[0:00]Jadi omset terbesar yang pernah didapatkan sama Bang Anjas dalam setahun berapa, Bang? 11,8 miliar. Gimana step by step-nya secara teknisnya nih sampai mereka bisa mendapatkan 100 juta pertamanya dari pemanfaatan AI? tetap dipikirin revenue generatornya tuh apa, bidangnya ya? Ada beberapa money generator yang obvious banget AI bisa kerjakan, media, web, jasa apapun. Muridku di sebuah kota X ya, dia gedein satu channel cuma pakai suara suara itu doang. Channelnya itu jadi 4 juta subscriber ya. Oke. Terus dia jual 2 juta USD. 28 miliar? 28 miliar. Bahkan kerja AI baru 3 bulan kita sekarang revenue kita udah 3x dari modal kita, bahkan udah untung gede gitu. Ini untungnya berapa yang disebut? Masih di bawah 5 miliar. Wah, pemanfaatan antara sosmed dan juga AI kalau digabungin, itu benar-benar bisa making money loh. Sangat posible. Tapi bisa enggak suatu saat nanti AI yang akhirnya semua pekerjaan musnah? Ha.
[0:58]Ternyata 91,6% orang yang nontonin podcastku itu masih belum subscribe. Nah, buat teman-teman yang udah nontonin podcast ini berkali-kali dan suka dengan podcast ini, merasakan manfaat dari podcast ini, boleh tolong bantu aku untuk subscribe channel ini karena satu subscribe yang walaupun itu gratis, itu sudah lebih dari cukup untuk membantu tim dari The Samuel Christ Show untuk terus mengembangkan podcast ini. Aku janji sama kalian, dengan support kalian, satu subscribe itu, aku akan meng-upgrade terus podcast ini dan mengundang bintang tamu-bintang tamu yang lebih keren-keren lagi biar kalian terus mendapatkan manfaatnya dari podcast ini. Bang Anjas, thank you sudah main-main ke sini. Tapi suaranya kenapa itu, Bang? Kebanyakan event sama Nvidia. Jadi suaranya enggak bisa dijadiin AI nih, supaya bagus gitu ya. Oh bisa. Nih nih nih, halo semuanya. ini kan jelek ya. Oke. Nih gua change. Halo semuanya. Ah jadi suaranya lebih bagus nih. Tapi kan jadi enggak natural. Oh, oke. Jadi enggak apa-apalah ya, kita suara gini ajalah ya. Iya, ya, aman, aman. Lebih natural. Lebih natural, oke. Bang, kan Bang Anjas ini terkenal dengan konten kreator AI. Jadi sudah pasti ekspektasi orang ketika mengundang di sini bahasanya AI, cara penggunaannya dan lain-lain kan. Tapi enggak ya. Oh, enggak. Yang kita mau bahas sebenarnya adalah gimana caranya orang menghasilkan uang dari AI. Itu yang lebih akan kita ulik di sini. Oke, oke, oke. Karena banyak sekali yang bilang bahwa untuk bisa menjadi sukses di era sekarang, kita harus maju atau menggunakan teknologi terdepan kayak blockchain, AI. Nah, orang kan tapi kalau terdepan kan artinya tidak banyak yang tahu gitu kan. Iya, iya. Dan kita akan menggali di sini sebenarnya gimana cara untuk mendapatkan uang dari AI ini. Oke, sure. Kayak gitu ya. Iya. Mungkin kita dari basic dulu nih. AI itu kan orang tahu cuma Chat GPT. Oke. Chat GPT kita tulis prom dan kemudian keluarlah semua itu apa yang kita tanya kayak Google. Heem. Tapi sebenarnya, ya kan, AI yang di luar dari Chat GPT yang wajib untuk orang-orang pakai di zaman sekarang, itu apa sih? Ini tergantung penggunaannya sekali lagi, Sem. Oke. Kayak orang itu selalu mikir pengguna, kan gini, AI itu pokoknya semuanya all-in-one dipakai buat apapun gitu ya. Oke. Padahal sebenarnya harus disesuaikan dengan penggunaannya orang itu. Oh, Chat GPT itu all in one, ibarat gitu ya. Iya, kita bisa bilang ya semi-semi AGI, Artificial General Intelligence, bisa semua hal gitu. Oke. Tapi dia tidak specialty di beberapa bagian gitu. Dia bagus untuk membantu kita dalam hal general. Oke. Jadi kalau misalnya aku langsung tanya sekarang, tiga AI yang wajib digunakan oleh semua orang selain Chat GPT itu apa? Oke, yang pertama adalah Lorable. Apa? Lorable Dev namanya. Lorable Dev. Ini untuk bikin web. Jadi gini, beda dengan template ya. Template itu kan lu udah punya gitu kan. Tinggal diganti ya. Tinggal diganti. Ini enggak. Apa yang ada di kepalamu, kamu bisa minta. Serius? Serius. Jadi enggak usah coding, enggak usah apa. Ya, enggak usah coding tapi perlu ngerti framework lah, ya. Oh. Tapi gini, misalnya di kepala kita ada web analisa saham. Oke. Susah kan, bikin dari nolnya? Susah. Dan tentu aja kalau pakai template enggak ada yang punya template-nya. Ya betul. Almost enggak punya. Nah, bilang sama Lorable Dev. Masukin Chat GPT dulu tadi. Habis itu masukin ke Lorable. Dia bisa bikinin framework-nya detail, backend-nya pakai apa, semuanya detail. Baru setelah itu request sama Lorable untuk bikinin. Itu jadi. Berarti request-nya tetap pakai Chat GPT dulu. Request-nya Chat GPT. Sebenarnya kalau mau percaya sama Lorable, kan Lorable di backend-nya ada Claude, ada Chat GPT kan. Oh. Bisa langsung. Tapi lebih dia lebih bisa bantu aja secara general. Lebih tajam kalau lewat Chat GPT dulu ya. Iya, bahkan termasuk style-style-nya dia bisa bikinin. Kedua adalah namanya adalah Hijin. Oh, oke. Nah, gini, orang itu masih bilang kalau AI video paling bagus itu kan Google Feo ya. Feo 3, ya. Iya, iya, itu yang paling terakhir. Itu bagus tapi tidak terkontrol. Oh. Sedangkan kalau lu pengin ngebantu untuk cari duit, harus terkontrol, harus membantu. Oke. Nah, kalau dalam case gua yang gua jawab adalah AI ini bisa naikin personel branding kita tanpa kita harus shoot video gitu. Itu Hijin. Iya, kayak murid lu dari See Fluencer tuh, siapa? Ali Sadikin ya. Oh, itu kan pakai Hijin. Oke. Menurutku dia itu menggunakan Hijin dengan sangat keren, dengan sangat tajam sehingga hasilnya itu ngebantu dia gitu. Oke. Yang kedua Hijin terkontrol. Dan sekarang bisa bikin baby podcast. Iya. Tunggu, Hijin ini fungsinya untuk apa? Oke, untuk nge-generate video. Khususnya untuk nge-generate talking head. Oh. Dan sekarang yang fitur barunya bisa nge-generate video apapun lah, kayak ngomong gitu. Berarti semua video Bang Anjas itu pakai Hijin semua? Rata-rata pakai Hijin. Itu yang cuma script-nya di copy paste, mulutnya gerak-gerak sendiri. Jadi kita cuma syuting sekali. Iya, betul. Tapi suaranya pun itu keluar seperti Bang Anjas. Benar, benar banget. Nah, itu itu salah satu tools yang tajam banget zaman sekarang. Dan yang ketiga? Yang ketiga Eleven Labs, tentunya. Sebenarnya opsinya banyak, tapi Eleven Labs itu adalah AI untuk menghasilkan suara. Dan capitalized market-nya tuh gede banget sekarang ya. Even kayak suara tung tung tung sahur, itu dari situ. Suara dokter Brandu, itu dari situ. Oh. Jadi kita bisa bilang bahwa itu tools yang sangat ter-capitalized besar sekali gitu ya. Nah, kenapa gua enggak nyebut Chat GPT mini gitu? Karena itu adalah basic hal yang harus kita pakai untuk kita pakai ke AI-AI lainnya gitu. IC. Gitu cara mikirnya. Nah, berarti sekarang kalau kita ngomongnya itu kan AI tadi untuk apa ya, industri media kita bilang ya, entertainment ya. Video, musik. Website bukan media, kan? Untuk kita mungkin jualan, pitching, atau bahkan kita develop website itu bisa, bisa ganti domain. Oke. Tapi apa sih AI tergila yang sekarang yang lagi ada di dunia yang dan AI ini bisa ngelakuin apa? Kalau gue sih mikir masih ya semuanya basic lagi ke LLM, ya. Pasti Chat GPT. Itu paling gila, udah. Iya, Chat GPT. Tapi gini, Chat GPT itu tidak punya resource. Sedangkan kayak Gemini, dia punya resource. Jadi dengan power yang sama, dua-duanya ini tuh kayak 11-12 yang punya function-nya masing-masing. Kalau dibandingin sama yang Cina itu apa namanya? Ah, itu apa sih? Deepsik lah contohnya ya. Sebenarnya gini, Deepsik pun yang awal-awal itu gorengan, kan. Yang waktu itu katanya cuma 5 million USD. Itu gua enggak gitu percaya. Karena banyak GPU selundupan kan ke sana gitu. Jadi kayaknya itu fakta yang disembunyikan aja atau dibantu sama pemerintahnya gitu. Oh. Jadi untuk China keren, iya, mereka bisa bikin, tapi untuk use case scenarionya yang memang benar-benar pasti bagus itu ya tadi gitu. Chat GPT, Gemini, itu dua-duanya saling melengkapi, sangat sangat bagusnya. Oke. Dan di kehidupannya Bang Anjas sekarang 90% itu sudah menggunakan AI setiap hari. Yes, yes. Sangat, sangat menggunakan ya. Karena gini, jangan dibikin pakai AI membodohi kita gitu. Enggak, Do. Kalau kita misalnya kitanya berpikir itu adalah amunisi tambahan buat kita, itu bisa bikin kita lebih produktif. Contohnya kita lagi coding, ya. Terus kita sambil nyalakan screen share-nya yang punyanya Gemini atau Chat GPT. Oke. Itu kita bisa tanya real time di situ. Oh, serius. Kalau ada solusi apapun gitu, kita bisa tanya langsung gitu. Jadi misalnya kita sudah bikin web-nya, kan dia sambil nontonin kita bikinkan. Nah, ketika kita lagi dibikin, kita bisa langsung tanya ini kira-kira saya harus pakai model apa ya untuk servernya itu bisa dijawab langsung.
[8:10]Artinya kan lu jadi ditambah lagi skill yang harusnya Sam misalnya bisa menyelesaikan satu web, sekarang mungkin dalam sehari dia bisa nyelesaiin 9-10 web. Hmm. Dan pasti dari situ duitnya lebih banyak gitu. Betul. Dan itu secara enggak langsung akan membunuh banyak pekerjaan dong. Ha. Itu dia. Jadi gini, ngomongin membunuh pekerjaan itu kalau kita pikir orang yang skill-nya, maksudnya di bawah banget, kan. Yang dia bahkan dia pun itu enggak mau step up untuk naik terus gitu. Hmm. Kalau kita ngelihat orang yang dia udah specialized di satu bidang, dia bisa menggunakan itu untuk lebih menambah skill untuk dirinya sendiri, Sam. Oke. Ada pertanyaan tuh untuk itu, berarti. Jadi apa yang harus dipelajari oleh orang-orang sekarang tentang AI yang bisa meningkatkan revenue mereka? Oke. Pertama balik lagi ke diri sendiri. Jadi jangan dibalik ya, jangan dibaliknya gini, orang yang enggak ngerti konteks A, terus dengan AI pengin langsung ngerti konteks A tersebut. Paham, paham, paham. Ngerti kan? Kayak Contohnya gini, script misalnya, scripting dalam buat konten. Oke. Kalau langsung dia enggak ngerti cara fundamental bikin script, tiba-tiba suruh Chat GPT yang buatin dia script. Iya. Kurang. Kurang, karena dia tidak ngerti. Betul. Tapi kalau dia ngerti ada hook, ada foreshadow, ada body, ada closing. Nah, plus ditambah dengan Chat GPT. Boom. Dan dia bisa fine tune itu gitu. Iya, iya, iya. Pakai custom GPT, pakai bahkan trainet model dan lain-lain itu bisa lebih tajam, Sam gitu. Video deh, orang bikin video yang enggak ngerti gitu, ya. Terus bikin video mereka enggak ngerti teknik lighting yang benar, enggak ngerti teknik apa di teknik video semuanya ya, rule of three segala macam. Jadinya videonya hancur kan. Bahkan kayak video tools sekeren Feo aja cuma dipakai buat ini adalah hasil prom dari Rizal. Rizal jangan bikinin nenek-nenek lompat dari pesawat. Padahal lu bisa bikin MV yang keren, lu bisa bikin short film yang bagus gitu. Iya gitu. Kalau jadi kita itu mesti tahu framework satu kerjaan kita dulu, terus kita masuk AI itu untuk men-empower. Sehingga kita kita menawarkan jasa, menawarkan skill ke orang lain, hasilnya lebih wow. Oh, tapi bisa enggak suatu saat nanti AI ini berdiri sendiri yang kayak akhirnya semua pekerjaan musnah kayak misalnya web developer hilang, script writer hilang, digantikan semua oleh AI. Kalau misalnya ya, kita pandanglah 5 tahun ke depan, ya. Dibilang AI akan gantiin web developer, enggak mungkin. Karena gini, banyak hal di dalamnya itu yang kompleks gitu. Kayak ya contoh set, misalnya kita mau bikin satu apa ya, kita mau hubungin satu database dengan database yang lain gitu. Kita tetap butuh untuk fine tune itu, kita masuk ke dalamnya gitu. Jadi agak sangat impossible untuk benar-benar AI yang kerjain. Terlalu kaku, ya, kalau gitu. Terlalu kaku, tapi, Sam, yang perlu dilihat adalah kita perlu lihat bahwa orang-orang yang pintar memanfaatkan momentum di luar sana, dan dia jago pakai AI-nya. Nah, itu yang orang-orang yang akan dicari terus, ya. Dicari dan ngambil kerjaan orang lain yang enggak mau adaptasi dengan AI-nya. Oke. Kita masuk ke pertanyaan bagus nih. Let's see nih. Orang sudah belajar tentang AI. Dia punya skill nih, kan. Gimana step by step-nya secara teknisnya nih sampai mereka bisa mendapatkan 100 juta pertamanya dari pemanfaatan AI. Oke. Nah, ini AI-nya bukan tuyul, ya. Oke. AI-nya bukan tuyul. Jadi enggak bisa gini. Enggak bisa kamu cetak gitu, langsung dia ngelakuin. Harus dipikirin tetap dipikirin revenue generatornya tuh apa. Bidangnya, ya. Mau di mana nih bergeraknya. Iya. Ini ini jangan juga orang-orang nih suka potong video terus bilang, "Ah, ini mah ribet." Emang ribet namanya cari duit. Iya, ya, betul. Tapi gua akan jawab secara singkat. Oke. Ada beberapa money generator yang obvious banget AI bisa kerjakan. Oke. Media. Oke. Web, web dan kawan-kawannya, jualan web gitu-gitu. Tunggu, media ini enggak segampang itu loh, Bang. Maksudnya, oke, gua, nanti gua kasih tahu segampang apa. Oke. Oke. Media, web tadi, yang ketiga adalah jasa dalam skala garis besar. Jasa apapun. Oke, oke. Editing lah, apapun lah ya, jasa. Oke. Nah, gua jawab yang pertama, tadi dari sisi ini dulu, ya, media dulu, ya. Media enggak segampang itu memang. Kalau mau jaga personal branding dan lain-lain memang susah. Memang susah harus bikin videonya konsisten. Ada ada ada caranya detail. Tapi kalau mau gampang, ya gini. Lu bikin satu potongan video dari internet, ya emang agak ilegal dikit, ya. Oke. Dari potongan dari internet, lu masukin ke Eleven Labs, lempar sebanyak-banyaknya ke YouTube short, dapat pasti dapat duit. Pasti. AdSense. Ah, atau atau pakai namanya adalah N8N. Nah, web eh atau namanya satu lagi Zapier. Oke. Zapier itu ngunakin satu framework dengan framework lainnya. Nanti automatically video dari AI ini akan ter-generate dan ter-upload. Itu bahkan kita enggak perlu langsung hands on. AI-nya akan bikin video nge-boost terus sehari satu sesuai dengan fakta yang kita mau masukkan, pasti dapat duit. Tunggu. Bang Anjas pernah coba ini, enggak? Pernah. Dan dapat duit? Dapat duit. Anak kantor gua dapat duit. Berapa itu kalau boleh tahu? 9 juta satu bulan dapat dia. Oi, Der. Eh, gini ya, caranya ini loh. Jangan sampai dia gara-gara kayak gini, keluar nih dari tim, Bro. Ada murid gua, murid gua di sebuah kota X ya. Heeh. Nama channelnya gua enggak bisa sebutin sih. Eh, jadi gini, dia gedein satu channel cuma pakai suara-suara itu doang. Dia dapat jadi channelnya itu jadi 4 juta subscriber ya. Oke. Terus dia jual 2 juta USD. Hah? Lu bayangin, lu kerja. 28 miliar? 28 miliar. 28 miliar garansi satu tahun. Hoo. Cuma dari fakta-fakta orang lempar batu terus dinarasiin. Nah, meskipun dianya juga sebenarnya dapatnya oke. Tapi lebih baik dia jual ke orang di US. Oh. Dan karena dari awal memang sudah di-setting. Dan itu semua AI, ya? Semua AI 100%. Tugas dia hanya kalau mau manual, dia hanya nge-upload sekitar 40 menit sehari, atau nge-filter materinya. Tetap suaranya pakai AI, segala macam fakta-faktanya pakai AI. Tapi itu fragile, Sam. Hmm. Ini untuk satu miliar pertama, mungkin gampang. Mungkin gampang. Tapi dalam satu malam kalau kamu enggak punya gaya hidup dengan benar, hilang juga. Iya. Maksudnya gini, lu lu udah, oh enak nih dapat duit satu miliar, dia gaya hidup 100 juta sebulan ya, Sam. Iya, ya, habis lagi. Tapi lu perlu tahu channel ini tuh bisa hilang dalam semalam. Betul, betul, betul. Karena copyright again. Betul. Heeh. Gitu. Atau kayak modelnya Z Films. Itu tuh bisa dibikin pakai AI. Wow. Dan itu lebih sustainable kan. Lebih lebih lebih soft mungkin lagi transisi-transisi magic, Bang. Betul. Gitu. Nah, atau kalau kayak gua lebih soft lagi. Jadi gua pakai untuk memaksimalkan diri gua di sosmed. Jadi gua yang di syuting pakai AI, bahkan aku pakai brand HP-ku, ya. Nah, ini untuk yang ambasadorku sama brand ini.
[15:05]Terus ada lagi ambasadorku sama brand ini. Aku bedain raw syutingnya. Nah, itu aku pakai buat konten. Hmm. Nah, yang take video AI, kontennya generated by AI. Tetap sih, tapi itu manual banyak, ya. Tapi yang dibayar, yang diundang, sampai suara gua serak gini, ya gua, Sam, bukan AI-nya. Hmm. So, banyak cara untuk satu miliar pertama dari media gitu. Kedua dari web tadi. Web apakah web-nya bisa jadi? No, kemungkinan enggak jadi. Enggak jadi 100%. Tapi gini, orang itu kalau mau bikin mock up, zaman dulu harus bayar developer, right? Mock up-nya sekarang kita bisa bikin lalu viralin ke sosial media. Hmm. Kayak contohnya yang kemarin, Lapor, ya, Lapor ID. Emang tujuannya buat pemerintah, Ootin? Tentu tidak. Jadi videoku viral banget. Iya, tetap yang sampai dipanggil ketemu Mas Gibran ya. Iya. Nah, apakah tujuannya untuk sosial media? eh untuk untuk pemerintah pakai? Ada pemerintah yang pakai di Timika. Oke. Kita dapat duit sedikit ya dari servernya. Kan service charge-nya ke kita gitu. Tapi kebanyakan justru kerja AI tiba-tiba dapat undangan dari bisnis untuk solve di dalam bisnisnya. Hmm. Jadi kita malah dapat orderan banyak banget, ya, dari dalam situ gitu. Bukan buat website-nya, tapi malah jasa untuk konsultasinya. Benar. Bahkan kerja AI baru 3 bulan, kita sekarang revenue kita udah 3x dari modal kita, Sam. Oke. Yes. Menurut gua sih itu ini adalah bisnis pertama yang dalam waktu 3 bulan kita udah BP. Bahkan sudah untung gede gitu. Hmm. Gitu, Sam. Ini untungnya berapa yang disebut di sini? Kecil lah, baru masih di bawah 5 miliar. Wah. Lumayan dong itu. Iya, ya, iya. Terus yang terakhir tadi apa? Terakhir ini adalah jasa servis, ya. Oh, itu apapun. Kayak kayak di Fiverr itu kan banyak ya yang voice over. Jadi kita itu bisa sampling suara kita di sosial dari di Eleven Labs misalnya lah ya. Paling gampang, ya sudah di situ. Atau jasa script itu masih dibutuhkan, jasa analisa itu masih dibutuhkan yang AI-nya men-empower kita. Oke. Bang, makin menarik nih pembicaraan kita, ya. Oke. Jadi omset terbesar yang pernah didapatkan sama Bang Anjas dalam setahun berapa, Bang? Omset itu total dari penjualan semua-semua. Betul, betul. Setahun. 11,8 miliar. Waktu tahun lalu di di Overpass, itu masih 2,8. Berarti tahun ini, jadi 11,8 ke 9-an lah, ya, gitu. Itu dari mana dapat duit segitu? Oke. Pertama gua enggak bisa enggak bisa menutupi bahwa gua sudah punya production house, ya. Iya, ya. Tapi gua post juga bahwa production house gua itu sekarang ide-nya generated by AI. Terus kalau lu tahu syuting, gua sudah enggak pakai green screen tim gua. Syuting CGI. Kita pakai black screen. Lalu sudah enggak pakai green screen, tapi pakai namanya Samurai AI untuk untuk ngilangin green screen-nya dan lighting palsunya itu gitu. Oh.
[17:58]Nah, itu salah satu jualannya itu sekitar seperempat lah dari itu semua. Jualan apa maksudnya? Ya jasa sebagai PH gitu. Berarti untuk yang mau bikin iklan apa bisa lewat Bang Anjas semua? Iya, bisa. Itu iklan. See Fluencer kayaknya boleh coba juga nih. Terus kan, iklan. Terus sisanya sebenarnya banyakan di service pribadi dan eh apa namanya? software house gua, ya. Oh. Jadi gua punya software house namanya Pekerja AI. Heeh. Plus jasa consulting gua ke perusahaan gitu. I see. Misalnya mereka mau efisiensi sistem pakai AI gitu. Oh, itu bisa tuh. Bisa, bisa. Kayak dari misalnya paling banyak sih ERP dan CRM, ya. Ah. Kayak ya di dalamnya pengin bikin CRM, itu gua bikinin. I see. Terus bikinin apapun, actually. Mintanya apa, itu pasti gua turutin. Wow. Kayaknya contoh company-nya saham gitu, ya, kayak tadi, ya. Saham dia minta dibikinin analisa tool sentimen saham. Khusus buat dia tidak di-upload. Jadi kita bangun servernya. Hmm. Di perusahaan itu kita bangun server di dalamnya, terus kita bikinin software-nya khusus buat dia layaknya software laporan yang lapor Mas itu gitu. Malah arahnya ke situ, Sam, gitu. Sisanya jualan barang, ya. Oke. Kayak contoh, Plaud. Digital product dan lain-lain, kan. Enggak, enggak. Barang fisik gitu, ya. Oke. Tapi barang jualannya dose sebenarnya. Oke. Namanya adalah Plaud yang alat rekam meeting. Oh. Nah, itu itu tahu, enggak? Eh, itu alat perekam meeting itu bisa ngerekam meeting kita lagi ngomong. Terus laku banget di Indo. Harga berapa itu? 3 juta. Wah, mahal juga, ya. Sekarang itu laku 2.000 unit. Wah. Tapi memang alatnya kepakai gitu. Oke. Nanti bentar lagi mungkin gua masukin kacamata, ya. Kacamata kayak Rayban yang bisa ngerekord itu langsung. Tapi enggak, ini keluar AI screen di di depannya. Oh, jadi kalau kayak presentasi gitu, enggak usah hafal lagi, tinggal baca, ya. Iya, iya, iya. Jadi kalau lu nanya gua pun satu teknis yang gua enggak ngerti gitu, ya. Gua bisa jawab gitu. Oh, wow. Nah, ya gitu sih. Cuma ya again, untungnya tidak sebesar itu, untung untung secara keseluruhannya bukan berarti itu omsetnya. Iya, iya, paham, paham. Loh, tapi maksudnya yang kacamata tadi itu Bang Anjas mau bikin brand sendiri, ya? Bukan. Mau masukin barang dari luar negeri. Dari luar negeri. Kayak Iron Man, ya. Zaman sekarang, uh, makin canggih, ya. Iya. Bahkan maksudnya alat itu kalau dioptimasi, ya. Kita lagi misalnya lagi developing system, kita bisa sambil nanya gitu. Oke. Ya. Bang. Enggak kalau dari tadi yang aku dengerin, pasti Bang Anjas ini jago banget nih jadi sales. Jadi sales. Iya, kan. Kalau enggak, enggak mungkin bisa ngejualin diri seperti itu lah, ya. Heeh. Apa sih tipsnya untuk menjadi salesman yang jago itu? Salesman, ya. Eh, mungkin gua tarik dari cerita ketika gua pernah ngajar di See Fluencer, ya. Oke. Meskipun kalau di See Fluencer gua buka-bukaan. Iya. Kalau di sini mungkin, ah, kita agak enggak usah ngomongin angka sepenuhnya, ya. Oke. Tapi gua punya banyak channel, channel itu akhirnya di akuisisi lah, ya, sama orang besar gitu. Oke. Nah, sebenarnya untuk menjadi sales yang jago jualan barang itu tadi, pertama kita harus bisa meyakinkan orang dulu, Sam. Oke. Kita harus ngerti, kita harus paham bidangnya atau bahkan kita harus kepo gitu. Oke. Kayak gua mau ketemu orang A, ya, itu jangan kira gua enggak pelajarin. Gua bahkan scrapping datanya. Gua bisa tahu pendapatan orang itu berapa sebelum gua ketemu. Caranya gimana tahu pendapatan orang lain? Iya, data scrapping di internet. Kan kita bisa kira-kira. Ah, ada, oh kira-kira ada. Bahkan kalau mau tahu, ya. Sejujurnya gua juga ngulik keluarganya. Anaknya umur berapa gitu. Wah, serem banget. Bukan, bukan, bukan buat kepo gitu ya. Tapi gini, ketika lu tahu keluarganya, lu pasti jadi lebih relate gitu. Bukan, bukan kita ngulik anaknya siapa gitu, enggak, enggak. Tapi kayak. Jam berapa pulang sekolah? Kan dia posting, kan. Postingan itu di Instagram, kalau IG lu enggak enggak private, lu bisa bikin tool sendiri. Ketika gua masukin Samuel Christ gitu, ya. Pakai AI juga nih. Iya, dia tahu lu kapan nikah, nikah lu di mana. Damn. Lu mengundang siapa aja di situ.
