[0:00]Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi wa kafa washolatu wasalamu ala Nabiyyil Mustafa Muhammadin ahli shodqi wal wafaa amma ba'du. Tema kita dalam kajian kali ini adalah Islam Rahmatan Lil Alamin. Diutusnya Rasulullah adalah rahmat bagi seluruh alam semesta. Ini ditegaskan langsung dalam Al-Qur'an, dalam surah Al-Anbiya ayat 107. Wa arsalnaka illa rahmatan lil alamin. Tidahlah aku mengutus engkau, hai Muhammad, melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Apa itu makna rahmat? Rahmat itu makna singkatnya adalah belas kasih. Ya, makna simpel rahmat adalah belas kasih. Kalau makna detailnya rahmat itu maknanya adalah sifat belas kasih dan menyayangi. yang membuat orang yang disayang itu disikapi dengan lemah lembut, dibaiki, dijauhkan dari hal yang membahayakan, dan dibantu menyelesaikan berbagai macam kesulitan. Nah, perhatikan betapa dalamnya ya, makna rahmat yang bersifat rinci. Jadi rahmah itu ada empat unsur. Yang pertama adalah ar-rifqu, kelemahlembutan. Ada unsur kelemahlembutan, disikapi dengan lemah lembut. Yang kedua adalah al-ihsan, berbuat baik. Jadi orang yang dapat rahmat itu dibaiki. Yang ketiga adalah daf'ud dharar, ada unsur menghalau sesuatu yang membahayakan. Jadi orang yang mendapat rahmat itu dijauhkan dari segala hal yang membahayakan. Yang keempat adalah al-ia'anah ala al-masyaq, dibantu melewati kesulitan. Nah, ini yang dinyatakan oleh Ibnu Asyur dalam tafsirnya. Wa ismar rahmah mau duun fil lughatil arabiyati lirriqqatil khathiri wal in'ithofi nahwi hayyin bihaisu tahmilu man itthosofa biha ala rifqi bil marhuumi wal ihsani ilaihi wa daf'i dhorri anhu wa ianatihi ala masyaqq. Kata rahmah dalam bahasa Arab dibuat untuk menjelaskan makna belas kasih hati dan kasih sayang terhadap makhluk hidup. yang membuat orang yang memiliki sifat tersebut bersikap lemah lembut terhadap orang yang disayangi, berbuat baik kepadanya, menghalau bahaya darinya, dan menolongnya menghadapi berbagai kesulitan. Ya. Lebih spesifik lagi, rahmah itu adalah jenis kasih sayang yang sifatnya mutlak. Maksudnya mutlak bagaimana? Yakni tidak dibedakan apakah diungkapkan dengan cara menyakiti tanda kutip menyakiti orang yang disayangi ataukah dengan cara tidak menyakiti orang yang disayangi. Ini yang membedakan dengan ro'fah. Ro'fah itu juga diterjemahkan kasih sayang. Tapi kalau ro'fah, itu adalah belas kasih yang diungkapkan dengan cara yang tidak menyakiti orang yang disayangi. Nah, menariknya Allah itu punya sifat rahmah juga ro'fah. Makanya Allah disebut sebagai zat yang Ar-Rahmanir Rahim itu dipecah dari kata rahmah. Allah juga sifatnya adalah Ar-Ra'uf, yakni memiliki sifat ro'fah. Nah, keduanya itu ada perbedaan ternyata. Kata Al-Askari dalam Al-Furuq Al-Lughawiyah, War-ra'fah aqwa minha fil kaifiyah. Li annaha ibaratun an ishalin ni'am shofiyatan anil alam. Wa ar-rahmah ishalin ni'am mutlakon waqod yakunu ma'al karohah wal alam lil maslahah. Ro'fah lebih kuat daripada rahmah dari sisi kaifiyah. Karena ro'fah itu memberikan nikmat yang bebas dari rasa sakit. Sementara rahmah adalah bentuk memberikan nikmat secara mutlak yang kadang disertai ketidaksukaan dari orang yang disayangi dan rasa sakit untuk kebaikan. Ya. Jadi misalnya seorang ibu ya, melihat anaknya yang masih balita memegang pisau. Kemudian naluri kasih sayang ibu itu khawatir anaknya celaka, kemudian direbut pisau itu. Anak yang menangis menangis merong-rong. Anak kecil mungkin merasa ibunya itu jahat tidak sayang kepada dirinya karena mainannya yang disukainya direbut dengan paksa. Padahal hakikatnya, ibu itu sangat sayang kepada anak karena tahu pisau itu sangat berbahaya bagi anak yang belum dipahami oleh si anak. Nah, ungkapan kasih sayang merebut pisau ini adalah contoh terbaik untuk menunjukkan rahmah. Karena rahmah itu bisa diungkapkan dengan cara yang kadang menyakiti orang yang disayangi, tapi hakikatnya adalah kebaikan. Nah, ini beda kalau misalnya seorang ibu melihat anak kecilnya kehujanan, menggigil kedinginan, terus segera dimandikan air hangat, dihanduki, diambil, dipakaikan jaket, dinyalakan perapian, dibuatkan susu cokelat hangat dan sebagainya. Ungkapan kasih sayang semacam ini disebut ro'fah.
[5:36]Kenapa? Karena dalam mengungkapkan kasih sayangnya itu caranya menyenangkan.
[5:45]Caranya tidak ada unsur rasa sakit, tidak ada unsur ketidaksukaan dari orang yang disayangi. Gitu ya. Jadi rahmah itu bisa disimpulkan lebih luas daripada ro'fah. Jadi kalau kita membaca ayat wa ma arsalnaka rahmatan lil alamin, perhatikan makna ini, berarti ungkapan kasih sayangnya itu kadang diungkapkan dengan cara yang disenangi orang yang disayangi. Kadang juga dengan cara yang mungkin tidak disenangi oleh orang yang disayangi.
[6:19]Nah, inilah rahasia kenapa saat mencambuk pezina dalam Al-Qur'an itu kita dilarang memiliki sifat ro'fah. Wa la ta'khuzukum bihima ra'fatun fi dinillah. Janganlah rasa ro'fah, belas kasih itu menghalangi kalian untuk menegakkan dinullah. Kenapa? Karena saat mencambuk pezina itu yang dominan harus rahmah, bukan ro'fah. Karena ro'fah enggak tega itu akhirnya mencambuk. Nah, tapi kalau rahmah ya bagaimana? Terpaksa itu untuk kebaikan jangka panjang bagi orang yang berzina. Karena orang yang dihukum itu kan ditebus dosanya di akhirat, jika dia bertobat. Gitu ya. Jadi hukuman di dunia sudah mewakili hukuman di akhirat. Jadi tidak akan dihukum lagi di akhirat. Oke. Jadi sekali lagi, ketika Allah mengatakan Rasulullah itu diutus menjadi rahmatan lil alamin, maka maknanya Rasulullah dan ajarannya itu akan menjadi belas kasih bagi semuanya, membuat semuanya mendapatkan perlakuan lemah lembut, dibaiki, dijauhkan dari segala hal membahayakan, dan dibantu menyelesaikan segala kesulitan. Nah, dan bentuk kasih sayang itu kadang-kadang diungkapkan dengan cara yang tidak menyakiti, kadang juga diungkapkan dengan cara yang menyakiti demi kebaikannya. Ya. Adapun al-alamin sudah terkenal terjemahannya biasanya adalah seluruh alam semesta. Ya. Nah, apa makna rahmatan lil alamin? Ini kalau kata Asy-Syauqani, rahmat bagi semuanya, bagi seluruh alam semesta itu kata Asy-Syauqani ini adalah diutusnya Rasulullah dan ajarannya itu bisa menjadi sebab kebahagiaan. Ya, menjadi sebab kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Jadi kalau bagi orang yang beriman, menerima Rasulullah sebagai utusan Allah, mengikuti beliau, itu akan mendapatkan kebahagiaan di dua negeri ini. Di dunia bahagia, di akhirat juga bahagia. Bahagia bukan berarti kaya lho ya. Jadi enggak selalu jangan diterjemahkan kaya. Bahagia itu bisa jadi hartanya itu sedikit, tapi bahagia, kenapa? Karena dikasih rezeki qana'ah, dikasih rezeki syukur. Kalau pun dikasih kaya juga dikasih apa tuh namanya? Amal saleh untuk mengamalkan menggunakan hartanya di jalan Allah sehingga dia selamat tidak dikasih susah seperti orang-orang yang enggak beriman yang enggak punya tujuan hidup ketika dikasih harta yang banyak. Adapun bagi yang tidak beriman, maka rahmahnya itu bentuknya adalah umat Islam dan syariat Islam, Rasulullah dan syariatnya tetap mempergauli mereka dengan hubungan yang baik. Jadi mereka mendapatkan keamanan, mendapatkan kedamaian, bebas dari bencana yang membinasakan total dan lain sebagainya. Karena kadang-kadang karena berkahnya umat Islam, Allah mestinya membinasakan suatu kaum, maka tidak jadi karena adanya orang beriman, orang saleh di tempat tersebut. Nah, itulah maksud dari rahmatan lil alamin. Oke, sekarang kita akan berbicara tentang bentuk ekspresi dari rahmah jadi diutusnya Rasulullah itu. Bentuk rahmat yang bisa disaksikan dari diutusnya Rasulullah itu tampak pada dua hal saja. Apa itu? Yang pertama, tampak pada akhlak Rasulullah dan yang kedua adalah tampak pada syariatnya. Kita akan mengupas dalam dua aspek ini.
[9:52]Apa itu contoh-contoh atau bentuk-bentuk rahmat yang tampak pada akhlak Rasulullah dan bentuk rahmat yang tampak pada syariatnya. Kita bahas dari akhlak Rasulullah dulu ya. Jadi akhlak Rasulullah itu kalau kita pelajari sangat luar biasa menunjukkan sifat kasih sayang yang menjadi teladan bagi umat Islam maupun orang di luar Islam. Di antara akhlak rahmah-rahmah Rasulullah adalah salatnya Rasulullah. Jadi Rasulullah itu sebenarnya terbiasa salat panjang-panjang. Salat jamaah itu minimal tasbih 10 kali kira-kira bacaannya. Tapi kalau beliau itu mendengar ada seorang bayi menangis di belakang, maka salatnya dipercepat. Ya, jadi enggak sampai 10 kali.
[10:41]Ya, ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Kata Nabi, beliau mengatakan, ini la qumu fis sholati uridu an utowila fiha faasma'u buka'a shobi'i faatajawwazu fi sholati karohiyata an asyuqqo ala ummihi. Aku pernah ingin memanjangkan salat, namun aku mendengar tangisan bayi, maka aku pendekkan salatku karena khawatir akan memberatkan ibunya. Ya. Contoh lain, kasih sayang pada Rasulullah adalah Rasulullah itu menangis juga saat anaknya meninggal dunia. Orang kalau keras hatinya, enggak punya sifat rahmat, enggak bisa menangis itu. Nah, kalau lelaki sampai bisa menangis karena kehilangan orang yang dicintainya itu tandanya rahmatnya sangat sangat dalam, memiliki hati yang sangat lembut. Nah, Anas menceritakan begini. An Anasibnu Malik radhiyallahu anhu qola, dakhona ma'a Rasulillahi shollallahu alaihi wasallama ala Abi Saifin Al-Qain. Wa kana dhoiron li Ibrahima alaihis salam fa akhodza Rasulillahi shollallahu alaihi wasallama Ibrahima faqobbalahu wa syammahu tsumma dakhona alaihi ba'da dzalika wa Ibrahima yajudu binafsihi faja'alat a'ina Rasulillahi shollallahu alaihi wasallama tadzrifi fa qoola lahu Abdurrahman ibnu Auf radhiyallahu anhu wa anta ya Rasulullah fa qoola yaa ibna Auf innaha rahmah tsumma atba'aha bi ukhra fa qoola shollallahu alaihi wasallama innal a'ina taddzma'u wal qolbu yahzan wa la naqulu illa ma yardho robbuna wa inna bi firaqika ya Ibrahim lamahzunuun.
[12:25]Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, beliau berkata, kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendatangi Abu Saif Al-Qain. yang mengasuh dan menyusui Ibrahim alaihis salam. Lalu Rasulullah mengambil Ibrahim dan menciumnya. Setelah itu pada kesempatan yang lain kami mengunjunginya sedangkan Ibrahim telah meninggal. Hal itu menyebabkan kedua mata Rasulullah berlinang. Lalu berkatalah Abdurrahman, mengapa engkau menangis wahai Rasulullah? Beliau menjawab, wahai Ibnu Auf, sesungguhnya ini adalah rahmat. Beliau lalu melanjutkan dengan kalimat yang lain dan bersabda, kedua mata boleh menjujurkan air mata, hati boleh bersedih, tetapi kita tidak mengatakan kecuali apa yang diridai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini, wahai Ibrahim, sangat bersedih. Nah, ini contoh kasih sayang Rasul ketika putranya meninggal. Contoh lain adalah Rasulullah itu pernah membela ketika ada seorang budak ditampar tuannya. Muslim meriwayatkan. An Muawiyata ibni Suwaid qoola latomtu maulan lana faharabtu tsumma ji'tu qubailadz dzuhri fasholaitu kholfa abi fada'ahu wa da'ani tsumma qoola imtatsil minhu fa'afaa tsumma qoola kunna Bani Muqorrin ala ahdi Rasulillahi shollallahu alaihi wasallama laisa lana illa khodimum wahidah.
[13:54]Fa latomaha ahaduna fa balagho dzalikan nabiyyi shollallahu alaihi wasallama fa qoola a'tiquha qoolu laisa lahum khodimun ghoiruha qoola fal yastakhdumuha fa iza istaghnuu anha fal yukhollu sabila ha. Dari Muawiyah bin Suwaid, dia berkata, aku pernah menampar seorang bekas budak milikku. Lalu aku pergi dan kembali pulang menjelang zuhur. Kemudian aku salat di belakang ayahku. Lantas ayahku memanggilku dan memanggil bekas budakku, lalu dia berkata, tamparlah dia sebagaimana dia menamparmu. Namun bekas budakku memaafkanku hingga ayahku pun berkata, kami adalah Bani Muqorrin yang di masa Rasulullah kami tidak memiliki pelayan kecuali hanya satu orang wanita. Kemudian salah seorang dari kami menamparnya. Ternyata hal itu sampai pada Nabi, maka beliau bersabda, merdekakanlah dia. Mereka berkata, kami tidak memiliki pelayan lain selain dia. Beliau menjawab, mintalah dia supaya tetap jadi pelayan kalian sementara waktu, kemudian bebaskan biarkanlah dia bebas. Jadi Nabi itu enggak suka melihat kekerasan kepada seorang budak di zaman itu. Jadi jangan mentang-mentang punya otoritas, lalu kemudian melakukan kekerasan seenaknya sendiri pada orang yang dianggap rendah. Makanya Rasulullah di sini memerintahkan sampai disuruh membebaskan itu. Itu betapa dalamnya ya sifat rahmat yang dimiliki oleh Rasulullah. Ya. Contoh lain adalah Rasulullah itu memperhatikan seorang penyapu masjid. Nah, ini juga kisah cukup terkenal. Jadi suatu saat Rasulullah itu tidak melihat penyapu masjid, terus bertanya kepada para sahabat, ke mana orang ini? Ternyata diberitahu bahwa punya masjid itu sudah datang, apa sudah wafat, maaf. Segera saja Rasulullah kemudian mendatangi kuburannya, kemudian secara khusus mendoakan dan menyalatinya. Padahal penyapu masjid ini enggak terkenal dan tidak terhitung orang penting juga. Ya.
[15:56]Di hadis riwayat Al-Bukhari dikatakan an Abi Hurairata an rajulan aswad au imra'atan sauda'a kana yaqmul masjida. Fa mata fa sa'alan Nabiyyu shollallahu alaihi wasallama anhu fa qoolu mata qoola afala kuntum adztanumuni bihi dulluni ala qobrihi au qoola qobriha fa ati qobriha fa sholla alaiha. Dari Abu Hurairah ada seorang laki-laki berkulit hitam atau wanita berkulit hitam yang menjadi tukang sapu masjid meninggal dunia. Nabi lalu bertanya tentang keberadaan orang tersebut. Orang-orang menjawab, dia telah meninggal. Beliau bersabda, kenapa kalian tidak memberi kabar aku? Tunjukkanlah kuburanku padaku. Beliau kemudian mendatangi kuburan orang itu, kemudian menyalatinya. Ini kan akhlak yang jarang dimiliki orang terkenal, orang yang punya kedudukan tinggi. Perhatian kepada orang-orang yang dianggap kecil, orang-orang yang dianggap remeh. Gitu ya. Sehingga saat meninggalnya juga beliau secara khusus bahkan menyalatinya. Termasuk yang lain adalah perhatian Rasulullah terhadap orang-orang miskin. Jadi Rasulullah itu tahu kalau orang-orang miskin itu orang yang penderitaannya lebih banyak daripada orang pada umumnya. Usahanya mencari makan juga pasti lebih keras daripada orang kebanyakan. Nah, suatu saat Rasulullah itu masuk dalam masjid terus melihat sekumpulan sahabat miskin sedang duduk-duduk. Maka Rasul bergabung dengan mereka. Jadi ngjagongi bahasa kita ini ya. Jadi beliau seperti itu ya perhatiannya kepada sahabat-sahabat yang miskin. Lalu kemudian beliau mengabarkan nanti orang-orang yang diuji kefakiran di dunia itu di akhirat akan masuk surga 40 tahun lebih dulu daripada orang kaya saleh yang masuk surga. Ini ada dalam hadis riwayat Al-Baihaqi ya. Saya bacakan riwayatnya. An Abdillahi ibnu Amrin ibnu Al-Ash qoola baina ana fil masjidi wa halqotun min fuqoro'il Muhajirin qu'uudan idz qo'ada ilaihim Rasulullah shallallahu alaihi wasallama fa qumtu ilaihim fa qoola li yubashshiru fuqoro'al Muhajirina bima yasurru wujuhahum fa innahum yadkhulunal jannata qoblal aghniya'i bi arba'ina a'aman falaqod ro'aitu alwanahum asfarrot hatta tamannaitu an akuna minhum. Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, dia berkata, ketika aku berada di masjid, sementara ada sekumpulan orang-orang miskin di kalangan Muhajirin duduk dalam keadaan melingkar. Tiba-tiba Rasulullah datang dan menimbrung bersama mereka. Maka aku pun berdiri menuju mereka. Lalu Rasulullah bersabda, bergembiralah orang-orang miskin di kalangan Muhajirin dengan kabar yang akan membuat wajah mereka menjadi cerah. Karena mereka akan masuk surga sebelum orang-orang kaya 40 tahun lebih dulu. Sungguh, kata Abdullah bin Amr, aku melihat kulit mereka seakan bercahaya karena gembira sampai-sampai aku mengan-angankan aku termasuk di antara mereka. Ya. Bahkan ada dalil juga yang menunjukkan bahwa kasih sayang Rasulullah itu juga mengenai orang-orang yang belum beriman yang sempat berbuat buruk kepada beliau. Jadi sifat rahmahnya Rasulullah itu sampai level benar-benar khawatir kaumnya itu masuk neraka yang membuat beliau sangat sedih ketika mereka enggak mau beriman. Dan kesediaan ini sampai diakui Allah di Al-Qur'an itu sampai taraf seolah-olah Rasulullah bisa membunuh dirinya sendiri karena kesediaan tersebut. Ini ada di surat Al-Kahfi. Falla'allaka bakhin nafsaka ala atsarihim inlam yu'minu bihadal haditsi asafa. Bisa jadi engkau, wahai Muhammad, akan membinasakan dirimu karena bersedih hati. Jadi sampai sedihnya itu sampai seperti hendak membinasakan beliau. Yakni setelah apa? Setelah mereka berpaling karena mereka tidak beriman kepada Al-Qur'an. Ya. Termasuk juga peristiwa Perang Badar itu menunjukkan rahmatnya Rasulullah. Waktu itu ada dua opsi terkait tawanan Perang Badar. Umar berpendapat sebaiknya dipenggal, dibunuh semuanya itu tawanan itu. Supaya orang Islam yang jumlahnya masih sedikit punya wibawa dan ditakuti musuh. Tapi Abu Bakar berpendapat diganti dengan tebusan saja. Nah, harta tebusan itu juga bisa bermanfaat bagi orang Islam. Ternyata Rasulullah memilih pendapatnya Abu Bakar karena memang lebih dekat dengan watak beliau yang penyayang gitu ya. Walaupun setelah itu dikoreksi oleh Allah. Harusnya yang benar adalah mengikuti pendapat Umar ternyata. Nah, ini ada dalam Sunan Abu Dawud. Umar berkata, yaum Badrin faa'khudza ya'nin Nabiyyi shollallahu alaihi wasallam. Al-fida'a anzallahu azza wajalla ma kana lina liyyakuna lahu asra hatta yuthkhina fil ardh. Kata Umar, pada saat Perang Badar dan Nabi mengambil tebusan, maka Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Ini sampai turun ayat khusus ya untuk membenarkan pendapatnya Umar. Lalu saat peristiwa mendakwahi penduduk Thaif ditolak, beliau itu ditolak dengan kejam, dilempari dengan batu sampai berdarah. Beliau hanya berdoa, Allahummaghfir li qaumi fa innahum la ya'lamun. Ya Allah ampunilah kaumku karena mereka tidak mengerti. Nah, ini dikisahkan dalam sahih Bukhari ya. Walaupun Rasulullah itu menceritakan tidak dirinya tapi hanya menyebut seorang Nabi ya untuk tawaduk. Kata Abdullah, ka anni anzuru ilan Nabiyyi shallallahu alaihi wasallama yahki nabiyyan minal anbiya'a dorobahu qaumuhu fa'adma'uhu wa huwa yamsahul damma an wajhihi wa yaqulu Allahummaghfir li qaumi fa innahum la ya'lamun.
[22:10]Kata Abdullah, sepertinya aku melihat Nabi sedang bercerita tentang seorang Nabi. Seakan-akan aku melihat Nabi sedang bercerita tentang seorang Nabi di antara para Nabi yang dipukul oleh kaumnya hingga berdarah-darah. Sambil beliau mengusap darah yang mengalir dari wajahnya, beliau berdoa, ya Allah, ampunilah kaumku karena mereka orang-orang yang belum mengerti. Ya. Terus peristiwa penaklukan Mekah, Fathu Mekah. Musuh-musuhnya sudah sangat khawatir, bertekuk lutut, bisa jadi hukum bunuh semuanya. Siap menunggu hukuman mati. Ternyata dengan akhlak yang sangat penyayang, Rasulullah pernah berkata lembut, pergilah kalian semua bebas. Ya, ini diceritakan di hadis riwayat Al-Baihaqi. Ya.
[23:03]Dikisahkan bahwa ketika orang-orang Quraisy berkumpul di masjid, Rasulullah bertanya, ya'ni ijtama'u fil masjidi ma tarauna an asona'a bikum. Qolu khoiron akhun karim wabnu akhin karim. Qoola idzhabu fa antum thulaqo'a. Apa yang akan kalian perkirakan terkait apa yang hendak aku perbuat pada kalian? Maka mereka menjawab, tentu baik, wahai Saudara mulia dan putra Saudara yang mulia. Maka Nabi bersabda, pergilah kalian semua bebas. Ya. Ada juga peristiwa Rasulullah itu bukan hanya berbuat baik kepada manusia tapi juga kepada hewan. Rasulullah pernah menegur sahabat yang mengambil anak burung sampai membuat induknya menjadi sedih. Beliau juga melarang membunuh hewan dengan cara membakarnya karena pembunuhan dengan membakar adalah jenis penyiksaan yang menyakitkan. Nah, ini ada dalam hadis riwayat Abu Dawud. An Abdurrahman ibnu Abdillahi an abihi qoola kunna ma'a Rasulillahi shollallahu alaihi wasallam fi safarin fa antolaqo lihajatihi fa ro'aina hummarotan ma'aha farokhoni fa akhodzna farokhoihah fa ja'atil hummarotuh fa ja'alat tafrushu fa ja'an Nabiyyu shollallahu alaihi wasallama fa qoola man faja'a hadzihi bi waladiha ruddu waladaha ilaiha wa ro'aa qoriyata namlin qod harroqonaha fa qoola man harroqo hadzihi qulna nahnu qoola innahu la yambaghi an yu'adzdziba bin nari illa Robbunnaar. Dari Abdurrahman bin Abdullah dari ayahnya ia berkata, kami pernah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam suatu perjalanan. Kemudian beliau pergi untuk suatu keperluannya. Kemudian kami melihat seekor burung bersama kedua anaknya. Lalu kami mengambil kedua anaknya. Kemudian burung tersebut datang dan mengepak-ngepakkan sayapnya. Kemudian Nabi datang dan berkata, siapakah yang menyakiti burung ini dengan mengambil anaknya? Kembalikan anaknya kepadanya. Dan Rasulullah melihat sekelompok semut, sarang semut yang kami bakar. Kemudian beliau bersabda, siapa yang telah membakar sarang semut ini? Kami katakan, kami yang membakarnya. Beliau bersabda, sesungguhnya tidak layak untuk menyiksa dengan api kecuali penguasa Tuhan penguasa api. Nah, ini ya. Kasih sayang beliau itu sampai memperhatikan hewan-hewan. Ada juga riwayat Rasulullah melarang menjadikan sasaran hidup untuk latihan menembak dengan panah atau sekadar kesenangan. Al-Bukhari meriwayatkan. An ibni Umar radhiyallahu anhuma annahu dakholala ala Yahya ibni Sa'id wa gholamun min bani Yahya rabithun dajajatun yarmiha fa masha ilaiha ibnu Umar hatta hallaha tsumma aqbala biha wa bil gholami ma'ahu fa qoola uzjuru ghulamakum an an yashbiro hadza thoira lilqotl fainni sami'tun Nabiyya shollallahu alaihi wasallama naha an an tushbar bahimatun au ghoiruha lil qotl. Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma bahwa ia pernah menemui Yahya bin Said. Sementara ada seorang anak laki-laki keturunan Yahya mengikat seekor ayam untuk dijadikan sebagai sasaran tembaknya. Maka Ibnu Umar pun berjalan ke arahnya dan melepaskan ayam tersebut. Kemudian ia kembali lagi bersama ayam dan anak laki-laki tersebut. Setelah itu ia berkata, hardiklah anak laki-laki kalian. Cegahlah anak-anak laki-laki kalian untuk menjadikan burung ini sebagai sasaran tembaknya. Sesungguhnya aku mendengar Nabi melarang untuk menjadikan binatang atau selainnya sebagai sasaran tembak. Di riwayat Muslim juga ada hadisnya ada. An ibni Abbas anna Nabiyya shollallahu alaihi wasallama qoola la tattakhidzu syaian fihi arruhu ghorodhon. Dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, janganlah kalian mengambil sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran menembak. Ya.
[27:26]Lalu kemudian termasuk ini, ketika ada muslim yang menyembelih hewan itu Rasulullah memerintahkan supaya menyembelih hewan dengan baik, jangan sampai ada unsur menyiksa. Rasul memerintahkan supaya pisaunya ditajamkan terus saat menyembelih hewan itu jangan ditampakkan ke temannya. Gitu ya. Itu ada hadisnya riwayat Muslim. An Syaddad ibnu Aus qoola tsalatani hafidztuhuma an Rasulillahi shollallahu alaihi wasallam qoola innalaha katabal ihsana ala kulli syai'in fa idza qotaltum fa ahsinul qitlah. Wa idza dzabahtum fa ahsinudz dzabh wal yuhidda ahadukum syafratahu fal yurih dzabihatakum. Dari Syaddad bin Aus, ia berkata, dua perkara yang selalu saya ingat dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, sesungguhnya Allah telah mewajibkan supaya selalu bersikap baik terhadap setiap sesuatu. Jika kamu membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kamu menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Tajamkan pisaumu dan senangkanlah hewan sembelihanmu. Ya. Rasul juga menjanjikan siapa yang bisa menyayangi hewan maka dia akan disayang Allah. Ada hadisnya ini riwayat Ahmad. An Muawiyata ibnu Qurrota an abihi anna rajulan qoola ya Rasulullah inni la adzbahusy sya'ata wa ana arhamuha au qoola inni arhamusy sya'ata an adzbaha fa qoola wasy sya'atu in rohimtaha rohimakallah. Dari Muawiyah bin Qurrah dari bapaknya, seseorang bertanya, wahai Rasulullah, saya hendak menyembelih kambing, namun saya menyayanginya. Atau saya terlalu sayang kepada kambing jika harus menyembelihnya. Rasulullah bersabda, jika kamu mengasihinya maka Allah mengasihimu. Ya. Rasulullah juga melarang membebani hewan di luar kemampuannya. Hadis riwayat Abu Dawud an Sahla ibnil Hanzhaliyyah qoola marro Rasulullah shallallahu alaihi wasallama bi ba'irin qod lahiqo dzhuruhu bi bathnihi fa qoola ittaqullaha fi hadzihil baha'imil mu'jamah farkabuha wa kuluha sholihatan. Dari Sahl bin Al-Hanzhaliyah, ia berkata, Rasulullah pernah melewati seekor unta yang punggungnya telah menempel dengan perutnya. Kemudian beliau berkata, bertakwalah kepada Allah dalam merawat binatang-binatang ternak yang tidak bisa berbicara ini dan tunggangilah dengan dalam keadaan layak dan makanlah dalam keadaan layak. Ya. Termasuk riwayat tadi ya, riwayat yang pernah kita bahas.
[30:18]Rasulullah memerintahkan memberikan kasih sayang pada hewan, kepada anjing sekalipun karena di masa lalu di masa Bani Israil ada seorang pelacur yang diampuni Allah karena memberi minum seekor anjing. An Abi Hurairata radhiyallahu anhu qoola qoola Nabiyyu shollallahu alaihi wasallama bainama kalbun yuthifu bi roqiyyatin kada yaqtuluhul athosh idz ro'athu baghyun min baghaya Bani Isra'il fa naza'at mu'qoha fa saqotthu fa ghofiralaha bihi. Dari Abu Hurairah, beliau berkata, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ada seekor anjing yang sedang berputar-putar di dekat sebuah sumur. Dan hampir mati karena kehausan. Lalu dilihat oleh seorang pelacur dari kalangan pelacur Bani Israil. Lalu wanita itu melepas sepatunya dan mengambil air dengan sepatu itu. Kemudian memberi minum anjing tersebut sehingga dia diampuni karena perbuatannya itu. Oke, nah, sekarang kita akan masuk pada pembahasan contoh-contoh aspek rahmat dalam syariat Islam. Oke, jadi prinsipnya, seluruh syariat Islam itu adalah cerminan sifat rahmah. Allah yang Maha Pengasih menurunkan ajaran Islam supaya dipraktikkan oleh hamba-hambanya. Sehingga dengan demikian tampaklah betapa agung rahmat Allah, betapa besar kasih sayangnya kepada seluruh alam semesta ini. Tanpa membedakan apakah kepada hamba-hamba yang beriman, orang kafir, manusia ataukah hewan, bahkan makhluk hidup ataukah tidak hidup. Nah, di antara hal yang menunjukkan sifat rahmat dalam syariat Islam adalah bahwa prinsip din itu sifatnya mudah, tidak sulit. Misalnya dalam surah Al-Baqarah ayat 185, Allah berfirman, yuridullahu bikumul yusro wa la yuridu bikumul usro. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Di surah Al-Hajj ayat 78 juga demikian, Allah tidak pernah berkehendak membuat din menjadi sempit dan susah untuk dilaksanakan. Wa ma ja'ala alaikum fid dini min haroj. dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam beragama. Di Al-Qur'an juga ada ayat bahwa Allah itu berjanji tidak membebankan kepada umat Islam beban-beban yang pernah ditimpakan kepada umat sebelumnya. Dan juga berjanji tidak akan membebani umat Islam dengan beban yang tidak ditanggung, tidak sanggup ditanggung. Allah berfirman, Rabbana wa la tahmil alaina isron kama hamaltahu alalladzina min qoblina Rabbana wa la tuhammilna ma la thoqota lana bih. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Ini dalam hadis dikatakan Allah menjawab, na'am, ya, ya. Artinya dikabulkan sehingga ini jaminan dari Allah bahwa umat Islam tidak akan dikasih beban yang berat. Nabi juga mengajarkan kalau mendakwahkan agama itu prinsipnya adalah memudahkan, jangan mempersulit. Misalnya ada riwayat Al-Bukhari dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, yassiru wa la tu'assiru wa basyiru wa la tunaffiru. Dari Anas bin Malik dari Nabi, beliau bersabda, permudahlah, jangan persulit. Berilah kabar gembira, jangan membuat orang lari. Rasulullah sendiri juga menegaskan bahwa dinul Islam itu adalah din yang Hanafiyah Samhah, lurus dan mudah. Seperti riwayat dalam Ahmad, inni lam u'bat bil Yahudiyyati wa la bin Nashroniyyah walakini bu'itstu bil Hanafiyyatuh Samhah. Aku tidak diutus dengan membawa keyahudian atau kenazranian, tapi aku diutus dengan membawa ketauhidan yang mudah. Jadi secara umum seluruh syariat Islam itu mudah, tidak mempersulit. Gampang dilaksanakan. Nah, contoh-contoh praktis yang menunjukkan syariat Islam itu penuh dengan roh dan semangat kasih sayang itu banyak sekali. Misalnya ya, dalam hal berdakwah, Allah itu memerintahkan kalau dakwah itu bil hikmah. Dengan nasihat yang baik dan debat yang santun. Seperti di surah An-Nahl ayat 125, ud'u ila sabili robbika bil hikmati wal mau'izhotil hasanah wa jadilhum billati hiya ahsan. Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Contoh lain misalnya, orang sakit dan safar boleh tidak puasa Ramadan dan mengganti di hari yang lain. Sementara yang benar-benar enggak mampu itu boleh cukup membayar fidyah saja, yakni makanan yang disedekahkan kepada orang miskin. Seperti yang dijelaskan Allah di surat Al-Baqarah ayat 184. Fa man kana minkum mariedhon au ala safarin fa iddatun min ayyamu uhra wa alalladzina yuthiqunahu fidyatun tho'amu miskin. Barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan lalu tidak berpuasa, maka wajib mengganti sebanyak hari yang dia tidak berpuasa itu pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya wajib membayar fidyah, yakni memberi makan orang miskin. Contoh lain, orang yang safar itu dibolehkan mengqasar atau menjamak salat. Di surat An-Nisa ayat 101, Allah berfirman, wa idza dhorobtum fil ardi falaisa alaikum junah an taqsuru minash sholah. Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah berdosa kamu mengqasar salat. Terkait tata cara salat juga, kalau salat tidak mampu berdiri boleh duduk. Kalau duduk enggak mampu boleh berbaring. Ini ada dalam hadis riwayat Al-Bukhari. An Imronabni Husain radhiyallahu anhu qoola kaanat bi bawasin fa sa'altun Nabiyya shollallahu alaihi wasallama anis sholah fa qoola sholli qo'iman fa inlam tastathi' fa qa'idan fa inlam tastathi' fa'ala janbin. Dari Imran bin Husain radhiyallahu anhu, beliau berkata, suatu kali aku menderita sakit wasir. Lalu aku tanyakan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang tata cara salat. Maka beliau menjawab, salatlah dengan berdiri. Jika kamu tidak sanggup, lakukan dengan duduk. Bila tidak sanggup, lakukan dengan berbaring pada salah satu sisi badan. Nah, ini ya. Jadi itu semua adalah contoh-contoh syariat yang sifatnya memudahkan. Bahkan termasuk ajaran akidahnya itu sangat simpel, mudah dipahami oleh siapapun. Ini juga bagian dari rahmat. Jadi enggak harus jadi filosof untuk memahami akidah Islam. Enggak harus sangat cerdas untuk memahami ajaran Islam dan akidah Islam. Tidak dituntut sudah pernah melakukan perbandingan agama atau lulusan pendidikan dengan kualifikasi tertentu untuk memahami akidah Islam dan ajaran Islam. Masuk Islam juga sangat mudah, enggak ada unsur bayarnya, enggak ada harus menyetor berkas-berkas khusus ya. Jadi enggak ada syarat membayar uang tertentu. Jadi itu semua juga menunjukkan betapa luar biasanya, mudahnya rahmatnya aspek syariat Islam. Wanita hamil dan menyusui boleh tidak puasa Ramadan. Kewajiban haji gugur bagi orang yang tidak mampu. Jual beli dihalalkan, hanya riba yang diharamkan. Syirkah boleh, judi yang tidak boleh. Nikah boleh, hanya zina yang tidak boleh. Susu boleh diminum, semua minuman bahkan ya, enggak boleh hanya khamar yang memabukkan. Dan semua ibadah ini kalau dilakukan juga memberi manfaat kesehatan. Tidak ada satupun syariat Islam dilaksanakan lalu merusak kesehatan. Justru semuanya membantu menjaga kesehatan. Itu semua menunjukkan luar biasanya aspek rahmat dalam syariat Islam. Bahkan juga mengenai non-muslim. Ya, jadi dalam syariat Islam itu di antara yang paling kelihatan rahmat terhadap orang muslim adalah tidak pernah memaksa non-muslim masuk Islam. Jadi tidak boleh ada paksaan dalam agama. Enggak mau tidak apa-apa, tetap bergaul dengan dengan baik. Juga diperintahkan adil kepada mereka sehingga mereka punya hak yang sama dengan orang muslim dan memiliki kewajiban yang sama dalam bermasyarakat seperti orang muslim. Itu tampak seperti contoh bahwa Abu Thalib itu bahkan saat menjadi khalifah pernah kalah dalam pengadilan saat berselisih dengan orang Yahudi. Itu menunjukkan betapa adilnya ketika memperlakukan orang non-muslim. Sehingga akhirnya si Yahudi terkesan lalu kemudian masuk Islam. Jadi kepada non-muslim itu rahmatan lil alamin itu tidak memaksa masuk Islam, mempergauli mereka dengan baik itu maknanya ya. Jadi jangan sampai dipahami, Islam rahmatan lil alamin lalu membenarkan semua agama, itu penyesatan. Tidak ada dalam Al-Qur'an yang maknanya seperti itu. Ini ini paham-paham liberal yang masuk di dalam apa itu namanya? Slogan Islam rahmatan lil alamin. Harus dipisahkan itu. Kalau menurut Qur'an seperti yang saya jelaskan tadi, maksud rahmat itu seperti itu. Non-muslim rahmatnya adalah tidak dipaksa masuk Islam, dipergauli dengan baik selama mereka tidak memerangi kaum muslimin. Nah, tapi kalau mereka memerangi ya dilawan. Ya, bukan rahmatan lil alamin kalau dijajah lalu kemudian kita bersikap lembek kemudian menerima penjajahan tersebut, keliru itu ya. Oke, sekarang pembahasan terakhir. Kalau memang Islam itu adalah rahmatan lil alamin syariatnya, bagaimana dengan sejumlah syariat yang terkesan keras? Misalnya ada hukuman qisas, rajam, potong tangan, jihad, poligami, perbudakan dan lain sebagainya. Itu bagian rahmatnya di mana? Nah, jawabannya adalah begini. Prinsipnya kalau ada syariat yang terkesan keras ya, dan seperti tidak tampak ada rahmat, maka sebenarnya itu adalah tarjih dua maslahat yang bertentangan. Ya, prinsipnya begitu. Nah, misalnya ya, membunuh nyamuk misalnya. Itu kalau pakai standar normal perasaan ya ya namanya bunuh hewan ya tetap melakukan kekerasan terhadap hewan. Membunuh nyamuk, ular, elang dan lain sebagainya. Nah, tetapi kebolehan membunuh hewan ini itu harus tidak boleh dipahami bentuk kekejaman kepada hewan yang tidak mengandung sifat rahmat. Tapi harus dipahami bahwa di sana ada dua benturan antara kemaslahatan hewan dan kemaslahatan manusia. Maka yang harus diutamakan adalah kemaslahatan manusia. Jadi kebolehan membunuh hewan itu begitu. Makanya Rasulullah melarang membunuh hewan yang tidak mengganggu manusia. Jadi kalau misalnya kita membunuh tikus di rumah boleh enggak? Boleh. Ya, tapi kalau misalnya membunuh ular yang tidak mengganggu kita, dia hidup di hutan ya keliru, salah itu. Tetap tetap tidak dia dibenarkan. Ya, ada hadis riwayat Ibnu Asyur, amma al-mu'zi wal mudhiru minal hayawan fa qod u'dzina fi qotlihi wa thordhihi li tarjihi rahmatin nasi ala rahmatil baha'im. Adapun hewan yang menyakiti dan membahayakan, maka membunuhnya atau mengusirnya diizinkan karena kasih sayang terhadap manusia diutamakan dibandingkan kasih sayang terhadap hewan-hewan. Jadi itu ya. Prinsipnya pokoknya tarjihul maslahat. Termasuk hukuman seperti qisas, rajam, potong tangan, jihad dan lain sebagainya itu adalah jenis tarjih dua maslahat yang bertentangan. Ya, ini walaupun bukan muslim pun di negeri yang tidak beriman sekalipun itu kalau prinsip kayak gini itu selalu dipakai itu. Lihat itu di Cina itu, koruptor dihukum mati. Apa kalau menurut perasaan mungkin kejam, tapi kan jahatnya itu luar biasa itu memang sehingga sampai di sana dihukum dihukum mati. Semua bentuk hukuman dihukum positif pun juga demikian, ada unsur tarjih maslahat di antara dua kemaslahatan yang bertentangan, ada dua tarjih rahmat. Jadi bukan hanya Islam saja. Ya, oke, baik. Mudah-mudahan bermanfaat, tema ini kita akhiri. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.



