[0:02]Ada apa anak muda? Papa, aku mau beli game ini pah. Yang YouTuber-YouTuber banyak yang mainin game ini. Game-nya keren, Pak. Aku, aku mau mainin. Apa?
[0:17]Kamu enggak boleh main game ini, Nak. Lihat rating ini. Tapi, tapi, Papaku.
[0:24]Anak-anak usia kamu harusnya main ini. Furry Feet. Lihat ratingnya. Aku enggak suka Furry, Pak. Aku.
[0:36]Main.
[0:40]Apakah kalian tahu kalau di Indonesia ada satu lembaga yang dari dulu berusaha untuk terlihat kerja. Terlihat punya gagasan baru. Terlihat Elon Musk. Bahkan membuat suatu kebijakan dengan dasar quote on quote kepedulian pada rakyat. Tapi masalahnya, hampir semua kebijakan lembaga ini enggak ada yang berhasil. Semua kerja mereka gagal karena emang idenya yang aneh, implementasinya yang enggak niat dan stupid. Membuat masyarakat marah dan kecewa. Gua enggak bisa tidur memikirkan apa yang akan dilakukan lembaga ini ke depannya. Sehingga gua mulai berpikir kalau lembaga ini dibuat untuk ngerjain masyarakat. Mereka. Kerjaan mereka apalagi kalau bukan ngerjain masyarakat. Lembaga ini, tak lain dan tak bukan adalah Komdigi. Terakhir kali gua lihat kebijakan Komdigi itu yang melarang anak di bawah 16 tahun pakai sosmed. Yang di mana sebenarnya dari awal gua tahu kalau ujung-ujungnya ini kebijakan pasti gagal. Dan beneran gagal. Sekarang malah Komdigi mengancam ingin memblokir YouTube. You know what? Gua tantang lu coba blokir YouTube. Ayo, gua mah pengen lihat. Gua bakal bawa popcorn, kursi portable, LeBron James, dan tenda. Gua bakal camping depan gedung Komdigi untuk melihat seberapa lama kebijakan ini bisa bertahan. Dan sekarang, belum lama-lama ini IGRS mulai berlaku. Buat kalian yang masih belum tahu IGRS apaan, singkatnya IGRS ini sebuah rating klasifikasi game, gitu kan, kayak PEGI 18, PEGI 12. Cuma ya sesuai singkatannya aja. I G R S. Ini, gue rating sesuka hati gue. Karena ratingnya banyak yang ngaco. Take a look at this game. VR Kanojo. Literally game Bokep itself, Bro. Di tag-nya aja kita udah bisa ngelihat sexual content, nudity, Hentai. Bahkan game ini dimark sebagai game dewasa oleh Steam. Tapi berdasarkan penilaian Komdigi, game ini mendapatkan rating tiga. Jadi kalau lu punya anak umur 5 tahun, menurut sistem penilaian yang dibuat oleh Komdigi, maka anak tersebut boleh untuk main game bokep. Dan ini berlaku untuk beberapa game dewasa lainnya. Five Hearts Under One Roof. Kekerasan. Did we hit woman in this game? Tapi sementara Upin Ipin, literally game bocah keliling kampung, mendapatkan rating 18+ karena horor.
[3:10]Gua tahu Upin Ipin sekilas kayak Toyol. Dari screenshot game-nya aja kita bisa ngelihat kayak PP lagi dirampok. Mereka juga melakukan ini ke beberapa game santai lainnya kayak Little Witch in the Woods, Bro. Ini literally game meracik ramuan herbal untuk orang-orang. Boom. Satu-satunya orang yang memakai obat-obatan terlarang di sini adalah orang yang membuat sistem rating IGRS. Mereka bahkan melakukan hal sebaliknya ke game di mana kita nembak-nemabkin warga, gore darah bercucuran di mana-mana. Bahkan main bola pun kena 18+. Main bola apaan 18+ ini, Cok? Tapi itu semua masih belum seberapa. Ada klasifikasi yang tergolong jauh lebih menyeramkan. RC, Refused Classification. Membuat game tidak bisa didistribusikan dan terancam menghilang dari toko. Kayaknya contohnya beberapa ada Metaphor, Like a Dragon dan juga Game of The Year. Clair Obscur Expedition 33. Setelah bertahun-tahun lamanya gua menunggu, cuma game ini yang bisa membuat gua immerse ke dalam game-nya, disertai dengan story yang menyentuh hati dan soundtrack yang masterpiece. Gua sengaja enggak buka medsos selama berminggu-minggu, cuma demi enggak dapat spoiler. Lihat, lihat grafik game-nya. Saking indahnya game ini, Komdigi sampai crot. Makanya ini game dianggap porno sama mereka sampai-sampai mendapatkan achievement tidak layak untuk didistribusikan karena dianggap kemungkinan melanggar hukum nasional. Hukum, hukum nasional apa yang dilarang? Having fun? Bersneng-senang sekarang kita dilarang untuk bersenang-senang di negara ini. Dulu gua menganggap IGRS mungkin sistem yang baik karena emang niatnya ingin melindungi anak-anak Indonesia dari game yang bisa kita anggap agak sakit developer-nya. Tapi ternyata setelah sistem ini diterapkan, gua menyadari kalau gua salah. Gua lupa. Ini Komdigi. Implementasinya pasti ancur. Dan karena kejadian ini, Komdigi bikin statement ini. Holy shit. I know you fit ass pada malas baca. Ya sebenarnya gua juga malas baca ginian. Tapi, tapi ya intinya gini. Sistem IGRS itu basically masih setengah-setengah. Masih dalam bentuk self assessment. Ke depannya akan dilakukan proses verifikasi resmi IGRS. Walaupun sebenarnya enggak ada alasan sih ya. Orang lain bisa pada 12 ratingnya. Ini apaan sendirian 18? Saat ini Steam sedang dalam proses penyesuaian. Steam sudah lama, sudah berapa kali mereka nanganin rating game berbagai negara. Dikatakan anak baru kemaren sore kali bagi mereka. Dan oleh karena itu Komdigi akan meminta klarifikasi dari Steam. Nah kan. Sekarang Steam tuh yang disuruh klarifikasi. Emang Edan ini lembaga. Enggak mau banget disalahin. Makanya nyalahin orang. Steam telah melakukan rating palsu. What? Motherfucker, what the fuck? Jangan samain Steam sama Komdigi. Steam mah enggak ada malas-malasan. Ada game yang enggak sesuai dengan kebijakan mereka, ya langsung mereka ban. Akun kita di-hack aja langsung dibom itu rumah orang yang nge-hack-nya. Emang elu, lu Komdigi bisa apa? Komdigi bisanya kalau bisa jangan menyerang. Kontol. Steam ditenggarai melanggar aturan hukum di Indonesia. Oke, oke man. This dude, man. Who the fuck he think he is, bro? Ah! Pantas, pantas jago ng-rat-chat, udah pengalaman ternyata.



