Thumbnail for Sikap Yang Menarik Kesuksesan/ Daniel Iroth, M. Div. by KABEL

Sikap Yang Menarik Kesuksesan/ Daniel Iroth, M. Div.

KABEL

55m 23s3,407 words~18 min read
Auto-Generated

[0:03]Bapa yang baik, Bapa yang mengasihi kami. Terima kasih Engkau sudah menciptakan kami dan terima kasih untuk Kristus yang menebus dosa dan kesalahan-kesalahan kami. Tuhan, biarlah kami memohon Roh Kudus untuk memberkati momen saat ini sehingga kami dapat memuliakan Allah Tritunggal. urapi hamba-Mu dalam segala kekurangan dan keterbatasan, Tuhan memakainya. Dalam segala kelemahan, Tuhan memampukan sehingga menyampaikan isi hati Tuhan, isi kebenaran, dan itu boleh mengubah, mentransformasi kami ya Tuhan. Kami rindu Tuhan dipermuliakan di dalam acara ini. Biar Roh Kudus terus mengurapi, memberkati kami semua. Demi Yesus Tuhan yang hidup kami sudah berdoa. Amin. Ya, Bapak Ibu. Shalom ya. Hari ini kita akan belajar tema yang sangat penting yang sangat memberkati ya. Eh, saya sangat menghargai kehadiran Bapak Ibu semua. Itu suatu dorongan, satu berkat buat kami yang melayani ya. Saya akan membagikan materi ini. Kalau Bapak Ibu bisa mau menjawab kalau ada pertanyaan. Hari ini kita tentang sikap ya Bapak Ibu ya. tentang attitude that attract success, success ya. Jadi kalau dalam bahasa Notebook LM, seni mengemudikan sikap. Nah, kalau ada pertanyaan ini Bapak Ibu ya untuk kita pembuka. Siapa yang perlu punya sikap yang benar dan baik itu? Siapa? Ya. Lalu kalau, lalu apa dampak kalau sikap kita itu baik atau buruk buat orang lain? Apakah ada yang ingin memberikan pendapat begitu tentang hal ini? Siapa yang perlu punya sikap yang benar dan baik itu sih, sebetulnya? Silakan kalau ada pendapat, ada yang mau chat atau mau bicara langsung boleh ya.

[2:51]Siapa yang perlu punya sikap yang benar dan baik itu? Siapa? Apakah orang lain? Jawaban tentang pertanyaan ini Bapak Ibu? Ya, oke ya. Saya memberikan, memberikan kadang-kadang kita itu tidak merasakan bahwa kita yang perlu berubah ya. Bahwa yang perlu bersikap baik itu adalah orang lain. Kita sudah baik ya. Kita menganggap diri kita sudah baik gitu ya. Cuman dalam pengalaman saya mengapa saya memilih topik ini adalah karena saya melihat sikap ini sesuatu yang penting ya. Dan saya berpikir bahwa dengan punya sikap yang benar ya, sikap yang agung dan baik, itu tentu menjadi berkat buat orang lain. Dan persoalannya berarti kita berarti sikap kita itu bisa saja selalu sikap kita ini bisa saja menurun begitu ya. Artinya kita sekarang ini bisa sikap baik. Besok belum tentu ya Bapak Ibu ya. Jadi artinya ada sikap-sikap yang mungkin sikap-sikap mengasihi diri sendiri ya. Sikap mengeluh, mengomel, menggerutu ya.

[4:40]Sikap-sikap yang bukan dari sikap yang Tuhan mau ya. Eh sikap sinis, merendahkan orang lain. Nah, kalau sikap itu ada dalam hidup kita, tentu orang lain yang susah ya. Orang lain yang akan merasakan, akan merasakan dirugikan. Tapi orang yang punya sikap salah atau buruk itu tidak sadar ya Bapak Ibu ya. Jadi artinya kadang membutuhkan suatu peristiwa yang ketika mengalami kegagalan ya, mengalami masalah berat baru kemudian orang mau refleksi melihat dirinya begitu ya. Kalau ada sebuah kisah Bapak Ibu melihat ya. Ada seorang hamba Tuhan yang melakukan KDRT misalnya ya. Eh dan itu bertahun-tahun sampai anaknya besar sampai anaknya sudah besar-besar begitu ya. Apa tidak sadar ya kalau sikap itu merugikan orang lain begitu ya. Baru kemudian setelah kejadian itu viral begitu ya, masuk ke kepolisian.

[6:09]Nah, jadi Bapak Ibu dalam hidup kita sangat baik sebetulnya untuk kita melihat sikap kita ini ya. Jadi melihat sikap kita ini sudahkah menjadi berkat buat orang lain? Sikap kita ini sudahkah seperti yang Tuhan mau ya? Oke kita akan masuk ya, materi. Materi ini saya ambil salah satunya dari buku attitude that attract success ya, karangan dari Win Cordero ya. Oke. Ya, ini bicara tentang panduan visual tentang bagaimana 10% realitas dan 90% respons membentuk kesuksesan absolut. Jadi artinya sebetulnya dalam hidup ini kejadian itu 10% ya. 90% itu bagaimana meresponnya ya? Contoh adalah kisah Daud Bapak Ibu ya. Kisah Daud itu ketika melawan Goliat dia itu datang ya ke dalam pertempuran waktu Goliat sedang menantang orang Israel dan orang Israel itu tidak berani ya, karena ketakutan karena Goliat itu tingginya 3 m begitu ya. Mereka menganggap diri mereka itu kecil, tidak akan mampu. Nah, tetapi bagaimana Daud itu melihat Goliat itu memang besar realitasnya tetapi dia punya Tuhan yang lebih besar daripada Goliat begitu ya. Dan kemudian Daud melihat dulu Tuhan sudah menolong saya melawan beruang, melawan singa, melawan binatang buas ya yang mau memakan dombanya. Nah, sekarang ada Goliat saya pun juga dengan pertolongan Tuhan saya pun bisa menang. Lalu Daud berani turun ke dalam medan peperangan itu ya medan untuk bertempur dan dengan senjata ali-ali itu Daud bisa mengalahkan Goliat. Nah, itu sikap Bapak Ibu ya. Sikap yang yang membedakan orang-orang itu penuh ketakutan, tidak dan dilumpuhkan ketakutan. Tapi sikap Daud yang penuh keberanian ya, penuh iman. melihat dengan tepat situasi yang ada begitu ya. Sehingga dia bisa memenangkan pertempuran yang yang sangat berat buat orang Filistin waktu itu ya. Nah Bapak Ibu mari kita melihat tentang hal ini ya. Jadi sikap adalah tempat di mana karakter dibangun dan kepribadian dibentuk. Inilah pembeda utama antara dua orang dengan latar belakang yang sama persis namun memiliki garis finis yang berbeda. Orang-orang memiliki akses yang sama terhadap 24 jam dan informasi. Yang membedakan siapa yang maju dan siapa yang stagnan hanyalah lensa yang mereka gunakan.

[9:51]Kalau apa yang dunia lemparkan kepada Anda? Kondisi ekonomi, kegagalan, bos yang buruk, krisis keluarga.

[10:21]Mungkin uang di kantong ini sudah menipis ya. Tapi respons terhadap terhadap kondisi ini itu yang paling penting Bapak Ibu ya.

[10:35]Ketika kita merespons seperti Tuhan merespon ya, artinya begini, melihat kehadiran Tuhan begitu ya. Melihat kehadiran Tuhan misalnya ada tulisan God is nowhere ya. Ada tulisan begitu ya buat ketika orang ateis menulis di papan tulis God is nowhere. Allah tidak ada di mana pun ya. Tapi buat orang beriman memandangnya God is now here ya.

[11:20]Nah, jadi itu cara memandang itu berbeda Bapak Ibu ya. Nah, itu yang dimaksud dengan sikap Bapak Ibu ya. Inilah pembeda utama antara dua orang dengan latar belakang yang sama persis namun memiliki garis finis yang berbeda.

[17:34]Karena ketika saya belajar lagi, belajar lagi, belajar lagi tentang sikap itu saya merasakan saya perlu untuk diingatkan terus-menerus ya. Karena sikap saya pun masih banyak yang perlu dikoreksi ya. Artinya saya perlu terus belajar, perlu terus belajar. Makanya sangat senang sekali boleh belajar bersama Bapak Ibu ya. Kita sama-sama belajar. Nah, sains di balik sikap itu adalah otak kita itu punya neuroplasticitas ya. Artinya otak kita itu bisa berubah ya.

[18:17]Memiliki kemungkinan untuk berubah ketika kita memutuskan sesuatu, kita berpikir yang benar, maka otak itu berubah Bapak Ibu ya. Menyesuaikan dengan apa yang kita putuskan, yang kita pilih. Apa yang kita imani, apa yang kita katakan, apa yang kita ambil sikap ya. Jadi reaksi kimia, tubuh memproduksi bahan kimia yang menyembuhkan saat kita bersyukur ya. Bahan kimia yang merusak saat kita pahit. Nah, ini, inilah pilihan ya. Ketika kita bersyukur apapun terjadi ya. Makanya Rasul Paulus mengatakan ucap syukur dalam segala hal. Karena itu memberikan reaksi kimia yang baik ketika kita bersyukur ya, kebahagiaan. Eh ada di dalam otak kita ini ada ada ada hormon-hormon ya, dopamin, serotonin ya.

[19:28]Eh hormon-hormon yang kebahagiaan begitu ya. Ada di dalam otak kita dan ketika kita bersyukur sama Tuhan ya. Mengambil sikap yang positif ya, itu menurunkan hormon stres ya, memperkuat pertahanan seluler tubuh ya. Itu, itu memang teruji secara sains ya. Sikap mengubah struktur biologis otak kita ya, sebelum mengubah struktur karir kita ya, ini kata-kata yang baik. Nah Bapak Ibu, ini contoh-contoh sikap orang-orang yang punya sikap yang baik ya. Ada seorang namanya Jigoro Kano. Pendiri seni bela diri judo dan ahli tingkat tertinggi di dunia. Ketika dia meninggal ya, satu instruksinya sebelum wafat adalah dia minta bukan di bukan di dalam petinya dengan sabuk hitam. Gambaran dia sudah ahli, sudah sudah hebat.

[20:42]Tapi dia mengatakan, aku minta dikubur mengenakan sabuk putih yang artinya dia mengatakan aku ini pemula saja ya. Nah, jadi bayangkan Bapak Ibu, kalau kita punya hati mentalitas pemula ini ya. Kita menjadi orang-orang yang mau diajar ya. Di sini ada senior saya Bapak Ibu yang sudah masuk sekolah teologi sejak tahun 80-an begitu ya. Saya masuk tahun 2001. Tapi masih mau belajar ya. Ada Bapak yang mau belajar. Ini saya sangat mengapresiasi ya, termasuk Bapak Ibu semua yang mau belajar pada saat ini ya. Jadi punya hati yang mau belajar, mau diajar ya. Itu

[21:44]Lalu ada kisah-kisah yang lain ya. Ada namanya Wendy Stoker ya. Saya lihat di YouTube Bapak Ibu bisa lihat Wendy Stoker seorang gadis lahir tanpa kedua lengan ya. Ini Bapak Ibu bisa lihat di YouTube di dokumentasi kisah nyata ini ya.

[22:08]Eh dia mengalahkan ribuan pesaing untuk juara selam nasional. Mampu mengetik 40 kata per menit menggunakan jari kakinya. Jadi bayangkan Bapak Ibu saya melihat dalam videonya itu dia ganti baju, pakai celana. Semuanya dia lakukan sendiri sampai ke kamar mandi. Bapak Ibu bayangkan aja bagaimana pakai baju begini tanpa harus pakai tangan. Harus pakai bagaimana ya. Kalau kita pakai tangan sudah cepat ya Bapak Ibu pakai langsung set set set. Sudah. Tapi kalau tidak pakai tangan ya Bapak Ibu sekalian coba bisa dibayangkan bagaimana ya. Kalau tidak pakai tangan bagaimana ya.

[23:07]Itu tentu jauh lebih sulit Bapak Ibu ya. Jadi itu jauh lebih sulit. Bapak Ibu yang dikasihi oleh Tuhan, yang lain lagi adalah Thomas Alfa Edison ya. Ketika suatu hari dia mengalami kebakaran ya, karya-karya yang dia di di laboratoriumnya itu mengalami kebakaran begitu ya. Lalu karyanya itu ludes semuanya seluruh karya hidupnya. Bayangkan Bapak Ibu ya udah mau buat susah-susah lalu habis semuanya. Itu pasti sangat tidak mudah. Tapi respon dia di tengah kebakaran itu ketika anaknya mencari dia dan menemukan dia lalu anaknya takut ya, ini bapaknya bisa pingsan atau bisa putus asa ya.

[24:10]Tapi sikap dari Thomas Alfa Edison ini mengatakan, panggil ibumu dia belum pernah lihat api sebesar ini. Ya. Selesai kebakaran selesai, kita bangun lagi ya.

[24:26]Nah Bapak Ibu, kejadian itu di di tahun tanggal 9 Desember 1914 ya. Sikap dari sikap dari Thomas Edison ini ya. Dia berkata, terima kasih Tuhan, kita bisa mulai dari awal lagi ya. Nah, sikap ini Bapak Ibu. Coba misalnya sikapnya mengeluh, mengomel, menggerutu, menyalahkan ya. Tapi sikapnya ini beda. Oke ini sudah hilang, kita bangun lagi ya. Nah, hasilnya adalah otak yang segera mencari solusi daripada meratap mengasihani diri ya. Lalu karena karya Edison ini akhirnya kita boleh menikmati lampu ya. menikmati kamera. Menjadikan produktif hidup kita ini ya, manusia ini ya. ini karena karya Edison yang sangat banyak sekali ya. Bersyukur ada orang-orang yang punya sikap seperti ini Bapak Ibu ya. Ada lagi kisah Bapak Ibu. Seorang yang petugas kebersihan ya. Dia hanya bersih-bersih namanya Maria Rodriguez. Shift-nya mulai dari jam 05.00 pagi, rutinitas selama 3 tahun. Dia bersih-bersih. Nah, suatu hari Bapak Ibu di dalam perusahaan itu terjadi kondisi sangat sulit, sangat berat ya.

[26:27]Bisa mengalami kerugian 2 juta dolar ya. Tapi kemudian ketika itu, dia langsung berani masuk ya mengetuk tempat rapat lalu bolehkah saya berkata, boleh memberikan usulan ya. Ketika rapat para petinggi-petinggi dan orang-orang di sana itu tentu kaget dan meremehkan ya. Ini petugas kebersihan aja kok mau memberikan masukan-masukan. wong kita saja enggak mampu begitu ya. Yang sudah orang-orang yang berpendidikan ini ya. Tapi seorang pemimpin di situ mengatakan, oke oke saya mau mendengarkan. Apa yang menjadi masukanmu? Lalu Maria memberikan masukannya ya. Lalu ternyata masukan itu menawarkan solusi yang tepat ya. Hasilnya adalah perusahaan itu diselamatkan atau bisa menghemat 2 juta dolar di tahun pertama. Nah Bapak Ibu, ini merubah nasib kehidupannya. Nah Bapak Ibu, inilah sikap Bapak Ibu ya.

[28:28]Inilah sikap. Yang lain lagi, studi kasus Kapten Jim Wilson. Ketika dia sebagai pilot begitu ya.

[28:42]Pesawatnya tiba-tiba ada masalah ketika menyetir pesawat terbang ya. Kedua mesinnya mati tiba-tiba. Sudah usaha-usaha ini enggak bisa, usaha ini enggak bisa ya.

[28:57]Dan dia melihat bahwa saya masih bisa, saya masih bisa hidup ya. Saya masih bisa melakukan sesuatu. Nah, ini yang apa itu namanya? Sikapnya ini membuat dia ini berjuang Bapak Ibu ya. Berjuang sehingga akhirnya sikapnya yang tidak putus asa, berjuang bahwa 300 penumpang. Tapi Bapak James ini tidak berputus asa begitu ya. Dia berjuang melakukan apa yang dia bisa. Dia tidak fokus kepada siapa ini yang bikin masalah ini ya. Siapa ini yang menyebabkan ini semua. Tetapi dia mencari solusinya apa. Apa yang dia bisa lakukan. Dia melakukan apa saja yang dia bisa lakukan sehingga akhirnya akhirnya Bapak Ibu pendaratannya ini sukses ya. Pendaratan sukses di Air strip terbengkalai yang sebelumnya selalu diabaikan dan membawa keselamatan buat 300 penumpang karena sisa waktunya adalah 8 menit saja begitu. Ya Bapak Ibu.

[30:16]Nah kemudian yang lain lagi adalah kisah dari Rebecca Rebecca Johnson. Rebecca Johnson ini adalah kepala sekolah yang diberikan tugas di sekolah yang baru. Ketika dia masuk Bapak Ibu ya. Sekolah ini betul-betul mengalami kondisi yang tidak baik ya. Guru keluar masuk, keluar masuk yang terjadi ya. Guru itu resign. Guru yang ada berencana resign karena anak murid-muridnya itu tidak tidak mudah sekali ya. Murid-muridnya berasal dari sekolah yang dari orang tua-orang tua yang pendidikannya rendah ya. Yang melihat diri mereka itu gagal ya. E jadi eh kepala sekolah-kepala sekolah yang sebelumnya juga sudah pergi karena tidak mampu untuk mengatasi ya. Eh masalah disiplin yang banyak, tempat yang tidak menguntungkan untuk orang bekerja begitu ya. Tapi Rebecca Johnson ini melihat dengan mata yang berbeda. Ya tentu dia bergumul dia susah, dia sedih tapi dia berjuang di situ. Dia menolak melihat kegagalan sebagai hal permanen ya, ini yang yang sikap Rebecca Johnson ya. Dia melihat murid-muridnya ini sebagai orang-orang yang hebat. Dia melihat murid-muridnya ini sebagai orang yang satu hari ini jadi pebisnis hebat, satu hari ini jadi orang yang hebat.

[32:05]Itu yang dia lihat ya. Dan akibatnya ketika dia memperlakukan orang dengan seperti itu Bapak Ibu ya. Itu sekolah itu kemudian bisa semangat. Api-api kebangunannya itu dirasakan guru yang berencana berhenti ya. Tetapi mereka enggak jadi. Nah dalam waktu 6 bulan saja masalah disiplin turun menjadi 60% ya. Nah sekolah itu Bapak Ibu dalam perjalanan dalam perjalanan 2 tahun itu ya dari sekolah peringkat terburuk menjadi peringkat satu di distrik di dalam 2 tahun itu ya. Jadi sebetulnya kepemimpinan bukan tentang posisi, tapi energi dan sikap yang menular. Jadi memang sikap ini menular Bapak Ibu ya. Sikap yang baik, sikap yang melihat orang lain dengan hormat, dengan besar ya. melihat orang lain itu dengan penghargaan potensi-potensi dia bisa menjadi seperti apa. Ini menular Bapak Ibu.

[33:09]Nah, sikap itu Bapak Ibu bisa kalau seperti bau ya. Ada bau yang bau yang tidak wangi ya. Baunya yang tidak enak.

[33:24]Sikap yang jelek bau seperti itu tapi sikap yang baik itu menghasilkan bau yang baik ya. Menularkan keramahan ya, menghargai orang lain, memuji orang lain, mengapresiasi orang lain itu menjadi satu bau yang harum ya. Kalau kita itu seperti kita ini dalam mengabarkan Injil, kita punya sikap baik, membawa kabar baik ya. Itu bau harum. Dan tentunya akan menghasilkan karya-karya Tuhan melalui kita. Ketika orang melihat Kristus di dalam hidup kita lalu mereka menerima Kristus, bertobat. Menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat, Tuhan dipermuliakan Bapak Ibu ya. Sikap seperti parfum Bapak Ibu yang kita pakai tanpa sadar menciptakan atmosfer bagi setiap orang di ruangan. Kalau Bapak Ibu penuh ucapan syukur ya di rumah itu ada penuh ucapan syukur ya, saling memuji, saling menghargai. Ada puji-pujian yang disetel di rumah Bapak Ibu ya. Saya itu sering menyetel YouTube puji-pujian begitu ya. Itu suasananya buat saya itu sangat membangun ya. Ya salah satunya itu anak saya yang cewek itu suka nyanyi sampai sekarang ya. Yang cowok pun juga sekarang aktif melayani kelas 3 SMA. Nah kalau orang yang sikapnya sinis Bapak Ibu bagaimana dampaknya? Sikap sinis itu Bapak Ibu ya. Sinis itu kayak menjelekkan orang, memandang orang lain dengan rendah begitu ya. Itu dampaknya adalah membawa hormon stresnya lebih tinggi. Hormon khawatir, sikap kritis itu menghasilkan kadar kolesterolnya jadi naik 40%. Ya. Tanpa perubahan pola makan begitu ya. Atau yang lain lagi tulang dan sendinya itu ya. Gambaran itu adalah seperti orang yang kisahnya seorang pasien yang mengeluh seluruh tubuhnya sakit saat ditekan. Lalu diagnosa dokternya adalah tubuhnya sehat tapi jari telunjuknya yang ia gunakan untuk menekan itu sedang patah ya. Nah kalau sikap kita buruk seperti itulah Bapak Ibu ya. Cari telunjuk kita itu sedang patah. Jadi apa yang kita pegang jadi buruk semua karena karena sikap kita buruk Bapak Ibu ya. Jadi kesehatan kita bukan sekedar ditentukan oleh apa yang kita makan, melainkan apa yang sedang memakan kita dari dalam.

[36:20]Ada seseorang Bapak Ibu ya, seorang kakek-kakek dia mau biasa dia parkir di situ enggak apa-apa sekarang kali ini dia parkir di sebuah bank itu. Sama teller banknya enggak boleh dilarang ya. Sang kakek itu langsung sudah setelah berbersi apa itu saling berdebat begitu. Lalu kemudian akhirnya kakek itu pergi ke ke tempat tellernya langsung mengambil 4,2 juta lalu dia pindahkan ke bank kompetitor yang ada di depannya Bapak Ibu. Jadi ini menunjukkan sikap kalau ada pegawai yang buruk itu merugikan. Sikap yang buruk itu merugikan sebuah perusahaan Bapak Ibu ya. Eh ini ini satu pembelajaran kalau mengapa perusahaan penting sekali melatih ya. Kalau seperti Bank BCA itu ya, melatih satpamnya itu ketemu orang, hormat, memberikan, memberikan sapaan ya. Dan tentu yang lain juga sudah mulai mengikuti. Yang berikutnya adalah di Ulangan 30 ayat 19 ya. Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini, kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu.

[38:05]Tuhan ingin kita memilih kehidupan, memilih berkat. Nah, sebetulnya sikap ini juga sebuah pilihan dalam hidup kita Bapak Ibu ya. Ketika kita mengasihi Tuhan ya, mau mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya ya. Dampaknya apa? Dampaknya adalah hidupmu, lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyangmu yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub untuk memberikannya kepada mereka. Jadi artinya Bapak Ibu ada hal-hal yang baik ketika kita punya sikap memilih kehidupan. Memilih berkat. Kehidupan ini adalah gambaran kita menaati firman Allah yang mengasihi Tuhan, itulah kehidupan. Sedangkan kutuk ya gambaran orang tidak mau taat ya. Nah, kemudian ada sebuah sebuah kisah kalau orang disuruh milih ya. Kalau kamu pilih pintu itu ada mobil Mercedes Benz mewah 5. Kalau kamu milih yang pintu 2 kamu bisa gratis liburan ke tempat yang mahal. Ketiga, kamu dapat keledai yang enggak ada nilainya. Nah, silakan kamu pilih.

[39:31]Nah, kalau orang yang sehat ya, berpikirnya bisa berpikir, tentu dia akan ambil yang jelas yang bernilai tinggi ya buat dirinya. Tapi kalau orang kurang berpikir dengan baik, ya dia akan ambil nilai 3. Nah, tapi gambarannya adalah betapa tragisnya jika kita dengan sadar tetap memilih pintu nomor 3 ya. Artinya kita ketika kita bersikap buruk, sebetulnya kita tahu kok pasti hasilnya buruk ya. Di sini ada seorang yang masuk ke di penjara lalu diambil semuanya ya. Tapi dia mengatakan, orang boleh ambil semua yang ada padaku, tapi dia tidak bisa mengambil sikap. Bagaimana saya mau memilih bahagia atau tidak ya.

[40:29]Dalam Filipi 4 ayat 8, jadi akhirnya Saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

[52:45]Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu. Jadi ini di sini adalah Rasul Paulus meminta kita memikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, patut dipuji ya, seperti itu.

[53:36]Yang enggak sesuai jangan, enggak boleh masuk. Dengan cara bagaimana? Merenungkan kebenaran, melakukannya ya. Lalu kemudian hidup ini berani memilih hidup jalan yang lebih sulit ya. Kalau dalam bahasanya itu highway, jalan yang atas. Jalan yang bawah itu apa? Jalan yang rendah itu, jalan di bawah itu kalau orang berbuat jahat kita berbuat lebih jahat lagi. Nah, orang yang di tengah-tengah itu kalau orang baik ya saya baik. Nah, itu sama-sama orang dunia pun juga sama ya. Tapi orang yang lebih memilih jalan yang lebih sulit ya atau highway, jalan yang lebih tinggi, jalan yang menanjak, itu ketika orang enggak baik saya tetap baik sama dia ya. Itu artinya. Nah, yang lain adalah bisa melihat nilai dari sikap. Sikap itu memiliki nilai yang tinggi ya, baik dalam saat memulai sebuah tugas di pertengahan dan sampai akhir sebuah tugas.

[55:01]Mari Bapak Ibu boleh mempunyai sikap seperti yang Tuhan miliki.

[55:12]Saya pikir sudah selesai Bapak Ibu sampai di sini presentasi saya. Terima kasih Bapak Ibu boleh ikut.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript