[0:06]Bagaimana kepala sekolah memandu diskusi persiapan menjadi percakapan bermakna dan efektif? Mari bersama kita simak video berikut ini.
[0:32]Pada pertemuan kali ini, kita akan membahas mengenai rencana observasi kinerja dari Pak Agung dan waktu observasinya ya, Pak? Oke, Bu Ida. Minggu depan juga saya siap, Bu. Wah, semangat Pak Agung baik sekali. Oke, Pak Agung, kita mulai diskusi ya.
[0:58]Pak Agung, kali ini kita akan menetapkan area pengembangan diri Bapak yang akan menjadi fokus observasi saya ya, Pak. Apa nih yang saat ini Pak Agung ingin kembangkan? Hm. Begini, Bu Ida, saya merasa kurang sekali dalam memberikan perhatian dan dukungan sama murid, Bu. Saya cenderung cuek gitu. Ah, baik, baik. Lalu, perubahan perilaku apa yang hendak kita capai? Yang ini, Bu. Perhatian dan kepedulian. Saya sudah merenungkannya kemarin. Oke, Pak, indikator Perhatian dan Kepedulian ya. Iya, Bu. Saya hendak memulai memberikan perhatian lebih dan menghargai usaha para murid. Pada indikator ini, target perilaku apa yang ingin Bapak capai? Hmm? Mungkin Bapak coba pikirkan. Adakah situasi tertentu bersama murid yang membuat Bapak memikirkan perilaku tersebut? Ini loh, Bu. Pernah saya minta mereka mengumpulkan hasil karya mereka di depan kelas. Saya biarkan mereka taruh hasil karya mereka di meja sebelah saya. Saya sendiri lagi sibuk memperbaiki tampilan PowerPoint saya. Lalu apa yang terjadi? Iya, anak-anak bergantian taruh di depan kelas. Namun ada seorang murid menunggu saya di depan meja sampai saya mendongak dan melihat dia. Saya tanya kenapa? Murid tersebut menjawab, “Kami sudah taruh ya, Pak. Sudah gitu aja kah, Pak? Tidak ada yang Bapak mau sampaikan?” Saya tertegun dan berpikir, maksudnya apa ya?
[2:53]Lalu? Ya, setelah saya berefleksi, sepertinya mereka butuh saya hargai dan diperhatikan ketika mereka mengumpulkan hasil usaha mereka itu. Saya merasa cuek banget selama ini. Terima kasih Pak Agung sudah berbagi hasil refleksinya. Apa yang membuat ini terasa penting untuk Pak Agung? Hal ini sejalan dengan tujuan sekolah kita, Bu. Memahami anak didik secara utuh. Ah, poin yang bagus. Bisa kita sepakati area perubahan perilaku yang hendak kita capai bersama adalah ini? Ya, Bu. Saya akan berusaha lebih baik lagi dalam memperhatikan dan menghargai usaha murid-murid. Sekarang apa rencana Bapak? Saat ini ada proyek kelompok di kelas sejarah. Kita sedang membahas mengenai kerajaan kuno, Bu. Setiap kelompok memilih satu kerajaan untuk dieksplorasi dan dipresentasikan. Bentuk presentasinya disesuaikan dengan minat mereka. Boleh video, majalah dinding, atau diorama, atau portofolio. Sangat menarik. Lalu apa usaha yang akan Bapak lakukan? Minggu depan mereka akan mempresentasikan hasil kerjanya dengan membuat galeri di kelas dan menceritakan secara singkat kepada teman-teman lainnya. Pada saat persiapan, saya hendak menggunakan waktu untuk berkunjung ke masing-masing kelompok dan menyampaikan perhatian saya atas usaha mereka. Apa yang membuat Bapak berpikir bahwa strategi ini tepat untuk tujuan kita? Ya, karena saya akan mengetahui lebih jauh tentang apa yang mereka sudah lakukan dan pastinya apresiasi saya ke mereka akan lebih mengena, Bu. Apakah ada pertimbangan lain yang mungkin menjadikan strategi ini kurang tepat? Kepikiran akan menghabiskan waktu lebih banyak karena saya harus ke masing-masing kelompok padahal kan waktunya terbatas ya, Bu. Sudah terpikir alternatif strategi lain? Kalau mau singkat waktu, mungkin bisa apresiasi diberikan secara umum dulu ya, Bu. Strategi yang bagaimana ini? Mungkin saya awali dengan menyampaikan apresiasi atas usaha keras mereka di awal pembelajaran. Lalu, bagaimana dengan yang strategi pertama tadi, Pak? Itu nanti akan saya sampaikan pada saat mereka presentasi saja kali ya, Bu. Saya akan meminta mereka menjelaskan proses kerja mereka. Itu sepertinya ide yang bagus. Boleh diulang rencana Bapak? Ya, Bu. Jadi, saya akan memberikan perhatian atas usaha mereka secara umum di awal pertemuan. Lalu ketika mereka presentasi secara berkelompok, saya akan sampaikan penghargaan saya dengan mengacu pada proses kerja kelompok mereka. Bagaimana menurut Ibu? Terdengar baik dan terencana. Selanjutnya apa yang akan menjadi tindakan Pak Agung agar strategi tersebut dapat menjadi perubahan bermakna? Saya akan mempersiapkan rencana pembelajaran yang mengikutsertakan strategi ini, Bu. Baik. Kapan rencana pembelajaran ini bisa saya dapatkan? Besok ya, Bu. Oke, Pak. Kelas yang akan saya observasi yang kelas 7A atau 7B Pak Agung? Mana saja, Bu, karena berurutan jadwalnya di hari Rabu dan juga Jumat. Baik. Saya akan observasi kelas Bapak hari Jumat minggu depan di kelas 7B ya, Pak. Siap, Bu. Terima kasih ya, Bu. Bapak Ibu guru, tadi adalah contoh cara menggunakan percakapan TIRTA untuk diskusi persiapan. Selamat mencoba!



