[0:25]Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang ibu dengan anak perempuannya yang bernama Darmi. Ayah Darmi sudah meninggal saat Darmi masih kecil. Dahulu mereka hidup berkecukupan. Namun setelah ayahnya meninggal, Ibu Darmi harus bekerja keras di ladang demi hidup mereka. Karena setiap hari bekerja di ladang, kulit Ibu Darmi jadi semakin gelap dan berat tubuhnya pun menyusut. Semua dilakukannya demi Darmi, putri satu-satunya. Namun apa yang dilakukan Darmi, ia tidak mau membantu ibunya. Kerjanya setiap hari hanya berdandan, dia juga enggan keluar rumah karena takut kulitnya menjadi gelap seperti ibunya. Suatu hari Ibu Darmi akan bekerja di ladang. Ia akan bekerja sampai sore hari. Sebab musim panen telah tiba. Ibu Darmi berkata pada Darmi. Darmi, bisakah kamu masak hari ini, Nak? Ibu tidak bisa pulang siang ini karena harus menyelesaikan panen kita. Jika sudah selesai maukah kamu mengantarkan ke ladang untuk Ibu? Tidak mau, Bu. Kalau nanti aku masak, nanti badanku ini bau tungku. Aku kan baru saja mandi, lalu kalau misalnya aku disuruh mengantarkan makanan ke ladang, nanti kulitku ini bisa hitam kayak ibu. Ihh, enggak mau, Bu. Ibu Darmi hanya menggeleng-gelengkan kepala yang terlihat sedih. Di ladang Ibu Darmi bekerja dengan keras. Ia mengumpulkan hasil panen karena besok dia akan menjualnya ke pasar. Dia tidak memperdulikan perutnya yang lapar. Saat lelah dia beristirahat sambil minum air yang dibawanya. Dia berdoa dalam hati, "Ya Tuhan, tolong kami, ubahlah anakku, lepaskan dia dari sifat malasnya." Setelah pulang dari ladang, Ibu Darmi sampai di rumah. Betapa terkejutnya dirinya, di meja tidak ada makanan yang bisa dimakan. Darmi sama sekali tidak memasak. Darmi yang melihat ibunya pulang justru marah-marah. Ibu ini kemana saja sih seharian? Masa di rumah tidak ada makanan? Darmi kan lapar, Bu, belum makan seharian. Darmi, tadi kan Ibu sudah menyuruhmu untuk memasak. Ihh Ibu, Darmi kan sudah bilang Darmi itu enggak mau Ibu. Darmi meninggalkan ibunya yang kelaparan dan lelah dengan marah. Keesokan harinya, Ibu Darmi sudah siap dengan hasil panennya. Ia akan pergi ke pasar. Darmi, ikutlah Ibu ke pasar nak. Ibu membutuhkan bantuanmu untuk membawa hasil ladang kita. Ck, ah, enggak mau Bu. Nanti kalau Darmi ikut ke pasar, kulit Darmi ini bisa kotor. Ihh apalagi pasar kan becek. Aduh Bu, Darmi enggak bisa bayangin kalau nanti Darmi ikut ke pasar, kulit Darmi yang udah putih bersih ini jadi ikutan kotor. Enggak mau Bu. Akhirnya ibunya ke pasar sendiri dengan membawa hasil ladang itu.
[3:56]Sorenya Ibu Darmi pulang membawa uang hasil panen. Tidak terlalu banyak. Darmi yang melihat ibunya sedang menghitung uang segera mendekati ibunya. Bu, bedak Darmi habis nih, beliin dong Bu. Iya, besok Ibu belikan, tapi kamu harus ikut Ibu ke pasar supaya Ibu tidak salah beli. Emm, iyadeh, besok Darmi ikut ke pasar.
[4:25]Bu, nanti jalannya jangan berdampingan. Ibu di belakangku saja. Kenapa Darmi? Ihh udah deh, pokoknya Ibu di belakangku saja. Akhirnya Darmi dengan terpaksa, ikut ibunya pergi ke pasar.
[4:49]Darmi sebenarnya malu berjalan bersama ibunya yang berkulitnya gelap dan wajah yang tak terawat. Tiba-tiba di tengah perjalanan ada seorang teman Darmi yang menghampiri dan bertanya. Hai Darmi, kamu mau kemana? Ah, aku mau ke pasar. Ohh, itu siapa Darmi? Ibumu ya? Dia? Bukan, bukan ibuku. Dia itu pembantuku. Mana mungkin dia ibuku? Ihh amit-amit deh. Ohh pembantu. Iya, yaudah ya aku duluan. Betapa sedih Ibu Darmi mendengarnya. Namun hanya ia tahan di dalam hati. Mereka melanjutkan perjalanan ke pasar.
[5:47]Darmi bertemu dengan temannya yang lain. Ramai sekali ya di pasar tadi. Iya e, tadi di pasar banyak ibu-ibu yang belanja. Habis ini kita mau kemana lagi nih? Ke rumahku aja po? Ayok. Kedua orang pemuda itu melihat temannya Darmi dan lalu menyapa. Darmi, kamu mau kemana? Mau ke pasar. Tumben sekali Darmi kamu mau ke pasar. Ehh, ngomong-ngomong, siapa tuh yang ada di belakangmu? Apa dia Ibumu, Darmi? Bukan, bukan. Dia itu bukan ibuku. Dia pembantuku. Oh, pembantu. Yaudah aku duluan ya. Sungguh hati Ibu Darmi semakin sedih. Begitu tega anaknya mengakui dirinya sebagai pembantu. Namun sekuat tenaga dia berusaha menahannya.
[6:42]Sampailah Darmi dan ibunya di pintu pasar. Saat mereka akan memasuki pasar, lagi-lagi Darmi bertemu dengan temannya yang lain. Darmi, tumben kamu mau ke pasar? Iya, aku mau membeli sesuatu. Wah kamu sekarang tambah cantik aja. Bagi dong tips merawat diri. Ah, kamu bisa saja. Jika kamu ingin cantik seperti aku, kamu harus setiap hari luluran, jangan lupa dandan juga. Oh seperti itu. Lalu siapa di belakang kamu? Iya siapa ya, Ibumu? Dia? Bukan, dia bukan ibuku. Dia itu pembantuku. Setelah bertemu temannya, Darmi dan ibunya melanjutkan jalan ke pasar. Sesampainya disana, Darmi melihat-lihat dan membeli barang-barang yang dijual di pasar itu.
[8:40]Berapa Bu? Tiga ribu aja.
[8:45]Ini ya Bu, makasih ya. Datang lagi ya Mbak.
[9:01]Bu, Ibu ini bagaimana sih? Darmi kan ingin tas terbaru tadi. Masa Ibu menolak membelikan? Darmi sudah terlalu banyak barang yang sudah kamu beli nak. Uang Ibu sudah tidak cukup lagi. Halah alasan. Kalau Darmi mau, ya Ibu harus membelikan dong, tidak usah beralasan uang habis. Lalu, Bu, tadi sebelum berangkat Darmi kan sudah bilang Ibu itu jangan dekat-dekat dengan Darmi. Darmi itu malu, Bu, malu. Masa iya, Darmi punya Ibu yang kaya gini, berkulit hitam tidak terawat. Lalu, Ibu tahu tidak dengan penampilan Ibu yang seperti ini, Ibu itu macam pembantu? Ibu Darmi tak kuasa menahan air matanya. Maka ia pun berdoa. Ya Tuhan, hamba sudah tidak kuat lagi dengan sikap anak hamba. Tolong kiranya Tuhan menghukumnya agar dia menjadi jera. Setelah Ibu Darmi selesai berdoa, tiba-tiba Darmi menjerit. Ibu, Ibu tolong Bu. Kakiku sudah tidak bisa digerakan Ibu. Ibu sakit. Sedikit demi sedikit Darmi menjadi batu. Ibu Darmi menangis pilu. Ampun Bu, ampun. Darmi tidak akan mengulanginya lagi Bu, ampun Ibu.
[10:34]Darmi tetap menjadi batu. Dia harus menanggung hukuman karena telah durhaka kepada ibunya yang sudah melahirkan, merawat dan menjaganya hingga dewasa. Batu itu akhirnya dinamakan Batu Menangis yang berada di Kalimantan Barat.
[10:57]Dari cerita rakyat Batu Menangis, kita semua dapat mengambil pelajaran bahwa kita sebagai seorang anak hendaknya harus berbakti kepada orang tua kita. Ibu adalah orang yang telah mengandung, melahirkan dan merawat kita dengan penuh kasih sayang. Seperti apapun rupa orang tua kita, baik miskin ataupun kaya, mereka tetaplah merupakan orang tua yang harus kita hormati, sayangi dan kita rawat sepenuh hati. Hormati orang tuamu, maka akan datang keberkahan didalam hidupmu.



