[0:00]Yang disebut bonus demografi, enggak ada. Wong anak mudanya enggak bertambah, rahim perempuan enggak mau melahirkan. Kan itu, iya, iya, konteksnya kan. Jadi bayangin ada depopulasi, tapi berharap ada bonus demografi. Itu contradictio in adjectiva. Yap. Lalu Faris tadi juga terangkan bahwa ada upaya untuk memberi hak pada generasi melalui intervensi anggaran. Anggaran pendidikan 20%. Tapi kita tahu akhirnya yang tadinya apa tadi sebelah sana itu nilai tapi fact-nya lain. Normanya adalah 20% untuk pendidikan, faktanya 20% itu diambil untuk dana desa. Oke. Faktanya dana desa itu pindah menjadi MPG. Faktanya MPG berubah menjadi kaos. That's the reasoning. Jadi dari awal omong kosong untuk bicara tentang bonus demografi, kalau tadi analisis dari Pak dokter dan ekonom kita itu betul-betul diperhatikan. Anda mau jadi dokter sekarang, mau ngapain? Mau jadi ginekolog, jangan. Karena enggak ada guna jadi ginekolog, kan kan enggak ada kehamilan. Enggak ada yang hamil. Enggak ada yang hamil, ngapain jadi ginekolog? Dokter kandungan. Jadi Anda kalau masuk kedokteran, saya anjurkan ambil jurusan psikiater. Praktiknya di mana? Di Jogja, enggak. Di Jogja akalnya waras semua. Anda jadi psikiater, buka praktik di Solo.
[2:02]Yang sudah tepuk tangan, oke terima kasih.
[2:08]Jadi kita ada di dalam kesulitan itu untuk membayangkan masa depan. Karena itu tadi apa, lagunya apa. Pohon. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Tukang kayu sebentar lagi jadi tahanan.
[2:34]Saya cuma terusin assuming kawan berdua ini, oke. Sekarang masuk ke hal yang lebih komedian yang tadi serius. Kita berpikir tentang hak generasi. Lalu kita mulai melihat bahwa kegelisahan generasi hari ini justru dianggap sebagai subversi terhadap kekuasaan. Karena itu 900 mahasiswa masih ada ditahanan. Lho ini generasi yang berupaya untuk bring ideas back into the very heart of democracy. 900 orang yang lagi ditahan, itulah yang memungkinkan kita percaya bahwa mereka berpikir, mereka melakukan mengucapkan critical overview terhadap keadaan kekuasaan. Jadi paradoks-paradoks ini yang ingin kita bongkar hari ini sebetulnya. Kemarin 3, 3 hari lalu saya masih kasih kuliah di Jordan, di Yarmouk University. Terus datang mahasiswa yang lagi belajar di situ. Saya tanya kalian mau pulang enggak setelah selesai dapat beasiswa LPDP itu. Sebagian besar bilang enggak, enggak mau pulang gitu. Kita mau, kenapa dia enggak mau pulang? Bukan enggak dia bertanggung jawab terhadap uang yang diberikan oleh negara. Di mana patriotismenya? Tapi dia berpikir rasional. Kalau saya pulang, saya menikah, anak saya lahir, MPG-nya sudah bubar. Karena dananya habis kan. Jadi saya mengerti bahwa bukan sekedar brin drain, tapi brain yang sudah ada di luar sana enggak mau drain back ke sini. Hal yang akhirnya saya lihat begitu. Berapa tahun lalu saya kasih kuliah yang sama di Polandia warsawad. Dua anak angkat tangan, dua-duanya perempuan, anak ITB. Pak Rocky, kami barusan menyelesaikan disertasi. Satu di bidang nuklir, satu di bidang manajemen itu. Lalu diajukan pertanyaan sama, kalau kami enggak pulang, keterangan etisnya apa? Artinya dia bingung. Kalau dia enggak pulang, dia mengkhianati mengkhianati negara yang membiayai dia. Kalau dia pulang, saya tanya, kalau Anda pulang kenapa emang konsekuennya? Gini Pak, kalau saya pulang saya akan kembali ke kementerian, yang bos saya itu tiap hari perintahnya adalah mark up anggaran. Dia enggak mau pulang untuk jadi kacung dari pejabat yang tiap kali memerintahkan dia mark up mark up. Dia enggak mau pulang karena ekologi korupsi itu belum tuntas di Indonesia. Dilema moral bagi mereka. Mereka ingin mengabdi pada negara. Tapi mereka tahu bahwa struktur teknokratis kita lebih banyak dikuasai oleh para koruptor. Jadi kita mulai melihat bahwa penting untuk membangun semacam reaksi terhadap saya pakai istilah aja potensi. authoritarianism. Creeping authoritarianism. Otoritarianisme lagi, lagi merangkak itu, bisa terjadi kapan saja. Jadi mem-backup negeri ini dengan ide, dengan pikiran dimaksudkan untuk mengembalikan nalar publik itu jadi grammar of the town. Itu pentingnya oposisi, itu pentingnya partai yang beroposisi yang sekarang enggak ada kecuali PDIP. Jadi hal-hal ini yang saya kira bisa membuat kita percaya kalau diskors ini kita perluas dari Jogja kita bisa katakan satu saat bahwa Jogja sudah kembali ke dalam kultur berpikir. Jogja ya, bukan UGM.
[7:22]Kan dalilnya itu. Jadi sekali lagi kalau pembicaraan semacam ini tiga empat kali kita diseminasi di kampus, pasti akan terbentuk critical epistemology, critical epistemic. Komunitas epistemik yang hanya dihidupkan oleh keinginan untuk berpikir, keinginan untuk berargumen secara rasional.
[7:53]Dengan cara itu saya percaya bahwa Jogja bisa menghalangi makhluk-makhluk pragmatis, makhluk-makhluk rakus untuk merampas hak generasi di sini. Saya percaya Jogja tidak akan jadi kandang gajah.



