Thumbnail for Pancasila sebagai Sistem Filsafat [1] by PEMBELAJARAN RJ

Pancasila sebagai Sistem Filsafat [1]

PEMBELAJARAN RJ

12m 33s1,435 words~8 min read
YouTube auto captions
Transcript source

YouTube auto captions

This transcript was extracted from YouTube's auto-generated caption track. The transcript below is server-rendered so it can be read, searched, cited, and shared without opening the original YouTube player.

Pull quotes
[0:00]Jadi, kita akan mengkaji apa betul Pancasila itu sebagai sebuah Sistem Filsafat.
[0:00]Tapi sebelum kita melihat itu, betul yang pertama adalah pertanyaannya apa itu filsafat?
[0:00]Nah, kalau kita bicara filsafat, istilah filsafat itu berasal dari bahasa Yunani.
[0:00]eh filosofia, di mana tersusun atas dua kata, philos yang berarti cinta atau philia yang berarti persahabatan, tertarik kepada.
Use this transcript
Related transcript hubs

[0:00]Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang, salam sejahtera bagi kita semua. Hari ini kita akan membahas materi Pancasila sebagai Sistem Filsafat. Ada dua hal di dalam materi ini. Pertama, Pancasila itu sendiri, yang kedua Sistem Filsafat. Jadi, kita akan mengkaji apa betul Pancasila itu sebagai sebuah Sistem Filsafat. Tapi sebelum kita melihat itu, betul yang pertama adalah pertanyaannya apa itu filsafat? Apa itu filsafat? Nah, kalau kita bicara filsafat, istilah filsafat itu berasal dari bahasa Yunani. eh filosofia, di mana tersusun atas dua kata, philos yang berarti cinta atau philia yang berarti persahabatan, tertarik kepada. Sementara, sophos artinya kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman, praktis, inteligensi. Nah, berarti kalau bicara filosofia berarti mencintai kebijaksanaan. Mencintai keadilan, mencintai kebenaran dan seterusnya. Nah, secara harfiah, filosofia itu mencintai kebijaksanaan. Kata kebijaksanaan itu sendiri sebenarnya juga dikenal dalam bahasa Inggris, wisdom. Mempelajari filsafat berarti merupakan upaya manusia untuk mencari kebijaksanaan hidup. Yang nantinya bisa menjadi konsep yang bermanfaat bagi peradaban manusia. Jadi, kalau Pancasila merupakan sebuah sistem filsafat berarti diharapkan Pancasila itu bisa menjadi konsep yang bermanfaat bagi peradaban manusia, khususnya bagi bangsa Indonesia. Nah, filsafat tentu merupakan kegiatan intelektual yang metodis dan sistematis. Namun lebih menekankan pada aspek reflektif di dalam menangkap makna yang hakiki dari segala sesuatu. Nah, sekarang adalah mengapa Pancasila itu dikatakan sebagai sistem filsafat? Kalau kita bicara Pancasila sebagai sistem filsafat, merupakan hasil perenungan mendalam. Jadi ada perenungan yang mendalam, beda menghayal yang beda. Jadi, merupakan hasil perenungan yang mendalam bagi bangsa Indonesia yang dilakukan oleh para tokoh kenegaraan kita. Nah, hasil perenungan ini dimaksudkan untuk merumuskan dasar bagi negara yang akan merdeka. Jadi sebelum kita merdeka, ya dibahaslah ini dasar negara. Dibahaslah apa yang menjadi landasan bagi Indonesia merdeka. Nah, selain itu, hasil perenungan tersebut merupakan sebuah sistem filsafat karena telah memenuhi ciri-ciri berpikir kefilsafatan. Nah, untuk kemudian kita membuktikan itu, maka tentu harus menjawab empat hal ini. Jadi, bagaimana kemudian filsafat itu bersifat koheren, apakah Pancasila itu bersifat koheren? Nah, kalau kita bicara koherensi itu artinya berarti berhubungan satu sama lain. Berhubungan secara utuh, tidak mengandung pernyataan yang saling bertentangan di dalamnya. Nah, Pancasila juga demikian. Jadi bagian-bagiannya saling berhubungan, tidak saling bertentangan meskipun berbeda. Bahkan saling melengkapi dan tiap bagian mempunyai fungsi yang diperlukan tersendiri, seperti tubuh ini ada tangan, ada kepala, ada kaki, ada organ-organ tubuh yang berbeda fungsinya, berbeda bentuknya. Tetapi dia saling melengkapi di dalam sebuah sistem anatomi tubuh. Kemudian yang kedua adalah bersifat menyeluruh. Nah, kalau kita bicara menyeluruh artinya mencakup segala hal dan gejala yang terdapat dalam kehidupan manusia. Nah, tentu kita tahu bahwa kalau bicara filsafat itu kan objek materialnya ada kausa prima, ada makrokosmos dan ada mikrokosmos. Filsafat ini sendiri kan membahas segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Nah, Pancasila sebagai sistem filsafat hidup bangsa merupakan suatu pola yang dapat mewadahi semua kehidupan dan dinamika masyarakat Indonesia. Misalnya, kalau kita bicara Indonesia yang beragam agamanya, beragam kepercayaannya, sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa itu bisa mewadahi perbedaan-perbedaan tersebut. Kalau kita bicara misalnya suku bangsa kita yang sangat banyak dengan budayanya juga yang banyak, beragam. Sila ketiga, kita persatuan. Artinya apa? Ya, bersatunya perbedaan-perbedaan itu. Kemudian selanjutnya adalah bersifat mendasar. Apakah Pancasila itu bersifat mendasar? Nah, sistem filsafat bersifat mendasar artinya suatu bentuk perenungan mendalam yang sampai kepada inti mutlak. Permasalahan sehingga menemukan aspek yang sangat fundamental. Pancasila apakah dia mendalam? Nah, tentu dirumuskan juga berdasarkan inti mutlak dari kata kehidupan manusia. Indonesia di dalam menghadapi diri sendiri, sesama manusia dan Tuhan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Jadi kalau kita lihat sila pertama persatuan, kemudian sila keduanya tentang kemanusiaan, lalu Ketuhanan di sila pertama, kemudian kemanusiaan di sila kedua, persatuan di sila ketiga, kerakyatan di sila keempat, kemudian keadilan di sila kelima. Jadi sebuah kata dasar yang ada awalan ke akhiran an atau awalan per akhiran an itu akhirnya membuat dia menjadi sesuatu yang cenderung abstrak. Jadi sangat sangat mendasar. Tidak ada konkretisasi di situ. Nanti kemudian tentu aturan-aturan, norma-norma, konstitusi beserta dengan aturan-aturan yang lebih rendah yang kemudian akan menerjemahkan lebih lanjut bagaimana nilai-nilai tersebut bisa diaktualkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemudian, bersifat spekulatif. Jadi spekulatif bukan berarti menebak-nebak begitu saja. Spekulatif bukan berarti melempar dadu. Artinya bahwa spekulatif itu sebuah sebuah buah pikir dari hasil perenungan sebagai praanggapan yang menjadi titik awal yang menjadi pra dasar berdasarkan penalaran logis serta pangkal tolak pemikiran tentang sesuatu. Misalnya begini. eh prakiraan cuaca itu bukan meramal cuaca. Tentu prakiraan cuaca itu karena adanya landasan-landasan teoritis. Ya, sama juga dengan hasil perhitungan cepat kalau ada pemilu itu juga bukan tebak-tebakan, tapi itu sebuah yang ber metodologi. Ada landasan-landasan ilmiah. Nah, Pancasila dirumuskan oleh pendiri negara sebagai dasar negara sebagai buah pikir dari para tokoh-tokoh kenegaraan kita yang digali dari budaya bangsa Indonesia sendiri yang dirumuskan di Badan Persiapan usaha-usaha pendiri Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Itu tentu bukan sesuatu yang lahir dari pemikiran begitu saja, tapi tentu melihat realita kehidupan masyarakat Indonesia, masyarakat Nusantara dari dari zaman kerajaan-kerajaan tertua sampai kemudian masa penjajahan.

[7:43]Nah, selanjutnya apa yang menjadi hakikat atau esensi dari Pancasila itu sebagai sistem filsafat? Nah, tentu kita akan melihat sila pertama misalnya, hakikat sila ketuhanan itu terletak pada keyakinan bangsa Indonesia bahwa Tuhan sebagai prinsip utama dalam kehidupan semua makhluk. Apa maknanya? Bahwa setiap makhluk hidup termasuk warga negara harus memiliki kesadaran yang otonom. Jadi setiap individu itu harus memiliki kesadaran yang otonom, ada kebebasan, ada kemandirian di satu pihak, tapi dia harus berkesadaran bahwa dia adalah makhluk Tuhan yang Maha Esa. Yang tentu dimintai pertanggungjawaban atas segala tindakan yang dilakukan. Artinya apa? Kebebasan itu selalu diperhadapkan pada tanggung jawab dan tanggung jawab tertinggi tentu ada pada Tuhan yang kita percayanya masing-masing menurut agama dan kepercayaan kita. Jadi itu sebenarnya, jadi seharusnya manusia Indonesia seperti itu. Ya, jadi ada kebebasan dan kemandirian tapi dia diperhadapkan pada sebuah tanggung jawab. Oke, kemudian istilah keduanya adalah manusia sebagai manusia monopluralis yang terdiri atas tiga monodualis. Apa itu? Pertama adalah susunan kodrat. Jadi manusia itu kan ada jiwa dan ada raganya. Dan jiwa raga ini tentu menyatu di dalam diri kita. Kalau dia berpisah berarti ada, ada sesuatu yang berbeda. Yang mungkin saja kita bukan manusia lagi. Kemudian yang kedua adalah sifat kodrat, manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Jadi ada hak individu yang diakui tapi ada juga kepentingan publik yang harus ditunaikan. Kemudian yang ketiga adalah kedudukan kodrat. Jadi makhluk pribadi yang otonom sekaligus sebagai makhluk ciptaan Tuhan karena percayakan adanya Tuhan karena negara kita negara yang bertuhanan yang Maha Esa. Kemudian selanjutnya adalah hakikat sila persatuan. Jadi ini terkait dengan semangat kebangsaan. Rasa kebangsaan itu tentu terwujud dalam bentuk cinta tanah air. Nah, kalau kita bicara tanah air, ada tanah air riil, ada tanah tanah air formal, dan ada tanah air mental, ya. Kalau yang riil apa yang kita pijak? Misalnya saya di Makassar, maka bumi yang saya pijak adalah MKRI di Kota Makassar. Tapi kalau kita eh apa namanya, bicara tentang air formal, berarti negara bangsa yang berundang-undang dasar. Jadi ada ada ada batasan-batasan geografi sebuah negara yang mana di situ berlaku tentu aturan-aturan yang yang sesuai dengan negara masing-masing. Yang ketiga adalah tanah air mental, ya. Ini adalah dalam pikiran bahwa Indonesia ini sebagai sebuah negara ada ideologinya. Ideologi Pancasila. Beda tentu yang kemudian negara yang ideologinya komunisme, beda tentu dengan yang ideologinya liberalisme. Jadi ya ada tiga itu, eh tanah air riil, tanah air eh formal dan tanah air eh mental. Kemudian selanjutnya adalah hakikat sila kerakyatan. Nah, ini terletak pada prinsip musyawarah, itu hakikatnya. Karena bicara filsafat kan hakikatnya. Artinya apa? Keputusan yang diambil lebih didasarkan atas semangat musyawarah untuk mufakat, bukan membenarkan begitu saja pendapat mayoritas tanpa peduli pada pendapat minoritas. Jadi artinya apa? Kalau kita bicara prinsip eh musyawarah ini sebenarnya sudah ada dalam kehidupan masyarakat Nusantara kita, seperti di Sulawesi Selatan, seperti di di Sumatera itu kan eh apa namanya, eh bulat air dibuluh, bulat kata mufakat. Nah, artinya apa? Eh banyak sumber-sumber air yang akan menyatu di pancuran dan banyak informasi, banyak pendapat yang bisa menyatu di di mufakat. Nah, kemudian selanjutnya adalah hakikat keadilan. Jadi hakikat keadilan itu ada tiga. Ada keadilan distributif, ada keadilan legal, dan ada keadilan komutatif. Apa itu? Silakan dibaca lebih lanjut. Yang pasti bahwa kalau bicara keadilan distributif itu terkait dengan keadilan yang bersifat membagi dari negara kepada warga negara. Kalau legal berarti kewajiban warga negara terhadap negara, sementara keadilan komutatif itu keadilan antar sesama warga negara. Jadi bagaimana hubungan antara negara dan warga negara itu hubungan yang simbiosis mutualis.

[12:17]Oke, saya pikir untuk pertemuan kali ini kita akan lanjutkan pada sesi berikutnya karena ada banyak hal di situ yang kita akan bahas. Terima kasih, eh assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat siang.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript