[0:10]Saya bicara tanaman adalah makhluk hidup ya. Setiap makhluk hidup kan pasti ya membutuhkan perawatan, membutuhkan pola makan, membutuhkan sinan matahari yang cukup.
[0:24]Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, sahabat petani semua. Video kali ini kita akan berbincang dengan salah satu guru kita yang sudah sangat fenomenal di Mitra Bertani, di mana beliau biasa budidaya tanaman cabe merah keriting. Nah, di saat hari saat ini untuk harganya tidak baik-baik saja, alhamdulillah beliau bisa tetap sangat bahagia. Kira-kira tips dan triknya supaya tetap bahagia seperti apa? Video lengkapnya setelah yang satu ini.
[1:27]Oke, baik sahabat Petani semua, sebelum kita masuk pada inti videonya, ada pengumuman. Untuk teman-teman yang namanya tercantum di sini atau di kolom deskripsi, itu adalah pemenang giveaway video yang kemarin. Dan silakan untuk teman-teman yang kami tetapkan sebagai pemenang, silakan menghubungi kontak admin yang telah kami sediakan. Dan untuk teman-teman yang belum beruntung, silakan coba lagi. Caranya sangat mudah, teman-teman tinggal meninggalkan komentar di kolom komentar sini. Seputar pengalamannya mengikuti Mitra Bertani bisa berupa pengalaman, kritik atau saran demi kemajuan Mitra Bertani di masa mendatang. Pemenangnya akan kami pilih secara acak dan akan mendapatkan hadiah kaos eksklusif tanpa biaya sepeser pun. Tetap semangat kurangi sabat gusti berkahi. Oke, baik sahabat tani semua, kembali lagi bersama saya Zaki di channel Mitra Bertani TV. Seperti yang telah saya jelaskan di awal tadi, kesempatan kali ini kita akan berdiskusi atau berbincang langsung dengan salah satu guru kita, di mana beliau sudah sangat tidak asing gitu ya di Mitra Bertani, lebih spesifik di budidaya tanaman cabe merah keriting. Nah, seperti saat ini kita ketahui harga cabe merah keriting untuk saat ini itu sedang tidak baik-baik saja. Tetapi alhamdulillah beliau ini tetap bahagia. Ada beberapa kiat yang akan beliau sampaikan supaya teman-teman itu tidak terjebak di harga yang murah. Kemudian salah satu spirit untuk menghindari potensi tanaman panen di harga murah. Kemudian tentang kiat-kiat sukses khususnya di budidaya tanaman pepaya gitu. Jadi ada hubungannya antara cabe merah keriting kemudian dengan tanaman pepaya ini. Pepaya beliau ini biasanya tembus rekor gitu. Jadi ada beberapa hal yang beliau lakukan yang berbeda daripada petani pada umumnya gitu. Dan alhamdulillah di musim yang sebelumnya itu beliau bisa panen dengan sangat maksimal. Kemudian saat ini beliau juga melakukan budidaya tanaman pepaya. Hasilnya menurut kami juga sangat istimewa karena ini baru awal belum sampai panen. Tetapi ada beberapa hal yang tidak dilakukan oleh petani pada umumnya. Dan sedikit bocoran, di lahan ini usianya sudah mendekati 5 bulan, tetapi belum dimasuki oleh insek atau fungisida. Padahal intensitas hujan sudah sangat tinggi. Kira-kira kiat suksesnya seperti apa? Tanpa lama-lama lagi kita akan langsung masuk pada sesi wawancara. Oke, baik sahabat Petani semua, di hadapan saya sudah ada guru kita ya, dari Pak Slamet sudah lama tidak berjumpa ini, Pak Slamet. Dan sudah banyak yang menanyakan tentang keberadaan Pak Slamet. Gimana kabarnya ini, Pak Slamet? Alhamdulillah sehat selalu, Pak. Alhamdulillah sehat dengan wajah yang sedang berseri-seri. Kalau biasanya kita mengenal Pak Slamet itu adalah di spesialis tanaman cabe merah keriting, Pak Slamet. Tapi sekarang background-nya ini adalah pepaya. Mungkin ini, Pak, yang sedang sangat hangat diperbincangkan adalah harga cabe merah keriting. Harganya yang sedang sangat alhamdulillah ini. Bahkan ada yang sampai dicabuti, kemudian tidak dipanen, dibiarkan merah di lahan dan lain sebagainya karena harganya sedang tidak baik-baik saja. Pak Slamet, menurut Pak Slamet gimana? Sedang panen juga atau gimana ini, Pak? Ya, terima kasih, Mas Zaki. Kebetulan alhamdulillah, ketika harga murah, alhamdulillah sekali saya pas enggak punya tanaman, Pak. Habis, sebenarnya harga murah, harga mahal yang namanya kita petani kan harus tetap bersyukur ya. Kita harus selalu bersyukur, tidak harus kita menunggu waktu untuk bersyukur. Jadi yang selalu saya tekankan ke petani, tetap kita semangat, kita selalu bersyukur. Masalah harga itu kan hukum pasar ya, sama aja dengan takdir. Mungkin itu, Nggih. Untuk menyikapi atau menjati dari harga-harga yang murah itu, yang namanya tanaman hortikultura kan tidak hanya melulu cabe. Sebenarnya itu kan banyak sekali ini. Jadi kapan kita tanam, kapan kita panen, paling enggaknya itu kan kita punya grafis. Apa gunanya kayak petani itu sekarang dituntut untuk cerdas, untuk belajar manajemen, itu manfaatnya kan sebenarnya di situ. Jadi tidak hanya kita bisa nananm, kita bisa merawat, tapi ketika panen, harganya gotong royong. Lah, ini kan yang jadi problem ya, selama ini yang jadi masalah khususnya di pertanian hortikultura. Jadi sebisa mungkin sebelum kita menanam, itu kita juga harus cari informasi kira-kira ini panennya di bulan apa, kemudian tren harganya biasanya seperti apa gitu ya, Pak? Nggih, betul sekali. Karena sebenarnya itu bisa dipelajari ya, Pak, ya? Sebenarnya bisa, Mas. Karena yang namanya waktu berjalan ya, semua tanaman adalah makhluk hidup. Kalau kalau kita sudah bicara makhluk hidup, berarti kan paling enggaknya kita harus enggak enggak semuanya tahulah, tapi minimal kita sedikit tahu. Yang pertama, yang kedua, kita bicara makhluk hidup, silaturahim, terus nilai persaudaraan yang banyak itu kan kita saling berbagi informasi. Itu yang paling penting ya, berbagi informasi dari situlah paling enggak kanan kita punya dasar. Nantinya oh, kalau misalkan saya nananam ini sebelah sana nananam, sebelah sini nananam, daerah sana nananam, daerah sini nananam, ketika nanti panen otomatis kan pasti akan anjlok harga atau jatuh harga ketika pas di musim panen raya. Jadi kan kita harus bisalah menyiasati atau kita harus tahu betul karena sekarang sudah dituntut dengan teknologi yang sangat berkembang sangat luar biasa. Petani mau tidak mau harus dituntut dengan pertanian cerdas. Petani yang cerdas gitu ya, ya. Kemudian realisasi diperbanyak ya, Pak, ya. Silaturahmi itu dikencangkan, di samping itu berpahala, kemudian menambah saudara, tapi nanti akan banyak dapat input. Jadi kita tahu oh yang sedang ramai sekarang mungkin di daerah sana menanam ini gitu. Dan ketika semua daerah menanam dalam waktu yang hampir bersamaan, kemudian dengan komoditas yang hampir sama, secara hukum pasar biasanya ketika panen nanti harganya akan murah. Akan murah itu. Jadi ketika harga murah itu kalau kita mau berbicara siapa yang paling layak untuk disalahkan ini siapa ini, Pak? Ya, justru aja ya, di sini saya enggak mau menyalahkan siapa-siapa. Yang jelas di sini saya hanya kita belajar lah dengan petani, gitu ya. Di sini kita hanya menyampaikan beberapa dengan petani dalam arti yang namanya pertanian hortikultura khususnya di tanaman cabe, kan tidak hanya satu tempat yang bisa, Mas. Misalkan saya di Sleman, yang namanya nananam cabe itu kan enggak cuma orang Sleman aja yang bisa. Sekarang di berbagai wilayah, berbagai titik, sekarang yang namanya cabe itu viral. Berbagai daerah pun dari Sabang sampai Merauke sudah bisa nananam cabe. Bondong-bondong nananam cabe, bondong-bondong nananam cabe. Jadi tidak hanya daerah satu daerah aja. Sekarang pun sentral pun sudah enggak bisa untuk patokan, misalkan Jawa Timur yang katanya sentral cabe atau Jawa Tengah. Sekarang pun tidak bisa untuk jadi patokan. Karena sekarang sudah meratalah kalau untuk holtikultura ya, khususnya tanaman cabe, saya pikir itu untuk Sabang sampai Merauke itu sudah merata, semuanya sudah bisa menanam. Gitu, jadi pemilihan komoditas itu menjadi sangat penting karena saat ini sepertinya tidak ada sentralisasi. Kalau dulu mungkin berbudidaya tanaman cabe itu hanya dilakukan di beberapa titik tertentu gitu. Tapi kalau sekarang semakin majunya zaman, semuanya bisa belajar dari manapun dan yang berhasil juga lumayan banyak. Otomatis stok itu meningkat, kemudian sementara kebutuhan mungkin cenderung stack atau tetap gitu ya, Pak, ya. Jadi hukum pasar ketika ketersediaan melimpah tapi serapannya sedikit, harga biasanya akan murah. Murah itu. Jadi ketika harga murah itu kalau kita mau berbicara siapa yang paling layak untuk disalahkan ini siapa ini, Pak? Ya, justru aja ya, di sini saya enggak mau menyalahkan siapa-siapa. Yang jelas di sini saya hanya kita belajar lah dengan petani, Nggih. Di sini kita hanya menyampaikan beberapa dengan petani dalam arti yang namanya pertanian holtikultura khususnya di tanaman cabe kan tidak hanya satu tempat yang bisa, Mas.
[9:44]Misalkan saya di Sleman, yang namanya nananam cabe itu kan enggak cuma orang Sleman aja yang bisa. Sekarang di berbagai wilayah, berbagai titik, sekarang yang namanya cabe itu viral. Berbagai daerah pun dari Sabang sampai Merauke sudah bisa nananam cabe. Bondong-bondong nananam cabe, bondong-bondong nananam cabe. Jadi tidak hanya daerah satu daerah aja. Sekarang pun sentral pun sudah enggak bisa untuk patokan, misalkan Jawa Timur yang katanya sentral cabe atau Jawa Tengah. Sekarang pun tidak bisa untuk jadi patokan. Karena sekarang sudah meratalah kalau untuk holtikultura ya, khususnya tanaman cabe, saya pikir itu untuk Sabang sampai Merauke itu sudah merata, semuanya sudah bisa menanam. Gitu, jadi pemilihan komoditas itu menjadi sangat penting karena saat ini sepertinya tidak ada sentralisasi. Kalau dulu mungkin berbudidaya tanaman cabe itu hanya dilakukan di beberapa titik tertentu gitu. Tapi kalau sekarang semakin majunya zaman, semuanya bisa belajar dari manapun dan yang berhasil juga lumayan banyak. Otomatis stok itu meningkat, kemudian sementara kebutuhan mungkin cenderung stack atau tetap gitu ya, Pak, ya. Jadi hukum pasar ketika ketersediaan melimpah tapi serapannya sedikit, harga biasanya akan murah. Murah itu. Jadi ketika harga murah itu kalau kita mau berbicara siapa yang paling layak untuk disalahkan ini siapa ini, Pak? Ya, justru aja ya, di sini saya enggak mau menyalahkan siapa-siapa. Yang jelas di sini saya hanya kita belajar lah dengan petani, Nggih. Di sini kita hanya menyampaikan beberapa dengan petani dalam arti yang namanya pertanian holtikultura khususnya di tanaman cabe kan tidak hanya satu tempat yang bisa, Mas.
[11:48]Misalkan saya di Sleman, yang namanya nananam cabe itu kan enggak cuma orang Sleman aja yang bisa. Sekarang di berbagai wilayah, berbagai titik, sekarang yang namanya cabe itu viral. Berbagai daerah pun dari Sabang sampai Merauke sudah bisa nananam cabe. Bondong-bondong nananam cabe, bondong-bondong nananam cabe. Jadi tidak hanya daerah satu daerah aja. Sekarang pun sentral pun sudah enggak bisa untuk patokan, misalkan Jawa Timur yang katanya sentral cabe atau Jawa Tengah. Sekarang pun tidak bisa untuk jadi patokan. Karena sekarang sudah meratalah kalau untuk holtikultura ya, khususnya tanaman cabe, saya pikir itu untuk Sabang sampai Merauke itu sudah merata, semuanya sudah bisa menanam. Gitu, jadi pemilihan komoditas itu menjadi sangat penting karena saat ini sepertinya tidak ada sentralisasi. Kalau dulu mungkin berbudidaya tanaman cabe itu hanya dilakukan di beberapa titik tertentu gitu.
[12:53]Tapi kalau sekarang semakin majunya zaman, semuanya bisa belajar dari manapun dan yang berhasil juga lumayan banyak. Otomatis stok itu meningkat, kemudian sementara kebutuhan mungkin cenderung stack atau tetap gitu ya, Pak, ya. Jadi hukum pasar ketika ketersediaan melimpah tapi serapannya sedikit, harga biasanya akan murah. Murah itu. Jadi ketika harga murah itu kalau kita mau berbicara siapa yang paling layak untuk disalahkan ini siapa ini, Pak? Ya, justru aja ya, di sini saya enggak mau menyalahkan siapa-siapa. Yang jelas di sini saya hanya kita belajar lah dengan petani, Nggih. Di sini kita hanya menyampaikan beberapa dengan petani dalam arti yang namanya pertanian holtikultura khususnya di tanaman cabe kan tidak hanya satu tempat yang bisa, Mas.
[13:50]Misalkan saya di Sleman, yang namanya nananam cabe itu kan enggak cuma orang Sleman aja yang bisa. Sekarang di berbagai wilayah, berbagai titik, sekarang yang namanya cabe itu viral. Berbagai daerah pun dari Sabang sampai Merauke sudah bisa nananam cabe. Bondong-bondong nananam cabe, bondong-bondong nananam cabe. Jadi tidak hanya daerah satu daerah aja. Sekarang pun sentral pun sudah enggak bisa untuk patokan, misalkan Jawa Timur yang katanya sentral cabe atau Jawa Tengah. Sekarang pun tidak bisa untuk jadi patokan. Karena sekarang sudah meratalah kalau untuk holtikultura ya, khususnya tanaman cabe, saya pikir itu untuk Sabang sampai Merauke itu sudah merata, semuanya sudah bisa menanam. Gitu, jadi pemilihan komoditas itu menjadi sangat penting karena saat ini sepertinya tidak ada sentralisasi. Kalau dulu mungkin berbudidaya tanaman cabe itu hanya dilakukan di beberapa titik tertentu gitu.
[14:55]Tapi kalau sekarang semakin majunya zaman, semuanya bisa belajar dari manapun dan yang berhasil juga lumayan banyak. Otomatis stok itu meningkat, kemudian sementara kebutuhan mungkin cenderung stack atau tetap gitu ya, Pak, ya. Jadi hukum pasar ketika ketersediaan melimpah tapi serapannya sedikit, harga biasanya akan murah. Murah itu. Jadi ketika harga murah itu kalau kita mau berbicara siapa yang paling layak untuk disalahkan ini siapa ini, Pak? Ya, justru aja ya, di sini saya enggak mau menyalahkan siapa-siapa. Yang jelas di sini saya hanya kita belajar lah dengan petani, Nggih. Di sini kita hanya menyampaikan beberapa dengan petani dalam arti yang namanya pertanian holtikultura khususnya di tanaman cabe kan tidak hanya satu tempat yang bisa, Mas.
[15:51]Misalkan saya di Sleman, yang namanya nananam cabe itu kan enggak cuma orang Sleman aja yang bisa. Sekarang di berbagai wilayah, berbagai titik, sekarang yang namanya cabe itu viral. Berbagai daerah pun dari Sabang sampai Merauke sudah bisa nananam cabe. Bondong-bondong nananam cabe, bondong-bondong nananam cabe. Jadi tidak hanya daerah satu daerah aja. Sekarang pun sentral pun sudah enggak bisa untuk patokan, misalkan Jawa Timur yang katanya sentral cabe atau Jawa Tengah. Sekarang pun tidak bisa untuk jadi patokan. Karena sekarang sudah meratalah kalau untuk holtikultura ya, khususnya tanaman cabe, saya pikir itu untuk Sabang sampai Merauke itu sudah merata, semuanya sudah bisa menanam. Gitu, jadi pemilihan komoditas itu menjadi sangat penting karena saat ini sepertinya tidak ada sentralisasi. Kalau dulu mungkin berbudidaya tanaman cabe itu hanya dilakukan di beberapa titik tertentu gitu.
[16:56]Tapi kalau sekarang semakin majunya zaman, semuanya bisa belajar dari manapun dan yang berhasil juga lumayan banyak. Otomatis stok itu meningkat, kemudian sementara kebutuhan mungkin cenderung stack atau tetap gitu ya, Pak, ya. Jadi hukum pasar ketika ketersediaan melimpah tapi serapannya sedikit, harga biasanya akan murah. Murah itu. Jadi ketika harga murah itu kalau kita mau berbicara siapa yang paling layak untuk disalahkan ini siapa ini, Pak? Ya, justru aja ya, di sini saya enggak mau menyalahkan siapa-siapa. Yang jelas di sini saya hanya kita belajar lah dengan petani, Nggih. Di sini kita hanya menyampaikan beberapa dengan petani dalam arti yang namanya pertanian holtikultura khususnya di tanaman cabe kan tidak hanya satu tempat yang bisa, Mas.
[17:53]Misalkan saya di Sleman, yang namanya nananam cabe itu kan enggak cuma orang Sleman aja yang bisa. Sekarang di berbagai wilayah, berbagai titik, sekarang yang namanya cabe itu viral. Berbagai daerah pun dari Sabang sampai Merauke sudah bisa nananam cabe. Bondong-bondong nananam cabe, bondong-bondong nananam cabe. Jadi tidak hanya daerah satu daerah aja. Sekarang pun sentral pun sudah enggak bisa untuk patokan, misalkan Jawa Timur yang katanya sentral cabe atau Jawa Tengah. Sekarang pun tidak bisa untuk jadi patokan. Karena sekarang sudah meratalah kalau untuk holtikultura ya, khususnya tanaman cabe, saya pikir itu untuk Sabang sampai Merauke itu sudah merata, semuanya sudah bisa menanam. Gitu, jadi pemilihan komoditas itu menjadi sangat penting karena saat ini sepertinya tidak ada sentralisasi. Kalau dulu mungkin berbudidaya tanaman cabe itu hanya dilakukan di beberapa titik tertentu gitu.
[18:58]Tapi kalau sekarang semakin majunya zaman, semuanya bisa belajar dari manapun dan yang berhasil juga lumayan banyak. Otomatis stok itu meningkat, kemudian sementara kebutuhan mungkin cenderung stack atau tetap gitu ya, Pak, ya. Jadi hukum pasar ketika ketersediaan melimpah tapi serapannya sedikit, harga biasanya akan murah. Murah itu. Jadi ketika harga murah itu kalau kita mau berbicara siapa yang paling layak untuk disalahkan ini siapa ini, Pak? Ya, justru aja ya, di sini saya enggak mau menyalahkan siapa-siapa. Yang jelas di sini saya hanya kita belajar lah dengan petani, Nggih. Di sini kita hanya menyampaikan beberapa dengan petani dalam arti yang namanya pertanian holtikultura khususnya di tanaman cabe kan tidak hanya satu tempat yang bisa, Mas.
[19:55]Misalkan saya di Sleman, yang namanya nananam cabe itu kan enggak cuma orang Sleman aja yang bisa. Sekarang di berbagai wilayah, berbagai titik, sekarang yang namanya cabe itu viral. Berbagai daerah pun dari Sabang sampai Merauke sudah bisa nananam cabe. Bondong-bondong nananam cabe, bondong-bondong nananam cabe. Jadi tidak hanya daerah satu daerah aja. Sekarang pun sentral pun sudah enggak bisa untuk patokan, misalkan Jawa Timur yang katanya sentral cabe atau Jawa Tengah. Sekarang pun tidak bisa untuk jadi patokan. Karena sekarang sudah meratalah kalau untuk holtikultura ya, khususnya tanaman cabe, saya pikir itu untuk Sabang sampai Merauke itu sudah merata, semuanya sudah bisa menanam. Gitu, jadi pemilihan komoditas itu menjadi sangat penting karena saat ini sepertinya tidak ada sentralisasi. Kalau dulu mungkin berbudidaya tanaman cabe itu hanya dilakukan di beberapa titik tertentu gitu.
[20:59]Tapi kalau sekarang semakin majunya zaman, semuanya bisa belajar dari manapun dan yang berhasil juga lumayan banyak. Otomatis stok itu meningkat, kemudian sementara kebutuhan mungkin cenderung stack atau tetap gitu ya, Pak, ya. Jadi hukum pasar ketika ketersediaan melimpah tapi serapannya sedikit, harga biasanya akan murah. Murah itu. Jadi ketika harga murah itu kalau kita mau berbicara siapa yang paling layak untuk disalahkan ini siapa ini, Pak? Ya, justru aja ya, di sini saya enggak mau menyalahkan siapa-siapa. Yang jelas di sini saya hanya kita belajar lah dengan petani, Nggih. Di sini kita hanya menyampaikan beberapa dengan petani dalam arti yang namanya pertanian holtikultura khususnya di tanaman cabe kan tidak hanya satu tempat yang bisa, Mas.
[21:56]Misalkan saya di Sleman, yang namanya nananam cabe itu kan enggak cuma orang Sleman aja yang bisa. Sekarang di berbagai wilayah, berbagai titik, sekarang yang namanya cabe itu viral. Berbagai daerah pun dari Sabang sampai Merauke sudah bisa nananam cabe. Bondong-bondong nananam cabe, bondong-bondong nananam cabe. Jadi tidak hanya daerah satu daerah aja. Sekarang pun sentral pun sudah enggak bisa untuk patokan, misalkan Jawa Timur yang katanya sentral cabe atau Jawa Tengah. Sekarang pun tidak bisa untuk jadi patokan. Karena sekarang sudah meratalah kalau untuk holtikultura ya, khususnya tanaman cabe, saya pikir itu untuk Sabang sampai Merauke itu sudah merata, semuanya sudah bisa menanam. Gitu, jadi pemilihan komoditas itu menjadi sangat penting karena saat ini sepertinya tidak ada sentralisasi. Kalau dulu mungkin berbudidaya tanaman cabe itu hanya dilakukan di beberapa titik tertentu gitu.
[23:00]Tapi kalau sekarang semakin majunya zaman, semuanya bisa belajar dari manapun dan yang berhasil juga lumayan banyak. Otomatis stok itu meningkat, kemudian sementara kebutuhan mungkin cenderung stack atau tetap gitu ya, Pak, ya. Jadi hukum pasar ketika ketersediaan melimpah tapi serapannya sedikit, harga biasanya akan murah. Murah itu. Jadi ketika harga murah itu kalau kita mau berbicara siapa yang paling layak untuk disalahkan ini siapa ini, Pak? Ya, justru aja ya, di sini saya enggak mau menyalahkan siapa-siapa. Yang jelas di sini saya hanya kita belajar lah dengan petani, Nggih. Di sini kita hanya menyampaikan beberapa dengan petani dalam arti yang namanya pertanian holtikultura khususnya di tanaman cabe kan tidak hanya satu tempat yang bisa, Mas.
[23:57]Misalkan saya di Sleman, yang namanya nananam cabe itu kan enggak cuma orang Sleman aja yang bisa. Sekarang di berbagai wilayah, berbagai titik, sekarang yang namanya cabe itu viral. Berbagai daerah pun dari Sabang sampai Merauke sudah bisa nananam cabe. Bondong-bondong nananam cabe, bondong-bondong nananam cabe. Jadi tidak hanya daerah satu daerah aja. Sekarang pun sentral pun sudah enggak bisa untuk patokan, misalkan Jawa Timur yang katanya sentral cabe atau Jawa Tengah. Sekarang pun tidak bisa untuk jadi patokan. Karena sekarang sudah meratalah kalau untuk holtikultura ya, khususnya tanaman cabe, saya pikir itu untuk Sabang sampai Merauke itu sudah merata, semuanya sudah bisa menanam. Gitu, jadi pemilihan komoditas itu menjadi sangat penting karena saat ini sepertinya tidak ada sentralisasi. Kalau dulu mungkin berbudidaya tanaman cabe itu hanya dilakukan di beberapa titik tertentu gitu.
[25:01]Tapi kalau sekarang semakin majunya zaman, semuanya bisa belajar dari manapun dan yang berhasil juga lumayan banyak. Otomatis stok itu meningkat, kemudian sementara kebutuhan mungkin cenderung stack atau tetap gitu ya, Pak, ya. Jadi hukum pasar ketika ketersediaan melimpah tapi serapannya sedikit, harga biasanya akan murah. Murah itu. Jadi ketika harga murah itu kalau kita mau berbicara siapa yang paling layak untuk disalahkan ini siapa ini, Pak? Ya, justru aja ya, di sini saya enggak mau menyalahkan siapa-siapa. Yang jelas di sini saya hanya kita belajar lah dengan petani, Nggih. Di sini kita hanya menyampaikan beberapa dengan petani dalam arti yang namanya pertanian holtikultura khususnya di tanaman cabe kan tidak hanya satu tempat yang bisa, Mas.
[25:58]Misalkan saya di Sleman, yang namanya nananam cabe itu kan enggak cuma orang Sleman aja yang bisa. Sekarang di berbagai wilayah, berbagai titik, sekarang yang namanya cabe itu viral. Berbagai daerah pun dari Sabang sampai Merauke sudah bisa nananam cabe. Bondong-bondong nananam cabe, bondong-bondong nananam cabe. Jadi tidak hanya daerah satu daerah aja. Sekarang pun sentral pun sudah enggak bisa untuk patokan, misalkan Jawa Timur yang katanya sentral cabe atau Jawa Tengah. Sekarang pun tidak bisa untuk jadi patokan. Karena sekarang sudah meratalah kalau untuk holtikultura ya, khususnya tanaman cabe, saya pikir itu untuk Sabang sampai Merauke itu sudah merata, semuanya sudah bisa menanam. Gitu, jadi pemilihan komoditas itu menjadi sangat penting karena saat ini sepertinya tidak ada sentralisasi. Kalau dulu mungkin berbudidaya tanaman cabe itu hanya dilakukan di beberapa titik tertentu gitu.
[27:03]Tapi kalau sekarang semakin majunya zaman, semuanya bisa belajar dari manapun dan yang berhasil juga lumayan banyak. Otomatis stok itu meningkat, kemudian sementara kebutuhan mungkin cenderung stack atau tetap gitu ya, Pak, ya. Jadi hukum pasar ketika ketersediaan melimpah tapi serapannya sedikit, harga biasanya akan murah. Murah itu. Jadi ketika harga murah itu kalau kita mau berbicara siapa yang paling layak untuk disalahkan ini siapa ini, Pak? Ya, justru aja ya, di sini saya enggak mau menyalahkan siapa-siapa. Yang jelas di sini saya hanya kita belajar lah dengan petani, Nggih. Di sini kita hanya menyampaikan beberapa dengan petani dalam arti yang namanya pertanian holtikultura khususnya di tanaman cabe kan tidak hanya satu tempat yang bisa, Mas.
[28:00]Misalkan saya di Sleman, yang namanya nananam cabe itu kan enggak cuma orang Sleman aja yang bisa. Sekarang di berbagai wilayah, berbagai titik, sekarang yang namanya cabe itu viral. Berbagai daerah pun dari Sabang sampai Merauke sudah bisa nananam cabe. Bondong-bondong nananam cabe, bondong-bondong nananam cabe. Jadi tidak hanya daerah satu daerah aja. Sekarang pun sentral pun sudah enggak bisa untuk patokan, misalkan Jawa Timur yang katanya sentral cabe atau Jawa Tengah. Sekarang pun tidak bisa untuk jadi patokan. Karena sekarang sudah meratalah kalau untuk holtikultura ya, khususnya tanaman cabe, saya pikir itu untuk Sabang sampai Merauke itu sudah merata, semuanya sudah bisa menanam. Gitu, jadi pemilihan komoditas itu menjadi sangat penting karena saat ini sepertinya tidak ada sentralisasi. Kalau dulu mungkin berbudidaya tanaman cabe itu hanya dilakukan di beberapa titik tertentu gitu.
[29:05]Tapi kalau sekarang semakin majunya zaman, semuanya bisa belajar dari manapun dan yang berhasil juga lumayan banyak. Otomatis stok itu meningkat, kemudian sementara kebutuhan mungkin cenderung stack atau tetap gitu ya, Pak, ya. Jadi hukum pasar ketika ketersediaan melimpah tapi serapannya sedikit, harga biasanya akan murah. Murah itu. Jadi ketika harga murah itu kalau kita mau berbicara siapa yang paling layak untuk disalahkan ini siapa ini, Pak? Ya, justru aja ya, di sini saya enggak mau menyalahkan siapa-siapa. Yang jelas di sini saya hanya kita belajar lah dengan petani, Nggih. Di sini kita hanya menyampaikan beberapa dengan petani dalam arti yang namanya pertanian holtikultura khususnya di tanaman cabe kan tidak hanya satu tempat yang bisa, Mas.
[30:03]Misalkan saya di Sleman, yang namanya nananam cabe itu kan enggak cuma orang Sleman aja yang bisa. Sekarang di berbagai wilayah, berbagai titik, sekarang yang namanya cabe itu viral. Berbagai daerah pun dari Sabang sampai Merauke sudah bisa nananam cabe. Bondong-bondong nananam cabe, bondong-bondong nananam cabe. Jadi tidak hanya daerah satu daerah aja. Sekarang pun sentral pun sudah enggak bisa untuk patokan, misalkan Jawa Timur yang katanya sentral cabe atau Jawa Tengah. Sekarang pun tidak bisa untuk jadi patokan. Karena sekarang sudah meratalah kalau untuk holtikultura ya, khususnya tanaman cabe, saya pikir itu untuk Sabang sampai Merauke itu sudah merata, semuanya sudah bisa menanam. Gitu, jadi pemilihan komoditas itu menjadi sangat penting karena saat ini sepertinya tidak ada sentralisasi. Kalau dulu mungkin berbudidaya tanaman cabe itu hanya dilakukan di beberapa titik tertentu gitu.
[31:08]Tapi kalau sekarang semakin majunya zaman, semuanya bisa belajar dari manapun dan yang berhasil juga lumayan banyak. Otomatis stok itu meningkat, kemudian sementara kebutuhan mungkin cenderung stack atau tetap gitu ya, Pak, ya. Jadi hukum pasar ketika ketersediaan melimpah tapi serapannya sedikit, harga biasanya akan murah. Murah itu. Jadi ketika harga murah itu kalau kita mau berbicara siapa yang paling layak untuk disalahkan ini siapa ini, Pak? Ya, justru aja ya, di sini saya enggak mau menyalahkan siapa-siapa. Yang jelas di sini saya hanya kita belajar lah dengan petani, Nggih. Di sini kita hanya menyampaikan beberapa dengan petani dalam arti yang namanya pertanian holtikultura khususnya di tanaman cabe kan tidak hanya satu tempat yang bisa, Mas.
[32:05]Misalkan saya di Sleman, yang namanya nananam cabe itu kan enggak cuma orang Sleman aja yang bisa. Sekarang di berbagai wilayah, berbagai titik, sekarang yang namanya cabe itu viral. Berbagai daerah pun dari Sabang sampai Merauke sudah bisa nananam cabe. Bondong-bondong nananam cabe, bondong-bondong nananam cabe. Jadi tidak hanya daerah satu daerah aja. Sekarang pun sentral pun sudah enggak bisa untuk patokan, misalkan Jawa Timur yang katanya sentral cabe atau Jawa Tengah. Sekarang pun tidak bisa untuk jadi patokan. Karena sekarang sudah meratalah kalau untuk holtikultura ya, khususnya tanaman cabe, saya pikir itu untuk Sabang sampai Merauke itu sudah merata, semuanya sudah bisa menanam. Gitu, jadi pemilihan komoditas itu menjadi sangat penting karena saat ini sepertinya tidak ada sentralisasi. Kalau dulu mungkin berbudidaya tanaman cabe itu hanya dilakukan di beberapa titik tertentu gitu.
[33:10]Tapi kalau sekarang semakin majunya zaman, semuanya bisa belajar dari manapun dan yang berhasil juga lumayan banyak. Otomatis stok itu meningkat, kemudian sementara kebutuhan mungkin cenderung stack atau tetap gitu ya, Pak, ya. Jadi hukum pasar ketika ketersediaan melimpah tapi serapannya sedikit, harga biasanya akan murah. Murah itu. Jadi ketika harga murah itu kalau kita mau berbicara siapa yang paling layak untuk disalahkan ini siapa ini, Pak? Ya, justru aja ya, di sini saya enggak mau menyalahkan siapa-siapa. Yang jelas di sini saya hanya kita belajar lah dengan petani, Nggih. Di sini kita hanya menyampaikan beberapa dengan petani dalam arti yang namanya pertanian holtikultura khususnya di tanaman cabe kan tidak hanya satu tempat yang bisa, Mas.
[34:07]Misalkan saya di Sleman, yang namanya nananam cabe itu kan enggak cuma orang Sleman aja yang bisa. Sekarang di berbagai wilayah, berbagai titik, sekarang yang namanya cabe itu viral. Berbagai daerah pun dari Sabang sampai Merauke sudah bisa nananam cabe. Bondong-bondong nananam cabe, bondong-bondong nananam cabe. Jadi tidak hanya daerah satu daerah aja. Sekarang pun sentral pun sudah enggak bisa untuk patokan, misalkan Jawa Timur yang katanya sentral cabe atau Jawa Tengah. Sekarang pun tidak bisa untuk jadi patokan. Karena sekarang sudah meratalah kalau untuk holtikultura ya, khususnya tanaman cabe, saya pikir itu untuk Sabang sampai Merauke itu sudah merata, semuanya sudah bisa menanam.


![Thumbnail for 2016 서울패션위크에서 YG모델 이호정을 만나다! [oh Hot] - KoonTV by 최군TV funny](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fimg.youtube.com%2Fvi%2FSqHgAly3Ajc%2Fhqdefault.jpg&w=3840&q=75)
