[0:13]Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kembali lagi di Channel Berita Mistis. Untuk kisah kali ini saya akan membawakan sebuah cerita dari tulisannya akun Facebook yang bernama Melati. Untuk kisah yang akan saya bawakan yaitu sebuah kisah yang berjudul - Pesugihan Penglaris Pedagang Mie Ayam - Dan sebelum kita lanjut ke ceritanya tekan dulu tombol like video ini dan jangan lupa tekan juga tombol subscribe Channel ini. Dan nyalakan juga lonceng notifikasinya agar tidak ketinggalan cerita-cerita lainnya dari Channel ini. Dan buat teman-teman yang pengen membaca langsung ceritanya nanti silakan saja kunjungi linknya yang nanti akan saya sertakan di kolom deskripsi. Dan saya ingatkan lagi buat teman-teman yang pengen mengikuti giveaway nanti hubungi saja kontak admin kami di bawah ini. Dan seperti apa untuk kisah kali ini, langsung saja kita masuk ke ceritanya.
[1:21]Suasana riuh dan ramai pada saat Susi dan kita pulang dari sekolah dengan mengendarai sepeda motornya. kita dan Susi pun berjalan siang itu panas yang menyengat tidak mereka rasakan. Yang mereka inginkan sekarang adalah mengisi perut mereka yang sudah terasa keroncongan. kita cari makan dulu yuk. Aku sudah lapar nih. Ajak Susi pada sahabatnya yang bernama kita. boleh yuk Aku juga sudah lapar nih. Dari pagi perutku belum diisi. Bagaimana kalau kita makan mie ayam saja. Aku tahu tempat mie ayam yang paling enak. Ucap Susi, boleh juga nih. Aku nurut sama kamu saja. Mereka pun memacu sepeda motornya menuju warung tempat penjual mie ayam mandiri yang katanya enak dan terkenal tersebut. Warung tersebut selalu ramai didatangi para pengunjung, katanya mienya enak dan entah kenapa. Para pembeli yang pernah membeli di sana maunya ingin kembali mengulang untuk membeli di penjual mie ayam mandiri tersebut. Tidak lama kemudian sampailah mereka di tempat tujuan, yaitu warung mie ayam mandiri. Keduanya pun langsung masuk ke dalam warung dan langsung memesan mie ayam tersebut. Suasana warung nampak ramai mereka mengambil tempat duduk di pojokan. Nah, kita di sini saja, Yes. lagi di sana juga enggak apa-apa kok, lebih adem. Mereka berdua pun duduk di pojokan di tempat yang mereka pilih tadi. Banyak orang ramai membeli di warung itu. Ada yang makan di sana, ada juga yang minta dibungkus untuk dibawa pulang. Duh, aku mau ke toilet dulu ya, Sus. Ya sudah sana cepat, mumpung mie ayamnya belum datang tuh. Oke, bentar aja kok. kita pun beranjak dari tempat duduknya menuju toilet atau kamar kecil yang ada di belakang warung. Ia berjalan perlahan-lahan sambil matanya mencari-cari di mana toiletnya berada. Tiba-tiba ia melihat sebuah ruangan yang tertutup entah mengapa sepertinya. Hati kecilnya merasa penasaran dengan ruangan tersebut. Sepertinya ada sesuatu yang menarik diri kita untuk melihat ke sana. Kok, aku jadi penasaran ya dengan ruangan yang tertutup itu. Coba aku lihat deh. Ada apa di ruangan yang tertutup itu? dengan mengendap-ngendap kita mengintip dari lubang kunci tersebut. Apa yang dilihat kita begitu mencengangkan. Perut kita seperti mau muntah. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, sementara tangan yang satunya memegang perutnya seperti menahan sesuatu. Apa yang dilihatnya sungguh di luar dugaan. Ia tidak mempercayai penglihatannya. Namun kenyataan berkata lain tahukah apa yang dilihat oleh kita. Ia melihat nampak di ruangan yang tertutup itu ada beberapa orang bocah, tepatnya anak kecil hanya memakai celana dalam dan bertelanjang dada. Sedang berdiri dan meludahi mie ayam yang belum diseduh dengan air panas di atas wadah yang diletakkan di atas meja tersebut. Ada sekitar 8 orang anak kecil yang ia lihat sedang beraksi ya Allah apa yang mereka lakukan. Kita mengusap usap kedua bola matanya sekali lagi. Kamu lihat apa. Tiba-tiba saja ada suara yang mengagetkannya refleks ia pun menoleh ke belakang. Tampak olehnya seorang bapak yang sedang memandangnya aneh sekali. Kita pun gemetar, badannya panas dingin, mukanya pucat pasi ia tidak menjawab pertanyaan bapak itu. Sekali lagi saya tanya, apakah kamu tadi lihat sesuatu? Kita terdiam tidak menjawab, bibirnya terasa keluh, ia bingung mau menjawab apa. Saya Misran, saya pemilik tempat ini, mari ikut saya sebentar. Ia mengajak kita untuk memasuki sebuah ruangan lain. Sepertinya itu adalah ruangan untuk beristirahat karyawannya. Karena ada kursi dan bahkan tempat tidur. Kita bicara di sini saja Nak. Terus terang, apa yang kamu lihat tadi dan apapun itu, saya minta jangan kamu ceritakan pada siapapun. Saya mohon karena kalau orang luar sudah tahu maka matilah saya. Tolong simpan rahasia ini rapat-rapat. Kamu mau apa? Saya bisa beri kamu uang, Nak. Kita hanya diam, sedangkan bibirnya bergetar lalu ia pun berkata saya tidak mau meminta apapun, Pak. Saya hanya ingin pulang sekarang. Ucap kita hampir menangis. Benar kamu tidak mau meminta apapun dari saya, Nak. Tidak, Pak, saya hanya ingin pulang sekarang. Baiklah Nak, kamu boleh pulang. Tapi saya minta padamu untuk merahasiakan apa yang kamu lihat tadi. Kita menganggukkan kepalanya dan berkata iya, Pak, saya tidak akan menceritakan hal ini pada siapapun. Saya janji, Pak. Terima kasih, Nak. Kamu boleh pulang sekarang. Kita pun keluar ruangan tersebut diikuti pandangan yang aneh dari Pak Misran. Entah itu tatapan kecemasan atau ketakutan akan sesuatu. Aku harus pulang. Lebih baik ku batalkan saja niatku. Aku akan kuajak Susi untuk pulang saja. Kala matanya melihat Susi gadis itu pun berkata, Sus. Ayo kita pulang saja. Tiba-tiba perutku terasa enggak enak nih. Ia menyesal harus bohong pada Susi yang sudah kelaparan itu. Eh, kamu kenapa kita makan dulu deh. Ini mie ayamnya sudah siap. Serunya sambil menunjuk dua piring mie ayam di atas meja pesanan mereka tadi. Mendengar Susi mengajak makan dan melihat mie ayam yang tersaji di meja, perut kita serasa diaduk-aduk. Aku enggak jadi makan deh. Kalau kamu mau makan saja, biar aku temani ya. Enggak asik dong makan sendiri. Oke, kita pulang sekarang. Tapi kamu enggak apa-apa kan kita. Aku enggak apa-apa kok. Tiba-tiba saja selera makanku hilang. Mungkin maagku saja yang kumat. Ucap kita sembari menggandeng tangan Susi mengajaknya keluar dari warung tersebut. Eh, tunggu sebentar, apa kita bungkus saja mie ayam ini? Kita bawa pulang. Kan sayang bisa kita makan di rumah nanti. Biar saja, enggak usah dibungkus. Kita bayar saja, kasihan sama pedagangnya. Nih uangnya kamu bayar saja sana, enggak usah nanya lagi. Susi pun menerima uang pemberian dari kita untuk membayar dua piring pesanan mereka tadi. Setelah itu mereka berdua langsung tancap gas menuju pulang ke rumah kita. Sampai di rumahnya kita langsung turun dari motor dan berlari masuk ke kamarnya diiringi tatapan heran sahabatnya itu. Susi memang sudah biasa main ke rumah kita, oleh karenanya ia sudah tidak sungkan lagi di sana. Eh, kita kenapa itu Susi. Tanya ibunya kita heran. Enggak tahu Tante sikapnya aneh. Tadi kita mau beli mie ayam dan makan di sana, tapi setelah ia selesai buang air kecil di belakang warung, ia mendadak ngajakin pulang. Yah, gagal deh makanya. Padahal perut sudah keroncongan, Tante. Oh begitu ya. Ya sudah sana kamu makan di sini saja, Tante sudah masak kok. Semur ayam sama sambal tempe. Sana makan itu di dapur ambil sendiri sana. Ajakan kita makan sekalian biar bareng makannya. Baik, terima kasih, Tante. Susi makan ya, Tante. Ibunya kita menganggukkan kepala Susi langsung berjalan menuju kamar kita untuk mengajaknya makan bersama. Susi berjalan menuju kamar kita dan masuk ke dalam kamar kita. Terlihat sedang tiduran di kasur. Ia pun mengajak kita untuk segera makan. Ayo dong, kita kita makan siang dulu. Ibumu sudah masak yang enak loh. Aku enggak nafsu makan, Sus. Kamu saja deh yang makan. Aku mau tidur sebentar. Oke, kalau kamu enggak mau makan, aku saja yang makan ya. Susi pun berlalu meninggalkan sejuta tanya di benaknya akan perubahan sikap kita. Aku sudah berjanji untuk tidak menceritakannya pada siapapun, tapi jadi dilema pada diriku. Kalau aku sebarkan berita ini, pasti orang akan heboh nantinya. Tapi kalau aku biarkan, kasihan pada para pembeli. kita kesal sendiri akhirnya. Ia hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu. Sepertinya ia sekarang lebih memilih bungkam saja daripada berkoar-koar namun orang nanti tidak percaya. Tetapi masalah yang seperti ini tidak boleh dibiarkan. Aku harus bertanya pada orang yang mengerti akan baik buruknya. Ucap gadis itu. karena merasa capek dan lelah akhirnya kita tertidur. Dengan membawa rasa penasaran yang besar di dalam hatinya. sejak peristiwa kita melihat sesuatu di warung pedagang mie ayam tersebut. Perilakunya pun berubah, ia sering terlihat melamun dan bahkan tidak jarang ia menjerit-jerit sendiri dalam tidurnya. Pergi, pergi kamu, jangan ganggu aku. Begitu yang sering diucapkan kita dalam tidurnya. Ibunya pun pernah mendengar kita mengigau dalam tidurnya tersebut. Karena ibunya cemas dan bertanya-tanya dan apakah gerangan yang terjadi pada kita. Namun niat hati kita untuk bertanya dengan orang yang lebih mengerti tentang sesuatu itu belum terlaksana juga. Alhasil ia sepertinya merasa ada gangguan pada dirinya, yaitu sering melamun, susah tidur, sering mengigau dan trauma. Kedua orang tua kita pun merasa heran dan cemas melihat perilaku kita. Pak, Ibu heran dengan kelakuan kita akhir-akhir ini sepertinya ada sesuatu yang ia sembunyikan dari kita, Pak. Ucap ibunya kita. Memangnya ada apa sih, Bu. Ibu enggak tahu, Pak. Sekitar satu minggu yang lalu kita dan temannya Susi pulang ke rumah. Katanya mereka enggak jadi makan mie ayam. Entah kenapa, dan akhirnya hanya Susi yang makan siang di rumah. Sedangkan kita tidak. Ia malah tertidur setelah pulang ke rumah. Coba Ibu tanya dengan Susi, kira-kira apa yang membuat kelakuan kita berubah seperti itu, Bu. Baiklah, Pak, akan Ibu tanyakan dengan Susi masalahnya, siapa tahu Susi mengetahuinya. Esok harinya kita tidak masuk sekolah. Ia merasa badannya demam dan minta ibunya untuk memberitahukan hal tersebut pada wali kelasnya. Yaitu wali kelas 12 SMA Negeri 3. Bu, kita hari ini enggak masuk sekolah ya, Bu, badan kita demam dan meriang. Ibu telepon wali kelas kita saja beritahu bahwa kita sakit ya, Bu. Kita demam ya, Nak. Baiklah, Ibu akan telepon Bu Marlina wali kelasmu dulu ya. Kamu istirahat saja dulu, Nak. Kemudian ibunya kita menghubungi wali kelas kita yaitu Ibu Marlina dan memberitahukan bahwa kita anaknya demam. Sehingga tidak dapat masuk sekolah pada hari ini. Tidak lupa juga untuk membuat surat izin sakit dan diserahkan nanti pada Ibu Marlina. Siang harinya Susi pun datang ke rumah kita untuk membesuk dan mengetahui kondisi kita yang demam dan meriang itu. Ketika Susi hendak ke kamar kita, ibunya kita menarik tangan Susi dan bertanya, Susi. Ibu mau tanya, apakah Susi tahu apa yang terjadi dengan kita akhir-akhir ini? Karena Ibu lihat dia banyak diam dan melamun, bahkan Ibu pernah mendengar dia mengigau dalam tidurnya. Begini katanya, "Pergi kamu, jangan ganggu aku." Begitu katanya, Nak. Oh, Susi enggak tahu, Bu, apa sebab kita bertingkah laku demikian. Karena setahu Susi kita enggak pernah berbuat yang aneh-aneh, Bu. Baiklah, Nak. Coba kamu saja yang bertanya pada kita mengapa akhir-akhir ini sikapnya aneh sekali. Baik, Bu, akan Susi coba tanyakan pada kita nanti. Lalu Susi pun menuju kamar kita dan masuk ke dalam kamar sahabatnya itu yang ternyata kita sedang melamun sambil tiduran. Dan matanya nyalang memandang langit-langit kamar. Hai, kita gimana kabarnya? Katanya kamu demam, tadi di kelas Ibu Marlina memberitahu bahwa kamu sakit dan tidak masuk sekolah hari ini. Sunyi sepi tidak ada jawaban. Kamu kenapa sih kita? Jangan bikin cemas dong. Itu Ibu dan Bapakmu mengkhawatirkan kamu. Kita menoleh pada Susi dan berkata, "Kamu mau dengar cerita aku, Susi?" Tapi janji, kamu harus mempercayainya. Baiklah, aku janji akan mempercayai ceritamu nanti. Jadi begini ceritanya. Lalu mengalirlah cerita dari bibir kita tentang awal mula ia mau ke toilet itu. Hingga matanya melihat sesuatu yang aneh dan tidak lazim serta yang menurutnya sangat menjijikkan itu. Dengan raut muka yang tegang dan parasnya yang merah padam, kita mencoba mengingat kembali peristiwa itu. Ah, masa sih kita? Kamu bisa melihat yang begituan? Itu di siang bolong loh. Kamu mau percaya atau tidak ya terserah deh. Aku kan sudah berkata jujur. Kalau menurutmu aku berbohong ya sudah, Sus. Bukan aku enggak percaya ceritamu itu, Sobat. Hari gini di zaman milenial ini masih aja ada yang praktek pengalih seperti itu. Oh ya, yang pernah kudengar ada sebagian orang percaya untuk memakai jin penglaris untuk membuat dagangan mereka laku. Dan biasanya ciri-ciri warung yang memakai jin penglaris, yaitu letak dapur yang sangat jauh. Makanan yang terasa sangat enak bila dimakan di tempat dan tidak enak bila sudah dibawa pulang.
[16:25]Ujar bapaknya kecewa. Baiklah, Nak, besok Bapak akan melaporkan warung tersebut kepada Bapak Walikota agar warung tersebut segera ditutup. Bapak juga tidak setuju kalau warung tersebut masih beroperasi, kasihan sama pembeli yang datang untuk membelinya. Termasuk kita juga sebagai penikmat mie ayam. Iya, Pak, warung tersebut harus diberi peringatan dulu. Jika memang terbukti memakai jin penglaris, maka warung mie ayam tersebut harus segera ditutup. Tapi memang tidak semudah itu, Nak, untuk menutup warung tersebut. Harus ada bukti-bukti yang kuat yang bisa kita berikan pada mereka. Kita lihat saja, apakah setelah kita mengetahui praktek yang dilaksanakan pedagang tersebut berpengaruh atau tidak pada omset penjualannya. Ada kejadian aneh yang terjadi pada diri kita. Setelah mengalami kejadian tersebut, kita merasa sepertinya ada sesuatu yang mengikutinya. Entah apakah itu. Di malam hari ketika ia tidur, ia merasa ada sosok tidak kasat mata yang memperhatikan dan mengikutinya. Mungkin itu hanya khayalannya saja, entahlah ia hanya menyimpan ketakutannya sendiri. Pernah suatu saat ketika ia sedang mengerjakan tugas sekolah pada malam hari. Ketika itu baru pukul setengah 10 malam. Ia melihat seperti ada bayangan hitam yang lewat di depannya. Ia ingin menjerit, namun suara jeritan tidak keluar dari mulutnya. Ia seperti diteror oleh sesuatu yang gaib yang ia sendiri pun tidak tahu. Sementara itu, bapaknya kita mencoba membuat laporan kepada Bapak Walikota beserta stafnya. Bahwa ada salah satu warung makanan di wilayah mereka melakukan praktek pesugihan. Walaupun hal tersebut tidak dapat dibuktikan dengan bukti apapun karena berhubungan dengan makhluk gaib. Pihak mereka pun berjanji untuk mengawasi dan memberi peringatan jika nanti memang terbukti warung tersebut menggunakan pesugihan seperti yang dilihat kita di siang hari itu. Kondisi kita semakin memprihatinkan. Ia merasa tidak bisa tidur. Badannya pun semakin kurus. Ia pun mengadu kepada kedua orang tuanya tentang keadaan yang ia alami. Ia tidak mau hal tersebut berlarut-larut. Pak, Bu, kita mau bilang bahwa sepertinya kita diteror dan diikuti sesosok makhluk. Yang mungkin kita lihat waktu itu. Ucapannya pada kedua orang tuanya tersebut. Makhluk bagaimana, Nak? Kita merasa setiap kita melakukan kegiatan di dalam rumah, seperti ada bayangan hitam yang selalu mengikuti kita. Yang membuat kita selalu merasa ketakutan ketika berada di dalam rumah. Ya ampun, Nak. Sejak kapan kamu mengalaminya? Sejak saat kita melihat peristiwa di warung mie ayam itu, Bu. Sepertinya ada yang sengaja melakukan hal tersebut sama kamu, Nak. Mungkin ia tidak mau kamu bersuara dan bercerita tentang sesuatu yang telah kamu lihat itu. Ucap ibunya. Tujuannya hanya ingin membuat kita bungkam saja. Nanti Ayah akan panggil Pak Ustad untuk mengusir makhluk tersebut, Nak. Ucap bapaknya menimpali dan ketika sore harinya sewaktu bapaknya pulang dari masjid. Ia mengajak seorang ustad yang bernama ustad Romli yang diketahui sudah berpengalaman mengusir makhluk gaib. Orangnya berwibawa dan murah senyum. Bapaknya kita pun langsung menceritakan maksud dan tujuan ia mengajak Pak Ustad Romli ke rumahnya. Yaitu untuk mengusir dan menghilangkan makhluk gaib yang meneror anaknya tersebut. Lantas ia pun menceritakan awal mula anaknya diikuti oleh bayangan tersebut. Iya Pak Ustad, tolong bantu anak saya, kita agar tidak lagi diikuti dan diganggu oleh jin peliharaan orang tersebut. Kata bapaknya kita. Insyaallah, Pak, kita bermohon kepada Allah. Beliau pun menuju kamar kita dan masuk ke dalamnya. Ia merasakan energi dan hawa yang panas sekali di dalam kamar kita. Lalu dengan teriakan marah ia berkata, "Pergi kamu dari sini, jangan lagi ganggu anak kami." Kembalilah pada tujuanmu, jangan usik lagi anak kami. Kemudian dengan khusyuk ia berdoa memohon pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar makhluk tersebut pergi dan tidak kembali lagi. Ia pun mulai berkomunikasi dengan makhluk tersebut. Entah apa yang mereka sepakati. Sepertinya makhluk tersebut adalah memang suruhan pedagang mie ayam untuk menakuti kita dan mengganggunya. Alhamdulillah dengan tidak menemui kesukaran akhirnya makhluk tersebut mau pergi kembali ke Tuhannya. Dengan perjanjian bahwa kita tidak akan mengumumkan dan menceritakan apa yang dilihatnya pada orang-orang. Terima kasih, Pak Ustad, atas pertolongannya. Ucap bapaknya. kita sama-sama, Pak. Saya permisi pulang dulu, Pak. Oh ya, berikan air minum ini yang sudah saya doakan kepada putri Bapak. Insyaallah dia sudah tenang. Dan semoga makhluk tersebut tidak muncul lagi. Kata Ustadz Romli sambil menyerahkan botol air mineral pada bapaknya kita. Bu, bapak akan coba membuktikan bahwa warung mie ayam itu pakai tumbal pesugihan. Bapak akan mengajak Ustadz Romli untuk melihat dan membuktikannya sendiri. Kata ayahnya kita keesokan harinya. Bapak mau apa ke sana, Pak? Anak kita saja diganggu sama jin penglaris tersebut. Ibu tenang saja, lagiin Bapak perginya sama Ustadz Romli kok. Insyaallah, Bu, Bapak enggak kenapa-kenapa. Baiklah kalau itu maunya Bapak. Ya sudah, berhati-hati saja, Pak. Keesokan harinya Pak Rudi alias bapaknya kita pergi bersama Ustadz Romli menuju warung mie ayam milik Pak Misran yang diduga melakukan pesugihan tersebut. Mereka berdua berboncengan menaiki motor milik Pak Rudi bapaknya kita. Selama di perjalanan, keduanya mengobrol membahas kira-kira apa yang akan mereka lakukan nanti. Maafkan saya, Pak Ustadz, telah membawa Pak Ustadz dalam masalah ini. Oh, tidak apa-apa, Pak Rudi. Sesama manusia kita harus saling tolong menolong, Pak. Yang saya heran, di zaman yang serba canggih ini masih ada saja praktek pesugihan penglaris seperti itu. Naudzubillah min dzalik. Demi uang, seseorang tega melakukan perbuatan syirik seperti itu. Benar, Pak, rasanya tidak percaya, tapi nyata. Akhirnya kendaraan yang mereka naikin pun sampai di depan warung mie ayam tersebut. Bapaknya kita pun memarkirkan motornya di parkiran. Mobil dan motor pembeli pun berderet-deret tersusun rapi di sana. Para pembeli pun ramai sekali siang itu. Mereka hanya tahu bahwa mie ayam tersebut enak sekali. Tetapi tidak mengetahui ada apa di balik ramainya pembeli itu. Dan benar saja, Ustadz Romli merasakan aura mistis ketika masih berada di luar. Apalagi pada saat mereka berdua memasuki area warung tersebut dan berpura-pura memesan dua mangkok mie ayam buat mereka berdua. Sebaiknya kita memilih untuk duduk di sudut saja, Pak Ustad. Di sana sepertinya tidak ada yang memperhatikan kita. Hingga kita bisa membuang mie ayam ini. Ujar Pak Rudi sambil menunjuk tempat duduk yang terletak di ujung yang tidak terlalu kelihatan dari depan. Baik, Pak, kita ke sana yuk. Ajak Ustadz Romli. Keduanya duduk di bangku yang telah mereka pilih sambil menunggu pesanan mereka. Lagi-lagi Ustadz Romli merasakan hawa negatif dan merasakan hawa panas yang luar biasa di ruangan ini. Sebentar Pak Rudi, saya akan mengajak ke belakang dulu, Pak. Siapa tahu saya memperoleh petunjuk. Silakan Pak Ustad, saya menunggu di sini saja biar pemilik warung ini tidak curiga pada kita. Ustadz Romli pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke belakang. Dengan perlahan-lahan ia berjalan sambil matanya melihat-lihat ke arah dapur belakang. Ia berpura-pura hendak ke kamar kecil, namun ia tiba-tiba berhenti berjalan. Astagfirullahaladzim. Dalam penglihatan batinnya, ia dihadang oleh 4 makhluk yang berdiri dengan gagahnya. Makhluk tersebut berbentuk anak kecil, berkepala gundul, bermata merah dan hanya mengenakan celana dalam. Saja, Pak, mereka pun berkata, "Kamu hendak kemana, Hai manusia?" Hendak melepaskan ikatan kami dengan pemilik warung ini. Ternyata kalian masih punya nyali ya? Belum cukup peringatanku kepada teman kalian di rumah Pak Rudi. Sudah enyahlah kalian dari hadapanku, hai makhluk jelek. Kami tidak akan pergi sebelum kau berjanji untuk tidak mencampuri urusan majikan kami.
[25:15]Bilang sama majikan kalian, Ustadz Romli tidak takut. Allah yang akan melindungi kami. Sekarang pergilah kalian ke neraka.
[25:35]Teriyaknya sambil mengeluarkan jurus andalannya. Ustadz Romli mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya sambil menarik nafas dan mulai menyerang makhluk-makhluk tersebut. Bismillahirrohmanirrohim, hancur kalian. Tidak lama timbul angin yang teramat kencang yang membuat makhluk-makhluk itu oleng dan hilang keseimbangan. Mereka semua jatuh terpental, sementara Ustadz Romli merasakan sakit yang luar biasa di bagian dadanya. Ia tahu bahwa itu adalah akibat dari benturan tenaga dalam yang ia keluarkan tadi. Dan langsung mereka balas dengan kekuatan mereka yang akhirnya membuat mereka roboh dan menimbulkan sakit di dada Ustadz Romli. Engkau tidak akan menang melawan kami, hai manusia. Lebih baik kamu menyerah sekarang sebelum kami mengalahkanmu. Kami lebih tinggi derajatnya dibanding kalian. Sekarang enyah kalian dari rumahku, hai makhluk jelek. Kami tidak akan pergi sebelum kau berjanji untuk tidak mencampuri urusan majikan kami. Bilang sama majikan kalian, Ustadz Romli tidak takut. Allah yang akan melindungi kami. Sekarang pergilah kalian ke neraka. Teriyaknya sambil mengeluarkan jurus andalannya. Ustadz Romli mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya sambil menarik nafas dan mulai menyerang makhluk-makhluk tersebut. Bismillahirrohmanirrohim, hancur kalian.
[26:49]Tidak lama timbul angin yang teramat kencang yang membuat makhluk-makhluk itu oleng dan hilang keseimbangan. Mereka semua jatuh terpental, sementara Ustadz Romli merasakan sakit yang luar biasa di bagian dadanya. Ia tahu bahwa itu adalah akibat dari benturan tenaga dalam yang ia keluarkan tadi. Dan langsung mereka balas dengan kekuatan mereka yang akhirnya membuat mereka roboh dan menimbulkan sakit di dada Ustadz Romli. Engkau tidak akan menang melawan kami, hai manusia. Lebih baik kamu menyerah sekarang sebelum kami mengalahkanmu. Kami lebih tinggi derajatnya dibanding kalian. Sekarang enyah kalian dari rumahku, hai makhluk jelek. Kami tidak akan pergi sebelum kau berjanji untuk tidak mencampuri urusan majikan kami. Bilang sama majikan kalian, Ustadz Romli tidak takut. Allah yang akan melindungi kami. Sekarang pergilah kalian ke neraka. Teriyaknya sambil mengeluarkan jurus andalannya. Ustadz Romli mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya sambil menarik nafas dan mulai menyerang makhluk-makhluk tersebut. Bismillahirrohmanirrohim, hancur kalian.



