Thumbnail for Transformasi Pendidikan di Era Teknologi: Tantangan dan Peluang Pasca Pandemi by Indosat Ooredoo Hutchison

Transformasi Pendidikan di Era Teknologi: Tantangan dan Peluang Pasca Pandemi

Indosat Ooredoo Hutchison

36m 40s4,699 words~24 min read
Auto-Generated

[0:00]kita punya yang namanya pondasinya adalah Tridarma ya. Tridarma perguruan tinggi negeri atau perguruan tinggi swasta ya tetap Tridarma gitu ya. Tidak hanya masalah pendidikan, pengajaran gitu ya, tetapi juga ada masalah penelitian, ada pengabdian kepada masyarakat. di kami sebetulnya hal tersebut sudah dilakukan untuk apa namanya? surveillance kegiatan mahasiswa. di mana CCTV kami sudah kami pasang tarik ke mesin artificial intelligence gitu untuk memantau mahasiswa ini kegiatannya apa aja sih sehari-hari? Nah yang perlu diyakin adalah bagaimana tadi kembali lagi ke aspek kualitas tadi, aspek kualitas. Bagaimana kualitas kita menyampaikan apa namanya materi.

[0:58]Halo sahabat Indosat, senang sekali kembali berjumpa dalam program Indosat Business Talk Podcast. Bersama saya Romano Bakti Negara, suatu program yang akan mengetengahkan sejumlah informasi teknologi maupun tantangannya dalam setiap industri. Kami akan selalu menghadirkan sejumlah narasumber di bidangnya masing-masing utamanya dari mitra terbaik Indosat Bisnis dan juga berbagai expert digital yang akan membuka wawasan Anda. Kali ini kami akan mengetengahkan tema dalam institusi pendidikan di mana kita bisa melihat bagaimana teknologi, inovasi maupun apapun yang ada di masa mendatang itu utamanya dapat mendukung institusi pendidikan untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang lebih baik. Nah, sudah hadir bersama kami di sini Bapak Daru Jaya Kusumo, Direktur Sistem dan Teknologi Informasi Universitas Indonesia. Selamat datang Pak Daru. Terima kasih sudah bersama kami di Indosat Business Talk Podcast. Saya tidak salah ya nyebut nama gelar Pak Bapak ya, karena biasanya kalau kalau orang yang di bidang pendidikan tuh gelarnya tuh kayak apa gerbong kereta. Kalau saya nama saya yang kayak gerbong kereta ya Pak, tapi kalau kalau Bapak Saya yakin apa? secara pengalaman, secara secara MTI itu master teknologi informasi. Nah, tepat sekali kita ingin berbagi atau membahas tentang masalah pendidikan, tentang masalah tantangan. Em, ini sudah istilahnya selama perjalanan 2023 di mana eranya kita ini pasca kalau bisa dibilang penyesuaian setelah pandemi, ada online. Kemudian sekarang banyak juga yang tatap muka. Saya juga mungkin beberapa kali sudah berkesempatan di Universitas Indonesia untuk mengajar. Kalau saya pribadi saya lebih suka mengajar secara tatap muka karena apa? Saya bertemu secara langsung dan tidak ada kecapaian dalam apa? teknologi itu sendiri. Nah, boleh tidak Pak Daru ini berbagi gimana selama 2023 ini utamanya di Universitas Indonesia. Kenapa? Karena saya yakin Universitas Indonesia itu menjadi salah satu rujukan nasional ya Pak ya, dalam bidang pendidikan di mana benchmarknya orang pasti akan selalu melihat apa yang dilakukan di Universitas Indonesia. Silakan Pak. Makasih Mas Romano. E berbicara tentang pendidikan ya, terutama pendidikan tinggi ini memang Indonesia ini punya karakter sendiri nih, berbeda dengan negara lain ya. kita punya yang namanya pondasinya adalah tridharma ya.

[4:05]Tridharma perguruan tinggi negeri atau perguruan tinggi swasta ya tetap tetap tridharma gitu ya. Tidak hanya masalah pendidikan, pengajaran gitu ya, tetapi juga ada masalah penelitian, ada pengabdian kepada masyarakat gitu ya. Apalagi sekarang ditambah dengan hilirisasi ya, inovasi dan segala macam gitu ya. Ini menjadi tantangan tersendiri nih bagi kami ya, terutama di Universitas Indonesia ketika proses switching ya pada saat pandemi ya. Pada saat pandemi itu jadi tidak hanya proses pengajaran, tapi seluruh elemen itu harus ikut ke dalamnya gitu ya. di mana fungsi-fungsi yang ada di perguruan tinggi tetap harus berjalan gitu ya. Semua stakeholder dalam artinya terkena juga atau mengalami itu ya Pak ya? Jadi bukan hanya sekedar pelajar aja. Betul, seluruhnya. Tapi administrasi, dosen maupun sampai ke orang tua sekalipun. Sampai ke orang tua sekalipun juga terkena dampaknya gitu. Bahkan sampai ke budaya ya? Budaya nanti kita coba cerita lagi ya mungkin ya. Nah, cuma kita memang berhasil ya melewati masa pandemi tersebutlah gitu ya. Di mana juga kita dibantu oleh sebetulnya dengan adanya operator gitu ya, apa namanya? penggunaan kuota dan seterusnya ya, sehingga proses online learning itu tetap bisa berjalan gitu ya. Sampai ke pelosok-pelosok daerah gitu ya. Nah ini yang jadi tantangan kitanya adalah ternyata memang ada ada ada opportunity lain nih sebetulnya gitu ya. Setelah tantangan tersebut terlewati, ternyata ada tantangan berikutnya gitu ya, kalau misalkan terkait dengan pendidikan adalah life long learning ya. Sehingga tidak perlu lagi apa namanya? ada batasan tempat, batasan waktu gitu ya, di mana Universitas juga atau misalkan perguruan tinggi bisa harus beradaptasi dengan kondisi tersebut. Ruang dan waktu tidak tidak berkukuh dalam satu bidang tertentu tapi justru bisa semakin banyak kesempatan itu terus. Semakin banyak kesempatannya betul. Jadi proses belajar dan mengajar itu bisa dilakukan di mana saja sesuai dengan preferensi masuk kayak gitu Pak. Betul, walaupun sebenarnya sekarang sudah ada aturan ya. Sebetulnya peraturan dari Kementerian sudah sudah cukup lama sebetulnya, bagaimana proses apa namanya? pendidikan jarak jauh ya, PJJ ya. Ada pendidikan jarak jauh, ada pengajaran jarak jauh, ini yang yang berbeda gitu ya. Nah, kalau misalkan pendidikan ini lebih lagi sifatnya adalah bagaimana kualitasnya bisa terjaga gitu ya. Tidak hanya kuantitas pengajaran yang dicapai, tetapi kualitas dari hasil pengajarannya pun tetap harus bisa diukur gitu ya. Nah, ini sebetulnya sudah ada peraturan gitu ya, yang mengacu ke sana, sehingga kita tidak serta merta bisa menciptakan peluang baru tersebut gitu ya. Harus tetap harus comply terhadap peraturan tersebut. Dalam artiannya ada payungnya ya Pak ya. Pergerakannya itu, karena tidak mungkin jadi bola liar kan nantinya. Betul, ada payungnya. Nah, ini juga yang jadi tantangan seluruhnya sebetulnya di Universitas kita atau di perguruan tinggi negeri, termasuk juga di kami gitu ya. Termasuk membuka bagaimana seluas-luasnya pendidikan gitu ya, tidak hanya daerah tertentu ya, gitu ya. Sehingga masyarakat-masyarakat sampai di pelosok atau di 3T itu juga masih bisa tercover lah gitu ya. Nah ini yang jadi tantangan dari kami nih untuk bisa menciptakan sebuah ekosistem tridarma pendidikan itu. Ya, dalam artian kata Universitas Indonesia yang yang kampus istilahnya pusatnya ada di Depok ataupun juga ada di Salembawa untuk kedokteran dan beberapa jurusan yang lain, itu masyarakat dari seluruh Indonesia bisa ikut belajar. Bukan hanya dari region dari sekitarnya aja gitu. Mungkin itu yang Bapak sampaikan. Betul, nah ini yang sebetulnya arahan dari Pak Rektor gitu ya, wakil-wakil rektor gitu ya. Arahannya adalah bagaimana pemerataan pendidikan ini bisa terjadi gitu ya. Nah, dari sisi kami kan memang banyak sekali sebetulnya strategi atau kegiatan yang sudah coba kita implementasikanlah gitu ya. Apakah adanya eh apa namanya MUX ya, massive online open course gitu ya atau misalkan adanya lagi apa? learning yang e-learning yang sifatnya terbuka lah gitu ya. Bisa di di di diakses oleh selain sivitas UI gitu ya. Ada juga yang sifatnya apa? formal gitu ya, yang tetap dalam ranah atau apa koridornya, policy gitu ya, peraturan dari kementerian yang dibungkus dengan Merdeka Belajar ya. Nah, Merdeka Belajar ini juga kita buka seluas-luasnya gitu ya, di mana kita buka materi perkuliahan atau misalkan kelas perkuliahan yang bisa diakses oleh orang banyak. Kita juga punya eh apa namanya? kegiatan pre-U, pre University gitu ya, yang bisa dimanfaatkan oleh SMK, SMA gitu ya. Untuk bisa melihat bagaimana sih perkuliahan tuh gitu ya. Kemudian mengikuti ujian dan seterusnya. Di mana kalau misalkan anak SMA tersebut lolos gitu ya, jadi mahasiswa UI, matrik tersebut bisa disetarakan gitu ya. Ini yang apa namanya? terobosan-terobosan yang memang menjadi inisiatif dari pimpinan kami nih gitu ya, untuk bisa dibantu bagaimana teknologi ini bisa bisa cover gitu ya. Saya tertarik dengan tadi statement Bapak. Jadi intinya kalau zaman dahulu mungkin ya, waktu mungkin saya masih berkuliah gitu ya atau kita masih kuliah, ketersediaan mahasiswa atau atau yang masuk bergabung bersama Universitas Indonesia ataupun Universitas lain di Indonesia itu utamanya ada bangku atau tidak. Ada kelasnya siap apa tidak gitu. Mungkin maunya setiap Universitas tuh menampung sebanyak-banyaknya mahasiswa, walaupun tetap dengan proses seleksi tertentu yang ada di setiap fakultas, tapi dengan eranya teknologi itu sebetulnya itu bisa menjadi suatu apa Pak? kuliah ataupun kelas yang bisa dikatakan mau virtual ataupun apapun itulah bahasanya, tapi tidak harus berada di di kampus atau di satu ruangan tertentu.

[10:33]Tapi bisa dari mana saja, tapi secara sah tetap ada di Universitas Indonesia. Berarti kan artinya itu membutuhkan apa? Sistem security yang mumpuni yang canggih, apa? database juga yang yang terjaga atau terkontrol segala macam gitu. Dari Universitas Indonesia apa yang dipersiapkan untuk menghadapi istilahnya kayak apa? kemajuan atau gelombang yang peluang itu tadi itu Pak. Ya, ini memang jadi tantangan nih seluruhnya lah sebetulnya. Sebetulnya tidak ada Universitas Indonesia saja, karena memang perubahan generasi, perubahan zaman juga ya, memang menuntut kita ke arah sana ya, gitu ya. Di mana tidak ada lagi proses bisnis atau bisnis model yang konvensional yang bisa jalan 100% gitu ya. Ya kita lihat di bank gitu ya, kita lihat di apa namanya? provider-provider gitu ya, juga melakukan perubahan ya. Edukasi pun juga kan dunia pendidikan pun juga sepertinya harus sudah mulai berubah gitu ya, dengan kondisi yang ada. Nah, memang tantangannya adalah kualitas ya. Bagaimana perubahan itu terjadi tapi kualitas tetap tetap tidak ditinggalkan gitu ya, tetap tidak ditinggalkan. Tidak hanya mengejar kuantitas saja, tapi ya kualitas juga tetap harus diperhatikan. Tetap kualitas tetap harus diperhatikan gitu ya. Bagaimana lulusan gitu ya, memiliki kompetensi yang betul-betul di di dibuat ya gitu ya, disusun ya. Nilai dapat dipertanggungjawabkan, nah itu yang sedang memang kita godok nih gitu ya. Dengan adanya hybrid atau dengan adanya full online gitu ya, ini kita sedang menggodok bagaimana nih bagaimana kualitas tersebut agar bisa tetap terjaga. Banyak teman-teman dari Universitas lain yang sudah melakukan hal tersebut ya, yang memang sudah menjadi spesialisnya seperti teman-teman di Universitas Terbuka gitu ya, ataupun Universitas yang lain. apa namanya? yang sudah menjalankan hal-hal tersebut. Memang perlu kita sesuaikanlah gitu ya, dengan kondisi masing-masing Universitas. Memang arahnya sepertinya kita menghadapi era ke sana nih ya Mas ya. life learning ini juga ke sana nih arahnya gitu ya. Bagaimana tidak hanya apa namanya? berijazah saja gitu ya.

[13:02]proses pendidikan itu yang berijazah tapi proses berkelanjutan intinya bukan yang sekedar dapat ijazah, selesai, dah gitu ya Pak ya. Betul. Tapi kayak misalkan sertifikasi untuk kompetensi profesi gitu ya, itu juga kan tetap harus dikelola ya gitu ya dengan baik. Nah, ini yang jadi tantangan kita semua nih. Ya, takutnya nanti kalau suatu ketika jadi pejabat tiba-tiba apa? sertifikatnya dipertanyakan gitu ya Pak ya. Asli apa tidak gitu.

[13:27]Itu bisa langsung dicek mungkin sudah langsung secara cepat, asli atau apa gitu. Jadi tidak menimbulkan polemik, karena kadang seperti itu riak-riak apa kegaduhan yang ada di di negara kita ini. Bilamana misalkan ada suatu profesor ditanya profesor itu asli apa tidak gitu. Jadi hal-hal yang tidak perlu itu bisa dihindari sebetulnya dengan dengan teknologi itu sendiri ya Pak ya gitu. Nah, semakin majunya teknologi, semakin eranya modern, yaitu semakin terbuka paparan vulnerable. Kalau mungkin dulu ujian masuk langsung ujian, ada Pak Daru mungkin sebagai dosen penguji atau apa, bisa langsung kalau ada yang nyontek langsung digebuk gitu ya Pak ya misalnya gitu. Kalau sekarang misalnya secara online ujian, itu kan agak tricky ya Pak ya, misalnya bisa aja sembunyikan jawaban atau buku di bawah itu. Tapi dengan teknologi tertentu saya rasa berdasarkan pengalaman pribadi mungkin ngelirik sedikit atau meleng sedikit itu langsung atau langsung mati gitu. Nah, kalau mengaitkannya dengan istilahnya apa? Smart class, koreksi kalau saya salah ya Pak ya, itu bagaimana misalnya ujian di ruangan dosen tidak harus melotot satu persatu anak diperhatikan, tapi misalnya dengan CCTV analitik segala macam bisa langsung kelihatan tuh behavior dari anak itu. Jadi kalau seandainya mungkin dia meleng sedikit, ada suara itu bilang kan kan, silakan kembali ke meja masing-masing atau misalnya kayak gitu. Silakan keluar, Anda sudah ketahuan nyontek, misalnya seperti itu Pak gitu. Memungkinkan enggak Pak itu diaplikasikan di setiap institusi pendidikan utamanya di Universitas Indonesia? Ya, dengan ada teknologi saat ini pasti memungkinkan ya, gitu ya, dengan kondisi tersebut. Adanya augmented reality atau misalkan apa namanya? artificial intelligence lah ya gitu ya. Kemudian juga ada machine learning ya, yang bisa lebih lebih memahami lagi ya kondisi real dari mahasiswa misalkan gitu, mungkin bisa bisa bisa dilakukanlah gitu ya. Di kami sebetulnya hal tersebut sudah dilakukan untuk apa namanya? surveillance kegiatan mahasiswa. Di mana CCTV kami sudah kami pasang tarik ke mesin artificial intelligence gitu untuk memantau mahasiswa ini kegiatannya apa aja sih sehari-hari? Nah gitu ya. Kemudian nanti kami coba analisis dengan kegiatan akademiknya gitu ya. Tapi terkait tadi masalah ujian gitu ya, ini kembali lagi sih sebetulnya ke dosen masing-masing ya, gitu ya. Apakah memang akan menerapkan strik seperti tersebut gitu ya, atau memang akan apa open lah gitu ya. Memperilahkan gitu ya. Cuma memang ada nilai-nilai prinsip mungkin ya dari setiap dosen yang tetap harus kita hargai ya. referensi mereka masing-masing apa gitu. Jadi enggak bisa sekedar memaksakan gitu. Nah itu sebetulnya saya mau nanya ke Pak Daru nih, masalah teknologi itu kan ada yang istilahnya embracing, mengadaptasi, ada yang menolak. Ada yang ah buat apa? Saya suka dengan pengajaran konvensional, karena menurut saya ini adalah nilai-nilai akademia yang harus dibawa sampai kapan pun. Ini adalah istilahnya value yang harus di dipegang untuk kemajuan bangsa, untuk apa? apapun itulah bahasanyalah gitu. Nah, bagaimana Pak Daru menilai dari dari sejumlah stakeholder yang ada di Universitas Indonesia terhadap kemajuan teknologi itu sendiri. Dalam arti kata, mungkin ada dosen yang menolak tapi dikasihkan pemahaman ataupun ada ada learning tertentu ataupun sampai dengan orang tua. Bagaimana Pak? Ya, sebetulnya dengan adanya pandemi ini, pembelajaran yang sangat mahal buat kita gitu ya. Proses apa switching ya, dari offline ke online gitu ya, itu luar biasa pembelajaran yang sangat mahal buat kita. Sebetulnya proses pengajaran jarak jauh ini sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum pandemi gitu ya. Dari sisi kami juga ada beberapa kali kita join kelas gitu ya dengan Universitas lain dan seterusnya memang ada yang menyambut dengan baik gitu ya, namun juga ada yang apa namanya? masih mempertanyakan gitu. Tapi dengan adanya pandemi memaksa semua orang gitu ya, dan proses switching gitu ya, secepat kilat gitu ya. Secepat kilat dan berhasil gitu ya. Akhirnya kita bisa melewatinya gitu ya, walaupun mungkin dengan ada beberapa catatan gitu ya. tetap apa namanya? kita tetap melewatinya tersebut. Nah, yang perlu diyakinkan adalah bagaimana tadi kembali lagi ke aspek kualitas tadi. Aspek kualitas. Bagaimana kualitas kita menyampaikan apa namanya materi gitu ya. Bagaimana aspek dari mahasiswa bisa mengerti atau memahami, dituangkan dalam sebuah ujian misalkan gitu ya, itu menjadi hal yang menarik nih. Karena ada studi nih di kami gitu ya.

[18:47]eh di UI ini ketika offline saat ini ya, ketika offline, ujian kembali menjadi offline, itu ada kecenderungan nilai kembali menjadi normal. Tadinya sudah cukup low, tapi tiba-tiba langsung terkoreksi. Tadinya sudah cukup tinggi ya. Terkoreksi menjadi normal kembali, ada yang ya di bawah normal gitu yang standar lagilah, kembali menjadi standar lagilah. Nah, ini menariknya adalah apakah benar-benar kualitas dari online ini apa namanya? kurang atau bisa diperbaiki lagi. Bisa terjaga gitu ya. Nah, itu yang yang yang jadi diskusi hal yang menariklah bagi kami. Tapi dari dari dengan pemanfaatan teknologi dari hal yang learning kemarin itu sebetulnya kita juga sudah menganalisis bagaimana kegiatan atau misalkan aktivitas dari mahasiswa tersebut gitu ya, dalam memahami materi-materi perkuliahan segala macam memang apa namanya? agak berbeda ya dengan offline-nya. Nah, ini yang sedang coba kita dalami gitu ya. Kemudian juga nanti mungkin akan akan berdampak terhadap kebijakan mungkin ya. Tapi beberapa fakultas juga mendukung proses hybrid gitu ya. Di Universitas Indonesia, beberapa fakultas mendukung proses hybrid, dari sekian belas pertemuan misalkan tatap muka tetap mewajibkan dosennya beberapa kali pertemuan untuk proses hybrid ya. Jadi jangan sampai dihilangkan atau dilupakan karena memang ini peluang-peluang yang lain gitu ya di dunia pendidikan ini. Pembelajarannya sudah cukup mahal, jangan sampai dengan era yang dalam satu tahun ini, terus akhirnya langsung udah tidak usah kita tinggalkan gitu. Bukan berarti kita mengharapkan di masa mendatang ada pandemi lagi ya Pak, semoga tidak. Cuma masa depan tidak bisa diprediksi ataupun kadang ada hal-hal yang kita tidak tahu, tapi dengan teknologi itu kesempatan sebetulnya semakin terbuka lebar gitu. Di Indosat Ooredoo Hutchison ada Indosat MX Center di mana kita menunjukkan ke sejumlah industri yang menjadi mitra kami. Mitra terbaik kita juga salah satunya Universitas Indonesia. Berbagai teknologi itu yang bisa dipakai di adaptasi. Salah satunya nih saya jadi tertarik soal dengan Pak Daru tadi cerita tentang masalah CCTV, kita sudah ada Pak. Itu dengan Ida, Indosat Digital Analytic. Itu dari sisi yang biasa untuk dilakukan di industri lain seperti misalnya mining, seperti misalnya apa? FMCG segala macam, dia bisa membaca orang ini happy apa tidak. Jadi kalau diskusi sebelumnya kita dengan dengan bank, dengan financial institution, customer walk in itu kebaca. Oh, dia happy atau dia marah-marah. Jadi intinya si apa? Taler-nya itu sudah bisa siap-siap ataupun dia misalnya kalau misalnya kadang suka yang bajunya biasa enggak tahu dia pelanggan prioritas. Let's say seperti itu. Nah, mungkin ke depannya bisa itu Pak ya dalam bayangan saya di Universitas itu either mahasiswa-mahasiswanya happy atau tidak dengan setelah ujian atau secara aktivitas itu memungkinkan tidak Pak itu dilakukan karena saya juga sebelumnya sempat membaca. Universitas Indonesia istilahnya embracing AI segala macam itu diterapkan di kampusnya gitu. Memungkinkan sebetulnya ya. Itu yang sedang kita coba lakukan nih gitu ya. Sedang kita coba lakukan beberapa variabel kita capture nih untuk bisa kita pelajari lebih lanjut. Karena semuanya serba belajar terus. Mesin pun kita harus kita ajarin kan Pak? Kita enggak bisa berharap mereka bisa melag langsung sesuai kemauan. Betul. Jadi kita ingin sebenarnya kita ingin melihat pola gitu ya. Apakah bisa bisa dibuat ya intinya kalau teknologi kan ingin membuat sebuah pola gitu ya. Sebetulnya kompetensi kompetensi di Universitas ini cukup beragam kan gitu ya. Ketika kompetensi bisa kita klasifikasikan, kemudian kita bisa buat pola gitu ya. soft skill, hard skill dan segala macam kita tentukan gitu ya.

[23:10]Saya penggemar football manager gitu ya. apa namanya? Di situ kan dengan jelas satu pemain punya ukuran atribut skill tertentu gitu ya. Teknik berapa dan segala macam kan paling paling tinggi misalkan di 20 angka dan segala macam. Harapan kami juga mahasiswa atau misalkan stakeholder kami juga punya hal tersebut gitu ya. Sehingga untuk meningkatkan kompetensinya, kita tahu nih arahnya ke mana. Posisinya apa yang harus diambil? Apa sih yang UI harus rubah gitu ya, harus perbaiki. Kita arahnya juga ingin seperti itu. Jadi ketika mahasiswa masuk, kita punya petanya nih mahasiswa tersebut gitu ya, dengan skill set-nya yang ada, dengan standarnya yang ada, kita ingin arahkan nanti ketika sudah lulus mau jadi seperti apa gitu ya. Tentu ini jangan sampai ada gap juga dengan industri ya, tetap harus apa namanya? kerja sama. supply semua ya, jangan sampai lulusannya nanti tidak tepat. Betul, tidak tepat. Sesuai dengan apa yang dituntut oleh industri. Betul, nah ini juga kita harapannya juga bekerja sama dengan industri gitu ya, bagaimana menyusun sebuah kurikulum mahasiswa gitu ya, agar bisa apa namanya? sesuai, tepat gitu ya, apa yang dibutuhkan oleh industri. Banyak faktorlah sebenarnya ya, generasi Z dan segala macam gitu ya. Dengan apa namanya? ada proses pandeminya dan segala macam ini mereka sebetulnya juga adaptasi yang luar biasa yang dilakukan oleh mereka gitu ya, baik oleh si mahasiswanya ataupun dosennya. Ini yang jadi tantangan berat juga nih buat kita. Jangan sampai teknologi melihat ini menjadi sebuah penilaian yang salah atau keliru gitu ya.

[25:01]Kita harapkan dengan ada bantuan teknologi ini malah mengarahkan mereka sesuai dengan minatnya, dengan kompetensinya yang diinginkan oleh mereka gitu ya. Ini yang sekarang coba kita apa namanya? kita susun. Tidak hanya dari sisi akademis, tapi juga dari sisi non akademisnya, kita coba sedang analisis gitu ya, kita sedang bangun. Karena kan seringnya yang terjadi itu dalam perjalanan pendidikan di bangsa ini kurikulum sering berubah. Kurikulum sering yang saya yakin ya pasti para penggagasnya itu melihat ke apa? tuntutan dari setiap eranya. Tapi yang tersampai di masyarakat atau tersampai di misalkan di orang tua, ini kurikulum berubah terus maunya apa sih gitu, kasihan nanti apa anak-anak ini menyesuaikannya susah. Tapi kalau ada data-datanya, ada saintifiknya, ada istilahnya analisanya itu sendiri bahwa ini memang switching-nya harus ke sini, tuntutan globalnya begini, kurikulumnya harus apa adjust ke hal tertentu yang dulu sudah enggak bisa dipakai lagi yang sekarang harus harus berubah gitu. Jadi ada hal yang bisa jadi justifikasi sehingga bisa diterima oleh sejumlah stakeholder, termasuk orang tua dari calon mahasiswa-mahasiswi yang akan bergabung dengan Universitas. Nah, boleh tidak Bapak kasih informasi kalau di Universitas Indonesia itu memang pengaturan kurikulumnya itu memang sudah sedemikian rupa sesuai dengan apa? survei yang dilakukan atau apa atau atau tuntutan dari dari regulatori atau bagaimana Pak? Atau memang sudah kalau kami belum memahami atau belum tahu memang sudah ada istilahnya apa? data tertentu yang itu akan jadi jadi pijakan gitu Pak. Sebetulnya dari Kementerian sudah ada ada ada patokannya ya, sudah ada aturannya gitu. Kurikulum yang seperti apa yang harus digunakan di perguruan tinggi ya. Ada namanya OBE, outcome based education lah gitu ya, atau kurikulum berbasis outcome gitu ya. Atau output. Nah, ini yang jadi standar gitu ya, untuk seluruh perguruan tinggi membentuk sebuah kurikulum. Yang yang yang perlu dipastikan adalah tetap adalah bagaimana mahasiswa ini bisa menyerap seluruh rancangan kurikulum yang dibuat tersebut gitu ya. Baik sesuai minat, tidak merasa terpaksa, artian seperti itu. Ya, sesuai minat. Kompetensinya tetap kita tetap terjaga. Tetap kita harus arahkan tapi juga soft skill-nya tidak perlu tidak sampai kita lupakan juga gitu ya. Ya seperti Mas Romano lah gitu ya, apa namanya? soft skill komunikasi, critical thinking dan segala macam itu kan tetap harus dibangun ya, gitu ya. Dari sisi mahasiswa pun tetap harus dibangun dengan kegiatan apa sih mereka bisa melakukan hal tersebut misalkan. Apakah adanya unit kegiatan mahasiswa gitu ya, atau misalkan kita kerja sama sama industri gitu ya, terkait tadi sama Indosat misalkan gitu ya, kita terkait kerja sama untuk apa namanya? beberapa kegiatan misalkan gitu ya, itu juga meningkatkan soft skill dari si mahasiswa ya. Tidak hanya teori misalkan gitu ya, atau tidak hanya hard skill yang di dicapai apa namanya kompetensinya yang benar-benar dicapai, tapi juga dia ada pendukung lainnya nih soft skill pendukung lainnya yang harus dicapai. Nah, ini yang kita tidak bisa mengandalkan variabel dari satu titik gitu ya. Artinya dari kegiatan edukasi gitu ya akademis yang kita lihat gitu ya, tapi juga non akademisnya perlu kita pantau dengan bantuan teknologi tentunya gitu ya. Sehingga tujuan dari pendidikan ini atau tridharma ini terpenuhi gitu ya, bagi mahasiswa. Arahnya memang ke depan tidak hanya proses pengajaran atau pendidikan yang jadi fokus gitu ya. Bagaimana mahasiswa itu bisa berinovasi melakukan hilirisasi terhadap riset misalkan gitu ya, membuat sebuah ujungnya misalkan membuat sebuah startup gitu ya. Yang nanti tetap akan diinkubasi atau misalkan di apa di di prosesnya tetap akan di Universitas gitu ya. Tapi tetap ujung itu yang akan di diberikan kelulusan juga untuk mahasiswa nih. Jadi tidak hanya proses pendidikan saya atau pengajaran saja yang jadi fokus utamanya. Nah, ini harapannya teknologi kita bisa berkolaborasi gitu ya. Menciptakan suatu ekosistem yang support yang intinya mengadaptasi kalau boleh saya bilang kalau kita di industri lain Pak ada customer experience. Nah, kalau di universitas, di institusi pendidikan berarti kan either student experience ataupun juga parents experience maupun edukator experience itu sendiri itu itu yang harus dijaga dibangun agar belajar mengajar itu jadi sesuatu yang menyenangkan. Mungkin kalau boleh saya tarik kesimpulan seperti itu ya Pak ya. Betul. Jadi tridharma tadi bisa saling berkesinambungan gitu ya. Tidak hanya fokus di pengajaran, tapi bagaimana riset dosen itu mahasiswa ikut sertakan, hasil riset misalkan nanti dipraktikkan dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat juga mahasiswa dilingkut dilibatkan, diikutsertakan gitu. Ini yang menjadi hal yang menarik sebetulnya bagi mahasiswa untuk meningkatkan potensinya baik itu soft skill maupun hard skill-nya tadi gitu ya. Ini yang kita harapkan bisa tercapai gitu ya, sesuai dengan apa namanya kurikulum tadi yang saya sampaikan gitu ya. Apakah nanti kurikulum tersebut dibuat berdasarkan diskusi dengan stakeholders gitu ya, dengan industri, dengan asosiasi, dengan kolegium dan seterusnya gitu ya. Sehingga memang arahnya nanti ketika dia sudah lulus itu benar-benar sesuai, compatible, sesuai dengan apa yang dibutuhkan.

[31:08]Betul, tidak memaksakan ini saya ini yang saya punya ilmu saya. Terima atau tidak gitu ya Pak ya. Jadi intinya ya memang harus dibuat compatible karena bagaimanapun mereka akan dan harus berkarya di masyarakat. Bukan membuat suatu apa? Paham tertentu. Mungkin ada yang seperti itu, tapi kan idealnya mahasiswa itu atau pelajar-pelajar itu begitu terjun ke masyarakat, mereka harus memahami dulu. Di mana bumi dipijak, di situ lain juga seperti itu ya Pak ya. Betul, betul.

[31:47]Jadi jadi apa? Intinya end to end experience semua dibangun, termasuk salah satunya mungkin yang sudah kita provide dari Indosat Bisnis itu Pak, dedicated internet access itu sendiri. Jadi belajar di kampus dengan kecepatan yang stabil dengan dengan kecepatan yang bisa diandalkan dalam artian seperti itu ya Pak ya. Betul. Termasuk juga dengan kebutuhan dari sisi edukator itu sendiri. Betul. Memang kita juga sedang diskusi nih dengan Indosat gitu ya untuk membuat sebuah terobosan nih di kami di Universitas Indonesia. Agar tidak lagi terhalang dengan kondisi apa namanya? perangkat keras gitu ya untuk men untuk mendapatkan akses internet gitu ya. Kita lagi coba diskusi bagaimana memanfaatkan apa yang bisa diprovide oleh Indosat ke kami gitu ya. Kita sedang susu yang namanya private 5G ya gitu ya, di kami. Tidak hanya untuk proses pengajaran gitu ya, tapi bagaimana penerapan atau mendukung proses penelitian gitu ya, sehingga bisa diterapkan. Itu juga menjadi hal yang sangat krusial di kami gitu ya. Misalkan dengan banyaknya penelitian tentang IoT, dengan autonomous vehicle misalkan gitu ya, dengan adanya private 5G diharapkan bisa lebih masif, lebih berkembang termasuk juga dengan IIA yang sudah coba nanti dibuat. Tentunya juga dengan pasti akan membawa teman-teman dari sosial humaniora ya untuk bisa teknologi ini jangan. Ya, jangan sampai kayak makhluk mati ya Pak ya. Jangan sampai makhluk mati yang kayak enggak tahu kanan kirinya apa, enggak tahu temannya siapa gitu. Jadi akhirnya orang capek kadang ya. Tetap harus ada nilai-nilai sosial gitu ya, nilai-nilai budaya yang ada di dalamnya gitu ya, sehingga bisa termanfaatkan lebih banyak lagi. Nah, ini yang kita harapkan kolaborasi lebih jauh dengan Indosat gitu ya. Tapi dalam arti kata IoT itu sendiri memungkinkan untuk masuk ke institusi pendidikan atau di UI itu sendiri ya. Sangat memungkinkan. Kami sangat terbuka, sangat open gitu ya, bagaimana pemanfaatan IoT gitu ya, di kami, terutama mungkin dengan apa namanya? bantuan Indosat, mungkin ada sumber daya IoT yang mungkin tidak terlalu boros gitu ya.

[34:11]Misalkan penggunaan baterai dan seterusnya ya. Dengan adanya narrowband di Indosat misalkan gitu ya, bisa membantu kami untuk pemanfaatannya itu lebih efektif lah gitu ya. Nah, kita harapkan ini ke depannya bisa jadi kolaborasi yang sangat baik. Nah, intinya kembali lagi, kita bisa hebat kalau kita berkolaborasi. Setuju. Kita tidak bisa berdiri sendiri, lebih baik kita fokus ke bidang kita masing-masing gitu ya Pak. Jadi intinya kayak apa yang bisa kami provide atau kita support ke UI dari Indosat Bisnis, either kita kan ada juga yang sering kita pakai di Smart Manufacturing, Smart Building segala macam yang mengatur segala sesuatu itu sesuai dengan tujuan. Kalau misalnya tujuan ke depannya itu let's say apa? Eco-friendly kampus atau University, tapi bukan hanya sekedar jargon semata, tapi dibuktikan dalam arti kata penggunaan air, penggunaan lampu sampai penggunaan AC yang harus tepat dengan penggunaan energi itu sendiri gitu ya Pak ya. Baik Pak Daru, kayaknya kita balik lagi harus bikin series ya Pak ya. Saya senang sekali mungkin Bapak harus lebih sering ke sini, tatap muka, kita diskusi lagi, karena saya yakin ya namanya teknologi digital itu tidak terputus dalam satu masa tertentu, selalu ada yang baru. Mungkin setelah kita diskusi ini, ada lagi ya Pak ya, ada yang apalagi nih apa teknologi-teknologi AI segala macam gitu, tapi jangan sampai kita manusia tersalib ya Pak ya. tersusul dari kemajuan teknologi sendiri. Setuju. Terima kasih Pak Daru. Terima kasih sudah bergabung dengan Indosat Business Talk Podcast. Sampai ketemu lagi, kita akan membahas lagi tentang solusi bisnis yang lain. Terima kasih. Sahabat Indosat, demikian tadi dialog kami bersama Daru Wijaya Kusumo tentang bagaimana pengaplikasian teknologi digital utamanya dalam sisi institusi pendidikan. Kembali lagi dengan kolaborasi, kita bisa membuka semua peluang. Kita bisa menciptakan masa depan yang jauh lebih baik, karena utamanya adalah di sisi pendidikan itu bagaimana kita menciptakan generasi penerus bangsa yang lebih baik daripada kita sendiri, karena bukan hanya kita yang harus menjadi hebat, tapi justru generasi penerus yang menjadi hebat terus-menerus berkesinambungan. Saya Romano Bakti Negara, senang sekali dapat menemani Anda. Kembali lagi kita akan berjumpa dalam program dan kesempatan lainnya. Sampai jumpa.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript