[0:10]Saat ini sudah banyak perempuan yang berpendidikan dan bekerja, sepertinya mereka sudah maju. Tetapi tahukah Anda bahwa di seluruh dunia rata-rata perempuan hanya mendapat 70% dari rata-rata gaji laki-laki? Saat ini juga banyak perempuan yang bekerja di pemerintahan, parlemen, perusahaan hingga partai politik. Tetapi tahukah Anda bahwa hampir semua dari mereka itu tidak duduk di posisi pengambil keputusan? Maka melihat kenyataan ini, benarkah telah terwujud kesetaraan gender di antara perempuan dan laki-laki? Jawabnya adalah belum. Lalu mengapa masih ada kesenjangan? Kesetaraan gender tidak bisa diwujudkan hanya dengan membuka kesempatan bagi perempuan. Masalah yang menghambatnya pelik dan mendasar, ini menyangkut cara pandang dan pola pikir. Istilah gender sendiri diciptakan untuk membedakannya dari jenis kelamin secara biologis. Jenis kelamin mengacu pada kriteria fisiologis dan biologis seperti alat kelamin, hormon serta kromosom. Sementara itu gender mengacu pada konstruksi sosial atas peran, perilaku, aktivitas serta atribut yang ditentukan masyarakat dan dianggap tepat untuk jenis kelamin tertentu. Nah, dalam masyarakat patriarki, gender secara tradisional digambarkan sebagai sesuatu yang berganda dan polar. Tingkah laku dan kepatutan ditandai sebagai yang khas laki-laki dan yang khas perempuan. Ada pemisahan dan pengkutuban. Dalam masyarakat patriarki laki-laki ada di posisi atas, memimpin, pengambil keputusan. Sementara itu perempuan di bawah, mengikuti apa yang telah diatur. Di dunia kerja laki-laki adalah bos dan perempuan sekretaris. Ketika laki-laki menjadi pilot, perempuan sebatas menjadi pramugari. Posisi hierarki terutama terjadi di rumah tangga. Laki-laki ada di depan sebagai kepala keluarga, sementara perempuan di belakang. Gambaran kita tentang perempuan dan laki-laki serta apa yang seharusnya mereka lakukan adalah produk dari pandangan masyarakat di mana kita tinggal. Di sini terjadi proses yang dinamakan sebagai doing gender atau melakukan gender. Kita melakukan gender ketika menempatkan jenis kelamin sebagai dasar dan pembeda. Saat bayi lahir, hal pertama yang dilakukan dokter adalah melihat alat kelaminnya. Tindakan ini tidak ada hubungan dengan kepentingan medis, melainkan bagian dari doing gender tadi. Setelah bayi diklasifikasi, giliran orang tua melakukan doing gender. Mereka mengidentikkan bayi dengan warna-warna gender. Apa yang disebut normal adalah bayi perempuan memakai baju pink dan bayi laki-laki biru. Warna menjadi simbol sekaligus pembeda. Setiap individu selalu doing gender. Mereka selalu melakukan atau menyimpang dari performa yang diterima secara sosial atas stereotip-stereotip. Dengan melakukan gender, kita memperkuat keyakinan bahwa hanya ada dua kategori gender yang saling berlawanan dan pada dasarnya berbeda. Kita terus-menerus dievaluasi oleh orang lain dengan menggunakan parameter gender. Karena itu gender dikatakan omni relevan, yang berarti orang selalu menilai perilaku kita untuk menjadi baik laki-laki atau perempuan. Dalam interaksi individual masyarakat belajar apa yang diharapkan, melihat apa yang diharapkan serta bertindak dan beraksi dengan cara yang diharapkan. Dengan demikian secara serempak kita dikonstruksi dan dipertahankan atas perintah gender. Stereotip tentang kekhasan laki-laki dan perempuan diperkuat imaji yang muncul di media, berita, materi pendidikan dan sebagainya. Laki-laki harus memerankan hal-hal yang maskulin. Untuk kelas mapan laki-laki ideal adalah seorang bos, bekerja di kantor, memiliki rumah, mobil, istri dan dua anak, persis di iklan-iklan. Sementara bagi perempuan, mereka harus memerankan hal-hal yang feminin seperti melayani anak-anak dan suami, menjadi ibu rumah tangga, menjadi cantik. Ini juga persis dengan gambaran dalam iklan-iklan produk rumah tangga, semisal sabun cuci, bubuk masak, alat pembersih rumah tangga hingga iklan kosmetik. Feminitas dan maskulinitas sebetulnya adalah majemuk, banyak bentuknya. Apa yang didefinisikan sebagai perbedaan antara maskulin dan feminin ditentukan oleh faktor-faktor seperti etnis, agama, kelas, budaya bangsa, orientasi seksual serta berbagai faktor sosial lainnya. Apa yang dimaknai sebagai maskulinitas dan feminitas dinilai oleh kultur yang berbeda. Ekspresi serta peran maskulin dan feminin sesungguhnya merugikan semua pihak, baik laki-laki, perempuan dan juga anak-anak. Hidup kita menjadi dibelenggu keharusan-keharusan, tuntutan-tuntutan dan bukan atas dasar kebebasan dan ekspresi pribadi. Kenyataan juga menunjukkan sifat laki-laki dan perempuan tidak berada pada dua kutub yang berseberangan. Ada gradasi, pencampuran dan juga variasi. Kehadiran kelompok transgender dan interseksual misalnya, adalah realitas yang ada di masyarakat dan tidak dapat diakomodasi secara pandang patriarki. Proses melakukan gender termasuk hubungannya dengan subordinasi perempuan telah mencengkram kuat, dilegitimasi peraturan dan undang-undang, ilmu pengetahuan, kebijakan serta nilai-nilai yang diciptakan masyarakat. Norma-norma gender dan harapan-harapan yang ditegakkan melalui sanksi informal atas perilaku gender yang dianggap tidak pantas oleh kelompok, serta melalui hukuman secara formal oleh pemilik otoritas. Maka kita paham kesenjangan gender bukan akibat dari jenis kelamin, fisiologi, hormon dan kecenderungan genetik. Ketidaksetaraan gender adalah produk dari konstruksi sosial di masyarakat. Ia tidak bisa diselesaikan sebatas dengan memberi kesempatan, cara pandang kita harus berubah.
Watch on YouTube
Share
MORE TRANSCRIPTS



