Thumbnail for 20 PERKARA MAKRIFAT: Rahasia Kedamaian Jiwa Syekh Abdul Qadir Al Jaelani (Full Penjelasan) by REZEKI ILHAM

20 PERKARA MAKRIFAT: Rahasia Kedamaian Jiwa Syekh Abdul Qadir Al Jaelani (Full Penjelasan)

REZEKI ILHAM

37m 42s4,396 words~22 min read
Auto-Generated

[0:00]Jangan sampai kita lelah beribadah puluhan tahun, tapi belum sedetik pun benar-benar mengenal siapa yang kita sembah. Syekh Abdul Qodir Al Jailani mengingatkan kita bahwa ada penghalang hijab antara kita dan sang pencipta yang sering tidak kita sadari. Hari ini saya akan bagikan 20 langkah makrifat untuk meruntuhkan tembok itu. Jika Anda merasa hidup Anda sedang buntu, mungkin kunci pembukanya ada di penjelasan bagian tengah video ini. Sahabat yang dikasihi Tuhan, ilmu yang akan kita bahas ini adalah warisan berharga dari Syekh Abdul Qodir Al Jailani yang mampu mengubah cara kita memandang hidup. Sebelum kita membuka pintu makrifat yang pertama, saya mengajak Anda untuk menebar benih kebaikan hari ini. Jika Anda merasa getaran ilmu ini perlu sampai ke hati lebih banyak orang, silakan tekan tombol like dan bagikan, share video ini. Dengan satu klik, Anda mungkin menjadi wasilah atau perantara hidayah bagi orang lain yang sedang mencari ketenangan. Dan bagi Anda yang baru pertama kali hadir di sini, mari bergabung dalam lingkaran persaudaraan kita dengan menekan tombol subscribe. Mari kita saling menguatkan dalam perjalanan menujunya. Saya juga sangat ingin mengenal Anda lebih dekat di bawah naungan rahmat-Nya. Dari belahan bumi mana Anda sedang menyimak pesan-pesan langit ini, silakan tuliskan kota atau daerah asal Anda di kolom komentar. Mari kita lihat sejauh mana cahaya ilmu ini berpendar. Tetaplah bersama saya hingga akhir pembahasan karena perkara ke-20 nanti adalah kunci yang mengikat seluruh perjalanan makrifat kita hari ini. Mari kita mulai pembahasan yang pertama.

[2:10]Sahabat yang dikasihi semesta, mari kita melangkah perlahan, melepaskan sejenak beban dunia yang menghimpit bahu kita dan memasuki pintu gerbang pertama dari ajaran sang Sultan aulia Syekh Abdul Kadir Al Jailani. Beliau adalah sosok yang menghabiskan puluhan tahun di padang pasir Irak demi menjinakkan gejolak batinnya hingga akhirnya Allah membukakan pintu-pintu rahasia yang tidak tampak oleh mata biasa. Pintu pertama dalam makrifat menurut beliau bukanlah tentang keajaiban atau kemampuan melihat hal-hal gaib, melainkan sebuah pondasi yang sangat mendasar namun sering kita lupakan. Mengenal kedalaman niat dan kejujuran hati. Bayangkan sebuah bangunan yang megah, setinggi apapun menaranya, seindah apapun ukirannya, ia akan runtuh jika tanah tempatnya berpijak tidak kuat. Begitu pula dengan perjalanan mengenal Tuhan. Syekh Abdul Kadir mengajarkan bahwa makrifat dimulai ketika seorang hamba berhenti bermain-main dengan agamanya. Kita sering mengaku menyembah Allah, namun dalam kenyataannya, hati kita lebih sering menyembah ketakutan akan kemiskinan, menyembah pujian orang lain atau menyembah keinginan-keinginan yang tidak ada ujungnya. Dalam kitab beliau yang sangat dalam Sir Al Asrar dijelaskan bahwa setiap manusia memiliki inti rahasia atau sir. Namun, inti ini tertutup oleh lapisan-lapisan debu duniawi. Ibarat sebuah cermin yang sangat kusam, ia tidak bisa memantulkan cahaya matahari. Tugas kita di babak pertama ini adalah mulai menggosok cermin tersebut. Bagaimana caranya? Dengan satu kata kunci, ikhlas yang sejati. Banyak orang awam mengira ikhlas itu hanya soal melepaskan. Namun bagi Syekh Abdul Kadir, ikhlas adalah sebuah keberanian untuk berkata pada diri sendiri, cukuplah Allah bagiku. Ini adalah perkara makrifat yang sangat berat namun indah. Beliau menekankan bahwa selama di dalam hatimu masih ada keinginan agar orang lain melihat amalmu atau kamu merasa lebih baik dari orang lain karena ibadahmu, maka kamu masih berada di luar gerbang makrifat. Kamu masih tertahan di pintu syariat yang lahiriah saja. Mari kita jujur pada diri sendiri. Seringkali kita merasa kecewa saat kebaikan kita tidak dibalas atau kita merasa sedih saat doa kita tidak langsung dikabulkan. Menurut Syekh Abdul Kadir, kekecewaan itu adalah tanda bahwa kita belum benar-benar mengenal Allah. Jika kita sudah mengenalnya, makrifat, kita akan paham bahwa Allah adalah Al Hakim, yang Maha Bijaksana. Dia memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Pengetahuan ini adalah awal dari ketenangan yang hakiki. Perkara pertama ini juga membahas tentang mati sebelum mati. Jangan salah paham, ini bukan berarti kita harus mengakhiri hidup secara fisik. Syekh Abdul Kadir sering mengutip hadis ini untuk menjelaskan bahwa makrifat hanya bisa masuk ke dalam hati yang sudah mati dari hawa nafsunya. Maksudnya adalah keinginan pribadi kita tidak lagi menjadi nahoda dalam hidup kita. Kita membiarkan kehendak Allah yang menyetir hidup kita. Coba perhatikan hidup kita sehari-hari. Berapa banyak energi yang kita habiskan untuk mengejar pengakuan? Kita membeli barang yang tidak kita butuhkan hanya untuk membuat orang yang tidak kita sukai merasa kagum. Inilah yang disebut oleh beliau sebagai perbudakan halus. Makrifat datang untuk memerdekakan kita. Seorang yang mulai mengenal makrifat melalui ajaran beliau akan merasa bahwa pujian dan cerca manusia itu sama saja. Keduanya hanya suara angin yang lewat. Kenapa? Karena dia hanya sibuk mencari senyum dari penciptanya. Beliau sering memberikan perumpamaan tentang seekor burung yang terperangkap dalam sangkar emas. Sangkar itu indah, penuh hiasan dan diberi makan yang enak. Tapi burung itu tetap terpenjara. Sangkar itu adalah dunia dan nafsu kita. Makrifat adalah kunci untuk membuka pintu sangkar tersebut agar roh kita bisa terbang bebas kembali ke asalnya, yaitu hadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Untuk memulai perjalanan ini, Syekh Abdul Kadir menyarankan kita untuk melakukan dua hal praktis dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, perbanyaklah diam dan mendengar. Bukan sekedar diam tanpa suara, tapi diamnya hati dari keluhan. Seringkali lisan kita berzikir, tapi hati kita sibuk memprotes takdir. Kenapa saya begini? Kenapa dia begitu? Orang yang mulai belajar makrifat akan mencoba untuk diam dan menyadari bahwa setiap kejadian, sekecil apapun, adalah surat cinta dari Allah yang berisi pelajaran. Jika kita terus berbicara dan mengeluh, kita tidak akan pernah mendengar bisikan hikmah yang Allah titipkan dalam kejadian tersebut. Ke-2, latihlah kejujuran dalam kesendirian. Siapa kita saat tidak ada orang yang melihat, itulah diri kita yang sebenarnya. Syekh Abdul Kadir menekankan bahwa makrifat adalah ilmu tentang dalam, bukan tentang luar. Jika di depan orang kita tampak saleh tapi di belakang kita penuh dengan kebencian dan kesombongan, maka kita sedang menipu diri sendiri. Makrifat menuntut kejujuran yang radikal. Kita harus berani mengakui borok-borok di hati kita agar Allah berkenan menyembuhkannya dengan cahayanya. Sahabat, pintu pertama ini memang terasa berat karena ia mengharuskan kita meruntuhkan ego. Kita sering merasa hebat karena gelar kita, harta kita, atau status sosial kita. Namun di hadapan makrifat, semua itu nol besar. Syekh Abdul Kadir mengajarkan bahwa kita harus menjadi fakir di hadapan Allah. Fakir di sini artinya merasa sangat butuh kepada Allah dalam setiap hembusan nafas. Tanpa izin-Nya, mata kita tidak bisa berkedip, tanpa rahmat-Nya, jantung kita tidak akan berdetak. Kesadaran akan kelemahan diri inilah yang justru menjadi kekuatan luar biasa. Saat kita sadar bahwa kita tidak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa, di situlah Allah akan mengisi hati kita dengan kekayaannya. Inilah yang disebut sebagai kekayaan hati. Orang yang sudah sampai pada titik ini tidak akan pernah merasa miskin meski dia tidak punya harta di saku, karena dia merasa memiliki sang pemilik alam semesta. Inilah esensi dari bab pertama dalam 20 perkara makrifat ini. Bukan soal menghafal istilah-istilah sulit, tapi soal mengubah arah pandang dari memandang makhluk ke memandang khalik, dari mengejar yang fana ke mencari yang baka. Mari kita renungkan sejenak. Jika hari ini adalah hari terakhir kita di dunia, apakah kita sudah benar-benar mengenal siapa yang akan kita temui nanti? Ataukah selama ini kita hanya mengenal namanya tanpa pernah merasakan kehadirannya? Syekh Abdul Kadir Al Jailani mengajak kita untuk bangun dari tidur panjang ini. Jangan biarkan hidup kita habis hanya untuk mengumpulkan tumpukan debu duniawi yang akan kita tinggalkan. Jadilah seperti seorang musafir yang tahu persis ke mana tujuannya. Jangan terpesona oleh keindahan taman di pinggir jalan hingga lupa pada rumah yang menanti di ujung perjalanan. Makrifat adalah kompas yang memastikan langkah kita tetap lurus. Dan di bab pertama ini, kompas itu baru saja kita kalibrasi dengan jarum bernama keikhlasan. Setelah kita memahami pentingnya niat dan kejujuran di pintu pertama, kini saatnya kita melangkah lebih dalam ke babak ke-2 yang tidak kalah pentingnya dalam ajaran Syekh Abdul Kadir Al Jailani. Pintu kedua ini adalah tentang rahasia membersihkan cermin hati atau dalam bahasa yang lebih akrab bagi kita, membersihkan diri dari segala sesuatu yang menghalangi kita melihat kehadiran Tuhan dalam hidup kita sehari-hari. Sahabat yang dikasihi, Syekh Abdul Kadir sering menggambarkan hati manusia itu seperti sebuah cermin. Pada asalnya, cermin itu sangat bening, sangat bersih dan diciptakan khusus untuk memantulkan keindahan sifat-sifat Allah. Namun seiring berjalannya waktu, setiap kesalahan yang kita lakukan, setiap rasa iri yang kita pelihara dan setiap keterikatan kita yang berlebihan pada dunia, ibarat tetesan tinta hitam yang jatuh ke atas cermin tersebut. Jika tinta itu tidak segera dibersihkan, ia akan mengering, menebal dan akhirnya menutup seluruh permukaan cermin. Apa akibatnya jika cermin hati itu tertutup debu hitam? Kita akan menjadi buta secara spiritual. Kita mungkin bisa melihat dunia dengan mata kepala kita, kita bisa melihat harta, jabatan dan kecantikan fisik, tapi kita tidak bisa melihat tangan Tuhan yang mengatur segalanya. Kita menjadi orang yang mudah stres, mudah marah dan selalu merasa kurang, karena cermin kita tidak lagi mampu menangkap cahaya ketenangan dari langit. Syekh Abdul Kadir mengajarkan bahwa proses pembersihan ini disebut dengan Tazkiyatun Nafs. Beliau menekankan bahwa mustahil bagi cahaya makrifat untuk masuk ke dalam hati yang masih dipenuhi kotoran. Bayangkan Anda ingin menuangkan air zamzam yang suci ke dalam sebuah gelas. Jika gelas itu berisi air selokan yang berbau, tentu air zamzam itu akan ikut tercemar. Maka, langkah pertama yang mutlak harus dilakukan adalah membuang air selokan itu dan mencuci gelasnya hingga bersih berkilau. Kotoran pertama yang harus kita bersihkan, menurut sang Sultan aulia, adalah keterikatan pada makhluk. Ini adalah penyakit yang paling umum diidap oleh orang awam. Kita seringkali merasa bahwa kebahagiaan kita tergantung pada pasangan, kekayaan kita tergantung pada atasan di kantor atau harga diri kita tergantung pada pujian tetangga. Inilah yang disebut oleh beliau sebagai syirik halus. Kita seolah-olah menganggap ada kekuatan lain selain Allah yang bisa memberi manfaat atau mudarat kepada kita. Dalam pandangan makrifat Syekh Abdul Kadir, cara membersihkannya adalah dengan menyadari bahwa semua manusia dan seluruh isi alam ini hanyalah alat di tangan Tuhan. Ibarat sebuah pena di tangan seorang penulis, janganlah memuji penanya, tapi pujilah penulisnya. Jika seseorang berbuat baik kepada Anda, lihatlah bahwa Allahlah yang menggerakkan hatinya. Jika seseorang menyakiti Anda, lihatlah bahwa Allah sedang menguji kesabaran Anda melalui orang tersebut. Dengan cara pandang seperti ini, debu keterikatan pada manusia akan mulai rontok dari cermin hati Anda. Anda tidak lagi menjadi budak perasaan terhadap sesama manusia, karena fokus Anda hanya satu, sang penggerak hati. Kotoran ke-2 yang sangat berbahaya adalah kecintaan pada dunia, hubud dunia. Syekh Abdul Kadir memberikan nasihat yang sangat legendaris, letakkanlah dunia di tanganmu, jangan di hatimu. Beliau sendiri adalah orang yang sangat kaya dan terhormat pada zamannya, namun beliau membuktikan bahwa kekayaan itu tidak sedikit pun mengotori hatinya. Membersihkan hati dari dunia bukan berarti kita harus jadi miskin atau tidak bekerja, bukan itu maksudnya. Membersihkan hati dari dunia artinya adalah ketika dunia ada di tanganmu, kamu tidak sombong, dan ketika dunia hilang dari tanganmu, kamu tidak berduka. Jika harta itu membuatmu semakin dekat kepada Allah, maka itu adalah nikmat. Namun jika harta itu membuatmu lupa waktu salat, lupa berbagi kepada sesama atau membuatmu merasa lebih mulia dari orang miskin, maka itulah debu hitam yang sedang menutupimu. Cerminmu.

[15:05]Syekh Abdul Kadir mengajarkan kita untuk memperlakukan dunia seperti air dan kita adalah kapal di atasnya. Air harus ada di bawah kapal agar kapal bisa berlayar, tapi jika air itu masuk ke dalam kapal, maka kapal itu akan tenggelam. Begitulah hati manusia, ia harus berada di atas dunia, bukan dimasuki oleh dunia. Lalu bagaimana cara praktis untuk terus menggosok cermin hati ini agar tetap berkilau? Beliau memberikan resep yang sangat ampuh, yaitu dawamud zikir atau zikir yang terus-menerus. Namun zikir yang beliau maksud bukan sekedar gerak bibir tanpa makna. Zikir makrifat adalah zikir yang getarannya sampai ke relung hati terdalam. Setiap kali Anda mengucapkan La ilaha illallah, bayangkan lisan Anda sedang berkata, tidak ada Tuhan selain Allah, tapi hati Anda sedang mengusir Tuhan-tuhan kecil lainnya. Usir rasa takutmu akan masa depan, usir rasa banggamu atas pencapaianmu, usir rasa dendamu pada masa lalu. Setiap kalimat zikir itu adalah gosokan kain let pada cermin hati Anda. Semakin sering Anda menggosoknya dengan penuh penghayatan, maka perlahan-lahan debu hitam itu akan menipis. Ciri-ciri cermin hati yang mulai bersih adalah munculnya rasa ridha. Syekh Abdul Kadir menekankan bahwa ridha adalah buah dari makrifat di babak ini. Orang yang hatinya bersih akan menerima setiap ketetapan Allah dengan lapang dada. Dia tidak lagi bertanya kenapa ini terjadi padaku, melainkan berkata pasti ada kebaikan di balik ini semua. Dia sadar bahwa Allah lebih menyayangi dirinya daripada dirinya menyayangi dirinya sendiri. Seorang bayi mungkin menangis saat disuntik oleh dokter, karena dia tidak tahu bahwa suntikan itu untuk kesembuhannya. Kita seringkali seperti bayi itu, menangis atas takdir yang pahit, padahal Allah sedang menyuntikkan obat ke dalam jiwa kita. Selain itu, Syekh Abdul Kadir juga mengingatkan tentang kotoran batin yang bernama Ujub dan riya. Ini adalah debu yang sangat halus, seringkali menyerang orang-orang yang sudah merasa rajin beribadah. Terkadang, setelah kita banyak bersedekah atau salat malam, muncul perasaan di hati, wah saya hebat ya, saya lebih saleh dari tetangga saya. Hati-hati sahabat, ini adalah kotoran yang bisa merusak seluruh amal kita. Beliau mengajarkan kita untuk selalu merasa sebagai pendosa yang sedang berusaha pulang. Jangan pernah merasa sudah sampai, karena perasaan sudah sampai itulah yang justru membuat kita berhenti melangkah. Dalam proses membersihkan cermin ini, Syekh Abdul Kadir juga menekankan pentingnya makan yang halal. Beliau berkata bahwa apa yang masuk ke dalam perut kita akan menjadi bahan bakar bagi roh kita. Jika yang masuk adalah harta haram atau harta yang didapat dari menyakiti orang lain, maka roh kita akan menjadi berat, malas beribadah dan hati akan semakin keras membatu. Makanan yang halal adalah nutrisi bagi kejernihan cermin hati. Mari kita renungkan sejenak kondisi hati kita saat ini. Mengapa kita sering merasa hampa meski sudah banyak tertawa? Mengapa kita merasa kesepian di tengah keramaian? Setelah kita berusaha membersihkan cermin hati di pintu ke-2, kini kita sampai pada medan perjuangan yang paling menentukan dalam ajaran Syekh Abdul Kadir Al Jailani. Pintu ke-3 ini adalah tentang seni menjinakkan nafsu dan menemukan ketenangan sejati. Jika makrifat adalah sebuah perjalanan mendaki gunung, maka nafsu adalah beban berat di punggung kita yang seringkali membuat kita terpeleset atau bahkan berhenti melangkah. Sahabat yang dikasihi Tuhan, Syekh Abdul Kadir sering mengingatkan bahwa musuh terbesar kita bukanlah orang yang membenci kita, bukan pula kemiskinan atau nasib buruk. Musuh terbesar itu ada di dalam dada kita sendiri, yaitu nafsu yang belum terdidik. Beliau menggambarkan nafsu manusia itu ibarat seekor kuda liar yang sangat kuat. Jika kuda itu tidak dijinakkan, ia akan membawa larinya penunggangnya ke jurang kehancuran. Namun, jika kuda itu berhasil dilatih dan tunduk, ia akan menjadi kendaraan yang sangat cepat untuk membawa kita sampai ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Banyak orang awam salah paham, mengira bahwa beragama berarti membunuh nafsu total. Syekh Abdul Kadir tidak mengajarkan kita untuk membunuh nafsu, karena tanpa nafsu manusia tidak punya keinginan untuk makan, bekerja atau berkeluarga. Yang beliau ajarkan adalah mendidik nafsu agar ia berubah wujud. Beliau membagi tingkatan nafsu ini dengan sangat detail, namun bagi kita yang sedang belajar, poin utamanya adalah mengubah nafsu amarah, nafsu yang selalu menyuruh pada kejahatan menjadi nafsu mutmainah, nafsu yang tenang dan diridhai. Bagaimana cara menjinakkan kuda liar ini menurut sang Sultan aulia? Kuncinya adalah dengan Mujahadah atau perjuangan yang sungguh-sungguh. Syekh Abdul Kadir menekankan bahwa nafsu itu sifatnya manja. Semakin dituruti, ia akan semakin menuntut. Jika hari ini Anda menuruti keinginan nafsu untuk bermalas-malasan, besok ia akan menuntut hal yang lebih parah. Oleh karena itu, beliau mengajarkan kita untuk sesekali berpuasa dari keinginan-keinginan kita sendiri. Bukan hanya puasa makan dan minum, tapi puasa dari menuruti kemauan ego. Misalnya saat hati Anda sangat ingin membalas ejekan orang lain dengan kata-kata yang lebih pedas, cobalah untuk diam. Saat nafsu Anda mengajak untuk pamer akan kesuksesan, cobalah untuk menyembunyikannya. Syekh Abdul Kadir berkata bahwa setiap kali kita berhasil berkata tidak pada keinginan nafsu yang rendah, maka satu ikatan rantai yang membelenggu jiwa kita akan terlepas. Di situlah letak kemerdekaan yang sesungguhnya. Orang yang makrifat adalah orang yang paling merdeka di dunia, karena dia tidak lagi bisa disetir oleh emosinya sendiri. Beliau juga mengajarkan satu konsep yang sangat dalam tentang kefakiran rohani. Beliau sering berkata bahwa selama seseorang masih merasa memiliki sesuatu atau merasa menjadi seseorang, maka nafsunya masih berkuasa.

[22:03]Nafsu selalu ingin merasa besar. Ia ingin dihormati, ingin dianggap paling benar dan ingin selalu menang sendiri. Syekh Abdul Kadir menghancurkan kesombongan nafsu ini dengan mengajarkan kita untuk memandang diri kita sebagai tanah. Tanah itu diinjak-injak, dilempari kotoran, namun ia tetap diam dan justru menumbuhkan bunga-bunga yang indah. Inilah makrifat dalam tindakan. Ketika dihina, hati tidak bergejolak, karena sadar bahwa diri ini memang tercipta dari tanah dan akan kembali ke tanah. Apa yang perlu disombongkan dari tumpukan debu? Ketika kita sudah sampai pada titik ini, nafsu tidak lagi punya bahan bakar untuk marah atau kecewa. Ketenangan sejati mulai merembes masuk ke dalam jiwa. Ketenangan ini bukan karena hidup kita tanpa masalah, tapi karena di dalam diri kita sudah tidak ada lagi pertentangan antara kehendak kita dan kehendak Tuhan. Syekh Abdul Kadir Al Jailani juga menekankan pentingnya kesabaran yang aktif. Bagi beliau, sabar bukan berarti menyerah pada keadaan. Sabar adalah menahan nafsu agar tetap berada di jalur ketaatan saat badai ujian datang. Beliau sering mengibaratkan ujian hidup seperti obat yang pahit dari dokter yang penyayang. Nafsu kita tentu akan menolak obat itu karena rasanya yang tidak enak. Namun akal yang dibimbing makrifat akan berkata, minumlah karena di dalam kepahitan ini ada kesembuhanmu. Banyak dari kita yang merasa hidupnya sesak karena kita terlalu banyak bertengkar dengan kenyataan. Kita ingin hari ini hujan, tapi ternyata panas, kita ingin untung, tapi ternyata rugi. Nafsu kitalah yang membuat kita menderita, karena ia tidak mau menerima apa yang sudah ditetapkan. Syekh Abdul Kadir mengajak kita untuk belajar berenang mengikuti arus takdir, bukan melawannya. Bukan berarti kita tidak boleh berusaha, tapi setelah usaha maksimal dilakukan, kita serahkan hasilnya dengan hati yang tenang. Inilah yang disebut dengan tawakal yang sejati yang merupakan buah dari jinakna nafsu. Dalam bab ke-3 ini, beliau juga mengingatkan tentang bahaya lidah. Beliau berkata bahwa lidah adalah juru bicara hati, namun seringkali lidah pula yang menjadi alat nafsu untuk menjatuhkan martabat kita. Banyak bicara tanpa zikir akan mengeraskan hati. Oleh karena itu, salah satu cara mendidik nafsu adalah dengan menjaga lisan. Lisan jika tidak ada kebaikan yang bisa diucapkan, lebih baik diam. Dengan diam, energi kita tidak terbuang sia-sia dan bisa dialihkan untuk memperkuat hubungan batin dengan Allah. Pernahkah Anda merasa sangat lelah secara batin meskipun fisik Anda tidak melakukan apa-apa? Itu biasanya terjadi karena nafsu Anda sedang berkelahi dengan takdir. Menginginkan sesuatu yang belum saatnya Anda miliki, atau Anda meratapi sesuatu yang sudah hilang. Syekh Abdul Kadir mengajarkan bahwa obat dari kelelahan batin ini adalah zikir nafas. Beliau menyarankan agar setiap tarikan nafas kita disertai dengan kesadaran bahwa ini adalah pemberian Allah. Dan setiap hembusan nafas disertai dengan kepasrahan, segala puji bagi Allah. Jika nafas sudah selaras dengan zikir, maka nafsu akan perlahan-lahan menjadi jinak dan tenang. Syekh Abdul Kadir juga sering bercerita tentang pentingnya menjaga pandangan. Bukan hanya pandangan mata terhadap hal yang haram, tapi pandangan hati yang selalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Nafsu selalu merasa kurang jika melihat ke atas dalam hal dunia dan tidak pernah merasa cukup. Makrifat mengajarkan kita untuk memandang dunia dengan rasa syukur. Beliau berkata, lihatlah orang yang di bawahmu dalam urusan dunia agar kamu tahu betapa besarnya nikmat Allah padamu. Dengan rasa syukur, nafsu yang tadinya seperti api yang berkobar akan berubah menjadi air yang menyejukkan. Sahabat, perjalanan di pintu ke-3 ini memang tidak mudah. Syekh Abdul Kadir sendiri menghabiskan bertahun-tahun dalam kesunyian untuk menaklukkan ego batinnya. Namun beliau menjanjikan bahwa bagi siapa saja yang mau bersabar mendidik nafsunya, Allah akan memberikan hadiah berupa makrifatullah, pengenalan yang mendalam tentang Allah yang membuat dunia ini terasa sangat kecil dan tidak berarti. Ketika nafsu sudah tenang mutmainah, Anda akan merasakan sebuah kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kebahagiaan itu muncul karena Anda merasa selalu bersama dengan sang pencipta. Anda tidak lagi takut akan hari esok dan tidak lagi menyesali hari kemarin. Anda hidup di saat ini, the power of now, dengan penuh kesadaran dan cinta. Inilah surga sebelum surga yang sebenarnya. Mari kita mulai langkah kecil hari ini. Jika nafsu mengajak kita untuk marah, mari kita tahan sebentar dan beristighfar. Jika nafsu mengajak kita untuk pelit, mari kita paksa untuk memberi meski sedikit. Jika nafsu mengajak kita untuk malas salat, mari kita bangkit dengan kesadaran bahwa kita sedang menghadap sang Raja Diraja. Setiap kemenangan kecil atas nafsu adalah satu langkah besar menuju makrifat sejati. Syekh Abdul Kadir Al Jailani selalu mendoakan murid-muridnya dan siapapun yang mengikuti jalannya agar diberi kekuatan. Beliau bukan hanya seorang guru yang tegas, tapi juga seorang ayah spiritual yang penuh kasih sayang. Beliau tahu betapa beratnya perjuangan melawan diri sendiri, maka beliau selalu berpesan, jangan lepaskan peganganmu pada Allah, karena hanya dengan pertolongannya kita bisa menang melawan diri kita sendiri. Jadikanlah setiap detik dalam hidup Anda sebagai madrasah untuk mendidik nafsu. Jangan biarkan ia liar tanpa kendali. Jadilah tuan atas dirimu sendiri, jangan biarkan dirimu menjadi budak bagi keinginanmu. Karena hanya jiwa yang tenang yang akan dipanggil olehnya dengan sapaan mesra, wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridainya. Setelah kita berjuang menjinakkan keliaran nafsu di pintu ke-3, kini sampailah kita pada gerbang yang sangat indah dan penuh kerinduan dalam ajaran Syekh Abdul Kadir Al Jailani. Pintu keempat ini adalah tentang memasuki alam kedekatan Al Qur'an dan rahasia doa yang menembus langit. Beliau menegaskan bahwa doa bukan sekedar deretan kata-kata yang dihafal, melainkan jeritan roh yang merasa sangat butuh.

[29:51]Beliau sering mengajarkan bahwa doa yang paling mustajab adalah doa yang keluar dari hati yang munafikhir, yaitu hati yang hancur berkeping-keping karena menyadari kelemahan dirinya dan keagungan Tuhannya.

[31:04]Menurut Sultan aulia ada satu kunci utama agar doa kita tidak tertahan di langit dunia, yaitu adab dalam berdoa. Syekh Abdul Kadir sangat menekankan bahwa saat kita berdoa, kita tidak sedang memerintah Allah, melainkan sedang memohon dengan kerendahan hati yang luar biasa. Beliau sering mengibaratkan orang yang berdoa itu seperti seorang pengemis yang duduk di depan pintu istana. Pengemis itu tidak mengetuk dengan kasar, ia tidak berteriak menuntut, ia hanya duduk diam, memuji kemurahan sang Raja dan menunjukkan kemiskinannya. Justru dengan sikap diam dan butuh itulah sang Raja akan merasa iba dan memberikan lebih dari yang diminta. Banyak dari kita yang sering merasa kecewa karena merasa doanya tidak dikabulkan. Di sinilah Syekh Abdul Kadir memberikan perspektif makrifat yang sangat menenangkan. Beliau berkata bahwa bagi seorang yang sudah dekat dengan Allah, tidak dikabulkannya doa menurut pandangan manusia sebenarnya adalah bentuk pengabulan yang lebih baik menurut pandangan Allah. Allah menahan sesuatu darimu karena Dia tahu hal itu akan mencelakakanmu atau Dia ingin memberikan sesuatu yang jauh lebih besar di waktu yang tepat. Orang yang makrifat akan merasa senang baik saat doanya dijawab iya maupun dijawab tunggu. Karena dia merasa nikmat bisa berdua-duaan dengan Allah saat berdoa jauh lebih manis daripada pemberiannya itu sendiri. Memasuki alam kedekatan juga berarti kita mulai merasakan kemesraan dengan Tuhan. Al-Unus. Syekh Abdul Kadir menggambarkan kondisi ini sebagai saat di mana seorang hamba merasa tidak lagi butuh hiburan duniawi untuk merasa bahagia. Ketika ia duduk sendirian di keheningan malam, ia tidak merasa kesepian, karena ia merasa Allah hadir bersamanya. Sebaliknya saat ia berada di keramaian, hatinya tetap tertuju kepadanya. Ini adalah tingkatan di mana ibadah bukan lagi beban, melainkan kebutuhan. Salat bukan lagi kewajiban yang memberatkan, tapi istirahat bagi jiwa.

[33:24]Baginya setiap ujian hidup adalah tamu dari Allah. Dan sebagaimana adab menerima tamu, Dia akan menyambutnya dengan penghormatan. Jika tamu itu bernama kemiskinan, Dia akan menyambutnya dengan sabar. Jika tamu itu bernama kekayaan, Dia akan menyambutnya dengan syukur. Dia tidak pernah berusaha mengusir tamu tersebut secara paksa, melainkan menunggu sampai sang tuan rumah Allah sendiri yang mengambil kembali tamu tersebut. Syekh Abdul Kadir juga menekankan pentingnya sifat amanah di puncak makrifat ini. Beliau berkata bahwa segala sesuatu yang kita miliki, anak, pasangan, harta, bahkan nyawa kita adalah titipan. Orang awam sering merasa stres karena merasa memiliki. Saat titipan itu diambil, mereka merasa kehilangan dan sakit hati. Namun bagi kekasih Allah yang makrifat, mereka sadar sejak awal bahwa mereka tidak memiliki apa-apa. Saat Allah mengambil kembali titipannya, mereka berkata dengan tenang, inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Mereka tidak merasa kehilangan, karena memang sejak awal mereka merasa tidak pernah memiliki. Puncak tauhid ini juga melahirkan sifat kasih sayang yang tanpa batas kepada sesama makhluk. Karena orang yang makrifat melihat jejak Tuhan pada setiap ciptaannya, maka dia tidak akan sanggup membenci siapapun. Dia melihat orang jahat dengan rasa kasihan, karena orang tersebut sedang terhijab dari cahaya Tuhan. Dia melihat hewan dan tumbuhan dengan rasa hormat, karena mereka adalah tasbih yang nyata di alam semesta. Syekh Abdul Kadir sendiri adalah teladan dalam hal ini. Beliau dikenal sangat lembut bahkan kepada musuh-musuhnya, karena beliau melihat bahwa segala sesuatu bergerak atas izin Allah. Beliau tidak lagi melihat orangnya, tapi beliau melihat penciptanya. Salah satu rahasia besar yang dibukakan oleh Syekh Abdul Kadir di akhir pembahasan ini adalah tentang keikhlasan yang tanpa syarat. Beliau mengingatkan bahwa setinggi apapun makam kedudukan seseorang, ia tetap harus berpegang teguh pada syariat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Beliau berkata, setiap hakikat yang tidak didukung oleh syariat, maka itu adalah kesesatan. Puncak makrifat tidak membuat seseorang meninggalkan salat atau meremehkan aturan agama. Justru sebaliknya, orang yang makrifat akan melakukan ibadah dengan kualitas yang jauh lebih tinggi. Salatnya bukan lagi sekedar gerakan fisik, tapi sebuah perjumpaan yang sangat intim. Sedekahnya bukan lagi sekedar memberi uang, tapi sebuah penyerahan diri. Beliau menutup ajaran-ajarannya dengan sebuah pesan yang sangat menyentuh, wahai anakku, janganlah engkau mencari Allah di tempat yang jauh, karena Dia ada di dalam hatimu yang telah hancur karena merindukannya. Puncak makrifat bukanlah tentang mendapatkan kekuatan supernatural, tapi tentang mendapatkan hati yang sejahtera. Hati yang sudah tidak ada lagi pertentangan dengan Tuhan. Hati yang jika Allah berkehendak A, maka dia pun mencintai A. Jika Allah berkehendak B, maka dia pun ridha dengan B.

[37:05]Sahabat, perjalanan 20 perkara makrifat ini memang panjang, namun intinya adalah satu, tauhid. Mengenal bahwa tidak ada kekuatan, tidak ada pemberi manfaat dan tidak ada tujuan akhir kecuali Allah. Syekh Abdul Kadir Al Jailani mengajak kita semua untuk tidak berhenti hanya menjadi pendengar cerita-cerita para wali, tapi jadilah orang yang merasakan sendiri manisnya iman itu. Mulailah dari hal yang paling kecil, cobalah untuk tidak mengeluh selama satu hari penuh dan lihatlah bagaimana dunia di sekitar Anda mulai berubah warnanya.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript