[0:05]Hai guys, thank you sudah klik video ini. Jadi aku mau ajak kalian bahas kasus yang sempat terjadi di wilayah Pacitan Jawa Timur. Kasus yang cukup menggambarkan kayak gimana horornya pinjol kalau digunakan secara enggak bijak yang kayak dilakukan orang ini yang sebagai pelaku di kasus ini. Yang sampai tega dan nekat mengeksekusi tetangga dekatnya sendiri karena terjerat hutang pinjol sebesar 32 juta yang enggak bisa dia lunasin. Makanya nih ya, kasus ini harus banget kita bahas di sini supaya nantinya bisa jadi pembelajaran dan bahan renungan kita semua. Dengan harapan kasus-kasus kayak gini jangan sampai terulang lagi di mana pun dan kapan pun itu. Terutama, terutama nih ya buat kita-kita yang sudah menjadikan kasus-kasus kayak gini sebagai pembelajaran. Okelah kayak gimana kisah dan kasusnya, langsung saja kita bahas sedetail mungkin yang aku bisa. Tapi kayak biasa, sebelum kita lanjut ya, kita ritual dulu. Jadi siapkan minuman dan cemilan kalian, siapkan juga posisi senyaman menurut kalian kayak gimana. Jadi kalau sudah nyaman dan santuy. Nah, jadi soal kasus ini. Yuk kita bahas. Jadi semuanya berawal dari orang ini yang bernama Ayu Vindi Antika yang dikenal dengan panggilan Ayu. Yang saat itu dia ini masih berusia 26 tahun yang tinggal di Desa Sudimoro, Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Yang tinggal di rumahnya ini dengan suami dan satu anaknya yang saat itu masih berusia 2 tahun. Nah, untuk memenuhi kebutuhan rumah, suaminya pun merantau kerja ke luar kota yang biasanya pulang selama sebulan sekali. Sedangkan Ayu cuma sebagai ibu rumah tangga yang ngurusin rumah dan anak. Sedangkan di lingkungan tempat tinggalnya, Ayu ini dikenal pendiam tapi cukup ramah dengan para tetangganya. Biar pun jarak rumah mereka agak berjauhan karena kondisi lingkungan tempat tinggalnya memang masih sepi yang didominasi wilayah perkebunan. Dan saat itu, Ayu ini sudah cukup dekat dengan salah satu tetangganya yang bernama Sukatmi. Yang tinggal di rumahnya ini dengan suami dan satu anak laki-laki mereka yang bernama Muhammad Rizki Saputra. Yang saat itu masih sekolah di MTS yang baru berusia 14 tahun dengan kehidupan mereka yang bahagia dan berkecukupan. Sedangkan Ayu yang tinggal di sebelah rumah mereka yang berjarak sekitar 30 meter yang terpisah wilayah perkebunan itu sering datang buat main ke rumah Sukatmi yang sebagai tetangga dekatnya. Nah, terus karena sudah sering datang sampai sudah kenal dekat selama bertahun-tahun ya. Jadinya Sukatmi dan suaminya pun sampai sudah menganggap Ayu kayak saudara mereka juga. Tapi di balik itu semua, saat itu yang sudah di tahun 2022, Ayu dengan kondisi finansialnya yang kurang baik. Apalagi kebutuhan untuk merawat anaknya yang membutuhkan biaya ekstra, jadinya Ayu pun mulai melakukan pinjaman yang awalnya dengan jumlah kecil melalui pinjol. Karena persyaratannya yang mudah tapi dengan resiko bunga yang belum dia pahami. Jadinya setelah mengajukan pinjaman, dia pun enggak bisa melunasi hutang dan bunganya yang sampai akhirnya dia pun mulai khawatir. Setelah rumahnya yang mulai didatangi rentenir yang selalu menghubungi bahkan ngancam. Karena khawatir apalagi dia juga enggak punya uang, jadinya demi lepas dari jeratan hutang pertama dia pun berhutang lagi ke pinjol lain. Buat melunasi hutang pertamanya dengan skema tutup lubang gali lubang yang terus dia lakukan sejak tahun 2022, 2023, bahkan sampai 2024. Sampai akhirnya yang saat itu yang sudah di tahun 2024, total hutang pinjol dan bunganya pun sudah membengkak dengan total sebesar 32 juta yang harus dia bayar. Itu akibat snowball efek dari bunga-bunga hutangnya saat dia menjalani skema tutup lubang gali lubang dari pinjol ke pinjol. Karena ini Ayu yang sudah nyaris putus asa itu sempat kebingungan, yang akhirnya ya dia pun mulai nekat berencana mencuri ke rumah Sukatmi. Yang awalnya niatnya cuma mencuri karena saat itu Ayu ini tahu kalau Sukatmi baru balik dari Surabaya yang punya banyak uang. Jadi awalnya dia pun berniat mau diam-diam masuk mencuri uang ke rumah Sukatmi yang niatnya akan dia lakukan kalau rumah Sukatmi sedang dalam keadaan kosong. Karena saat itu Ayu ini memang tahu kayak gimana kebiasaan dan rutinitas mereka dan juga sudah hafal dengan kayak gimana daleman rumahnya. Yang bahkan dia pun tahu di mana biasanya kunci rumahnya disimpan. Jadinya setelah ditunggu-tunggu, saat itu yang sudah di tanggal 4 Januari 2024 tepatnya di hari Kamis pagi, Sukatmi dan keluarganya pun pergi dengan ninggalin rumah mereka yang kosong. Sedangkan Ayu dengan mudahnya ya, itu langsung masuk ke rumah Sukatmi yang langsung menggeledah kamar dan lemari rumahnya. Tapi karena enggak nemuin uang, jadinya dia pun ngambil kartu ATM, buku rekening, bahkan KTP milik Sukatmi yang dia temuin di lemari. Setelah itu ya, dia pun langsung keluar yang langsung menuju ke kota Pacitan dengan menempuh sekitar 1 jam perjalanan. Sampai di sana, dia pun langsung ke bank yang langsung menghadap ke teller buat mengganti PIN ATM milik Sukatmi menggunakan buku rekening dan KTP Sukatmi. Dengan seolah-olah kalau dia adalah Sukatmi yang lupa PIN ATM-nya. Terus entah gimana bisa ya, Ayu pun berhasil nipu teller banknya dan berhasil merubah PIN ATM-nya. Setelah itu dengan mudahnya dia pun langsung narik uang yang awalnya cuma 2 juta. Nah, tapi karena ternyata sisa saldonya yang masih banyak, jadinya dia pun langsung narik 30 juta lagi. Terus setelah pegang uang dengan total 32 juta, di hari itu juga dia pun langsung melunasi semua hutang pinjolnya. Setelah hutangnya lunas ya, barulah dia pun balik ke rumahnya. Sedangkan di malamnya, Sukatmi baru pulang dan sampai rumah itu langsung kaget karena ngelihat kamarnya yang sudah berantakan. Apalagi setelah dicek ternyata kartu ATM, buku rekening, bahkan KTP-nya pun sudah hilang. Karena ini ya, di malam itu mereka pun sempat bingung dan resah. Sedangkan Ayu yang saat itu sedang di rumahnya itu langsung mendatangi rumah Sukatmi yang seolah-olah baru tahu bahkan ikut kaget setelah Sukatmi cerita kalau rumahnya yang baru saja kemasukan maling. Yang rencananya mau dia laporkan ke pihak kepolisian. Nah, dengar itu ya, diam-diam Ayu pun mulai resah sampai akhirnya dia pun pamit pulang. Sampai rumah, Ayu pun benar-benar resah dan panik karena dia juga sadar kalau Sukatmi melapor ke polisi, aksinya pasti akan ketahuan karena dia juga baru sadar. Kalau polisi pasti akan memeriksa histori penarikan tunai yang sudah dia lakukan di salah satu bank yang ada di Pacitan. Yang dia yakini juga kalau dia sudah sempat kerekam CCTV banknya. Karena ini di ujung kepanikan dan keresahannya di malam itu, akhirnya di sinilah muncul ide yang justru lebih gila lagi. Yaitu mengeksekusi keluarga Sukatmi menggunakan racun yang dia yakini enggak akan ketahuan karena ngingat rumah mereka yang ada di lokasi yang sepi. Yang tujuannya supaya Sukatmi dan keluarganya enggak jadi melapor ke polisi. Kronologi. Jadi setelah yakin dengan tekadnya dan setelah Ayu ini beli racun jenis sianida yang dia beli secara online. Setelah itu yang sudah di tanggal 5 Januari 2024 tepatnya di jam 7 pagi, Ayu pun datang ke rumah Sukatmi lagi yang datang kayak biasanya. Sampai sana, Ayu pun ngajak ngobrol Sukatmi yang sedang nyapu di teras samping rumahnya yang ngobrolin hal-hal biasa. Sambil ngobrol, karena Ayu yang ngelihat suami Sukatmi yang sedang nyeduh kopi susu sachet di dapur yang ada di samping rumahnya, yang dia lihat itu sebagai kesempatan. Jadinya dengan terburu-buru, Ayu pun langsung pamit ke Sukatmi mau pulang sebentar. Sampai di rumah, dia pun langsung ngambil sianida yang sudah dia siapkan dengan dibungkus menggunakan daun bunga sepatu. Setelah itu ya, dia pun langsung balik lagi ke rumah Sukatmi yang saat itu situasi rumahnya yang memang kelihatan sepi. Karena Sukatmi dan suaminya sedang di ruang depan rumahnya, sedangkan Rizki anak mereka itu sedang siap-siap ganti baju seragam sekolah di kamarnya. Sedangkan Ayu yang sudah di depan dapur yang ada di samping rumahnya yang ngelihat kopinya masih ada di dapur ya, jadinya dia pun masuk ke dapur yang langsung nuangin sianidanya ke cangkir kopi. Setelah itu dia pun keluar dari dapur dan masuk ke rumah Sukatmi melalui pintu depan yang seolah-olah kalau dia baru balik ke rumahnya. Yang langsung ikutan nimbrung buat ngobrol dengan Sukatmi dan juga suaminya di ruangan depan. Terus enggak lama kemudian, Rizki yang sudah siap-siap berangkat ke sekolah ya itu keluar dari kamar yang langsung ke dapur buat minum kopi yang tadi dibuatkan bapaknya. Nah, terus setelah kopi diminum, Rizki pun sempat ngerasa aneh yang langsung ke depan, nanya ke bapaknya kenapa rasa kopinya aneh. Nah, sedangkan Sukatmi dan suaminya yaitu bingung. Sedangkan Ayu yang juga ada di situ juga kaget karena sebenarnya targetnya bukan Rizki. Sedangkan Rizki yang mulai ngerasa panas dan mual ya itu langsung lari ke dapur buat minum air putih. Dan enggak lama kemudian, karena zat asing di tubuhnya yang mulai bereaksi ya, Rizki pun langsung jatuh bahkan kejang-kejang. Yang ngebuat suasana rumahnya di pagi itu jadi keos karena Sukatmi dan suaminya yang mulai panik. Sedangkan Ayu yang juga seolah panik dan perhatian itu langsung lari ngambil buah kelapa muda ke rumahnya buat dikasih ke Rizki. Tapi karena enggak ada perubahan, bahkan Rizki yang mulai enggak sadarkan diri, jadinya di tengah-tengah kepanikan mereka, Sukatmi dan suaminya pun langsung melarikan Rizki menggunakan motor ke Puskemas Sudimoro. Sampai sana ya, ternyata Rizki sudah enggak tertolong lagi yang sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Pastinya ya, ini pun ngebuat orang tuanya histeris enggak nyangka dengan kepergian Rizki yang begitu cepat dan mendadak. Karena situasi mereka yang syok yang masih diselimuti duka ya, jadinya Sukatmi dan suaminya pun langsung ngebawa Rizki pulang untuk menjalani proses pemakaman. Yang akhirnya Rizki pun sempat dimakamkan di pemakaman umum yang ada di desanya dengan dipenuhi Isak tangis dari keluarga. Apalagi Sukatmi dan suaminya yang masih syok. Sedangkan Ayu juga seolah sedih dengan sandiwaranya di hadapan keluarga Sukatmi yang pada balik itu ya, Ayu ini sudah lega karena merasa aksinya enggak ketahuan. Apalagi yang terpenting menurutnya dari itu semua, Sukatmi dan suaminya pun sudah enggak fokus lagi ngurusin soal ATM dan rekening mereka yang hilang. Yang memang itulah tujuan utamanya melakukan itu semua. Terungkap. Jadi setelah selesai proses pemakaman, Sukatmi dan suaminya di rumah yang mulai ngerasa sepi dengan hilangnya Rizki. Yang padahal anak semata wayang mereka ya, itu mulai berpikir soal apa penyebab yang sebenarnya yang ngebuat Rizki keracunan setelah minum kopi. Karena mulai merasa mengganjal, jadinya Sukatmi dan suaminya pun baru melapor ke pihak kepolisian di Polsek Sudimoro. Di sana ya, mereka pun menceritakan semuanya soal apa yang dialami Rizki yang diduga kalau kepergian Rizki bukan sebagai kematian alami. Karena ini, polisi pun langsung mendatangi rumah mereka buat ngecek apakah ada indikasi yang mencurigakan. Nah, terus karena kebetulan gelas kopi yang diminum Rizki masih utuh, jadinya polisi pun langsung ngamanin gelas kopinya untuk diperiksa secara forensik di Labfor Polda Jawa Timur. Setelah diperiksa, hasilnya pun menyatakan adanya kandungan asing berupa sianida yang ada di kopinya. Yang mana polisi pun mulai menduga adanya pelaku di balik itu semua. Terus karena adanya indikasi kasus pembunuhan, jadinya kasus ini pun mulai ditangani pihak kepolisian di Polres Pacitan dengan bantuan Polda Jawa Timur. Nah, jadinya ya, polisi pun mulai melakukan penyidikan dengan memeriksa saksi dan juga menggunakan metode SCI atau Scientific Crime Investigation untuk ngumpulin bukti secara ilmiah dengan analisa digital secara forensik. Terus setelah mendapat izin keluarga, di tanggal 11 Januari 2024, polisi dan tim forensik pun langsung melakukan ekshumasi atau pembongkaran makam Rizki. Untuk diotopsi dengan diselidiki secara forensik di Labfor Polda Jawa Timur. Yang mana hasilnya pun ya menunjukkan adanya zat asing yang sama yang juga ditemukan di kopi tadi yang juga sebagai penyebab kematiannya. Nah, karena suami Sukatmi yang ngebuat kopinya, jadi awalnya dia pun sempat dicurigai sebagai pelaku sampai diperiksa. Nah, tapi karena memang bukan dia pelakunya ya, jadinya enggak ditemukan bukti apapun yang mengarah ke dia. Karena ini awalnya polisi pun sempat ngalamin kesulitan. Tapi petunjuk demi petunjuk pun mulai kelihatan itu setelah Sukatmi dan suaminya yang ngaku beberapa hari yang lalu rumah mereka sempat kemasukan maling yang berhasil melarikan kartu ATM, buku rekening, bahkan KTP Sukatmi. Dari sini polisi pun mulai menghubungkan kasus yang dialami Rizki dengan kasus kemalingan yang mereka alamin. Yang diduga adanya keterkaitan di antara dua kasus ini karena jarak waktunya yang cukup dekat. Jadinya dengan bantuan pihak bank, polisi pun langsung melacak seluruh aktivitas di rekeningnya yang ternyata beberapa hari yang lalu tepatnya di tanggal 4 Januari, adanya pergantian PIN ATM Sukatmi dan juga penarikan tunai dengan total 32 juta di sebuah bank yang ada di kawasan kota Pacitan. Karena ini polisi pun langsung mendatangi banknya untuk memeriksa semua CCTV di tanggal 4 Januari lalu yang diperiksa dengan menyesuaikan waktunya. Dari sini barulah kelihatan seorang wanita yang melakukan pergantian PIN di banknya dan juga melakukan penarikan tunai di mesin ATM banknya. Setelah itu polisi pun langsung nunjukkin rekamannya ke Sukatmi dan juga suaminya. Nah, pas mereka yang ngelihat rekaman itu ya, mereka pun kaget karena memang kenal dekat dengan wanita itu ya si Ayu yang sebagai tetangga dekatnya. Apalagi yang ngebuat mereka semua makin curiga ya, Ayu juga salah satu orang yang ada di rumah mereka saat kejadian yang nimpa Rizki. Karena ini ya, dugaan pun makin kuat soal adanya hubungan antara dua kasus yang dialami keluarga Sukatmi. Karena ini polisi pun langsung mendatangi rumah Ayu yang mana dia pun langsung dibawa ke Polres Pacitan untuk diperiksa dan juga diinterogasi. Nah, karena bukti rekaman CCTV yang sudah cukup jelas, jadinya ya Ayu pun langsung mengakui sudah melakukan pencurian di rumah Sukatmi. Sedangkan soal kasus kedua, awalnya Ayu ini masih enggak mengakui sebagai pelaku soal apa yang dialami Rizki. Nah, tapi saat polisi memeriksa HP-nya ya, polisi pun nemuin histori transaksi pembelian sianida secara online yang sempat dia lakukan. Dari sini barulah Ayu pun mulai pasrah yang akhirnya mengakui dan menceritakan semuanya. Yang tega dan nekat meracuni keluarga Sukatmi untuk mengalihkan perhatian mereka supaya enggak melaporkan soal pencurian yang sudah dia lakukan. Dan dia juga ngakuin melakukan pencurian itu karena sudah di ambang stres karena enggak bisa membayar hutang pinjolnya yang sudah berjumlah sebesar 32 juta. Terus setelah semuanya terbukti kalau Ayu adalah pelaku di balik ini semua, jadinya ya, dia pun mulai ditetapkan sebagai tersangka. Sedangkan Sukatmi dan suaminya itu benar-benar kaget karena ternyata bukan cuma sebagai pelaku pencuri di rumah mereka. Tapi Ayu juga ternyata pelaku yang sudah menghabisi Rizki yang padahal anak mereka satu-satunya. Apalagi mereka juga enggak nyangka karena sebelumnya memang sama sekali enggak curiga dengan Ayu. Karena saat kejadian ya, Ayu juga sempat seolah khawatir bahkan sampai membantu ngasih air kelapa ke Rizki saat keracunan. Apalagi Ayu juga seolah berduka dari apa yang terjadi yang ternyata dialah pelaku di balik ini semua. Yang padahal Ayu yang sebagai tetangga dekat mereka sudah dianggap kayak keluarga sendiri. Karena ini, karena saking kecewanya, Sukatmi dan suaminya pun nolak untuk memaafkan Ayu. Bahkan nolak Ayu balik ke wilayah kampungnya karena orang kayak Ayu dianggap enggak pantas ada di sana. Sedangkan Ayu setelah menjalani pemeriksaan, dia pun mulai menjalani persidangan demi persidangannya di Pengadilan Negeri Pacitan. Nah, terus di tanggal 10 September 2024 setelah terbukti melakukan pembunuhan berencana dengan Pasal 340 KUHP, akhirnya Ayu pun dijatuhi hukuman 18 tahun penjara. Hukuman yang lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum yang sempat nuntut hukuman 20 tahun penjara untuk Ayu. Nah, itu karena hakim menilai Ayu yang seorang ibu yang memiliki anak yang masih berusia 2 tahun itu menjadi pertimbangan hakim untuk meringankan hukumannya. Sedangkan Rizki kembali dimakamkan di pemakaman desanya. Ya, semoga Husnul Khotimah buat Rizki ya. Semoga ditempatkan di tempat terbaik. Dan buat orang tuanya juga semoga diberi ketabahan dari cobaan yang enggak mudah ini. Ya, semoga ada hikmah baik dari musibah yang nimpa mereka. Amin, amin. Jadi inilah akhir dari kasus ini. Semoga ada pembelajaran yang bisa kita petik ya, terutama buat kalian-kalian yang kecanduan pinjol atau yang menggunakan pinjol dengan enggak bijak.
[15:21]Tapi yang salah bukan pinjolnya ya, karena kalau pinjol digunakan secara bijak dengan alasan yang kuat, mungkin pinjol bisa menyelesaikan masalah. Contoh ada seseorang perantau yang introvert yang enggak punya tabungan tapi punya gaji. Tapi sebelum gajian dia kecelakaan yang harus menjalani penanganan medis yang membutuhkan biaya 30% dari gajinya. Sedangkan penanganan medis secara darurat enggak mungkin nunggu gajian, kan? Nah, jadi demi keselamatan, mungkin pinjol bisa jadi jalan keluar masalah. Tapi dengan catatan ada kepastian dan kapasitas buat melunasinya. Yang jangan menggunakan pinjol karena kebiasaan, gaya hidup atau buat kebutuhan sehari-hari. Ya, karena itu sudah kebiasaan juga sih jatuhnya. Apalagi kalau kalian enggak punya kapasitas buat melunasinya. Misalnya enggak punya pemasukan atau jumlah hutang yang di luar kapasitas pemasukan kalian, ini nih yang bahaya. Makanya yang salah itu bukan pinjolnya. Lagian ya, pinjol itu di luar kontrol kita juga kan. Nah, jadi lebih baik kita salahkan atau kita rubah apa yang bisa kita kontrol ya diri kita. Makanya yang salah user-nya. Karena kalau kita nyalain pinjol, ibarat kita nyalain pisau saat terjadi penusukan. Karena pisau dan pinjol sama-sama alat yang bisa digunakan untuk hal-hal positif dan juga negatif. Gitu sih, menurut aku loh ya. Tapi apapun itu ya, semoga kita semua enggak ada yang menggunakan pinjol. Karena kayak gimana pun enggak menggunakan pinjol itu jauh lebih baik sih. Makanya sekali lagi ya, please dijadikan pembelajaran dengan harapan kasus-kasus kayak gini jangan sampai terulang lagi di kemudian hari. Terutama, terutama nih ya buat kita-kita yang sudah menjadikan kasus-kasus kayak gini sebagai pembelajaran. Okelah sampai sini saja pembahasan kita soal kasus ini. Sampai ketemu di kasus selanjutnya karena aku sudah siapkan beberapa kasus yang kayaknya harus kita bahas di sini juga. Okelahku Riswa, Bye bye.



