[0:12]Kalau ilmu dasarnya saya enggak paham, Mas, karena saya bukan ahlinya ya, tapi berdasarkan pengalaman dan selama ini yang saya lakukan. Itu ada buktinya, Mas. Jadi satu lubang. Tanahnya rusak itu, karena beliau sampai menjumpai tanamannya itu dipupuk apapun, itu tetap kerdil. Kerdil. Seolah-olah enggak mau menyerap pupuk yang ada itu. Iya, benar-benar. Jadi yang kerja sampai kasihan, malu. Ikut malu. Nuwun sewu.
[0:46]Oke, baik sahabat petani semua, kembali lagi bersama saya Zaki di channel Mitra Bertani TV. Jika di video pertama kami ya, ini kita sudah membahas tentang bagaimana cara meminimalisir biaya operasional. Kemudian bagaimana cara kita mengelola tanah supaya bisa tetap berproduksi dalam jangka waktu yang lebih lama gitu. Kemudian kita juga membahas tentang tantangan-tantangan ternyata bukan kemustahilan untuk berbudidaya di lahan bekas tanpa olah tanah sekalipun. Tentunya dengan pemahaman-pemahaman atau dengan penambahan bahan-bahan yang telah kami disebutkan di video tersebut itu. Jadi silakan teman-teman tonton video itu terlebih dahulu baru menonton video kami yang ini, karena video ini adalah saling berkaitan. Pak Sofar, jika di video pertama kita telah belajar bagaimana cara mengolah tanah atau mengembalikan tanah supaya tetap berproduksi sesuai dengan kemampuan tanah atau kita optimalkan kembali. Lahan milik Pak Sofar ini awalnya sudah rusak dan alhamdulillah sudah baik kembali atau sudah bisa diperbaiki. Kemudian yang menarik, Pak Sofar. Ini lahan bekas, tapi kalau melihat lubang tanamnya seperti tidak ada lubang tanam yang kosong. Hampir setiap lubang tanam itu ditanami. Ini tumpangsari nya ada apa saja, Pak Sofar? Yang paling bawah itu lobis ya, Mas ya. Lubis ini lobis yang sudah dua kali. Jadi nanti kalau butuh kesahihan bisa tanya yang kerja. Ini sudah yang kedua, jadi lobis kemudian masuk itu cabe dengan jarak tanam 40, 20, 40, 20, 40, 20 ya. Kemudian yang tengah itu tomat. Tomat itu jaraknya 20 cm, 20, 20. Ini sebenarnya sulit percaya sahabat petani semua kalau kita hanya mendengar. Tapi karena saya sudah melihat, saya sangat percaya dengan Pak Sofar ini. Jadi jarak tanam untuk tanaman cabe ini adalah 40, 20. Kalau seperti metode nya Pak Slamet ya, Pak ya? Pak Slamet, betul. Jadi 21, 21. Kalau Pak Slamet 21, 21, kalau saya 40, 20, 40, 20. Jadi 40-nya berjauhan kemudian yang 20 dia berdekatan. Kemudian nanti 40. Nah, kemudian ditumpangsari kan dengan tiga tanaman, ada tanaman lobis, ada tanaman cabe merah keriting, kemudian ada tanaman tomat. Tanaman lobis ini adalah sudah yang kedua. Kemudian kalau untuk tanaman cabainya saat ini masuki fase generatif ini belum panen. Kemudian tanaman tomatnya. Tanaman tomatnya ini mungkin tinggal menghitung hari dia akan panen. Menghitung hari.
[3:29]Yang membuat saya terheran-heran adalah jarak tanamnya, Sahabat Petani semua. 20 cm untuk tanaman tomat itu sesuatu yang sangat asing bagi saya, karena kalau tomat biasanya itu jaraknya direnggangkan atau agak dijarangkan. Kalau Pak Sofar, kenapa memakai jarak tanam yang terlalu rapat, menurut saya? Ya, satu ya, Mas ya. Karena keterbatasan lahan. Mungkin kalau lahan masih bisa disiasati kalah, karena banyak juga lahan yang tidak tergarap gara-gara tenaga kerja. Lah ini untuk menyiasati tenaga kerja, jadi sekali ngobat itu juga dapat banyak. Sekali kerja matun juga sudah dapat tanaman banyak. Pokoknya melangkah ke sini sudah dapat, sudah dapat cabe, sudah dapat dua tomat gitu. Sudah dapat dua tomat gitu. Jadi intinya itu mengoptimalkan lahan gitu ya, Pak ya. Kayak satu lahan ini bisa ditanami beberapa dan terawat semua gitu. Jadi kita tidak harus pindah-pindah lahan untuk menanam tiga varietas atau tiga komoditas, kita cukup di satu lahan bisa merawat secara bersamaan. Atau bahkan yang dirawat ini kalau spray hanya cabainya ini, Pak. Cabainya. Betul. Yang inti sebenarnya ini tanaman inti itu cabe. Tomat itu kata orang dan yang saya alami itu gampang uripe. Selama kita tidak terlambat dalam pengobatan disiplin lah ya. Kalau memang sudah 7 hari ya diusahakan 7 hari. Kalau ini 7 hari, jadi hari yang ketujuh mesti ngobat. Ini saja ini agak terlambat karena kemarin hujan. Kemarinnya hujan. Nah, ini tadi sebenarnya juga sudah enggak akan ngobat karena hujan, tapi karena sudah terlambat ngobat jadi tetap walaupun hujan tetap di obat. Oke, jadi sahabat tani semua ini tumpang sari yang bisa dikategorikan ya cukup nekat sih sebenarnya. Tiga tanaman sekaligus kemudian harusnya juga kalau tanaman tomat di tengah apalagi jaraknya rapat itu nanti yang akan sedikit kalah tanaman cabenya. Tapi ternyata ini juga enggak kalah ini tetap bisa optimal ya, Pak ya? Iya, alhamdulillah bisa optimal ini. Makanya ini harus digancang, Mas. Digantuk rafia nanti satu lagi yang untuk tomat. Karena ini tomatnya kayaknya masih ngulur-ngulur ini. Ini, Pak Sofar, karena ini lahan bekas ya, tanaman atau komoditasnya sampai tiga jarak tanamnya cukup rapat. Kemudian apakah ada dampak dari lahan bekas ini, Pak? Misalkan lahan ini kan kemarin kan lahan bekas untuk tanaman cabe dan tanaman yang lain-lainnya. Kemudian apakah ada hama yang mungkin tertinggal di situ atau penyakit yang mungkin bawaan dari musim tanam sebelumnya itu apakah juga ada? Ya mesti ada lah ya, Mas. Di situlah kita harus sudah hati-hati sejak dini, dari benih. Benih yang akan ditanam itu kita perlakukan khusus. Kalau bisa yang saya praktekkan itu benih saya godok. Setidaknya malam itu sebelum tidur ditaruh di gelas, misalnya satu gelas cukup ya satu gelas, kalau enggak dua atau tiga. Kemudian dikasih air mendidih lah dari termos juga enggak apa-apa. Kemudian paginya baru di Toske baru bawa, bawa ke sawah kita tanam. Berarti benih itu kita, istilahnya direbus ya, Pak? Dikasih air yang benar-benar panas, Pak. Benar-benar panas, benar-benar umop, Mas. Apa itu enggak mengurangi daya tumbuhnya atau yang saya alami sampai tanaman ini ya sampai yang kerja juga pada bingung, Pak Sofar ini. Tapi karena sudah biasa jadi sudah sudah biasa. Ke sini juga masuk umop itu biasa. Nuwun sewu, Mas. Sekarang jenengan dahar tomat cabe. Kemudian BA B nanti blotoknya nanti diambil itu masih tumbuh, Mas. Itu sudah mulai apa melalui berapa proses itu, Pak? Sudah dimasak, dimakan di dalam Lampung sudah di terus-teruskan juga. Keluar masih tetap, bisa tumbuh. Bisa tumbuh. Ini logikanya seperti itu ya, Sahabat Petani semua, jadi untuk benih itu beliau spesialkan. Jadi untuk di lahan ini kalau beliau mau menyemai itu direndam dalam air panas, air panas, air panas itu. Jadi misalkan ini benih, kemudian ditambahkan air panas ya, Pak ya? Kemudian itu didiamkan, ditinggal tidur satu malam, kemudian keesokan harinya baru ditiriskan gitu ya, Pak ya? Oke, jadi ya itu sesuatu yang kadang mungkin di luar nalar, tapi beliau sudah melakukan itu berkali-kali. Dampaknya, salah satu contoh konkritnya adalah di tanaman CMK ini. CMK ini biasanya sudah sangat terkenal dengan virus gemininya atau virus kuninya. Kalau di lahan jenengan, Pak, kira-kira ada atau tidak, Pak? Ya, tetap ada, Mas. Tapi kalau dibandingkan dengan yang lain, yang saya lihat tetangga itu pohon saya alhamdulillah masih dikatakan masih aman. Jadi kalau ini kalau saya hitung sekitar kurang lebih kalau saya ngitung dari belinya packingnya itu sekitar 15.000 tanaman ya, cabe. Itu kemarin tak hitung sampai hari Sabtu itu 111. 111 tanaman dari sekitar 15.000. Iya. Itu biasanya ada talinya kuning kalau yang kuning, nanti ditandai itu, Pak. Ditandai.
[10:04]Tingginya ada perlakuan khusus, tapi enggak tahu nanti perlakuan nya seperti apa. Kemudian yang layu itu 46. 46 dari total 15.000. 15.000. Oke, jadi Pak Sofar ini. Wah, dahsyat. Jadi Pak Sofar ini memang sangat detail ya, Sahabat Petani semua, jadi sampai jumlah tanaman dan yang bermasalah itu ada hitungan detailnya. Jadi untuk yang layu sekitar 46, kemudian yang kuning itu sekitar 111, 111, 100 sekian lah, pokoknya last-lasan itu. Padahal di daerah sini sudah endemik, Pak, terhadap virus. Termasuk sudah, karena yang pinggir jalan itu kemarin juga kebetulan ya mungkin ya saya enggak tahu ya, itu pada kuning-kuning. Itu yang atasnya juga sudah, tapi ini anu, Mas. Jadi hanya untuk cabe. Jadi perlakuan benih itu saya memang mengkhususkan sekali spesifik itu cabe yang tadi saya rendam pakai air mendidih itu cuma cabe. Karena permasalahan yang paling konkrit itu adalah di serangan virusnya. Ya, kalau kayak lobis kayak tomat itu saya tidak saya santai gitu. Apa jenengan meyakini bahwa serangan virus itu dimulai dari benih, Pak? Kebetulan gini Mas, jadi kalau ilmu dasarnya saya enggak paham Mas, karena saya bukan ahlinya ya. Tapi berdasarkan pengalaman dan selama ini yang saya lakukan itu ada buktinya, Mas. Jadi satu lubang itu ada tiga tanaman yang satu kena virus, yang dua tetap aman sampai detik ini nanti bisa diperiksa. Kemudian sebelahnya ada dua tanaman yang satu kuning, yang satu tidak. Ada lagi yang kuning sudah saya puntes, yang ini enggak, bawahnya semi juga tetap kuning. Jadi yang ini sudah saya potong, semi nya tetap kuning, tapi yang satu tetap aman. Dan ini ada paling enggak ada enam lah kalau bisa diperisani nanti, ada buktinya. Jadi Pak Sofar ini memang berkeyakinan bahwa tingkat serangan virus itu juga bisa dimulai dari benih ya, Pak ya? Kalau misalkan ini menular dari tanaman ke tanaman harusnya yang di satu lubang yang sama itu harusnya juga kuning semua gitu ya. Kuning. Tapi realitanya di sini ada yang isi dua, ada yang isi tiga tanaman, yang satu kuning yang dua atau yang satunya itu tetap hijau ya, Pak ya, tetap sehat dan tetap aman. Dan dari hal tersebut beliau meyakini bahwa ya mungkin ada pengaruhnya, tapi mungkin tidak terlalu tinggi ya. Yang paling tinggi itu dari benih, ketika benihnya itu sudah sehat atau sudah steril, insyaallah nanti tanamannya juga akan tumbuh dengan baik atau tumbuh dengan baik. Mungkin itu, Sahabat Petani semua, yang bisa kami sampaikan terkait dengan varietas atau tentang benih atau perlakuan benih yang mungkin bisa kita adopsi, karena permasalahan di mana-mana adalah serangan virus kuningnya. Dan ini bukan benih yang tahan terhadap serangan virus, tapi dengan perlakuan tersebut, alhamdulillah serangan virus bisa dikategorikan minim. Oke, Sahabat Petani semua. Yang paling menarik di sini adalah sebenarnya adalah tentang pemberian nutrisinya atau bagaimana cara mencukupi kebutuhan nutrisi dari tanaman yang banyak ini, Pak. Padahal ini lahan bekas dan sudah bekas berkali-kali secara populasi di sini sangat tinggi atau sangat banyak. Bagaimana cara jenengan mencukupi kebutuhan nutrisinya? Padahal tadi kalau untuk kocor saja ini baru satu kali ya, Pak ya? Satu kali. Baru satu kali dan itu tidak menggunakan pupuk kimia, itu hanya menggunakan Trichoderma, kemudian ditambah dengan asam humat. Kemudian untuk mencukupi kebutuhan nutrisinya, Pak, dimulai dari fase vegetatif, gimana, Pak? Saya pernah juga diminta pendapatnya di video itu kemarin, saya sampaikan. Dan kemarin ada petani pemula juga nanya-nanya juga, saya sampaikan apa adanya. Setelah 15 hari, 15 hari setelah tanam, 15 H ST itu mulai diobat ya. Lah, saat ngobat itu hanya satu tok, Mas, Mancozeb, bahan aktifnya. Mancozeb, kemudian ditambah penyubur, saya pakainya itu Morden Fol. Saya tidak apa, mohon maaf ini ya, saya bukan promosi obat, tetapi yang saya lakukan seperti itu. Dari sejak ada Morden Fol dan Kalinet, saya pakai itu. Mohon maaf ini, para sedulur dan petani. Jadi apa yang saya lakukan ini saya sampaikan apa adanya, bukan saya promosi. Jadi di umur 15 hari itu Morden Fol dan Mancozeb ya, Pak ya, yang digunakan. Hanya dua bahan itu? Dua bahan itu. Kalau boleh tahu, Pak, itu setiap drum atau setiap tangki itu berapa? Kalau satu drum itu 12 sendok Mancozeb, kemudian Morden Fol-nya itu 12 tutup. Jadi 12 tutup dan 12 sendok untuk 200 liter air, untuk 200 liter air. Itu biasanya bisa jadi 12 tank, kadang kalau yang tank satunya itu bisa 15 tank. Oke, jadi kalau untuk pakai tank kasar atau gambaran singkatnya adalah satu tutup dan satu sendok. Satu tutup, satu sendok. Itu cukup, Pak. Menurut saya sudah cukup lah ya. Dengan dosis seperti itu sudah cukup dan tanaman sudah bisa tumbuh dengan optimal. Itu berlangsung sampai tanaman nanti berbunga. Berbunga. Ketika sudah berbunga nanti digantikan menggunakan Kalinet itu. Kalinet. Itu dosisnya dua tutup. Berarti dua kalinya. Dua kalinya. Jadi kalau Kalinet itu karena itu sudah generatif ya butuh asupan gizi yang lebih karena harus ada pembungaan sampai pembungaan sampai pembungaan itu. Kalinetnya dua tutup, kemudian Mancozeb-nya dua sendok, kemudian Azoksibin sama Difenoconazole-nya itu 50 ml. Kadang sampai 100 mili per 200 liter. Oh, per 200 liter. Kalau yang obat itu yang saya pakai dua tutup per satu drum tambah satu, Mas. Apa? Kover WP. Itu dimulai sejak berbunga atau dari awal? Enggak, kalau awal enggak, berbunga. Kalau mulai berbunga sampai nanti akhir panen selalu yang sudah-sudah saya pakai itu Kover WP. Oke, jadi kita akan mencoba merincikan kembali kalau bahan-bahannya tadi sudah disebutkan semua dan tidak banyak atau tidak neko-neko sebenarnya bahan yang digunakan tadi ada Morden Fol, kemudian ada Mancozeb di awal. Morden Fol, manfaatnya untuk apa, Pak? Morden Fol yang saya tahu itu sebelum saya tahu Morden Fol, Morden Fol itu kan saya tadinya hanya dibaca-baca loh, Mas, ya. Di toko obat apa gitu, nutrisi apa itu, tapi kandungannya itu lengkap sekali. Kemudian saya coba. Lah, dari sisi fisiknya saja sudah kalau dibuka itu kadang jebluk loh, Mas. Wah itu hebat itu. Iya. Padahal sampai kaget yang nyemprot loh gitu, kaget. Iya, kaget. Wah, mungkin ini bagus mungkin. Setelah dicoba, oh iya, ternyata terbukti. Kalau dulu kan ada lah ya, ada Gandasil D, D, dan sebagainya. Kemudian pakai nutrisi ini, pakai ini, ya semua sih sudah saya coba. Tapi di akhir-akhir ini setelah saya menemukan itu ya, saya cukup percaya karena terbukti. Buktinya itu kalau boleh diceritakan, buktinya tadi tanaman itu seperti apa? Contohnya tomat ini sebenarnya menurut saya itu over, karena waktu kecil harusnya itu saya kan nyuruh pekerja ya, yang obat kan masih baru itu. Saya suruh nyemprot lobis Morden Fol sama Mancozeb. Ternyata semua diobat. Selalu gitu. Berarti dulu kan enggak, tomat enggak setinggi ini, Mas. Makanya saya sekarang terulang lagi lanjaran nya lebih panjang karena ini over ini tertumbuk ini. Lah, mungkin gitu dari. Kemudian kalau dilihat daunnya, ini yang benar-benar saya ya, Mas ya, senang, Mas. Jadi umpama kalaupun capek ya memang capek ya, tapi udah senang dulu lihat hasilnya. Hasilnya. Lihat dari daunnya itu bikin kita senang gitu ya, Pak ya. Jadi kalau dilihat dari milik Pak Sofar ini juga cukup bagus warna daunnya hijaunya itu hijau apa ya, hijau pas lah ininya. Hijaunya itu hijau pas lah ini ya, dan tebal dan dari segi penyakit juga sedikit tidak banyak dijumpai penyakit di sini, padahal dari bahan yang digunakan tadi cukup sederhana. Hanya menggunakan Mancozeb di awal, kemudian tadi menggunakan Kalinet juga. Manfaatnya itu untuk apa kalau boleh tahu? Nah, kalau dilihat ya, Mas ya, ini kan yang saya tahu dulu itu yang namanya OR itu kecil banget, Mas. Panjang. Sejak saya pakai Kalinet itu bunganya juga tambah, jadi. Kemudian buahnya tak rasakan gitu ya. Kayak lebih tebal, tapi yang kemarin sudah terbukti. Yang sebelum ini itu sudah terbukti hanya saya tidak tahu itu Kalinet produk apa, Morden Fol, saya kan enggak butuh itu, Mas. Yang saya butuhkan adalah buktinya saja. Khasiatnya, khasiatnya, khasiatnya dan itu terbukti. Dan ini saya sampaikan pada teman-teman yang kemarin istilahnya musyawarah gitu, musyawarah untuk nanam petani-petani pemula itu ya saya sampaikan apa adanya. Jadi kalau dari Kalinet ini kalau memberikan efek bunganya tambah banyak. Iya, bisa diperisani lah, Mas, ya. Ini. Kalau bunganya itu enggak rontok. Jelas kuat lah. Enggak rontok, kemudian dari ketebalan ya, Pak ya, dari ketebalan itu agak sepertinya lebih tebal, terus lebih irit. Lebih iritnya gimana, Pak? Ya, sekarang kalau dikalkulasi hitung-hitungan ya. Sekarang umpama ada penyubur atau nutrisi yang lebih bagus, katanya lebih bagus gitu. Kemudian harganya juga lebih murah, tetapi tatkala diaplikasikan dia butuh sekian mili per liter itu kan hasilnya mahal. Lah kalau Kalinet, Morden Fol itu cukup satu tutup per tank, itu kan irit sekali. Kalau dikalkulasi menjadi lebih hemat, lebih hemat. Hasilnya juga tidak kalah dengan. Mungkin itu terkait dengan nutrisi. Kemudian tadi juga menambahkan Kover WP, Pak. Manfaatnya itu untuk apa, padahal jenengan tadi sudah menggunakan fungisida. Pada kemudian yang generatif malah sudah menggunakan yang kontak, kemudian sudah ditambah dengan yang sistemik juga, tapi kenapa menambahkan Kover WP, Pak? Ya Allah, Mas, Mas, saya itu dulu nyari Kover WP itu enggak tahu, dulu baca apa, terus lihat apa, kok ya saya tiba-tiba yakin dengan Kover WP. Sampai saya online itu kan saya enggak enggak biasa belanja online, Mas. Yang saya suruh itu yang kerja di persepakatan. Ngubung-ngubung ternyata orang Wonosobo yang jualan. Kita ke sana enggak boleh, kalau sudah ada ikatan dengan Shopee waktu itu. Akhirnya saya nemu bosnya dengan lobi-lobi dan sebagainya, saya beli dua dos, Mas. Bisa dicek namanya di toko Juwita Nursery, Juwita Nursery, sebelum tertekan, saya ambil semua. Lah dari situ ya, mungkin ini jalannya gitu. Jadi karena saya kan petani sudah lawas, Mas, sejak 2002 itu saya sudah petani. Jadi kalau jadi selalu butuh apa ya, istilahnya itu pengembangan pengetahuan-pengetahuan baru. Makanya saya selalu ngomong mana sih yang terbaik, mana yang termurah, saya tak ikut. Iya. Saya juga saya sampaikan apa yang saya lakukan ya ini. Lah Kover WP itu bagi saya itu cukup mengamankan tanaman dari cuaca ekstrem. Baik itu cuaca panas, cuaca hujan, tanpa saya baca isinya, tapi saya dulu itu enggak tahu dari siapa, dapat dari mana, baca atau apa, kok dengan Kover WP itu saya enggak usah enggak butuh perekat. Enggak butuh. Enggak butuh. Jadi dulu itu sebelum saya kenal Kover WP ini daun tomat itu kalau terlambat ngobat, apalagi cuaca kayak gini itu sudah geseng, Mas, hitam, hitam-hitam gitu, hitam-hitam. Sekarang alhamdulillah bisa diperisani lah. Kalau pun ada yang kuning itu karena sudah tua. Tua, nggih. Tua, nggih. Kalau pun ada itu yang di dalam banget mungkin tidak tidak kena. Terjangkau oleh. Tidak terjangkau, iya. Jadi kalau dari segi manfaat sudah jelas merasakan, Mas. Jadi mungkin itu ya, Sahabat Petani semua, bertani dengan secara sebijak mungkin, kemudian memakai segala kekuatan yang mungkin kita bisa. Jadi akal kita silakan kita mainkan, tenaga juga kita. Bagaimana berbudidaya itu yang penting hatinya senang, kemudian tanamannya juga kita upayakan seoptimal mungkin, tapi biayanya seminimal mungkin. Seminimal mungkin. Mungkin itu, Pak Sofar, sebelum kita akhiri mungkin ada pesan yang ingin disampaikan untuk Sahabat Petani semua? Para sedulur tani, teman-teman tani, jadi petani itu memang harus sabar, telaten, tekun, dan banyak bersyukur. Kita enggak usah mengandalkan siapa-siapa, apalagi mengandalkan pemerintah. Pemerintah saja sekarang antara Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian juga beritrok terus, kan, Mas. Harusnya pemerintah itu bisa memastikan pasar, kepastian harga itu berapa. Petani enggak butuh yang tinggi-tinggi kok, Mas. Saya secara pribadi ya, 22.000 satu kilo untuk cabe atau 25.000 itu sudah cukup, Mas. Enggak usah sampai 90, sampai 100, di eceran sampai 150, kasihan yang beli. Tapi jangan kemudian habis 100, kemudian hanya 7.000 wah itu masalah. Jadi sekarang yang penting kita kompak, saling rembugan, saling genduk-genduk rasa. Mana yang terbaik, mana yang paling murah, yang dipakai yang apa. Ah, dari situ kita insyaallah ke depan akan lebih baik. Enggak usah ngeper-ngeper, enggak usah kemudian kita grogi dengan persoalan-persoalan ada petani organik. Mana ada. Sekarang kalau saya tanam organik satu hektar, yang mau beli siapa? Apakah pemerintah mau jamin, Mas? Enggak ada kan? Kemudian apakah pemerintah mengeluarkan pupuk organik atau obat organik? Terus kalau ada penyakitnya yang mau ngobati siapa? Kan kita juga yang pusing. Ah, kecuali pemerintah nutup petrokimia, pupuk kimia misalnya. Nah, itu beda lagi. Itu beda masalah. Nah, sekarang harus gembar-gembor harus organik-organik, tapi jaminannya mana? Yang mau jamin siapa? Sementara petani itu kan orang kecil, Mas. Bisanya ya kayak gini lah, pokoknya jangan pernah ngangkuh, bersyukur dan bersyukur. Amin. Insyaallah nanti. Kita harus selalu senantiasa bersyukur atas apa yang kita dapatkan gitu ya. Tugas kita hanya untuk merawat tanaman dan mengupayakan sebaik mungkin. Tentu kita usahakan hasilnya tetap maksimal, masalah harga ya seperti tadi kita sampaikan, tidak ada kepastian terkait dengan harga. Yang bisa kita optimalkan satu-satunya adalah mengoptimalkan supaya tanaman ini dapat berproduksi sebanyak mungkin. Jadi biayanya kita tekan seminimal mungkin, tapi hasilnya sebisa mungkin kita ikhtiarkan sebaik mungkin. Ya, sekarang gini, Mas. Kalau kata Oma Irama, jumlah penduduk Indonesia itu sudah 150 juta, 130 juta. Dulu. Sekarang sudah berapa saya enggak tahu. Semua butuh makan dan itu yang mengolah kan petani. Tapi kenapa petani masih kasihan. Lah ini perhatian dari pemerintah mohon yang seperti ini itu harusnya ada perhatian khusus. Enggak usah kemudian wah, subsidi, subsidi ina, ini, ina, ini, tapi nyatanya petani tetap kasihan. Coba subsidi untuk biaya ongkos harian para pekerja pertanian misalnya. Lah itu di tadi. Semoga. Ada apa yang kita inginkan bisa diijabahi atau diamin. Amin, amin, amin, amin, amin. Kemudian ada titik temu dan ada perhatian khusus khususnya dalam dunia pertanian ya, Pak ya. Semoga petani di Indonesia juga semakin makmur, karena ketika petaninya enggan untuk bertani itu akan menjadi permasalahan besar. Besar. Karena pertambahan penduduk itu akan diikuti dengan pertambahan kebutuhan pangannya. Sementara kalau petaninya enggak mau bertani, terus mereka mau makan. Ah, ya. Mungkin itu yang bisa kami sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga video ini bermanfaat dan apabila video ini bermanfaat jangan lupa klik like, comment, share dan jangan lupa subscribe untuk tidak ketinggalan info terbaru dari kami. Terima kasih, Pak Sofar. Sama-sama, Mas. Bagi-bagi. Terima kasih untuk. Saya juga terima kasih sekali. Terima kasih untuk Sahabat Petani semua yang telah menonton video ini dari awal sampai akhir, semoga video ini bermanfaat dan apabila video ini bermanfaat jangan lupa klik like, comment, share dan jangan lupa subscribe untuk tidak ketinggalan info terbaru dari kami. Terima kasih dari saya Zaki, salam Mitra Bertani Indonesia. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dan sampai jumpa di video kami selanjutnya.



