Thumbnail for ALAMING LELEMBUT 007 Menguak Misteri Alas Kethu Wonogiri yang Wingit dan Angker by poskita tv

ALAMING LELEMBUT 007 Menguak Misteri Alas Kethu Wonogiri yang Wingit dan Angker

poskita tv

11m 2s788 words~4 min read
Auto-Generated

[0:00]Cerita alaming lelembut.

[0:22]Kisah mistis Alas Ketu.

[0:27]Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Alas Ketu, hutan yang membentang di wilayah Kelurahan Giriwoyo, Kecamatan Wonogiri. Terdapat jalan sunyi yang membelah kawasan dengan berhawa dingin menambah rasa mistis dan keangkeran alas ketu. Alas Ketu sudah dikenal sebagai kawasan yang wingit, angker, dan ada penunggunya. Dia adalah siluman ular yang sering menampakkan diri di Alas Ketu. Bagi warga Desa Wonokerto yang kerap melintasinya, jalan ini menyimpan sejuta cerita mistis. Banyak saksi mata yang mengaku pernah melihat sosok-sosok tak kasat mata yang bersemayam dan menghuni di Alas Ketu. Di sana penunggu dari dunia yang tak terlihat, dunia lelembut, sangat kental dengan cerita Alas Ketu Wonogiri. Alas Ketu dikenal angker, begitu kata Suyanto. Dia adalah Kepala Desa Wonokerto. Suyanto mengisahkan pengalamannya yang sejak kecil sudah sering menyusuri lebatnya hutan ini bersama sang ayah.

[2:14]Dalam diam, hutan ini berbisik tentang masa lalunya yang terlupakan, tentang penunggu yang masih menjaga kedamaian tempat ini. Kata Suyanto, ada beberapa titik-titik yang wingit. Tak jarang ada yang melihat sesosok sesepuh penunggu Alas Ketu, sosok yang dikenal dengan nama Mbah Kentung atau Kiai Kentung, penunggu Alas Ketu.

[2:54]Dia adalah makhluk gaib yang sering muncul di tengah-tengah hutan. Di jalan yang membelah Alas Ketu dan tak jarang juga terlihat ular-ular menyeberang. Pertanda bahwa ada sesuatu yang tak biasa di sana. Itu diungkapkan oleh Suyanto, Kepala Desa. Suaranya seperti terselubung rahasia. Masih ada beberapa yang ingin diceritakan oleh Suyanto ini. Suyanto sendiri pernah mengalami pengalaman-pengalaman pribadi dan pengalaman yang tak pernah mudah dilupakan. Dia bercerita, suatu malam entah mengapa hatinya tergugah, tiba-tiba ingin keluar rumah dan saat itu sudah menunjukkan pukul 01.00 malam dini hari. Dia mengeluarkan sepeda motornya, dan dia keluar, menaiki sepeda motornya. Sepeda motornya menderu pelan-pelan di jalan lenggang yang membelah Alas Ketu yang gelap. Di tengah kegelapan, tiba-tiba muncullah melintas seekor ular kecil berjalan di depannya, seolah-olah memberi isyarat kepada Suyanto. Namun ketika ia maju sedikit demi sedikit, tiba-tiba seekor ular besar muncul, bergerak pelan dan menyeberang jalan dengan angunnya. Lalu Suyanto tiba-tiba berkata dan mendesah, saat itu saya merasa aneh, seperti ada dorongan kuat untuk keluar rumah. Ternyata ada kejadian seperti ini. Ketika Suyanto melihat ular besar itu, dia hanya diam, seakan-akan paham ini adalah pertanda dari dunia lain. Dan Suyanto mengenang peristiwa yang sangat menakutkan itu dan itu diceritakan kepada keluarganya. Pertemuan dengan sosok gaib di perjalanan itu. Cerita lain yang lebih mencekam juga dialami oleh Pak Suyanto si Kepala Desa ini. Ketika dia sedang berziarah ke Masjid Demak, Masjid Agung Demak, seusai berdoa di makam, ia menaiki angkutan umum menuju Semarang. Tiba-tiba di tengah malam yang sunyi, ada seorang asing duduk di sampingnya. Wajahnya terlihat biasa, tetapi mata kirinya cacat. Dalam percakapan yang aneh itu, orang itu bertanya, "Pak, mengapa tidak berziarah ke makam Kyai Ageng Ketu?"

[6:44]Dan Nyai Ageng Ketu sesepuh Wonogiri yang dulu membantu berdirinya Kerajaan Demak. Jadi, Kiai Ageng Ketu dan Nyai Ageng Ketu adalah dua tokoh yang membantu berdirinya Kerajaan Demak. Suyanto tak mengenal nama tersebut, namun dalam hatinya merasa kejanggalan yang dalam. Setelah berbicara cukup lama, mendadak ia tertidur dan ketika terbangun, orang asing itu telah menghilang tanpa jejak. Kata Suyanto, saya masih ingat kata-katanya. Seolah-olah Kiai Ageng Ketu dan Nyai Ageng Ketu masih memiliki ikatan dengan Alas Ketu," ungkapnya, "Mungkin." Dan dia masih merasa heran dengan pertemuan aneh itu. Suyanto percaya bahwa Kiai Ketung, sesepuh gaib penjaga Alas Ketu, memiliki hubungan erat dengan Kiai Ageng Ketu. Penampakannya selalu singkat seperti kilatan bayangan di malam hari yang gelap itu. Dulu ketika ia menampakkan diri hanya sekejap, pakaiannya yang serba hitam, dan ia selalu tersenyum, seolah-olah memahami segala sesuatu, dan itu yang dialami oleh Suyanto. Dia menggambarkan sosok penunggu Alas Ketu yang gaib, yang sakral dan sangat wingit. Ada juga kisah mistis di Jembatan Timang yang tak jauh dari Alas Ketu. Tepatnya Jembatan Timang. Suyanto kembali menceritakan mengalami hal-hal mistis yang berhubungan dengan Alas Ketu tersebut. Dia bercerita, saat saya melintas dengan motor, tiba-tiba rasanya ada yang membonceng di belakang saya. Motor saya jadi terasa berat, tapi ketika saya turun di sekitar Jembatan Timang itu, tiba-tiba beban itu hilang. Rasanya ringan kembali seperti sosok yang membonceng tadi lenyap begitu saja. Itu cerita Suyanto dengan nada serius. Kisah-kisah misteri juga dialami oleh beberapa warga. Kisah serupa sering terdengar juga dari cerita warga di sekitar Alas Ketu. Dahulu sebelum Jembatan Timang dibangun pada tahun 1998, warga hanya bisa menyeberang sungai dengan perahu. Tak jarang perahu-perahu itu dihantui oleh penampakan makhluk-makhluk gaib terutama saat malam menjelang. Jika malam terlalu gelap dan tak ada perahu, warga sering terpaksa bermalam di pinggir sungai. Di mana penampakan makhluk-makhluk halus seringkali muncul mengintai dari dalam kegelapan. Alas Ketu memang menyimpan cerita-cerita dari dunia lain, dunia yang tak selalu terlihat, namun selalu hadir menunggu untuk diungkap. Demikian cerita Alamin lelembut.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript