[0:00]CEO Danantara Rosan Roslani merespons pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudisadewa yang enggan membayar utang proyek kereta cepat Jakarta-Bandung pakai dana APBN. Rosan bilang hingga kini belum ada komunikasi resmi antara Danantara dengan Kementerian Keuangan membahas persoalan utang kereta cepat. Rosan menyebut Badan Pengelola Investasi Danantara tengah menyiapkan dua opsi penyelesaian proyek utang kereta cepat Jakarta-Bandung yang dikelola PT KCIC.
[0:32]Makanya saya juga bingung ya karena kita kan lagi evaluasi dan saya kita juga belum dari belum dari antar berbicara ke ke pihak lain apalagi Kementerian Keuangan mengenai hal hal ini. Kita sedang mengevaluasi, kita lagi mencari opsi-opsi kan selalu ada, ada opsi satu, opsi dua gitu. Dan memang dan ini kan melibatkan banyak kementerian lain. Jadi harapannya kita kan biasanya duduk dulu, kita evaluasi opsi mana yang terbaik. Kalau kita kan sistem kerjanya seperti itu. Jadi semuanya itu terstruktur, terukur. Kemudian apa hasilnya baru kita bicara ke publik. Sebelumnya Menteri Keuangan Purbaya Yudisadewa menolak beban utang proyek kereta cepat Indonesia China KCIC ditanggung APBN. Purbaya menilai tanggung jawab pembayaran utang seharusnya dikelola Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia yang menaungi proyek kereta cepat KCIC. Purbaya bilang Danantara sebagai holding BUMN yang sudah memiliki kemampuan finansial dengan dividen hingga Rp80 triliun per tahun, seharusnya bisa mengelola kewajiban keuangan proyek Whoosh. Ini kan KCIC di bawah Danantara kan ya? Kalau di bawah Danantara kan mereka sudah punya punya sudah punya manajemen sendiri, sudah punya apa dividen sendiri yang rata-rata setahun bisa Rp80 triliun atau lebih. Harusnya mereka manage dari situ, jangan ke kita.



