Thumbnail for Gunung Tertinggi Indonesia Carstensz Pyramid Jaya Wijaya | dan Persiapan Menggapainya by Furky TM

Gunung Tertinggi Indonesia Carstensz Pyramid Jaya Wijaya | dan Persiapan Menggapainya

Furky TM

1h 32m6,339 words~32 min read
Auto-Generated

[1:07]Halo, teman-teman. Bagi yang baru melihat video ini, salam kenal. Nama saya Furki, pendaki yang suka membuat video dokumentasi. Karena banyaknya pertanyaan mengenai pendakian Gunung Kartens Jaya Wijaya, di video kali ini saya tidak akan menjelaskan kisah perjalanan saya. Namun akan lebih deskriptif sharing teknis dan non teknis bagaimana saya bersiap melakukan pendakian. Jadi buat teman-teman yang ingin tahu bagaimana cara melakukan pendakian ke Puncak Kartens atau ada dari teman-teman mungkin yang ingin berencana ke sana, saya akan mencoba menjelaskan secara terperinci. Di ujung timur Indonesia, di Provinsi Papua Tengah berdiri megah pegunungan Jayawijaya. Satu dari sedikit pegunungan tropis yang memiliki gler abadi. Tepatnya di Kabupaten Mimika di jantung pegunungan Sudirman, inilah rumah dari Kartens Piramida. Gunung ini memiliki ketinggian 4.884 m di atas permukaan laut. Secara ilmiah, ia bagian dari pegunungan Sudirman, bentangan batuan kapur dan granit hasil pengangkatan lempeng bumi jutaan tahun yang lalu. Kartens Piramid juga dikenal sebagai Puncak Jaya atau Nemangkawi dalam bahasa masyarakat Amungme yang berarti Panah Putih. Sebutan ini merujuk pada puncaknya yang jika diselimuti salju, tampak seperti ujung panah yang menjulang ke langit. Namun bagi pendaki manca negara, nama Kartens Piramid merujuk pada jalur teknis tebing batu yang menjadi tantangan utama. Di sekitarnya berdiri puncak-puncak lain seperti Ngapulu dan Kartens Timur membentuk lanskap dramatis yang menguji kemampuan para pendaki. Gunung ini berada di dalam kawasan Taman Nasional Lorenz, situs warisan dunia UNESCO yang melindungi bentang alam dari hutan hujan lembat di dataran rendah hingga padang rumput Alpina dan Gleser di puncak. Dulu pendaki memulai perjalanan dari Sugatamu di Ilaga atau dari Sugapa, menembus hutan hujan, rawa dan lembah luas, perjalanan darat yang bisa memakan waktu lebih dari seminggu. Sekarang jalur resmi adalah menggunakan helikopter dari Timika menuju Lembah Yellow Valley di ketinggian 4.200 m langsung di kaki tebing Kartens. Dari sana pendakian teknis dimulai hingga mencapai puncak. Kartens adalah perpaduan geologi kuno, budaya lokal dan petualangan di salah satu lanskap paling istimewa di planet ini.

[3:45]Untuk mendaki Kartens Piramid, pendaki harus menghire tour operator untuk mengkoordinir semuanya. Tour operator ini nanti yang akan melakukan simaksi, koordinasi dengan helikopter sebagai angkutan ke base camp, me-manage logistik base camp, menentukan guide dan lain-lain. Saya kemarin menggunakan tour operator Tropik Adventure yang base-nya ada di Timika. Kemarin saya sempat bertemu pemiliknya yaitu Bang Evan dan sempat diajak berkeliling kota dan ketemu adik-adik sekolah yang lucu-lucu pas di Timika.

[4:22]Hallo, asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Anak-anak sehat-sehat selalu ya, cantik ya, cantik ya, cantik ya, cantik ya, cantik ya. Jangan lupa, jangan lupa, jangan lupa, jangan lupa, jangan lupa, jangan lupa, jangan lupa. Tetap semangat ya, buat belajar ya. Siapa yang suka belajar?

[4:47]Ya. Oke. Dari Timika. Ya. Kita aman. Cuma kita nge-balance-nya aja nanti ngatur balance-nya. Agar enggak kebanting kanan kiri, kanan kiri.

[5:19]Untuk alur perjalanan, pendaki biasanya memulai perjalanan dari Timika. Jadi bisa menggunakan pesawat dan landing di Bandara Mozes Kilangin. Lalu di Timika pendaki akan bertemu guide untuk di briefing teknis dan non teknis. Seperti rundown harian, mobilisasi, rute pendakian dan lain-lain. Di Timika juga guide akan mengecek gear dan layering para pendaki. Kalau ada yang kurang, bisa dilengkapi di Timika, karena di base camp tidak ada akses untuk ke toko atau rental alat-alat pendakian. Nanti saya jelaskan lengkap tentang layering. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan helikopter ke base camp Yellow Valley. Kita akan naik helikopter dari Bandara Mozes Kilangin. Di sini pihak tour operator akan mengurus segalanya. Pendaki tinggal datang ke bandara di jam yang ditentukan, lalu mengikuti prosedur dan dibawa ke landasan helikopter yang masih berada di area bandara. Keberangkatan helikopter menuju base camp Yellow Valley biasanya selalu di pagi hari. Dari pengalaman saya kemarin, ada helikopter pertama yang berangkat di jam 6 pagi. Lalu keberangkatan berikutnya mungkin sekitar setengah jam berikutnya lah ya. Begitu terus helikopter bolak-balik Bandara, base camp, Bandara, base camp hingga sekitar pukul 9 pagi kayaknya. Karena setelah jam tersebut biasanya awan atau cuaca di area pegunungan sudah tidak lagi kondusif untuk helikopter terbang. Juga helikopter dan pilotnya akan melakukan kegiatan lain. Selain itu karena banyak pendaki yang mau mendaki, jadwal helikopter juga kadang mengantri. Tapi ini biasanya sudah dikoordinasikan oleh pihak tour operator. Jadi kalau kita disuruh ke bandara pagi itu ya berarti kita berangkat pagi itu. Kecuali kalau di pagi itu cuaca tidak kondusif dari pagi, maka penerbangan helikopter akan dibatalkan dan ditunda ke keesokan harinya dan berharap semoga di keesokan harinya cuaca akan cerah. Perjalanan menggunakan helikopter sekitar 30 menit, naik dari ketinggian 100 MDPL ke 4.200 MDPL. Sebagai komparasi, standarnya pendaki seharusnya jalan atau berpindah ketinggian secara bertahap. Misalnya dalam sehari naik 500 m, hari kedua naik 500 m lagi dan seterusnya. Ini untuk menunjang proses aklimatisasi. Namun karena sekarang Kartens Piramid hanya bisa diakses oleh helikopter, maka dalam 30 menit saja pendaki harus mengalami perubahan ketinggian hingga 4000-an meter. Ini sangat berdampak pada kemampuan tubuh beraklimatisasi. Nanti saya jelaskan di sesi persiapan fisik dan kemampuan.

[8:35]Dalam 30 menit helikopter akan menanjak setinggi 4000-an meter dengan jarak sejauh sekitar 80 km. Kalau ditarik garis lurus, mungkin sekitar 60 km-an. Jadi kalau dilihat dari samping heli tidak hanya bergerak maju, namun juga naik karena perbedaan ketinggian yang sangat drastis.

[9:02]Sekitar 3 menit sebelum base camp dari atas helikopter pendaki bisa melihat tambang Grasperk sebagai penanda masuk ke area tebing pegunungan. Lalu pilot harus berhati-hati bermanuver ke kanan masuk ke jalur antara tebing ke arah base camp. Nah, jalur antara tebing ini yang sangat berbahaya dimasuki helikopter jika cuaca tidak benar-benar cerah atau visible bagi pilot. Di sinilah saya amazed dengan ketangguhan pilot-pilot yang bermanuver ke base camp Yellow Valley. Mungkin bagi kita orang awam, gap antara tebingnya jauh kok. Tapi pasti ngendaliin helikopter dengan berat 1 sampai 2 ton ini tidak mudah. Kemarin heli yang saya naiki tipenya AS 350 B3. Lalu dengan arus angin di antara dua tebing dengan tekanan udara di ketinggian 4000-an, enggak akan mudah. Salut.

[10:20]Kalau dari helikopter gini, posisi Puncak Kartens Piramid ada di arah kanan.

[10:40]Sesampainya di base camp, pendaki akan diantar menuju tenda masing-masing. Ada yang sendiri, ada yang berdua, semuanya disiapkan. Tapi kemarin saya pribadi bawa tenda sendiri untuk jaga-jaga dan ternyata digunakan sama Bung Virsa. C tenda baru. Makasih. Wangi banget kan? Ini tenda baru yang aku beli waktu kemarin di Nepal. Iya. Tahu enggak temannya Nepal apa? Apa tuh? NTFS. Di base camp biasanya pendaki akan rest dulu di keesokan harinya selama sehari. Bisa digunakan untuk latihan ke jalur sembari aklimatisasi. Lalu di hari selanjutnya baru melakukan summit attempt. Bisa berangkat jam 2 atau 3 atau 4 subuh, tergantung saja. Lalu seharian pendaki akan melakukan pendakian atau pemanjatan ke Puncak Kartens dan turun di hari yang sama. Tiap pendaki atau tim punya kecepatan masing-masing sehingga durasi bervariasi. Antara mungkin 6 hingga belasan jam untuk pulang pergi dari base camp ke puncak balik lagi ke base camp. Jadi bagi teman-teman yang pernah berkelakar ngajak Tek Tok ke Kartens ya memang untuk ke puncaknya dan balik lagi ke base camp hanya butuh sehari saja. Selanjutnya saya akan menjelaskan kondisi base camp seperti apa. Di base camp sudah pasti banyak tenda karena pendaki yang akan menggapai Puncak Kartens juga banyak. Karena Puncak Kartens adalah satu dari salah satu Seven Summit dunia. Ratusan bahkan ribuan orang dari seluruh penjuru dunia ingin menuntaskan Seven Summit mereka. Di base camp tour operator kami menyediakan beberapa tenda. Ada tenda untuk pendaki, tenda dining room untuk makan atau untuk berkumpul, lalu ada tenda toilet. Walau tentu aja ya, kalau mau buang air di alam juga silakan saja. Lalu untuk crew, ada tenda crew dan tenda dapur.

[12:58]Selanjutnya untuk makanan dan minuman mereka akan sediakan. Untuk listrik dan internet, tidak akan ada sepanjang waktu. Namun saya kemarin bisa nge-net ketika listrik ada. Sekitar jam 6 pagi hingga jam 8-an pagi dan kalau malam dengan jam yang sama. Mungkin karena jam-jam tersebut adalah jam-jam harus berkoordinasi dengan bandara terkait dengan keberangkatan helikopter. Tenda-tenda di base camp ini berada sekitar 1,2 km dari puncak. Terasa dekat kalau lokasinya datar. Tapi ini perbedaan ketinggiannya sampai 600-an meter. Jadi ya pasti curam.

[13:54]Lalu di sini kebanyakan pendaki adalah foreigner atau dari luar. Ketika saya mendaki kemarin, puluhan pendaki adalah pendaki dari luar. Sedangkan dari Indonesia hanya dua tim saja. Meski begitu, saya jadi berkesempatan bertemu pendaki-pendaki handal dari luar. Walau berbeda negara, semangat para pendaki dari negara mana pun ketika di base camp vibes-nya selalu sama. Antusias, excited dan seru.

[16:04]Selanjutnya saya akan membahas tentang cuaca. Cuaca di Gunung Kartens biasanya tidak bisa diprediksi. Ada ramalan cuaca, namun saking dinamisnya pergerakan cuaca di sini, terkadang cuaca tidak sesuai ramalan. Agar terilustrasi dengan mudah, saya akan mencoba membandingkan kondisi gunung di Kartens dengan kondisi beberapa gunung lain di Indonesia. Dari suhu. Jika cuaca cerah atau ketika ada matahari, suhu di base camp di pagi atau sore hari itu sekitar 5 hingga 15 derajat Celcius. Berapa sekarang suhunya? 18. Tadi pagi berapa? Tadi 7 waktu matahari mulai turun. Akan semakin rendah ketika mendung atau angin kencang. Di malam harinya jika cerah, suhu ada di sekitar minus 2 hingga 3 derajat Celcius.

[17:15]Sekarang suhunya berapa? 4 derajat. Akan makin rendah jika kondisi angin atau badai. Bisa minus 5 derajat Celcius atau bahkan lebih rendah.

[18:05]Untuk suhu di puncak, kemungkinan akan terasa lebih dingin atau suhu lebih rendah daripada di base camp karena kondisi angin lebih kencang.

[19:43]Perbedaan ketinggian ini yang menyebabkan suhu di pendakian Gunung Kartens lebih rendah dengan waktu yang cukup lama. Apalagi sepengalaman saya kemarin, biasanya dari jam 9 pagi ke sore kabut selalu menutupi pancaran sinar matahari. Kadang lebih ekstrem, kadang juga lebih cerah. Untuk kelembaban udara, kelembaban udara di gunung Kartens lebih tinggi dibandingkan gunung tinggi lainnya. Ini karena letaknya berada di tropis Papua dengan curah hujan yang sangat tinggi. Bayangkan, Kabupaten Mimika adalah daerah nomor 1 di Indonesia dengan curah hujan paling tinggi. Jadi Gunung Kartens ini terletak di bagian Indonesia dengan curah hujan paling tinggi. Udara di sini sering berkabut, lembab dan basah sepanjang hari. Kelembaban bisa mencapai 70 hingga 100%, terutama di malam hari dan pagi hari. Jika dibandingkan dengan Rinjani, misalnya yang terletak di 3.726 MDPL, kelembaban udaranya bisa di 40 sampai 60% saja. Jadi meski Kartens lebih tinggi, udara di sini lebih basah dan lembab karena faktor geografis dan iklim Papua. Jadi ada perbedaan persiapan layering atau manage barang elektronik dibanding gunung-gunung lainnya.

[21:34]Selanjutnya persiapan fisik, kemampuan teknis dan aklimatisasi. Di pendakian Gunung Kartens pendaki akan melakukan kegiatan summit dalam rentang 8 hingga belasan jam total. Ini menyebabkan pendaki harus bisa melakukan kegiatan fisik dalam rentang durasi tersebut. Juga pendaki wajib mampu beradaptasi di ketinggian tersebut di range 4.000 hingga 4.800 MDPL dalam sehari atau 2 hari saja sebelum summit dilakukan. Terakhir, pendaki harus terbiasa melakukan teknis menggunakan sistem tali temali dan pengaman yang sudah disediakan di sepanjang Gunung Kartens. Untuk fisik secara general yang saya lakukan sebelum pendakian adalah melakukan cardio seperti lari, jalan, berenang atau juga bisa naik sepeda. Tujuannya untuk meningkatkan endurance atau kemampuan tubuh secara keseluruhan untuk melakukan aktivitas dalam waktu lama. Lalu saya juga melakukan strength training di gym dengan tujuan meningkatkan muscle endurance atau membiasakan otot-otot saya bekerja terus-menerus, tidak cepat fatik dan tahan lebih lama. Contoh, ketika summit pendaki harus melakukan scrambling ataupun jumaring untuk bergerak naik selama berjam-jam. Hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk otot-otot upper body dan core atau perut. Tapi saya selalu melatih semua otot secara keseluruhan karena semua otot berkoordinasi ketika kita melakukan gerakan-gerakan tersebut. Lalu saya juga berlatih climbing di tebing maupun climbing di gym. Hal ini untuk membiasakan tubuh saya menghadapi jalur yang mirip saat summit. Di tebing juga pendaki wajib berlatih menggunakan alat-alat teknis dan paham bagaimana sistem pengaman di tali bekerja.

[23:49]Lalu di sepanjang kegiatan summit akan ada tali yang sudah terpasang dari bawah hingga ke puncak. Dalam mountaineering disebut fixed rope. Tali-tali ini tidak langsung lurus sepanjang 1,2 km tentunya. Ada anchor atau jangkar-jangkar tiap beberapa meter untuk tali saling disambungkan dengan simpul yang aman. Karena panjang tali tidak mungkin langsung 1,2 km mengikuti lekukan gunung. Panjang tali mungkin hanya sekitar 40 hingga 100 m saja, tapi saling menyambung hingga puncak. Jadi ketika pendaki sedang menggeser-geser safety line atau jumarnya, ketika bertemu sambungan tali, pendaki harus memindahkan safety line dan jumarnya ke tali berikutnya. Hal ini yang harus berhati-hati. Pastikan salah satu tali sudah terkait ke tali berikutnya sebelum tali selanjutnya berpindah.

[25:02]Lalu ketika turun, pendaki tetap menggunakan safety line, namun tali satunya menggunakan figure 8, bukan jumar lagi. Figure 8 ini dengan penempatan tali yang tepat berfungsi untuk memberikan friksi ketika pendaki menuruni tali. Kalau mau dibayangkan kayak di film-film action FBI yang turun dari gedung itu. Tapi kendalanya balik lagi, setiap sambungan tali pendaki harus melakukan prosedur memindahkan safety line dan memindahkan figure 8-nya. Dengan cepat namun tetap berhati-hati. Kenapa cepat? Di gunung tipe tebing seperti Kartens ini dan yang menggunakan fixed rope, pendaki harus antri menggunakan tali tersebut.

[26:01]Ketika rappelling menggunakan figure 8, pendaki harus mengaitkan tali memasukkannya ke alat figure 8 mereka. Artinya tali harus kendur ketika memasukkan talinya. Jadi kalau satu tali sedang digunakan oleh satu pendaki turun, tali tersebut akan tegang dan tidak kendur. Dan pendaki berikutnya hanya bisa menunggu di atas hingga tali tersebut selesai digunakan. Itu mengapa selain harus bisa melakukan prosedur teknis, pendaki diharapkan bisa melakukannya dengan cepat, cermat dan aman. Atau guide akan selalu memantau pergerakan. Karena selain agar antrian tidak terlalu lama, sama seperti di pendakian-pendakian es lainnya, berdiam diri dan tidak bergerak lebih dari 2 menit di satu titik akan menyebabkan panas tubuh hilang secara berangsur-angsur. Jadi untuk latihan teknis ini, teman-teman bisa melakukannya di tebing-tebing sekitar tempat teman-teman dengan didampingi guide atau ahlinya ya. Untuk latihan di tebing atau teknis, teman-teman bisa menghubungi jasa trip climbing atau guide climbing dan bilang kebutuhan kalian adalah untuk mendaki Kartens. Atau minta bantuan tour operator kalian untuk mengakomodir proses latihan.

[27:43]Latihan-latihan ini saya lakukan 3 hingga 4 bulan sebelum keberangkatan, tergantung tiap individu ya. Karena kemampuan dasar fisik dan teknis pendaki berbeda-beda, semakin fit dan fasti semakin baik.

[28:06]Lalu untuk aklimatisasi, kendalanya adalah dari Timika, pendaki harus menggunakan helikopter dengan durasi 30 menit, namun bergerak dari ketinggian 100 ke 4.200 MDPL. Bergerak naik 4.000-an meter dalam 30 menit benar-benar akan menjadi tantangan saat beraklimatisasi. Karena di Nepal saja saya bergerak 2.000 m dalam 4 hari. Iya, karena kita kan baru dari tempat rendah ke tempat tinggi. Takutnya kalau kita tidur, body enggak bergerak ya, kena AMS nanti risikonya. AMS. Kayak yang kemarin tuh yang evakuasi. Oh yang evakuasi. Sampai langsung tidur, mau tiba-tiba pas mau kasih makan, makanan sudah nolak. Kasih obat juga ya udah.

[29:12]Bangun tidur sudah kena, kena langsung. Oh. Berarti amannya kalau tidur pas jam tidur malam aja ya, jam tidur. Setelah makan sudah stabil lah ya. Iya. Jadi yang saya lakukan kemarin adalah sebelum keberangkatan saya ke Timika, saya mendaki gunung 3000-an MDPL dengan camping. Karena saya mau membiasakan diri dengan ketinggian. Jeda dari pendakian 3000-an MDPL saya ke hari sampai di base camp Yellow Valley adalah sekitar semingguan. Selain itu saya juga meminum obat Diamox, obat yang biasa saya konsumsi ketika di gunung es. Saya minum dari 2 malam sebelum hari naik helikopter. Untuk obat ini, dosisnya, domino efeknya, sebaiknya konsultasi ke dokter dan guide masing-masing dulu ya agar lebih jelas. Ketika malam sebelum summit cek kondisi badan. Jika badan fit dan saturasi oksigen di ambang batas aman, maka bisa melakukan summit. Saya belum cek berapa ambang batas aman, namun yang dari saya alami di badan saya sendiri selama saya mendaki gunung es, di ketinggian 4000 MDPL dengan saturasi oksigen di atas 80% masih terbilang aman.

[31:58]Ketika summit, pendaki akan melewati beberapa titik-titik penting. Pendaki menuju Puncak Kartens dimulai dari Lembah Yellow Valley di ketinggian sekitar 4.200 m. Dari sini medan yang kita hadapi hanya batuan kars yang dingin dan licin. Titik pertama adalah teras 1. Sebuah jalur miring sempit dengan batuan lepas. Di sini setiap langkah harus hati-hati, karena satu batu yang terinjak bisa meluncur. Biasanya pendaki harus antri atau naik berdekatan agar aman.

[32:59]Setelah 1 jam 20 menit di ketinggian 4.400 sekian. Naik sekitar 120 sampai 130-an dan langit sudah mulai terlihat. Alhamdulillah cerah ya. Semoga bertahan terus kayak gini. Sekarang kita mau istirahat dulu, minum-minum manis dan break.

[33:34]Dari teras 1 trek tetap curam, namun bebatuan lepas tidak terlalu banyak. Celah untuk memijakkan kaki semakin mengecil.

[33:53]Ketika sinar matahari pagi sudah datang, pendaki bisa melihat Puncak Kartens Timur, Puncak Soekarno dan Puncak Sumantri. Di sana ada gler abadi.

[34:58]Setelah itu, pendaki sampai di teras 2. Area yang lebih lebar dan relatif datar.

[35:08]Ini menjadi titik untuk mengatur nafas sebelum lanjut ke teras besar.

[35:23]Trek menuju teras besar semakin sulit. Karena pendaki harus pintar-pintar mencari pijakan serta di sini skill climbing kita diuji.

[37:12]Teras besar.

[37:39]Perjalanan berlanjut ke titik paling terjal. Dinding vertikal setinggi 20 hingga 25 m menuju awal summit ridge. Di sini teknik panjat tebing benar-benar dibutuhkan dengan bantuan tali dan pengaman penuh.

[42:27]Setelah titik awal ridge atau punggungan, kita menghadapi icon Kartens, Tyrolean Traverse yang juga dikenal sebagai Kandang Babi atau Burma Bridge. Sebuah celah selebar 15 hingga 20 m dihubungkan dengan tiga sling baja, tempat kita meniti sambil bergantungan di ketinggian ribuan meter. Pemandangan di kiri kanan jika cuaca cerah luar biasa. Namun ketika saya summit kemarin, cuaca tidak bersahabat. Menambah pandangan ke bawah cukup membuat lutut bergetar.

[43:24]Jadi teknisnya di sini, pendaki mengaitkan tali pengaman atau Kostel ke sling baja. Satu ke sling baja yang kanan, satu ke sling baja yang kiri. Lalu berjalan perlahan di atas sling baja yang pendaki pijak.

[44:59]Untuk sarung tangan, mau seweterproof apapun sarung tangan teman-teman, pasti akan basah jika hujan. Karena gerakan kegiatan yang memungkinkan air selalu masuk ke dalam sarung tangan. Jadi bawa banyak cadangan saja biar bisa ganti kalau dingin. Untuk sepatu, saya bawa dua sepatu. Yang satu sepatu approach, sepatu yang khusus untuk di track batu tebing, sangat dianjurkan tipe mid cut atau high cut. Lalu satu lagi sepatu untuk di base camp. Bisa sepatu trekking biasa atau sepatu trail run. Lalu saya juga bawa satu sandal untuk kegiatan base camp yang berurusan dengan air yang basah-basah.

[46:12]Peralatan lainnya saya membawa sleeping bag yang bisa hingga minus 5 derajat Celcius. Sleeping mat tiup dan sleeping mat lipat, boleh bawa dua atau salah satunya. Headlamp dengan baterai cadangan, botol minum atau water bladder. Satu tas untuk summit ukuran sekitar 20 hingga 30 liter dan satu duffel bag untuk semua barang ketika di helikopter ataupun di base camp.

[47:04]Untuk lebih detail dan peralatan lainnya, para pendaki pasti akan di briefing oleh guide atau pihak tour operator. Untuk barang-barang apa aja sih yang dibawa pendaki ketika summit. Yang saya bawa kemarin adalah layering untuk summit yang sudah saya pakai sedari awal summit. Lalu gear teknis yang saya langsung pakai juga termasuk headlamp. Selanjutnya di dalam tas ada beberapa sarung tangan tambahan dan satu jaket insulasi. Untuk makanan, saya bawa seperti energi bar, buah, permen, coklat dan snack lain. Lalu untuk air sekitar 1 hingga 1,5 liter. Kacamata hitam jikalau nanti matahari terik. Lalu untuk gear teknis, saya pribadi bawa tiga sling cadangan berbeda ukuran dan satu alat descender cadangan juga. Sisanya alat-alat dokumentasi. Opini pribadi saya, jika tidak dengan alat dokumentasi, usahakan tas summit tidak lebih berat dari 5 kilo. Semakin ringan, semakin bisa bergerak lebih cepat.

[48:58]Ketika summit, pendaki akan melewati beberapa titik-titik penting. Pendaki menuju Puncak Kartens dimulai dari Lembah Yellow Valley di ketinggian sekitar 4.200 m. Dari sini medan yang kita hadapi hanya batuan kars yang dingin dan licin. Titik pertama adalah teras 1. Sebuah jalur miring sempit dengan batuan lepas. Di sini setiap langkah harus hati-hati karena satu batu yang terinjak bisa meluncur. Biasanya pendaki harus antri atau naik berdekatan agar aman.

[49:50]Dari teras 1 trek tetap curam, namun bebatuan lepas tidak terlalu banyak. Celah untuk memijakkan kaki semakin mengecil.

[50:07]Ketika sinar matahari pagi sudah datang, pendaki bisa melihat Puncak Kartens Timur, Puncak Soekarno dan Puncak Sumantri. Di sana ada gler abadi.

[50:29]Setelah itu, pendaki sampai di teras 2. Area yang lebih lebar dan relatif datar. Ini menjadi titik untuk mengatur nafas sebelum lanjut ke teras besar.

[50:50]Trek menuju teras besar semakin sulit. Karena pendaki harus pintar-pintar mencari pijakan serta di sini skill climbing kita diuji.

[51:11]Teras besar.

[51:24]Perjalanan berlanjut ke titik paling terjal. Dinding vertikal setinggi 20 hingga 25 m menuju awal summit ridge. Di sini teknik panjat tebing benar-benar dibutuhkan dengan bantuan tali dan pengaman penuh.

[51:50]Setelah titik awal ridge atau punggungan, kita menghadapi icon Kartens, Tyrolean Traverse yang juga dikenal sebagai Kandang Babi atau Burma Bridge. Sebuah celah selebar 15 hingga 20 m dihubungkan dengan tiga sling baja, tempat kita meniti sambil bergantungan di ketinggian ribuan meter. Pemandangan di kiri kanan jika cuaca cerah luar biasa. Namun ketika saya summit kemarin, cuaca tidak bersahabat. Menambah pandangan ke bawah cukup membuat lutut bergetar.

[52:45]Jadi teknisnya di sini, pendaki mengaitkan tali pengaman atau Kostel ke sling baja. Satu ke sling baja yang kanan, satu ke sling baja yang kiri. Lalu berjalan perlahan di atas sling baja yang pendaki pijak.

[53:15]Untuk sarung tangan, mau seweterproof apapun sarung tangan teman-teman, pasti akan basah jika hujan. Karena gerakan kegiatan yang memungkinkan air selalu masuk ke dalam sarung tangan. Jadi bawa banyak cadangan saja biar bisa ganti kalau dingin. Untuk sepatu, saya bawa dua sepatu. Yang satu sepatu approach, sepatu yang khusus untuk di track batu tebing, sangat dianjurkan tipe mid cut atau high cut. Lalu satu lagi sepatu untuk di base camp. Bisa sepatu trekking biasa atau sepatu trail run. Lalu saya juga bawa satu sandal untuk kegiatan base camp yang berurusan dengan air yang basah-basah.

[54:27]Peralatan lainnya saya membawa sleeping bag yang bisa hingga minus 5 derajat Celcius. Sleeping mat tiup dan sleeping mat lipat, boleh bawa dua atau salah satunya. Headlamp dengan baterai cadangan, botol minum atau water bladder. Satu tas untuk summit ukuran sekitar 20 hingga 30 liter dan satu duffel bag untuk semua barang ketika di helikopter ataupun di base camp. Untuk lebih detail dan peralatan lainnya, para pendaki pasti akan di briefing oleh guide atau pihak tour operator. Untuk barang-barang apa aja sih yang dibawa pendaki ketika summit. Yang saya bawa kemarin adalah layering untuk summit yang sudah saya pakai sedari awal summit. Lalu gear teknis yang saya langsung pakai juga termasuk headlamp. Selanjutnya di dalam tas ada beberapa sarung tangan tambahan dan satu jaket insulasi. Untuk makanan, saya bawa seperti energi bar, buah, permen, coklat dan snack lain. Lalu untuk air sekitar 1 hingga 1,5 liter. Kacamata hitam jikalau nanti matahari terik. Lalu untuk gear teknis, saya pribadi bawa tiga sling cadangan berbeda ukuran dan satu alat descender cadangan juga. Sisanya alat-alat dokumentasi.

[56:25]Opini pribadi saya, jika tidak dengan alat dokumentasi, usahakan tas summit tidak lebih berat dari 5 kilo. Semakin ringan, semakin bisa bergerak lebih cepat.

[56:59]Ketika summit, pendaki akan melewati beberapa titik-titik penting. Pendaki menuju Puncak Kartens dimulai dari Lembah Yellow Valley di ketinggian sekitar 4.200 m. Dari sini medan yang kita hadapi hanya batuan kars yang dingin dan licin. Titik pertama adalah teras 1. Sebuah jalur miring sempit dengan batuan lepas. Di sini setiap langkah harus hati-hati karena satu batu yang terinjak bisa meluncur. Biasanya pendaki harus antri atau naik berdekatan agar aman.

[57:51]Dari teras 1 trek tetap curam, namun bebatuan lepas tidak terlalu banyak. Celah untuk memijakkan kaki semakin mengecil.

[58:08]Ketika sinar matahari pagi sudah datang, pendaki bisa melihat Puncak Kartens Timur, Puncak Soekarno dan Puncak Sumantri. Di sana ada gler abadi.

[58:30]Setelah itu, pendaki sampai di teras 2. Area yang lebih lebar dan relatif datar. Ini menjadi titik untuk mengatur nafas sebelum lanjut ke teras besar.

[58:50]Trek menuju teras besar semakin sulit. Karena pendaki harus pintar-pintar mencari pijakan serta di sini skill climbing kita diuji.

[59:11]Teras besar.

[59:24]Perjalanan berlanjut ke titik paling terjal. Dinding vertikal setinggi 20 hingga 25 m menuju awal summit ridge. Di sini teknik panjat tebing benar-benar dibutuhkan dengan bantuan tali dan pengaman penuh.

[59:50]Setelah titik awal ridge atau punggungan, kita menghadapi icon Kartens, Tyrolean Traverse yang juga dikenal sebagai Kandang Babi atau Burma Bridge. Sebuah celah selebar 15 hingga 20 m dihubungkan dengan tiga sling baja, tempat kita meniti sambil bergantungan di ketinggian ribuan meter. Pemandangan di kiri kanan jika cuaca cerah luar biasa. Namun ketika saya summit kemarin, cuaca tidak bersahabat. Menambah pandangan ke bawah cukup membuat lutut bergetar.

[1:00:46]Jadi teknisnya di sini, pendaki mengaitkan tali pengaman atau Kostel ke sling baja. Satu ke sling baja yang kanan, satu ke sling baja yang kiri. Lalu berjalan perlahan di atas sling baja yang pendaki pijak.

[1:01:16]Untuk sarung tangan, mau seweterproof apapun sarung tangan teman-teman, pasti akan basah jika hujan. Karena gerakan kegiatan yang memungkinkan air selalu masuk ke dalam sarung tangan. Jadi bawa banyak cadangan saja biar bisa ganti kalau dingin. Untuk sepatu, saya bawa dua sepatu. Yang satu sepatu approach, sepatu yang khusus untuk di track batu tebing, sangat dianjurkan tipe mid cut atau high cut. Lalu satu lagi sepatu untuk di base camp. Bisa sepatu trekking biasa atau sepatu trail run. Lalu saya juga bawa satu sandal untuk kegiatan base camp yang berurusan dengan air yang basah-basah.

[1:02:27]Peralatan lainnya saya membawa sleeping bag yang bisa hingga minus 5 derajat Celcius. Sleeping mat tiup dan sleeping mat lipat, boleh bawa dua atau salah satunya. Headlamp dengan baterai cadangan, botol minum atau water bladder. Satu tas untuk summit ukuran sekitar 20 hingga 30 liter dan satu duffel bag untuk semua barang ketika di helikopter ataupun di base camp. Untuk lebih detail dan peralatan lainnya, para pendaki pasti akan di briefing oleh guide atau pihak tour operator. Untuk barang-barang apa aja sih yang dibawa pendaki ketika summit. Yang saya bawa kemarin adalah layering untuk summit yang sudah saya pakai sedari awal summit. Lalu gear teknis yang saya langsung pakai juga termasuk headlamp. Selanjutnya di dalam tas ada beberapa sarung tangan tambahan dan satu jaket insulasi. Untuk makanan, saya bawa seperti energi bar, buah, permen, coklat dan snack lain. Lalu untuk air sekitar 1 hingga 1,5 liter. Kacamata hitam jikalau nanti matahari terik. Lalu untuk gear teknis, saya pribadi bawa tiga sling cadangan berbeda ukuran dan satu alat descender cadangan juga. Sisanya alat-alat dokumentasi.

[1:04:26]Opini pribadi saya, jika tidak dengan alat dokumentasi, usahakan tas summit tidak lebih berat dari 5 kilo. Semakin ringan, semakin bisa bergerak lebih cepat.

[1:04:59]Ketika summit, pendaki akan melewati beberapa titik-titik penting. Pendaki menuju Puncak Kartens dimulai dari Lembah Yellow Valley di ketinggian sekitar 4.200 m. Dari sini medan yang kita hadapi hanya batuan kars yang dingin dan licin. Titik pertama adalah teras 1. Sebuah jalur miring sempit dengan batuan lepas. Di sini setiap langkah harus hati-hati karena satu batu yang terinjak bisa meluncur. Biasanya pendaki harus antri atau naik berdekatan agar aman.

[1:05:51]Dari teras 1 trek tetap curam, namun bebatuan lepas tidak terlalu banyak. Celah untuk memijakkan kaki semakin mengecil.

[1:06:08]Ketika sinar matahari pagi sudah datang, pendaki bisa melihat Puncak Kartens Timur, Puncak Soekarno dan Puncak Sumantri. Di sana ada gler abadi.

[1:06:30]Setelah itu, pendaki sampai di teras 2. Area yang lebih lebar dan relatif datar. Ini menjadi titik untuk mengatur nafas sebelum lanjut ke teras besar.

[1:06:50]Trek menuju teras besar semakin sulit. Karena pendaki harus pintar-pintar mencari pijakan serta di sini skill climbing kita diuji.

[1:07:11]Teras besar.

[1:07:24]Perjalanan berlanjut ke titik paling terjal. Dinding vertikal setinggi 20 hingga 25 m menuju awal summit ridge. Di sini teknik panjat tebing benar-benar dibutuhkan dengan bantuan tali dan pengaman penuh.

[1:07:50]Setelah titik awal ridge atau punggungan, kita menghadapi icon Kartens, Tyrolean Traverse yang juga dikenal sebagai Kandang Babi atau Burma Bridge. Sebuah celah selebar 15 hingga 20 m dihubungkan dengan tiga sling baja, tempat kita meniti sambil bergantungan di ketinggian ribuan meter. Pemandangan di kiri kanan jika cuaca cerah luar biasa. Namun ketika saya summit kemarin, cuaca tidak bersahabat. Menambah pandangan ke bawah cukup membuat lutut bergetar.

[1:08:46]Jadi teknisnya di sini, pendaki mengaitkan tali pengaman atau Kostel ke sling baja. Satu ke sling baja yang kanan, satu ke sling baja yang kiri. Lalu berjalan perlahan di atas sling baja yang pendaki pijak.

[1:09:16]Untuk sarung tangan, mau seweterproof apapun sarung tangan teman-teman, pasti akan basah jika hujan. Karena gerakan kegiatan yang memungkinkan air selalu masuk ke dalam sarung tangan. Jadi bawa banyak cadangan saja biar bisa ganti kalau dingin. Untuk sepatu, saya bawa dua sepatu. Yang satu sepatu approach, sepatu yang khusus untuk di track batu tebing, sangat dianjurkan tipe mid cut atau high cut. Lalu satu lagi sepatu untuk di base camp. Bisa sepatu trekking biasa atau sepatu trail run. Lalu saya juga bawa satu sandal untuk kegiatan base camp yang berurusan dengan air yang basah-basah.

[1:10:27]Peralatan lainnya saya membawa sleeping bag yang bisa hingga minus 5 derajat Celcius. Sleeping mat tiup dan sleeping mat lipat, boleh bawa dua atau salah satunya. Headlamp dengan baterai cadangan, botol minum atau water bladder. Satu tas untuk summit ukuran sekitar 20 hingga 30 liter dan satu duffel bag untuk semua barang ketika di helikopter ataupun di base camp. Untuk lebih detail dan peralatan lainnya, para pendaki pasti akan di briefing oleh guide atau pihak tour operator. Untuk barang-barang apa aja sih yang dibawa pendaki ketika summit. Yang saya bawa kemarin adalah layering untuk summit yang sudah saya pakai sedari awal summit. Lalu gear teknis yang saya langsung pakai juga termasuk headlamp. Selanjutnya di dalam tas ada beberapa sarung tangan tambahan dan satu jaket insulasi. Untuk makanan, saya bawa seperti energi bar, buah, permen, coklat dan snack lain. Lalu untuk air sekitar 1 hingga 1,5 liter. Kacamata hitam jikalau nanti matahari terik. Lalu untuk gear teknis, saya pribadi bawa tiga sling cadangan berbeda ukuran dan satu alat descender cadangan juga. Sisanya alat-alat dokumentasi.

[1:12:26]Opini pribadi saya, jika tidak dengan alat dokumentasi, usahakan tas summit tidak lebih berat dari 5 kilo. Semakin ringan, semakin bisa bergerak lebih cepat.

[1:12:59]Ketika summit, pendaki akan melewati beberapa titik-titik penting. Pendaki menuju Puncak Kartens dimulai dari Lembah Yellow Valley di ketinggian sekitar 4.200 m. Dari sini medan yang kita hadapi hanya batuan kars yang dingin dan licin. Titik pertama adalah teras 1. Sebuah jalur miring sempit dengan batuan lepas. Di sini setiap langkah harus hati-hati karena satu batu yang terinjak bisa meluncur. Biasanya pendaki harus antri atau naik berdekatan agar aman.

[1:13:51]Dari teras 1 trek tetap curam, namun bebatuan lepas tidak terlalu banyak. Celah untuk memijakkan kaki semakin mengecil.

[1:14:08]Ketika sinar matahari pagi sudah datang, pendaki bisa melihat Puncak Kartens Timur, Puncak Soekarno dan Puncak Sumantri. Di sana ada gler abadi.

[1:14:30]Setelah itu, pendaki sampai di teras 2. Area yang lebih lebar dan relatif datar. Ini menjadi titik untuk mengatur nafas sebelum lanjut ke teras besar.

[1:14:50]Trek menuju teras besar semakin sulit. Karena pendaki harus pintar-pintar mencari pijakan serta di sini skill climbing kita diuji.

[1:15:11]Teras besar.

[1:15:24]Perjalanan berlanjut ke titik paling terjal. Dinding vertikal setinggi 20 hingga 25 m menuju awal summit ridge. Di sini teknik panjat tebing benar-benar dibutuhkan dengan bantuan tali dan pengaman penuh.

[1:15:50]Setelah titik awal ridge atau punggungan, kita menghadapi icon Kartens, Tyrolean Traverse yang juga dikenal sebagai Kandang Babi atau Burma Bridge. Sebuah celah selebar 15 hingga 20 m dihubungkan dengan tiga sling baja, tempat kita meniti sambil bergantungan di ketinggian ribuan meter. Pemandangan di kiri kanan jika cuaca cerah luar biasa. Namun ketika saya summit kemarin, cuaca tidak bersahabat. Menambah pandangan ke bawah cukup membuat lutut bergetar.

[1:16:46]Jadi teknisnya di sini, pendaki mengaitkan tali pengaman atau Kostel ke sling baja. Satu ke sling baja yang kanan, satu ke sling baja yang kiri. Lalu berjalan perlahan di atas sling baja yang pendaki pijak.

[1:17:16]Untuk sarung tangan, mau seweterproof apapun sarung tangan teman-teman, pasti akan basah jika hujan. Karena gerakan kegiatan yang memungkinkan air selalu masuk ke dalam sarung tangan. Jadi bawa banyak cadangan saja biar bisa ganti kalau dingin. Untuk sepatu, saya bawa dua sepatu. Yang satu sepatu approach, sepatu yang khusus untuk di track batu tebing, sangat dianjurkan tipe mid cut atau high cut. Lalu satu lagi sepatu untuk di base camp. Bisa sepatu trekking biasa atau sepatu trail run. Lalu saya juga bawa satu sandal untuk kegiatan base camp yang berurusan dengan air yang basah-basah.

[1:18:27]Peralatan lainnya saya membawa sleeping bag yang bisa hingga minus 5 derajat Celcius. Sleeping mat tiup dan sleeping mat lipat, boleh bawa dua atau salah satunya. Headlamp dengan baterai cadangan, botol minum atau water bladder. Satu tas untuk summit ukuran sekitar 20 hingga 30 liter dan satu duffel bag untuk semua barang ketika di helikopter ataupun di base camp. Untuk lebih detail dan peralatan lainnya, para pendaki pasti akan di briefing oleh guide atau pihak tour operator. Untuk barang-barang apa aja sih yang dibawa pendaki ketika summit. Yang saya bawa kemarin adalah layering untuk summit yang sudah saya pakai sedari awal summit. Lalu gear teknis yang saya langsung pakai juga termasuk headlamp. Selanjutnya di dalam tas ada beberapa sarung tangan tambahan dan satu jaket insulasi. Untuk makanan, saya bawa seperti energi bar, buah, permen, coklat dan snack lain. Lalu untuk air sekitar 1 hingga 1,5 liter. Kacamata hitam jikalau nanti matahari terik. Lalu untuk gear teknis, saya pribadi bawa tiga sling cadangan berbeda ukuran dan satu alat descender cadangan juga. Sisanya alat-alat dokumentasi.

[1:20:26]Opini pribadi saya, jika tidak dengan alat dokumentasi, usahakan tas summit tidak lebih berat dari 5 kilo. Semakin ringan, semakin bisa bergerak lebih cepat.

[1:20:59]Ketika summit, pendaki akan melewati beberapa titik-titik penting. Pendaki menuju Puncak Kartens dimulai dari Lembah Yellow Valley di ketinggian sekitar 4.200 m. Dari sini medan yang kita hadapi hanya batuan kars yang dingin dan licin. Titik pertama adalah teras 1. Sebuah jalur miring sempit dengan batuan lepas. Di sini setiap langkah harus hati-hati karena satu batu yang terinjak bisa meluncur. Biasanya pendaki harus antri atau naik berdekatan agar aman.

[1:21:51]Dari teras 1 trek tetap curam, namun bebatuan lepas tidak terlalu banyak. Celah untuk memijakkan kaki semakin mengecil.

[1:22:08]Ketika sinar matahari pagi sudah datang, pendaki bisa melihat Puncak Kartens Timur, Puncak Soekarno dan Puncak Sumantri. Di sana ada gler abadi.

[1:22:30]Setelah itu, pendaki sampai di teras 2. Area yang lebih lebar dan relatif datar. Ini menjadi titik untuk mengatur nafas sebelum lanjut ke teras besar.

[1:22:50]Trek menuju teras besar semakin sulit. Karena pendaki harus pintar-pintar mencari pijakan serta di sini skill climbing kita diuji.

[1:23:11]Teras besar.

[1:23:24]Perjalanan berlanjut ke titik paling terjal. Dinding vertikal setinggi 20 hingga 25 m menuju awal summit ridge. Di sini teknik panjat tebing benar-benar dibutuhkan dengan bantuan tali dan pengaman penuh.

[1:23:50]Setelah titik awal ridge atau punggungan, kita menghadapi icon Kartens, Tyrolean Traverse yang juga dikenal sebagai Kandang Babi atau Burma Bridge. Sebuah celah selebar 15 hingga 20 m dihubungkan dengan tiga sling baja, tempat kita meniti sambil bergantungan di ketinggian ribuan meter. Pemandangan di kiri kanan jika cuaca cerah luar biasa. Namun ketika saya summit kemarin, cuaca tidak bersahabat. Menambah pandangan ke bawah cukup membuat lutut bergetar.

[1:24:46]Jadi teknisnya di sini, pendaki mengaitkan tali pengaman atau Kostel ke sling baja. Satu ke sling baja yang kanan, satu ke sling baja yang kiri. Lalu berjalan perlahan di atas sling baja yang pendaki pijak.

[1:25:16]Untuk sarung tangan, mau seweterproof apapun sarung tangan teman-teman, pasti akan basah jika hujan. Karena gerakan kegiatan yang memungkinkan air selalu masuk ke dalam sarung tangan. Jadi bawa banyak cadangan saja biar bisa ganti kalau dingin. Untuk sepatu, saya bawa dua sepatu. Yang satu sepatu approach, sepatu yang khusus untuk di track batu tebing, sangat dianjurkan tipe mid cut atau high cut. Lalu satu lagi sepatu untuk di base camp. Bisa sepatu trekking biasa atau sepatu trail run. Lalu saya juga bawa satu sandal untuk kegiatan base camp yang berurusan dengan air yang basah-basah.

[1:26:27]Peralatan lainnya saya membawa sleeping bag yang bisa hingga minus 5 derajat Celcius. Sleeping mat tiup dan sleeping mat lipat, boleh bawa dua atau salah satunya. Headlamp dengan baterai cadangan, botol minum atau water bladder. Satu tas untuk summit ukuran sekitar 20 hingga 30 liter dan satu duffel bag untuk semua barang ketika di helikopter ataupun di base camp. Untuk lebih detail dan peralatan lainnya, para pendaki pasti akan di briefing oleh guide atau pihak tour operator. Untuk barang-barang apa aja sih yang dibawa pendaki ketika summit. Yang saya bawa kemarin adalah layering untuk summit yang sudah saya pakai sedari awal summit. Lalu gear teknis yang saya langsung pakai juga termasuk headlamp. Selanjutnya di dalam tas ada beberapa sarung tangan tambahan dan satu jaket insulasi. Untuk makanan, saya bawa seperti energi bar, buah, permen, coklat dan snack lain. Lalu untuk air sekitar 1 hingga 1,5 liter. Kacamata hitam jikalau nanti matahari terik. Lalu untuk gear teknis, saya pribadi bawa tiga sling cadangan berbeda ukuran dan satu alat descender cadangan juga. Sisanya alat-alat dokumentasi.

[1:28:26]Opini pribadi saya, jika tidak dengan alat dokumentasi, usahakan tas summit tidak lebih berat dari 5 kilo. Semakin ringan, semakin bisa bergerak lebih cepat.

[1:28:59]Ketika summit, pendaki akan melewati beberapa titik-titik penting. Pendaki menuju Puncak Kartens dimulai dari Lembah Yellow Valley di ketinggian sekitar 4.200 m. Dari sini medan yang kita hadapi hanya batuan kars yang dingin dan licin. Titik pertama adalah teras 1. Sebuah jalur miring sempit dengan batuan lepas. Di sini setiap langkah harus hati-hati karena satu batu yang terinjak bisa meluncur. Biasanya pendaki harus antri atau naik berdekatan agar aman.

[1:29:51]Dari teras 1 trek tetap curam, namun bebatuan lepas tidak terlalu banyak. Celah untuk memijakkan kaki semakin mengecil.

[1:30:08]Ketika sinar matahari pagi sudah datang, pendaki bisa melihat Puncak Kartens Timur, Puncak Soekarno dan Puncak Sumantri. Di sana ada gler abadi.

[1:30:30]Setelah itu, pendaki sampai di teras 2. Area yang lebih lebar dan relatif datar. Ini menjadi titik untuk mengatur nafas sebelum lanjut ke teras besar.

[1:30:50]Trek menuju teras besar semakin sulit. Karena pendaki harus pintar-pintar mencari pijakan serta di sini skill climbing kita diuji.

[1:31:11]Teras besar.

[1:31:24]Perjalanan berlanjut ke titik paling terjal. Dinding vertikal setinggi 20 hingga 25 m menuju awal summit ridge. Di sini teknik panjat tebing benar-benar dibutuhkan dengan bantuan tali dan pengaman penuh.

[1:31:50]Setelah titik awal ridge atau punggungan, kita menghadapi icon Kartens, Tyrolean Traverse yang juga dikenal sebagai Kandang Babi atau Burma Bridge. Sebuah celah selebar 15 hingga 20 m dihubungkan dengan tiga sling baja, tempat kita meniti sambil bergantungan di ketinggian ribuan meter. Pemandangan di kiri kanan jika cuaca cerah luar biasa. Namun ketika saya summit kemarin, cuaca tidak bersahabat. Menambah pandangan ke bawah cukup membuat lutut bergetar.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript