Thumbnail for IDE DASAR PENDIDIKAN | ROCKY GERUNG by Prophetical Voice Channel

IDE DASAR PENDIDIKAN | ROCKY GERUNG

Prophetical Voice Channel

13m 8s1,312 words~7 min read
YouTube auto captions
Transcript source

YouTube auto captions

This transcript was extracted from YouTube's auto-generated caption track. The transcript below is server-rendered so it can be read, searched, cited, and shared without opening the original YouTube player.

Pull quotes
[0:00]Ide dasar pendidikan di mana-mana diarahkan dan dikoordinir oleh paradigma historis bangsa itu.
[0:00]Jadi selalu ada determinasi historis, kultural terhadap infrastruktur pendidikan.
[0:00]Nanti saya nyambung tadi ke soal the origin of asal-usul pendidikan sehingga dia bertanya lebih sangat mendalam bahwa itu, siapa punya pendidikan, siapa punya pengetahuan di situ?
[0:00]Sekarang Perancis mendidik anak SD itu untuk mengerti dari awal human solidarity itu.
Use this transcript
Related transcript hubs

[0:00]Ide dasar pendidikan di mana-mana diarahkan dan dikoordinir oleh paradigma historis bangsa itu. Kalau kita pergi ke Perancis, moral awal pendidikan adalah justice. Karena dia punya pengalaman historis dengan French Revolution. Tapi kita enggak ingat Perancis melalui French Revolution. Kita ingat lewat pastry dari Perancis, kita ingat French kiss-nya. Kalau kita pergi ke Amerika, enggak ada justice dalam pendidikannya. Yang ada adalah liberal mind. Karena bagi orang Amerika, anything goes. Anda masuk Anda mau jadi apa saja itu. Jadi selalu ada determinasi historis, kultural terhadap infrastruktur pendidikan. Nanti saya nyambung tadi ke soal the origin of asal-usul pendidikan sehingga dia bertanya lebih sangat mendalam bahwa itu, siapa punya pendidikan, siapa punya pengetahuan di situ? Sekarang Perancis mendidik anak SD itu untuk mengerti dari awal human solidarity itu. Karena basah dengan peristiwa di alun-alun Kota Paris ketika kepala Raja Louis itu dipenggal dan membuktikan bahwa kepala Anda tidak diwahyukan, tidak dipasang oleh Tuhan mahkotamu, tapi dipasang oleh rakyat. Itu rakyat boleh ambil kembali mahkotamu. Tapi rakyat keburu jengkel, bukan cuma mahkotanya yang diambil, kepalanya juga diambil. Jadi pengalaman itu menunjukkan bahwa ada ide utama yang membekas ke tingkat sosietal, ke dalam masyarakat, dalam sosial, yaitu human solidarity atau yang biasa kita ingat liberte, egalite, fraternite, tapi dasarnya adalah human solidarity. Di Eropa, sorry. Di Amerika enggak ada revolusi sosial, yang ada revolusi kemerdekaan. Jadi orang Perancis paham tentang mendidik manusia demi human solidarity. Orang Amerika mengatakan, kami mendidik demi individualisme itu. Sekarang Indonesia, philosophical foundation dari pendidikan kita apa? Yang kita tahu origins cuma yang tadi diterangkan oleh Pak Profesor, yaitu pikiran dari Suryaningrat, dari Siapa? Ki Hajar Dewantoro. Yang sering kita plesetkan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Kita bisa bongkar itu karena di dalamnya masih ada elemen feudalism. Sisa-sisa hirarki kerajaan ada di situ sehingga Pak Prof tadi mengatakan di situ ada sedikit feudalism. Tetapi bahkan dalam periode 10 tahun Pak Jokowi yang terjadi bukan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Ngarsa Sung Korupsi. Bukan Ing Madya Mangun Karsa, Ing Madya Mangun Dinasti. Bukan Tut Wuri Handayani, Tut Wuri Mal Sumbang Ijazah. Jadi itu idenya sehingga kita diol-ole oleh bangsa lain dengan akibat skor kita itu ditentukan oleh tadi internasional 78 Anda skormu itu. Padahal kalau kita tanya kenapa kita 78, emangnya kita punya pengalaman historis yang setara dengan Eropa atau dengan benua Amerika? Lain. Kita bikin skor sendiri mestinya itu, tapi kita enggak mampu bikin scoring itu. Karena kita sudah dipaketkan sebagai bagian dari tadi social origin, intellectual origin kita harus tune in dengan parameter dunia itu. Itu masalah dia tadi kan. Jadi sekali lagi, kita mau banggain kondisi awal pendidikan ini dengan mengutip-ngutip doktrin pendidikan Barat di dalamnya termasuk scoring kita itu. Sehingga UI misalnya mesti pakai World Class University itu. Ngapain World Class University? Orang bisa belajar dari Artificial Intelligence. Tempat saya mengajar 15 tahun saya mengajar di World Class University. Kalau singkat WCU itu. Yes. Itu juga feudalism itu berlaku di situ di UI itu. Jadi sekali lagi, kita mau coba lihat kembali pada semacam ke naturalan manusia untuk punya curiositas. Pendidikan dimulai oleh keinginan untuk menghadapi kenyataan real. Dari situ teori muncul, dari situ dalil diturunkan. Dari situ ethics penelitian dibuat. Kan itu yang tidak ada di dalam sistem kita itu. Kita meneliti apa? Meneliti berdasarkan proposal, bukan berdasarkan origin curiosity dari seorang intelektual. Itu yang menyebabkan akhirnya tadi semua lulusan perguruan tinggi yang masuk dalam teknostruktur dan di dalam teknostruktur tidak berfungsi pikiran-pikiran epistemik. Yang ada di situ adalah pembenaran terhadap kebijakan politik yang dibuat oleh kekuasaan. Purbaya belajar di luar negeri tentang ekonomi, economics. Economics doesn't lie, Ministry of Economics does. Kenapa? Karena dia kacungnya Presiden. Itu yang terjadi itu. Jadi pertahanan akademik kita bobol karena rayuan-rayuan material itu mendahului pertahanan epistemik itu dasar kita. Padahal kalau kita belajar dari awal sejarah manusia, kita belajar untuk menembak itu. Karena kita takut akan diterkam binatang buas maka kita belajar memanah. Belajar memanah menyebabkan kita punya keahlian mempertahankan diri. Tapi kemudian dia tumbuh menjadi senjata nuklir. Jadi evolusi itu disebabkan karena ada satu yang real yang kita hadapi, yaitu kebuasan alam, maka kita damaikan dengan kebuasan alam dan bertahan hidup di situ kan. Nah eksesnya kemudian kita ingin supaya ada ukuran kuantitatif dari pendidikan, maka mesti sekian banyak PhD, sekian banyak guru besar, sekian banyak S1 itu, S3. Akibatnya apa? Surplus ijazah, defisit value. Penelitian UI sebulan lalu, 9.000 anak S3 sudah 4 semester enggak dapat pekerjaan, lulus S3. Akibatnya apa? Ya dia masuk ke wilayah yang lebih fungsi-fungsi anak SMA, yaitu ngojek, jadi supir ngojek. Jadi dia mengambil alih hak dari generasi yang lulusan SMA. Negara mau bikin apa, enggak bisa bikin apa-apa. Kemampuan kita untuk mengembalikan pikiran, kan kita tahu bahwa pendidikan itu kata Socrates, itu adalah seperti dokter kandungan, maiotik teknik. Teknik untuk mengeluarkan janin. Kalau dokter keluarin janin, dia ingin menghidupkan manusia. Kalau pendidik mengeluarkan janin pikiran, dia ingin menghidupkan harapan. Jadi pendidikan juga sama dengan teknik dokter, bantu keluarkan itu tapi itu bukan milikmu loh. Itu bayi dari si Ibu, Anda cuma membantu keluarkan dari rahimnya itu. Dan dia mesti bertumbuh berdasarkan epistemic community di sekitar dia itu. Nah kita enggak ada itu. Kita enggak ada community of thought, kita enggak ada argumentative society itu. Parah. Itu juga yang menyebabkan perkembangan interdisipliner enggak jalan. Tanya pada anak teknik, mampu enggak dia ngomong tentang hukum? Enggak bisa. Anak hukum enggak bisa ngomong ekonomi. Anak ekonomi enggak enggak enggak tahu prinsip-prinsip Stephen Hawking. Jadi kita mesti bikin pendidikan itu sebagai kegembiraan untuk bercakap-cakap, kegembiraan untuk berpikir, kegembiraan untuk saling membantah. Kan itu yang namanya komunitas universitas harus begitu, disebut universitas artinya saya, saya awalnya belajar elektro, lalu saya belajar ekonomi, saya belajar hukum, saya belajar hubungan internasional, saya belajar filsafat segala macam itu. Saya enggak peduli pembatasan itu. Tapi kalau Anda ikut saya, Anda enggak akan dapat jabatan di BUMN. Kan ada standarnya di situ tuh. Jadi bayangkan anak teknik jadi menteri keuangan, anak ekonomi jadi aktivis LSM. Jadi sekali lagi, kita kita coba bayangkan ya bahwa Indonesia itu punya origin idis tentang knowledge itu. Kita produksi pikiran itu. Fasilitas untuk mem-backup pikiran itu tersedia di seluruh dunia, kita bisa pinjam metode berpikir filosofis Eropa, pragmatisme Amerika, wilayah-wilayah critical studies dari Afrika, pedagogi of the oppressed, Amerika Latin. Tetapi itu semua memerlukan seorang pemimpin yang secara komprehensif mampu mengolah sumber daya pikiran itu. Di mana kita hasilkan pemimpin itu? Ya lewat pemilu pada akhirnya, buat tapis itu. Tetapi tapisan itu dibuat sedemikian rupa sehingga kapasitas intelektual tidak diuji, kapasitas moral tidak diuji. Yang diuji apa? Elektabilitas. Apakah elektabilitas di seluruh universitas? Enggak. Elektabilitas dihasilkan oleh lembaga survei. Kita beli aja elektabilitasnya. Karena itu, supaya pendidikan kita betul-betul bermutu, seorang pemimpin dia mesti do speak environmental ethics, do speak global security, do speak human solidarity, do speak culture, etcetera. Nah itu yang kita inginkan supaya generasi 2029 bertengkar di wilayah itu untuk menapis pemimpinnya itu. Kita tapis pertama itu moralnya, etika bility-nya. Pernah enggak dia memberi nilai A pada mahasiswa? Karena mahasiswa dia bujuk untuk diuji di kamar kerja dia yang tertutup. Hirarki seorang dosen menyebabkan aktivitas seksual. Jadi kita nilai soal-soal begituan. Apakah dia mau jadi calon pemimpin nanti kalau dia dari awal punya moral yang sebetulnya hirarkis, patriarkis itu menekan mahasiswa seperti kasus-kasus Epstein file? Yang kedua, kalau dia lolos etika ability, baru kita uji intelektualitasnya di kampus baru kita izinkan dia pergi pada lembaga survei untuk tahu elektabilitasnya, kan begitu.

[12:28]Jadi sekali lagi, memang tadi mesti ada radikal break dalam segala soal itu. Supaya satu waktu kita bisa pastikan bahwa negeri ini ada dalam arah dan visi yang betul-betul didesain untuk menghasilkan leader bukan dealer. Sekarang pemimpin kita, dosen itu banyak yang jadi dealer aja kan. Jadi ini kesempatan yang bagus karena saya itu setiap kali ada undangan untuk soal-soal semacam ini saya pasti datang itu. Karena berupaya untuk mendeteksi potensi awal menghasilkan kembali Indonesia yang berpikir.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript