Thumbnail for PENDIDIKAN ETIKA DIGITAL ISLAMI by Alif Lukmanul Hakim, M. Phil

PENDIDIKAN ETIKA DIGITAL ISLAMI

Alif Lukmanul Hakim, M. Phil

7m 51s974 words~5 min read
Auto-Generated

[0:10]Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil alamin washolatu wassalamu ala asrofil ambiya wal mursalin sayyidina wa maulana Muhammadin wa ala alihi wasohbihi wa barik wasalim ajmain. Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad. Rabbi shrohli shodri wayasirli amri wahlul uqdatam milisani yafqohu qauli amaba'du. Para pemirsa sekalian, pemirsa channel YouTube Ali Rohmanul Hakim MPIL yang saya hormati dan banggakan. Kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah subhanahu wa taala karena masih diberikan kesempatan untuk dapat bertatap muka dalam tema-tema yang kita bahas dalam dakwah Islamiyah saya. Pada kesempatan kali ini kita sangat bersyukur karena masih diberikan kesehatan, kebaikan dalam setiap kondisi. Terutama nikmat iman dan Islam, kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat karena insyaallah dan juga selawat dan salam tidak lupa kita selalu haturkan kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Dan semoga kita semua mendapatkan syafaat beliau fid dunya hatta akhirah Allahumma amin. Pemirsa sekalian, kita pada kesempatan kali ini akan memperdalam pembahasan kita yang telah lalu dengan sebuah tema yang sangat update sekali tentang pendidikan etika digital Islami. Kita punya tanggung jawab lisan dan digital dalam kehidupan kita di dunia ini. Sebagaimana Rasulullah pernah menyampaikan, yang selalu saya sampaikan secara berulang-ulang, innama buistu li utammima makarimal akhlak. Aku, kata Rasulullah, tidak lain dan tidak bukan diutus di dunia ini adalah untuk menyempurnakan akhlak, untuk menghadirkan akhlak yang mulia. Dalam Quran surat Qaf ayat 18, Allah subhanahu wa taala berfirman. Auzubillahiminasyaitonirojim. Bismillahirrahmanirrahim. Ma yalfidzu min qauli illa ladaihi roqibun atid, ya. Bahwa kita dalam keseharian kita, dalam banyak hal yang kita lakukan, dalam perkataan yang kita ucapkan ya, dalam sebanyak-banyaknya tangan kita berbuat dan bertindak ya. Tubuh kita ini bergerak dan melakukan apapun, di tangan kanan kita dan tangan kiri kita itu ada malaikat Allah yang selalu mengawasi kita, yaitu malaikat Raqib dan Atid. Jadi segala hal yang kita lakukan itu ada pengawasnya, ada yang mencatatnya dan itu akan terlaporkan untuk kemudian akan dipertanggungjawabkan kelak di Yaumul Mahsyar ya. Nah, oleh karena itu, apa yang bisa kita lihat terutama larangan dari Allah untuk menyebarkan kebohongan, untuk menyebarkan berita bohong, untuk menyebarkan fitnah, untuk menyebarkan pembunuhan karakter dan sebagainya. Terutama di lingkungan kampus secara akademik ya. Oleh karena itu, larangan menyebarkan hoaks ya, hoaks dan juga berita bohong, mengujarkan kebencian dan juga fitnah itu adalah bagian dari bagaimana kita mendapatkan pendidikan digital yang Islami. Para dosen sebagai pengajar dan pendidik perlu selalu mengingatkan diri pribadi khususnya dan juga mahasiswa serta civitas akademika kampus secara umum. Untuk kemudian paham tentang bagaimana kita menolak untuk tidak menerima berita bohong, untuk tidak termakan berita bohong, untuk menyebarkan hal-hal baik, untuk tidak menyebarkan fitnah dan sebagainya. Dalam Quran surat Al-Hujurat ayat 6, Allah subhanahu wa taala berfirman, Auzubillahiminasyaitonirojim. Bismillahirrahmanirrahim. Ya ayyuhalladzina amanu jaakum fasiq biin fatabayyanu ya. yang artinya, hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kamu orang-orang fasik atau berita kabar dari orang-orang fasik, makanya kamu segeralah melakukan tabayun atau klarifikasi. Jadi, ketika kita menerima berita bohong, fitnah, dan sebagainya, kita harus segera mengklarifikasi dengan mengecek berita tersebut, baik secara tidak langsung dengan mencari situsnya, apakah benar atau tidak, sumbernya benar atau tidak, dan kemudian juga meng-cross check kepada orangnya ya, atau kepada institusinya, dan sebagainya. Jadi kita harus membiasakan diri untuk melakukan tabayun atau klarifikasi. Karena jangan-jangan ya, ini bagi mereka yang sering melakukan perbuatan bohong, menyebarkan berita bohong, menjelek-jelekkan, memfitnah ya, menghasut, dan sebagainya. Jangan-jangan kelompok atau orang yang mereka jelekkan, mereka hasut ya, dengan berita bohong dan sebagainya, itu lebih baik dari mereka sendiri. Ini juga adalah Quran surat Al-Hujurat ini diselarasakan oleh Allah, sampaikan oleh Allah di sana. Nah, oleh karena itu kita harus menjadikan media digital itu sebagai ladang, ladang amal ya. Amal untuk kemudian menyebarkan kebaikan ya, menyebarkan ilmu pengetahuan di media digital, lewat YouTube, dengan dakwah Islamiyah yang moderat dan menyejukkan ya. Daya lewat Instagram, lewat Reels, lewat TikTok, lewat Facebook ya. Platform-platform digital yang lain itu kita gunakan sebagai sarana edukasi pendidikan digital yang Islami yaitu mana? Yaitu kita menghadirkan sebuah platform digital yang sehat ya, yang mengedukasi untuk kemudian masyarakat banyak mendapati informasi-informasi yang baik dan benar. Mendapati sangat keilmuan terkait tema-tema agama yang kuat ya, Kiai, Ustaz yang hadir itu harus betul-betul paham etika digital, paham tentang bagaimana sanad keilmuan yang baik itu perlu, yang kuat itu perlu. Bukan hanya mengajarkan apa yang sudah diketahui dalam versi dirinya saja, tapi betul-betul dia sudah belajar sangat lama dan mumpuni pada Kiai atau Ustaz yang jelas. Jadi jelas ngajinya ke siapa ya, jelas belajar agamanya ke siapa, gurunya siapa, guru dari gurunya siapa, itu adalah upaya untuk membangun sanad keilmuan yang kuat. Sehingga akan mengurangi dan meminimalisasi dampak berita bohong serta ujaran kebencian dan fitnah. Nah, oleh karena itu kita bisa mengatakan sebagaimana hadis Nabi ya, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau lebih baik diam, au liyasqutu seperti itu. Apa maksudnya? Di media sosial kita harus ingat ada teori tentang deret hitung dan deret ukur. Ya, deret hitung itu kan 1 2 3 4 5 6 dan seterusnya. Deret ukur atau deret Malthus itu adalah 2 ya, 4, 8, 16 ya, 32, 64 dan seterusnya. Dan kita itu dapat pahami bahwa membagikan hal baik di media sosial itu adalah akan banyak yang lebih mengetahui hal baik tersebut. Jadi dampak positifnya lebih banyak, tapi membagikan hal buruk atau memberitakan sebuah hal sebagai hal yang buruk dan sebagainya, itu akan mendapatkan memberikan dampak yang buruk juga karena akan banyak orang yang tahu hal buruk tentang seseorang padahal tidak benar, fitnah padahal tidak benar. Nah, menanamkan pendidikan digital yang Islami ini dengan kemudian mengedepankan tentang tabayun atau klarifikasi, menggunakan secara beretika, berakhlakul karimah itu menjadi bagian dari tanggung jawab kita bersama. Terima kasih atas perhatiannya, mohon maaf atas segala kekurangan. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript