[0:08]Sampean tak ceritani, kenapa ilmu saya manfaat. Di antaranya itu gara-gara gawe kopi dewe. Loh nggih kulo ngeten. Saya itu kalau bikin kopi jam 04.30 itu bikin sendiri. Karena sederhana teorinya. Ini agar kalian tahu ilmunya ulama. Allah kan dawuh fasabih bihamdi rabbika qobla syamsi wa qobla. Kamu baca tasbih sebelum matahari terbit. Sanggup aja jam 04.30 atau jam 05.00 lah. Bangun tidur, berhubung ingin buat kopi, maka saya buat kopi. Entahlah nanti kalau saya sudah tua mungkin enggak kuat. Tapi selama masih kuat itu saya bikin sendiri, gawe kopi. Teori saya sederhana. Gusti, kulo niku nak kulo bade gawe kopi niku bade seneng. Nak bade seneng mengke kulo eling jenengan. Na jenengan maringi rezeki kulo kopi terus melek terus seneng. Karena racikan kopi itu radikados wine, radikados khamer, radikados no? Khamer. Dadi rondo mabuk. Khayal. Jare konco kulo. Kon opo kowe seneng ngombe kopi. Wah Gus nglaleno utang. Mergo sejarahnya kopi itu saya pernah baca sejarah. Kopi di Italia pertama itu jek diarani wine of Arabic. Karena awalnya orang Itali minum arak. Sejak kenal pedagang Arab, jadi minum kopi. Ketika diminum ternyata sama-sama bisa membantu melupakan masalah. Sehingga mereka sebut dengan wine of Arabic. Mulane wong Itali nak diarani kopi iku wene wong Arab. Mulane opo santri wong melarat seneng kopi iku rondo khamar. Mergo podo-podo nglalekno masalah. Dadi ada orang Eropa itu pernah lama diarani kopi iku wene wong opo? Arab, wong Islam. Ini saya beri tahu sejarahnya. Makanya kalau ngopi, harus tetap ingat Allah. Karena cukup memabukkan. Artinya sederhana. Ini bukan ujub, tapi saya contohkan kehidupan keseharian. Sebab, maka tujuanmu adalah agar senang. Demi bisa senang, jika kamu membuat kopi sendiri kan gak banyak ta'liq. Ta'liq itu menggantungkan sesuatu pada orang lain. Misalnya membangunkan istri. Oke kalau istrimu bangun sambil senyum. Bagaimana jika sambil cemberut? Berarti untuk senang, kamu harus tunggu istrimu bangun, cekatan, sambil senyum, membuatkan kopi yang takarannya pas, tidak terlalu manis, sesuai seleramu. Kamu bergantung pada lima hal. Padahal ada kemungkinan dia bangun sambil cemberut. Jadi batal satu. Atau kebetulan dia senyum, tapi takarannya kurang pas. Atau dia senyum, takarannya pas, tapi, "Sebentar, ya, ke kamar mandi dulu" Jadi, ya Allah! Saya tidak akan mengorbankan kesenangan saya dengan bergantung pada lima hal. Bodoh sekali kalau saya menyukai sesuatu dengan bergantung pada lima hal. Kalau saya bikin sendiri kan beres. Kalaupun salah, itu kesalahan saya sendiri. Atau ternyata kurang pas, tinggal disesuaikan sendiri. Sering saya mencari sesuatu karena gak tahu tempatnya. Sering juga dimarahi, "Syukurin!" Itulah saya. Saking cintanya pada Allah, saya bahkan takut untuk mengganggu istri. Bukan karena saya takut sama istri, tapi takut kecintaan saya pada Allah harus bergantung orang lain. Betul itu. Saya ngaji di sini karena kecintaan pada Allah. Andaikan yang ngaji hanya Rukhin seorang, gairah mengaji saya tetap sama. Karena bagi saya ngaji itu nilainya Allah yang menghitung. "Baha ngaji istiqamah", dinilai. Ya sudah. Tanpa peduli siapa yang mendengarkan. Entah itu setan, iblis, malaikat, manusia. Itu juga alasan kenapa saya sering pergi sendiri, karena tadi, pergi dengan orang lain, kalau sampai mengganggu, maka saya zalim. Kalau kurang berkenan dengan sifatnya, maka saya ta'liq. Mencintai Allah kok kebanyakan ta'liq? Lebih baik saya sendiri, bebas dari ta'liq. Jadi, kenapa wali-wali Tuhan itu suka menyendiri? Dia tidak mau ta'liq. Dia tidak ingin kecintaannya pada Allah digantungkan. Padahal syarat sah jadi wali adalah bahagia. Jadi, ciri utama wali adalah, tidak punya rasa takut, tidak punya rasa sedih.
[4:06]Dan bahagia tentu butuh sekian perangkat. Karena harus bersentuhan dengan pihak lain. Itu tadi, jika Anda suka ngopi dan bergantung harus membangunkan istri terlebih dulu, maka kemungkinannya lima hal tadi. Bangun cemberut. Dan lucunya, kemungkinan pertama justru yang paling sering. Maka kamu akan sangat bertaruh. Apalagi jika kamu tak terlalu mampu menafkahi, pakai membangunkan segala. Potensi keburukannya kan lebih banyak. Kenapa kita harus repot berjudi? Kalau buat sendiri kan beres. Buat sendiri, diminum, sambil nge-fly sedikit-sedikit. Damai! Jadi, jika betul seseorang mencintai Allah, bahkan perangkatnya disiapkan segitunya. Saya pernah dimarahi Ibu, "Jangan segitunya kepada anak." "Karena akibatnya akan begini, begini", tapi saya tetap seperti ini. Bukannya saya memuji anak saya pasti saleh, yang jelas saya tahu anak saya sudah sujud dan melafazkan kalimat tayibah. Bagi saya ini spesial. Bayangkan, orang kafir puluhan tahun, sampai-sampai Allah mengutus nabi. Saya beri tahu kalian caranya bersyukur. Sekarang, Abu Jahal itu kafir puluhan tahun. Abu Lahab kafir puluhan tahun. Sampai Allah mengutus Rasulullah Muhammad, melibatkan jibril, hanya demi melafazkan tauhid. Artinya, kekafiran ini mau dihilangkan sampai melibatkan Muhammad, Jibril, Mikail, dan beberapa malaikat. Hanya untuk menghilangkan kekafiran, dan melafazkan laa ilaaha illallaah. Tapi sekarang kalimat ini sudah jadi rutinitas. Sekarang anakmu melafazkan tauhid kamu anggap biasa. Yang luar biasa justru jika dia cium tangan di depan umum, takzim, penurut. Budak pun nurut. Burung beo jika kamu latih juga nurut. Begitu pula anjing. Kalau hanya sebatas nurut, anjing yang dilatih pun nurut. Cobalah sekali-kali ubah obsesi kamu jadi kalimat tauhid. Kalau sudah begitu, disebut, Ibrahim adalah orang yang membuat kalimat tauhid, jadi abadi dan ditanamkan pada anak-anaknya. Itulah alasan kenapa saya hormat pada anak. Tapi alhamdulillah, istri saya setelah saya bombardir, tiap hari saya nasihati, sekarang mulai mikir. Dia jadi takut membentak anak, "Duh, takut kualat" Saya sangat bersyukur akan hal itu. Mulai ada yang mendukung saya, satu-dua orang. Guru-guru SD, "Jangan berani-berani memarahi anak! Kualat, kata Gus Baha!" Entah niat dia mengejek atau mendukung. Entahlah. Tapi mulai saya tanamkan sedikit demi sedikit bahwa berani pada anak itu kualat. Saya tak peduli kalau pun dianggap aliran sesat. Cobalah mulai berpikir, hubunganmu dengan anak itu apa? Jika kamu anggap dia anakmu, padahal kontribusimu hanya meniduri istrimu. Kontribusimu 'kan hanya meniduri istrimu, dapat kenikmatan, dan jadilah anak. Lalu kamu anggap itu anakmu, atas dasar apa? Bagaimanapun, itu tetaplah kehendak Allah. Tetap saja itu aset Allah. Makanya Nabi Sayidah Maryam, kenapa bisa jadi wali? Sayidah Maryam jadi wali itu karena obsesinya satu, "Janin yang di perutku ini saya nazarkan khusus untuk mengkhidmahi Agama Engkau"
[7:54]Tentu bayangan dia karena jadi kiai itu harus laki-laki dan harus saleh. Tapi berkat nazarnya itu, dia jadi punya anak Maryam. Dia pun agak kecewa.
[8:36]Benar saja. Maryam punya anak Isa yang kelak jadi legenda dalam mengawal agama Allah. Karena apa? Imro'atu Imron itu tidak pernah melihat itu anaknya. Tapi, "Ini anak untuk Agama" Tapi umat muslim sekarang ikut-ikutan kaum kapitalis, "Rawatlah anakmu. Siapa yang akan merawatmu jika tua nanti?" Itu omongan orang awam! Orang yang tidak salat juga bisa berkata begitu. Saya tidak akan berkata begitu. Makanya sering saya didik, "Nanti kalau Bapak mati, sering-seringlah berdoa dan kirim Fatihah" Saya tidak pernah membayangkan jika tua nanti akan dirawat anak. Biasa saja. Sebelum ada anak pun saya sudah dirawat Allah. Jika tua nanti kamu dirawat anak, memangnya sebelum ada anak, siapa yang merawatmu? Orang tuamu? Hidupkan saja kembali orang tuamu untuk merawatmu! Teori-teori makhluk itu akan selalu batal. Ajaran Qur'an semacam ini sudah mati. Orang tidak lagi tahu kenapa Maryam jadi orang luar biasa. Lantaran ibunya bernazar, "Ini anak untuk Engkau", maksudnya untuk berkhidmah pada Agama. Beda dengan sekarang; Nuelameti anak agar kelak dia ada yang merawat. "Memang kamu siapa? 'kan kamu yang meniduri istrimu, kok jadi berharap dirawat?" "Sudah dapat kenikmatan, minta dirawat pula" Tapi jika kamu kembalikan ke Allah, Allah pasti merasa kasihan, "Dia benar. Sudah tahu tidak berhak atas apapun, dia jadikan anaknya aset Agama" Makanya, pujian Kanjeng Nabi kepada Sayid Hasan-Husain, "Kelak Hasan akan bertugas mendamaikan dua kelompok yang bertikai"
[10:20]Dan masyhur, yang menghentikan perang Ali-Muawiyah adalah Pasca meninggalnya Sayidina Ali, pimpinan diambil alih Hasan, lalu Hasan ikhlas menyerahkannya ke Muawiyah. "Daripada terus bertikai, lebih baik ambil saja sana" Akhirnya jadi Dinasti Umayah, lantaran Sayid Hasan tidak meneruskan warisan dari Sayidina Ali. Ingat, ya. Setelah ngaji ini, jangan berani-berani pada anak! Kualat! Itu tadi, kalau orang lain Anda hormati karena kalimat tauhid, kalimat itu kan juga ada pada anakmu. Cuma, sialnya anakmu, hanya karena dia anak, kamu jadi berani memarahinya. Coba, Anda menghormati orang lain karena apa? Karena dia muslim! Apa Anda bisa hormat pada orang kafir? Mana mungkin! Sekarang, anak Anda muslim. Berarti status dia ganda; Anak, plus Islam. Berarti dia punya dua sebab. Benar apa kata bapaknya teman saya, "Seandainya kiaimu poligami, akankah tetap kamu hormati?" "Tentu!" "Aku bahkan punya dua status; Kiai sekaligus bapakmu!" Akhirnya semenjak itu, dia hormat, "Setelah kupikir-pikir, benar juga, Gus! Status Bapak itu dua; Kiai sekaligus orang tuaku" Karena poligami, dia jadi benci. Padahal andai kiainya yang poligami, dia tidak berhak membencinya. Lho, harusnya kan sama saja. Tidak bisa, "Itu kan secara psikologi...", psikologi apanya! Hukum kok melibatkan psikologi segala! Hukum, ya, hukum!



