya gitu. Kalau dari kebijakan sekolah, tuntutan-tuntutan sekolah bagaimana? Tidak ada sih yang buat aku tetap begitu, biasa aja sih.
[17:37]Kalau dari eh seluruh kelasnya, kira-kira berapa persen ya yang sering ikut kumpul-kumpul setelah kuliah? Per kelas kan? Eh, sekelas yang kemarin. Kelas yang di Makassar. Kelas yang sama. Kayak paling seperti enggak sih? Kayak paling itu-itu ji. Mungkin yang sering muncul. He'em. Oke. Eh, bagaimana kalau di SMP, SD? Kalau SMP jujur tidak pernah ketemu sama teman-teman SMP-ku. Tapi kayak masih follow-followan IG dan biasa kayak kalau ada salah satu dari kita yang ulang tahun pasti kayak masih masih masih saling ucap-ucapan kayak gitu. Kalau SD karena teman-temanku juga kayak saya dari lama LDR sama mereka. Jadi kayak saya saya tuh kayak ada grup, ada kayak grupku. Itu grupku yang 4 orang. Dan ini 3 orang ini kayak mereka itu masih di Merauke ji. Cuma merantau keluar buat kuliah. Tapi kayak kalau kalau kayak libur semester begitu pasti mereka pulang dan kayak mereka selalu kumpul-kumpul. Tapi kayak karena saya tidak pernah ke Merauke, jadi kayak saya saya pasti lewat WA ji atau kayak lewat chat ji kayak gitu-gitu. Tapi dari perasaan itu pernah kamu pernah kepikiran tidak untuk kembali ke Merauke? Selalu sih, Kak. Iya. Selalu Kak kayak mikir kayak, "Saya mau juga ikut-ikut kumpul-kumpul begitu." Kayak atau biasa kayak bilang Kak, "Kayaknya mau ke Merauke." Kayak gitu-gitu. Kalau misalkan lihat postingan-postingannya orang kayak gitu. Selama di sekolah pernahkah Anda menghadapi masalah seperti pertemanan atau misalkan nilainya buruk, terus tidak diperbaiki dengan gurunya? Mmm, kalau nilainya kredit gitu tidak pernah sih, seingatku nah. Tidak pernah. Tapi kalau kayak sama teman-temanku, kayak dulu di SD, ikut Kak kayak marching band.
[19:34]Nah, itu itu kayak ada lombanya, ada lomba. Terus kayak sudah latihan ini kayak dari pagi sampai sore, pagi sampai sore, kayak selalu 2 minggu atau 1 mingguan. Terus pas hari H kayak disuruh coba baju di situ kayak tidak cocok, Kak. Kayak agak susah dikancing bagian belakangnya. Dan kayak saya itu menurutku kayak bisa sih sebenarnya dikancing. Tapi waktu itu aku SD itu kayak seingatku 3 lapis baju ku pakai. Kayaknya baju dalamku dan kayak saya pakai baju kaos dan baru baju sekolahku. Jadi kayak sempit itu saja dan kayak di situ kayak, "Harusnya bisa aku." Kayak gitu. Iya, malu Kak sih dan kayak teman-temanku bilang yang kayak ada temanku satu orang kayak cowok-cowok bilang Kak yang kayak, "Ih, tidak bisa ini, tidak jadi ikut." Kayak gitu-gitu. Kayak tidak cukup bajunya. Ih, kayak itu worst banget. Parah. Bagaimana caranya kamu mengatasi tuntutan akademik selama di sekolah? Mmm, kalau tuntutan akademik tidak ada sih kalau dari orang tuaku karena kayak ya udah aja gitu yang penting naik kelas. Gitu sih.
[20:49]Eh, kalau dari kebijakan sekolah, tuntutan-tuntutan sekolah bagaimana? Tidak ada sih yang buat aku tetap biasa aja sih. Selama di kuliah, capaian akademiknya? Mmm, tidak ada sih, Kak. Aman. Iya, aman sih semuanya. Kayak tapi tidak pernah Kak ikut lomba-lomba begitu. Tidak pernah sih. Terus kayak saya cuma mau cerita, cuma mau kayak didengarkan saja. Tapi kayak malah dia salahkan Kak karena kayak, "Kenapa kau begitu? Bla bla bla." Padahal kayak bukan itu yang saya mau. Mungkin yang sering muncul. He'em. Oke. Eh, bagaimana kalau di SMP, SD? Kalau SMP jujur tidak pernah ketemu sama teman-teman SMP-ku. Tapi kayak masih follow-followan IG dan biasa kayak kalau ada salah satu dari kita yang ulang tahun pasti kayak masih masih masih saling ucap-ucapan kayak gitu. Kalau SD karena teman-temanku juga kayak saya dari lama LDR sama mereka. Jadi kayak saya saya tuh kayak ada grup, ada kayak grupku. Itu grupku yang 4 orang. Dan ini 3 orang ini kayak mereka itu masih di Merauke ji. Cuma merantau keluar buat kuliah. Tapi kayak kalau kalau kayak libur semester begitu pasti mereka pulang dan kayak mereka selalu kumpul-kumpul. Tapi kayak karena saya tidak pernah ke Merauke, jadi kayak saya saya pasti lewat WA ji atau kayak lewat chat ji kayak gitu-gitu. Tapi dari perasaan itu pernah kamu pernah kepikiran tidak untuk kembali ke Merauke? Selalu sih, Kak. Iya. Selalu Kak kayak mikir kayak, "Saya mau juga ikut-ikut kumpul-kumpul begitu." Kayak atau biasa kayak bilang Kak, "Kayaknya mau ke Merauke." Kayak gitu-gitu. Kalau misalkan lihat postingan-postingannya orang kayak gitu. Selama di sekolah pernahkah Anda menghadapi masalah seperti pertemanan atau misalkan nilainya buruk, terus tidak diperbaiki dengan gurunya? Mmm, kalau nilainya kredit gitu tidak pernah sih, seingatku nah. Tidak pernah. Tapi kalau kayak sama teman-temanku, kayak dulu di SD, ikut Kak kayak marching band.
[22:50]Nah, itu itu kayak ada lombanya, ada lomba. Terus kayak sudah latihan ini kayak dari pagi sampai sore, pagi sampai sore, kayak selalu 2 minggu atau 1 mingguan. Terus pas hari H kayak disuruh coba baju di situ kayak tidak cocok, Kak. Kayak agak susah dikancing bagian belakangnya. Dan kayak saya itu menurutku kayak bisa sih sebenarnya dikancing. Tapi waktu itu aku SD itu kayak seingatku 3 lapis baju ku pakai. Kayaknya baju dalamku dan kayak saya pakai baju kaos dan baru baju sekolahku. Jadi kayak sempit itu saja dan kayak di situ kayak, "Harusnya bisa aku." Kayak gitu. Iya, malu Kak sih dan kayak teman-temanku bilang yang kayak ada temanku satu orang kayak cowok-cowok bilang Kak yang kayak, "Ih, tidak bisa ini, tidak jadi ikut." Kayak gitu-gitu. Kayak tidak cukup bajunya. Ih, kayak itu worst banget. Parah.



