Thumbnail for Tensile Test (Uji Tarik) by Laboratorium Uji Bahan PPNS

Tensile Test (Uji Tarik)

Laboratorium Uji Bahan PPNS

12m 25s948 words~5 min read
Auto-Generated

[0:05]Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kali ini kita akan melaksanakan pengujian tarik. Pengujian tarik sendiri merupakan salah satu pengujian merusak yang digunakan untuk mengetahui kekuatan dari sebuah material. Baik, langsung saja akan saya tunjukkan alat dan bahan yang digunakan dalam pengujian tarik.

[0:27]Inilah alat dan bahan yang digunakan dalam pengujian tarik. Baik, ini adalah grip yang digunakan untuk menjepit material saat pengujian tarik. Dimulai dengan grip yang pertama ini digunakan untuk material jenis plat. Untuk grip yang kedua dan ketiga ini digunakan jika bendanya adalah baja tulangan beton sirip atau rond bar. Berikut ini adalah benda-benda yang biasa dilakukan pengujian tarik, ada spesimen bentuk plat, baja tulangan beton bentuk sirip dan roun bar. Kemudian ada jangka sorong, ada penitih, ada palu, ada kertas milimeter beserta dengan pena. Dan yang terakhir adalah neraca digital. Ini adalah alat utama yang akan kita gunakan dalam pengujian tarek yakni Universal Test mesin dengan kapasitas 100 kton. Yang terdiri dari dua bagian. Bagian yang pertama adalah digunakan untuk melakukan penjepitan terhadap material uji. Untuk bagian yang kedua ini adalah mesin yang digunakan untuk kontrol parameter dalam melaksanakan pengujian. Langkah pengujian yang pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi spesimen uji. Yakni dengan cara memberikan kodifikasi pada salah satu sisi agar tidak tertukar jika kita melaksanakan pengujian dengan jumlah material uji yang banyak. Langkah kedua, kita lanjutkan dengan membuat gat slang pada spesimen uji. Kita buat get slangs dengan panjang 50 mili atau 2 inci. Kita tempatkan jangka sorong pada permukaan benda uji, kemudian kita tandai. Baik, setelah itu baru kita lakukan pembuatan get slank dengan penitih.

[2:53]Untuk baja tulangan beton sirip, gat slangnya adalah 8 kali diameter efektif. Sehingga kita harus mencari tahu dulu berapa diameter efektif dari baja tulangan beton sirip ini. Langkah yang ketiga yakni pengukuran awal spesimen uji. Untuk spesimen plat, yang harus diukur terlebih dahulu adalah sisi lebar.

[3:19]Setelah kita dapatkan dimensi lebarnya, kita masukkan ke dalam form pengujian. Selanjutnya yang diukur adalah sisi ketebalan. Kemudian dimasukkan ke dalam form pengujian.

[3:38]Dimensi yang terakhir adalah get slank yang sudah kita buat tadi. Kita gunakan bagian tanduk pada jangka sorong. Kemudian kita masukkan lagi ke dalam form pengujian. Untuk spesimen uji round bar, kita ukur diameter.

[4:05]Kemudian kita tuliskan ukuran diameternya ke dalam form pengujian. Selanjutnya adalah gat slank. Sama caranya seperti spesimen plat.

[4:28]Kemudian kita tuliskan lagi ke form pengujian. Untuk baja tulangan beton sirip yang diukur adalah panjang total dari benda. Sedangkan untuk diameter efektif, kita gunakan rumus akar 4M dibagi dengan phi kalikan rho dikalikan panjang total. Untuk menentukan diameter efektif, pertama adalah kita mengukur panjang total dari baja beton tulangan sirip ini. Kita ukur panjang totalnya dengan menggunakan jangka sorong.

[5:08]Setelah kita ketahui panjang total dari baja tulangan beton sirip ini, kita lanjutkan dengan mengukur massa dari baja tulangan beton sirip ini menggunakan neraca digital. Langkah awal yang harus dilakukan adalah men-setting neraca digital ini pada kondisi nol dengan cara menekan tombol dari neraca ini pada setting nol. Setelah terlihat pada layar digital bahwa neraca digital ini nol, maka kita letakkan baja tulangan beton sirip ini di atasnya. Setelah angkanya berhenti, maka bisa kita ketahui baja tulangan beton sirip ini pada rumus berikut ini. Langkah yang berikutnya yakni kita akan menyalakan mesin dengan cara menekan tombol hijau pada bagian bawah mesin. Kemudian kita setting beban dari mesin pada kapasitas maksimalnya yakni 100 kilonewton. Selanjutnya adalah pemasangan spesimen pada mesin pengujian. Caranya yakni kita buka dulu raknya bagian atas dengan cara memutar handle ke atas ya. Kemudian ditempatkan sesuai dengan bentuk dari spesimen uji. Langkah yang berikutnya yakni kita memutar handle searah jarum jam untuk menaikkan gripnya agar menjepit spesimen uji pada bagian bawah. Caranya yakni kita tekan tombol hijau pada bagian atas mesin. Untuk menjepit spesimen pada bagian bawah, kita tekan tombol hijau pada bagian atas mesin. Setelah spesimen terpasang dengan kuat pada penekap, langkah berikutnya yang harus kita lakukan adalah memasang kertas milimeter pada chart recorder.

[7:34]Setelah kertas milimeter ini terpasang dengan benar, langkah yang harus kita lakukan adalah menyalakan chat recordernya. Tekan tombol on.

[7:44]Langkah berikutnya adalah men-setting writer pada posisi zero.

[7:58]Selanjutnya naikkan chart recorder pada bagian atas. Pena turun, kemudian tekan tombol record. Selanjutnya adalah berikan beban secara kontinu. Pada area ini terlihat bahwa benda mengalami titik yel. Selanjutnya, recorder tetap melaksanakan catatan hingga pada titik ultimatenya.

[9:09]Setelah titik ultimate tercapai, maka kurva akan menurun. Yang menandakan bahwa benda akan patah.

[9:33]Pada titik yang terakhir Setelah pengujian tarik selesai kita laksanakan, langkah berikutnya kita harus mengambil spesimen uji dari pencap. Caranya kita tekan tombol merah pada bagian mesinnya atas ya, hingga pencetak terbuka. Lalu kita ambil spesimen uji yang bawah. Untuk yang atas kita buka pada handle sebelah sini.

[10:02]Setelah spesimen patah kita ambil, selanjutnya kita melakukan pengukuran akhir pada benda yang telah patah dengan cara menyatukan kembali benda tadi. Kemudian kita ukur diameter akhir. Kita masukkan ke dalam form pengujian.

[10:41]Selanjutnya kita ukur untuk panjang akhir. Kemudian kita masukkan kembali ke form pengujian. Untuk spesimen yang kedua dan ketiga, mekanisme pengujiannya sama dengan spesimen yang pertama. Karena digital display dari mesin rusak, sehingga kita menggunakan skala beban 0,5 kilonewton. Yang artinya setiap milimeter pada kertas sama dengan 0,5 kilonewton beban mesin. Kekuatan tarik dari spesimen uji didapatkan dari kurva yang sudah dihasilkan dari mesin. Untuk mengetahui kekuatan luluh atau yield strength, maka bisa didapatkan dari beban yield dibagi dengan luas penampang awal. Sedangkan untuk mengetahui kekuatan tarik maksimal atau ultimatenya, maka beban maksimal dibagi dengan luas penampang awal. Untuk Elongation maka kita harus ngukur panjang akhir dibagi dikurangi dengan panjang awal dibagi dengan panjang awal dikalikan dengan 100%. Oke, itu tadi pengujian tarik yang sudah kita laksanakan. Jika ada pertanyaan mengenai pengujian tarik, bisa ditanyakan kepada dosen pengampu masing-masing. Terima kasih. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript