[0:00]Even kalau kamu korban KDRT, kamu seorang istri, kamu korban dari suamimu yang sangat abusive, yang sangat mengerikan. Dia mengancamu, dia memukulmu, dia memaksa kamu untuk berhubungan seksual dan sebagainya. Kamu korban KDRT. Tetap yang harus membuat laporan ke polisi. Tetap yang harus mengajukan gugatan cerai adalah kamu. Jika seseorang mengalami kegagalan terus dan terus-menerus, gagal lagi, gagal lagi, gagal lagi, maka otak seseorang akan mempelajari ketidakberdayaan. Di mana orang-orang yang memiliki gangguan depresi biasanya di masa hidupnya mengalami masalah yang bertubi-tubi dan dia selalu dipukul oleh kehidupan dan dia tidak bisa merubah apapun dalam hidupnya. Apapun yang dia coba untuk lakukan selalu tidak berhasil merubah keadaannya.
[0:47]Kembali lagi bersama saya Hasan Askari di Kuliah Pagi Episode 10. To the point aja, episode ini aku akan membahas soal Inferiority Complex, membahas soal eh hidup yang berantakan, dan melihat secara realistis siapa yang sebenarnya benar-benar memberikan sumbang sih pada berantakannya hidup seseorang. UNREAL PRESENT. ALL RIGHTS RESERVED. THE MOST ANTICIPATED. EDUCATIONAL CONTENT. KULIAH PAGI. SEMESTER 2. ARE YOU READY? So aku kasih kamu background story dulu, aku beberapa waktu yang lalu konseling dengan salah seorang klienku berusia 28 tahun wanita dan dia merasa hidupnya berantakan. Dia sangat tidak percaya diri, sangat amat tidak percaya diri. Dia seringkali menjauhi orang lain karena dia takut untuk ditinggalkan. Daripada dia berteman, daripada dia berhubungan dengan laki-laki misalnya lalu berujung dia ditinggalkan, mending dia yang menutup diri dari orang lain atau dia menjauh dari orang lain. Dia pun sempat punya beberapa teman dekat, tapi setelah beberapa waktu dia memutuskan untuk menarik diri karena dia takut teman-temannya nanti akan meninggalkannya cepat atau lambat. Dan cycle itu, pola itu terus berlangsung sampai akhirnya dia nggak punya sahabat dekat saat ini. Dia nggak punya pasangan hidup dan dia tidak terbuka dengan orang tuanya. Eh, dalam pekerjaan pun dia sangat tidak percaya diri, walaupun dia bekerja dari pagi sampai malam dia underpaid, dia dibayar secukupnya. Dia enggak pernah bernegosiasi, dia enggak pernah menuntut dan dia tidak pernah berpikir untuk mencari pekerjaan lain yang membuat dia punya lebih banyak waktu. Alhasil saat konseling dimulai, baru cerita 1, 2 menit pertama dia langsung menangis. Nah, setelah konseling dimulai aku minta dia menceritakan backgroundnya, habis itu dia bercerita soal permasalahannya yang tadi. Eh, terus aku tanya ke dia, berapa persen masalah yang kamu hadapi sekarang itu karena salahmu dan berapa persen dari masalah yang kamu hadapi sekarang itu salah orang lain. Eh, lalu dia berpikir dan dia menjawab bahwa 60 sampai 70% itu kesalahan dari dia sendiri dan 30% sisanya dari orang lain. Lalu aku ajak dia untuk berpikir secara realistis. Kamu tahu enggak bahwa kebanyakan dari kita yang memiliki hidup yang berantakan biasanya bermula bukan dari keputusan-keputusan kehidupan yang salah. Biasanya kehidupan kita berantakan karena hal yang jauh-jauh sebelum itu. Contohnya pada klienku, aku ajak dia bertanya aku ajak dia untuk mendiskusikan kenapa kamu selalu menjauhi teman. Dia bilang karena aku meyakini bahwa cepat atau lambat orang akan meninggalku dan itu sering terjadi waktu aku SD, SMP, SMA itu aku selalu di bully dan sebagainya. Sehingga waktu kuliah aku sering menarik diri dari aktivitas sosial. Nah aku tanya ke dia, kenapa kira-kira kamu melakukan itu, kira-kira.
[4:05]Dia berpikir dan dia ngerasa karena dia itu kalau ngomong terbata-bata dan enggak bisa membaur dengan teman-temannya. Dia ngerasa kesulitan untuk berkomunikasi karena dia tidak percaya diri. Sehingga teman-temannya menganggap dia aneh dan selalu memilih untuk membully klien saya tersebut. And then setelah itu aku tanya lagi, oke, kira-kira kenapa waktu kecil kamu enggak percaya diri dan kamu jadi kesulitan untuk berbicara atau berkomunikasi? Atau kenapa kamu tidak percaya diri sampai kalau kamu mau ngomong kamu terbata-bata dan itu yang membuat kamu akhirnya di-bully oleh teman-temanmu? Eh, dia bilang enggak tahu. So, teman-teman, aku mau kasih tahu kamu satu hal, bahwa kalau kamu pernah merasa tidak percaya diri sejak kecil dalam ranah sosial, maka besar kemungkinan ada faktor pola asuh dari orang tuamu yang berhasil membuat kamu menjadi orang tidak percaya diri. Seharusnya idealnya anak kecil itu ketika SD itu memiliki keterampilan untuk berhubungan dengan temannya. Karena dia percaya diri bahwa apapun yang aku lakukan di sekolah, sekacau apapun aku, ketika aku pulang, aku masih punya rumah. Aku masih punya ayah dan ibu yang mereka akan mencintai aku apa adanya, walaupun aku nilainya jelek, walaupun aku enggak bisa berteman, walaupun aku berantem di sekolah dan sebagainya. Aku tahu ketika aku pulang, aku akan punya rumah, aku punya tempat untuk mengadu yaitu ke ayah dan ibunya. Enggak semua orang memiliki privilege untuk pulang dan punya tempat untuk mengadu. Salah satunya klienku ini. Klienku ini menceritakan bahwa waktu dia kecil, orang tuanya abusive, sering berantem di depan dia dan itu terjadi hampir setiap hari. Bahkan orang tuanya memukul secara fisik ke anak ini dan sama sekali tidak ada hubungan emosional yang positif yang yang bermakna bagi dia. Nah, apa konsekuensi dari anak kecil yang 0 sampai 5 tahun pertamanya tidak mendapatkan kasih sayang, cinta atau perhatian yang seharusnya dia dapatkan, anak ini akan tumbuh menjadi orang yang tidak percaya diri. Dan ketidakpercayaan diri mereka, mereka bawa ke sekolah, ketika mereka enggak percaya diri untuk berteman, mereka takut enggak cukup atau enggak cukup asik dianggap sebagai teman, dia akan dianggap aneh oleh teman-temannya yang masih SD. Anak masih SD enggak bisa berpikir jauh, anak masih kecil enggak bisa berpikir dia aneh karena orang tuanya jahat, orang tuanya suka marah enggak, anak kecil enggak pernah berpikir sejauh itu. Anak kecil melihat apa yang ada di depan matanya. Kalau ada orang yang aneh, yang kikuk yang enggak bisa ngomong, yang kalau diajak ngobrol enggak berani jawab, dianggapnya ya sudah ini anak aneh. Maka anak-anak biasanya mulai untuk membully orang yang diasumsikan sebagai aneh ini. Itu that's kids, that's how kids work. And then mengetahui hal itu, mengetahui bagaimana pola asuh yang didapatkan dia saat dia masih sangat kecil oleh orang tuanya. Aku kembali bertanya kepada dia, oke, kamu tahu enggak konsekuensi dari orang tuamu yang tidak harmonis, hubunganmu dengan keluargamu yang tidak harmonis, pada kehidupanmu itu apa saja atau separah apa? Dia enggak ngerti dan aku jelasin, kamu tidak percaya diri karena orang tuamu demikian, dan waktu kamu tidak percaya diri maka temanmu ngebully kamu. Dan karena kamu di bully terus saat SD, SMP, SMA, maka saat kuliah pun kamu akhirnya memutuskan untuk melindungi dirimu dari rasa sakit itu lagi. Apa yang kamu lakukan? Kamu menjauhkan dirimu dari orang lain. Kamu menarik diri, kamu merasa kamu enggak pantas untuk dicintai, kamu selalu merasa seperti sampah, walaupun kamu tidak melakukan kesalahan apapun. Itu adalah konsekuensi demi konsekuensi yang terus terjadi yang bermula dari tidak harmonisnya keluargamu. So, aku mau kasih tahu kamu sekarang secara realistis kalau kamu ngerasa hidupmu yang berantakan ini karena 70% karena kesalahanmu sendiri. Maka aku di sini bertugas untuk memberikan kamu pemahaman bahwa no, you are wrong. Kamu tidak sesalah itu kok. Banyak peran di luar kamu yang membuat kamu menjadi seperti sekarang ini. Itu fakta pertama. Kamu harus bisa melihat dan menilai secara adil bahwa kamu adalah anak yang tidak beruntung, yang memiliki orang tua yang tidak harmonis, abusive dan sebagainya saat dia kecil. Dan kamu yang harus menanggung resikonya. Kamu terima dulu kenyataan itu. Jadi setengah jam dari sesi konseling kita adalah ngebahas soal penyebab dan menganalisa sejauh mana dampak dari kejadian traumatis di masa lalunya. Setelah dia bisa menerima bahwa ternyata bukan salah dia, bahwa hidupnya atau kepercayaan dirinya serendah ini sekarang, dia bisa making sense of her life. Dia bisa memahami oke, berarti bukan sepenuhnya salahku. So, tugas pertama bagi dia setelah aku ngobrol itu adalah sekarang aku mau, aku minta kamu untuk memaafkan dirimu. Karena selama ini ketika kamu ngerasa hidupmu fucked up, ketika kamu mengalami nasib-nasib buruk lagi, ketika kamu ditinggalkan lelaki, ketika kamu ditinggalkan teman-temanku. Aku minta kamu memaafkan dirimu karena selama ini kamu selalu menyalahkan dirimu sendiri. So, forgive yourself first, bahwa kamu dulu sering marah-marah ke dirimu sendiri karena kamu enggak tahu apa yang terjadi secara psikologis pada perkembanganmu sebagai seorang anak. Oke, setelah dia tenang, setelah dia berhenti menangis dan dia bisa melihat hidupnya lebih realistis. Aku tanya dia lagi, so, sekarang siapa yang berapa persen sekarang kontribusi dari faktor eksternal dan berapa dari faktor internal yang membuat hidupmu sekarang seberantakan yang kamu maksud. Setelah itu dia mengukur dan menimbang ulang bahwa dia bilang sepertinya 70% faktor eksternal. And that's true. Masalahnya, apakah dengan menyalahkan orang tuamu, lalu hidupmu bisa serta-merta berubah? Apakah dengan berharap orang tuamu mengetahui bahwa ternyata kamu jadi orang yang sangat tidak percaya diri ini, kamu enggak bisa berhubungan dengan laki-laki, kamu enggak bisa berhubungan dengan teman bahkan karena kesalahan mereka membuat mereka mau meminta maaf kepadamu? Dan lalu jika iya, anggap aja orang tuamu meminta maaf. And then, apakah tiba-tiba kamu jadi orang yang percaya diri? Apakah tiba-tiba kamu jadi orang yang punya kemampuan berkomunikasi yang sangat baik? Apakah tiba-tiba kamu mampu memiliki filter yang baik untuk mencari pasangan hidup? Apakah tiba-tiba kamu menjadi orang yang percaya diri untuk mengetahui nilai kamu dalam dunia kerja harusnya dihargain berapa? No. So, setengah sesi aku buat bahan diskusinya adalah membahas masa lalu. Setelah itu aku bilang ke dia, sekarang kita ada di tengah-tengah antara masa lalu dan masa depan. We are in the present moment. Kita ada di waktu saat ini. Saat ini kamu punya dua pilihan. Pilihannya adalah setelah kamu mengetahui bahwa ternyata bukan semuanya salahmu. Kamu punya dua pilihan, antara kamu memilih untuk menjadi korban kehidupan, kamu memilih untuk melihat dirimu sebagai korban kehidupan dan menunggu orang lain yang akan bertanggung jawab atau merubah nasib hidupmu. Atau yang satunya, kamu membuat keputusan bahwa kamu menerima kenyataan bahwa ini memang tidak sepenuhnya salahmu. Namun tetap saja orang yang harus bertanggung jawab untuk merubah hidupmu adalah dirimu sendiri. Kamu punya dua pilihan itu, mana yang mau kamu pilih? Lalu dia pilih untuk memilih bertanggung jawab atas nasib yang dia tidak pilih itu yaitu dilahirkan di keluarga yang tidak harmonis, yang menyebabkan dia tidak percaya diri sampai saat ini. Nah, ketika dia udah memilih untuk bertanggung jawab, maka aku kasih tahu dia bahwa kamu walaupun tidak bersalah atas apa yang terjadi di masa lalumu, kamu tetap bertanggung jawab untuk melakukan banyak PR yang banyak tertinggal oleh orang-orang di usiamu kalau kamu ingin hidupmu berubah. So, dari titik present moment, momen saat ini ke masa depan, semua tanggung jawab ada di tanganmu jika kamu ingin hidupmu menjadi lebih baik. Karena kamu enggak punya pilihan, walaupun kamu nyalah-nyalain orang lain dan jika memang benar-benar orang lain itu salah pun, hidupmu tidak akan berubah. Oke, teman-teman, sekarang aku mau ngomong sama kamu yang nonton. Dalam hidup ini, seringkali sumber utama permasalahan kehidupan kita itu bukan diri kita sendiri. Seringkali, justru mayoritas masalah yang datang di diri kita adalah timbul karena orang lain. Memang seringkali seperti itu. Kecuali kalau kamu orangnya memang trouble maker, kamu orang narsistik, kamu psikopat, kamu orang yang terlalu disagreeable dan sebagainya. Kamu bisa saja menjadi penyebab dari masalah-masalah yang datang di hidupmu. But for most people, untuk kebanyakan orang, masalah yang datang adalah dari faktor eksternal, benar kan? Namun perlu kamu sadari bahwa mengidentifikasi permasalahan, mengetahui permasalahannya ada di mana, salahnya ada di mana, siapa yang yang harusnya meminta maaf dan sebagainya, tidak serta-merta membuat hidupmu berubah. Paham ya? Kamu mengetahui siapa yang salah tidak serta-merta membuat hidupmu berubah, aku tekankan sekali lagi. So, even kalau kamu korban KDRT, kamu seorang istri, kamu korban dari suamimu yang sangat abusive, yang sangat mengerikan. Dia mengancamu, dia memukulmu, dia memaksa kamu untuk berhubungan seksual dan sebagainya. Dia sangat mengerikan suamimu itu. Kamu korban KDRT, tetap yang harus membuat laporan ke polisi, tetap yang harus mengajukan gugatan cerai adalah kamu. Dengan analogi ini, aku harap kamu paham bahwa walaupun yang salah orang lain yang harus berjuang untuk memperjuangkan kebaikan dirimu adalah dirimu sendiri. Because kalau kamu nunggu orang lain berubah, apalagi pelaku keburukan. Kamu menunggu mereka berubah, kamu menunggu mereka sadar, mereka mengakui kesalahan mereka dan mereka nangis-nangis minta maaf ke kamu. Let's say itu terjadi, hidupmu tetap fuck up dan kemungkinan besar orang tersebut enggak akan pernah sadar kalau ternyata mereka pernah menyakiti bahkan membuat hidupmu sekarang berantakan. So, daripada kamu menunggu, menunggu dan terus menunggu dan memilih untuk memandang dirimu sebagai korban kehidupan, maka sebaiknya yang aku sarankan kamu segera bangkit dari sana. Kamu berhenti menjadi orang yang merasa menjadi korban kehidupan and then you take responsibility. Kamu ambil tanggung jawab untuk merubah hidupmu menjadi lebih baik. So, dari situ aku sama klienku mulai ngomongin soal masa depan, apa PR-nya, apa planning-nya. Aku kasih dia beberapa PR yang harus dia lakukan. Salah satunya soal mencari pekerjaan yang lebih baik karena pekerjaan dia dari pagi sampai malam itu membuat dia enggak punya waktu. Aku suruh dia membuat CV dan surat lamaran pekerjaan yang baru. Buat semenarik mungkin CV-mu, lalu kamu lamar ke 20 perusahaan and let's see what's gonna happen. Dan aku suruh dia juga untuk berani berteman, aku suruh dia untuk reach out ke sahabat-sahabatnya yang dulu yang dia tinggalkan karena dia takut ditinggalkan duluan. Let's see what's gonna happen.
[14:47]So, untuk menambah pembahasan, aku ingin membahas salah satu teori dari psikolog yang terkenal di zamannya, bahkan dijadikan rujukan dalam teori individual psychology yaitu Alfred Adler. Alfred Adler itu punya teori soal bagaimana manusia memiliki ideal self, apa ideal self itu diri kita yang ideal, diri kita yang terbaik, versi terbaik diri kita. Orang itu biasanya memiliki sosok dirinya yang paling ideal. Aku tuh paling paling sering menggunakan cara ini untuk mengajak orang membayangkan kamu bisa jadi sebaik apa, hidupmu bisa jadi sebaik apa. Aku minta seseorang membayangkan dalam waktu 10 sampai 20 tahun mendatang. Coba bayangkan versi terbaik yang kamu bisa menjadi, who you could be. Aku suruh dia membayangkan ideal self-nya. Nah, Alfred Adler pernah memiliki teori bahwa setiap orang biasanya memiliki ideal self dan somehow real self saat ini itu sangat jauh dengan ideal self-nya. Realitasnya itu masih sangat jauh dengan apa yang dia mimpikan soal dirinya sendiri. Dan pada umumnya manusia saat hidup akan berjuang untuk menggapai dan menjadi ideal self-nya. Namun pada prosesnya ketika seseorang berusaha menjadi versi terbaiknya, dia akan terbentur oleh masalah demi masalah kehidupan. Dia akan memiliki banyak malapetaka pada kehidupan yang biasanya membuat orang tersebut jatuh tersungkur gitu. Jatuh tersungkur dan membuat dia memiliki inferiority complex.
[16:26]inferiority complex adalah sebuah complex sebuah pemikiran sebuah mindset di mana seseorang merasa dia lemah, dia kecil, dia enggak berdaya, dia korban. Dia enggak bisa merubah apapun dalam hidupnya. Itu inferiority complex. Seseorang yang karena dilahirkan dengan fisik yang sangat tidak cantik misalnya, dia akan menyalahkan banyak hal atas kegagalan hidupnya karena dia yang dilahirkan dengan fisik yang sangat jelek. Let's say itu contoh aja. Dan Alfred Adler menggambarkan salah satu kasus yaitu seseorang panglima perang saat itu yang bernama Napoleon Bonaparte yang dilahirkan dengan kondisi fisik yang sangat pendek. Sehingga dulu waktu kecil dia sering merasa minder karena rasa pendeknya. Bagi orang yang memilih untuk terus berada pada pelukan inferiority complex ini, orang tersebut akan menyalahkan banyak hal termasuk nasib termasuk Tuhan atas ketidak enakan yang dia terima dalam hidupnya. Orang yang ingin berjuang menjadi ideal self mereka, ketika mereka striving, mereka berjuang untuk menjadi orang yang lebih superior, dia otomatis harus mampu mengalahkan inferiority complex-nya. Karena kalau enggak, inferiority complex ini sangat-sangat amat manis dalam merayu kita untuk membuat kita memilih memandang diri kita sebagai korban kehidupan. Kenapa sangat manis rayuannya? Karena kalau kita memilih dan mengadopsi pemikiran kita sebagai korban kehidupan, maka somehow kita seakan-akan terbebas dari tanggung jawab untuk merubah hidup kita. Bayangin orang yang memiliki nasib yang sangat buruk tapi dia harus berjuang untuk merubah hidupnya. Oh, ya enggak bisa dong, dia kayak gini karena nasibnya. Dia terlahir sebagai orang yang sangat amat miskin dan dia enggak disekolahin dan dia enggak enggak dapat apa yang dia butuhkan saat kecil. Ya, of course dia akan jadi manusia enggak berguna di masa depan. Nah, orang tersebut meyakini hal itu, bahwa aku memang sudah nasibnya menjadi orang miskin, maka aku enggak akan bisa jadi orang yang berhasil dalam hidup secara finansial. Maka aku enggak perlu berjuang keras. Nah, berjuang keras ini adalah bentuk self-responsibility. Orang kalau mengadopsi pemikiran inferiority complex, maka dia seakan-akan terbebas dari tanggung jawab untuk merubah hidupnya. Rayuan ini sangat mengerikan dan sangat amat banyak. Bahkan beberapa orang yang aku kenal pun memiliki inferiority complex dan tinggal tunggu waktu aja menurutmu berapa tahun orang tersebut akan berubah. No, they will never change, mereka tidak akan pernah berubah. Kalau kamu sudah mengadopsi inferiority complex, kamu menjadi korban dalam kehidupan. Sorry ya, kamu memilih untuk melihat dirimu menjadi korban karena aku enggak peduli kamu beneran korban atau enggak. Even klienku yang tadi, dia beneran korban dari pola asuh orang tuanya. Tapi kalau dia memilih untuk melihat dirinya menjadi korban kehidupan, maka hidupnya tidak akan pernah berubah. Kenapa? Karena dia melepas tanggung jawab untuk bertanggung jawab pada hidupnya sendiri. So, teman-teman, victim mentality is very very attractive. Mentalitas korban itu sangat menarik untuk kita ambil tapi sangat amat besar harga yang harus kita bayar, yaitu penderitaan kita enggak akan pernah berhenti. Dan biasanya orang yang memiliki inferiority complex itu memiliki mindset, memiliki pikiran, kalau dia melihat temannya berhasil mendapatkan apa yang dia mau, dia selalu iri pada temannya. Dan dia punya afirmasi di kepalanya bahwa temanku kenapa selalu beruntung ya? Kenapa aku selalu apes ya? Kenapa aku selalu bernasib buruk ya? Orang lain itu kenapa kok enak ya? Dia mereka berjuang, mereka mendapatkan yang mereka mau. Aku sudah berjuang berkali-kali tapi selalu gagal. Seakan-akan aku ditakdirkan untuk gagal. Itu biasanya ciri-ciri pikiran orang yang sudah terlanjur mengadopsi inferiority complex. Karena alih-alih dia bertanggung jawab dan dia berusaha untuk membedah permasalahan mereka, mencari tahu sebenarnya sumber masalahnya di mana dan apa yang bisa aku lakukan untuk merubah hidupku, dia memilih untuk menganggap nasibnya tidak bisa dirubah. Untuk memahami ini, aku bisa ngasih ilustrasi dari sebuah eksperimen yang pernah dilakukan oleh seorang psikolog. Cuman aku lupa psikolognya siapa. Eksperimen soal Learned helplessness, di mana ada dua kelompok orang dalam satu kelas diberikan eksperimen untuk menyelesaikan untuk problem solving terkait puzzle balok kayu. Di mana puzzle balok kayu ini jika ditata dengan posisi dan tempat yang tepat, maka tempatnya akan penuh. Alasnya ini akan terisi penuh sempurna. Jika enggak tepat posisi antar puzzle baloknya, maka alasnya enggak bisa terisi penuh, bisa melebihi atau bahkan kurang kurang pas gitu, atau bahkan terlalu anu, terlalu kecil. Nah, di eksperimen ini dua kelompok orang, yaitu satu kelompok eksperimen, satu kelompok kontrol. Kelompok kontrol ini yang tidak diberikan eksperimen, yaitu diberikan puzzle balok yang benar-benar sesuai. Puzzle balok yang benar-benar bisa diselesaikan, bisa di-solve. Jadi satu kelompok orang ini memang memiliki puzzle balok yang solvable. Satu kelompok lainnya diberikan puzzle balok yang memang tidak bisa, it's impossible to solve. Jadi memang enggak bisa dipecahkan. Memang posisi puzzle baloknya itu ada yang enggak pas sehingga mau diposisikan seperti apapun enggak akan bisa berhasil terisi sempurna. Nah, dua kelompok orang ini yang satu berhasil dalam waktu kurang dari 1 menit dan mereka berekspresi, mereka senang. Sedangkan orang yang dieksperimenkan ini yang diberikan puzzle balok yang sebenarnya memang impossible to solve, mereka frustrasi. Mereka ngelihat temannya, loh kok dia bisa, padahal kayaknya sama tuh, kok dia bisa kok aku enggak bisa. Sampai ada yang berkeringat dan sebagainya, akhirnya menyerah dia. Waktunya habis. Diberikanlah yang ketiga. Puzzle balok yang ketiga ini dari eksperimenternya diberikan sama persis. Itu berarti dua-duanya sama-sama bisa dipecahkan. Kelompok yang selalu berhasil diberikan puzzle baru level 3 dan kelompok yang selalu gagal karena mereka dijebak dalam tanda kutip di eksperimen, diberikan puzzle yang kali ini benar-benar bisa dipecahkan juga identik sama persis puzzle baloknya. Yang menarik adalah di sini ketika orang yang dua kali gagal berturut-turut di hadapannya ada puzzle balok yang sebenarnya bisa di-solve, lagi-lagi mereka enggak bisa menyelesaikannya. Mereka sudah frustrasi duluan, mereka sudah menyerah duluan, mereka sudah punya pemikiran bahwa ini memang semuanya enggak bisa, antara aku yang bodoh atau enggak tahu di mana.
[23:49]Yang satunya berhasil menyelesaikan lagi-lagi di bawah 1 menit dan mereka bergembira. Nah, penelitian ini, eksperimenternya ingin menunjukkan bahwa jika seseorang mengalami kegagalan terus dan terus-menerus, gagal lagi, gagal lagi, gagal lagi, maka otak seseorang akan mempelajari ketidakberdayaan. Itu yang disebut learned helplessness, ketidakberdayaan yang dipelajari. Di mana orang-orang yang memiliki gangguan depresi biasanya di masa hidupnya mengalami masalah yang bertubi-tubi dan dia selalu dipukul oleh kehidupan dan dia tidak bisa merubah apapun dalam hidupnya. Apapun yang dia coba untuk lakukan selalu tidak berhasil merubah keadaannya. Biasanya orang tersebut akan mengalami sesuatu yang namanya learned helplessness ini dan terjebak dengan depresi yang dia miliki. Alhasil dari eksperimen itu kita bisa belajar bahwa ternyata, teman-teman, kalau kamu gagal di masa lalumu berkali-kali, maka otakmu akan lebih mudah menyerah. Dan biasanya ketika ada temanmu, sahabatmu, orang tuamu menyuruh kamu untuk berusaha lagi, kamu akan otomatis menjawab, aku tuh sudah ngelakuin semuanya. Dan semuanya selalu gagal. Memang aku tuh enggak bisa berubah, emang kayaknya takdirku, emang aku ini terlalu bodoh, emang aku ini terlalu enggak beruntung, emang aku tuh terlalu ini, itu, ini itu. Itu namanya learned helplessness and that's very dangerous. Kenapa? Karena ya kamu enggak akan, enggak akan keluar dari keterpurukan hidupmu itu. So, di akhir, teman-teman, aku ingin menceritakan proses ada seseorang yang sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Dia mempunyai stroke ringan, stroke sebelah, di mana bagian tubuhnya sebelah kanan itu enggak bisa berfungsi selayaknya orang ketika anggota tubuhnya normal. Jadi tangan kanannya, kaki kanannya itu enggak bisa berfungsi normal. Dan waktu dia aku ambil gitu ya, aku aku memutuskan untuk membantu dia keluar dari ketidakberdayaannya ini. Sangat sulit, sangat sulit sekali untuk membuat dia percaya bahwa hidupnya bisa berubah karena dia sudah terserang stroke itu sejak dia usia 14 tahun. Memang langka kasus stroke pada anak muda. Tapi dia salah satu orang yang memilikinya. 14 tahun dia SMP sudah punya stroke dan sejak saat itu hidupnya mulai spiral ke bawah, mulai hancur dan sebagainya. Sekarang dia usia 21 atau 22 gitu dan lebih dari setahun aku berusaha untuk membuat dia mandiri. Dan ada momen saat akhirnya aku harus benar-benar menampar dia karena dia selalu memposisikan dirinya sebagai korban dari kehidupan. Kenapa harus aku tampar dalam tanda kutip ya? Karena emang memilih untuk melihat diri kita sebagai korban itu enggak akan merubah kenyataan. Nah, dari momen itu, akhirnya dia terus berjuang untuk mencari pekerjaan dan dan karena dia mampu memecahkan permasalahannya, dia kenapa dia selalu gagal, kenapa dia selalu enggak diterima di tempat kerja, dia belajar satu persatu di pekerjaan apa yang sepertinya dia masih bisa kerja dan sebagainya. Aku ajarin dia untuk interview, aku ajarin dia untuk public speaking dan sebagainya, hingga akhirnya dia sekarang berhasil keterima di tempat kerja dan mendapatkan upah minimum regional. Dan itu sesuatu yang enggak pernah dia bayangkan sebelumnya karena hampir atau lebih dari 7 tahun dia hidup dalam ketidakberdayaan. So, walaupun dengan keadaan fisik setidak beruntung itupun, kita selalu bisa, kita selalu punya kesempatan, kita selalu punya peluang untuk memperbaiki hidup kita. Sekecil apapun atau selama apapun. Mungkin buat adik angkatku ini butuh 1 tahun, mungkin buat kamu butuh lebih panjang lagi waktunya. Atau mungkin kamu lebih butuh lebih besar perjuangannya karena kamu, enggak ada orang yang membantu kamu sama sekali. But, changing your life is possible. Merubah hidupmu itu mungkin terjadi. Jangan percaya kalau ada orang yang bilang ke kamu bahwa kamu ditakdirkan untuk hidup kayak gini, kamu ditakdirkan untuk menderita, kamu ditakdirkan untuk sedih dan sebagainya. Jangan pernah percaya mereka. Tapi memang perlu kerja keras. Jadi gitu ya teman-teman ya. Kalau memang kamu punya masalah dan masalahmu adalah kamu enggak punya pekerjaan, carilah pekerjaan sebisamu dan coba bedah tuh kamu gagal di mana. Di bagian mananya? Karena rekrutmen itu ada banyak tahapan. Kamu gagal di psikotes atau di interview. Karena kalau gagal di psikotes itu berbeda yang harus kamu latih dengan kalau kamu gagal di interview. Kalau kamu gagal di interview, kamu harus berlatih untuk ngomong secara percaya diri, kamu harus bisa meyakinkan orang lain, kamu harus bisa menceritakan dirimu dengan baik. Kamu harus bisa menunjukkan betapa kamu memang layak memiliki posisi tersebut. Tapi kalau psikotes kamu gagal, maka kamu perlu belajar gimana caranya memecahkan psikotes ini. Kamu perlu belajar tuh dari internet gimana ya soal-soal ini tuh jawabannya apa? Aku gimana caranya jawabnya? Apa yang sebenarnya dicari dari psikotes ini? Sehingga kamu benar-benar bisa walaupun gagal tapi gagalmu itu lebih jauh. Kalau dulu kamu gagal di administrasi itu CV-mu enggak bagus, CV-mu benar-benar enggak enggak meyakinkan bahkan untuk diberikan kesempatan psikotes. Maka perbaiki CV-mu, maka perbaiki surat lamaran pekerjaanmu. Maka kamu harus tahu gimana cara membuat body email saat kamu meng-email surat lamaran pekerjaan. Itu karena itu semuanya penting. Begitu pula kalau kamu merasa kamu susah sekali mencari pasangan hidup yang baik. Kamu selalu bertemu dengan cowok atau cewek yang tidak baik atau selalu mengkhianati kamu, kamu selalu menyakiti kamu. Kamu perlu menganalisa di bagian mana kamu salah. Kamu salah dalam mencari orangnya, kamu salah kolam dalam mencari orangnya, atau kamu salah dalam proses seleksinya. Kamu enggak tahu mana orang yang sebenarnya pantas menjadi pasanganmu atau mana orang yang sebenarnya hanya berniat main-main. Atau bisa jadi masalahnya ada di perlakuanmu terhadap orang yang sebenarnya orang baik. Karena kamu enggak bisa memperlakukan dia seperti dia ingin diperlakukan, maka dia meninggalkanmu atau dia mengkhianatimu. Paham ya dalam semua urusan, dalam semua kegagalan, dalam semua permasalahan, cobalah untuk mengambil tanggung jawab bahwa masalah ini ada karena ada dalam diriku yang ikut berkontribusi menyebabkan kegagalan ini. Sehingga kamu akan lebih mudah untuk mencari jalan keluar. Aku gagalnya nih, masalahnya nih di mana sih? di step mana sih aku selalu gagal? Di bagian mananya yang bikin orang enggak mau ngebe produkku dan sebagainya. Dengan cara berpikir demikian, kamu akan keluar dari lingkaran setan mentalitas korban.
[31:00]Dan hanya dengan cara demikian, kamu benar-benar bisa merubah hidupmu. Perlahan demi perlahan namun pasti.
[31:19]Perlahan demi perlahan yang penting berproses. So I think that's it teman-teman, aku Hasan Askari. Thank you very much.



