Thumbnail for 20 Menit untuk Isi Otak lo dengan Strategi Cuan Digital by Agusleo Halim

20 Menit untuk Isi Otak lo dengan Strategi Cuan Digital

Agusleo Halim

20m 53s3,557 words~18 min read
YouTube auto captions
Transcript source

YouTube auto captions

This transcript was extracted from YouTube's auto-generated caption track. The transcript below is server-rendered so it can be read, searched, cited, and shared without opening the original YouTube player.

Pull quotes
[0:00]Algoritma media sosial sudah berevolusi dan 90% orang masih pakai cara yang lama.
[0:00]Jadi buat lu yang berpikir bahwa, ah ini mah udah telat, kagak mungkin bisa ngejar yang lain.
[0:00]Lu lihat deh seberapa banyak orang random yang mendadak ada di lu punya explore page, di lu punya for you page, di lu punya YouTube homepage.
[0:00]Berdasarkan gua punya obrolan, brand-brand zaman sekarang makin banyak banget yang sudah tidak melakukan endorsement.
Use this transcript
Related transcript hubs

[0:00]Algoritma media sosial sudah berevolusi dan 90% orang masih pakai cara yang lama. Jadi buat lu yang berpikir bahwa, ah ini mah udah telat, kagak mungkin bisa ngejar yang lain. Justru kebalik, guys, ini adalah saatnya. Karena berdasarkan gua punya observasi sebagai praktisi media sosial yang sudah masukan sekian banyak views dan penghasilan di dunia maya ini, gua lihat kalibrasinya itu kagak cuma berdampak ke satu pihak doang, tapi ke semuanya, guys. Lu lihat deh seberapa banyak orang random yang mendadak ada di lu punya explore page, di lu punya for you page, di lu punya YouTube homepage. Masih kurang kuat, coba perhatiin brand-brand zaman sekarang seperti apa. Berdasarkan gua punya obrolan, brand-brand zaman sekarang makin banyak banget yang sudah tidak melakukan endorsement. Mereka lebih memilih mengalokasikan mereka punya budget ke personal branding owner-nya. Karena media sosial orang lebih suka follow orangnya kan dibandingkan brand-nya. Nah, karena endorsement makin dikit, alhasil yang dulu demen banget sama endorsement makin bingung nih, kok penghasilan gua kering. Akhirnya mereka pindah monetisasinya dengan memakai yang namanya affiliate links. Nah, mereka di sana berkumpul dengan yang namanya afiliator, makin banyak nih afiliatornya. Afiliator yang makin banyak mereka berasa kompetisi kok makin tajam, mereka pindah ke sesuatu yang lebih hijau lagi, yang namanya produk digital. Dan orang-orang yang bermain di produk digital berasa kok makin lama makin ramai juga nih. Mereka pindah pembuatan konten mereka kagak jadi yang cuma konten pendek 9 banding 16 vertical video menjadi konten long form 16 banding 9 video. Mereka cari penghasilan dari yang namanya Adsense. Karena mereka tahu kalau misalnya lu mau bangun trust, paling penting bukan saat orang tuh bisa nge-scroll lu secara vertikal, tapi saat orang konsumsi video lu secara horizontal. Dan ini adalah The Great Reset. Jadi dari sekian studi kasus yang pernah gua cobain, udah gua lakukan, gua bakal bagikan kalian strategi digital buat kalian yang serius pengen menggunakan kesempatan ini. Buat kalian yang serius beneran catat, jangan skip video ini karena ini bisa ngubah karir digitalnya kalian. Strateginya adalah content operating system. So pertama yang mungkin menjadi percanangan orang-orang adalah mindset, ya. Di sini gua pengen kalian itu coba mikir secara kritis saja, kalau misalkan sekian banyak konten yang keluar ke media sosial, mau ke Instagram, mau ke YouTube, ke Twitter, segala macam semakin banyak, kalian lihat konten seperti apa? Enggak masih berasa, ya, enggak ada bedanya, Bro, konten A, konten B, konten C sebagai konsumen, ya kan? Jadi kita harusnya bisa setuju bahwa namanya konten itu sekarang itu bisa terkategorikan sebagai komoditas. Kayak dulu itu orang tuh mikir tuh foto, saat handphone kita itu dulu masih kurang bagus untuk ambil fotonya, ya fotografer dinilai sangat luar biasa kan? Tapi saat handphone kita itu sudah cukup oke, sudah cukup bagus untuk ambil foto, mendadak semua orang jadi fotografer. Sama halnya dengan dunia per kontenan, sekarang bisa dibilang semua orang adalah content creator. Jadi konten adalah komoditas. Nah, di sini mindsetnya kalian adalah begitu kalian sudah tahu konten ada komoditas, kalian harus ngubah mindsetnya kalian menjadi authentic. Di mana dari konten sama komoditas kalian itu jadi authentic, kalian tahu kalian tuh kagak ada yang butuh dibuat-buat lagi. Karena balik lagi ke poin awal video, orang itu kagak mau follow brand, guys. Orang itu mau follow orang juga. Jadi sekarang kalian itu harus pikirin apa yang bikin kalian tuh beda. Dan jangan bilang kagak ada, lu guys, lu, semua orang tuh pasti ada bedanya. Buat kalian di sini sama-sama, kalian itu ambil kertas ataupun notes apapun itu, sama-sama kita pikirin apa yang bikin kalian beda. Contoh kita bikin tiga fan diagram, ya. Fan diagram ini, tiga ini kalau misalkan sendiri, pasti terkesan biasa aja. Contoh kita ngomongin sapi, ya kan? Pasti kalian berasa sapi, ya biasa aja, Bro, gitu kan ya. Terus di sebelahnya ada sepeda, pasti juga biasa aja kan ya? Di sebelahnya lagi, ada kelapa, biasa aja enggak? Pasti kalian juga berasa, iya, Bro, ya biasa aja sih. Tapi saat tiga fan diagram ini menjadi satu, di tengahnya nih, sapi naik sepeda sama minum kelapa, beda enggak? Beda. Jadi kalian harus pikirin kalian tuh siapa sekarang. Contoh doang nih, yang replace sapi adalah kalian adalah contoh orang yang corporate selama jam 9 sampai jam 5 pada umumnya. Nah, terus kalian itu pada umumnya aktivitasnya ngapain? Contoh doang, kalian itu ternyata jago Excel, administrasi. Orang-orang tuh selalu nyari kalian kalau misalnya ngomongin administrasi. Terus ternyata kalian itu suka banget lari pagi. Nah, jadi saat kalian itu ngegabungin ini semua, jadi kalian itu adalah seorang pekerja corporate yang jago administrasi yang suka lari pagi. Bikin kalian tuh beda, authentic di sana. Bikin suatu konten yang bisa merefleksikan kata kunci-kata kunci tersebut buat bikin kalian beda. Karena dunia per konten ini bisa kita berkaca dengan industri buku. Karena industri buku secara core-nya, core product-nya apa sih? Informasi kan ya? Informasi apa? Konten. Nah, dari sekian banyak buku yang ada di toko buku, apa yang bisa bikin kalian beda? Yang kalian harus coba tunjukkan adalah ceritanya kalian. Kadang kalau ngomong informasi toh, Google ada kok. Tapi kenapa akhirnya orang itu mau konsumsi kalian punya konten? Karena dirinya kalian. Berikutnya begitu kalian sudah tahu kalian itu bisa bikin kalian punya fan diagram ini, sudah tiga biji ini nih, ini adalah niche-nya kalian. Jadi kalian itu kagak boleh kedistract sama orang-orang yang bilang, oh, lu harus cari niche-nya, Bro. Lu itu harus yang sifatnya itu travel. Lu harus yang food blogger. Kalian itu kagak bisa attach diri kalian mengasosiasikan kalian sama niche-niche ini lagi. Yang kalian harus bikin beda adalah diri kalian sendiri. Dengan kalian bisa mencoba bikin tiga fan diagram yang barusan gua ngomong, itu menjadi dirinya kalian. Jadi The Niche now bukan fashion, bukan travel, bukan food blogger, The Niche is you. Itu mindset shift yang buat kalian itu berasa, oh berarti bagus ya, Bro, ya, berarti gua enggak usah terkotak-kotakkan seperti ini, tapi gua bisa jadi diri gua sendiri. Itu yang bisa bikin kalian beda. Dan buat kalian masih belum dapat, coba deh kalian pakai topi produser, jadi kalian setiap kali kalian konsumsi konten orang lain di fitnya kalian, coba deh pikirin, kenapa ya ini bisa meledak, ya? Oh iya, karena dia itu benar-benar autentik banget, ya. Karena enggak ada yang bisa replace dia, dia one of one, benar-benar cuma dia doang yang bisa seperti itu. Kenapa? Karena dia autentik, karena dia bikin niche-nya bukan harus terkategorikan ke fashion, lah, terkategorikan ke travel, lah, ke food blogger, lah. Dia punya niche ada diri dia sendiri, dia one of one. Jadi saat orang pengen butuh jasanya dia, kagak bisa ada kompetisi, karena dia sendirian. Jadi caranya lu bisa keluar dari kompetisi adalah dengan lu menjadikan diri lu autentik. Lanjut adalah kalian tuh harus bikin yang namanya content waterfall. Buat kalian bisa mengaplikasikan content operating software, ini tuh kuncinya. Jadi kalian harus pikirin long form-nya mau kayak gimana sih. Long form ini bisa sifatnya artikel, bisa sifatnya itu video, terserah kalian, mau TXT ataupun MP4, terserahnya kalian. Nah, tapi begitu kalian sudah ada long form, ini tuh enak nih di-breakdown-nya. Jadi kalian tahu oh, ternyata pas gua bikin suatu tulisan atau video, contoh dari 0 sampai 10, ya, mau itu 10 menit atau 10 halaman terserah kalian. Kalian tahu, oh, ternyata di menit 1 sampai menit 2 ini ada sesuatu, oh, dari menit 3 sampai menit 5 ini ada sesuatu, oh, dari menit 9 sampai 10 itu ada sesuatu. Dan ini kalian bisa langsung ganti formatnya. Oke, ini kayaknya diambil enggak cuma dari video, kita jadikan ini teks dan ini bisa langsung dipost di yang namanya thread ataupun X. Lalu di sebelah sini kalian berasa oh, yang menit 9 sampai menit 10 ini bagus nih, kalian ambil videonya ini, tetap jadi video, kalian post ke Reels ataupun TikTok. Fungsinya kalian untuk mikir ini sebagai waterfall adalah kalian tahu bahwa kalian itu kerja itu enggak usah banyak-banyak. Jadi kebanyakan orang susah konsisten, jelasnya karena mereka itu tidak punya kedisiplinan, tapi mayoritas karena mereka berasa terlalu PR untuk kerja ini semua. Kayak seakan-akan gimana caranya gua bisa ngelakuin ini semua kalau misalkan gua sendirian. Percaya sama gua, guys, studi kasus-studi kasus yang pernah gua share di video ini, itu semua tuh gua sendirian, guys. Gua tuh bikin 100 video dalam 200 hari YouTube long form, itu semua sendirian. Jadi kalau misalkan gua aja bisa, pastinya kalian juga bisa. Cuma sekarang perbedaannya adalah kalian itu mau mengakuisisi enggak creator operating system ini? Kebanyakan orang juga bikin konten waterfall system ini berasa terlalu PR karena mereka tuh pengen kualitasnya tuh ekstrem, bagus yang ampun-ampun. Kalau misalkan mereka itu berasa kurang bagus, berasa enggak mau dipencet tanda plus. Tanda plus itu adalah kalian punya teman, guys. Kalian harus bisa mikir tanda plus itu adalah kalian punya shortcut menuju kalian punya goal. Jadi setiap kali kalian pencet plus itu shortcut, guys. Kebanyakan orang takut pencet tanda plus tersebut karena mereka tuh punya sesuatu ego atau lebih tepatnya punya self image ke diri dia bahwa seakan-akan tuh dia kalau bikin konten atau bikin apapun tuh harus keren banget. Di sini kalian harus nelen egonya kalian dan berpikir bahwa enggak, gua di sini pengen terus-terusan improve. Jadi kalian harus kontrol egonya kalian dengan yang namanya time frame. Contoh kalau misalkan kalian bilang, oke, sehari satu konten, sehari satu konten, that's it. Dan sehari satu konten kalau misalnya terlalu abstrak, enggak ada jam kerjanya, bikin jam kerjanya. Pokoknya jam 5 sampai jam 6 sore gua bikin konten, jam 6 sampai jam 7 gua edit, jam 7 gua harus posting. Dan karena algoritma media sosial ini lagi baik banget sama kita semua, ini gua ke poin berikutnya adalah kalian bisa bikin yang namanya effortless content. Semakin banyak banget tipe-tipe effortless content. Kita ngomongin orang-orang cuma taruh teks doang, terus pakai B roll doang, beres, itu bisa viral. Kita ngomongin orang yang benar-benar kagak tahu mau gimana caranya tag konten-konten yang estetik segala macam, cukup nge-yapping aja, guys. Kalian banyak banget kan orang-orang kalian lihat kan sekarang yang bukan siapa-siapa, yapping aja ngomong aja gitu depan kamera yang penting terlihat kayak seakan-akan dia tahu apa yang dia omongin, bisa viral juga. Jadi di sini tren yapping menurut gua ngebantu buat kalian yang mempunyai suatu idealisme kayak seakan-akan konten tuh harus keren banget kayak animasi A B C D FG enggak harus, guys. Ternyata kalian nge-yapping depan kamera seperti ini aja kayak gua ngomong kayak gini apa adanya ke kalian, itu bisa jadikan kalian punya video tuh viral. Dan kalian pasti gua mikir iya benar juga ya, Bro, ya, padahal cuma ngomong gini doang, tapi gua berasa konten ini cukup valuable juga padahal cuma yapping gini doang. Enggak ada kan dari tadi gua edit-edit sama 1 menit ke belakang? Yapping. Lanjut adalah AI. Semakin AI semakin canggih, jelasnya semakin banyak juga konten-konten yang bisa diproduksi oleh AI. Dan gua sudah lihat banyak banget use case-use case di mana sekarang itu orang itu menggunakan AI untuk semua distribusi kontennya. Dan apakah kita butuh menggunakan AI? Jelasnya butuh. Tapi tergantung nih kalian mau arahin ke mana. Kalau misalnya dari gua punya studi kasus, gua menggunakan AI dalam konteks back end-nya. Yang front end seperti ini kita masih tradisional, kita masih tag ini beneran gua, gua bukan AI. Gua ngomong depan kamera dan diedit pun juga bukan AI. Tapi kita ngomongin penggunaan dalam konteks thumbnail, dalam konteks title, dalam konteks pemilihan konten-konten daging yang bisa di waterfall-kan, itu semua kita gunakan AI. Dan AI apa nih yang dibutuhkan? Terserah kalian, jelasnya sekarang ini pas video ini dibuat cloud lagi banyak banget momentumnya. Chat GPT juga masih ramai, Gemini juga masih ramai. Tapi buat kalian yang di sini pengen sama flow-nya sama seperti gua punya studi kasus, kalian harus temenan sama Gemini. Karena Gemini sama YouTube kan satu platform dan gua selalu bilangin mulai dari konten long form dulu. Long form yang gua pilih per harinya ini adalah video, alhasil makanya gua lebih fokus ke YouTube dulu, baru jadi content waterfall-nya. Jadi AI pastiin kalian itu fasih untuk prompting ke AI. Dan begitu ini semua udah rapi, kalian tuh harus ngerti yang namanya customer journey. Ini mungkin yang bakal insightful buat kalian yang sudah bikin konten, sudah bisa viral, tapi bingung kok enggak ada fungsinya gua ngonten, ya, kayak enggak ada faedahnya gua ngonten gitu. Nah, ini adalah kalian punya jawaban. Kalian harus tahu yang namanya customer journey. Gimana caranya orang itu menemukan kalian? Di sini gua mau kita secara offline dulu buat kita berpikir sama-sama kritis kayak fundamentalnya apa. Saat kalian itu mau beli suatu kopi di tahun 90-an, gimana caranya sih? Oh, kalian lagi jalan terus kalian lihat ada suatu warung, itu baru lihat doang tuh. Itu yang namanya customer journey yang pertama. Customer journey kedua dia jalan, lihat warung, dia mulai baca ada apa aja sih. Nah, mulai tuh dia mau ngambil keputusan. Customer journey ketiga adalah dia jalan ke warung, dia sudah lihat menunya, terus dia datang ke kasirnya. Terus mulai ngobrol. Yang keempat, terjadi transaksi. Nah, sama halnya juga dengan konten, bisa dikategorikan seperti itu. Jadi basically ada konten yang untuk atas banget, top of the funnel, dan ada yang middle of the funnel, dan ada yang bottom of the funnel. Yang bahasa lebih mudahnya TOFU, MOFU, dan BOFU. Nah, TOFU ini adalah konten-konten kalian yang viral nih. Kalian di sini sekarang yang berasa kok viral mah gua bisa, Bro, tapi kenapa gua enggak dapat duit, ya? Karena kalian cuma bisa bikin konten-konten yang viral. Kalian harus ngerti setiap konten itu enggak semua konten itu harus viral, guys. Harus ada konten-konten yang nurturing kalian punya followers. Nurture itu adalah mengedukasikan, kalian ngobrol sama followersnya kalian. Dan ini adalah konten-konten yang sifatnya itu edukasi. Yang kalian cari bukan viralnya, bukan views yang kalian peduli di bawah ini, yang kalian cari di bawah adalah yang namanya engagement. Jadi enggak apa-apa enggak fishing-nya ekstrem kayak konten-konten di atas, tapi konten di bawah ini yang penting engagement-nya tinggi, orang mau nanya, orang tuh mau teredukasikan sama kalian punya konten. Dan terakhir yang bottom of the funnel, ini itu kasih tahu kalian punya offering itu apa aja sih penawarannya kalian. Dan di sini udah enggak peduli lagi namanya viral, enggak peduli lagi sama namanya engagement. Di sini, closing. Jadi kalau misalnya bisa dikategorikan dari atas nih, ya, kalau misalnya kita breakdown ini, ya, ini mungkin awareness doang nih. Kayaknya orang tuh tahu kalian, mendadak oh iya gua pernah lihat konten lu di sosial media, that's it. Terus makin ke bawah, dia udah bukan cuma tahu akunnya kita, dia udah problem aware. Dia tahu akun kita tuh menyelesaikan masalah apa, habis itu lanjutnya udah solution aware. Kayak akun kita tuh enggak cuma kasih tahu masalah doang, tapi ternyata bisa memberikan solusinya juga. Terus akhirnya product aware. Dia tahu bahwa ternyata akun kita itu ada produk untuk memberikan solusinya. Dan di bawah adalah kalian punya true fans. Di mana akhirnya mereka tuh enggak aware doang, mereka tuh enggak tahu-tahu kalian doang. Dia udah tahu kalian punya problem, kalian punya solusi, kalian punya produk dan akhirnya dia support lu. Dia jadi lu punya advokat. Nah, operating system berikutnya adalah kalian harus bisa memastikan kalian itu ngelakuin ini semua kagak di platform-platform media sosial. Karena platform-platform media sosial ini adalah kalian tuh lagi nyewa audiensnya. Karena kalian pikir secara kritis deh, kalau misalkan kalian itu lagi mau nge-blast atau nge-upload suatu produk, belum tentu kan ya semua orang lihat kan? Setuju? Tapi berapa persen sih dari kalian punya audiens yang lihat? 10%, 20%? Tapi kalau misalkan kalian itu sudah punya platform sendiri untuk nge-blast kalian punya offering, kalian punya produk 100%, orang-orang itu pasti lihat. Dan jadi semua itu dikontrol oleh kita. Itu perbedaan antara rented audience versus owned audience. Jadi kalian itu harus sudah punya platform sendiri untuk kalian itu memastikan kalian itu bisa nurturing kalian punya calon pelanggan, calon konsumen, untuk kalian itu bisa dapat monetisasinya seperti apa. Yang gua pakai namanya adalah linkkit.id. lynk.id. Jadi dari kalian dapat views, kalian lempar semua ke link-nya kalian. Ada cara paling gampangnya kalian pokoknya minta dia subscribe ke kalian dulu aja, jadi kalian dapat email database. Buat gua pribadi sendiri, gua demen yang namanya itu Leads Magnet. Jadi gua kasih beberapa course, beberapa konten eksklusif untuk mereka datang aja ke konten-kontennya gua. Untuk mereka datang aja ke rumah digitalnya gua, bukan ke pasarnya. Karena kan toko pasar digital ya TikTok segala macam. Nih gua mau ajak dia ke rumah gua nih. Gua ajak ke rumah dia, di ruangan pertamanya adalah gua punya konten-konten eksklusif buat mereka yang mau masuk ke rumahnya gua. Kayaknya gua makasih dong ya mereka dong masuk ke rumah gua. Nah, begitu mereka mau tahu lebih detailnya segala macam lagi, gua nurture lagi lewat yang namanya email marketing ataupun WhatsApp blast. Dan gua memakai ini semua pakai yang namanya linkkit.id di mana Linkkit sudah bisa langsung email marketing ke konsumen produk apa yang mau di-email. Sama halnya juga dengan WhatsApp Blast. Dan ini semua sudah enak banget, semua notifikasi semua sudah di-handle sama Linkkit. Kalian mau punya produk digital, mau punya produk fisik, mau punya event, kalian tuh bahkan bisa bikin jasa appointment. Semua bisa pakai yang namanya linkkit.id. Itu semua sudah bisa terotomatisasikan dan kalian itu akhirnya bisa lanjutin ke ruangan berikutnya, di mana itu ruangan yang berbayar. Jadi monetisasinya itu sangat lengkap banget memakai linkkit.id. Begitu kalian sudah ada own audience, kalian mula begitu sudah dapat rumah digitalnya, mereka tuh berasa oh ya sudah, digital aja. Gua ngelihat untuk 12 bulan ke depan justru jangan mikirin cuma rumah digital doang, guys. Menurut gua kata kunci untuk 12 bulan ke depan adalah yang namanya itu interaktif. Dan interaktifnya itu jangan cuma di digital doang, tapi di dunia offline. Karena orang itu gua lihat sudah makin bosan sama aktivasi via Zoom segala macam tuh banyak bosan. Mereka pengen real ketemu energinya buat bisa bertukar pikiran secara yang nyata gitu. Buat kalian yang sampai detik ini berasa, Gus, gua sudah lakuin ini semua, next-nya apa, Gus? Gua pengen tahu apa yang bisa bikin gua tuh bedanya ampun-ampun. Bedanya adalah kalian itu pakai yang namanya live. Dan jangan sampai live-nya itu cuma, oh ya sudah, Gus, berarti gua biasanya itu bikin konten pre-recording. Ya sudah, gua sama-sama bikin konten sama gua punya komunitas ya. Enggak gitu, guys. Aktifkan komunitasnya kalian dengan melibatkan komunitasnya kalian, ngobrol sama kalian. Gua lihat banyak banget kesalahan-kesalahan pemula ini. Karena dia berasa, oh ya sudah kalau misalnya kerennya komunitas ya sudah, yang penting kita aktifkan aja komunitasnya gitu kan ya. Kita bikin event. Tapi begitu event, ternyata enggak ada tuh interaksinya. Pastiin ada interaksinya, karena interaksinya itu yang bikin kalian punya event tuh beda. Mereka datang tuh 10% tuh buat materinya, 90% ya buat interaksinya, guys. Berikutnya adalah kalian punya plan, kalian punya rencana. Kalian sudah nonton dari mindset sampai gua punya kata kunci untuk 12 bulan ke depan. Tapi gimana caranya bikin ini semua jadi plan yang konkret? Pertama adalah goal-nya kalian apa dulu? Tulis gila-gilaan, tulis secara detail. Audiens kalian itu siapa, kata kunci yang kalian terasosiasikan, kenapa mereka tuh harus jadi lu punya true fans. Terus kasih goal finansial yang realistis buat kalian tuh berasa setidaknya tuh ada progres. Karena kalau misalkan tanpa ada sesuatu goal yang konkret untuk kalian itu bisa pegang, kalian pasti BT. Kalian tuh pasti berasa kok progresnya di sini-sini aja. Contoh kita ngomongin grafisnya income-nya kalian yang barang itu di dunia corporate-nya kalian, contohnya di angka 10 juta per bulan gitu kan ya. Kalian punya pengeluaran juga contoh di angka 5 juta per bulan gitu kan ya. Nah, begitu kalian berasa 10 juta per bulannya ini bisa digantiin, jadi dunia corporate kalian bisa diganti sama dunia kreatifnya kalian, kalian ganti gitu. Menurut gua sih pribadi kurang bijak, kenapa? Karena menurut gua kagak ada lagi industri yang kalian itu kerja 1 jam bisa penghasilannya itu sama kayak dunia corporate-nya kalian yang 9 to 5. Menurut gua lebih bagus, kalian punya pendapatan curve-nya itu ditambahin, jadi 10 juta tambah 10 juta lagi, jadi curve-nya naik lagi gitu. Jadi kalian punya pendapatan dan pengeluaran gap-nya makin banyak. Menurut gua pribadi itu lebih bijak, tapi jelasnya semua orang tuh punya konteks masing-masing, banyak variabel-variabelnya yang harus kalian coba timbang, pilihan dari kalian. Tapi kalau misalkan gua pribadi sendiri, kalau misalkan bisa memberikan ujangan, jangan langsung keluar gitu aja, justru ini pertahanin, guys. Justru pertahanin kalian punya dunia offline yang kalian berasa kalian kerja pada umumnya aja. Dunia kreatif ini untuk kalian tuh dapat duit lebih banyak lagi. Kayak barbel approach gitu loh. Kalian itu spend waktu mungkin di sini yang pasti-pasti aja, yang di sini dikit tapi bisa eksponensialnya ampun-ampun. So itu adalah gua punya content operating system yang gua bisa sharing ke kalian. Buat kalian pengen lebih detail lagi, coba cek ke link di deskripsi gua, itu gua ada beberapa studi kasus yang lebih detail lagi buat kalian yang pengen pembelajaran yang lebih dalam lagi, juga kalian bisa langsung aja ke link di deskripsi. Next video-nya siapa yang menurut kalian menarik untuk gua bawakan, tinggal komen aja di bawah, apakah kalian pengen kayak, Gus, gua sudah tahu cara bikin goal segala macam, itu lu enggak usah ngomongin. Kayak gua pengen lebih spesifiknya gimana cara dapat duitnya, mungkin kalian itu juga tertarik, bisa komennya di bawah. Jangan lupa like, comment, subscribe, nyalakan notifnya, share ke teman-teman kalian, and I'll see you in the next video, salam kreatif.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript