Thumbnail for BELAJAR BUDIDAYA MAGGOT SKALA RUMAHAN || Peluang Usaha Agrobisnis Potensial Modal Rp 0 Wajib dicoba! by Mitratani Online Indonesia

BELAJAR BUDIDAYA MAGGOT SKALA RUMAHAN || Peluang Usaha Agrobisnis Potensial Modal Rp 0 Wajib dicoba!

Mitratani Online Indonesia

32m 16s2,990 words~15 min read
Auto-Generated

[0:00]Halo, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Teman-teman ketemu lagi sama Aku Lala di Moi the Explorer. Teman-teman, kali ini Aku ada di Turi Sleman Yogyakarta. Nah, Aku akan membagikan kisah inspiratif tentang pengolahan limbah sampah menjadi sesuatu hal yang lebih bermanfaat. Salah satunya untuk kompos yang sangat berguna di komoditas pertanian dan juga untuk pakan ternak yang sangat sehat dan mengandung banyak nutrisi. Daripada kelamaan, yuk langsung aja kita lihat, let's go.

[0:52]Assalamualaikum. Oh, waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ya, Pak, saya Lala dari Mitratani Online. Eh ini dengan Bapak siapa? Oh iya. Bapak Arif. Eh ini betul yang budidaya maggot ya, Bapak? Ya, betul ini. Oke, kebetulan tadi baru mau ngasih makan maggotnya, nih. Hmm, luar biasa. Nah, Bapak, untuk kesempatan kali ini, boleh nggak kalau saya belajar eh tentang proses pengolahan maggot yang itu dari limbah sampah, ya Pak? Iya, dari sini. Ya, ya. Nah, itu sampai nanti bisa digunakan menjadi pupuk pertanian dan juga pakan ternak. Iya, betul. Ayo let's go kita ke prosesnya, ya Bapak. Yang pertama di sebelah mana, Bapak? Eh sekarang ini kita lagi ada di kandang lalat, ya, Pak? Iya, ini kandang lalatnya berarti proses buat mendapatkan telur BSF gitu. Oh ya, telur BSF itu nantinya yang akan menjadi maggot, ya, teman-teman. Boleh dijelaskan untuk proses eh apa namanya? metamorfosisnya seperti apa, Bapak? Eh, lalat ini kan jadi dari pupa ya. Dari pupa itu pupanya itu dari maggot juga nanti dari kandang maggotnya. Cuma maggot nanti jadi pupa, pupa terus di biar dia jadi lalat. Dia kan ditaruh ke ruang ruang yang apa ya, gelap. Gelap. Nanti kalau sudah jadi lalat, dia akan mencari cahaya. Dia akan masuk ke ruang sini. Jadi, ini ada ruang tertutup. Ruang tertutup ini dalamnya pupa. Ya, lah ini kalau dibuka pada lari, terbang ya. Ini kan pupa ya. Nah, ini kan pupa nanti dia akan nah, ini sudah yang yang kering kering gini sudah anu ini udah tinggal udah kosong kepompong itu. gelap cahaya. Nah, ini kan pupa nanti dia akan nah, ini sudah yang yang kering kering gini sudah anu ini udah tinggal udah kosong kepompong itu. Ini nanti akan terus di sana ada lubang, dia akan mencari cahaya. Waduh, pada kabur. Oh, waduh, pada kabur. Ah, cahaya. Dia akan lari ke sana mencari apa, terus ke ruangan kandang. Lalat sini ya, lebih lebar ya? Lebih banyak cahaya, ya. Terus dia akan kawin terus bertelur. Cuma bedanya lalat biasa sama lalat BSF ini kan ini kalau sudah bertelur itu terus mati. Yang pejantan juga kawin terus mati. Jadi harus buat pupa terus biar apa? Putaran ini enggak. Enggak berhenti. Jadi kita harus buat pupa terus terus lalat nanti kawin seminggu. Biasanya umur biasanya cuma maksimal 2 minggu. Dia akan kawin mati yang pejantan yang betina bertelur juga terus mati gitu. Berarti hidupnya cuma 2 minggu gitu ya, dari mulai dia dari telur jadi lalat, kemudian dia akan kawin, habis itu bertelur, nah, itu dia masa hidupnya cuma 2 minggu aja. Oh, kemudian setelah nanti dia itu mati di bawah sini terus juga diambilin atau seperti apa, Bapak? Yang mati kan di bawah itu ya cuma biar biar sehat ya. Jadi seminggu sekali itu 2 minggu sekali harus dibersihin. Tapi bersihnya pas pagi hari atau malam hari biar lalat ini ini kalau enggak ada cahaya atau gelap ini apa lalatnya enggak aktif. Kalau pas siang gini ada cahaya, ada angin kan pada aktif. Jadi kita nanti pas dibuka pintu pada terbang. Makanya dibersihin lalat yang sudah mati kayak gini. Ini lalat yang sudah pada mati. Nanti ini juga bisa buat pakan ternak juga. Pakan lele, pakan ayam bisa gitu. Itu yang sudah tinggal anu lalatnya. Lalat yang sudah mati. Jadi ya intinya produksi maggot, intinya enggak ada yang kebuang lah. Intinya semua nanti ke proses. Ya kalau untuk makanannya, makanan dari lalat apa tadi BSF tadi apa, Pak? Kalau lalat ini enggak makan, ya. Jadi dinamakan lalat BSF ini lalat yang ramah lingkungan karena dia tidak ke enggak mau apa ya, makan-makanan sembarangan. Dia cuma menghisap embun. Jadi makanya sini tak buatin semprotan yang pakai elektrik. Kalau biasanya, kalau enggak punya ya semprotan biasa yang bikin embun ke sini itu nanti biar dimakan. Makanya ini tak buat pompa. Berarti sumber makanan yang penting air gitu ya. Iya, air gitu. Berarti ini tak kasih ini kan embun dibuat embun lah biar nempel di sini nanti dia akan dihisap sama lalat-lalat itu sendiri. Enggak, enggak harus pompa mesin gini jadi semprotan biasa enggak masalah. Oke, nanti kalau misalkan dia sudah bertelur, itu tadi tempat telurnya ya, Pak? Iya. kalau sudah dia bertelur, terus proses selanjutnya kemudian untuk dia jadi maggot itu seperti apa? Ini kan nanti per 2 hari sekali atau sehari sekali itu harus dikerok ya, diambil telurnya, nanti ditetesin untuk jadi untuk proses eh ternak maggotnya lah ini. Harus maksimal 2 hari sekali. Kalau lebih dari 2 hari sekali nanti maggotnya ada yang besar ada yang kecil. Jadi kita panennya susah. Jadi maksimal 2 hari sekali harus panen ya itu. Oh, berarti 2 hari sekali gitu. Ada enggak ada harus 2 hari sekali harus dibersihin, itu ya, kayunya dikerok. Untuk proses ke dari lalat sampai bertelurnya, lah nanti kalau sudah dikerok nanti ada tempat sendiri untuk penetasan. Iya, penetasan. Oke. Ini untuk proses pengambilan telur maggot ya, telur lalatnya, ya Pak? Ya, ya. Biasanya kan saya ngambil sore hari atau pagi hari biar enggak aktif kalau proses ini itu pas malam hari apa siang hari. Banyaknya pas malam hari apa siang hari? Jadi pas lalat tidak aktif lah ini telur. Apa telurnya nanti di dalam dalam sirip-sirip gini, ya. Nanti dikerok, terus ditetesin di tempat sendiri. Oke, yuk kita lanjut ke sana ke tempat penetasan telur lalat. Let's go. Assalamualaikum. Silakan masuk, mbak. Nah, teman-teman, tadi kan sudah ke tempat lalatnya. Kemudian kita sudah memanen telur lalat yang akan menjadi maggot. Selanjutnya ini kita ada tempat tersendiri untuk menetaskan telur maggotnya, eh, telur lalatnya, supaya menjadi maggot. Ini kalau sudah dari kayu langsung dipindah ke sini ya, Pak? Iya, tadi kan dari sirip-sirip sini. Ini kan sirip-sirip yang kayak gini ya, ini yang sudah sudah tak ambil tinggal kosong. Nanti disatukan lagi, terus dikasih kancing gini biar enggak apa, gampang apa, tersebar. Terus nanti dimasukkan sana lagi. Kalau sudah dikerok tadi kan dikerok terus dimasukkan ke tisu sini. Tisu biasa lah tisu sembarang. Cuma biar biar kering biar apa? kelembapannya. Kalau kalau terlalu lembab nanti busuk enggak netes. Lah ini terus kalau berapa gramnya saya enggak pernah nimbang cuma kira-kira aja ini segini itu nanti jadi satu biopond gini. Biopond buat menangkarkan kalau sudah menetas. Heeh. Ini jadi bawahnya ini media bawahnya ini dikasih makan biasa apa? makanan limbah-limbah yang sudah digiling. Oh, iya.

[8:47]Nah, itu limbah yang sudah digiling buat nanti netas media media yang sudah menetas itu.

[8:57]Kalau saya ini enggak enggak harus yang bagus-bagus lah. Harusnya pakai BR pelet yang sudah di apa di dia. Cuma karena biar efisien limbah-limbah

[9:12]budget juga. Ya sudah, saya yang buat makan maggot sama buat netesin sama aja. Nah, ini dikasih apa ini? Strimin. Ini biar enggak langsung ke media telurnya. Jadi ada jarak juga biar kalau kalau langsung ke media kan nanti basah malah jadi enggak netes busuk. Jadi harus di atasnya digini nanti kalau sudah menetes dia akan turun sendiri. Itu mencari makan otomatis nalurinya mencari makan. supaya dia menetas itu dipastikan tempat yang untuk menetaskannya ini harus kering, ya. Iya, enggak enggak enggak basah. Iya, enggak enggak basah. Iya. Itu kalau untuk waktunya, waktu penetasan gini biasanya berapa lama, Pak? Waktu penetasan mungkin 2 minggu itu sudah menetas. Sudah jadi baby maggot kayak ini nih umur 1 minggu lebih. Lah ini sudah ada kuning-kuning kayak gini. Ini kayaknya udah menetas ya, dia enggak enggak masih kasat mata ya, belum kelihatan. Cuma kalau pegang-pegang gini nanti ada terasa gitu. Belum belum kelihatan kalau umur lebih dari 2 minggu nanti baru kelihatan yang umur 2 minggu ini kelihatan. Nah, ini yang umur 2 minggu lebih. Dia turun sendiri. Iya, turun turun sendiri ke makanannya. Ini kalau di dibuka gini. Sudah gerak-gerak 2 minggu. Lah, nanti kalau sini sudah kering sudah bisa untuk ditebar ya, nunggu kering. Dimakan kan nanti jadi kering. Enggak nunggu jam-jam ya, langsung habis sikat. Terus baru bisa ditebar ke apa, biopond, ya biopondnya. Tuh, nanti setelah 2. Kurang lebih 2 minggu sampai 3 minggu. Ya, nanti maggot akan turun sendiri terus nunggu kering. Nunggu kering baru ditebar ke sini juga. Ini juga sama makanannya dari limbah limbah sampah basah yang sudah digiling. Ya, kalau saya kan tak giling makanannya biar enak untuk ngasih makanannya juga nanti enak ke panennya ya. Biar gampang, gitu ya.

[11:22]Nah, yang ini sudah kelihatan gerak-geraknya sudah bisa dilihat maggotnya. Baby maggot jadi ya masih kecil baru berapa ini kecil sekali cuma sudah kelihatan gerak-gerak itu.

[11:46]Untuk sampah yang digunakan makanan maggot ini bisa semua jenis sampah organik atau ah, gini jadi ceritanya dari awal itu saya kan cuma mau bikin pupuk organik ya. Ternyata malah muncul maggot. Nah, saya awalnya enggak tahu itu maggot itu bisa bermanfaat. Tahunya saya itu singgat (larva lalat biasa) yang menjijikan kayak gitu kan pernah saya kasih petisida biar mati. Ternyata tumbuh lagi, tumbuh lagi. Lah enggak sengaja tak kasih makan ke ikan kok mau. Lah saya browsing-browsing ternyata itu namanya maggot. Terus saya kembangkan jadi kayak ini sampai sekarang ini. Lah makanya ini apa untuk ternak maggotnya ini itu intinya saya mengelola sampah, ya. Bukan untuk mencari hasil dari maggot ini. Jadi kasihan lihat sampah-sampah yang sampah basah dibuang kan jadi bau, jadi apa, sampah yang enggak manfaat. Lah itu saya manfaatkan. Makanya saya bikin maggot ini. Oh, iya.

[13:00]Gimana caranya biar dari benar-benar Rp0 kita bikin ini bikin apa, biopond ini kotak ini namanya biopond. Bikin sendiri. Ini dari limbah. Cari kayu bekas, terus ya umpamanya yang bekas. Kalau bisa dari Rp0. Kalau semua yang punya budget yang punya budget apa, lebih beli-beli ada yang dari plastik ada kayak gini. Cuma kan jadi modalnya banyak. Iya, enggak enggak mengelola limbah. Kalau bisa ya semua dari Rp0, itu. Ini tadi berarti usianya 3 ini. Ini dari ngrok bibit tanggal 11 bulan 4 ngrok ngrok telurnya loh, dari ngrok telurnya. Sekarang tanggal 2. 12 hari itu itu sudah kelihatan baby maggotnya itu. Jadi udah kasih tanggal tanggal ini umur ini dari tanggal 6 bulan 3 ini sudah hampir satu bulan lebih sudah siap panen. Nah, yang kalau sudah besar itu nanti terus tak kasih ke bawah sini. Jadi biopondnya sudah beda. Nah, ini ini udah maggot apa ya? Maggot dewasa lah. Ini nih. Nah, ini maggot dewasa. Ya, gini, nah, gini. Besar kecilnya maggot itu sebenarnya tergantung makanan juga sama tempat tempatnya. Jadi seperti hewan-hewan yang lain kalau tempatnya sempit atau kebanyakan jumlah hewannya jadi besarnya berkurang gitu kalau lebih lebar. Cuma karena keterbatasan tempat, ya udah ini tak kasih jadi malah apa, ya, terlalu padat. Tak kasih padat malah. Ini karena ini cuma dikonsumsi sendiri buat makan ternak sendiri. Jadi enggak perlu yang enggak perlu yang besar yang penting yang penting jadi maggot bisa untuk makan gitu. Kalau mau dijual kan harus yang besar-besar makanannya ya harus banyak yang bergizi nanti tapi jadinya nanti apa, ya, overbudget enggak enggak efisien, budget itu. Kalau yang ini berarti usianya berapa hari? Yang ini sudah 1 bulan lebih biasanya. 1 bulan lebih itu sudah siap panen. Terus biasanya sudah gini sudah keluar pupanya pre pupa yang coklat-coklat kayak gini yang sudah mau jadi lalat dia otomatis akan menjauhi makanan dia. Kalau sudah tua dia akan menjauhi makanan. Yang akan jadi telur. Oh, ya.

[15:40]Apa, ya, proses mau puasa apa, ya. Sudah menjauhi makanan. Dia makanan dibuat miring kayak gini, dia akan migrasi, ya, migrasi ke sini. Nanti ditampung. Ditampung nanti terus kalau sudah banyak nanti terus dikasih ke kotak-kotak kayak gini, ya, tempat sendiri. Ini juga bekas, bekas-bekas saja, enggak perlu bagus-bagus.

[16:20]Kalau sudah terpisahkan. Kalau sudah enggak gerak sama sekali. Tergantung kalau sana sudah kosong, sudah habis sudah jadi lalat semua langsung digantiin. Biasanya 2 minggu ganti, 2 minggu ganti gitu. Kalau enggak nanti telat lalatnya. Oh, gitu. Jadi untuk bertelurnya terhambat juga ya, waktunya. Musuhnya kayak gini, ya. Hama biasanya tikus, cicak ya kayak gitu. Makanya kalau bisa dijauhin dari tikus biasanya. Ini proses pemangkasan makanan maggot. Jadi kalau terlalu banyak ini apa, yang di bawah bekas makanannya kan juga jadi amoniak. Maggot juga enggak sehat. Makanya tiap 3 hari sekali itu dipangkas.

[17:19]Oh, yang diambil kasgotnya nanti itu ya, yang dipangkas setiap 3 hari sekali. Iya, 3 hari sekali atau seminggu sekali tergantung apa ini makanannya banyak enggak sudah terurai belum. Sudah terurai belum. Oke, Pak. Ini untuk makanan maggotnya ya. Oh ya, ini kan tadi pas ke sini, Mbak Lala. Tadi saya baru mau ngasih makan. Ya itu ngasih makan ini biasanya saya 2 hari sekali. 2 hari sekali itu maggot sekali kayak tadi itu habis 2 ember itu. Jadi saya itu menyerap sampah basah itu setiap hari 1 ember besar, 1 ember jet besar itu. Wih, luar biasa. Ini langsung. Ini semua limbah dijadikan satu. Heeh. Jadi ada dicampur apa lagi atau digimanain dulu? Yang penting limbah basah ya, sembarang limbah basah. Nanti saya giling. Saya giling. Gilingnya juga saya buat sendiri. Jadi apa kalau beli juga mahal itu mesinnya. Jadi terus di-mix, dicampur di sini. Dari ada ampas, ada limbah dapur, ada limbah buah, pokoknya yang limbah basah-basah itu saya mix saya campur. Ini enggak bukan fermentasi, ya. Cuma saya tampung jadi bank. Nanti buat dimakan ke, ya, mudah makanannya. Yuk, kita kasih makan maggot ya, ini. Nah.

[18:46]Oke. Ya kita kasih makan ini. Jadi ini kita kasih makan enggak enggak harus enggak harus 2 hari sekali. Intinya lihat kondisi kondisi tempat. Kondisi tempat ini kalau sudah remah-remah itu apa, ya, barusan. Sudah hancur. Nah, sudah remah gini. Sudah agak kering baru dikasih makan. Jadi kalau masih basah ya, jangan dikasih makan. Nanti dia akan migrasi pergi. Kita kasih makan gini. Diratain ya biar semua kebagian. Wah, luar biasa.

[19:35]Jadi dia apa, nek saya ngasih nama maggot itu hewan pengurai yang sangat hebat ya. Dia itu mengurai apa saja yang dia mau makan. Jadi kalau sudah diurai nanti kan dia jadi jadi pupuk. Nah, kayak gini ya. Ini masih campur maggot. Ini kan yang jadi pupuk kasgot yang berguna bermanfaat. Jadi Rp0, jadi bermanfaat gitu. Itu kan dia sudah mudah diurai. Untuk waktu maggot ini makan atau maggot ini mengurai makanannya ini biasanya berapa lama, Pak? Kalau maggot ini mengurai makan gini itu enggak butuh berjam-jam. Biasanya 2 jam ini nanti sudah terurai. Sudah habis toh. Cuma maksudnya terurainya itu cuma 2 jam. Cuma nanti ngasih makanannya ya per 2 hari sekali apa sehari sekali tergantung kondisi ini tempat ini ya tempatnya. Kalau masih basah ya, kita tunda dulu gitu. Kalau apa ini makanannya gini lah ini kan langsung terurai dari bawah. Ini nanti enggak nyampe setengah hari sudah rata sudah enggak berbentuk. Heeh. Ya sudah kayak yang lain kayak gitu sudah rata. Untuk proses pemisahan dari maggot ke kasgotnya ini. Kasgot itu seperti apa, Pak? per 3 hari sekali mau mau panen itu kan kita sambil memangkas ini memangkas kasgotnya sisa sisa makanannya yang akan menjadi kasgot itu. Iya, di kasgot ini per 2 hari sekali atau 2 hari sekali tergantung sudah kering belum. Lah udah kering kayak gini kan nanti enak, ya, kita. Cara misahnya jadi kita urai-urai kayak gini. Nanti dia otomatis naluri maggotnya itu untuk apa, ya, membela diri itu dia akan turun ke bawah. Lah nanti kasgotnya ini maggotnya ini tinggal paling satu dua kan diambil. Kita ambil kotak dulu. Oh, dia membela diri. Jadi dia masuk ke dalam, gitu ya. Oh, dibuka langsung banyak banget. Nah, kayak gini nanti kita tinggal ke makan ikan gitu. Kalau untuk makanan ternak berarti kayak gini sudah langsung bisa dikasihkan ke ikan atau unggas ya. Kalau saya enak buat tanaman hias itu kan jadi enggak tumbuh rumput liar. Jadi ini kalau tumbuh nanti paling mah biji jambu, biji semangka. Itu kan enak nyabutnya enggak enggak rumput liar. Enaknya kalau saya nilai enaknya pupuk kasgot ini dia enggak mudah ditumbuhi oleh rumput liar, iya, gitu. Bisa untuk semua jenis tanaman ya, ini Pak. Bisa buat heeh. Kalau saya enak buat tanaman hias itu kan jadi enggak dia jadi enak, lebih cantik, gitu ya.

[29:34]Oke, teman-teman. Jadi untuk maggot dan juga metamorfosa lalat BSF-nya tadi kita udah belajar. Ternyata untuk maggot sendiri itu sangat berguna, ya, teman-teman. Mulai dari maggotnya. Maggot itu sendiri bisa untuk makanan untuk ikan dan juga untuk unggas, ya Pak. Untuk ayam, untuk burung, semua jenis burung bisa dan itu kandungan nutrisinya juga lebih lengkap. Kemudian untuk sisa makanan yang sudah diurai oleh maggot itu sendiri bisa berguna buat pertanian. Jadinya ini kasgot seperti ini. Nah, untuk kalian, teman-teman semuanya yang mau beli kompos ataupun campuran media tanam dari maggot yaitu kasgot ini, kalian bisa langsung aja hubungi di nomor bawah ini untuk area Yogyakarta Turi Sleman Yogyakarta, kalian bisa langsung aja order di nomor dengan Bapak Pak Arif Pak Arif Alfian, ya. Untuk harganya sendiri itu hanya Rp20.000 saja per kemasan karung. Karung 25 kiloan. Oke, untuk karung 25 kilo itu harganya Rp20.000 aja. Oke, terima kasih banyak ya buat Bapak Arif untuk perjalanan kita hari ini dan untuk ilmu-ilmu yang Bapak bagikan ke kita semua, semoga dapat menginspirasi siapapun kita untuk lebih menjaga lingkungan dengan cara ya, pemanfaatan limbah ya, Pak. Ya, limbah organik khususnya, ya mungkin dari Rp0, betul, ya. Tanpa budget apapun, kita dari Rp0, memanfaatkan limbah. Kita jadi jadi bermanfaat yang jadi cuan gitu. Dan saya juga punya apa ini? Eh, apa namanya, motivasi, prinsip, nah, ini prinsipnya.

[31:32]Iya, oke. Hasil adalah bonus. Nah, hasil bonus kita, tujuan kami adalah menyelamatkan bumi. Oke, gitu dulu dari aku Lala dari Mitratani di segmen Moi the Explorer dan juga Bapak Arif Alfian. Mohon maaf ya, Bapak, kalau ada salah kata dan perilaku kita. Sampai jumpa lagi di Moi the Explorer selanjutnya. Bye bye. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript