[0:00]Pernah enggak terdiam merenung di malam hari ketika hujan atau justru langit cerah tanpa bintang dan bertanya-tanya, mengapa kita ada? Apa yang ada di balik semua ini? Mengapa semuanya ada? Dan di mana semuanya ini berasal? Apakah ada Tuhan? Apakah justru semuanya berasal dari ketiadaan? Renungan-renungan ini adalah awal munculnya filsafat. Sebagai respon dari kebingungan manusia dalam mencari makna, kebenaran dan pengetahuan. Dan yang kita lakukan dalam bertanya ini dan mencoba untuk mencari tahu jawabannya, adalah yang kita kenal sebagai berfilsafat. Namun, sebenarnya, respon dari kebingungan ini sudah lama ada dan justru bukan dimulai oleh filsafat, tapi justru oleh yang kita kenal sekarang dengan mitologi. Pertanyaan mengapa kita ada bisa dijawab dengan kisah Prometheus dari Yunani, Titan yang bersimpati kepada manusia dan menciptakan mereka dari tanah liat dan memberi mereka api untuk bertahan hidup. Atau dari Ymir dari Nordik, di mana dunia diciptakan darinya, raksasa purba dan manusia nantinya diciptakan dari batang pohon dan diberi kehidupan oleh para dewa. Dan masih banyak lagi mengenai cara manusia menjawab pertanyaan mendasar ini. Yang sekaligus menjawab, apa yang ada di balik semua ini dan mengapa semuanya ada. Dan juga selain itu ada yang menjelaskan kebingungan-kebingungan manusia dengan pertanyaan besar mereka menggunakan kisah-kisah epik. Yang paling terkenal dari mereka adalah Homer dengan kisah-kisah epiknya seperti di Iliad dan the Odyssey yang mengeksplorasi pertanyaan besar seperti kematian, kehormatan, cinta dan pencarian makna itu sendiri dalam kehidupan. Tapi kenapa manusia justru berkembang dari penjelasan ini? Apa yang membuat mereka mengalihkan pandangan mereka terhadap penjelasan yang menghangatkan dan juga menggugah ini? Apa yang membuat mereka jatuh terhadap filsafat?
[2:05]Pada abad ke-6 hingga abad ke-5 sebelum Masehi, dunia mengalami gelombang intelektual yang luar biasa. Dan ini ditandai dengan munculnya gerakan-gerakan yang cukup berbeda dari sebelumnya. Cara orang-orang bertanya mengenai pertanyaan mendalam mengenai dunia dan alam semesta sudah berubah. Di timur di India contohnya, Buddhisme dan Jainisme berkembang dan menolak otoritas absolut teks suci Veda dan juga ritualisme Brahmanis. Mereka tidak lagi menggunakan mitos secara berat untuk menjelaskan semuanya. Dan di Tiongkok, pemikiran Konfusianisme dan Taoisme mulai muncul dan mempersoalkan mengenai realitas dan harmoni di dalamnya. Namun yang lebih mengakar dan bisa diargumentasikan yang benar-benar menggunakan logos sebagai cara mereka melihat dunia, terjadi di barat tepatnya di Ionia. Ionia pesisir barat Asia kecil, khususnya di Miletus adalah tempat di mana pusat perdagangan internasional terjadi pada zaman dulu. Dan menjadi pusat perdagangan di mana barang-barang serta budaya dari Mesir, Fenisia, Persia dan wilayah-wilayah lainnya datang dan bertukar. Nah, ketika pertukaran ini terjadi, jawaban atas pertanyaan awal manusia yang melamun juga berbeda-beda. Dari Mesir mengatakan bahwa kenapa kita itu ada, itu karena Dewa Atum atau Ra yang menciptakan manusia dari air kekacauan purba yang disebut juga dengan Nun. Dari Persia justru mengatakan bahwa manusia adalah bagian dari rencana besar Ahura Mazda untuk melawan kegelapan. Dan dari Yunani sendiri, seperti yang dijelaskan tadi berasal dari Prometheus. Ketidakkonsistenan dalam cerita-cerita ini memberikan kebingungan bagi mereka yang memiliki waktu untuk membingungkannya, karena mereka juga makmur dengan ekonomi mereka yang maju. Ketika mereka terus-menerus melihat fenomena alam, mereka mulai menemukan bahwa penjelasan mitologis ini tidak terlihat sesuai dengan kenyataan. Setidaknya dengan apa yang mereka anggap sebagai kenyataan. Contohnya, gagasan bahwa petir adalah bentuk kemarahan Zeus atau gempa bumi disebabkan murka dari para dewa lain. Justru tidak meyakinkan setelah mereka melihat fenomena-fenomena tersebut yang justru memiliki pola yang bisa diamati. Mereka menggunakan rasionalitas dan observasi langsung dalam melihat ini. Rasionalitas dalam melihat bahwa ada ketidakkonsistenan dalam cerita-cerita yang mengatakan bahwa cerita mereka itu paling benar. Dan ketika semua cerita ini benar, itu justru membuat semua cerita ini bisa dipertanyakan. Dan observasi dalam melihat sendiri fenomena-fenomena yang terjadi, ternyata terlihat tidak sama dengan penjelasan mitologis ini. Justru ada pola-pola yang bisa diamati dan ini membuat mereka berfilsafat. Dan ketika kita menggunakan pikiran kita untuk berpikir secara logis dan melakukan observasi menggunakan indra-indra kita, sejatinya kita sebenarnya sedang berfilsafat. Mau itu memikirkan tentang keadilan sosial, makna kehidupan, atau sesederhana berpikir mengenai mau makan apa nanti malam. Jadi, secara sederhana di masa ini, abad 6 sampai 5 sebelum Masehi, bisa dikatakan bahwa filsafat adalah bagaimana cara manusia mengerti dunia menggunakan logos dengan rasionalitas dan observasi. Filsafat sendiri berasal dari bahasa Yunani yang melalui bahasa Latin, philosophia, kalau diterjemahkan artinya cinta terhadap kebijaksanaan. Dalam filsafat berarti kita bertanya pertanyaan-pertanyaan mendasar yang di antaranya itu bertanya tentang apa itu realitas? Yang merupakan salah satu cabang besar filsafat yang dikatakan sebagai metafisika. Bagaimana kita tahu sesuatu itu benar? Cabang filsafat epistemologi. Apa yang membuat tindakan benar atau salah? Cabang filsafat etika. Apa itu keindahan? Cabang filsafat estetika. Dan apa itu arti dari kehidupan? Cabang filsafat eksistensial. Yang akan kita bahas dalam playlist ini nantinya satu persatu secara historis naratif dan secara mendasar dan juga menyeluruh. Filsafat menjadi penting dikarenakan inilah langkah pertama dan abadi yang akan terus mempengaruhi pemikiran kita sehari-hari. Mulai dari pandangan terhadap dunia dan nilai-nilai apapun yang dianut di dalam kehidupan sampai menjadi dasar dari semua ilmu pengetahuan yang kita ketahui sekarang. Dari menggunakan rasionalitas dan observasi ini, muncullah beberapa orang, beberapa filsuf, atau individu yang secara aktif berfilsafat atau mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan mendasar tadi. Yang dikenal sebagai Prassokratik atau filsuf-filsuf sebelum Socrates. Yang merupakan salah satu filsuf paling berpengaruh dalam sejarah filsafat yang akan kita bahas di video selanjutnya. Nah, sebelum kita membahas satu persatu filsuf-filsuf Prasokratik ini, kita perlu mengetahui bahwa ada satu hal lagi yang berbeda dari mitos dan logos. Di mana mitos hanya membutuhkan kita untuk menerima semuanya dan cukup percaya. Tapi logos menuntut kita untuk yang pertama, memahami semuanya dan yang kedua, mengevaluasi secara kritis. Tidak peduli siapa yang mengatakannya, kita harus bisa menantang pemahamannya. Yang berarti sukses dalam filsafat bukanlah mengenai seberapa banyak hal yang bisa kita hafal, seberapa banyak hal yang bisa kita tahu. Tapi seberapa bagus kita memahami sesuatu dan seberapa bagus kita mengevaluasi sesuatu, tidak peduli apa pandangan kita secara subjektif. Nah, para filsuf Prasokratik ini bernama Thales, Anaksimander dan juga Heraclitus. Mereka bertiga mulai muncul dan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan besar mengenai realitas bukan lagi menggunakan mitos, tapi justru menggunakan logos. Yaitu rasionalitas dan juga observasi.
[7:41]Thales, yang berasal dari Miletus, kota pesisir di Yunani kuno yang dekat dengan perairan, mulai mengobservasi dan melihat bagaimana air sebenarnya memainkan peran penting dalam kehidupan. Dia melihat bahwa air adalah sumber kehidupan bagi tanaman, hewan, dan manusia, dan bahkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya itu bergantung pada air. Kemampuannya yang mendalam dalam mengobservasi alam semesta di sekitarnya ini dibuktikan dengan terkenalnya dia dalam memprediksi gerhana matahari. Yang kemungkinan terjadi pada tahun 585 sebelum Masehi. Yang merupakan pencapaian sangat besar pada masanya karena membutuhkan pengamatan yang mendalam terhadap pola-pola astronomi. Dan kemampuannya dalam menggunakan logika dibuktikan dengan yang diyakini merupakan penemuannya. Walaupun dia tidak meninggalkan tulisan, para matematikawan selahnya mengatakan bahwa dia menemukan teorema-teorema dasar dalam matematika. Seperti yang pertama, sebuah lingkaran dibagi sama oleh diameternya. Kedua, sudut-sudut pada alas segitiga sama kaki adalah sama besar. Ketiga, jika dua garis lurus berpotongan, sudut-sudut yang berlawanan adalah sama besar. Dan yang keempat, sebuah sudut yang dibentuk di dalam sebuah busur setengah lingkaran adalah sudut siku-siku. Dia melakukan kontemplasi mendalam, melihat bahwa air yang terus-menerus berubah bentuk, cair, uap, dan es, melihatnya sebagai sesuatu yang fleksibel dan dinamis dan bisa saja merupakan dasar dari semua bentuk material yang ada di dunia. Dia mulai melihat bahwa mungkin saja bumi itu sendiri mengapung di atas air, yang walaupun sekarang mungkin terdengar aneh, penjelasan ini jauh lebih rasional daripada mitos pada masanya. Yang membuatnya sampai pada kesimpulan bahwa air adalah prinsip dasar yang menopang seluruh dunia. Dan ini menjadi yang pertama kali manusia yang dikenal dalam sejarah yang mencoba mencari tahu Arche atau prinsip dasar yang menjadi asal mula segala sesuatu. Dia mengatakan bahwa padat, cairan, gas, perubahan cuaca, pertumbuhan makhluk hidup dan sebagainya, memang berbeda satu sama lain. Tapi ada satu prinsip yang menyatukan mereka semua, yaitu air. Yang dapat berubah menjadi berbagai bentuk dan air inilah yang mendasari semuanya. Dia membayangkan sebuah dunia di mana semua yang dilihat, tanah, langit, laut berasal dari satu unsur dasar. Bagi Thales, unsur itu adalah air. Semua keberagaman yang ada di dunia disatukan dalam satu esensi yang sama. Dan inilah cikal bakal dari metafisika, yaitu cabang filsafat yang mempelajari tentang keberadaan, realitas, dan prinsip-prinsip dasar di balik sesuatu yang ada. Dan Aristoteles, salah satu filsuf yang paling berpengaruh yang nantinya kita pelajari dengan mendalam, menjelaskan Thales dengan Thales. Pendiri jenis filsafat ini, mengatakan bahwa prinsip utama adalah air. (Inilah sebabnya ia menyatakan bahwa bumi beristirahat di atas air). Mungkin ia mendapatkan gagasan ini dari pengamatan bahwa semua hal mendapatkan nutrisi dari kelembapan, dan bahkan yang panas itu sendiri berasal dari dan bergantung pada hal ini (apa pun yang menjadi asal mula segala sesuatu adalah prinsip dari semua hal). Dalam tulisannya yang lain dia menjelaskan, beberapa orang berpikir bahwa jiwa meresapi seluruh alam semesta, yang mungkin menjadi asal mula keyakinan bahwa segala sesuatu dipenuhi oleh dewa-dewa. Pandangan ini juga dianut oleh Thales, berdasarkan catatan tentang dirinya, karena ia mengatakan bahwa magnet memiliki jiwa di dalamnya karena dapat menggerakkan besi. Dan jiwa yang dimaksud yang meresapi seluruh alam semesta ini, bagi Thales adalah air itu sendiri sebagai prinsip dasar. Dan peninggalan ini, pengaruhnya yang sangat besar yang menjelaskan bahwa alam semesta bisa dijelaskan secara rasional dan dengan observasi adalah warisan terbesar darinya terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan. Namun ketika kita mendengar ini, sebagai seseorang yang berusaha untuk mempelajari filsafat, kita harus tidak puas dengan jawaban yang ada. Jika Thales mengatakan bahwa semuanya berasal dari air, filsafat meminta kita untuk bertanya, mengapa demikian? Apa bukti-buktinya? Apa yang membuat air bisa menjelaskan semua yang ada di dunia? Apa yang membuktikannya sebagai prinsip dasar? Dan kalau misalnya bukan air, lalu apa? Salah satu murid Thales, Anaksimander melanjutkan tradisinya dan mengembangkan gagasan yang lebih abstrak dan mendalam tentang asal mula dan struktur alam semesta. Dan dia dikatakan adalah filsuf pertama yang menulis karya dalam prosa filosofis, walaupun hanya fragmen tulisannya yang ada sekarang. Dengan jiwa filsafat yang kuat, dia mempelajari yang diajarkan oleh gurunya dengan dalam, kemudian memberikan ketidaksetujuannya. Sebuah budaya yang akan kita lihat terus-menerus dalam para filsuf ini. Dia mengatakan bahwa air semata tidak bisa menjelaskan semua keberagaman di dunia. Karena kalau air adalah sumber segala sesuatu, bagaimana elemen-elemen yang bertentangan dengan sifat air, seperti api atau udara kering bisa muncul? Dan juga dalam kenyataan, banyak keberagaman elemen di alam selain air, seperti api tadi, tanah dan udara. Dan dunia penuh dengan pertentangan seperti panas dan dingin, basah dan kering dan siang dan malam. Air yang bersifat tunggal tidak bisa menjelaskan pertentangan-pertentangan ini. Dan dengan itu dia memberikan solusi yang lebih masuk akal karena tidak terikat pada sifat fisik tertentu. Dia menjelaskan bahwa prinsip dasar dari semuanya justru adalah sesuatu yang lebih abstrak. Dia menyebutnya sebagai Apeiron atau yang berarti yang tak terbatas, yang tidak terdefinisi, atau yang tak terhingga. Yang dijelaskan sebagai sumber dari segala sesuatu dan mengelilingi seluruh kosmos. Cara berfilsafat di sini tidak lagi hanya sekedar observasi dan juga rasionalitas, tapi sudah menggunakan sesuatu yang lebih tinggi yaitu berpikir abstrak. Yang menjadi jalan bagi para filsuf setelahnya untuk berpikir melampaui dunia material ke prinsip-prinsip non material. Dan hasil pemikiran abstraknya, Apeiron bisa menjawab semua ketidakkonsistenan dari konsep air dari Thales. Apeiron yang tidak memiliki sifat khusus membuatnya mungkin menjadi sumber dari semua elemen dan fenomena alam termasuk yang berlawanan seperti api dan air atau siang dan malam. Apeiron yang bersifat abadi dan tidak terbatas, tidak memiliki awal atau akhir, membuatnya menjadi sumber kekal yang mungkin melahirkan segala sesuatu dan menjadi tempat kembali setelah kehancuran. Dan juga ini membantu mengembangkan pandangan kosmologis yang lebih rasional dan konsisten tentang struktur alam semesta dibandingkan dengan mitos atau elemen spesifik air tadi. Dia mengatakan bahwa bumi yang berbentuk silinder berada di pusat kosmos mengapung tanpa penopang fisik karena keseimbangan geometris. Bukan karena ditopang oleh dewa atau kekuatan dari luar. Dan dari sini juga dia memetakan langit dan memperkenalkan untuk pertama kali bahwa benda langit bergerak dalam lingkaran. Dia kemudian mengembangkan bahwa ada semacam keadilan kosmik atau Dike, yaitu bahwa segala sesuatu yang berasal dari Apeiron harus kembali ke Apeiron dalam siklus keseimbangan yang mencerminkan prinsip harmoni dalam alam semesta. Dan konsep ini menjadi solusi dalam menjelaskan pertentangan dari dunia seperti panas melawan dingin, basah melawan kering dan yang lainnya. Dia menjelaskan, dari mana segala sesuatu berasal, ke sanalah segala sesuatu akan kembali sesuai dengan kebutuhan. Sebab segala sesuatu memberikan denda dan ganjaran kepada satu sama lain atas ketidakadilan mereka, sesuai dengan aturan waktu. Karena perlu bahwa yang tak terbatas adalah prinsip dari segala sesuatu dan tempat ke mana mereka kembali setelah kehancuran. Sebab, segala hal yang berlawanan dihancurkan ke dalam tempat asal mereka sesuai dengan kebutuhan. Dan dia Anaksimander, sebagai murid Thales menjelaskan bahwa khusus untuk makhluk hidup, semuanya muncul dari air yang dipenuhi nutrisi. Dan makhluk-makhluk awal ini berevolusi menjadi bentuk-bentuk kehidupan lain. Air adalah asal utama kehidupan, walaupun prosesnya tetap dikaitkan dengan Apeiron sebagai sumber utama menurutnya. Walaupun ini masih spekulatif, tapi ini menjadi langkah penting dalam pergeseran pemikiran dari mitos ke logos yang kita jelaskan. Dia mempelajari dengan mendalam ajaran-ajaran dari gurunya yang merupakan langkah pertama yang tadi, memahami semuanya. Dan kemudian dia mengevaluasi secara kritis dan mengembangkan apa-apa saja yang bisa dikembangkan dari ajaran gurunya sebelumnya. Dan ini menjadi budaya filsafat yang membuatnya terus-menerus berkembang.
[16:25]Heraclitus dari Efesus atau Heraclitus gelap karena tulisan-tulisannya yang penuh dengan teka-teki dan sulit dipahami. Dia dengan jiwa filsafatnya menolak pemandangan Thales dan Anaximander. Ia mengatakan bahwa alam semesta ini berasal dari segala sesuatu yang statis atau tetap, walaupun menghasilkan keberagaman tetap tidak benar menurutnya karena dunia yang diamati penuh dengan perubahan, konflik dan transformasi. Dan itu tidak menggambarkan ketetapan yang mereka jelaskan. Plato salah satu filsuf yang paling berpengaruh yang nantinya kita bahas menulis Heraclitus dengan Heraclitus dikatakan menyatakan bahwa segala sesuatu sedang bergerak dan tidak ada yang diam. Ia membandingkan hal itu dengan aliran sebuah sungai dan mengatakan bahwa Anda tidak dapat melangkah ke sungai yang sama dua kali. Baginya, realitas itu sendiri justru adalah sesuatu yang terus berubah. Dia melihat bahwa dunia ini terus-menerus terjadi dalam keadaan tersebut, mau itu siklus siang dan malam, musim dan bahkan kehidupan itu sendiri. Dan semua ini, dia katakan adalah bukti bahwa perubahan adalah sifat mendasar dari alam semesta. Inilah yang disebut oleh Plato sebagai Panta Rhei atau segala sesuatu mengalir, yang menjelaskan bahwa dunia berada dalam keadaan yang terus-menerus menjadi dan tidak pernah benar-benar pada keadaan statis. Dan untuk menjelaskan kedinamisan dari semua ini, semuanya yang terus berubah. Dia melihatnya dalam bentuk api, karena api sebagai simbol bisa menjelaskan perubahan yang terus-menerus yang masih memiliki pola yang dapat diamati di dalamnya. Dia tidak mengatakan bahwa semuanya adalah api literal, api sebagai elemen, tapi lebih merupakan sebuah simbolisasi dari perubahan yang dapat kita lihat dalam api. Dia menjelaskan, kosmos ini yang sama bagi semua, tidak diciptakan oleh dewa atau manusia, tetapi selalu ada, sedang ada, dan akan selalu ada. Api yang selalu hidup, menyala dan padam dalam ukuran tertentu. Dan dari sini dia melihat bahwa perang dan damai, panas dan dingin, malam dan siang, hidup dan mati, adalah hal yang saling melengkapi dan bukan sesuatu yang saling bertentangan secara destruktif. Semuanya saling bergantung untuk bisa eksis. Perang tidak akan ada kalau tidak ada damai, panas tidak akan ada kalau tidak ada dingin, malam tidak akan ada kalau tidak ada siang, hidup tidak akan ada kalau tidak ada mati, dan begitu juga sebaliknya. Dia menyebutnya sebagai kesatuan dalam keberlawanan. Dia menjelaskan, perang adalah ayah dari segala sesuatu dan raja dari segala sesuatu. Sebagian ditampakkannya sebagai dewa, sebagian lainnya sebagai manusia, sebagian dijadikannya budak, sebagian lainnya bebas. Dia menjelaskan bahwa dalam konsep perubahan tidak ada sesuatu yang hanya ada atau hanya tidak ada, melainkan selalu berada dalam proses menjadi sesuatu yang lain. Jadi, dengan mengakui perubahan, perubahan bisa menjadi realitas itu sendiri. Yang menjadi lebih sesuai dengan dunia nyata yang terus berubah. Dan semua ini, perubahan-perubahan ini dia katakan diatur oleh logos, yang merupakan prinsip universal yang mengatur alam semesta. Berbeda dengan pemahaman kita yang tadi bahwa logos adalah semacam rasio atau cara berpikir atau cara mengobservasi. Dia menjelaskan bahwa logos justru lebih besar, yaitu hukum kosmik atau logika yang menyatukan dan mengatur alam semesta itu sendiri. Dan dia mengatakan bahwa logos ini juga berlaku bagi manusia. Ia menulis, meskipun logos itu bersifat universal, banyak orang hidup seolah-olah mereka memiliki kebijaksanaan mereka sendiri. Dia yang melihat logos sebagai hukum rasional yang mengatur alam semesta dan harusnya dapat diakses oleh semua orang, tapi banyak yang gagal mengenalinya. Karena menurutnya, mereka memiliki kebodohan kolektif. Dan pandangannya yang memiliki implikasi etis ini mulai menunjukkan sedikit fokus, bukanlah hanya alam semesta dan apa sebenarnya bentuk dari realitas. Tapi mulai beralih ke yang merasakan alam semesta itu sendiri, manusia. Satu hal yang mungkin paling esensial yang perlu untuk kita tanamkan dalam diri dalam mengeluti filsafat atau bahkan kehidupan itu sendiri. Perlu untuk tidak langsung percaya apapun tanpa melakukan observasi dan pemikiran terlebih dahulu. Perlu untuk mengevaluasi secara kritis dan menemukan jawaban kita sendiri. Dan mungkin saja beberapa dari kita pernah berpikir ini secara tidak sadar, ketika kita melihat hujan, api atau bintang di langit. Bisa saja kita mencapai pemikiran rasional, pemikiran yang sudah ditemukan oleh para orang-orang hebat sebelum Socrates ini. Setiap kali kita merenung mengenai hal-hal ini, kita tidak hanya merenung tanpa arti. Tapi kita sedang bergabung dalam percakapan besar, sebuah dialog yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Filsafat bukanlah sekedar subjek akademis, tapi justru cerminan dari jiwa manusia itu sendiri. Dan setelah para filsuf Prassokratik ini, muncul satu orang dan membawa cara memahami dunia yang dilakukan oleh para filsuf ini. Dan dia membawanya kembali ke manusia dan mulai bertanya, bagaimana seharusnya manusia hidup? Dia adalah Socrates itu sendiri. Manusia yang memulai pembahasan mengenai etika tentang apa yang benar dan salah dalam perilaku manusia dalam filsafat. Dia tidak lagi membahas mengenai tentang apa yang mendasari semua ini, tapi dia mulai berfokus terhadap kita, manusia.



