Thumbnail for Perang Badar - Era Nabi Muhammad SAW | Panglima Perang Channel by Panglima Perang

Perang Badar - Era Nabi Muhammad SAW | Panglima Perang Channel

Panglima Perang

7m 53s876 words~5 min read
Auto-Generated

[0:12]Perang Badar.

[0:16]17 Ramadan, tahun kedua Hijriah.

[0:27]Di sebuah lembah gurun pasir nan panas, terjadi sebuah perang yang terdokumentasikan abadi dalam sejarah. Inilah perang terbuka pertama kaum muslim melawan Quraisy Mekah, sebuah perang yang menurut kalkulasi militer sangat mustahil dimenangkan oleh kaum muslim. Kaum muslim yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam berkekuatan 313 orang dengan persenjataan yang jauh dari memadai untuk standar militer saat itu. Sedangkan kaum Quraisy Mekah yang dipimpin Abu Jahal berkekuatan 1000 orang dengan persenjataan lengkap ditambah 700 ekor unta dan 300 kuda. Mengetahui kekuatan pasukannya kalah jauh, Nabi Muhammad menggunakan strategi militer yang brilian. Pasukannya mendekati Lembah Badar, menduduki beberapa sumber air dan menimbun sumur-sumur yang tersisa. Strategi ini berhasil, kaum muslim berhasil mendikte langkah pasukan Quraisy Mekah agar mendekati Lembah Badar melalui jalan yang telah ditentukan. Malam hari sebelum terjadi peperangan, terjadi hujan di daerah pasukan muslim. Ini membuat pasukan muslim merasa lebih segar dan tanah lebih padat tidak berdebu. Esok harinya, bulan Ramadan hari ke-17 di tahun kedua Hijriah itu, akhirnya kaum muslim berhadap-hadapan dengan Quraisy Mekah. Kaum Quraisy Mekah menghadap ke timur, melawan silaunya matahari yang mulai meninggi seperti yang sudah direncanakan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Perang Badar tidak terjadi begitu saja, namun perang ini memiliki penyebab dari beberapa tahun sebelumnya, yaitu kaum Quraisy mengusir Nabi Muhammad dari Mekah. Pada usianya yang ke-40, Nabi Muhammad menerima wahyu pertama, sekaligus memulai era kerasulannya. Ajaran yang dibawa Nabi Muhammad ini sangat bertolak belakang dengan kepercayaan penduduk Mekah. Sehingga mendapatkan tentangan keras. Salah satu pemimpin Mekah yang bernama Abu Jahal menjadi orang terdepan yang menentang Nabi Muhammad. Nabi Muhammad mempunyai paman, yaitu Abu Thalib yang dihormati para penduduk Mekah. Ketika Abu Thalib masih hidup, Abu Jahal dan pemimpin Mekah lainnya lebih banyak membujuk Nabi agar tidak menyebarkan agama baru yang dibawanya. Mereka tidak berani berlaku kasar kepada Nabi. Kaum musyrikin Mekah ini risau dengan dakwah Nabi, meskipun ketika itu penduduk Mekah yang menjadi pengikut Nabi masih bisa dihitung dengan jari. Sepeninggal Abu Thalib, Abu Jahal dan kaum Quraisy lainnya tidak lagi mendapatkan penghalang untuk meneror Nabi Muhammad. Berbagai serangan yang cenderung kasar diterima oleh Nabi Muhammad. Setelah tidak bisa menghentikan dakwah Nabi dengan teror, Abu Jahal berencanakan pembunuhan kepada Nabi Muhammad untuk menghindari tanggung jawab tunggal. Abu Jahal membawa perwakilan dari seluruh klan yang ada di Mekah. Namun, rencana pembunuhan ini gagal total ketika yang ditemukan adalah Ali bin Abu Thalib, bukan Nabi Muhammad. Akhirnya Allah memberikan perintah kepada Nabi Muhammad untuk meninggalkan Mekah menuju Madinah. Peristiwa pindahnya Nabi dan para sahabatnya ini kemudian dikenal dengan istilah Hijrah. Kedatangan Nabi Muhammad dan para sahabatnya di Madinah disambut gembira oleh kaum Ansar. Mereka sedari awal memang sudah mengundang Nabi Muhammad dan para sahabatnya agar pindah ke Madinah, seiring meningkatnya teror kaum Quraisy Mekah. Ansar artinya adalah penolong. Sebagian penduduk Madinah yang sudah menjadi muslim menyediakan keperluan untuk Nabi Muhammad dan sahabatnya. Sedangkan para sahabat yang mengikuti Nabi hijrah ke Madinah disebut dengan kaum Muhajirin.

[4:29]Setelah beberapa lama di Madinah, Nabi Muhammad beserta para sahabatnya mulai melancarkan ghazwah terhadap kafilah dagang milik Quraisy Mekah. Ghazwah adalah serangan demi mempertahankan hidup. Target utamanya adalah mengambil hewan ternak atau harta benda serta menghindari jatuhnya korban jiwa. Ghazwah dilakukan Nabi Muhammad untuk membalas Quraisy Mekah yang mengambil harta benda kaum muslimin ketika mereka hijrah ke Madinah. Hingga pada akhir bulan Rajab, tahun kedua Hijriah, kafilah dagang milik Abu Sufyan dari Syam menuju Mekah yang melewati dekat Madinah diserang oleh kaum muslimin. Abu Sufyan dan kafilahnya berhasil meloloskan diri. Bahkan Abu Sufyan sempat mengirim orang untuk meminta bantuan ke Mekah. Kaum Quraisy Mekah yang telah jengkel kepada kaum muslim di Madinah segera merespon dengan mengirim pasukan perangnya. Perang pun tidak terelakkan. Hari itu, pada 17 Ramadan tahun kedua Hijriah, kaum muslimin dengan kekuatan yang tidak memadai harus berhadapan-hadapan dengan Quraisy Mekah yang unggul dalam jumlah orang dan persenjataan. Di perang tersebut, dalam pasukan muslim terdapat tiga sahabat yang kelak menjadi pemimpin umat Islam, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib. Perang dimulai dengan pertarungan kecil wakil dari kedua kubu. Kaum muslim mengirimkan Hamzah, Ali bin Abu Thalib dan Ubaidah Al-Harith. Sedangkan Quraisy Mekah mengirimkan Utbah, Syaibah dan Walid bin Utbah. Duel satu lawan satu pun dimulai dan akhirnya ketika wakil Quraisy Mekah itu tewas. Sedangkan wakil kaum muslim hanya Ubaidah yang mendapatkan luka agak serius sehingga tidak mampu melibatkan diri dalam perang besar. Perang besar pun dimulai. Kaum muslim terbagi dalam tiga bagian, yaitu kanan, tengah dan kiri. Mereka bertempur dengan menjaga jarak sambil melepaskan anak-anak panah. Mereka terkoordinir dalam satu perintah langsung dari Nabi Muhammad. Sedangkan Quraisy Mekah berperang tanpa koordinasi yang jelas, masing-masing pemimpin klan membawa anak buahnya berperang tanpa menghiraukan kesatuan tempur dengan pasukan dari klan lainnya.

[7:00]Pasukan Quraisy Mekah akhirnya tercerai berai dan berhasil dipukul mundur oleh pasukan muslim. Quraisy Mekah menderita kerugian yang amat besar. Banyak pemimpin klan dari Mekah yang tewas dalam perang tersebut, termasuk Abu Jahal dan Umayyah. Meskipun menang telak, Nabi Muhammad melarang kaum muslim melakukan pembantaian. Mereka yang terluka mendapatkan perawatan, sedangkan tawanan perang diperlakukan dengan baik. Kemenangan dalam Perang Badar ini membuat kaum muslim semakin diperhitungkan sebagai kekuatan baru di Jazirah Arab. Dan sekaligus memperkuat otoritas Nabi Muhammad sebagai pemimpin dari berbagai golongan yang ada di Madinah ketika itu.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript