Thumbnail for MISI GAGAL, Kini MARINIR Itu Terjebak Bersama BIARAWATI Cantik di Pulau Tak Berpenghuni by Melong Film

MISI GAGAL, Kini MARINIR Itu Terjebak Bersama BIARAWATI Cantik di Pulau Tak Berpenghuni

Melong Film

20m 14s2,134 words~11 min read
Auto-Generated

[0:04]Piala mini dimulai dengan memperlihatkannya seorang pria yang terombang-ambing sendirian di tengah lautan luas. Ia bertahan di atas pelambung kecil dikelilingi hamparan biru yang seolah tidak berujung. Pria itu bernama Alisson, seorang marinir dari Angkatan Laut Amerika Serikat. Kapal selam tempatnya bertugas diserang oleh musuh saat perang Pasifik dan hanya dia satu-satunya yang berhasil selamat. Selama 7 hari penuh ia berjuang hidup di tengah laut tanpa makanan dan tenaga hanya mengandalkan air hujan yang ia tampung untuk bertahan hidup. Rasa lelah dan kesendirian hampir membuatnya putus asa hingga suatu pagi ia melihat bayangan daratan di kejauhan. Dengan sisa tenaga yang ada ia mendayung pelambung itu hingga tiba di sebuah pulau terpencil di tengah Samudra Pasifik Selatan.

[1:03]Meski tubuhnya lemah, ia merasa sedikit lega karena akhirnya bisa menginjak daratan. Saat menjelajahi pulau itu, Alisson menemukan sebuah perkampungan kecil yang tampak sepi dan ditinggalkan. Rumah-rumah di sana pun kosong tanpa ada tanda kehidupan.

[1:28]Ia terus berjalan hingga tiba di sebuah gereja tua yang berdiri di tengah pepohonan. Saat itulah ia dikejutkan oleh sosok wanita yang sedang menyapu lantai gereja dengan tenang seolah tempat itu masih digunakan untuk beribadah. Wanita itu mengenakan pakaian serba putih dan terlihat lembut serta anggun. Alisson sempat terpaku karena tidak menyangka ada seseorang di pulau terpencil seperti itu apalagi seorang wanita muda. Wanita itu pun sempat kaget melihat kehadiran Alisson, tetapi setelah mengetahui bahwa pria tersebut adalah marinir Amerika ia menjadi lebih tenang. Dengan suara lembut ia memperkenalkan dirinya sebagai Suster Aniela, seorang biarawati yang juga terdampar di pulau itu. Aniela kemudian menceritakan kisahnya. Ia dulunya bagian dari misi keagamaan di Kepulauan Fiji, namun saat pasukan Jepang mulai menyerang dan memburu para misionaris banyak yang ditangkap dan dihabisi. Ia hanya berhasil selamat karena melarikan diri ke pulau ini. Awalnya ia tidak benar-benar sendirian bersamanya ada seorang pastor bernama Pastor Pelepe, tetapi sang pastor meninggal dunia hanya 4 hari setelah mereka tiba di sana. Sejak saat itu Aniela hidup sendirian bertahan dengan doa dan keyakinan bahwa suatu hari pasukan Amerika akan datang menyelamatkannya. Meski tahu harapan itu sangat kecil karena wilayah Pasifik Selatan pada saat itu dikuasai oleh Jepang, ia tetap memilih untuk percaya. Mendengar kisah itu, Alisson merasa iba dan bertekad untuk menolongnya. Tunggu saya ambilkan makanan dulu. Sangat pengertian sekali. Terima kasih. Selamat malam Tuan Alisson. Selamat malam juga. Ia berencana membuat rakit dari pelambung karet yang dulu menyelamatkannya di laut agar mereka bisa meninggalkan pulau itu. Untungnya di pulau itu masih banyak tanaman dan buah-buahan yang bisa dimakan. Hari demi hari berlalu dan keduanya pun semakin akrab. Aniela yang lembut dan penuh keyakinan membuat Alisson yang keras dan tidak begitu beriman mulai belajar arti sebuah harapan. Suatu hari Alisson bertanya mengapa wanita muda seperti Aniela memilih menjadi biarawati. Dengan senyum tenang Aniela menjawab bahwa ia melakukannya karena cinta yang tulus kepada sang Tuhan. Beberapa waktu kemudian, saat mereka berjalan di tepi pantai, Aniela melihat seekor penyu berenang di dekat bibir air. Alisson memanfaatkan momen itu untuk mengajarinya cara bertahan hidup. Dengan alat seadanya mereka berusaha menangkap penyu itu dan setelah perjuangan yang melelahkan akhirnya Alisson berhasil membuangnya ke darat.

[4:24]Daging penyu itu kemudian mereka masak dan makan bersama-sama. Bagi Alisson itu adalah keberhasilan kecil dalam perjuangan bertahan hidup, sementara bagi Aniela itu menjadi pelajaran tentang kerasnya hidup di alam liar. Beberapa hari berlalu dengan damai sampai suatu sore mereka mendengar suara pesawat di langit. Saat mengada, keduanya terkejut melihat pesawat Jepang berputar-putar di atas pulau.

[4:55]Alisson segera menarik tangan Aniela dan membawanya bersembunyi di dalam gua di antara bebatuan besar. Malam itu mereka tidak bisa tidur karena cemas pesawat itu mungkin sudah melihat tanda kehidupan di pulau tersebut. Jangan takut itu tidak akan melukai kita.

[5:13]Tenang Bu. Kekhawatiran itu terbukti keesokan harinya ketika tiba-tiba terdengar ledakan keras mengguncang tanah. Pesawat Jepang menjatuhkan bom dan menghancurkan seluruh desa. Saat Alisson keluar dari persembunyian, ia mendapati rumah-rumah yang dulu berdiri kini rata dengan tanah termasuk rakit yang baru mereka buat. Semua makanan pun terbakar habis. Keadaan menjadi semakin sulit.

[5:43]Tak lama kemudian beberapa kapal Jepang datang dan menurunkan pasukan di pantai.

[5:52]Mereka membangun tenda dan menjadikan pulau itu sebagai markas sementara. Situasi pun kini menjadi sangat berbahaya. Satu kesalahan kecil saja bisa membuat mereka tertangkap. Alisson menyuruh Aniela tetap bersembunyi di dalam gua sementara ia pergi mencari makanan.

[6:14]Para tentara Jepang kemudian berpatroli di sekitar hutan, namun untungnya mereka tidak menemukan gua tempat Alisson dan Aniela bersembunyi. Keesokan harinya, Alisson nekat pergi ke tepi pantai untuk menangkap ikan. Saat entah kembali, ia melihat cahaya senter di kejauhan, tanda bahwa tentara Jepang sedang berpatroli. Tanpa pikir panjang ia menyelam dan bersembunyi di balik ombak hingga kapal pengintai itu menjauh.

[6:48]Setelah keadaan aman, ia kembali ke gua dengan beberapa ekor ikan. Saat melihat ikan mentah itu, Aniela tampak ragu. Ia tidak sanggup memakannya karena bau amisnya begitu kuat. Alisson mencoba meyakinkannya bahwa itu satu-satunya cara untuk bertahan hidup, tetapi Aniela hanya mampu mencicipi sedikit sebelum akhirnya menyerah. Tubuhnya mulai lemah karena kelaparan membuat Alisson sangat khawatir. Dalam keputusasaan ia akhirnya memutuskan untuk melakukan tindakan paling beresiko yaitu menyusup ke kem tentara Jepang demi mencari daharan. Malam itu ia melumuri tubuhnya dengan lumpur agar tidak terlihat lalu merangkak perlahan di antara pepohonan bergerak hati-hati di kegelapan sambil menunggu waktu yang tepat untuk bertindak.

[7:47]Ketika malam semakin poek dan sebagian pasukan Jepang mulai tertidur, Alisson akhirnya melihat kesempatan untuk bertindak. Dengan langkah perlahan dan hati-hati ia merangkak menuju salah satu tenda di tengah kegelapan menahan napas agar tak menimbulkan suara sedikitpun. Setelah masuk ia berhasil mengumpulkan beberapa makanan dan di antara barang-barang yang tertinggal, ia menemukan sebuah sisir kecil. Tanpa ragu ia mengambilnya dan membawanya kembali bukan hanya sebagai benda biasa melainkan sebagai hadiah sederhana untuk Aniela, sebuah bentuk perhatian di tengah kesulitan dan bahaya yang mengelilingi mereka. Keesokan paginya Alisson berencana memberikan kejutan. Ia menatap beberapa bunga di atas sebuah batu, meletakkan sisir di sampingnya lalu bersembunyi di balik bebatuan untuk melihat reaksi Aniela. Ketika sang biarawati menemukan bunga dan sisir itu ia tampak tersentuh. Namun dengan lembut ia menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa menggunakan sisir tersebut karena sejak awal menjalani hidup sebagai biarawati rambutnya dipotong sangat pendek seperti para novis lainnya. Menyadari bahwa hadiah itu tidak akan berguna, Alisson hanya memintanya untuk membuangnya. Saya akan menyimpannya untuk kenang-kenangan.

[9:13]Meskipun begitu Aniela tetap tersenyum lembut menunjukkan bahwa ia menghargai niat tulus di balik pemberian itu. Dari momen itu jelas bahwa Alisson sudah tidak mampu lagi menyembunyikan perasaannya. Ia jatuh hati kepada wanita yang selama ini hanya ia pandang sebagai lambang kesucian dan kebaikan. Keberanian pun tumbuh dalam dirinya. Suatu hari ia memberanikan diri untuk bertanya kepada Aniela apakah ia pernah berpikir untuk meninggalkan kehidupan religiusnya dan hidup sebagai wanita biasa mungkin menikah dan memiliki sebuah keluarga. Namun Aniela menatapnya dengan ketenangan yang sama seperti biasanya. Ia menjelaskan bahwa sumpah yang telah diucapkannya bukan sekadar janji melainkan ikrar suci kepada Tuhan. Ia menegaskan bahwa cinta yang ada di hatinya hanyalah untuk Tuhan bukan untuk seorang pria seperti Alisson. Mendengar hal itu hati Alisson terasa hancur, namun dalam dirinya masih tersisa sedikit harapan bahwa suatu hari Aniela mungkin akan berubah pikiran. Pada saat yang sama, sebuah ledakan keras mengguncang hutan di sekitar mereka. Tanah bergetar hebat dan suara tembakan menggema di kejauhan. Alisson segera berlari keluar dari gua dan melihat langit yang dipenuhi asap serta kilatan cahaya dari pertempuran di laut. Kapal perang Amerika sedang bertempur melawan armada Jepang di perairan Pasifik. Ketika suara ledakan mulai meredup, Alisson mendekati area tempat pasukan Jepang sebelumnya berkema. Ia terkejut mendapati bahwa mereka telah meninggalkan pulau itu dengan tergesa-gesa. Ia segera memanggil Aniela dan bersama-sama mereka memeriksa lokasi tersebut. Di sana mereka menemukan banyak persediaan makanan dan perlengkapan yang tertinggal. Bagi Alisson ini adalah kesempatan langka untuk mendapatkan kebutuhan hidup yang cukup. Dengan penuh semangat, mereka membawa persediaan itu ke rumah bekas tentara Jepang dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama mereka bisa bernapas lega. Malam itu keduanya bernyanyi dan menari dengan gembira seolah ingin melupakan sejenak semua penderitaan yang telah mereka lalui. Saat matahari mulai terbenam, Alisson bersenandung dengan santai sementara Aniela menjahit dengan damai di dekatnya. Suasana terasa hangat dan menenangkan hingga Alisson tak kuasa menahan perasaannya. Ia memandang Aniela dan dengan suara lembut bertanya apa yang akan ia lakukan jika suatu hari mereka berhasil diselamatkan dan kembali ke Amerika Serikat. Dengan ketulusan yang sama seperti biasanya, Aniela menjawab bahwa ia akan kembali ke Biara menyelesaikan pendidikannya dan melanjutkan pengabdiannya kepada sang Tuhan. Jawaban itu membuat hati Alisson kembali terluka. Ia menunduk sejenak lalu dengan jujur menyatakan keinginannya untuk menikah dengannya, membangun kehidupan bersama, dan memiliki seorang anak. Aku sungguh mencintaimu dan mau menikahi mu sungguh. Aniela terdiam lalu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia mengakui bahwa ia tersentuh oleh ketulusan hati Alisson, namun tidak bisa memberikan harapan palsu. Dengan suara tenang ia menjelaskan bahwa cintanya telah ia persembahkan seluruhnya kepada Tuhan. Sambil menunjukkan cincin di jarinya, ia berkata bahwa cincin itu melambangkan janji kesetiaannya kepada sang pencipta. Dan setelah ia menyelesaikan masa profesiat cincin itu akan digantikan dengan cincin emas sebagai tanda pengikat seumur hidup. Alisson hanya terdiam mendengar penjelasan itu di mana ia berusaha menahan kesedihan lalu berpura-pura ingin memeriksa keadaan di pantai agar bisa menyembunyikan perasaan. Saya pergi dulu.

[13:14]Sementara itu, Aniela duduk termenung matanya memandang kosong ke arah laut. Ia sendiri menyimpan perasaan yang tak bisa diakui. Di dalam hatinya ia mengagumi keberanian dan kebaikan Alisson, namun ia tahu bahwa membiarkan perasaan itu tumbuh berarti mengkhianati panggilan hidupnya. Lupakanlah soal perkataan yang semalam, saya hanya bercanda. Tentu Mr. Alisson.

[13:42]Malam kemudian semakin larut keheningan menyelimuti rumah tua yang dulu ditempati para tentara Jepang. Saat mereka sedang menyiapkan makanan, Aniela menemukan sebotol minuman di antara persediaan. Ketika botol itu dibuka, aroma khasnya segera menyebar. Alisson menjelaskan bahwa itu adalah tuak, minuman khas Jepang yang mirip dengan anggur. Ia mengajaknya untuk mencicipinya, namun Aniela menolak setelah mengetahui bahwa minuman itu mengandung alkohol. Aku jatuh hati pada mu. Aku jatuh hati pada mu. Selamat malam, malam Bu.

[14:20]Dalam kebingungan dan tekanan batin akibat perasaan yang tak tersampaikan, Alisson akhirnya meminum tuak itu sendirian. Aniela sempat mencoba menghentikannya tapi sudah terlambat. Beberapa saat kemudian, alkohol mulai mempengaruhi pikirannya. Ia berbicara dengan nada tidak terkendali mengucapkan kata-kata yang membuat Aniela tersinggung dan ketakutan.

[14:48]Kembali ke sini Bu.

[14:52]Merasa kecewa dan terluka, Aniela berlari keluar rumah menembus hujan deras dan kegelapan malam. Sadar akan kesalahannya, Alisson segera mengudaknya. Ia menemukannya tergeletak di tanah di mana tubuhnya lemah dan menggigil karena kedinginan. Dengan panik Alisson mengapahnya kembali ke gua dan menyalakan api kecil untuk menghangatkan tubuhnya.

[15:23]Karena tak ada pilihan lain, ia melepaskan bajunya sendiri dan menyelimuti tubuh Aniela agar tidak kedinginan. Keesokan harinya, keadaan kemudian semakin sulit. Pasukan Jepang kembali ke pulau itu, sementara Aniela masih sakit demam. Dengan tekad kuat Alisson menyusup ke kem musuh pada malam hari untuk mencari selimut dan makanan, namun kali ini ia hampir tertangkap. Hei ada musuh. Seorang prajurit Jepang memergokinya, tapi Alisson berhasil mengalahkannya dan menyembunyikan tubuhnya di antara bebatuan.

[16:06]Ia lalu kembali ke gua membawa perbekalan. Ketika Aniela sadar ia terkejut mendapati dirinya hanya berbaring di atas selimut. Alisson segera menjelaskan apa yang telah terjadi dan meminta maaf dengan tulus. Jangan berterima kasih akulah yang membuatmu sakit. Ya, kita membuat. Namun bahaya belum berakhir. Menyadari salah satu prajuritnya hilang, pasukan Jepang mulai melakukan pencarian besar-besaran. Mereka membakar sebagian hutan dan memeriksa setiap sudut pulau. Sementara itu di dalam gua Aniela hanya bisa berdoa dengan khusyuk memohon agar mereka tidak ditemukan. Mukjizat pun terjadi di mana mereka berhasil tetap tersembunyi. Tak lama kemudian, langit dipenuhi suara pesawat tempur Amerika yang datang memborbardir posisi Jepang.

[18:12]Meskipun bahunya terluka akibat ledakan, ia berhasil menghancurkan senjata tersebut memastikan bahwa tidak akan ada lagi korban di pihak Amerika.

[18:33]Tak lama kemudian pasukan Amerika mendarat di pulau itu dan menyelamatkan mereka berdua.

[18:41]Setelah perang berakhir Aniela dikirim kembali ke Fiji lalu pulang ke negaranya untuk melanjutkan kehidupan religiusnya. Sementara Alisson kembali bertugas hingga akhir perang Pasifik.

[19:05]Tamat. Pesan moral dari kisah ini adalah bahwa cinta sejati tidak selalu harus berakhir dengan kebersamaan. Terkadang bentuk cinta yang paling murni justru terlihat dari kemampuan seseorang untuk melepaskan dan menghormati pilihan orang yang dicintainya. Kisah Alisson dan Suster Aniela mengajarkan bahwa ketulusan, pengorbanan, dan keimanan bisa tumbuh bahkan di tengah situasi paling gelap sekalipun. Dalam perang yang dipenuhi penderitaan mereka menemukan arti sejati dari kasih dan pengabdian. Dari keduanya kita belajar bahwa cinta sejati bukan sekadar tentang memiliki melainkan tentang memberi tanpa syarat menjaga tanpa menuntut dan menerima dengan lapang hati bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan hanya untuk dikenang bukan untuk dimiliki. Sekian dulu teman-teman untuk video hari ini bagaimana tanggapan kalian tentang film ini tulis di kolom komentar dan jika kalian suka dengan video ini jangan lupa untuk like, comment, share ke mana pun kalian suka. Terima kasih banyak telah menonton sampai akhir. See you next time and bye bye.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript