Thumbnail for KI AGENG SELO SANG MANUSIA PETIR‼️SATU-SATUNYA WALI JAWA YANG MENANGKAP DAN MENGIKAT BLEDEK by Legenda Syiar Nusantara

KI AGENG SELO SANG MANUSIA PETIR‼️SATU-SATUNYA WALI JAWA YANG MENANGKAP DAN MENGIKAT BLEDEK

Legenda Syiar Nusantara

36m 35s4,597 words~23 min read
Auto-Generated

[0:13]Pernahkah Anda membayangkan ada manusia yang nyalinya lebih besar daripada langit? Ketika diusir dan dihina oleh sesama manusia, ia tidak menunduk kalah. Ia justru berdiri tegak di tengah badai, menantang maut dan menangkap petir yang menyambar dengan tangan kosong. Inilah kisah leluhur para raja Mataram, kisah sang penakluk api langit, Ki Ageng Selo. Assalamu'alaikum, Sahabat Legenda Syiar Nusantara. Sebelum kita menyaksikan karomah tingkat tinggi beliau yang mengguncang Demak, izinkan saya memanjatkan doa terbaik khusus untuk Anda yang sedang menonton video ini. Saya doakan dengan tulus, semoga siapapun yang jari jemarinya telah mengklik video ini, Allah bukakan pintu rezekinya selebar langit dan bumi, dimudahkan segala urusan pelik yang sedang dihadapi, dan dijauhkan dari segala marabahaya. Mari kita aminkan doa ini bersama-sama. Silakan ketik 'Aamiin' di kolom komentar sekarang juga. Semoga ribuan kata 'Aamiin' yang tertulis di bawah nanti, menjadi doa mustajab yang mengetuk pintu langit dan mengubah nasib kita menjadi lebih baik hari ini. Dan bagi Anda yang mencintai sejarah para waliyullah tanah Jawa, dukung terus channel ini dengan menekan tombol subscribe dan nyalakan loncengnya. Agar kisah heroik leluhur kita tidak lenyap ditelan zaman. Tarik napas dalam-dalam. Kita masuk ke dalam badai cerita. Langit di ujung timur tanah Jawa nampak muram seolah-olah sedang menangisi sebuah kepergian besar yang tak akan pernah kembali. Debu-debu reruntuhan kejayaan Majapahit memang telah lama tersapu angin zaman, namun jejak keagungan wangsa Surya tidak pernah benar-benar hilang dari muka bumi. Ia hanya bersembunyi. Ia melebur ke dalam tanah, menyusup ke sela-sela akar pohon jati dan mengalir diam-diam dalam darah anak cucu yang kini hidup dalam penyamaran. Di sinilah kisah tentang kekuatan yang melampaui nalar manusia bermula. Bukan dari istana megah bertahtakan emas permata, melainkan dari sebuah gubuk reyot di tengah ladang tandus yang sunyi. Di sebuah desa terpencil bernama Selo yang terletak di wilayah Grobogan hiduplah seorang pemuda yang sehari-harinya bergelut dengan lumpur dan cangkul. Orang-orang desa mengenalnya dengan nama Bagus Songgom. Penampilannya tak ubahnya seperti petani biasa. Kulitnya terbakar matahari, tangannya kasar penuh kapalan dan kakinya selalu berdebu. Namun siapa sangka, di balik tatapan matanya yang tajam bagaikan elang, tersimpan rahasia besar yang mampu mengguncang tatanan kekuasaan tanah Jawa. Bagus Songgom bukanlah sembarang petani. Di dalam nadi kotor yang berlumuran lumpur sawah itu mengalir darah biru paling murni dari penguasa terakhir Nusantara. Ia adalah cucit dari Prabu Brawijaya V Raja terakhir Majapahit. Ayahnya adalah Ki Getas Pandawa, sosok bangsawan yang memilih jalan sunyi menyingkir dari hiruk pikuk perebutan kekuasaan. Mereka adalah sisa-sisa laskar Majapahit yang memilih untuk tidak menonjolkan diri membiarkan Demak Bintoro bersinar sendirian sebagai matahari baru. Namun darah raja, tetaplah darah raja. Meskipun dibungkus dengan kain lusuh, auranya tidak bisa dibohongi. Setiap kali Bagus Songgom berjalan membelah pematang sawah alam sekitarnya seolah-olah memberi hormat. Burung-burung terdiam, angin berhenti berhembus dan hewan-hewan buas di hutan jati menyingkir ketakutan hanya dengan mencium aroma keringatnya. Ada hawa panas yang memancar dari tubuhnya, sebuah energi spiritual yang teramat besar namun belum menemukan jalan keluarnya. Hari-hari Bagus Songgom dipenuhi dengan pergulatan batin yang menyiksa. Ia tahu siapa leluhurnya. Ia tahu bahwa seharusnya ia duduk di singgasana, bukan mencangkul tanah keras di musim kemarau. Namun ia juga sadar zaman telah berganti, cahaya Majapahit telah redup digantikan oleh sinar bulan sabit Demak. Rasa ketidakberdayaan ini perlahan-lahan menumpuk di dadanya berubah menjadi gumpalan ambisi yang meledak-ledak. Ia merasa seperti seekor naga yang terperangkap di dalam tubuh cacing. Seringkali di tengah malam buta saat penduduk desa Selo terlelap dalam mimpi, Bagus Songgom duduk termenung di atas batu besar menatap langit yang gelap. Matanya tidak tertuju pada bintang gemintang, melainkan pada kilatan-kilatan petir yang menyambar-nyambar di kejauhan. Ada keterikatan aneh antara dirinya dengan fenomena alam yang ganas itu. Setiap kali guntur menggelegar jantungnya berdebup kencang seirama dengan dentuman langit. Seolah-olah langit sedang memanggilnya. Seolah-olah ada kekuatan purba di angkasa sana yang sedang menunggu untuk ia taklukkan. Ayahnya Ki Getas Pandawa menyadari gejolak api yang membakar jiwa anaknya. Orang tua bijak itu sering menasihati agar Bagus Songgom belajar sumeleh atau pasrah menerima takdir. Menjadi petani yang saleh menurut Ki Getas jauh lebih mulia daripada mengejar bayang-bayang kekuasaan yang fana. Namun nasihat itu bagaikan air yang disiramkan ke minyak panas. Justru semakin membuat jiwa muda Bagus Songgom memberontak. Ia tidak ingin mati sebagai orang biasa yang namanya tidak dicatat sejarah. Ia ingin membuktikan bahwa darah Brawijaya masih mengalir deras dan pantas diperhitungkan. Kabar tentang kejayaan Kesultanan Demak Bintoro yang dipimpin oleh Sultan Trenggana pun sampai ke telinganya. Kabar itu membawa angin segar sekaligus tantangan. Demak sedang membuka pendaftaran prajurit Wiratamta, pasukan elite kerajaan yang hanya diisi oleh orang-orang sakti mandraguna. Bagi Bagus Songgom, ini adalah satu-satunya jalan keluar. Ini adalah pintu gerbang untuk mengembalikan kehormatan keluarganya yang telah lama terbenam dalam lumpur kemiskinan. Tekadnya sudah bulat. Ia tidak akan menghabiskan sisa hidupnya hanya berteman dengan kerbau dan cangkul. Ia akan pergi ke Demak. Ia akan menunjukkan pada dunia siapa sebenarnya Bagus Songgom. Pagi itu matahari belum sepenuhnya terbit kabut tebal masih menyelimuti desa Selo. Bagus Songgom bersimpuh di kaki ayahnya memohon restu. Ki Getas Pandawa menatap putra kesayangannya dengan tatapan nanar. Ia melihat masa depan yang penuh badai dan bahaya di mata anaknya. Namun ia juga tahu takdir tidak bisa dibendung. Dengan berat hati sang ayah melepaskan kepergiannya. Bagus Songgom melangkah meninggalkan desa kelahirannya tanpa menoleh ke belakang. Langkah kakinya mantap menghentak bumi menimbulkan getaran halus yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang peka. Ia tidak membawa bekal harta benda, ia hanya membawa keyakinan dan kesaktian yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. Langit tiba-tiba berubah gelap seiring langkah kakinya menjauh dari desa. Awan hitam bergulung-gulung di angkasa seakan-akan mengiringi kepergian sang satria piningit. Guntur bergemuruh pelan seolah-olah memberi peringatan pada Demak bahwa ada kekuatan besar yang sedang mendekat. Sang manusia petir telah keluar dari persembunyiannya dan sejarah tanah Jawa bersiap untuk mencatat sebuah legenda baru yang akan dikenang sepanjang masa. Perjalanan menuju Demak bukanlah perjalanan tamasya. Ini adalah perjalanan pembuktian jati diri. Bagus Songgom belum tahu bahwa di kota raja itu ia tidak akan disambut dengan karpet merah melainkan dengan ujian berat yang akan menghancurkan harga dirinya hingga berkeping-keping. Demak yang megah itu ternyata menyimpan keangkuhan yang siap melumat siapa saja yang berani datang tanpa persiapan matang. Gerbang Kuthagara Demak Bintoro menjulang tinggi seolah-olah menantang langit. Dinding-dinding benteng yang kokoh memancarkan aura kewibawaan yang membuat nyali siapa saja menciut hanya dengan memandangnya. Di sinilah pusat dunia berputar saat itu. Di sinilah jantung kekuasaan Islam di tanah Jawa berdetak kencang mengalirkan titah ke seluruh penjuru Nusantara. Bagi Bagus Songgom yang seumur hidupnya hanya akrab dengan pematang sawah dan desau angin hutan, pemandangan ini begitu menyilaukan mata sekaligus menyesakkan dada. Ia berjalan membelah keramaian pasar Kota Raja dengan pakaian lusuh yang berdebu. Orang-orang memandangnya dengan sebelah mata. Bagi mereka pemuda ini hanyalah satu dari ribuan pencari nasib yang datang dari desa bau kencur yang bermimpi menjadi orang besar. Tidak ada yang tahu bahwa di balik caping butut yang menutupi wajahnya sepasang mata tajam sedang mengamati setiap sudut istana dengan nyala api ambisi yang membara. Bagus Songgom tidak datang untuk mengemis rezeki. Ia datang untuk menuntut tempat yang seharusnya menjadi miliknya. Langkah kakinya membawanya lurus menuju alun-alun utara tempat seleksi prajurit Wiratamta sedang digelar. Suasana di alun-alun begitu riuh rendah. Ratusan pemuda berbadan tegap berotot kawat dan berwajah garang telah berkumpul. Mereka datang dari berbagai perguruan silat tersohor membawa kebanggaan daerah masing-masing. Ada yang memamerkan ilmu kebal dengan membacok-bacokan golok ke lengan, ada yang mematahkan besi dengan tangan kosong dan ada pula yang memecahkan batu kali dengan kepala. Udara berbau keringat minyak kelapa dan testosteron yang meluap-luap. Ketika giliran Bagus Songgom tiba gelak tawa sempat terdengar dari barisan penonton. Penampilannya yang kurus kering dan dekil sangat kontras dengan para pesaingnya yang bertubuh raksasa. Seorang senopati penguji menatapnya dengan pandangan meremehkan. Tanpa banyak bicara sang Senopati menunjuk ke tengah arena tempat seekor banteng liar yang baru saja ditangkap dari hutan Roban sedang mengamuk. Banteng itu diikat rantai besi yang besar. Matanya merah menyala napasnya memburu mengeluarkan uap panas. Ujiannya sederhana. Siapa yang mampu menundukkan banteng itu tanpa senjata dialah yang lolos. Banyak peserta sebelumnya yang mundur teratur atau terpental dihantam serudukan banteng gila itu hingga tulang rusuk mereka remuk. Namun Bagus Songgom melangkah maju dengan tenang. Sangat tenang. Ia tidak memasang kuda-kuda silat yang rumit. Ia hanya berjalan santai mendekati hewan buas itu seolah-olah sedang mendekati kerbau bajakannya di sawah. Saat banteng itu melihat ada manusia yang berani mendekat naluri membunuhnya bangkit seketika. Dengan raungan yang mengerikan hewan seberat setengah ton itu menerjang maju. Rantai besi penahannya putus saking kuatnya tenaga banteng itu. Penonton menjerit histeris mengira pemuda desa itu akan mati konyol terinjak-injak. Namun apa yang terjadi selanjutnya membuat alun-alun Demak mendadak sunyi senyap seperti kuburan. Tepat saat tanduk banteng itu nyaris menembus dadanya Bagus Songgom menghentakkan kakinya ke tanah. Bum! Bumi bergetar hebat. Dengan gerakan tangan yang tak kasat mata saking cepatnya ia menangkap kedua tanduk banteng itu. Bukan menahannya tapi membantingnya. Dengan sekali hentakan tenaga dalam banteng raksasa itu terpelanting ke udara dan jatuh berdebup ke tanah dengan posisi telentang. Hewan itu melenguh kesakitan dan tak mampu bangkit lagi kakinya gemetar hebat seakan-akan seluruh tulangnya telah lolos dari persendian. Bagus Songgom berdiri tegak di samping banteng yang tak berdaya itu. Napasnya teratur tidak tersengal sedikitpun. Ia menatap ke arah panggung kehormatan tempat para petinggi istana duduk menunggu pengakuan, menunggu tepuk tangan, menunggu dirinya dipanggil sebagai pahlawan baru. Namun harapan itu hancur berkeping-keping dalam hitungan detik. Bukan pujian yang ia dapatkan melainkan tatapan dingin penuh curiga. Para petinggi Demak saling berbisik. Mereka bukan melihat satria. Mereka melihat ancaman. Di mata mereka, kekuatan Bagus Songgom terlalu liar, terlalu buas dan terlalu mengerikan untuk dikendalikan. Mereka melihat sorot mata yang tidak tunduk, sorot mata seorang raja bukan seorang abdi. Demak tidak butuh macan yang bisa menggigit tuannya. Demak hanya butuh anjing penjaga yang setia. Seorang pejabat istana berdiri dan mengibaskan tangannya dengan kasar memberi isyarat pengusiran. Pulanglah ke desamu anak muda! Kami mencari prajurit bukan tukang jagal. Ilmumu terlalu kasar, hatimu terlalu panas. Engkau tidak pantas menginjakkan kaki di lantai istana yang suci ini. Kalimat itu menyambar lebih dahsyat daripada petir di siang bolong. Wajah Bagus Songgom memerah padam menahan malu yang teramat sangat di hadapan ribuan pasang mata ia ditolak mentah-mentah. Bukan karena ia lemah tapi karena ia terlalu kuat. Bukan karena ia tak mampu tapi karena ia tak diinginkan. Harga dirinya sebagai keturunan Majapahit diinjak-injak di depan umum dianggap lebih rendah dari debu di sandal para pejabat itu. Bagus Songgom mengepalkan tangannya begitu erat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri meneteskan darah segar. Ingin rasanya ia mengamuk merobohkan panggung itu dan menunjukkan siapa sebenarnya dirinya. Tapi ia menahan diri. Ia sadar melawan sekarang sama saja dengan bunuh diri konyol. Dengan hati yang hancur lebur dan dendam yang mulai mengakar di sumsum tulangnya Bagus Songgom membalikkan badan. Ia berjalan keluar dari alun-alun diiringi tatapan sinis dan bisik-bisik cemoohan orang-orang kota. Langit Demak yang tadi cerah kini terasa kelabu menaungi langkah kakinya yang berat. Ia meninggalkan Kota Raja itu dengan sebuah sumpah yang terpatri di dalam hati sanubarinya. Sumpah bahwa ia tidak akan kembali ke tempat ini sebagai pelamar kerja. Ia bersumpah bahwa penolakan ini adalah kesalahan terbesar yang pernah dilakukan oleh Demak. Ia akan pulang ke Selo. Ia akan kembali ke ladangnya yang tandus tapi kali ini ia tidak akan sekadar mencangkul tanah. Ia mencangkul nasibnya sendiri. Ia akan menempa dirinya dalam kesunyian membesarkan api kemarahan itu menjadi kekuatan spiritual yang kelak akan membuat seluruh Demak berlutut ketakutan. Jika manusia menolaknya maka ia akan mencari sekutu dari langit. Ia akan menantang kekuatan alam yang paling ganas sekalipun demi membuktikan bahwa ia bukanlah sampah yang bisa dibuang begitu saja. Perjalanan pulang itu terasa sangat panjang dan menyakitkan. Namun justru di jalan sunyi itulah Bagus Songgom mulai menemukan jalan sejatinya menuju keabadian. Hatinya kini sekeras batu, sekeras nama desa tempat ia akan mengasingkan diri, Selo. Desa Selo menyambut kepulangan anak hilangnya dengan kesunyian yang mencekam. Tidak ada sambutan hangat, tidak ada perayaan. Angin pegunungan yang biasanya terasa sejuk kini menusuk tulang membawa kabar duka tentang kegagalan seorang putra daerah yang pulang dengan tangan hampa. Bagus Songgom kembali ke gubuk reyotnya bukan untuk meratapi nasib di pojokan kamar melainkan untuk menyusun ulang puing-puing harga dirinya yang berserakan. Penolakan Demak bukanlah akhir segalanya. Baginya itu adalah cambuk api yang membakar semangatnya untuk mencapai tingkatan ilmu yang tak pernah terbayangkan oleh manusia manapun. Mulai saat itu penduduk desa Selo menyaksikan perubahan drastis pada diri Bagus Songgom. Pemuda itu menjadi pendiam nyaris membisu. Mulutnya terkunci rapat namun aura tubuhnya memancarkan hawa panas yang membuat orang-orang enggan bertegur sapa. Ia tidak lagi peduli dengan urusan duniawi. Siang dan malam baginya tidak ada bedanya. Tidur dan makan hanyalah gangguan. Bagus Songgom menenggelamkan dirinya dalam laku prihatin yang ekstrem. Sebuah tirakat gila yang melampaui batas kewajaran fisik manusia. Ladang tandus warisan ayahnya menjadi Kawah Candradimuka tempat ia menempa diri. Cangkul besi tua miliknya bukanlah lagi sekadar alat pertanian. Di tangan Bagus Songgom cangkul itu berubah menjadi pusaka, menjadi teman bicara sekaligus senjata untuk membelah bumi. Setiap ayunan cangkul yang menghujam tanah adalah zikir bisu. Duk duk duk. Irama hantaman cangkul itu terdengar konstan dari fajar menyingsing hingga matahari tenggelam bahkan berlanjut hingga larut malam. Ia mencangkul bukan untuk menanam padi atau jagung. Ia mencangkul untuk menanam kesabaran dan menggali kekuatan batin yang terpendam jauh di dasar sukma. Ujian sesungguhnya datang ketika musim penghujan tiba dengan ganasnya. Langit di atas Selo seolah-olah runtuh menumpahkan air bah yang tak henti-henti. Badai mengamuk menumbangkan pohon-pohon besar. Petani-petani lain lari tunggang langgang mencari perlindungan meringkuk ketakutan di dalam rumah mereka yang hangat sambil memeluk anak istri. Namun tidak dengan Bagus Songgom. Di tengah hamparan sawah yang luas dan terbuka itu satu sosok manusia tetap berdiri tegak menantang langit. Tubuhnya basah kuyup diguyur hujan deras pakaiannya yang compang-camping melekat di kulitnya yang menggigil kedinginan. Namun ia tidak bergeming sedikitpun. Kakinya menancap kokoh di lumpur sawah sedalam lutut seakan-akan telah tumbuh akar dari telapak kakinya yang mengikatnya pada bumi. Tangannya terus mengayunkan cangkul membalikkan tanah demi tanah dengan ritme yang semakin lama semakin cepat dan bertenaga. Orang-orang desa yang mengintip dari balik celah dinding bambu rumah mereka bergidik ngeri. Mereka mulai berbisik-bisik dengan nada kasihan bercampur takut. Mereka mengira Bagus Songgom telah kehilangan akal sehatnya. Mereka mengira penolakan Demak telah membuat jiwa pemuda itu terguncang hebat hingga menjadi gila. Lihatlah si Songgom. Dia sudah gila. Hujan badai seperti ini dia malah menari-nari dengan cangkulnya. Apa dia mau mati disambal petir? Begitulah gunjingan yang beredar dari mulut ke mulut. Namun mereka salah besar. Bagus Songgom tidak gila. Ia sedang dalam kesadaran tertinggi. Ia sedang menyatukan dirinya dengan amarah alam. Ia membiarkan dinginnya hujan mematikan saraf perasanya. Ia membiarkan angin kencang menempa kulitnya menjadi sekeras tembaga. Ia sengaja menempatkan dirinya di tengah bahaya untuk memancing keluar kekuatan gaib yang bersembunyi di balik awan hitam itu. Langit di atas kepalanya semakin pekat gulita. Awan hitam bergulung-gulung membentuk formasi yang mengerikan menyerupai wajah-wajah raksasa yang sedang murka. Guntur menggelegar susul-menyusul memekakkan telinga menggetarkan tanah tempat Bagus Songgom berdiri. Kilatan-kilatan cahaya menyambar-nyambar liar sekelilingnya membakar pohon kelapa hingga hangus menjadi arang dalam sekejap mata. Bau belerang dan ozon tercium menyengat di udara pertanda bahwa muatan listrik di angkasa sudah mencapai puncaknya. Bagus Songgom berhenti mencangkul sejenak. Ia menyeka air hujan yang bercampur keringat di wajahnya. Ia mendongak menatap lurus ke pusat badai di langit. Tatapan matanya tidak menyiratkan ketakutan sedikitpun justru ada tantangan di sana. Ia seolah-olah sedang berdialog dengan penguasa langit. Ayo turunlah! Jangan hanya berisik di atas sana. Tunjukkan kekuatanmu yang sebenarnya wahai makhluk langit. Jika Demak menolakku karena aku terlalu kuat maka buktikanlah bahwa engkau sanggup menghancurkanku! Tantangan batin itu rupanya didengar oleh alam semesta. Langit merespon dengan raungan yang lebih dahsyat. Angin berputar-putar membentuk pusaran kecil di sekitar tubuh Bagus Songgom menerbangkan lumpur dan air sawah ke udara. Suasana berubah menjadi mistis dan mencekam. Hewan-hewan malam yang biasanya bersuara kini membisu total seakan-akan tahu bahwa akan terjadi pertarungan antar kekuatan besar yang tak kasat mata. Bagus Songgom kembali mengayunkan cangkulnya. Kali ini gerakannya bukanlah lagi gerakan petani melainkan gerakan silat tingkat tinggi yang disamarkan. Setiap hantaman cangkul ke tanah menciptakan gelombang energi yang menahan gempuran angin. Ia memusatkan seluruh cipta rasa dan karsanya ke kedua telapak tangannya. Ia sedang mempersiapkan diri untuk menyambut tamu Agung yang akan turun dari langit. Tamu yang akan menjadi tiket emasnya untuk kembali diakui dunia atau tamu yang akan mengirimnya ke liang lahat dalam kondisi gosong tak berbentuk. Malam itu di tengah badai yang menggila Bagus Songgom telah berhenti menjadi manusia biasa. Ia telah bermetamorfosis menjadi wadah energi yang siap meledak. Ia menunggu. Menunggu saat yang tepat ketika langit akan melepaskan panah apinya yang paling mematikan. Dan di balik awan hitam yang bergolak itu sepasang mata berapi-api sedang mengintainya siap meluncur ke bawah untuk menjawab tantangan sang manusia sombong yang berani berdiri tegak di bawah amukan badai. Detik-detik yang menentukan nasib tanah Jawa pun mulai dihitung mundur. Langit akhirnya tidak sanggup lagi menahan beban amarahnya. Awan hitam yang sejak tadi bergulung-gulung di atas kepala Bagus Songgom tiba-tiba terbelah dua. Suara ledakan yang teramat dahsyat terdengar memekakkan telinga seolah-olah gendang langit telah pecah. Cahaya putih menyilaukan mata melesat turun dengan kecepatan yang tak masuk akal. Itu bukan sekadar aliran listrik alam. Itu adalah bledek. Wujud asli dari roh penguasa petir yang selama ini bersemayam di balik awan itu. Bentuknya meliuk-liuk bagaikan seekor naga api raksasa yang lapar siap menelan mangsanya bulat-bulat. Sasaran makhluk itu jelas. Ia mengincar satu-satunya manusia yang berani menantang keagungan langit di tengah sawah yang terbuka itu. Bagus Songgom. Dalam hitungan sepersekian detik yang menentukan hidup dan mati, Bagus Songgom tidak beranjak mundur selangkah pun. Ia justru membuang cangkulnya ke tanah. Kakinya memasang kuda-kuda baja yang menancap kuat ke dalam lumpur. Kedua tangannya terentang lebar ke depan, telapak tangannya terbuka menghadap ke arah datangnya maut. Ia tidak merapal mantra panjang lebar. Ia hanya berteriak lantang sebuah teriakan purba yang melepaskan seluruh energi spiritual yang telah ia kumpulkan selama berbulan-bulan tirakat. Bum! Benturan dahsyat terjadi. Cahaya bertemu daging, api bertemu tekad. Tanah di sekitar pijakan Bagus Songgom meledak berhamburan menciptakan kawah kecil. Air sawah menguap seketika menjadi kabut panas saking tingginya suhu yang tercipta. Namun keajaiban yang melampaui nalar terjadi. Tubuh Bagus Songgom tidak hangus menjadi abu. Ia tidak terpental. Ia masih berdiri tegak di sana laksana paku bumi yang tak tergoyahkan. Yang lebih mengerikan adalah apa yang terjadi pada kedua tangannya. Tangan-tangan kasar petani itu kini sedang mencengkram sesuatu yang berwujud cahaya hidup. Makhluk itu meronta-ronta hebat dalam genggamannya. Suara mendesis dan gemeretak terdengar nyaring saat energi liar sang bledek berusaha melepaskan diri. Panasnya melebihi bara api neraka, namun kulit Bagus Songgom seolah-olah telah dilapisi besi dingin yang tak tembus api. Pertarungan fisik antara manusia dan kekuatan alam itu berlangsung sengit. Sang bledek mengubah-ubah wujudnya. Kadang ia licin seperti belut, kadang ia panas seperti lahar, kadang ia berat seperti gunung. Ia membelit tubuh Bagus Songgom mencoba meremukkan tulang-tulangnya. Namun Bagus Songgom atau yang kini pantas disebut Ki Ageng Selo telah mencapai tingkatan makrifat di mana rasa sakit hanyalah ilusi. Ia menyalurkan tenaga dalamnya ke ujung jari. Jarinya menekan titik simpul energi makhluk itu hingga sang bledek melolong kesakitan. Lolongan itu bukan suara manusia melainkan suara guruh yang menyayat hati. Dengan sisa tenaga yang ada Ki Ageng Selo menyeret makhluk bercahaya itu. Ia berjalan tertatih-tatih melintasi lumpur sawah yang kini kering kerontang akibat hawa panas. Tujuannya adalah sebuah pohon Gandri tua yang tumbuh kokoh di pinggir ladang. Pohon itu adalah saksi bisu tirakatnya selama ini. Makhluk di tangannya terus memberontak menciptakan percikan bunga api yang menyambar-nyambar liar ke segala arah. Namun cengkeraman Ki Ageng Selo bagaikan catut besi yang tak akan pernah lepas. Sesampainya di bawah pohon Gandri Ki Ageng Selo menghempaskan makhluk itu ke batang pohon. Dengan sigap ia mengambil tali ijuk yang telah ia beri doa khusus dan mengikat tubuh sang bledek ke batang pohon itu. Ikatan itu bukan ikatan fisik semata melainkan ikatan batin yang mengunci kekuatan sang makhluk. Seketika itu juga cahaya menyilaukan yang memancar dari tubuh bledek meredup. Wujudnya yang tadi abstrak dan mengerikan perlahan-lahan mulai memadat. Dan di sanalah di bawah keremangan malam yang mulai tenang tampaklah wujud asli sang penunggu petir. Bukan lagi naga api melainkan sosok kakek tua renta yang terikat tak berdaya di batang pohon Gandri. Tubuhnya kurus kering rambutnya putih acak-acakan dan matanya memancarkan sisa-sisa kilatan listrik yang lemah. Ia menatap Ki Ageng Selo dengan pandangan ketakutan dan tunduk. Sang penguasa langit telah takluk di tangan seorang petani desa. Bersamaan dengan terikatnya sang bledek badai di atas desa Selo berhenti mendadak. Sangat tiba-tiba. Hujan deras yang tadi mengguyur bumi berhenti seketika seolah-olah keran air langit ditutup paksa. Awan hitam yang bergulung-gulung bubar tertiup angin menyisakan langit malam yang bersih bertabur bintang. Kesunyian yang aneh menyelimuti desa. Perlahan-lahan pintu-pintu rumah penduduk mulai terbuka. Warga desa yang tadi bersembunyi ketakutan kini memberanikan diri keluar membawa obor. Mereka penasaran dengan suara ledakan dan lolongan aneh yang tadi terdengar. Langkah kaki mereka ragu-ragu mendekati ladang milik Bagus Songgom. Dan ketika cahaya obor mereka menerangi pohon Gandri itu jeritan kaget terdengar bersahutan. Mereka melihat Bagus Songgom duduk bersila di depan pohon dengan napas memburu tubuhnya berasap. Dan di belakangnya terikat pada batang pohon sesosok makhluk aneh yang bercahaya remang-remang. Makhluk yang sesekali masih mengeluarkan percikan listrik dari tubuhnya. Warga desa jatuh bersimpuh. Kaki mereka lemas menyaksikan pemandangan yang tak masuk akal itu. Mereka sadar bahwa pemuda yang selama ini mereka anggap gila, pemuda yang mereka gunjingkan karena mencangkul saat badai bukanlah manusia sembarangan. Ia adalah seorang waliyullah kekasih Tuhan yang diberi karomah untuk menundukkan alam. Malam itu nama Bagus Songgom lenyap ditelan angin. Sebagai gantinya lahirlah sebuah nama besar yang akan menggetarkan seluruh tanah Jawa hingga berabad-abad kemudian. Ki Ageng Selo sang manusia petir. Sosok yang telah membuktikan sumpahnya bahwa jika bumi menolaknya maka ia akan menaklukkan langit. Kabar tentang penangkapan petir ini tidak akan berhenti di desa kecil ini. Angin malam akan membawanya terbang jauh melintasi hutan dan sungai menembus tembok tebal istana Demak dan sampai ke telinga Sultan Trenggana yang dulu pernah mengusirnya. Panggung sejarah baru saja berbalik arah. Sang buangan kini menjadi sang legenda. Dan sang legenda kini memiliki tawanan paling berbahaya di dunia yang sedang menunggu nasibnya di bawah pohon Gandri. Kabar tentang ditangkapnya makhluk langit itu menyebar lebih cepat daripada angin muson yang berhembus di samudra. Burung-burung seolah-olah menjadi kurir yang membawa berita gempita itu dari dahan ke dahan, hutan ke hutan hingga menyeberangi sungai-sungai besar. Tidak butuh waktu lama bagi desas-desus itu untuk merayap masuk menembus dinding tebal keraton Kesultanan Demak Bintoro. Awalnya berita itu hanya dianggap sebagai bualan orang desa yang terlalu banyak minum tuak. Mana mungkin ada manusia yang bisa menangkap petir dengan tangan kosong? Itu adalah hal mustahil yang menyalahi kodrat alam. Namun ketika semakin banyak saksi mata yang datang ke Kota Raja dengan wajah pucat pasi dan bibir gemetar menceritakan cahaya hidup yang terikat di pohon Gandri keraguan itu perlahan-lahan berubah menjadi ketakutan. Pasar-pasar di Demak menjadi riuh. Orang-orang melupakan dagangan mereka. Mereka berkumpul di sudut-sudut jalan membicarakan satu nama yang kini terdengar begitu keramat di telinga mereka. Ki Ageng Selo. Nama yang asing namun terasa begitu berat dan penuh wibawa. Sultan Trenggana duduk di singgasananya dengan hati yang gundah gulana. Laporan dari para telik sandi atau mata-mata kerajaan telah menumpuk di mejanya. Semua laporan itu bermuara pada satu kesimpulan yang sama. Bahwa di desa Selo ada seorang manusia sakti yang menyimpan kekuatan setara para dewa. Sultan termenung. Ingatannya melayang mundur ke beberapa waktu silam. Ia teringat pada sosok pemuda kurus berwajah murung yang pernah diusir dari alun-alun karena dianggap membahayakan. Rasa penyesalan mulai merayapi hati sang sultan. Ternyata intuisinya dulu benar. Pemuda itu memang bukan orang sembarangan.

[31:31]Namun Demak telah melakukan kesalahan fatal dengan membuangnya. Kini pemuda buangan itu telah menjelma menjadi raksasa spiritual yang kekuatannya bahkan mampu menundukkan utusan langit. Sultan Trenggana sadar ia harus segera bertindak sebelum kekuatan itu menjadi liar dan berbalik menghancurkan wibawa kerajaan. Maka diperintahkanlah satu pasukan khusus pengawal raja lengkap dengan kereta kencana kerajaan untuk menjemput Ki Ageng Selo. Kali ini bukan panggilan biasa. Ini adalah undangan kehormatan. Sultan ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari makhluk bernama bledek itu. Ia ingin membuktikan apakah legenda itu nyata atau hanya ilusi mata belaka. Rombongan penjemput dari Demak tiba di desa Selo dengan segala kemegahannya. Namun kemewahan seragam prajurit dan kilauan emas kereta kencana itu mendadak tampak kerdil di hadapan pemandangan yang mereka saksikan di ladang Ki Ageng Selo. Di sana di bawah pohon Gandri makhluk itu masih terikat. Meskipun wujudnya telah menyerupai kakek tua, namun aura panas dan suara gemuruh lirih yang keluar dari tubuhnya membuat kuda-kuda prajurit Demak meringkik ketakutan dan enggan mendekat. Ki Ageng Selo menyambut utusan raja dengan sikap yang tenang dan dingin. Tidak ada raut bangga atau sombong di wajahnya. Ia tahu hari ini akan tiba. Hari di mana mereka yang dulu meludahinya akan datang menjilat ludah mereka sendiri. Dengan patuh namun penuh harga diri Ki Ageng Selo menyetujui permintaan sultan. Ia akan membawa tawanan langitnya ke Demak. Perjalanan dari Selo menuju Demak menjadi sebuah arak-arakan yang paling aneh dan mengerikan yang pernah terjadi di tanah Jawa. Ki Ageng Selo tidak memasukkan makhluk itu ke dalam kerangkeng besi. Karena besi apapun akan meleleh terkena panas tubuh sang bledek. Ia hanya menuntun makhluk itu dengan sisa tali ijuk yang terikat di lehernya seolah-olah sedang menuntun seekor kambing gembala. Sepanjang perjalanan alam semesta bereaksi dengan cara yang ganjil. Awan mendung selalu memayungi rombongan itu seakan-akan melindungi rajanya yang sedang ditawan. Setiap kali makhluk itu melangkah terdengar suara dentuman halus di tanah. Pohon-pohon di pinggir jalan meranggas layu tersengat hawa panas yang memancar saat rombongan itu lewat. Rakyat jelata yang berjejer di pinggir jalan bersujud ketakutan tidak berani menatap langsung wajah sang bledek maupun wajah sang penakluknya. Akhirnya gerbang Kuthagara Demak kembali terlihat di kejauhan. Gerbang yang sama yang dulu menjadi saksi bisu pengusiran Bagus Songgom yang hina. Namun kali ini suasananya berbalik 180 derajat. Pintu gerbang dibuka selebar-lebarnya. Ribuan rakyat Demak tumpah ruah di alun-alun memanjat pohon, memanjat atap rumah demi menyaksikan kedatangan sang legenda. Saat Ki Ageng Selo melangkahkan kakinya memasuki alun-alun suasana mendadak hening, senyap yang mencekam. Semua mata tertuju pada sosok kakek tua bercahaya yang berjalan tertatih-tatih di belakangnya. Makhluk itu sesekali mendesis dan memercikkan bunga api biru membuat orang-orang yang berada di barisan depan mundur teratur dengan wajah horor. Sultan Trenggana turun dari singgasananya menyambut tamunya di pendopo agung. Raja besar itu menatap Ki Ageng Selo dengan pandangan takjub bercampur hormat. Ia melihat ada cahaya lain yang memancar dari tubuh Ki Ageng Selo, cahaya yang lebih terang daripada kilat yang dituntunnya. Itu adalah cahaya kewalian, cahaya orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Tanpa banyak kata Sultan meminta maaf atas kejadian masa lalu. Ia mengakui kehebatan Ki Ageng Selo. Sebagai bentuk pengakuan Sultan meminta agar makhluk itu dipertontonkan di tengah alun-alun namun dijaga ketat agar tidak membahayakan warga. Lebih dari itu Sultan memiliki satu permintaan khusus yang didasari rasa penasaran yang teramat sangat. Ia ingin wujud asli makhluk petir itu diabadikan. Ia ingin melukisnya. Ki Ageng Selo mengangguk setuju. Namun ia memberikan satu peringatan keras. Sebuah pantangan yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun. Hamba persembahkan tangkapan ini untuk Demak. Namun ingatlah Paduka makhluk ini bukanlah tontonan sirkus. Ia adalah amarah. Jangan ada yang memberinya air, jangan ada yang mendekatinya dengan hati kotor dan jangan pernah meremehkannya. Jika pantangan ini dilanggar hamba tidak bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi. Sultan mengiyakan. Namun di balik anggukan itu tersimpan rasa penasaran yang mematikan. Manusia seringkali lupa bahwa menurung singa di dalam sangkar tidak akan mengubahnya menjadi kucing rumahan. Singa tetaplah singa dan petir tetaplah api yang siap meledak kapan saja.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript