[0:00]Salam budaya. Selamat datang di Theater Koma Pentas di Sanggar. Upaya untuk tetap berkarya dalam masa pandemi, bagian dari Digitalisasi Koma. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Bakti Budaya Djarum Foundation, Bank Central Asia, dan PAC Martha Tilaar yang telah mendukung terwujudnya acara ini juga kepada Anda sekalian. Pentas kali ini berjudul Sekadar Imajinasi, karya dan sutradara Rangga Riantiarno. Pertunjukan dibuka dengan sebuah pengadilan, terhadap seseorang yang dituduh telah mengakibatkan kemalangan terhadap banyak orang. Tapi, apakah pengadilan itu nyata? Selamat menyaksikan.
[1:13]sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi
[1:31]sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi
[1:49]sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi
[3:16]Hakim memasuki ruang sidang. Hadirin harap berdiri.
[3:49]Hadirin dipersilakan duduk.
[3:59]Ehem. Sidang pengadilan negeri blablabla yang memeriksa perkara pidana nomor 1.. 2.. 3.. 4.. 5.. Atas nama, bloblobloblo pada hari Minggu tanggal 32, bulan 13 dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum. Dok dok dok dok dok! Yang Mulia. / Hmm? Palunya. / Hoo.. Maaf, maaf, maaf!
[4:39]Sidang dibuka dan terbuka untuk umum!
[4:49]Bawa masuk terdakwa! Itu Yang Mulia. / Haa.. Ooohoo.. Sudah di sini rupanya. Terdakwa, apakah Anda sudah tahu apa saja kesalahan Anda?
[5:08]Loh? Kenapa tidak dijawab?
[5:13]Heh! / Duduk!
[5:19]Anda, bertanya kepada saya? Yang Mulia. Yang Mulia, bertanya kepada saya? Memangnya ada orang lain di sini? Apakah Anda sudah tahu, apa kesalahan Anda?
[5:39]Kesalahan apa? Ya sudah kalau begitu. Kita mulai lagi, pelan-pelan. Apakah terdakwa kenal kepada Mulyono Niman?
[6:01]Iya, dia itu.. Mati bunuh diri.
[6:09]Saksi silakan masuk.
[6:36]Setelah di-PHK dari kantor demi penghematan biaya operasional dalam masa pandemi. Saya bingung cara menghidupi anak dan istri. Akhirnya, keputusan yang saya ambil adalah bunuh diri, agar keluarga saya bisa mendapatkan uang asuransi. Siapa penyebabnya?
[7:17]Siapa penyebabnya?
[7:23]Saya, tapi itu kan.. / Apakah Anda tahu, apa yang terjadi pada anak dan istrinya?
[7:33]Saya tahu, soalnya saya yang.. / Uang asuransi habis terpakai. Anak saya tumbuh tanpa bapak, jadi remaja nakal dan ikutan geng. Kerjaannya merampok.
[7:47]Hingga akhirnya mati tertembak aparat. Istri saya kehilangan suami dan anaknya. Akhirnya, tidak kuat lagi. Bunuh diri juga. Siapa penyebabnya?
[8:09]Terima kasih. Saksi, boleh kembali ke asalnya.
[8:27]Terdakwa, apakah Anda mengakui penyebab kemalangan yang menimpa saksi Mulyono Niman, adalah kesalahan terdakwa? Tapi itu kan.. / Mengakui atau tidak? Mengakui atau tidak?
[8:52]Mengakui.. Yang Mulia. Mengakui Yang Mulia.
[9:02]Baiklah. Kalau begitu kita lanjutkan. Apakah, terdakwa kenal Samil Erlando?
[9:19]Tahu.. Tahu sekali. Soalnya saya yang.. / Dia mati karena sakit. Tahu apa penyebabnya?
[9:33]Saya.. Saudara saksi, dipersilakan masuk.
[9:59]Setelah di-PHK dari kantor demi penghematan biaya operasional dalam masa pandemi. Saya bingung
[18:25]Toh hidup mati mereka tidak ada hubungannya dengan kita. Hanya angka statistik saja. Hitam di atas putih. Hee.. Sudahlah. Jangan bicara sembarangan. Jangan menghina pengadilan. / Mana mungkin, tokoh-tokoh fiktif bisa muncul dalam pengadilan dunia nyata. Saksi silakan masuk.
[19:05]Terbang langsung, lupakan mereka. / Bagaimana caranya? Tiru saja suamimu. sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi
[12:56]Sudah satu bulan ini, dia tidak mau keluar rumah. Untungnya, kamu masih mau datang ke sini. Mulyono Niman, adalah tokoh yang saya tulis, dalam novel saya, Laskar Pelakor. Dan, Samil Erlando, adalah tokoh yang saya tulis, dalam novel saya juga, Bumi Manuskrip.
[16:34]Mungkin dalam dunianya, meskipun sudah dijadikan tokoh imajiner, mereka masih bisa menuntut penulis, kalau mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Ya sudah kalau begitu. Kita mulai lagi, pelan-pelan.
[10:23]Hee.. Pekerjaan Anda bikin mati orang! / Bukan! Saya penulis. Penulis apa? Penulis novel. sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi
[11:30]Perbedaan fiktif, / Terdakwa harus dihukum. Pengadilan fiktif. / Terdakwa harus dihukum. Pengadilan fiktif. / Terdakwa harus dihukum. Pengadilan fiktif. / Pengadilan fiktif. sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi
[13:42]Dua bulan, singkat itu. Di pengadilan, dia mengaku mengambil dana bantuan sosial, sebanyak 1 triliun. sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi
[10:36]Apa hubungan pekerjaan Anda, dengan nasib yang menimpa, saksi Mulyono dan saksi Samil? Memangnya ada orang lain di sini?
[13:52]Padahal, aku juga tahu, dia hanya mendapatkan 100 miliar. Coba, 900 miliar-nya kemana? sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi
[15:54]Mendadak, dia merasa dirinya adalah seorang penulis novel. Dia menganggap orang-orang yang mati akibat tindak pidana korupsinya di masa lalu, adalah tokoh-tokoh dalam novel karangannya. Loh! / Heh! Ini apa-apaan sih? Itu bukannya orang yang sama dengan yang tadi? Ooo..
[14:04]Kami semua yang di kantor, tidak akan pernah melupakan jasa suamimu. Dia bersedia jadi tumbal. Untuk melindungi aku, dan teman-teman yang lain. / Teman-teman.. sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi
[17:00]Aha ha ha ha... Cerita fantasi macam apa itu? Aha ha ha... Padahal, aku juga tahu, dia hanya mendapatkan 100 miliar. Coba, 900 miliar-nya kemana? Kalian ingin mempermainkan saya ya? Mentang-mentang kalian tahu, apa pekerjaan saya.
[21:05]sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi Kapan ya, aku terakhir berkunjung ke sini? Lima tahun lalu, pesta ulang tahunnya.
[21:23]sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi Yang penting, hati kita damai. / Oh, begitu?!
[20:43]sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi Entahlah. Barangkali, itu cita-citanya dulu. Tapi yang jelas, suatu hari, entah kapan. Kami semua yang di kantor, tidak akan pernah melupakan jasa suamimu. Dia bersedia jadi tumbal. Untuk melindungi aku, dan teman-teman yang lain. / Teman-teman.. Kapan ya, aku terakhir berkunjung ke sini? Lima tahun lalu, pesta ulang tahunnya.
[21:23]sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi 2 minggu sebelum dia diberhentikan secara tidak hormat, dari jabatannya di kementerian. Lalu dia ditangkap dan diadili, karena tindak pidana korupsi.
[16:34]Mungkin dalam dunianya, meskipun sudah dijadikan tokoh imajiner, mereka masih bisa menuntut penulis, kalau mendapatkan perlakuan yang tidak adil.
[19:22]Tidak ada salahnya membohongi diri sendiri. Yang penting, hati kita damai. / Oh, begitu?!
[20:43]sekadar imajinasi, sekadar imajinasi sekadar imajinasi, sekadar imajinasi Tapi mereka manusia nyata, yang pernah hidup. / Tidak masalah. Toh hidup mati mereka tidak ada hubungannya dengan kita. Hanya angka statistik saja. Hitam di atas putih. Lantas, suamimu mau diapakan? Aku sendiri sudah bingung. Entah berapa dokter dan psikiater kami datangi untuk konsultasi. Hasilnya, kamu lihat sendiri kan?
[22:27]Petugas Radhen Darwin Febri Siregar Indrie Djati Mulyono, Samil, Teman Bayu Dharmawan Saleh Sutradara Rangga Riantiarno