[22:04]Kayak gua bisa langsung instantly recognize itu. Nah, bisnis ini cara ini itu tuh niru dari bisnis animal communicator anjing, tahu enggak? Yang sering dia itu ada beberapa yang benar, ya. Ada beberapa yang scam. Contohnya gini, ketika lu punya anjing terus lu itu tanya nih, anjing lu kenapa gitu. Dia tuh pasti ngulik pertama Instagram lu dulu. Instagram anjing lu. Lu kalau sering pergi, pasti orang itu bilang kayak kurang. Apa? Papi, eh, misalnya anaknya namanya Milo anjingnya, ya. Milo kurang happy kalau Papi pergi-pergi terus. Karena dia lihat lu traveling. Oh. Jadi lu itu pertama harus tahu dulu siapa investor lu. Mencoba untuk relate. Nah, cara ini akhirnya gua terapin juga ke channel-channel yang gua bikin. Misalnya channelnya health, ya kita enggak mungkin jual ke orang yang bisnisnya logistik gitu. Iya. Enggak nyambung. Betul, betul. Kita harus banyak networking sama orang-orang di bidang farmasi. Ketika gua ngisi acara di satu company farmasi gede, gua enggak charge gede. Gua mencoba untuk tawarin, gua kasih tahu di situ. Ketika ada CEO-nya, lu ngomong, "Saya membangun ini," gitu. Intinya bagaimana lu mem-packaging produk lu ini gitu. Termasuk ketika lu bikin konten kayak Plaud tadi, nobody nih yang ngomong tentang Plaud gitu, ya. Ya enggak bakal didengerin. Tapi kalau gua udah se-AI itu, terus gua ngomong alat ini ngerekam meeting, ya pasti orang beli gitu. Paham. Jadi produk yang kita jual dengan founder dan juga harus match, ya. Harus matching. Jadi orang tahu expertise-nya ini orang juga siapa dan lain-lain. Iya. Benar, benar, benar. Benar banget. Oke. Dan tadi ada sesuatu yang menarik tuh. Katanya ngejual channel, ya. Diakuisisi. Iya, diakuisisi sih, diakuisisi di di-invest lah sama orang gitu. Diinvest sama orang. Apa yang membuat kenapa orang itu mau sampai invest channel sih sebenarnya? Oke. Nah, ini jawaban narik lagi yang tadi, ya, Sam, ya. Heeh. Eh, ketika lu bikin channel tidak ber-value tapi duitnya kenceng, biasanya itu enggak akan diakuisisi. Biasanya. Kecuali orang mau bisa ulang, bisa ulang. Ketika bikin channel? Channel tidak ber-value, topiknya random nih. Enggak akan dibeli orang. Ah. Tapi kecuali kayak tadi, emang money-nya gede banget dapatnya AdSense-nya. Orang bisa akuisisi supaya oh, 2 tahun ROI gitu. Ah. Tapi eh hal kedua yang bisa diterapin adalah bikin channel yang ada value-nya. Meskipun uangnya belum jalan kenceng. Berarti Samuel Christ ini ada value-nya enggak, Bang? Ya adalah pasti. See Fluencer sudah sangat terlihat. Makanya Bapak Andrew, ya. Masuk gitu. Nah, kedua kalau kalau tadi, ya, kalau misalnya channelnya tentang health gitu. Kayak salah satu channel gua yang belum terakuisisi atau mungkin tidak akan diserahkan ke orang lain adalah Nucleus namanya. Oke. Nucleus itu baru 80.000-an, kan. Nah, tapi di situ bahas health dan lain-lain gitu. Iya, ya. Apakah sudah ada yang nego? Ada, tapi terlalu kecil gitu. Oh. Gitu. Jadi emang harus dibungkus sedemikian rupa. Pertama ya value-nya, kedua kalau bisa ada revenue-nya gitu. Kayak Pekerja AI yang software house gua ini sudah dinego orang, Sam. Hmm. 20%. Gua masih hold sampai sekarang. Sahamnya, ya. Iya, iya, iya. Gitu. Oke. Berarti sebenarnya untuk mendapatkan uang di era sekarang itu caranya beragam-ragam, ya. Dan pemanfaatan antara sosmed dan juga AI kalau digabungin, itu benar-benar bisa making money loh. Sangat. Sangat posible. Eh, tapi emang orang harus belajar cara startup bekerja sih. Supaya valuasinya tadi bisa ketahuan, Sam, ya. Iya, ya. Berapa valuasinya, terus mau dijual dengan format apa gitu. Kan enggak bisa kita jualnya kayak jualan channel supaya dibeli satu. Iya. Itu itu yang salah. Enggak boleh yang kayak gitu, ya. Enggak boleh. Enggak boleh kalau yang dijual ke situ. Iya, iya. Bang, tapi eh gini, aku tuh lumayan struggling dalam mengedukasi orang tentang pentingnya penggunaan sosmed di era sekarang. Karena kan aku ada See Fluencer, kan. Dan menurutku market orang yang enggak ngerti bahwa, "Eh, kita ini di era attention economy loh," yang di mana attention itu lebih mahal daripada uang loh. Iya. Itu tuh susah sekali gitu loh untuk mengedukasi orang di era sekarang. Makanya nanti nih minggu depan aku bakal talk, itu membahas tentang eh gimana caranya apa, ya, kamu tuh bisa sukses tanpa modal knowledge sosial media gitu loh. Iya. Dan balik lagi, ya. Semua kita setuju lah, maksudnya Bang Anjas juga di sini suksesnya lewat sosmed. Iya. Aku juga pasti sudah 1000% lewat sosmed. Dan semua orang yang kalian lihat di era sekarang yang sukses kebanyakan lewat sosmed gitu. Even Bapak Presiden Prabowo yang kan yang sudah ngurus satu negara nih yang sesibuk-sibuknya. Hah. Tetap bikin konten gitu loh. Iya. Banyak sekali orang bilang, "Ah, gua sibuk nih, enggak bisa bikin konten nih." Emang lu ngurus negara kayak Pak Prabowo? Iya, kan. Iya. Itu dia. Dia masih bikin konten. Andrew aja konglomerat masih bikin konten. Iya. Berarti kan ada something big di situ loh yang kalian harus sadar bahwa tanpa sosmed di era sekarang, kalian mau bersaing sama siapapun enggak bisa. Iya. Iya, iya. Dan kita sayangnya sekarang tuh bukan sesama manusia loh. Kita saingannya sama bisnis sosial media. See Fluencer punya bisnis sosial media, sambal bakar punya sendiri, ya, kan. Dan bahkan sekarang AI-AI juga sudah masuk ke sosmed semua.
[27:07]Makanya banyak kayak apa, ya, ya, ini bukan untuk ditiru ya. Tapi banyak kayak cewek-cewek seksi pun itu sebenarnya AI. Iya. Terus ngejual konten OF, ya, kan, tahu, kan. Tahu. Itu juga menggunakan AI. Itu sebenarnya mau gua sebutin tadi. Cuma, ah, enggak lah, nanti ditiru banyak orang. Iya. Iya, itu itu parah banget loh. Tapi ya, begitu sih. Jadi kalau kalian masih masih berpikir bahwa, "Ah, kita konvensional aja di era sekarang." Wah, itu sangat-sangat ketinggalan banget gitu loh. Bahkan menurutku, sekarang kalian sudah agak too late bahkan masuk ke dalam era sini, kan. Karena ya sosmed sudah terlalu banyak pemain. Andaikan kalian masuk di era-ku yang kayak 5 tahun yang lalu, itu lebih basah lagi. Iya, iya. Kan lebih basah lagi. Era-era Covid itu, ah, endorsement enak sekali gitu, ya. Benar, benar, benar. Ada yang mau ditambahkan, enggak? Eh, iya, sosmed itu kayak semacam kita kita itu founder, ya. Katakanlah CEO, ya, atau leader lah company. Bikin sosmed itu sebenarnya untuk dua hal. Yang pertama untuk satu untuk nge-boost bisnisnya. Sudah pasti itu. Semua orang melakukan itu sekarang. Semua CEO nongol. Yang kedua adalah menjadi tameng. Iya. Sekalinya bisnis kamu ada masalah, kalau CEO-nya punya sosmed kan ada critical timing-nya ya, ketika ada masalah, ya. Nah, damage management-nya itu CEO. Aku ngelihat banyak banget contoh yang akhirnya bisa kembali lagi merangkul marketnya dengan sangat baik dengan sosok CEO-nya. Indo. Ingat kasus? Iya, ya. Tapi kan bukan salah dia sebenarnya. Iya, ya. Tapi gara-gara Pak Oskar maju. Betul, betul. Lihat company-nya, selamat. Betul. Dia bikin giveaway setiap berapa jam itu. Aku lihat wah, itu jenius banget sih cara penyelamatan company-nya dia. Itu jenius banget. Itu jenius banget. Makanya kalau sekarang ada founder, CEO, ya, enggak mau bikin sosmed, oke, kalau duitnya sudah cukup enggak apa-apa. Tapi kalian jadi enggak punya tameng gitu. Iya, ya. Enggak punya. Loh, bukan, bukan masalah duit sekarang sih, menurutku Bang Anjas. Untuk sosok kan gini, kalau kalau kita ngomong duit pasti Andrew Susanto itu sudah, sudah enggak usah melihat duit, kan. Oh, iya, ya. Tapi kenapa dia masih bikin sosmed? Ku lihat, ya, karena dia kan mau melewati rekor di tahun sebelumnya dia. Iya. Jadi bagi dia duit itu sudah bukan sekadar duit lagi, tapi itu hanya angka, kan. Iya. Yang di mana dia setiap tahun itu harus naikin nominalnya ini untuk melawan rekor-nya dia sendiri. Basically kan gitu, kan. Nah, pada saat dia bikin pusat emas yang sekarang ini, itu kan jual beli emas, kan. Dia itu menggunakan sosmed untuk mempromosikan pusat emas ini. Dan dia ngomong di See Fluencer, dia bilang, yang seharusnya target dia pusat emas ini dalam 3 tahun mencapai omset berapa, itu dia sudah dapatkan di bulan ketiga. Dan jauh lebih tinggi. Yes, yes. Nah, jadi menurutku adalah, ya, buat kalian-kalian ini, ya, balik lagi, ya. See Fluencer sebenarnya sekarang, Bang, ada app baru namanya Circle. Hmm. Jadi Circle ini basically kita ngasih tahu gimana caranya mereka mendapatkan duit dari video viral. Jadi sudah bukan yang kayak, oke, kalian harus jadi konten kreator dulu, ya. Kan konten kreator kan lama nih prosesnya, kan. Harus berapa tahun baru bisa banyak followers. Nah, sebenarnya yang aku lihat adalah ketika orang bisa viral sekali aja, tapi di video yang tepat, ya. Di video ini mungkin lagi mempromosikan sesuatu, misalnya. Tiba-tiba yang nonton 10 juta. Apa enggak langsung kaya itu orang? 10 juta views lagi mempromosikan hard sell kita ngomongnya. Iya. Apa enggak langsung kaya dari satu video aja loh viral. Nah, itu yang kita taruh semuanya di Circle See Fluencer ini gitu loh. Jadi kalau mereka join, ada banyak pilihan nanti, Bang. Ada kan pilihannya banyak sekarang. Kamu mau jadi agen asuransi, agen properti, mau affiliate, mau jual digital product, banyak pilihan, mau AI tadi, ya, Bang Anjas. Yang penting tahu gimana nge-match-nya dengan sosmed, jadi duit, kan. Betul, betul, betul. Yes. Setuju. Itu yang kalian harus, ya, semoga melalui video ini kalian mulai searching, mulai belajar tentang AI, tentang sosmed habis ini karena itu penting sekali untuk meningkatkan karir kalian. Harus, harus. Oke. Kita balik lagi, ya, Bang. Yes, yes, yes. Bang Anjas, selama Bang Anjas sibuk, apa satu pelajaran tentang hidup ini yang benar-benar ini berarti sekali yang enggak akan pernah diajarkan di sekolah. Lu harus lakuin apapun saat lu belum punya. Itu sebenarnya kata-kata ke diri sendiri sih. Oke. Dulu dulu gua berpikir seperti itu. Eh lu harus lakuin apapun karena lu enggak punya duit gitu. Tapi maksudnya lakuin apapun ini untuk lu bisa di titik yang lu inginkan. Wow. Saat itu gua pengen jadi profesor matematika. Ini fotonya. Foto SMP gua. Oke. Profesor matematika dan software, ya. Ada gambar Android di situ gitu, ya. Heeh. Ada VR di situ, ada pokoknya gua pengin bagus di teknologi khususnya di matematika. Oke. Tapi gua sadar, gua anak panti, Sam. Oke. Apakah gua bisa ke sana? Apakah universitas yang gua tulis ini gua bisa Andong University? Enggak mungkin. Tidak akan mungkin. Akhirnya gua lakukan apapun. Lakukan apapun untuk naikin tangga itu. Naikin tangganya gimana? Pada saat gua SMA, gua lakuin apapun biar gua belajar bisa belajar cara ngedit. Karena dengan cara ngedit nih, 3 tahun lagi gua bisa jadi editor di TV di Lampung gitu. Akhirnya, setelah belajar ngedit, salah, gua malah dapat beasiswa ke salah satu kampus termahal di Indonesia. Nah, setelah di sana pun, apakah gua puas karena gua masuk jurusan pendidikan matematika saat itu? No. Ini belum waktunya. Gua akhirnya pindah jurusan. Gua pindah jurusan, gua cari yang paling gampang, ekonomi. Oke. And then gua lulus, gua sambil kerja jadi videografer. Tapi kalau seandainya nih, suatu hari gua terkenal gara-gara jadi videografer, yaitu risiko. Tapi at least gua punya capital dulu nih untuk gua bisa mulai software house gua gitu suatu hari gitu, ya. Heeh. Gua magang di IT-nya kampus itu. Supaya apa? Supaya gua belajar sedikit tentang IT, meskipun gua enggak kuliah IT dulu. Dan gua dapat duit gitu. Oh, gua dapat waktu itu. Jadi gua masih pegang, gua lakuin apapun. Ternyata suatu hari, Sam, gua hidup enak gara-gara dunia videografi. Branding-an pertama gua. Donut. Donut. Gua hampir melepaskan mimpi gua menjadi kyosu Nim bahasa Koreanya ini, ya. Oke. Kyosu Nim ini adalah Profesor IT di software gitu. Oke. Apakah gua, gua teringat lagi gitu. Lakukan apapun supaya lu nyampe di mimpi lu. Lakukan apapun supaya lu nyampe di mimpi lu.
[33:27]Sekarang apakah gua ada di mimpi gua? Belum. Gua masih 5% dari mimpi gua. Hmm. Tapi apakah gua akan terus kejar? Gua akan terus kejar. Jadi gua enggak peduli orang bilang, "Eh, lu dulu kan ngomongin Premiere Pro. Kenapa sekarang ngomongin AI?" I don't care. Wow. I don't care. Gua patokan gua mimpi gua, bukan omongan lu. Wow. Ini sih yang harus benar-benar itu yang sampai. Ngapain kamu nganggu-ganggu gini? Termotivasi juga, ya. Iya. Semoga one day, ya. Jadi intinya adalah kamu harus punya mimpi, ya, yang yang dikejar gitu, ya. Dan lakukan apapun, ya. Lakukan apapun. Ini yang tidak diajarkan di sekolah nih, ya. Enggak diajarkan sekolah. Di sekolah lu ngejar, ya kan, ngejar lu hit. Nah, itu goals lu. Iya, ya. Sedangkan di dunia nyata, ini goals lu, lu tuh ada kalanya, makanya Theo Adry bilang, "Enggak semua orang itu bisa didesain untuk jadi kaya." Karena banyak gap-nya. Nah, gimana caranya ngakalin ini adalah lu naiknya pelan-pelan. Lu naiknya satu tangga satu tangga. Karena kalau lu tarik garis lurus, lu cuma akan ada mimpi doang di situ. Enggak akan ada hasil. Wow. Oke. Bang Anjas, apa quotes terbaik yang pernah Bang Anjas dapatkan dari siapapun? Quotes terbaik gua dan sekaligus mentor hidup gua adalah Jensen Huang. Oke. Jadi Jensen Huang itu bilang kayak sesuatu yang besar itu memang harus dicapai dengan susah payah. Oke. Enggak bisa dicapai dengan mudah gitu. I don't love my company. I don't like to work in my company. I don't like to do my job, but I love so much my company. Wow. Jadi kayak gua lebih berprinsip ke kerja keras, kedua cintai company meskipun kamu enggak cinta pekerjaannya.
[35:08]Kalau masukan terburuk yang pernah Bang Anjas terima dari orang lain. Itu waktu gua belajar ekonomi, ya. Modal sekecil-kecilnya dia bilang, kan, untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya. No. Dunia tidak seperti itu. Sometimes kita harus spend lebih besar. Bahkan tenaga kita, bahkan passion kita untuk kita bisa mendapatkan yang lebih besar gitu. Bukan modal sekecil-kecilnya, no, no, no. Modal sekecil-kecilnya, enggak worth di zaman sekarang. Wow. Kalau kita ngomong pengorbanan nih, tadi kan hal yang dikorbankan. Apa pengorbanan terbesar yang Bang Anjas sudah berikan yang bisa membawa Bang Anjas di titik sekarang? Of course, happiness, ya, sejujurnya, pada saat itu gitu. Wow, itu banyak dikorbankan. Banyak dikorbankan. Banyak dikorbankan. Waktu ke warnet, teman gua main Seal, main CS. Gua enggak bisa. Gua harus ngejar mimpi gua. Main FIFA, ya. Sekarang. Oh, ya. Sekarang. Oh, gua beli PS setelah gua benar-benar punya duit tertentu yang sih. Gua pegang, ya. Anyway, tadi, gua mengorbankan itu dulu. Iya, ya. Makanya gua sekarang main FIFA banget karena Oke. itu adalah hal yang gua korbankan pada saat itu, Sam. Walaupun masih kalah sama aku, ya. Mari kita coba. Iya. Gitu, itu. Lalu eh lu di panti, ya. Lu itu ngelihat teman lu punya family yang setiap hari ada gitu. Dulu yang ada buat gua itu teman-teman panti itu dan Bapak, Ibu pantinya gitu. Jadi makanya gua sempat tuh beberapa tahun eh dulu itu, ya, gua enggak mau dirayain ulang tahun gitu. Karena gua jadi ingat teman-teman gua di panti gitu. Karena happiness itu benar-benar terkorbankan saat lu dituntut gua enggak ada yang nuntut gua, tapi gua dulu waktu SMP, gua mencoba untuk selalu ranking 1-2. Nilai gua matematika terbaik. Bahkan mungkin eh bukan cuma satu sekolah, ya. Di satu kabupaten itu gua bikin terbaik gitu. Pada saat SMA gua punya happiness lain yang gua korbankan juga gitu. Main, gua akhirnya fokus ke komputer, komputer community pada saat itu namanya, ya. Gua korbanya semua. Jadi ya. Tapi sekarang waktunya gua me-redeem itu game. Iya, ya. Kan ini perjalanan Bang Anjas kan lumayan panjang nih, kan. Apa satu habit kecil yang Bang Anjas lakukan setiap hari yang akhirnya bisa membawa Bang Anjas di titik sekarang? Oke. Kalau orang bilang namanya time blocking, ya. Ah. Time blocking ini gini, ketika lu lu lu harian lu tuh semua sudah tercatat gitu. Lu sudah tercatat, waktu lu itu lu alokasikan buat apa? Kalau di gua itu pagi, misalnya, dulu waktu zaman eh waktu di panti, paginya adalah kegiatan belajar, kemudian belajar di sekolah, pulang itu kegiatan rutin kayak piket dan lain-lain, sore itu belajar lagi, malam itu tidur. Nah, itu time blocking anak sekolah.
[37:53]Tapi time blocking orang dewasa itu agak beda. Kalau lu sudah punya duit, lu boleh nih time blocking-nya gini, lu tidur jam 12, jam 11, kayak gua. Gua bangun jam 9. Jam 9 sampai jam 11 itu adalah waktu self development. Makanya kalau lu chat gua jam 9, enggak akan gua balas. 9 pagi. Enggak akan gua balas. Enggak akan gua balas. Karena. Tapi kayaknya aku baca jam 9 nih sampai setahun lagi enggak dibalas-balas tuh. Itu serius juga, ya. Itu 9-11 itu self development. Jam 11 sampai jam 12 itu untuk company gua yang paling gua prioritasin. Daun net dan Pekerja AI sampai sekarang. Sampai jam 12. Jadi karyawan gua benar-benar tahu jam itu adalah jam prime-nya. Bahkan ada yang chat gitu, ya, sampai kayak, eh, kirimin voice note dong gitu. Jam itu. Nanti jam 12 sampai jam 1, itu waktunya gua bersosialisasi sama orang. Kayak main makan siang. Iya. Itu orang random kayak teman gua musisi gitu, ya. Oke, oke. Atau kadang yang makan sambil nonton FIFA, nonton-nonton pertandingan. Oke, oke. Gitu. FIFA World Cup nih sekarang lagi. Iya. Ah, iya. Betul. Remake. Nah, nanti jam 1 sampai jam 4, balik lagi ke company minor gua. Yang kecil-kecil yang baru-baru gua kembangin atau anak-anak nih, kalian pasti ada nih yang gua DM-in, kan. Yang jago-jago di sosmed tuh, banyak gua DM-in. Oh, buat buat koneksi, buat apa? Eh, kadang-kadang, eh, lu ini dong bikinin kayak gini, nanti gua kirim fee gitu. Hmm. Jam 4 sampai jam 6, itu quality time gua, keluarga gitu. Hmm. Jam 4 sampai jam 7 gitu. Nanti jam 7 tuh gua ada self development lagi sampai jam 9. Sekarang gua pakai buat S2, Computer Science. Wow. Iya. Terus jam itu itu online berarti? Online, online. Oh, online. Tapi ini fisik sih, datang sih. Jadi ada ada hybrid, hybrid, sorry. Oh. Iya. Nanti jam 9 sampai jam 1.30 itu waktu gua main game. Ada gitunya, ya. Gitu. Makanya gua cuma online di jam itu. Oke. Nah, jam 11 tadi, ya, jam 1.30 sampai jam 12 itu namanya gua language acquisition time. Terus selesai jam 11 malam. Setengah 11 lah, kira-kira. Kadang jam 11 juga. Terus, language acquisition time itu karena enggak ada orang bangun, kan, jadi gua belajar bahasa. Oh, itu jam 9 sampai jam 11. Bahasa Korea, bahasa Inggris, ya. Sampai jam 1 subuh. Enggak, sampai jam 12 aja. Jam 12 tidur lagi. Ngulang lagi kayak gitu. Ngulang lagi gitu. Makanya banyak orang juga boring sama kegiatan gua, kan. Dibilang, "Lu membosankan hidup lu." Banyak yang bilang gitu teman-teman gua. Tapi memang hidup ini membosankan, kan, gitu loh. Oh, enggak gua biasa kalau. Oh, bisa aja. Gua happy dengan itu. Kalau aku merasa hidup ini memang membosankan. Itu kalau statement dari aku. Sesuatu yang memang, ya, mau mau dapat duit ya harus kerja gitu loh. Memang membosankan hidup ini yang kayak memang rutinitasnya gini gini aja, aku aja setiap hari ke kantor ke See Fluencer gitu, kan. Fokus satu gitu loh. Kita mau See Fluencer ini gede gitu, kan. Kita fokus satu. Jadi kita melakukan hal yang ya memang rutinitas berulang gitu loh. Oke. Kalau ditanya, "Kamu enggak enggak capek podcast, enggak bosan podcast?" Ya, ya, bosan-bosan aja juga kadang, kan, ada fase-fase kayak gitu, kan. Ya, tapi kata ini bagus banget. Ini dari Ko Andrew, ya. Dia bilang gini, "Apa yang kamu harus lakukan ketika di masa-masa bosan, di masa-masa stres?" Supaya enggak stres lagi. Apa yang harus dilakukan? Enggak usah ngapa-ngapain. Karena memang manusia itu normalnya juga seperti itu. Ketika kamu stres, kamu enggak ngapa-ngapain. Enggak mungkin kamu stres terus sampai kamu 50 tahun stres, itu enggak mungkin. Pasti ada siklus di mana kamu akan happy lagi gitu loh. Ini kayak siklus kehidupan. Giliran dia naik gini, happy, happy banget. Gimana cara supaya enggak happy? Enggak usah ngapa-ngapain, pasti turun, turun dengan sendirinya itu. Begitu sampai di bawah, stres gitu, kan. Enggak usah ngapa-ngapain, nanti akan naik sendiri sampai kamu happy lagi. Oh, bisa gitu, ya. Itu memang, tapi kalau kalau gua percaya ada beberapa orang memang resiliensinya memang lebih tinggi sih. Artinya memang orang ini lebih lebih tahan aja terhadap stres. Oke. Gimana karena gini ya, gua enggak mau nantang orang. Oh, orang enggak bisa stres gitu. Enggak, ya. Ada orang-orang tertentu yang memang chemical di dalam tubuhnya lebih rentan terhadap stres itu gitu. That's why terserah kalau dia mau metodenya mau hiking, manjat gunung gitu. Kalau gua. Untuk melepaskan stres. Kalau gua enggak enggak gitu. Iya, ya. Karena, karena kalau kayak gitu, hidup kita jadi penuh ritual. Ritual tuh lu mau nyari idea aja, lu mesti nyari pohon dulu, diam di pohon itu. Enggak, enggak. Jangan gitu, Kak. Itu akan jadi bikin kita jadi manja gitu. Ya, jadinya mendingan dibiarin aja, kan. Dibiarin aja. Dan ya sudah, enjoy aja sebisa mungkin prosesnya. Dia jadi solve lah. Iya, ya. Eh, Bang. Aku penasaran. Satu miliar pertama Bang Anjas ini dari mana sih? Kan tadi tiba-tiba ngomongnya langsung tiba-tiba 11 nih, ya kan? Satu miliar pertama itu dari mana? Kumpul-kumpul-kumpulnya. Heeh. Jujurnya dari production house, ya. Oh, itu bahkan sebelum jadi konten kreator. Ya, setelah. Oh, setelah. Makanya kan gua bikin konten dulu. Waktu itu gua by the way, gua freelance, ya. Hmm. Freelance untuk ngerjain video event, video wedding, video orang 17-an, 17 tahunan, sorry. 17 tahunan. Itu itu sebenarnya almost hit satu miliar dari situ. Tapi modalnya juga gede, hire orangnya cukup gede. Jadi sebenarnya omset satu miliarnya itu tidak terlalu berasa pada saat itu. Oke. Tidak hampir tidak berasa sama sekali gitu, kan. Karena banyak di-cut-cut juga yang lain. Banyak di-cut-cut. Tapi keep doing aja, kan. Akhirnya dapat job 2, 3, 4 lebih banyak lebih banyak kumpul, akhirnya dapatlah satu M pertamanya. Betul. Dan dan konten tentunya. Konten YouTube waktu itu, plus PH ya, production house gitu. Oke. Bang Anjas, aku rasa ini kita sudah daging banget. Tapi aku belum mau tutup podcast-nya di sini. Aku mau tutup dengan satu pertanyaan yang aku penasaran. Oke. Kemarin perasaan Bang Anjas sama Bang Radit sempat podcast, ya. Iya, iya, iya. Sempat trending di Twitter juga. Betul, betul. Kenapa itu bisa diceritakan, enggak? Eh, iya, aku enggak mau nyalahin siapa-siapa sih. Iya, iya. Salahnya sebenarnya paling besarnya di aku. Oke. Karena ngomongin tentang AI itu tuh satu hal yang fenomenanya dapat berubah dalam seminggu itu berubahnya drastis banget. Nah, pada saat itu aku ngomongin tentang ditanyain tentang etika. Iya. Tapi memang belum ditanya pertanyaan kayak gini, Sam. Oke. Jadi etika itu harus harusnya kalau aku ngobrol sama kamu, etika AI itu tidak semudah itu. Karena AI itu kalau kita ngomongin cara penggunaannya, kerjanya itu ada 10 bidang. Oke. Ada 10, ada computer vision, ada machine learning, ada segala macam. Dan itu dipakai semua di seni. Iya. Nah, jadi otakku itu sudah lari-lari ke sana. Oke. Nah, seminggu setelah fenomena itu muncullah Gibli. Iya. Tren itu Studio Gibli. Dan itu sangat pro dan kontra banget. Itu adalah wake up call pertama di dunia seni. Bayangin lu ngomong sesuatu tentang etika, terus ada wake up call alert pertama. Jebret. Dan satu minggu setelah itu, podcast-nya baru di-upload. Jadi I think it's bad timing, ya, buat gua, ya. Iya. Bukan, bukan salah Bang Radit, bukan yang lain-lain. Kalau itu di-upload sebelumnya, mungkin gua kayak Chenayang. Mungkin. Iya, ya. Tapi kalau itu di-upload-nya setelah. Setelah, itu jadi. Disambung-sambungin akhirnya sama orang. Iya. Jadi enggak nyambung omongan gua, kan. Karena fenomenanya baru keluar. Nah, sekarang gua bisa ngomongin itu etika ini. Oh, tapi balik lagi, waktu itu Bang Anjas juga enggak tahu apa-apa tentang tiba-tiba Gibli keluar, kan. Enggak tahu. Enggak tahu. Tren itu akan datang. Enggak ada tanda-tanda sama sekali. Tiba-tiba dalam 2 hari jebret seluruh dunia gerak gitu. Pakai itu, kan. Pakai itu. Dan itu yang paling fatalnya karena sudah masuk ke Twitter dan digoreng opininya. Dan digoreng. Karena aku pernah menjadi kasus korban itu juga.



