Thumbnail for Lutung Kasarung | Cinta dan Kasih Sayang Mematahkan Kutukan by Laboratorium Pendidikan IPS UNY

Lutung Kasarung | Cinta dan Kasih Sayang Mematahkan Kutukan

Laboratorium Pendidikan IPS UNY

13m 27s1,054 words~6 min read
Auto-Generated

[0:19]Alkisah, di kerajaan Pasir Batang tinggallah seorang raja bernama Prabu Tapa Agung. Melihat sang raja yang sudah tua, sang permaisuri memikirkan tentang penyerahan tahta kerajaan kepada salah satu putrinya.

[0:47]Kanda, sudah beberapa hari ini Dinda melihat Kanda tampak begitu murung. Kenapa? Ada yang bisa Dinda bantu? Begini Dinda, Kanda sudah tidak muda lagi, semakin hari Kanda semakin tua dan sakit-sakitan. Kanda tidak bisa menjalankan tugas sebagai Raja Pasir Batang. Kanda berniat turun tahta Dinda. Dinda juga berpikir demikian Kanda, akan tetapi Dinda bingung harus memilih Purbararang atau Purbasari. Setelah memikirkan tentang pergantian tahta, akhirnya Prabu Tapa Agung menyerahkan tahta kerajaan kepada putri bungsunya yang bernama Purbasari. Hal ini membuat putri sulungnya, si Purbararang merasa iri dan dengki terhadap Purbasari. Para dayang ke mana sih? Apa mereka tidak tahu aku senang kesal? Dayang!

[1:44]Maaf, Tuan Putri, ada apa? Sampaikan kabar buruk ini kepada Raden Indra Jaya. Cepat! Baik, Tuan Putri.

[1:54]Raden, ada hal yang perlu dibicarakan bersama Tuan Putri Purbararang. Raden diminta untuk segera ke kerajaan sekarang. Baiklah.

[2:08]Kanda, bagaimana ini? Ayahandaku sungguh tidak adil. Ia lebih memilih Purbasari daripada aku untuk menjadi ratu. Padahal kan jelas-jelas aku adalah kakak sulungnya. Ah, ini tidak bisa dibiarkan. Sebaiknya Dindalah yang menjadi ratu. Maka dari itu, Kanda, apa yang harus kita lakukan? Kanda punya ide, bagaimana kalau kita mengutuk adikmu itu?

[2:34]( Perjalanan menuju ke dukun ) Akhirnya, mereka pun menemui dukun sakti bernama Ni Ronde untuk meminta ramuan jahat.

[2:47]Ada apa gerangan kau datang kemari, Purbararang dan Indrajaya? Tolong buatkan aku sebuah ramuan untuk mengutuk Purbasari. Baiklah.

[3:07]Campurkan ini pada minuman Purbasari, maka ia akan mendapatkan penyakit yang aneh. Terimalah perak ini, Ni, sebagai bayaranmu.

[3:21]Sesampainya di kerajaan, Purbararang mencampurkan ramuan dari Ni Ronde ke dalam minuman Purbasari.

[3:47]Purbasari, minumlah. Aku telah membuatkannya untukmu. Terima kasih, Kak.

[4:00]Kak, ada apa ini? Kenapa tubuhku menjadi terasa sangat panas dan gatal sekali? Ih, ada apa dengan tanganmu? Kenapa menjadi buruk rupa seperti itu? Aku tidak tahu kenapa, Kak. Jangan-jangan kamu terkena kutukan, ya? Aku harus sampaikan hal ini kepada Ayahanda dan Ibunda.

[4:22]Ayahanda, Ibunda, lihatlah Purbasari. Inilah akibat dari keputusan Ayahanda yang telah melanggar hukum yang sudah ada. Tahta itu seharusnya untuk aku, bukan untuk Purbasari. Para leluhur pasti murka, jangan-jangan sebentar lagi bukan hanya Purbasari, tapi seluruh kerajaan ini terkena kutukan. Kalau begitu, kita perlu mengasingkan Purbasari. Baiklah, demi kebaikan kerajaan sebaiknya Purbasari diasingkan dari kerajaan. Jika itu memang yang terbaik, Purbasari rela bila tahta kerajaan jatuh di tangan Purbararang. Akhirnya dengan berat hati ia memutuskan untuk mengasingkan putri bungsunya ke hutan, agar kerajaan tidak terkena kutukan.

[5:11]Sabar ya, Tuan Putri. Semoga Tuan Putri selalu dilindungi oleh Tuhan. Terima kasih, Ni Sari, telah menguatkanku. Jangan khawatir, Tuan Putri, setiap hari hamba akan ke sini membawakan makanan dari kerajaan. Sementara itu, di kerajaan terjadi kekacauan akibat sifat buruk Purbararang yang tidak bijaksana terhadap rakyatnya. Ratu, tolong kami, Ratu. Kami mengalami kesusahan. Iya, Ratu, sudah tiga hari kami tidak makan. Sudikah Ratu membantu kami dengan memberikan kami sedikit makanan? Lancang sekali kalian. Kalian tuh siapa? Beraninya meminta makanan kepada Ratu. Dayang, usir mereka dari sini. Cepat! Baik, Tuan Putri. Ratu, Ratu, tolong kami, Ratu, Ratu, tolong kami, Ratu, Ratu, tolong kami, Ratu. Kalian sebaiknya pergi dari sini. Ni, tolong antarkan makanan ini ke Putri Purbasari, ya, Ni Sari? Baiklah, aku antarkan sekarang. Dalam perjalanan menuju hutan, Dayang Sari melihat para warga sedang berkerumun. Jahat sekali ya Ratu Purbararang. Kami baru tahu. Dia kan memang jahat sekali dari dulu. Sifatnya sangat bertolak belakang dengan Putri Purbasari. Iya, benar. Pantas saja Prabu Tapa Agung lebih memilih Purbasari daripada Purbararang. Hah? Lantas, kenapa Ratu Purbasari diasingkan? Kami tidak tahu. Purbasari kan sekarang buruk rupa. Wah, jangan-jangan dia diguna-guna lagi oleh kakaknya sendiri.

[6:58]Terimalah, Tuan Putri. Hamba bawakan makanan dari kerajaan. Terima kasih, Ni Sari. Saat perjalanan kemari, hamba mendengar para warga sedang mengeluhkan sikap Ratu Purbararang. Oh, ya? Apa yang terjadi? Saat ini para warga sedang mengalami kelaparan, tapi Ratu Purbararang tidak mau membantu mereka. Jadi, para rakyat sedang kelaparan? Kalau begitu, bawalah saja makanan ini untuk mereka. Lalu bagaimana dengan Tuan Putri? Persediaan makanan aku kemarin masih ada. Baiklah, Tuan Putri.

[7:36]Sebenarnya aku juga sedang kelaparan. Tapi rakyatku lebih membutuhkannya. Ah! Jangan ganggu aku. Pergilah! Jangan takut, Putri. Aku tidak akan melukaimu. Kamu bisa berbicara? Sebenarnya aku Guru Indra, tapi karena berbuat kesalahan, aku dikutuk dan dibuang di hutan. Wah, kita senasib. Aku juga terkena kutukan menjadi buruk rupa. Bagaimana kalau kamu aku panggil Lutung Kasarung? Lutung karena kamu berwujud seperti kera dan kasarung karena kamu tersesat di hutan. Siapa namamu, Putri? Panggil saja aku Purbasari. Oh, baiklah Putri Purbasari. Tadi aku melihatmu kelaparan. Maukah kamu makan pisang ini? Terima kasih, Lutung.

[9:03]Mereka pun semakin akrab. Setiap hari mereka bermain bersama dan hingga pada suatu hari.

[9:17]Putri, ikutlah aku ke danau. Cobalah basuhlah tanganmu. Baiklah.

[9:35]Wah, ajaib sekali! Kutukanku telah hilang. Cobalah, Lutung, mungkin kutukanmu juga hilang seperti kutukanku. Tidak bisa, Putri, kutukanku abadi. Kutukanku akan hilang jika aku menemukan cinta abadi.

[9:54]Wah, Tuan Putri sudah sembuh. Kutukannya menghilang. Iya, Ni, ini semua berkat Lutung Kasarung. Berarti Tuan Putri sudah bisa kembali ke kerajaan. Sepertinya tidak, Ni. Apa maksud, Tuan Putri? Aku betah tinggal di sini bersama Lutung. Tapi, Tuan Putri, Prabu pasti sudah sangat merindukan Tuan Putri. Mohon pertimbangkan lagi, Tuan Putri. Baiklah, tapi dengan satu syarat, Lutung Kasarung harus ikut bersamaku ke kerajaan. Tentu saja, Tuan Putri. Mari ikut bersama kami. Baiklah.

[11:33]Kau mungkin saja telah sembuh dari kutukanmu, Purbasari, tapi tidak semudah itu untuk kembali ke kerajaan ini. Aku mempunyai dua persyaratan untuk membuktikan siapa yang lebih pantas untuk menjadi Ratu di Kerajaan Pasir Batang ini. Syarat yang pertama, kita adu rambut siapa yang paling panjang. Tunjukkanlah rambutmu, Purbasari.

[12:05]Kau boleh memenangkan syarat yang pertama ini, Purbasari, tapi untuk yang berikutnya, akulah yang akan menang. Yang menang akan menjadi Ratu di Kerajaan Pasir Batang ini dan yang kalah harus pergi dari kerajaan ini. Syarat yang kedua, kita adu kegagahan dan ketampanan pasangan. Kanda, Raden Indrajaya, tunjukkanlah kegagahan dan ketampananmu.

[12:38]Di mana pasanganmu, Purbasari? Tunjukkanlah! Ini, Kak, pasanganku. Apa? Lutung? Pasanganmu seekor lutung? Iya, Kak, aku memang sangat mencintainya.

[13:04]Wah, kutukanmu sudah hilang! Tidak! Kanda, apakah artinya aku yang harus pergi dari kerajaan ini? Tidak perlu, Kak. Tinggallah di sini bersamaku. Maafkan aku, Purbasari. Aku telah jahat kepadamu. Tidak apa-apa, Kak, aku telah memaafkanmu dari dulu. Terima kasih, adikku.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript