[0:00]Hari ini gua mau bahas beberapa alasan yang gua lihat sering terjadi di orang-orang yang gagal mempertahankan posisi ataupun penjualan affiliate-nya, terutama di TikTok ya. Alasan pertama kenapa menurut gua banyak sekali orang yang gagal di dunia affiliate adalah mereka kejarnya itu viral. Percuma kalau kalian itu bisa posting konten, hari ini viral tapi besok mulai malas. Sehingga TikTok akan dalam tanda kutip menghukum akun kalian. Kesalahan kedua yang paling sering dilakukan afiliator ya adalah terlalu fokus jualan. Menurut gua makin ke sini ya, tugas dari afiliator itu bukan lagi hanya cuman fokus jualan. Tapi kalian itu juga harus bisa membangun yang namanya trust. Kesalahan ketiga yang sering dilakukan afiliator sehingga akunnya itu gagal berkembang atau anjlok ya, itu adalah segala sesuatu di afiliat-nya itu menggunakan feeling. Kayaknya gua harus jualan ini, kayaknya gua harus ngapain. Jangan, guys. Jadi sekarang itu masa afiliator yang enggak cuman pakai feeling ya, mungkin kadang teman-teman mau pakai insting kalian itu silakan gitu ya. Tapi harus juga bisa di-cross check, dengan apa? Hari ini gua mau bahas tiga alasan kenapa banyak banget afiliator TikTok yang gagal. Nah, jadi sebenarnya buat teman-teman di sini, kita sudah tahu ya kalau industri afiliator TikTok itu sudah berkembang lumayan lama. Dan yang namanya industri pasti akan ada terus orang baru yang muncul, orang lama yang gugur. Enggak beda juga sama afiliator TikTok, selama 3 tahun gua ngonten sebagai afiliator, gua sudah lihat banyak banget ya. Nama-nama baru yang naik, beberapa bulan kemudian turun, terus yang sudah bertahan lama, eh sekarang sudah enggak di ranking satu lagi digantikan oleh orang lain. Nah, hari ini gua mau bahas beberapa alasan yang gua lihat sering terjadi di orang-orang yang gagal mempertahankan posisi ataupun penjualan affiliate-nya terutama di TikTok ya. Nah, gua bakal bahas ada tiga poin ya, viral, jualan, dan feeling. Jadi, sebenarnya tiga poin ini mungkin buat teman-teman yang baca atau dengar itu merasa, wah, tiga poin ini benar nih. Padahal ini adalah tiga poin yang salah yang gua mau highlight. Jadi sebenarnya nyari viral doang salah, fokus jualan doang salah, dan baca situasi pakai feeling itu juga menurut gua salah dan menyebabkan banyak orang gagal di affiliate. Gagal bertahan di dunia afiliator. Nah, kita bakal masuk langsung aja ke poin pertama ya. Alasan pertama kenapa menurut gua banyak sekali orang yang gagal di dunia affiliate adalah mereka kejarnya itu viral doang atau viral sesaat ya. Padahal yang harus kita kejar itu adalah konsisten. Nah, konsisten ini bukan cuman sekedar konsisten posting ya. Tapi yang gua maksud itu adalah konsistensi ya, dari segi traffic dan konsistensi dari segi sales. Karena kalau misalnya akun kalian tidak punya konsistensi di segi traffic atau segi sales, gua yakin kalian akan sulit banget bertahan di dunia affiliate. Karena gua yakin banyak teman-teman di sini sekalipun kalian memanfaatkan affiliate ini cuman untuk penghasilan tambahan, tapi kan kalian penginnya itu bisa tiap hari buka akun affiliate kalian, terus kalian lihat penjualannya yang konsisten naik. Bukan yang hari ini ada, besok tiba-tiba enggak ada lagi, besok tiba-tiba penjualannya meledak, besoknya tiba-tiba kena pelanggaran dan akunnya enggak ada penjualan lagi. Kan stres ya gitu ya. Nah, jadi kalau gua boleh gambarkan ya, orang yang nyari viral sesaat atau affiliate yang nyari viral sesaat, mungkin grafiknya ya, grafik dari akunnya itu gini. Nah, gini.
[3:37]Ini grafik traffic dan juga penjualan dari akun orang-orang yang ngejarnya viral doang. Jadi naik, eh tiba-tiba anjlok, naik, tiba-tiba meledak nih penjualan karena mungkin ada produk winning. Terus dia mulai malas-malasan lah, mulai santai, hancur lagi, stres dia, naik dikit, pelan-pelan dinaikin lagi, eh ngulang lagi, turun lagi gitu ya. Nah, jadi ini adalah contoh orang yang ngejarnya ya viral-viral sesaat doang gitu. Sedangkan akun afiliator yang menurut gua sehat ya, itu adalah yang grafiknya itu gini. Nih, teman-teman lihat ya. Jadi grafiknya itu pelan-pelan naik, pelan-pelan naik, bukan bukan naik bukan naik doang begini ya. Enggak ada akun yang begini, enggak ada akun TikTok afiliator yang traffic atau penjualannya itu naik terus tanpa ada turun itu enggak mungkin ya. Tapi setidaknya kita itu bisa meminimalisir supaya nih, nah, grafiknya itu loh santai. Jadi teman-teman di sini ngembangin akunnya itu juga santai, juga fun. Kenapa? Karena prosesnya itu kelihatan dan teman-teman tahu kalau misalnya, oh, hari ini lagi turun tapi enggak apa-apa, aku paham apa yang aku kerjain. Aku tetap konsisten posting kontennya, nge-live-nya juga tetap konsisten. Makanya, teman-teman, yang harus kita jaga itu balik ke dua kata kunci ini, harus ada konsistensi di traffic, harus ada konsistensi di sales. Apalagi seperti yang kita tahu ya, TikTok itu adalah platform yang sangat menghargai konten kreator atau afiliator yang konsisten. Ini bisa teman-teman cek sendiri, kalau misalnya kalian di sini sudah punya pengalaman ngonten, mungkin ada yang pernah karena entah sakit, entah kalian lagi malas, entah mungkin kalian enggak bisa mengakses internet gitu ya. Terus kalian berhenti posting atau berhenti nge-live selama 3 hari, 7 hari, apa yang bakal terjadi? Akun kalian traffic-nya bakal langsung anjlok. Nah, itu bukti nyata kalau TikTok itu sangat menghargai akun-akun yang konsisten. Makanya, percuma kalau kalian itu bisa posting konten hari ini viral, tapi besok mulai malas. Sehingga TikTok akan dalam tanda kutip menghukum akun kalian yang traffic-nya sudah mulai bagus, eh, hancur lagi. Makanya, harus ada konsistensi yang enggak cuman di posting, tapi dari konsistensi posting itulah ya, kita menjaga traffic dan juga sales-nya. Nah, kalau sebelumnya kita sudah bahas banyak di konsistensi traffic ya, ngejar FYP. Pertanyaannya gimana caranya kita menjaga konsistensi di sales? Nah, teman-teman, untuk menjaga konsistensi di sales, selain dari kita jaga traffic-nya, karena ini dua hal yang nyambung ya, kita enggak bisa punya sales yang stabil, bagus kalau traffic-nya itu naik turun. Nah, tapi untuk menjaga sales ini ada satu variabel lagi nih yang enggak kalah penting, yaitu datang dari produknya. Nah, teman-teman harus tahu kalau produk itu bermain peran yang sangat besar terutama sekarang di sales. Makanya saran dari gua pemilihan produk itu harus benar. Gua ambil satu study case ya, yang menyebabkan atau sering menyebabkan afiliator ini penjualannya enggak konsisten, tapi bukan salah dari afiliatornya, yaitu stok produk. Nah, teman-teman di sini mungkin tahu ya kalau kita itu sebagai afiliator kita kan jualin produk orang lain gitu ya, kita enggak megang stok. Teman-teman bayangin kalau lagi ada contohnya gua jualan spidol deh, misalnya gua jualan spidol ini lagi laris banget, sehari laku ribuan spidol di gua. Eh tiba-tiba besok tokonya itu kehabisan stok spidolnya. Apakah GMV gua enggak ikutan anjlok? Udah pasti ikutan anjlok. Apalagi kalau satu-satunya produk yang laris di gua, itu cuman spidol dari brand tersebut atau seller tersebut, hancur GMV gua. Benar enggak? Nah, jadi buat teman-teman di sini harus tahu pemilihan produk itu sangat-sangat penting untuk kita jaga konsistensi sales. Nah, yang pertama, teman-teman harus perhatiin pastinya apa? Tokonya, ya. Tokonya ini apakah dia itu tokonya toko besar? Brand-nya brand besar? Kenapa? Karena kalau toko besar, brand besar, mereka itu cenderung punya stok manajemen yang bagus ya. Jadi sulitlah yang namanya tiba-tiba besok barangnya tiba-tiba habis karena mereka sudah forecasting kan. Sedangkan kalau toko-toko kecil, mereka modalnya juga masih minim, ya mungkin kalau tiba-tiba hari ini pas lagi ada pay day sale penjualan mereka meledak, besok stoknya sudah habis. Gitu loh. Nah, makanya teman-teman harus cek dari tokonya. Tokonya toko besar enggak? Brand-nya brand besar enggak? Semakin besar tokonya semakin besar brand-nya, maka kemungkinan stoknya habis, kalian enggak bisa jualin produknya lagi, itu semakin kecil, ya. Yang kedua, konsistensi di bagian ads. Nah, teman-teman juga harus cek gitu ya. Dari sellernya ini, mereka konsisten enggak? Budget ads-nya besar enggak? Karena sekarang ya, afiliator itu sudah tidak bisa lagi lepas dari yang namanya pengaruh iklan seller. Banyak sekali afiliator yang gua tahu ya, itu penjualannya mungkin di atas 50%, di atas 60% itu datang dari penjualan iklan seller. Atau kena GMV Max dari seller. Makanya ya, teman-teman kalau misalnya kalian itu bergantung pada seller yang dia itu tidak konsisten dalam iklan gitu ya. Hari ini iklannya nyala, besok iklannya mati, besoknya rupanya enggak punya budget lagi jadi distop iklannya, maka GMV kalian akan ikutan naik turun.
[9:51]Gitu loh. Nah, makanya strateginya apa kok? Nah, strateginya yang pertama ya, pastinya balik ke yang tadi gua bahas, pilih toko atau brand yang sudah besar. Toko atau brand yang sudah besar dan produknya sering masuk ke produk trending, yang pertama, chance habis stok, sudah pasti kecil gitu ya. Yang kedua, ngiklannya pasti konsisten. Kenapa? Karena produknya bisa masuk ke trending kan. Susah produk masuk ke trending kalau iklannya itu enggak enggak besar, enggak konsisten, ya. Dan yang kedua, strategi kedua, jangan cuman bergantung sama satu produk atau satu toko. Gitu.
[10:32]Kesalahan kedua yang paling sering dilakukan afiliator ya adalah terlalu fokus jualan. Nah, jadi buat teman-teman di sini ya, menurut gua makin ke sini ya, tugas dari afiliator itu bukan lagi hanya cuman fokus jualan. Tapi kalian itu juga harus bisa membangun yang namanya trust. Bagaimana cara membangun trust ini? Nah, inilah yang juga sering kita sebut sebagai membangun personal branding sebenarnya. Kenapa? Karena, teman-teman ya, kita sudah tidak bisa samakan affiliate itu dengan zaman 2022, 2023, 2024 ya. Kenapa? Karena ini adalah masa-masa di mana afiliator itu enggak banyak gitu loh. Afiliator enggak banyak. Jadi kalian itu kalau bikin konten, jualan, jualan, jualan, jualan aja, ya. Pembeli tetap ada. Kenapa? Karena yang jualan ya kalian-kalian doang, gitu ya. Tapi sekarang kalian lihat, afiliator sudah sangat banyak. Pembeli bisa beli produk dari enggak cuman kalian, tapi jutaan afiliator lain. Artinya apa? Sekarang itu penonton itu bisa memilih ya, punya pilihan. Dia mau belanja dari siapa? Dia mau percaya pada siapa? Dulu penonton enggak punya pilihan selain percaya pada kalian. Kenapa? Orang cuman kalian doang yang muncul. Tapi sekarang ya, afiliator, influencer itu sudah banyak banget, artis saja sekarang jadi affiliate, gitu loh. Makanya yang harus dibangun itu adalah trust. Di tahun 2024 ya, menurut gua itu adalah salah satu masa kejayaan afiliator yang pure affiliate, ya. Banyak sekali afiliator-afiliator muncul tanpa personal branding, enggak ada keunikannya. Fokusnya apa? Yang penting jualan aja. Tiap kontennya dihajar jualan. Bukan yang salah ya, pada saat itu GMV mereka memang gede sekali. Tapi pada saat itu gua sudah melihat ini, ini sesuatu yang seperti bom waktu. Sesuatu yang dibangun pada pondasi yang tidak kuat. Makanya di 2024 itu gua salah satu yang apa ya, sering sharing soal membuat konten berkualitas. Nah, makanya buat teman-teman di sini ya, selain kita fokus jualan, yang harus kita bangun itu adalah rasa kepercayaan. Kenapa dari jutaan afiliator, pembeli itu harus belanjanya di kita? Kenapa pembeli harus percayanya ke kita? Kan gitu. Nah, itulah yang namanya kita bangun personal branding. BTW buat kalian yang penasaran sebenarnya gimana sih bangun personal branding, kalian juga bisa cek video-video gua sebelumnya ya, di mana gua bahas tentang personal branding. Di sana gua bahas kalau misalnya kunci dari personal branding itu cuman dua ya, unik dan repetisi. Gua enggak bakal jelasin banyak lagi ngulang di sini ya, teman-teman bisa nonton video gua yang sebelumnya. Nah, cuman yang gua mau highlight itu adalah banyak sekali orang-orang itu salah nangkap tentang konsep personal branding dan trust ya. Orang selalu bilang gini, ya, kita pasti kalah lah afiliator. Orang mana mungkin percaya sama kita sebagai afiliator bukan siapa-siapa. Orang pasti percaya sama artis, apalagi sekarang artis-artis, influencer, nama-nama besar, semua sudah jadi affiliate. Mau gimana kita bersaing? Nah, teman-teman harus paham ya kalau misalnya kita harus bisa berpikir atau mengkontra, coba kontradik argumen kalian sendiri, kira-kira patah enggak argumennya? Gua selalu mengkontradik argumen gua sendiri. Contoh, pembeli lebih percaya pada artis besar. Apakah benar gitu ya? Ternyata setelah dicek enggak 100% benar juga. Karena kenapa? Karena sekarang pembeli itu sudah pada pintar-pintar, mereka tahu artis-artis ini ketika mempromosikan sesuatu, kemungkinan besar itu adalah endorsement. Itu adalah kerja sama dengan brand. Sedangkan kita sebagai afiliator, konten kreator yang kecil, orang itu masih percaya kita itu me-review produk karena kita memang suka. Dan kan memang kita suka, kita punya sampelnya, kita punya produknya, kita memang pakai, dan kita sebagai afiliator juga kadang mengaplikasikan, menggunakan produk tersebut di depan layar, di dalam video kita. Nah, makanya menurut gua ya, trust ini ya, tetap bisa dibangun oleh kita-kita yang mungkin followers-nya itu belum besar, ya. Yang penting apa? Yang penting itu adalah kalian harus jaga komitmen, ya, komitmen untuk bisa dipercaya. Gua ambil satu study case ya. Eh gua sudah ngonten dan jadi afiliator, konten kreator di TikTok itu sudah dari tahun 2021 ya. Dari 2021 sampai sekarang, mungkin gua sudah bekerja sama dengan ratusan ya, brand lokal maupun internasional. Dari yang brand yang masih baru sampai brand-nya itu brand yang sudah super besar, kalian nyari di supermarket, minimarket produknya ada di sana. Nah, satu hal yang selalu gua jaga dari dulu itu adalah trust. Gua ambil contoh di akun racunin skin care. Di akun racunin skin care, tiap produk yang gua review, itu produknya bakal gua cobain dulu, ya, setidaknya 1 sampai 2 minggu. Oke, 1 sampai 2 minggu. Supaya apa? Supaya gua tahu ini produk beneran bagus enggak? Dipakenya beneran nyaman enggak? Kalau misalnya efeknya ada klaim efek tertentu, efeknya benar-benar gua rasain enggak? Misalnya dia itu serum jerawat. Nah, gua totol-in dong di jerawat. Apakah jerawat gua beneran kempes gitu loh. Kalau dia klaim bisa tanpa bekas, apakah memang tanpa bekas? Nah, itu adalah cara gua menjaga trust. Oke. Dan enggak jarang gitu ya, enggak jarang gua nge-refund, cancel kerja sama dengan brand-brand yang produknya itu gua enggak suka gitu. Gua sudah cobain, enggak cocok, ya sudah balikin saja duitnya. Atau cancel saja, kan enggak masalah toh. Karena dari awal gua sudah sampaikan gitu loh. Ketika KNL spesialisnya ajak kerja sama, gua sudah bilang, gua bakal cek ya, gua bakal pakai ya, gua bakal coba ya. Kalau enggak cocok, gua enggak akan review. Gitu loh. Kalau enggak cocok, gua enggak akan review. Jadi dari sellernya ini atau brand-nya ini juga punya pilihan antara lu mau terima balik refund-nya atau kita cancel kerja samanya atau ya, lu kirimin saja produk lu yang lain. Kan namanya seller, namanya brand kan produk enggak cuman satu. Belum tentu satu produknya jelek, produk-produk lainnya itu jelek juga di gua. Apalagi di skin care ini ada faktor cocok-cocokan juga. Nah, makanya itulah salah satu cara gua menjaga yang namanya trust ini. Gitu loh. Dan buat teman-teman di sini ya, satu cara lain untuk kalian ningkatin trust kalian itu adalah mengetahui produk knowledge. Nah, ini penting banget ya untuk afiliator. Gua lihat sekarang, sayangnya itu adalah banyak afiliator tidak menguasai produk knowledge. Ya, mereka merasa, ya sudah, dapat sampel, review, dapat sampel, review. Review dari afiliator yang paham produk knowledge dan enggak itu kelihatan banget gitu ya. Kalau kalian enggak paham produk knowledge, kalian bisa jelasin produk itu cuman di surface level, ya. Cuman di apa yang kelihatan langsung di depan mata kalian, bukan experience-nya kalian. Oke, gua ambil contoh gini. Misalnya ada serum jerawat gitu ya, ada serum jerawat. Gua review serum jerawat. Serum jerawat ini kalau gua tidak punya produk knowledge-nya, maka review yang bisa gua keluarkan dari mulut gua itu cuman, wah, produk ini bagus. Serumnya ringan, serumnya teksturnya enak, warnanya ini, berapa mili? Harganya sekian. Sudah, stop gitu doang. Tapi kalau gua benar-benar paham produk knowledge-nya, gua akan mempelajari, oke, serum jerawat dia pakai ingredient apa? Karena ingredient untuk jerawat kan enggak cuman satu, gitu ya. Enggak cuman salicylid acid. Bisa jadi dia pakai yang lain-lain nih, misalnya dia gabungin lagi sama nice innama untuk mengontrol minyak, dia gabungin lagi sama serum agar skin barrier kalian makin kuat gitu ya. Dia gabungin lagi sama centella supaya kemerahan berkurang. Nah, itu kalau kalian pahami, penjelasannya beda dong, gitu loh. Wah, ini setelah gua pakai, ternyata jerawat gua itu langsung berasa lebih kalem ya. Wah, ternyata ini karena gua baca-baca ada centella-nya, Guys. Udah, penjelasan kalian bisa lebih in depth, bisa lebih dalam. Nah, makanya itulah yang meningkatkan trust karena penonton kalian tahu nih, orang enggak sekedar bacot doang, enggak sekedar sales doang, tapi dia benar-benar pakai, benar-benar paham, dan kalian jadi sosok yang bisa dipercaya. Kesalahan ketiga yang sering dilakukan afiliator sehingga akunnya itu gagal berkembang atau anjlok ya, itu adalah segala sesuatu di affiliate-nya itu menggunakan feeling tok gitu ya. Cuman pakai feeling doang, oh, kayaknya, nah, kayaknya ini yang lagi ramai, kayaknya gua harus jualan ini, kayaknya gua harus ngapain. Jangan, guys. Jadi sekarang itu masa afiliator yang enggak cuman pakai feeling ya. Mungkin kadang teman-teman mau pakai insting kalian itu silakan gitu ya. Tapi harus juga bisa di cross check. Dengan apa? Di cross check dengan data, oke. Nah, jadi buat teman-teman di sini, TikTok ini adalah salah satu platform yang menurut gua ya, lumayan memberikan banyak akses data dari akun kita pribadi untuk kita baca, ya. Salah satunya adalah retention rate. Retention rate dari setiap video itu kalian bisa lihat loh. Kalian tinggal klik tiga titik di kanan bawah video kalian gitu ya, terus kalian nyari analytics dan kalian scroll, entar bakal muncul ya grafik yang mungkin bentukannya itu bakal seperti ini ya, atau ada yang seperti ini. Nah, ini adalah retention gitu ya. Apa bedanya kok kalau grafik aku bentukannya seperti ini dan ini nih di bagian retention-nya? Kalau grafik kalian bentukannya begini, ini oke, ini bagus. Kenapa? Karena berarti penonton itu ya, enggak langsung banyak yang keluar di awal video, ya. Kan karena kan kelihatan nih, ini kan detiknya nih, dari detik 1 misalnya sampai detik 30. Nah, ini detik 1 sampai 30 gitu kan. Nah, kalau yang grafiknya begini, artinya apa? Oh, di bagian sini enggak banyak nih penonton yang yang skip, tapi pelan-pelan ada yang skip, ada yang skip, ada yang skip, ada yang skip, ada yang skip sampai di ujung. Nah, ini enggak mungkin naik gitu loh. Karena penonton enggak mungkin dong masuknya di bagian tengah video. Jadi pasti turun. Nah, tinggal turunnya aja, jangan sampai terlalu curam. Ini adalah contoh grafik yang jelek gitu loh. Misalnya ini baru detik ketiga nih. Ya ampun, di detik ketiga aja 70% ya, orang itu sudah cabut, sudah enggak nonton lagi. Sedangkan di sini di detik ketiga 70% orang itu masih nonton. Tahu ya, paham ya kebalikannya ya. Nah, jadi kalau kita tahu ini, kita bakal tahu, oh, bagian mana dari video gua yang mulai membosankan. Kalau di awal, 3 detik awalnya saja orang sudah nge-skip, oh, berarti jelas masalahnya ada di hook. Ya, kalau misalnya banyak yang nge-skip di tengah, oh, mungkin kita ceritanya itu ngulang-ngulang, mutar-mutar, orang bosan gitu loh. Nah, ini adalah data yang harus bisa kalian baca, oke. Selain retention time, ya, atau retention rate, ada lagi apa? Produk, ya. Nah, kalian milih produk itu pakai feeling atau baca data? Nah, contoh, teman-teman di sini milih produk untuk dijual hanya sekadar karena oh, kebetulan ada produknya atau kalian memang menstrategikan. Kalau konten kreator atau afiliator yang sudah level tinggi ya, mereka enggak mau lagi jualin produk-produk yang mereka enggak pede bisa laku. Kenapa? Habis satu, habis-habisin waktu mereka, dua, habis-habisin slot posting-nya mereka. Buat apa gitu loh. Kalau memang sudah sudah harus capek, sudah harus ngonten, sudah harus posting, sekalian saja yang produk yang kemungkinan larisnya tinggi. Kan gitu logikanya. Nah, sedangkan yang orang-orang yang pemula yang awal-awal itu mikirnya apa? Oh, semua produk sama, gitu loh. Baju ya baju, serum ya serum. Padahal beda gitu loh. Brand-nya berbeda saja sudah sudah beda kemungkinan orang belanjanya. Kita ambil contoh gini deh. Misalnya ada serum, kita balik lagi ke serum nih, ada dua serum nih, serum jerawat A dan serum jerawat B. Ini sarung jerawat A, ya, ini brand ini, brand yang sudah sangat terkenal nih, ya. Brand yang sudah sangat terkenal, kalian mau nyari di Guardian, Watson, Alfamart, Alfamidi, Indomaret, Hypermart, apa semua adalah intinya. Ya, pakai artis brand ambasadornya, gitu ya. Sudah di-review hampir semua skin influencer besar, oke. Serum jerawat nih, anggap deh harganya sama juga nih, Rp50.000, Rp50.000. Brand B, brand baru, brand-nya enggak jelas, packaging-nya enggak jelas, gitu loh. Visual produknya juga enggak jelas. Intinya ini brand itu kalau penonton lihat itu kayak brand asal jadi lah intinya. Nah, pertanyaan gua, kalian kalau sudah harus capek, bikin video untuk produk A capek, bikin video untuk produk B sama capeknya. Mending capek di produk A apa produk B? Ya, di produk A sudah jelas. Benar enggak? Nah, jadi buat teman-teman di sini pemilihan produk itu harus tepat. Gimana kok caranya kita tahu mau milih produk A apa produk B? Satu yang paling simpel, cari di kategori kalian, apa produk yang lagi trending? Sudah jelas, itu saja. Yang lagi best selling, itu datanya ada semua tuh. Kalian tinggal buka product marketplace, gitu ya. Nah, jadi inilah strategi yang digunakan oleh orang-orang yang bisa bertahan di atas, ya, tapi tidak dimanfaatkan orang-orang yang tidak tahu. Makanya sekarang kalian sudah tahu. Yang terakhir gua mau bahas itu adalah data audiens, ya. Sekarang afiliator, karena tadi kan kita bahas afiliator itu jangan cuman jualan, tapi harus ningkatin trust. Ninkatin trust untuk yang audiensnya ibu-ibu, umur 50, rata-rata umur 50, ibu-ibu dengan ningkatin trust ke audiens yang umurnya itu 20-an, mayoritas pria. Berarti anak kuliahan cowok gitu ya. Sama atau beda? Pasti beda dong. Bahasa yang digunakan pasti beda, ningkatin trust di ibu-ibu dengan anak kuliahan. Kan gitu ya.
[26:22]Nah, sayangnya banyak orang enggak tahu audiensnya. Gua ambil satu study case juga, ini salah satu murid kita yang akhirnya kita benerin akunnya. Jadi ceritanya si afiliator ini jualan baju wanita gitu ya, jualan baju wanita, fashion wanita. Tapi penjualannya jelek mulu gitu kan. Akhirnya kita cek, oh, kita bedah tuh akunnya, audiensnya, bla bla bla. Ternyata nih orang jualan baju wanita, kok audiensnya 80% cowok, kan gitu ya. Ternyata setelah dicek dia memang jualan baju nih, memang benar jualan baju. Tapi cara jualannya joget-joget. Kan enggak ada cewek-cewek mau lihat cewek-cewek lain joget-joget kan? Pasti mayoritas yang yang nonton sudah pasti cowok. Dan cowok jarang banget beli baju cewek. Kalau cewek beli baju cowok masih masuk akal, istrinya beliin baju untuk suaminya bisa. Suaminya beli baju untuk istrinya, mampus, enggak paham size sudah pasti. Paham ya, teman-teman ya. Karena kalau cowok kan gampang gitu ya. Oh, suamiku bajunya size-nya L, XL, selesai. Sedangkan kalau cewek, memang kalian tahu lingkar perut, lingkar dada dari pacar kalian atau istri kalian, enggak mungkin tahu. Gitu kan? Nah, jadi itulah kenapa akhirnya akunnya itu jualan enggak laku-laku. Gimana cara perbaikinya? Ya kita harus perbaiki dengan konten-konten yang menarik audiens cewek yang minatnya fashion cewek. Kita ubah tuh, jangan lagi joget-joget. Mulailah bikin konten OOTD gitu ya, review produk yang memang yang nonton itu cewek. Karena cowok enggak mungkin mau nonton video OOTD-nya cewek. Sudah pasti cewek tuh yang nonton semua. Dan akhirnya ini prosesnya enggak sebentar ya. Jadi enggak 3 hari audiensnya berubah, enggak lah. 1 bulan sampai 2 bulan, pelan-pelan audiensnya itu dari yang 70% cowok, pelan-pelan jadi 50%, jadi 40%. Dan mayoritasnya jadi cewek, penjualannya juga ikut naik. Nah, ini data yang kalian itu enggak bisa tahu kalau pakai feeling gitu loh. Kan enggak mungkin toh kalian posting video terus kalian ngelihat video kalian sendiri dan kalian bisa meraba, oh, iya, ini yang nonton cewek, yang nonton cowok, yang nonton umur berapa? Enggak bisa, harus lihat datanya. Nah, makanya data ini harus dibaca. Dan itu semua tersedia di akun kalian. Jangan malas, cek analytics dari akun kalian, cek analytics dari video kalian, oke. Nah, kira-kira itulah alasan kenapa gua lihat sekarang banyak afiliator itu yang gugur dan gagal ya. Mungkin kalau gua harus rangkum, pastinya yang pertama kalian itu tetap harus konsisten, ya. Konsistensi itu penting, konsistensi dari traffic, konsistensi dari sales, ningkatin trust juga, jangan fokusnya cuman jualan, jualan, jualan dan jualan. Kalian akan gampang banget untuk dilupakan ya. Dan yang ketiga, jangan cuman pakai feeling, tapi pakai data. Karena ke depannya afiliator yang akan bisa terus berkembang, terus bertahan adalah afiliator yang bisa memanfaatkan data dan membaca data pastinya. Oke. Nah, nah, kira-kira itulah alasan kenapa menurut gua banyak afiliator yang gugur sekarang. Kalau kalian merasa apa nih yang masih kurang di akun afiliator kalian, gua penasaran nih, rata-rata masih kurang di mana? Apa kalian kurangnya kurang konsisten, enggak membangun trust atau kalian enggak paham cara baca data? Nah, mungkin nanti pas gua cek kolom komen, yang paling banyak di-request gua bakal bikin video lebih mendalam ya, membahas topik spesifik tersebut. Misalnya gimana cara baca data atau gimana bangun trust, bangun personal branding. Makanya kalian langsung komen. Terakhir, jangan lupa subscribe ke channel ini, supaya gua makin semangat sharing edukasi-edukasi gratis seperti ini. See you on the next video.



