[0:00]Agama Islam merupakan agama mayoritas yang dipeluk penduduk Indonesia. Masuknya ajaran Islam ke wilayah Nusantara sudah terjadi sejak abad ke-7 Masehi. Meski demikian, proses Islamisasi besar-besaran di Nusantara baru terjadi pada abad ke-14 sampai abad ke-15 Masehi. Berbicara tentang Islam maka buku-buku sejarah akan menyebut sejumlah daerah seperti Aceh hingga Demak di Pulau Jawa. Padahal ada satu daerah yang dipercaya sebagai titik awal persebaran Islam yaitu di Kota Barus. Kota Barus sebagai titik nol persebaran Islam di Nusantara dikuatkan dengan diresmikannya Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara pada tahun 2017 silam. Walaupun demikian sangat disayangkan karena sampai saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengenal Barus. Karena minimnya informasi mengenai kota tua ini. Lantas bagaimana kisah tentang Kota Barus ini di masa lalu? Sebelum kita lanjut jangan lupa like, share dan subscribe channel ini. Agar kami semakin berkembang lagi untuk memberikan informasi-informasi yang semakin menarik tentang seputar dunia Batak. Barus merupakan kota Emporium dan pusat peradaban pada abad pertama sampai abad ke-17 Masehi. Kota Barus disebut juga dengan nama Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara Kota Singkil dan Kota Sibolga. Sekitar 414 km dari selatan Kota Medan. Pada zaman kejayaan Sriwijaya Kota Barus ini masuk dalam wilayahnya. Namun saat Sriwijaya mengalami kemunduran, akhirnya digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam sehingga Barus masuk dalam wilayah Kerajaan Aceh. Sudah sejak dahulu kala bangsa Indonesia telah melakukan hubungan dagang dengan bangsa-bangsa lain baik Arab, India maupun Cina. Barus merupakan penghasil wewangian atau kapur barus yang berasal dari kayu Camfer. Bahkan sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Polomous, salah seorang Gubernur kerajaan Yunani yang berpusat di Alexandria, Mesir. Pada abad ke-2 Masehi juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera, terdapat sebuah bandar niaga bernama Bariosai tepatnya Kota Barus. Yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur Barus. Dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu Camfer dari kota itu, telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan sebagai bahan utama pembalasan mayat pada zaman kekuasaan Firaun. Sejak Ramses ke-2 atau sekitar 5000 tahun sebelum Masehi. Berdasarkan buku Nuzhpati Dur karya Adimasqi Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai Barus. Di batu nisannya tertulis bahwa Syekh Rukunuddin wafat pada tahun 672 Masehi dan terdapat pula makam Syekh Ushuluddin yang panjangnya kira-kira 7 m. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu. Sebuah tim arkeolog yang berasal dari Ekol Francis Extrem Orient atau Prancis, yang bekerja sama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional atau PPAN di Lobu Tua Barus. Telah menemukan bahwa pada sekitar abad ke-9 sampai abad ke-12 Masehi.
[3:15]Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, Cina, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu dan masih banyak lagi. Masuknya agama Islam ke Kota Barus juga tak terlepas dari peran Banda Aceh yang rute pelayaran pernikahannya telah dikenal sejak zaman dahulu oleh para pedagang Arab, India dan pedagang Cina. Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara terutama Sumatera dan Jawa dengan Cina diakui oleh sejarawan GR Tibets. Tibets meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dan Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibets menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara Negeri Arab dengan Nusantara saat itu. Tibets mengungkapkan bahwa keadaan ini terjadi karena Kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad ke-5 Masehi. Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa sekitar tahun 625 Masehi yang hanya berbeda 15 tahun setelah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama atau 9,5 tahun setelah Nabi Muhammad berdakwah secara terang-terangan kepada bangsa Arab di pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim. Yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Sriwijaya yang menganut agama Buddha. Disebutkan pula bahwa di perkampungan ini, orang-orang Arab sudah bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Bahkan mereka sudah beranak pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian Al-Qur'an dan pengajian tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren. Umumnya juga merupakan tempat beribadah yaitu masjid. Selain itu mereka juga memiliki kedudukan yang baik dan mempunyai pengaruh yang cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah Kerajaan Sriwijaya. Bahkan kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Semakin lama semakin banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam. Bahkan ada pula Raja, Adipati atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam saat itu. Temuan lain mengenai Barus juga diperkuat oleh Profesor Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang menyebutkan bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 Masehi telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir barat Sumatera. Ini sebabnya Hamka menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Nusantara. Hamka juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia di Princeton University Amerika. Perjalanan dari Sumatera sampai ke Mekah sendiri pada abad itu dengan mempergunakan kapal laut dan transit lebih dulu di Tanjung Komorin India. Konon perjalanan itu memakan waktu kira-kira 2,5 tahun sampai hampir 3 tahun. Jika tahun 625 Masehi dikurangi 2,5 tahun, maka yang didapat adalah tahun 622 Masehi lebih 6 bulan. Untuk melengkapi semua syarat mendirikan sebuah perkampungan Islam setidaknya memerlukan waktu 5 sampai 10 tahun. Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab Islam generasi pertama. Tepatnya para sahabat Nabi Muhammad yang segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu. Dalam literatur kuno asal Tiongkok tersebut, orang-orang Arab disebut sebagai orang-orang Taib. Sedangkan Amirul Mukminin disebut sebagai Tan Mi Moni. Disebutkan bahwa Duta Tan Mi Moni yang merupakan utusan Khalifah, telah hadir di Nusantara pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah. Dan menceritakan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dengan tiga kali berganti kepemimpinan. Maka dengan begitu, Duta Muslim itu datang ke Nusantara tepatnya di perkampungan Islam di Pesisir Pantai Sumatera pada saat kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan sekitar tahun 644 sampai 656 Masehi. Yang hanya berselang 20 tahun setelah Nabi Muhammad wafat yaitu tahun 632 Masehi. Dari bukti-bukti di atas dapatlah dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup. Inilah yang oleh banyak sejarawan dikenal dengan teori Mekah. Sehingga teori Gujarat yang berasal dari orientalis Nurgo terbanntah dengan sendirinya. Dan Barus akan tetap menjadi sejarah peradaban Islam yang tak akan terlupakan bagi siapa saja yang mengetahuinya. Sampai di sini informasi yang bisa kami bagikan dalam video ini dan semoga bermanfaat.



