[0:03]Dinasti Ayubiyah atau Bani Ayubiyah adalah dinasti Islam Sunni keturunan etnis Kurdi yang pernah berkuasa sejak abad ke-12. Pada masa kejayaannya, dinasti yang pemerintahannya berpusat di Mesir ini pernah menguasai hampir seluruh wilayah Timur Tengah. Pendiri Dinasti Ayubiyah adalah Salahuddin Al-Ayyubi yang sebelumnya menjadi wazir atau setara Perdana Menteri di bawah Dinasti Fatimiyah. Dinasti Ayubiyah berkuasa selama kurang lebih 1 abad hingga pertengahan abad ke-13. Bagaimana sejarah Dinasti Ayubiyah? Mari kita bahas bersama Sejajar Arah.
[1:17]Pada pertengahan abad ke-12, Dinasti Fatimiyah semakin melemah karena beberapa faktor. Salah satunya disebabkan oleh permasalahan internal khususnya perebutan posisi wazir. Wazir adalah seorang penasihat atau menteri berkedudukan tinggi yang biasanya ditemukan dalam sistem monarki Islam. Selain itu, serangan pasukan salib ke Mesir juga menjadi salah satu penyebab melemahnya Dinasti Fatimiyah. Pada tahun 1164 Masehi, Salahuddin Al-Ayyubi dan pamannya yang bernama Syirkuh dikirim oleh penguasa Damaskus yaitu Nuruddin Zanki ke Mesir untuk membantu Dinasti Fatimiyah melawan serangan pasukan salib. Dalam pertempuran itu, pasukan Salahuddin dan Syirkuh berhasil mempertahankan Mesir setelah mengalahkan pasukan salib. Menyusul keberhasilan itu, Syirkuh diangkat sebagai wazir atau setara Perdana Menteri di Mesir pada tahun 1169 Masehi. Namun ia hanya menjabat selama 2 bulan karena ia meninggal dunia. Jabatan Wazir Mesir kemudian digantikan oleh Salahuddin Al-Ayyubi yang memiliki ambisi menggantikan Islam Syiah Dinasti Fatimiyah di Mesir dengan Islam Sunni dan memerangi orang-orang perangkal dalam perang salib. Karena posisi Dinasti Fatimiyah semakin melemah, Salahuddin Al-Ayyubi pun mampu menggantikannya dengan Dinasti Ayubiyah yang didirikannya pada tahun 1171 Masehi. Dinasti Ayubiyah telah mengalami perkembangan pesat sejak didirikan oleh Salahuddin Al-Ayyubi. Ambisi Salahuddin Al-Ayyubi untuk menggeser aliran Syiah dengan Islam Sunni pun tercapai. Segera setelah berkuasa, ia juga melakukan ekspansi wilayah dengan menguasai Yaman pada tahun 1174 Masehi, menguasai Suriah pada tahun 1180 Masehi, bahkan merebut Yerusalem dari tentara salib pada tahun 1187 Masehi. Tidak berhenti di situ, wilayahnya terus meluas hingga berhasil menguasai Afrika Utara, Nubia Utara, Arab Barat, Syam, Mesopotamia, Palestina, dan Transyordania. Dinasti Ayubiyah mencapai kemajuan dalam bidang ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan, kesehatan dan arsitektur. Bidang Ekonomi. Perang Salib ternyata tidak hanya menyisakan cerita tentang peperangan yang sadis, tetapi juga mampu menguatkan hubungan dagang dengan Eropa. Sejak awal, Dinasti Ayubiyah melakukan berbagai tindakan untuk meningkatkan produksi pertanian. Pada akhirnya, berbagai jenis tanaman produksinya mampu menyebar ke Eropa. Industri dan perdagangan Dinasti Ayubiyah pun menjadi semakin kuat karena ketertarikan bangsa Eropa terhadap barang-barang baru yang ditawarkan oleh pedagang-pedagang muslim. Selain hasil pertanian, berbagai kerajinan tangan seperti kaca, tembikar, dan perbandani juga bernilai tinggi di Eropa. Kemakmuran ekonomi Ayubiyah masih berlangsung hingga pemerintahan Al-Kamil yang berkuasa antara tahun 1218 sampai tahun 1238 Masehi yang dikenal sangat memperhatikan kondisi ekonomi negara. Bidang Pendidikan. Kemajuan pendidikan ditandai dengan dibangunnya beberapa madrasah di Aleppo, Yerusalem, Kairo, dan Iskandaria. Meskipun Dinasti Ayubiyah menganut teologi Sunni dan bermazhab Syafi'i, pemerintah juga membangun lembaga pendidikan untuk mazhab lain seperti Mazhab Hanafi, Mazhab Hambali, dan Mazhab Maliki. Kesejahteraan guru dan siswa juga diperhatikan oleh pemerintah. Selain dibayar, guru dan siswa diberikan fasilitas tempat tinggal berupa asrama agar kegiatan belajar mengajar semakin intens. Bidang Kesehatan. Kemajuan di bidang kesehatan dibuktikan dengan pembangunan beberapa rumah sakit dan penunjang pelayanan kesehatan di beberapa kota seperti di Damaskus dan Kairo. Selain itu, dibangun juga sekolah khusus untuk mencetak tenaga kesehatan. Bidang Arsitektur. Dari arsitektur, pencapaian terbesar Dinasti Ayubiyah adalah pembangunan benteng-benteng ditambah dengan sejumlah madrasah Sunni. Pembangunan yang dilakukan difokuskan di Mesir dan Suriah. Ketika Salahuddin berkuasa, ia membangun tembok kota untuk menutup Kairo. Pada tahun 1183 Masehi, Salahuddin Al-Ayyubi juga membangun benteng di Kairo yang diselesaikan oleh Al-Kamil. Beberapa bangunan yang pernah didirikan pada masa Dinasti Ayubiyah adalah Benteng Salahuddin di Kairo pada tahun 1187 Masehi, Benteng Aleppo, Madrasah Jahiriah pada tahun 1219 Masehi di Aleppo, Madrasah Al-Sahiba di Damaskus pada tahun 1233, dan Madrasah Asali pada tahun 1243 di Kairo. Selain itu, Masjid Al Firdaus di Aleppo juga menjadi salah satu bentuk kemajuan arsitektur Dinasti Ayubiyah. Keruntuhan Ayubiyah. Selama berkuasa, Dinasti Ayubiyah sangat bergantung kepada Mamuk yaitu tentara budak untuk menangani urusan militernya. Sayangnya, runtuhnya dinasti ini sebagian besar disebabkan oleh para Mamuk dari Turki sendiri. Runtuhnya Dinasti Ayubiyah dimulai pada masa pemerintahan Sultan As-Salih yang berkuasa antara tahun 1240 Masehi sampai tahun 1249 Masehi. Pada masa ini, para Mamuk telah memegang kendali atas pemerintahan. Setelah Sultan As-Salih meninggal pada tahun 1249 Masehi, bangsa Mamuk mengangkat istri mendiang Sultan Syajarat Ad-Dur sebagai pemimpin Ayubiyah. Pengangkatan Syajarat Ad-Dur menandai berakhirnya kekuasaan Dinasti Ayubiyah di Mesir dan berdirinya Dinasti Mamuk yang berdiri dari tahun 1250 sampai tahun 1517 Masehi.



