Thumbnail for FILM SEJARAH INDONESIA | "PERISTIWA RENGASDENGKLOK" | PROJECT MOVIE KENTA 2025 by KENTA

FILM SEJARAH INDONESIA | "PERISTIWA RENGASDENGKLOK" | PROJECT MOVIE KENTA 2025

KENTA

18m 43s1,168 words~6 min read
Auto-Generated

[0:05]Peristiwa Rengasdengklok 1945. Detik-detik proklamasi. Menginang sejarah tentang peristiwa, di mana Bung Karno dan Bung Hatta diasingkan sebelum memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

[1:01]Ilustrasi bom atom di Hiroshima, Jepang 6 Agustus 1945.

[1:19]After falling for 43 seconds, the time and barometric triggers started the firing mechanism. A uranium bullet fired down a barrel into a uranium target. Together they started a nuclear chain reaction. Solid matter began to come apart, releasing untold quantities of energy.

[2:34]Beberapa hari kemudian, setelah peristiwa bom atom di Jepang, berita tentang Jepang menyerah kepada sekutu mulai menyebar.

[3:07]Di sini, di batas kota ini, inginku tuliskan surat untukmu.

[3:19]Biar engkau mengerti perjalanan hidupku di dalam menyapa kita bertemu. In 1945, final defeat came to the Japanese. Three days after the war's end, a committee of national leaders proclaimed the independence of the Republic of Indonesia with Sukarno as president. Thus on their own initiative, seizing the freedom promised three years earlier by the Dutch. With the Japanese defeated and no allied forces at hand to take over in their place. Setelah mendengar berita tersebut, Sutan Syahrir bergegas memberitahu para pemuda.

[4:27]Assalamualaikum. Waalaikumsalam. Tujuan saya datang ke sini, saya ingin mengatakan bahwasanya Jepang telah mengalah kepada sekutu dan itu membuat kekosongan kekuasaan di Indonesia. Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk mengisi kekosongan dan kekuasaan tersebut? Mari kita sepakat untuk kemerdekaan negara kita tanpa bantuan dari Jepang. Mari kita meminta kepada Bung Karno dan Bung Hatta untuk memutus segala hubungan dengan Jepang. Saya setuju. Saya juga setuju. Ini adalah waktu yang tepat untuk kita memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Besok kita ke rumah Bung Karno untuk membicarakannya. Saya sudahi rapat hari ini. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Para pemuda pergi menuju ke rumah Sukarno untuk membicarakan rencana mereka.

[5:48]Assalamualaikum. Waalaikumsalam.

[5:55]Bung Karnonya ada, Bu? Iya, ada. Silakan masuk dan duduklah.

[6:14]Ada apa saudara-saudara ini datang ke rumah saya? Kemarin kami mengadakan rapat, Bung. Mengenai berita bahwa Jepang mengalah dari sekutu. Maka dari itu kami ingin Bung Karno segera memproklamasikan kemerdekaan. Apa ini tidak terlalu cepat? Sedangkan kebenaran berita ini masih diragukan. Tidak, Bung, karena berita ini memang benar adanya. Baiklah, nanti kita bicarakan lagi dengan kelompok PPKI yang lain. Baiklah jika itu keputusan Anda, pembicaraan ini sampai sini. Kami izin pamit pulang dulu. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

[7:07]Malam harinya, para pemuda kembali ke rumah Sukarno untuk meyakinkan kembali tentang rencana mereka.

[7:19]Assalamualaikum, Bu. Waalaikumsalam. Bung Karnonya ada? Ada, silakan masuk. Di dalam juga ada para ketua.

[7:38]Ada apa kalian datang lagi ke sini? Kami ke sini ingin membicarakan rencana kami lagi, Bung. Sebenarnya saya juga ingin negara ini segera merdeka, tapi saya tidak bisa melakukannya tanpa ada keputusan dari anggota PPKI yang lainnya. Tapi PPKI masih ada hubungan, Bung, dengan Jepang. Takutnya Jepang tahu rencana kita. Jadi kalian tidak ingin ada campur tangan dari Jepang terkait rencana ini? Ya, kami setuju. Saya tidak menyetujuinya. Bagaimanapun juga kita harus membicarakannya dengan anggota PPKI agar tidak terjadi banyak masalah. Tapi, Bung! Jika kalian tidak setuju, maka saya tidak akan memproklamasikan kemerdekaan ini. Ada apa ini, ribut-ribut? Begini, Bung. Para pemuda ini menyuruh saya segera memproklamasikan kemerdekaan, tapi saya tidak menyetujuinya karena saya tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Begini saja, masalah ini akan saya bicarakan dengan Bung Karno dan Bung Ahmad. Sementara itu kalian bisa menunggu di luar. Baik, tidak masalah. Permisi.

[9:26]Ayo masuk.

[9:40]Bagaimana dengan keputusan Anda, Bung? Kami tetap tidak setuju dengan rencana kalian. Jika kalian keberatan, silakan cari tokoh yang lain. Baiklah, jika memang itu keputusan Anda, akan tetapi kami akan segera memproklamasikan kemerdekaan. Kalian pikir memproklamasikan kemerdekaan itu mudah. Semua butuh proses, kita tidak bisa bertindak semaunya sendiri. Tapi ini adalah saat yang tepat, Bung, kenapa harus menunggu lagi? Rakyat sudah banyak yang menderita. Sudah saya ucapkan berkali-kali jika kalian keberatan, silakan cari tokoh yang lain. Saya akan tetap pada pendirian saya. Tenang, Bung, tenang. Para pemuda mengadakan rapat lagi karena Bung Karno tidak setuju dengan rencana mereka. Bagaimana ini? Bung Karno tidak setuju dengan usul kita.

[10:32]Bagaimana ya? Oh, bagaimana kalau kita asingkan saja? Lalu akan kita sembunyikan di mana mereka? Bagaimana kalau di Rengasdengklok, Karawang? Di sana adalah pusat tentara tetap dan keamanan pasti terjamin. Bagaimana menurut kalian? Setuju. Ya, saya juga setuju. Darwis dan Singgih diutus oleh Chaerul Saleh pergi ke rumah Sukarno untuk membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok. Assalamualaikum.

[11:06]Waalaikumsalam. Ada apa kalian pagi-pagi ke sini? Kami diutus untuk membawa Bung Karno dan Bung Hatta pergi ke luar kota. Hah? Bung Hatta? Bung Hatta?

[11:16]Ada apa ini? Kenapa kami harus ke luar kota? Untuk menghindari dari pengaruh Jepang. Hah? Apa-apaan kalian ini?

[12:21]Ahmad Subarjo baru mengetahui peristiwa ini. Ia terus mencari di mana keberadaan Bung Karno dan Bung Hatta, dan bertemu dengan beberapa pemuda. Apakah kalian berdua tahu di mana keberadaan Bung Karno dan Bung Hatta? Maaf, Bung, saya tidak tahu. Cepat katakan, di mana mereka? Aku bersumpah akan menjamin kemerdekaan keesokan harinya. Apakah Anda yakin dengan perkataan Anda, Bung? Ya, saya bersumpah, tapi tolong bawalah mereka kembali ke Jakarta. Dan saya berjanji akan menjamin kemerdekaan keesokan harinya. Jika tidak, nyawa saya menjadi taruhannya. Baiklah kalau begitu, kami akan mengantarkan Anda di mana tempat Bung Karno dan Bung Hatta diasingkan. Ahmad Subarjo diantar menuju Rengasdengklok. Di sana Bung Karno dan Bung Hatta terus-menerus didesak oleh para pemuda untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

[13:19]Bagaimana? Apakah Anda sudah berubah pikiran, Bung? Tidak, saya tetap pada pendirian saya. Pemuda seperti kalian ini tidak pantas dianggap sebagai pemuda Indonesia. Para pemuda, ke sinilah.

[13:44]Jadi, apakah masih tidak berubah pikiran? Sebanyak apapun kalian mengepung saya, berapa kalipun kalian bertanya kepada saya, saya tidak setuju dengan rencana ini. Segera proklamasikan kemerdekaan Indonesia. Kalau tidak, akan kubunuh kau. Apa-apaan kalian semua ini? Lebih baik masalah ini kita selesaikan dengan kepala dingin dan tidak emosi. Apa-apaan kalian ini? Lepaskan mereka berdua sekarang.

[14:28]Ahmad Subarjo membawa Bung Karno dan Bung Hatta pergi ke rumah Laksamana Maeda untuk mencari kebenaran dari berita tersebut. Assalamualaikum, Tuan Laksamana Maeda.

[14:44]Oh, ya, silakan masuk.

[14:53]Ada apa, Tuan-tuan datang ke rumah saya? Apakah ada masalah serius? Begini, Tuan, kami sedang mencari kebenaran berita bahwasanya Jepang telah menyerah kepada sekutu. Hal itu memang benar, tetapi kami masih merahasiakan hal ini karena dapat menimbulkan masalah di Indonesia. Tetapi para pemuda ini terus mendesak kami untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Aku rasa itu memang keputusan yang tepat. Jadi, Tuan menyetujuinya? Ya, saya setuju. Kalau begitu kami akan melakukan kesepakatan yang telah kami buat. Kesepakatan apa? Kami sepakat jika berita itu benar adanya, maka kami akan segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Baiklah, tapi apa yang sudah kalian siapkan? Sebenarnya kami masih belum menyiapkan apa-apa, akan tetapi kami akan segera membuat teks proklamasi kemerdekaan dan bendera. Baiklah, kalian buat secepatnya. Bung Karno, Bung Hatta, Ahmad Subarjo dan Laksamana Maeda berunding tentang isi dari teks proklamasi yang kemudian diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik.

[18:01]Pembacaan teks Proklamasi. Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

[18:30]Jakarta, 17 Agustus 1945 atas nama bangsa Indonesia, Sukarno-Hatta.

Need another transcript?

Paste any YouTube URL to get a clean transcript in seconds.

Get a Transcript