Thumbnail for Pentas Teater SOSIALTEATRIKAL "Sang Pemikul Tandu" by Padepokan Seni Gubug Kebon

Pentas Teater SOSIALTEATRIKAL "Sang Pemikul Tandu"

Padepokan Seni Gubug Kebon

9m 14s759 words~4 min read
Auto-Generated

[0:17]Pak, obatnya diminum dulu. Masih kan? Obat sudah habis sejak kemarin. Biar uangnya terkumpul dulu, nanti tak belikan lagi. As, simbahmu tolong ambilkan unjukan. Nggih.

[0:40]Itu juga gara-gara Bapak semalam itu begadang larut malam dengan Pak Marto. Membicarakan apa to sebenarnya? Banyak hal. Dia bercerita tentang berita-berita yang ada di televisi. Tentang kejahatan sosial yang semakin hari semakin bertambah. Provokasi-provokasi yang akan memecah belah persatuan. Untung saja televisi kita rusak, jadi dalam beberapa bulan ini aku tidak melihat berita-berita busuk itu. Monggo, Mbah, unjukanipun. Matur suwun ya, Cah Ayu.

[1:27]Sudah ditagih Mbak SPP, sudah nunggak hampir satu semester. Apa sebaiknya Asri berhenti sekolah saja biar bisa bantu Ibu? Apa? Jangan pernah berpikir kamu itu untuk mandek sekolah. Seharusnya kamu itu pikirkan untuk lulus sekolah, kuliah, baru cari kerja. Lulusan sarjana saja sekarang bukan jaminan dapat kerja enak. Lah kok kamu berpikiran mau mandek sekolah?

[1:58]Maafkan aku ya, San. Sekarang aku di rumah ini hanya menjadi bebanmu saja. Aku juga sangat menyesalkan pada anakku, yang seharusnya bisa menjadi kepala rumah tangga kalian yang baik. Malah pergi tanpa kabar. Kalau saja fisikku masih kuat, pasti aku akan membantumu untuk memenuhi kebutuhan hidup ini. Pada waktu muda, fisik simbah begitu kuat. Apa tidak berat, Mbah, menggotong tandu Jenderal Sudirman semasa bergerilya? Kami itu bergelapan, Nduk. Bergantian menggotong tandu Pak Dirman. Rasa lelah dan lapar kami tergantikan oleh kebanggaan kami menggotong tandu sang panglima besar. Beliau telah mengajarkan banyak hal kepada simbah. Tentang semangat hidup, cinta tanah air. Dan persaudaraan, dan masih banyak lagi yang bisa kami teladani dari beliau. Zaman sudah berkembang pesat, Pak. Kita sudah tergilas oleh zaman. Nasib Bapak dan keluarga Bapak ini sekarang itu jauh terpuruk daripada orang-orang yang tidak ada jasanya sama sekali terhadap bangsa ini. Dan Bapak sudah terlupakan oleh waktu dengan sendirinya. Iya, aku juga sadar akan hal itu. Tapi apakah persoalan ini akan selesai dengan hanya kita menyalahkan orang lain? Bapak masih ingat betul, betapa dulu putrimu sangat senang saat diberi kain jarik oleh Jenderal Sudirman. Pak Dirman juga memberikan sarung kepada simbahmu ini. Mungkin itulah pemberian satu-satunya dan terakhir dari Pak Dirman kepada simbah. Tapi imbalan terbesarnya adalah tentang semangat hidup dan perjuangan dari beliau. Mau ke mana, Mbah? Jalan-jalan keluar. Tidak baik bagi kesehatan simbah kalau hanya duduk dan merenungi keadaan. Mbak Santy! Mbak Santy! Mbak Santy! Eh, malah enggak dibukakan pintu to? Monggo Bu Jumilah. Maaf, Bu, tadi saya sedang menyelesaikan setrikaan yang nanggung. Takutnya nanti gosong, Bu. Alah, terserah alasannya. Kan juga ada anakmu to? Wis, sudah siapkan to uangnya? Ini batas terakhir dari janji-janji kamu sebelumnya. Tapi maaf, Bu, untuk kali ini saya juga belum bisa bayar. Mbak Santi, aku sebenarnya enggak tega kalau harus nagih terus. Aku kasihan sama kalian. Sekarang kamu tinggal tandatangani surat ini, sertifikat atas tanah dan rumah ini menjadi hak milikku. Tanah dan rumah ini tidak akan aku serahkan padamu. Ini harta satu-satunya yang kami miliki. Eh, Mbah, kalau enggak mau tak ambil, jaluk nasi hutangnya, Mbah. Bu Jumilah, tolonglah kami, Bu. Ibu masih banyak tanggungan yang harus dipikirkan untuk memenuhi kebutuhan kami. Saya akan bekerja keras untuk melunasi hutang Ibu saya. Saya janji, Bu. Ini urusan orang tua, anak kecil tidak boleh ikut campur. Sudah, Nduk.

[6:07]Ini adalah barang berhargaku yang paling berharga.

[6:14]Mudah-mudahan bisa melunasi semua utang-utang kami. Apa ini, Mbah? Sampean mau mempermainkan saya? Untuk apa saya barang seperti ini? Cuma kain pel. Kamu jangan sembarangan. Ini adalah sarung dan kain jarik pemberian dari Jenderal Sudirman. Barang itu mungkin berharga bagi Mbah, tapi tidak sama sekali bagiku. Dan tetap saja kalian tidak dapat melunasi hutang padaku. Berarti kamu ingin membuat kami menjadi gelandangan. Aku itu dulu berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini agar kalian bisa hidup enak. Tapi kok ya kalian masih tega-teganya menyia-nyiakan orang seperti kami. Wis, Mbah. Saya tidak mau berdebat lebih lama lagi. Tak ada gunanya. Sekarang karena tanggung jawab kalian tidak dapat terselesaikan, maka sesuai perjanjian. Sertifikat atas tanah dan rumah ini menjadi hak milikku. Silakan kalian cari jalan keluar sendiri.

[7:33]Lalu kita akan tinggal di mana, Bu?

[7:41]Maafkan aku, Pak. Tapi waktu itu sudah tidak ada jalan selain meminjam kepada Bu Jumilah.

[7:57]Nasib sudah menjadi bubur.

[8:03]Barang kali inilah alur kehidupan yang harus kita jalani. Bagiku tidak masalah walaupun aku harus hidup di jalanan. Karena di masa mudaku, aku sudah terbiasa ditempa hidup keras. Berjuang untuk kemerdekaan. Meskipun tidak secara langsung aku memegang senjata. Tapi mengabdi pada Jenderal Besar menjadi kebanggaan tersendiri dalam hidupku.

[8:52]Aku akan kuat, Jenderal. Tapi aku tidak akan kuat apabila harus menyaksikan anak dan cucuku hidup di jalanan. Aku sudah terbiasa dengan kerasnya hidup.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript