[0:01]Kabi, kisah teladan Nabi. Wah, yuk dukung Kabi dengan menekan tombol subscribe. Jangan lupa bunyikan tanda lonceng untuk notifikasi. Selamat menonton.
[0:20]Kisah Nabi Ibrahim alaihissalam, Bapak para Nabi.
[0:27]Apakah kalian masih ingat pada janji iblis ketika mereka diusir dari surga? Iya, mereka berjanji akan menggoda dan menyesatkan seluruh umat manusia dan iblis berhasil memenuhi janji tersebut. Jumlah manusia terus bertambah. Mereka terbagi menjadi tiga golongan. Menyembah kepada patung-patung berhala, menyembah kepada benda langit, dan menyembah kepada para raja. Kala itu, hiduplah seorang raja yang sangat berkuasa. Dia adalah Raja Namrud dari Babilonia. Pada suatu malam, Raja bermimpi melihat kelahiran seorang bayi laki-laki dan kelak bayi itu akan menghancurkan kerajaannya. Raja Namrud merasa bahwa mimpinya itu sebuah pertanda buruk. Maka, dia pun memerintahkan untuk membunuh semua bayi laki-laki yang lahir di Babilonia. Di suatu daerah, sepasang suami istri sedang ketakutan setelah mendengar perintah itu. Istriku, sampai bayi kita lahir, engkau harus terus bersembunyi di tengah hutan. Tapi, engkau adalah pematung paling hebat. Raja pasti akan mengampunimu. Tidak, jika anak kita laki-laki, raja pasti akan membunuhnya. Setelah itu, sang istri terus bersembunyi di dalam sebuah gua. Sesekali, Azar akan datang untuk menjenguknya, sekaligus membawakan makanan serta keperluan lainnya. Hari kelahiran pun tiba dan sang istri melahirkan bayi laki-laki. Mereka berdua begitu bahagia sekaligus takut. Bagaimana jika raja menemukan anak kita? Tinggallah engkau di sini lebih lama lagi. Beberapa tahun kemudian, keadaan kota sudah kembali aman. Azar pun menjemput istri dan anaknya untuk pulang kembali ke rumah. Azar begitu bahagia bisa berkumpul bersama keluarganya. Apalagi, bayi laki-lakinya telah tumbuh menjadi anak yang cerdas. Dialah Nabi Ibrahim. Setelah kembali berkumpul, Nabi Ibrahim mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang pembuat patung yang sangat terkenal. Suatu hari, Nabi Ibrahim bertanya. Patung apakah ini, Ayah? Kedua telinganya besar, lebih besar dari telinga kita. Sang ayah tersenyum sambil menjawab, Itu adalah Marduk, Tuhan para Tuhan wahai anakku. Dan kedua telinga yang besar itu sebagai simbol dari kecerdasan yang luar biasa. Nabi Ibrahim merasa bingung. Bagaimana bisa ayahnya menciptakan Tuhan dan mengapa ada begitu banyak Tuhan? Nabi Ibrahim bertanya lagi. Lalu, dari apa Tuhan-tuhan itu diciptakan ya? Ini dari kayu pelepah kurma. Itu dari zaitun dan berhala kecil itu dari gading.
[3:54]Lihatlah, alangkah indahnya. Hanya saja ia tidak memiliki nafas. Mendengar jawaban ayahnya ini, Nabi Ibrahim pun berkata, Jika para Tuhan tidak memiliki nafas, maka bagaimana mereka dapat memberikan nafas? Bila mereka tidak memiliki kehidupan, bagaimana mereka memberi kehidupan? Wahai ayahku, pasti mereka bukan Tuhan. Azar marah besar ketika mendengar jawaban anaknya itu. Nabi Ibrahim pun dipukul dan dihukum. Sejak saat itu, Nabi Ibrahim membenci semua patung-patung berhala tersebut. Suatu ketika, Nabi Ibrahim diajak oleh sang ayah ke perayaan besar. Semua orang berkumpul menjadi satu di ruang pemujaan. Seorang dukun maju dan memulai ritual suci. Wahai Tuhan kami, lindungilah dan limpahkanlah rezekimu. Teriak sang dukun yang disambut meriah oleh semua orang. Melihat semua orang begitu terlena, Nabi Ibrahim tidak menahan diri lagi. Nabi Ibrahim berteriak. Hei dukun, ia tidak akan pernah mendengarmu. Apakah engkau yakin bahwa ia mendengar? Seluruh orang yang ada di ruang pemujaan itu marah kepada Nabi Ibrahim. Azar segera membawa anaknya itu pulang sebelum keadaan bertambah kacau. Sang ayah meminta agar Nabi Ibrahim merenung dan mengakui kesalahannya. Namun, rasa penasaran Nabi Ibrahim akan Tuhan tidak pernah padam. Maka, dia pun memutuskan untuk mencari Tuhannya sendiri. Nabi Ibrahim keluar dari rumahnya menuju ke gunung. Dia berjalan sendirian di tengah gelapnya malam. Dalam setiap langkahnya, dia terus bertanya, siapakah Tuhan itu?
[6:03]Sampai di gunung, Nabi Ibrahim melihat ke langit yang luas. Langit malam penuh dengan bintang yang berkelip dan bulan yang bersinar sangat terang. Nabi Ibrahim pun memutuskan, Inilah Tuhanku. Karena bintang-bintang dan semua benda langit itu jauh lebih mengagumkan daripada patung-patung buatan manusia. Tidak ada manusia yang bisa menciptakan bintang. Namun, ketika pagi tiba, semua bintang di langit itu tidak bisa lagi terlihat. Barulah Nabi Ibrahim tersadar bahwa matahari, bulan, dan semua bintang di langit bisa terbit dan tenggelam. Semuanya muncul silih berganti. Nabi Ibrahim pun bertanya-tanya, siapakah yang membuat semua itu? Lalu, Nabi Ibrahim memutuskan, Saya tidak suka kepada yang tenggelam. Saat itulah, Allah Subhanahu wa ta'ala memberikan petunjuk kepada Nabi Ibrahim. Bahwa hanya ada satu Tuhan yang harus disembah, yaitu Allah Subhanahu wa ta'ala. Nabi Ibrahim memantapkan hatinya untuk beriman hanya kepada Allah. Dan Allah pun mengangkat Nabi Ibrahim sebagai utusannya. Tugas Nabi Ibrahim adalah mengembalikan iman kaumnya hanya kepada Allah. Nabi Ibrahim mulai dakwahnya. Dia menyeru kepada kaumnya untuk berhenti menyembah patung-patung berhala, matahari, bulan ataupun benda-benda langit lainnya. Namun, tidak ada satu pun yang mau mendengar seruan Nabi Ibrahim itu. Perselisihan antara Nabi Ibrahim dan kaumnya pun terjadi. Meskipun mendapatkan banyak sekali halangan, Nabi Ibrahim tidak pernah menyerah. Apa yang dilakukan Nabi Ibrahim ini memancing amarah sang ayah. Suatu hari Azar tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dia pun mengusir Nabi Ibrahim dari rumah. Apakah engkau begitu benci para Tuhanku? Jika kamu tidak mau berhenti berdakwah, aku akan merajammu. Keluarlah dari rumahku sekarang juga. Nabi Ibrahim pun memutuskan untuk keluar dari rumah ayahnya. Sebelum pergi, Nabi Ibrahim menyusup ke rumah ibadah milik Raja Namrud dan menghancurkan semua patung berhala yang ada di sana. Nabi Ibrahim menyisakan satu patung paling besar dan meletakkan sebuah kapak di lehernya. Keesokan harinya, semua orang di Babilonia gempar melihat semua patung Tuhan mereka hancur. Raja Namrud marah besar dan memerintahkan untuk segera menangkap pelakunya. Temukan orang yang melakukan ini semua. Teriak raja kepada para prajurit. Kemudian Raja memberikan perintah lagi. Siapkan kayu bakar dan tiang hukuman. Aku akan membakar pelaku kejahatan ini. Beberapa waktu kemudian, Nabi Ibrahim tertangkap dan dibawa ke halaman istana. Raja Namrud bertanya, "Hai Ibrahim, bukankah engkau yang telah menghancurkan patung-patung ini?" Nabi Ibrahim menjawab bukan. Raja Namrud tidak percaya pada jawaban tersebut dan terus mendesak agar Nabi Ibrahim mengaku.
[9:51]Saat itu, Nabi Ibrahim menjawab, Aku rasa patung paling besar itulah yang melakukannya. Tanyakan saja padanya. Tentu saja, patung itu tidak akan bisa menjawab meskipun ditanya berulang kali. Hal ini membuktikan bahwa patung itu bukanlah Tuhan. Namun, semua ucapan Nabi Ibrahim itu justru membuat raja semakin marah. Ikat tangan dan kakinya. Kemudian, ikat dia ke tengah tiang hukuman. Nabi Ibrahim pun diikat di atas kayu-kayu bakar yang telah disiapkan sebelumnya. Bakar kayu itu. Api mulai menyala melahap kayu-kayu itu. Semua orang bersorak gembira. Sebentar lagi ia pasti akan berteriak memohon ampun. Teriak mereka. Namun, apa yang mereka harapkan tidak pernah terjadi. Nabi Ibrahim sama sekali tidak takut ataupun berteriak. Dia terus berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, memohon perlindungannya. Allahu Akbar, Allah sungguh Maha Besar. Api yang panas berubah menjadi dingin. Api yang terus membesar dan asapnya yang hitam mengepul memenuhi udara. Jelaganya membuat wajah orang-orang yang menonton menjadi hitam. Berjam-jam kemudian, api itu pun padam. Asap hitam yang menyelimuti pun perlahan menghilang. Saat itulah Nabi Ibrahim melangkah keluar dari sisa-sisa kayu bakar tanpa terluka sedikitpun. Bahkan kulitnya tetap bersih bercahaya meskipun dikepung asap hitam. Peristiwa itu membuktikan bahwa Nabi Ibrahim memang istimewa dan semua yang diucapkannya adalah benar. Namun, bukti nyata itu ternyata tidak bisa membuat orang-orang sadar. Mereka terus memusuhi Nabi Ibrahim dan berusaha untuk mengusirnya. Mereka tidak ingin hidup berdampingan dengan orang yang menghancurkan dan menghina Tuhan mereka. Nabi Ibrahim pun sadar bahwa kaumnya tidak akan bisa berubah. Atas seizin Allah, Nabi Ibrahim pun pergi dari kotanya. Dalam perjalanannya, Nabi Ibrahim ditemani oleh dua umat yang percaya kepadanya. Mereka adalah Sarah, wanita yang kelak akan menjadi istrinya dan Luth, seorang pemuda yang kelak akan menjadi Nabi Allah.
[12:37]Kabi punya banyak sekali aktivitas. Mendengarkan kisah 25 Nabi dan para sahabat lewat interaktif book. Membaca kisah inspirasi muslim lainnya lewat picture book. Dan juga belajar sambil bermain. Marbel Asmaul Husna. Yuk kita belajar mengenal Asmaul Husna. 99 nama Allah beserta dengan artinya. Pilih menu belajar yang tersedia. Ar-Rahman. Ar-Rahim. Al-Malik. Al-Quddus. Belajar mode tabel. Al-Qadir, Al-Muqtadir, Al-Muqaddim. Kamu juga bisa bermain untuk menguji kemampuan. Hebat. Tebak arti, As-Sabur. Pintar.
[13:38]Yuk, download aplikasinya di Google Play Store atau App Store.



