Thumbnail for LEGENDA GUNUNG TANGKUBAN PERAHU - SANGKURIANG by Nadia Omara

LEGENDA GUNUNG TANGKUBAN PERAHU - SANGKURIANG

Nadia Omara

18m 59s3,199 words~16 min read
Auto-Generated

[0:00]Nah tapi ini, Wah, ya biar kalian tahu, sebenarnya ada kesesuaian antara legenda Sangkuriang dengan fakta geologi, Wah. Hai, Wah. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih sudah klik video ini. Oke, Wah, jadi di hari Selasa ini Nadia akan kembali menceritakan sebuah cerita sejarah seputar salah satu legenda yang sangat termasyhur di Indonesia. Yaitu, yaitu legenda Sangkuriang. Jadi memang Sangkuriang ini adalah legenda yang berasal dari Jawa Barat, di mana legenda tersebut berkisah tentang terciptanya Danau Bandung, Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Burangrang, dan Gunung Bukit Tunggul, Wah. Nah, dari legenda tersebut ini juga, kita dapat menentukan sudah berapa lama orang Sunda ini hidup di Dataran Tinggi Bandung. Dan, Wah, ya biar kalian tahu, legenda ini juga didukung dengan fakta geologi yang memperkirakan bahwa orang-orang Sunda ini telah hidup di dataran ini sejak beribu tahun sebelum Masehi, Wah. Nah, legenda Sangkuriang ini awalnya merupakan tradisi lisan, Wah. Rujukan tertulis mengenai legenda ini pun ada pada masa naskah Bujangga Manik.

[1:03]Yang ditulis pada daun lontar yang berasal dari abad ke-15 atau awal abad 16 Masehi, Wah. Nah, dalam naskah tersebut ditulis bahwa Pangeran Jaya Pakuan alias Pangeran Bujangga Manik alias Ameng Layaran mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan di Pulau Bali pada akhir abad ke-15 itu. Dan setelah melakukan perjalanan panjang ini, Wah, ya, Bujangga Manik tadi tiba di tempat yang sekarang menjadi Kota Bandung, dan dia menjadi sastrawan yang pertama kali menuliskan nama tempat legendanya. Dan laporan dari Bujangga Manik ini kalau diartikan ke bahasa Indonesia, karena dia memang nulisnya pakai bahasa Sunda, berisikan, aku berjalan ke arah barat. Tiba di Gunung Patenggeng, tempat legenda Sangkuriang semasa akan membendung Citarum, tapi gagal karena kesiangan. Itu bunyi laporan dari Bujangga Manik tadi, Wah. Dan seperti biasa aku enggak pernah bosan untuk menyampaikan sejarah dunia, khususnya Indonesia kepada kalian di hari Selasa ini. Yang makin bervariasi lagi setelah dapat masukan-masukan dari kalian yang pengen banget bisa aku bahas apapun itu seputar sejarah, baik dari dalam ataupun luar negeri, yang harapannya bisa menambah sedikit wawasan kalian seputar beberapa sejarah yang ada di dunia, khususnya di Indonesia. Ya, ini nih, untuk kali ini aku akan bahas salah satu legenda dari Sangkuriang ini. Oke, jadi gimana sih sebenarnya kisah dari Sangkuriang ini? Check it out. Nah, jadi, Wah, awalnya kali ini, ya, sebelum adanya Sangkuriang, diceritakan kalau di kayangan itu ada sepasang dewa dan dewi yang berbuat kesalahan. Maka, oleh Sang Hyang Tunggal, mereka ini dikutuk, nih, Wah, untuk turun ke bumi, tapi bukan berupa dewa-dewi melainkan bentuk wujudnya hewan. Nah, sang dewi ini berubah menjadi babi hutan atau celeng bernama Celeng Wayung Hyang atau Wayungyang. Sedangkan sang dewa berubah menjadi anjing, Wah, bernama Si Tumang. Dan mereka pun diharuskan untuk turun ke bumi, menjalankan hukuman dan bertapa, mohon pengampunan agar dapat kembali lagi ke wujudnya menjadi dewa dan dewi kembali. Nah, turunlah ini, Wah, mereka ke bumi, Kan. Nah, diceritakan pada masa itu, adalah ini seorang raja yang bernama Raja Sungging Perbangkara, pergi ke hutan untuk berburu, Wah. Nah, di tengah hutan, sang raja ini membuang air kecillah gitu. Dia tampunglah di dalam daun caring atau keladi hutan, tapi ada juga yang mengatakan kalau si raja ini menampung air seninya di batok kelapa gitu. Nah, dah buang air kecil, pergi lagilah ini berburu si Raja, kan. Enggak lama kemudian, datanglah itu, Wah, seekor babi hutan betina yang bernama tadi Celeng Wayung Hyang. Pada saat bertapa, dia ini kehausan, yang kemudian dia ini tidak sengaja meminum air seni si Raja tadi, Wah. Nah, habis itu, Wayungyang tadi secara ajaib, tiba-tiba hamil, Wah, dan melahirkan seorang bayi manusia yang sangat cantik. Karena kan pada dasarnya Wayungyang ini adalah dewi cantik kan, Wah. Bukan wujud pada saat dikutuk, bukan celeng dia. Nah, karena itulah dia pun melahirkan bayi manusia yang sangat cantik di dalam hutan tersebut, Wah. Dan ya karena dia enggak mungkin mengurus si anak itu, ditinggalkannya lah ini bayi cantik itu di tengah hutan, Wah. Dan betul, Wah, beberapa saat kemudian, bayi cantik itu pun langsung ditemukan di tengah hutan oleh sang raja yang lagi buang air kecil tadi, yang tidak menyadari bahwa itulah putrinya. Dan akhirnya bayi perempuan itu pun langsung dibawa ke keraton oleh ayahnya ini dan langsung diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati, Wah. Nah, ini nih asal mula Dayang Sumbi itu, Wah. Nah, dari situ Dayang Sumbi pun tumbuh menjadi gadis yang amat cantik jelita, cantik kali katanya, yang akhirnya membuat banyak para raja dan pangeran yang ingin meminangnya, tetapi seorang pun enggak ada yang diterima sama Dayang Sumbi. Akhirnya gara-gara itu, para raja pun saling berperang, nih, ya, di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permintaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan, yaitu Si Tumang tadi, Wah. Dewa yang dikutuk tadi, tuh, Wah. Dewi yang dikutuk itu, itulah mamanya yang jadi celeng. Waktu dia besar, dia ditemani sama Si Tumang, dewa yang dikutuk tadi juga. Dah, lapan mengasingkan dirilah dia itu di bukit. Selama di bukit itu dia juga menghabiskan waktunya dengan menenun, Wah. Lagi asyik-asyik menenun itu, tiba-tiba kain yang sudah dia tenun itu jatuh, nih, ke bawah balai-balai gitu. Karena pada saat itu tak kenapa Dayang Sumbi ini malas mau ngambil, Wah, terlontarlah ini ucapan dari mulut Dayang Sumbi tanpa dia berpikir dulu, di mana dia berjanji bahwa siapapun yang akan mengambilkan kainku yang jatuh tadi, kalau dia laki-laki, aku akan jadikan dia suamiku, dan kalau dia perempuan, aku akan menjadikan dia saudaraku. Si Tumang dengar, nih, ucapan Dayang Sumbi. Akhirnya Si Tumang inilah, Wah, yang mengambil kain tersebut dan langsung diberikan ke Dayang Sumbi. Terkejut Dayang Sumbi, kan. Alah, anjing pula yang bawain kain aku. Diakibatkan ucapan yang tidak dipikirkan terlebih dahulu oleh Dayang Sumbi ini, dia tetap harus memegang teguh sumpah akan janjinya tersebut, Wah, dan dia pun tetap harus mengawini si Tumang anjing tadi, tuh, Wah. Dah, dia baliklah ini ke istana, dia ceritain sama bapaknya. Ya enggak maulah bapaknya. Kok iya, kok punya menantu anjing?

[5:51]Akhirnya Dayang Sumbi meyakinkan ayahnya kalau ini adalah sumpahku, aku tidak boleh melanggarnya gitu kan. Dan dikarenakan hal itu, karena malu, nih, ya, kerajaan pun akhirnya mengasingkan si Dayang Sumbi ini pergi ke hutan lagi untuk hidup hanya ditemani si Tumang itu. Dia belum tahu, nih, kalau Si Tumang dewa ganteng, tampan kali itu, hah. Dah, hiduplah dia di sana itu, kan, ya, Wah. Sampai akhirnya, Wah, di malam hari pada saat bulan purnama, nih, ya, tiba-tiba Si Tumang dapat kembali ke wujud aslinya sebagai dewa yang tampan kali, Wah. Pada saat itu, Dayang Sumbi ngira dia ini lagi bermimpi bercumbu dengan dewa yang tampan, yang sesungguhnya itu adalah wujud asal dari si Tumang itu. Tapi pada saat itu, Wah, wujud tampan si Tumang ini atau dewa ganteng, nih, ya, cuma terjadi pada saat itu saja. Jadi bisa dikatakan kalau sepertinya si Dayang Sumbi ini kayak lagi cuma mimpi basah lah gitu, Wah, bercumbu sama si Tumang ini, padahal mah betul itu adalah wujud asli suaminya. Setelah melewati malam itu, balik lagi, Wah, si Tumang jadi anjing lagi, tuh. Nah, setelah bercumbu tadi, akhirnya Dayang Sumbi hamil lah itu, barulah dia melahirkan bayi laki-lakinya yang diberi nama Sangkuriang. Nah, Sangkuriang ini pun tumbuh menjadi anak yang kuat, tampan juga, Wah, dan patuh gitu sama mamanya, Wah. Sampai di suatu ketika, Dayang Sumbi ini lagi ngidam lah pengen makan hati menjangan atau hati rusa. Dia bilang lah sama anaknya, Nak, Ibu lagi pengen banget, deh, makan hati rusak, katanya. Kamu boleh enggak tolong cariin rusa sama si Tumang, kata Dayang Sumbi, kan. Akhirnya, he'eh saja kata Sangkuriang, kan, Wah. Pergilah dia ini sama si Tumang, sama si anjing ini yang merupakan bapak dia, nih, hah, untuk bisa berburu ke hutan. By the way, juga kayaknya Sangkuriang ini tidak mengetahui kalau si Tumang itu adalah bapaknya. Dah, pergilah ini, kan, berburu. Setelah sekian lama Sangkuriang ini berburu, enggak juga dapat hewan buruan seekor pun, Wah, yaitu rusa tadi, hingga akhirnya Sangkuriang melihat, nih, ada seekor babi hutan yang gemuk sedang melarikan diri. Siapa babi hutan itu, Wah? Babi hutan itulah si Wayungyang tadi, tuh, Wah, yang merupakan neneknya Sangkuriang, emaknya Dayang Sumbi. Nah, si Tumang yang disuruh sama Sangkuriang untuk mengejar si babi itu enggak mau, karena dia tahu, eh, jangan, ini kawan aku, ini si dewi ini. Jangan kau bunuh dia, jangan, dia lagi bertapa, nih, sama-sama usaha kami biar bisa naik ke kayangan lagi. Nah, kenapa Sangkuriang ini tetap mau mengambil babi? Karena memang rusanya enggak dapat-dapat. Ya udahlah dibanding kita balik tangan kosong, mending kita bawa babi, ini gemuk lagi babinya, kata Sangkuriang, kan. Nah, karena mengetahui kalau si Tumang ini tidak mau mengejar si babi itu, Sangkuriang kesal, Wah. Kemudian, si Sangkuriang ini mencoba menakut-nakuti si Tumang dengan panah.

[8:14]Tapi, Wah. Tapi, Wah, tanpa sengaja, anak panah Sangkuriang ini terlepas, kenalah itu ke si Tumang. Terbunuh si Tumang, tertusuk dia itu, Wah, kena anak panah tadi. Gara-gara itu, Sangkuriang bingung, kan, panik dia, aduh, kayak mana, nih, kena pula si Tumang. Habis itu dia mikir, karena memang dia enggak memperoleh hewan buruan, maka Sangkuriang pun memutuskan untuk menyembelih tubuhnya si Tumang dan mengambil hatinya Tumang, Wah, hati bapaknya. Karena kan mamanya pengen hati rusak, ya, moga-moga ajalah mamaku enggak tahu kalau ini adalah hati anjing gitu. Betul, Wah, dibawanyalah itu, tuh, hatinya si Tumang balik ke rumah, dia kasih ke Dayang Sumbi, Dayang Sumbi pun ngambil, dimasaknnya, dimakannya, Wah, itu mereka rame-rame. Pada saat lagi menyantap hati si Tumang itu, Dayang Sumbi menyadari sesuatu, loh, kok si Tumang enggak ada sama kau, Nak? Mana Tumang? katanya. Sangkuriang waktu itu sempat berdali, Wah, sampai akhirnya Sangkuriang ngaku, Mak, hati yang lagi kau makan itu, itulah hati si Tumang, kata dia. Marahlah Sangkuriang pada saat itu, kan. Eh, kok marah Sangkuriang? Marah kali, Wah, Dayang Sumbi setelah dengar itu, yang ada Sangkuriang malah bingung, kok mamae bisa marah kali kayak gini? Karena kan dia berpikir, ini adalah anjing yang bisa saja kita makan gitu, loh. Dibanding aku pulang enggak bawa apa-apa buatmu, katanya. Ya, kenapa Dayang Sumbi marah? Ya, wajarlah, hati yang dia makan itu adalah hati suaminya sendiri, Wah, bapak dari anaknya. Meledak-ledak itu, Wah, marahnya Dayang Sumbi pada saat itu. Dan saking kesal itu, Wah, akhirnya si Dayang Sumbi ini memukul kepalanya Sangkuriang pakai centong atau sendok nasi yang terbuat dari tempurung kelapa itu, Wah, eh, tempurung kelapa itu, Wah. Sampai membuat kepalanya Sangkuriang itu terluka, Wah, berdarah gitu. Nah, karena mengalami kesakitan dan ketakutan juga, Sangkuriang pun memutuskan untuk lari, nih, meninggalkan rumah. Dayang Sumbi yang menyesali perbuatannya telah mengusir anaknya ini, mencarilah, Wah, Sangkuriang ke hutan dan memanggil-manggil nama anaknya ini serta memohon untuk segera dia ini bisa pulang. Tapi sayangnya Sangkuriang sudah keburu pergi jauh gitu. Nah, Dayang Sumbi yang merasa sangat sedih, dia pun memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar kelak dia ini bisa dipertemukan kembali dengan anaknya. Untuk itu, Dayang Sumbi pun menjalankan tapa dan hanya memakan tumbuh-tumbuhan dan sayur-sayuran mentah atau kayak lalapan gitu, Wah. Sementara itu, Sangkuriang yang kabur dari rumah tersebut pergi mengembara, Wah, keliling dunia lah gitu istilahnya. Dan Sangkuriang pun pergi berguru kepada banyak sekali pertapa sakti, sehingga Sangkuriang ini setelah beberapa tahun tersebut telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat, sakti, gagah perkasa, tampan pula. Dan setelah sekian lama, bertahun-tahun si Sangkuriang ini bertapa di area timur tadi. Kan dia berkeliling terus, nih, Wah, berkeliling terus dia, kan, mencari ilmu, mencari kekuatan lah gitu, Wah. Sampai akhirnya, Wah, Sangkuriang ini tanpa dia sadari, dia berada di barat lagi, kembali ke tempat Dayang Sumbi berada atau asal muasal dia dulu, tuh, hah. Betulan, Wah, dia ketemu lagi sama Dayang Sumbi, ibunya. Tapi, nih, ya, Sangkuriang tidak mengenali bahwa putri cantik yang dia temukan itu adalah ibunya atau Dayang Sumbi. Karena kan memang Dayang Sumbi tadi kan melakukan pertapaan dan hanya memakan tanaman-tanaman mentah aja. Maka Dayang Sumbi ini menjadi tetap cantik, awet muda gitu, Wah. Dayang Sumbi pun sama, dia juga tidak menyadari bahwa laki-laki ganteng yang dia lihat di hadapan dia itu adalah anak dia yang selama ini dia cari-cari. Karena memang fisiknya Sangkuriang kecil itu sudah berubah kali, Wah. Terus, keduanya ini langsung lah itu berkasih mesra, cenah. Nah, pada saat itu, saat si Sangkuriang ini tengah bersandar mesra dan Dayang Sumbi ini menyisir rambutnya Sangkuriang, tanpa sengaja Dayang Sumbi ini melihat ada tanda luka di kepalanya si Sangkuriang ini. Baru dia sadar, aduh, ini jangan-jangan bekas pukulan sendok kayu dulu ini. Dan barulah dari situ dia tahu kalau, weh, kau tuh anak aku, ya, kata Dayang Sumbi. Setelah mendengar pernyataan Dayang Sumbi, Sangkuriang pun sedikit demi sedikit mulai mengingat, nih. Wah, iya betul ini ibu aku, kata dia. Tapi, Wah, walaupun demikian, Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahi ibunya sendiri ini, karena dia sudah jatuh cinta kali gitu, Wah, sama Dayang Sumbi. Dayang Sumbi pun sekuat tenaga berusaha untuk menolak cinta anaknya sendiri ini. Tapi dikarenakan Sangkuriang ini kekeh kali pengen menikahi dia, maka Dayang Sumbi pun bersiasat untuk menentukan syarat pinangan yang tidak mungkin dipenuhi oleh Sangkuriang. Yaitu, Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang ini membuatkan perahu dan sebuah telaga atau danau dalam waktu semalaman saja, dengan membendung aliran Sungai Citarum sebelum matahari muncul, kata dia. Dan saking sudah cinta kali ya, sama Dayang Sumbi. Oke, disanggupi sama Sangkuriang, Wah. Maka, betullah itu, dibuatkanlah itu, perahu dari sebuah pohon besar yang tumbuh di sebelah timur, yang kelak tunggul atau pangkal pohon itu berubah menjadi gunung yang bernama Bukit Tunggul itu, Wah. Dan rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan kelak menjadi Gunung Burangrang. Nah, karena memang permintaan Dayang Sumbi ini bisa dikatakan agak enggak masuk akal, Sangkuriang pun menyadari hal itu. Tapi karena akalnya, Wah, dia pun meminta bantuan para guriang atau makhluk halus untuk bisa membantu pekerjaannya itu, Wah. Dan betul, akhirnya akibat bantuan dari mereka, lewat tengah malam, bendungan itu pun hampir selesai dikerjakan sama mereka. Nah, Dayang Sumbi yang mengetahui kalau itu pekerjaan sudah mau rampung, tuh, hah, akhirnya dia ini memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar niat Sangkuriang ini tidak terlaksana. Dan akhirnya Dayang Sumbi dengan segala kecerdasannya, dia pun membentangkan helaian kain boeh rarang atau kain putih yang berasal dari tenunannya si Dayang Sumbi ini, Wah. Di atas sebuah bukit di timur, sehingga kain putih itu tampak bercahaya bagai fajar yang merekah di ufuk timur, Wah. Seolah-olah kayak, oh, bentar lagi sudah mau pagi, nih. Dan selain itu juga Dayang Sumbi ini pun berulang-ulang memukulkan alu ke lesung, seolah-olah sedang menumbuk padi, karena memang itu adalah kegiatan orang di pagi hari, kan. Nah, para guriang atau makhluk halus atau anak buahnya si Sangkuriang ini pun ketakutan gara-gara hal itu. Karena mereka mengira, wah, ini sudah pagi, nih. Mereka pun langsung, Wah, lari menghilang, bersembunyi di dalam tanah, dan dengan demikian, pembuatan dari perahu ini pun enggak terselesaikan, Wah. Nah, karena gagal memenuhi syarat dari Dayang Sumbi, Wah, Sangkuriang pun menjadi marah, gusar, mengamuk gitu, hah. Perahu yang dia kerjakan dengan bersusah payah, ini pun langsung ditendangnya ke arah utara dan jatuh menangkup, Wah. Itulah makanya menjadi Gunung Tangkuban Perahu. Dan di puncak kemarahannya, Wah, ya, dinding bendungan yang berada di sebelah baratnya pun dijebol sama dia. Yang kelak lubang tembusan air Citarum ini dikenal sebagai Sanghyang Tikoro. Dan sumbat aliran Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Terus, dikarenakan hal itu, air telaga Bandung pun menjadi surut balik, nih, Wah. Dan bekas danau itulah yang kelaknya, yang sampai sekarang ini katanya menjadi Kota Bandung. Nah, jadi memang dari kegusaran atau kemarahannya si Sangkuriang ini sudah menjadikan beberapa tempat-tempat yang masih ada sampai sekarang, nih, Wah, ya. Enggak cuma Tangkuban Perahu saja. Nah, dia, kan, marah, kan, tuh, si Sangkuriang. Enggak tinggal diam, nih, Wah, Sangkuriang pun terus mengejar Dayang Sumbi yang berlari menghindari kejaran anaknya yang lagi jatuh cinta kali, Wah, sama dia, nih, ha. Yang sudah kehilangan akal sehatnya lah itu. Dan Dayang Sumbi pun ini sebenarnya hampir ketangkap, Wah, sama Sangkuriang, ketika dia berada di Gunung Putri, dan dia kembali memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar bisa menyelamatkannya. Sampai akhirnya, Dayang Sumbi pun berubah menjadi setangkai bunga jaksi, Wah. Dan Sangkuriang pun tidak bisa menemuinya. Sudah patah hati lah itu si Sangkuriang, kan, Wah. Dia kemudian melanjutkan lagi, nih, perjalanannya, berkelana lagi. Sampai akhirnya, katanya, Sangkuriang ini waktu sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung Berung, akhirnya Sangkuriang ini pun menghilang ke alam gaib atau ngayang, Wah. Nah, itulah tadi kisah cinta terlarangnya dari Sangkuriang kepada ibu kandungnya ini, yang sampai akhirnya menciptakan beberapa tempat yang ada di Jawa Barat, khususnya Gunung Tangkuban Perahu, Wah. Nah, tapi, nih, Wah, ya, biar kalian tahu, sebenarnya ada kesesuaian antara legenda Sangkuriang dengan fakta geologi, Wah. Apa-apa saja? Langsung saja, nih. Nah, legenda Sangkuriang ini, Wah, dikatakan sesuai dengan fakta geologi terciptanya Danau Bandung dan Gunung Takuban Perahu. Karena penelitian geologis yang mutakhir menunjukkan bahwa sisa-sisa danau purba sudah berumur 125.000 tahun, dan danau tersebut itu sudah mengering kurang lebih 16.000 tahun yang lalu. Dan selain itu juga sudah pernah terjadi dua letusan Gunung Sunda Purba dengan tipe letusan plinian, yang masing-masing sekitar 105.000 dan 55.000 sampai 50.000 tahun yang lalu. Dan letusan plinian kedua ini telah meruntuhkan kaldera Gunung Sunda Purba, sehingga menciptakan Gunung Tangkuban Perahu. Selain itu juga ada Gunung Burangrang atau disebut dengan Gunung Sunda, dan yang terakhir, Gunung Bukit Tunggul, Wah. Nah, dari hal ini adalah sangat mungkin bahwa orang Sunda purba telah menempati Dataran Tinggi Bandung dan menyaksikan letusan plinian kedua yang menyapu pemukiman sebelah baratnya Citarum ini. Atau utara dan barat dari Laut Bandung, selama periode letusan pada 50.000 sampai 55.000 tahun yang lalu, saat Gunung Tangkuban Perahu ini tercipta dan sisa-sisa Gunung Sunda Purba. Dan masa ini adalah masanya Homo sapiens, di mana Homo sapiens ini dikatakan sudah teridentifikasi hidup di Australia Selatan pada 62.000 tahun yang lalu, semasa dengan manusia Jawa atau Wajak sekitar 50.000 tahun yang lalu. Dan dari legenda ini juga, Wah, kita sendiri dapat menentukan sudah berapa lama orang Sunda ini hidup di Dataran Tinggi Bandung. Dan dari legenda ini juga yang dikuatkan dengan fakta geologi, diperkirakan bahwa orang Sunda ini sudah hidup di dataran ini sejak ribuan tahun sebelum Masehi, Wah. Tapi yang jelas, nih, Wah, ya, ada, nih, pesan moral dari legenda asal-muasal Gunung Tangkuban Perahu atau legenda Sangkuriang ini, yaitu tetaplah bersikap jujur. Karena memang kejujuran akan membawa kebaikan dan kebahagiaan di kemudian hari. Perbuatan curang hanya akan merugikan diri sendiri serta bisa mendatangkan musibah bagi diri sendiri ataupun orang lain. Tapi, Wah, ya, balik lagi, di luar itu semua, namanya juga legenda. Dan, Wah, ya, katanya, nih, sebenarnya asal-muasal dari cerita Sangkuriang ini bukan dari Bandung, tapi dari Kuningan, Kuningan, Jawa Barat juga, Wah. Yang katanya, Bandung itu cuma mengekor saja gitu, tapi entah juga. Ya, sebenarnya juga ceritanya kurang lebih sama, cuma tempat kejadiannya sajalah ini yang sempat diperdebatkan, entah itu dari Kuningan atau dari Bandung gitu, hah. Oke, Wah, jadi segitu dulu videonya. Terima kasih yang sudah menonton. Kalau kalian suka video ini, klik like-nya. Jangan lupa komen di bawah untuk ide-ide dan saran-saran untuk video selanjutnya.

[18:46]Jangan lupa nyalain notifikasinya supaya kalian tahu kalau aku upload video baru dan as always, jangan lupa untuk klik tombol subscribe supaya kalian sama-sama tahu informasi menarik dan menegangkan dari channel aku. See you next video, Wah. Bye.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript